Teori Penciptaan

Relasi “Iman dan Ihu”
Abstract: Scientific theory of creation and theology of creation have almost
always been in tension. In the history of the Church Galileo Galilei is
an ever living symbol of the struggle between science and religion. His life
was a triumph for science. However, this courageous stand for truth, bugling
the truth he knew as absolutely correct, costs him his personal life; he
was misunderstood, condemned without evidence and sentenced to the
coldness of silence. This paper attempts to depict a dynamic possible relationship
between science and theology drawing attention to the theory of
creation. It offers a reflection that will hopefully be beneficial for theology
of creation. It ‘is divided into two main parts. Firstly, it deals with scientific
debates about theories of creation, and secondly, the paper offers implications
for the theology of creation.
r, Kata-kata Kunci: Teori penclptaan, teologi penciptaan, alam semesta,
manusia, Tuhan.
1. TANTANGAN TEORI PENCIPTAAN
Perkembangan teori penciptaan terus bergulir dahsyat. Teori-teori itu
bertubi-tubi menerjang konsep iman yang mapan dan baku. Problem ini tidak
baru. Dalam sejarah peradaban dunia Kekristenan sejak Galileo Galilei, Gereja
mencermati perkembangan itu dengan susah papah, sebelum dapat menerimanya
sebagai pelajaran berharga. Sebab perkembangan yang tidak terelakkan
itu memunculkan banyalr goncangan serius terutama berkaitan dengan iman
dan refleksi teolog~s atas tata penciptaan. Gereja membutuhkan waktu tiga
ratus lima puluh sembilan tahun dan empat bulan untuk mengatakan bahwa
teorl Galileo Galilei benar di satu pihal, dan bahva pengaditan Inquirisi di
masa lampau sekalian dengan vonis error-nya yang telah dijatuhkan kepadanya
udak meiniliki dasar.’
Pelajaran teori evolusi juga jelas telah menunjukkan pergumulan hebat.
Stephen W Hawking (1942- ),2 sang penentang teori relativitas Einstein, misalnya,
mengatakan bahwa Tuhan Sang Pencipta dan Penyelenggara kehidupan
ini sudah tidak diperlukan lagi, setelah ia memahami proses penciptaan dam
semesta dengan segala isinya secara ilmiah. Baginya semua dapat dijelaskan
tanpa campur tangan sosok pribadi yang disebut Tuhan. Iceyakinan itu makin
diteguhkan menyusul ancang-ancang teori arnbisiusnya tentang segala sesuatu,
theolly of ev~llythin~.~
Reaksi Hawking sebenarnya tidak baru. Tetapi reaksi ekstrem itu tidak
saja menyimpang dari kebenaran inpn latab Suci, melainkan menabrak secara
frontal kepercayaan kepada Tuhan. Refleksi Hawking menjadi salah satu contoh
betapa kemajuan ilmu pengetahuan tkntang penciptaan telah melahirkan tan-
tangan-tantangan dahsyat. Jika pada abad ke-17, Galileo Galilei menggegerkan
dunia karena menebar penemuan ilmiah sekaligus baru mengenai kebenaran
Heliosentrisme yang melawan pandangan IGtab Suci Geosentrisme @umi sebagai
pusat perputaran), pada abad ke-20 seorangprofesor Cambridge, Stephen
Hawking, menjadi sosok produk ilmu pengetahuan modern yang karena keya-
kinan kebenaran ilmiahnya mempersoalkan dan mendepak sepenuhnya peran
Allah dalam tata ciptaan. i’,
*.
Tulisan singkat ini tidak bermaksud membahas teori Hawking mengenai
penciptaan secara khusus walaupun diajukan pula kutipan singkat penjelasan
Hawking sekitar tema penciptaan. Tulisan ini hayaingin mencermati satu dua
teori yang mencoba menjelaskan proses penciptaan dan merefleksikannya dalam
konteks teologi penciptaan (r@eksi tentangperan Tuhan dalam tata ciptaan).
Penjelajahan teologi penciptaan yang meletakkan manusia sebagai pusat
bidikan refleksinya tidak mungkin menutup mata terhadap lrontro$ersi asalusul
spesies manusia. Dan, perbincangan mengenai asal-usul manusia tidak
mungkin dilepaskan dari problem penciptaan pada umumnya.
2. MENCERMATI SATU DUA TEORI
Dalam uraian berikut penulis membedakan sekaligus merinci tiga hal yang
dapat dipandang sebagai tiga tahap persoalan penciptaan: Pertama, proses penciptaan
bumi dan alam semesta; kedua, terjadinya kehidupan di bumi ini untuk
pertama kalinya (biogenesis) dan berkembangnya organisme-organisme dalam
bentuknya yang paling sederhana (ph$ogenesir); dan ketiga, munculnya manusia
(antropogenesis) .
Sementara ha1 yang berkaitan dengan dosa atau evilyang juga menjadi salah
satu bahan kontroversi teori penciptaan dari sudut pandang teologis tidak penulis
bahas dalam kesempatan terbatas ini.
Dari mana bumi kita dan tata dam semesta yang dernikian mempesona
ini berasal? Asal-usul alam semesta menantang mannsia modern sebab ia
menjadi daerah penjelajahan iImu pengetahuan yang tiada batas.
G. P. Ihiper (1905-1975) mem$ai pendobrakannya. Icuiper -yang
dikenal sebagai penemu bulan Uranus, Miranda dan bulan Neptunus,
Nereid- mengajukan teori yang mengasalkan matahari dan semua planet
yang menyusun sistem tata surya kita pada kabut gas purba. Kabut gas
purba inimengalami gerak memutar dengan kecepatan sedemikian rupa
sehingga membentuk gumpalan-gumpalan materi. Gumpalan-gumpalan
materi sebagai:hasil pemadatan kabut gas inilah yang manjadi cikal-bakal
alam semesta. “Gumpalan” yang besar yang menjadi “inti” dari semua r
gumpalan yang lain menjelrdla menjadi matahari. Icerapatan gumpalannya
begitu rupa sehingga “gumpalan” matahari menyala dengan api nu&.
Sementara itu gumpalan-gumpalan kabut yang lain terus mengalami gerak
memutar dan terdorong menjauh dengan jarak tertentu dari matahari.
Proses gerak memutar dan penggumpalan kabut gas itu berlangsung ratusan
rnilyar tahun silam.
Teori ini diajukan I<uiper pada 1950-an. Yangmenarik dari teori Icuiper
ini ialah bahwa dam semesta muncul tidaklah dalam sekejab, melainkan
melewati proses yang sangat lama. Gambaran teori ini sudah dari sendirinya
berbeda dengan apa yang ditulis dalam IQtab Suci tentang kisah Tuhan
pang menciptakan bumi dan segala isinya dalam tujuh hari (lih. Icejadian
1).
Teori I<uiper tidak cukup meyakinkan. Dua teori paling terlenal, pang
menyusul berikutnya, mengenai pembentukan alam semesta ialah teori
“Keadaan Tetap” (steaaj-state theoy) clan “Teori Dentuman Besar” (big bang).
Tokoh yang memelopori teori Keadaan Tetap ialah para ahli kosmologi
72 DIJKLIRTUS, Vd 7, No. I, Apd2008: 69-84
Inggris: Fred Hoyle (191 5-2001),” Herman Bondi (1 919-2005), dan
Thomas Gold (1920-2004). Sedangkan para ahli di balik teori Denturnan
Besarialah ahli fisika Amerika, George Gamow (1904-1 968), yang kemudian
didukung oleh Ralph Alpher (1921-2007) dan Robert Herman (1914-1997).
Teori Keadaatz Tetap (rteaaj-state) menggambarkan alam semesta yang
tidak berawal dan tidak berakhir. Alam semesta lebih kurang bersifat sama
dan tetap, bukan hanya di mana-mana, tetapi juga, setiap saat. Dengan
“tetap” tidak dimaksudkan tiada perubahan. Teori ini mengakui bahwa
alam semesta memuai tetapi pemuaiannya berlangsung
I<arena pertambahan alam semesta lewat pemuaian ini berlangsung
sampai tidak terhingga dan tanpa mempedulikan pertambahan massa dan
tenaganya, tesis teori Keadaan Tetap ini dipandang lemah.
Teori yang amat menghebohkan dan terus-menerus dikembangkan
dengan penemuan-penemuan menarik ialah teori Denturnan Besax Teori
ini berurusan dengan teori pemuaian alam semesta, tetapi dengan
penjelasan yang berbeda, yaitu dengan ledakan atau dentuman raksasa.
Secara singkat teori ini dapat diurai demikian. Teori ini meyakini bahwa
dam semesta pernah &enyam dalam satu bola raksasa. Bola ini terdiri
dari neutron dan tenaga pancaran yang disebut dengan “Yh(“di baca,
ailem). Sekitar delapan belas milyar tahun dam, Ylem ini meledak dengan
amat dahsyat. “Puing-puing” Ylern berterbangan. Icarena mengalami pemisahan
satu sama lain, temperatur pada masing-masing puing menyejuk
dari suhu bermilyar-milpar derajat menjadi berjuta-juta derajat saja. Pada
wktu inilah neutron serentak menjadi proton dan elektron. Sementara
tenaga pancaran membentulr atom-atom hidrogen, helium, dan seterusnya,
yang dalam eksperimen Stanley Miller (1 953) merupalran unsur-unsur pembangun
kehidupan. Dan semua unsur ini, menurut teori ini, terbentulr
setengah jam pertama setelah terjadi dentuman dahsyat.”
Teori ini menjadi sangat menarik Barena penemuan-penemuan yang
menyusul. Pada 1965, Arno Penzias (1934- ) dan Robert Wilson secara
kebetulan menemukan “sisa” dentuman itu. Mereka menemulran gelombang
mikro pang mendesis dengan suhu sampai 2,75 derajat Kalvin, yang
merupakan sisa radiasi ledakannya. Bukti-bukti ini tidak terbantahkan. Matahari
dan planet-planet ldta merupakan “puing-puing” dentuman hebat.
Tetapi teori ini tidak tanpa menyisakan persoalan lain. Jilra alam semesta
ini memuai dalam masa pang menyusul setelah ledakan ralrsasa, bagaimanakah
masa depannya? Penjelajahan sod yang berikut dilakukan sepenuhnya
dengan dalil-dalil teori Relativitas Khusus dan Relativitas Umum
Einstein serta teori Stephen Hawking yang menyempurnakan teori Einstein.
Teori-teori itu dimaksudkan untuk menjelaskan seputar hipotesis mengenai
bentuk alam semesta dengan pengertian tentang ruang dan
waktu.’ Persoalan ini menunjuk pada problem hipotesis: Jika dam semesta
pernah merupakan suatu ledakan setelah mengalami masa tertentu, kapan
dam semesta ini akan mengalami peristiwa yang sama. Kapan uaktu menemukan
akhirnya? Juga, kapan ruang tidak dapat kita sebut lagi sebagai
sungguh-sungguh ruang, melainkan suatu keadaan yang lain? Persoalanpersoalan
itu di luar kompetensi penulis intuk menjawabnya. Tetapi penulis
akan mengutip gagasan Hawking tentang waktu. Hawking dapat dikatakan
sosok ilmuwan murni, yang meletakkan segala sesuatu pada koridor
ilmu pengetahuan. Sejauh benar, valid, sahih menurut ilmu, ia percayai
sebagai benar. ~emikianse baliknya. Apa yang salah ialah jika prosedur
ilmiah tidak merekomendasikannya.
Hawking membedakan &a macam waktu. Atau lebih tepat dikatakan,
tiga arah waktu. Pertarnu, arah “waktu termodinarnika,” yang menunjukkan
di mana ketidakteraturan meningkat. Kedua, arah “waktu psikologis,” yakni
arah waktu yang kita rasakan di mana kita dapat mengingat masa lalu dan
bukan masa depan. Ketga, arah “walrtu kosmologis,” yang merupakan arah
waktu pengembangan serne~ta.~Penjelasamne ngenai waktu ini
dimaksudkan untuk memahami apa artinya awal (asal-mula) alam semesta
dan akhir kehidupan ini. Hawking melihat dan berlresimpulan bahwa,
mengenai proses tercipta alam semesta dan akhir dari semua ini tidak
membutuhkan penjelasan yang menyertalran peran Allah.lTidak ada
tempat bagi Allah pang disebut “the CreatotJ’ dalam apa yang merupakan
ketentuan hukum alam:
There would be no singularities at which the laws of science broke
down and no edge of space-time at which one would have to appeal to
God or some new law to set the boundary conditions for space-time . .
.The universe would be completely self-contained and not affected by
anything outside itself. It would neither be creatqd nor destroyed. It
would just BE . . . What place, then, for a creator?
Dalam apa yang disebut “waktu kosmologis,” kapan waktu berakhir
ketika apa yang kita sebut proses pengembangan semesta mencapai titik
memudar. Jelas tidak mudah diequivalenkan dengan hitungan waktu
psikologis kita, tetapi toh akan terjadi saat di mana dam semesta ini berakhir.
Jika alam semesta -dan dengan demikian juga disadarinya ruang dan
waktu- muncul dari suam bola raksasa neutron dan energi pancaran yang
meledak amat dahsyat, dari manakah kehidupan ini berasal? Dari Tuhan
ataukah dari persenyawaan unsur-unsur kimia yang membangkitkan dasardasar
kehidupan? Icehidupan memang mengandaikan alam semesta
terlebih dahulu. Sukar dibayangkan apa itu kehidupan jika tiada alam semes-
.:. ,
ta yang manampungnya.
Stanley Miller (1930-2007), adalah tokoh di balik penyelidikan bidang
ini. Ekspedmentasinya memberikan pengertian baru mengenai apa itu
kehidupan: Pada Abad Pertengahan, diakui formulasi generatio aeqtuvoca,
yaitu bahwa hidup dapat terjadi dari zat tidak berhayat, misalnya cacing
dari tanah. Atau, bahwa kehidupan ini terjadi serentak. Tetapi sejak Louis
Pasteur, formulasiitu salkh. Eksperimen Pasteur menunjukkan bahwa hidup
hanya berasal dari hidup. Sejak Pasteur, keyakinan bahwa kehidupan baru
dapat dimungkinkan biarpun tanpa campur tangan Tuhan, mulai menggejala;
dan Miller menegaskan dengan teramat ekstrim bahwa kehidupan
tidaklah terjadi sebagai peristiwa kebetulan atau peristiwa luar biasa atau
peristiwa serentak. Kehidupan terjadi secara biasadan berlangsung beberapa
kali dan dengan sendirinya, melalui reaksi kimia spontan dalam kondisikondisi
bumi awali. Jadi, pada saat untuk pertama kalinya bumi terbentang,
oleh suatu persenyawaan unsur-unsur kimia yang ada pada wvaktu itu, muncullah
benih-benih kehidupan. Miller mengadakan pengulangan reaksireaksi
kimia yang bersifat reduktif dalam aunosfer buatan (pang tidak ada
oksigennya). Atmosfer buatan dikondisikan seperti aunosfer primitif. Seperti
kita ketahui, atmosfer prirnitif mengandung gas metan (CH4), uap
air (H20)a,m onia @Hz), dan hidrogen (Hz). Miller merekayasa reaksi
berupa ledakan-ledakan dari unsur-unsur kimia itu. Hasilnya, ia
memperoleh sintesis spontan dari banyak molekul orgmik, termasuk asam
a?tino. Molekul-moleld inilah yang menandai dam fundamental kehidupan
organisme-organisme. Hasil itu tentu saja sangat mengejutkan, sebab
kehidupan organisme-organisme menemukan wujudnya tidak dari tangan
Tuhan, melainkan berlangsung dalam prosesyang wqar (yaitu dari unsurunsur
penyusun molekul organik)!
Proses selanjutnya ialah evolusi organisme-organisme @&logenesis).
Proses evolusi dari organisme primitif sampai ke hewan tertinggi, hewan
menyusui, membutuhkan waktu yang lama. Proses perkembangan organisme-
organisme itu makin terpacu oleh bakteri-bakteri (alga biru). Sebab
bakteri-bakteri itu mampu meresapkan cahaya matahari dan memproduksi
gula dengan melepaskan oksigen ke dalam atmosfer. Ketersediaan oksigen
memacu organisme-organisme lainnya untuk mengalami proses pembakaran
untuk memperoleh energi. dam cara yang dernikian, organismeorganisme
yang lain bermunculan, mengalami proses perkembangan,
mengevolusi. Waktu yang dibutuhkan dalam proses evolusi sampai keha-
&ran organisme bersel satu kuranglebih dua milyar tahun, dan baru kurang
lebih 700 juta tahun dam, mulailah perkembangan organisme bersel banyak.
Binatang bertulang punggung pertama muncul500 juta tahun lalu.
Sedangkan hewan menyusui 250 juta tahun kemudian. Dan semuanya dapat
sungguh berkembang setela:?g kepunahan reptil-reptil sekitar 60 juta tahun
lalu.”
Bagaimana evolusi yang mengagumkan itu dapat dijelaskan? Charles
Darwin menjelaskan dengan teori tentang seleksi: Organisme-organisme
selalu mengalami perubahan kecil sesuai dengan tuntutan dam.
2.3. HADIRNVAM AKHLUCKE RDASM ANUSIA
Problem penciptaan yang sangat sensitif dan krt/siaIialah tentang kehadiran
manusia. Dari mana manusia hadir? Semua agama atau suatu kepercayaan
religius apa pun akan mengatakan dengan pasti, bahwa manusia
merupakan bentdean Tuhan secara langsung dan istimewa serta luar
biasa. Dernikian IGtab Suci kita membenarkannya dengan kisah-ldsah penciptaan
yang mempesonalran.
Tetapi ilmu pengetahuan yang menpimak berdasarkan eksperimentasi
ilmiah, membongkar kebenaran kisah-ldsah itu. Dari penjelasan-penjelasan
di atas, kita dapat langsung mengatakan bahwa manusia, sebagai bagian
dari kehidupan lama semesta ini, berasal pula dari organisme bersel satu.
12 Sungguh suatu kekuatan alam yang mengagumkan, namun sekaligus
juga menegangkan khususnya dalam kaitan dengan iman, bahwa manusia
merupakan mahluk ciptaan tangan Tuhan berasal dari organisme bersel
satu. Bagaimana menjelaskannya?
Penjelasan tentang asal-usul manusia (sebagai yang berasal dari organisme
bersel satu) tidak dapat dilepaskan dari teori evolusi Dan~in.’~
Manusia berasal dari primata. Diketemukan fosil primata sekitar 10 dan 3
juta tahun yang lalu usianya. Primata-primata pada waktu itu merupakan
primata yang sudah berjalan di atas dua kaki saja. Dengan demikian dua
“kaki” depan menjadi bebas. Dua “kaki” itu menjadi tangan. Icepala tidak
lagi digantungkan ke depan, melainkan tegak lurus ke atas. Mulut tidak
lagi sebagai senjata dan alat tubuh untuk memegang (sebab sudah ada
tangan). Dengan demikian otot-otot kuat sekitar kepala yangmenghindari
pertumbuhan otak menyusut dan otak dapat berkembang. Perkembangan
otak merupakan wujud tampilnya suatu mahluk baru, mahluk cerdas, pakni
manusia. :,
Banyak ahli mengatakan bahwa kehadiran manusia merupakan loncatan
@?
evolusi. Artinya, sukar”ilibayangkan manusia deigan segala keunggulan
dan keluhuran aka1 budi, daya wajib etika moral, martabat eksistensinya,
serta cita rasa religiusitasnya merupakan suatu “hasil” evolusi primat tanpa
diakui adanya campus tangan dari kuasa lain di luar kelruatan seleksi dam.
Teilhard de Chardin dalam fase ketiga evolusi (fase noosfer) memilah
setiap benda /makhluk dalam segi, yakni segi luar (withou$ dan segi dalam
(within). Bila segi luar sepenuhnya dibangun oleh seleksi alam, segi dalam
perkembangan manusia tidalr dapat dipahami jika hanya disempurnakan
oleh alam. Sebab segi dalam perkembangan menyangkut dam kesadaran,
alam batiniah, dimensi psikologis, religius. Segi dalam perkembangan menyentuh
secara lrarakteristik pada perkembangan evolutif manusia. Hanya
manusia yang mengalami perkembanganfrom &bin. Segi dalam manusia
tidak hanya menjadi bagian dari badan manusia, melainkan juga mengatasinya,
dan tainpil sebagai kesatuan dunialain dalam diri manusia.14 Pada
tahap ini, teori Danvin jelas “meloncati” perkembangan. Karenanya, kehadiran
manusia tidak dapat disimak semata dari evolusi fisik badan/tubuhnya
melainkan evolusiljom within, yang menyisakan ruang kesadaran bahwa
ada intervensi lain dari sekedar perkembangan evolutif. Orang beriman
menyebutya “Tuhan.” Teithard de Chardin merniliki segala argumentasi
ilmiah untuk mempertanggungjawabkan kehadiran evolutif manusia yang
tidak semata fisik.
3. SATU DUA TANGGAPAN EMOSIONAL
Satu dua teori penciptaan di atas membangkitkan tanggapan-tanggapan.
Umumnya tanggapan emosional berasal dari kalangan agamawan yangmemegang
teguh kebenasan dogmatis agamanya. Tetapi tidak hanya itu, tanggapan
yang tidak mendalam juga kerap muncul pada benak asumsi para ilmuwan yang secara nag menyamaratakan produk iliniah ilmu pengetahuan dengan kisahkisah
dalam IGtab Suci. Dalam sejarah peradaban Kristen di beberapa abad
dam, tidak jarang kalangan Gereja, terutama para anggotanya yang kolot,
juga terjebak untuk memberikan tanggapan-tanggapan yang emosional dan
tidak mendalam, seperti:
Pertama, menqlak semua kebenaran yang tidak sesuai dengan kebenaran
IGtab Suci. IGsah penciptaan dalam enam hari (Kej. 1) merupakan kebenaran
yang tidak dapat ditawar. ~ahb$ase penuhya penciptaan itu terjadi serentak
oleh tangan Tuhan, juga tidak dapat diingkari. Sikap ini tentu saja memiliki
karakter emosional. Emosionalitasnya semata-mata tidak berdasas pada sekedar
penyangkalan terhadap ilmu pengetahuan, melainkan juga terletalr pada sikap
metyamakan atau menyedetzjatkan begitu saja buku IGtab Suci dengan bulrubuku
fisilra, kimia, matematika, astronomi, atau ilmu pengetahuan yang lain.
IGtab suci seakan-akan harus bersaing dalam ha1 hipotesis-hipotesis teori penciptaan
dengan produlr ilmu-ilmu pengetahuan lain. Secara logis penyederajatan
kisah latab Suci dengan produk itmiah ihnu pengetahuan jelas misleading. Sebab
ilmu pengetahuan memiliki prosedur ilmiah yang tidak diandailran dan berbeda
dengan buku Ktab Suci. IGtab Suci adalah buku iman yang tidak memiliki
prosedur penemuan sebagaimana disajikan dalam sebuahpaper ihniah penemuan
tentang realitas 6zg bang atau peristiwa collision tiga galaksi yang menjadi
emblem penemuan luar biasa mengenai sejarah alam semesta adab ad ini.
Kedna, menerima hasil-hasil penyelidilran ilmu pengetahuan sebagai suatu
“lreterpaksaan” dan karena itu udak inungkin diintegrasilran dengan iman.
Dunia ilmu adalah dunia ilmu, pang hanpa menyentuh otak. Sedangkan dunia
iman adalah dunia hati. Sikap ini sckilas tampak benar dan bijak. Tctapi,
tanggapan yang dernikian itu tidak tepat. Sebab dalam diri kita, seakan akan
barus diakui ada dua dunia, dunia hati dan dunia otak. I<onsekuensinya, roh
kita, roh manusia, harus menjelajah dalam dua dunia. Ada roh untuk otak
yang berurusan dengan ilmu, dan ada roh untuk hati yang bertekun dalam
iman yang tidak dapat ditampung otak. Pandangan ini naif, karena tidak ada
integritas. Ada lenyataan-kenyataan yang berlawanan dan tetap diakui benar
kedua-duanya dalarn diri manusia yang tunggal.
Dalam terang EnsikliX: “Fides et Ratio” pandangan yang kedua ini tidak
mendapat tempat.15 Dalam Ensiklik ini, iman dun akal bztdi (‘Ifides et ratio)’) adalah
bagaikan dua sgap bagi manusia untuk terbang kepada kontemplasi tentang
kebenaran, kebenaran hidup manusia,dan kebenaran iman akan Allah. Menafikan
prinsip kebersatuan keduanya, karenanya, harus kitapandangnaif. Dalam
terang iman Katolik, ilmu dan iman tidak boleh dipandang sebagai dua dunia
manusia yang saling bertentangan dan tidak dapat direkonsiliasikan.
Salah saw perkara penting yang harus dicermati ialah tidak jatuh ke dalam
sikap simplifikasi di satu pihak dan tergelincir ire dalam lubang kekacauan
pandangan yang secara konkret mengindikasikan “indflerence.” Orang mesti
memiliki cara pandang pan$ramik dalam memeriksa berbagai bentuk kemajuan
dan meletakkan konsiderasi kepada pemandangan yang dewasa.16
4. PENUTUP: IMPLIKASI UNTUK TEOLOGI PENCIPTAAN
Jati diri teologi penciptaan dapat diringkas dalam tiga kata: Antropologiteologis
fundamental. Dari ketiga kata ini, dapat langsung ditemukan bahwa sentrum
perbincangan teologi penciptaan adalah manusia (antrophos). Sentrum hi pula
yang memberi makna pentingnya teologi penciptaan. Dari sebab itu aktualitas
teologi penciptaan tidak saja dalam kerangka “menjelmakan” (atau menginkarnasikan)
iman pada masa kini, melainkan juga dalam kerangka isinya, pakni
tentang manusia. Tema tentangmanusia senantiasa aktual, hangat, mendesak.”
Tetapi refleksi teologis tentang manusia tidaklah demi dirinya sendiri. Refleksi
teologis tentang manusia dimaksudlran untuk memMawa manusia naik
kc tingkat ilahi. I<eunggulan martabatnya dipikirkan tidak dalam kaitannya
dengan dirinya sendiri atau dengan ciptaan lain (yang lebih rendah), melainkan
dalam hubungannya dengan Allah. Manusia adalah ciptaan mulia, sebab ia
menjadipartnerAUah. Ia hadir dan tampil sebagai rekan kerja Allah tidak hanya
Trori P~~iptea- nT eolqi l’eiripth (Arurorla Ripim) 79
dalam tata penciptaan, melainkan terutama dalam tata keselamatan. Icehadirannya
menunjukkan sekaligus perutusannya. Artinya, ketika manusia lahir, tercipta,
ada, hidup, ia tidak sama dengan mahluk lain yang sekedar untuk hidup,
bernapas, makan, dan berkembang biak. I<ehadiran manusia sekaligus mengatakan
p&utusannya sebagai yang menjadi pembawa kabar keselamatan dan
menebar kebaikan bagi sesamanya. Manusia ada untuk memanusiawikan kehidupannya
dan kehidupan bersama dengan sesamanya. Dalam jalan pikiran ini,
kita dapat berkata bahwa segala peristiwa ketidakadilan dan keterpurukan yang
menimpa sesama kita menjadi bdti tidak manusiawinya kehidupan kita. Dengan
kata lain, ketika kita gagal menyelenggarakan tata hidup bersama yang adil
sejahtera, kita telah gagal pula mewujudkan tata keselamatan ciptaan Tuhan.
Teologi penciptaan tidak melakukan’penjelajahan ilmiah, empirilial, eksperimental
tentang manusia. Tiada penelitian mengenai asal-usul manusia dan
dunianya yang dijalankan oleh para teolog. Domaiil refleksi teologis penciptaan
mengandaikan kebenaran bahwa manusia berasal dari Allah, kemudian jatuh
ke dalam dosa tetapi diselamatkan kembali dan dimasukkan dalam kehidupan
baru. Teologi penciptaan tidak mengurusi fosil-fosil manusia, pun tidak organisme-
organisme pur6a, atau molekul-molekul penyusun kehidupan. Refleksi iman
(teologi) tidak mau melangkahik dunia yang bukan domain refleksinya. Ia
lebih suka mendengarkan dan mTnyimak hasil-hail invensi penyelidikan ilmiah.
Jika hasil-hasilnya ternyata berbeda dengan pengandaian-pengandaian yang
tertulis dalam IGtab Suci, ia mengemukakan posisinya dengan sikap dewasa
dan mantap.
Frederick Schleirmacher adalah pionir untuk hermeneutika yang membantu
memposisikan siliap dewasa seorang besiman terhadap aneka penemuan ilmiah.
Schleirmacher mengatakan bahwa IGtab Suci atau apa saja yang merupakan
produk masa lampau memiliki secara cermat kebenaran-kebenaran kontekstual
di satu pihak dan pesan-pesannya yang mengatasi ruang dan waktu di lain
pihak. Jarak waktu hidup kita dengan saat terjadiva atau diturunkannya IGtab
Suci jelas terbentang sangat panjang. Apa pang kita maksudkan dengan sebuah
terminologi pang sama sangat mungkin memiliki makna yang berbeda karena
konteks yang berbeda. Misalnya, bila kita menyimak bab 1 dari IGtab Kejadian,
sudah barang tentu kisah penciptaan yang diceritakan di sana memiliki latar
belakang konteks budaya, historis yang berbeda dengan yang ldta hidupi saat
ini. Perbedaan ini memungkinkan sebuah posisi yang tidak serta-merta secara
80 DISKURTUS, i/o/ 7, ib 7, A)rr/2008: 69-84
naif menyamaratakan kebenaran-kebenaran IGtab Suci dengan produk penyelidikan
ilmu pengetahuan.
Bila mencermati satu dua teori tentang penciptaan di atas, mau tidak mau
kita didesak untuk mencabut semua kebenaran iman seperti tertuang dalam
IGtab Suci. Tidak ada yang tersisa. Bagaimana menjelaskan benturan hebat
antara iman tentang penciptaan dan hasil-hasil ilmu pengetahuan modern
tentang peristiwa penciptaan?
Pertama-tama hams dikatakan bahwa apa yang dimaksudkan dengan iman
tentang penciptaan sebagaimana tertuang dalam IGtab Icejadian bab 1 dan
bab 2, bukanlah iman mengenai evolusi. IGtab Icejadian bab 1 dan 2 samasekali
tidak menunjukkan apa-apa tentang peristiwa penciptan seperti yang
digumuli teori evolusi. Ada pesan lain yang jauh lebih hebat yang hendak dikatakan
di sana. Dalam kisah itu pen& hendak mengatakan siapa AUah dan
siapa manusia yang sesungguhnya. Allah adalah pencipta, dan manusia adalah
pusat dan puncak ciptaan-Nya. Dengan pengertian ini seorang beriman tidak
perlu (dan tidak dapat) dikurangi kebenaran imannya, kendati ditemukan
formulasi-formulasi ilmiah baru yang nampak lcontradiktif dengan imannya.
Teilhard de Chardin melihat bahwa ajaran evolusi justru membuat kita
.+*
semakin kagum akan kebijaWSanaan rencana keselarnatan Allah. “Teilhardattenps
to make sense oj the universe its e~oluhona~procesHs.e interprets mankindas the axis
4 evolution into higher consciousness, andpostulates that a supreme consciousness, God,
must be drawing the universe towards him.”‘* I<eseluruhan rangkaian proses re’aksi
yang membentulc dan menyusun kehidupan ciptaan ini sama-sekali tidak mengurangi
‘Yrovidentia nivina-Nya” @enyelenggaraan ilahi-Nya) yangpenuh kasih,
melainkan justru meneguhkannya. Icarena itu, penulis setuju dan menggabungkan
diri dengan refleksi singkat Prof. Franz Magnis-Suseno perihal I<ejadian
bab 1 dan 2. “IGtab Icejadian itu sesungguhnya mengungkapkan sebuah
misteri, bagaimana seluruh dunia dan saya sendiri keluar dari tangan Allah dan
tetap di tangan Allah bahwa segala dosa dan keburukan tidak kuat untuk mengalahkan
cinta kasih Allah yang menciptakan segala-galanya secara baik adanya.””
Maka, mencermati teori-teori tentang penciptaan sesungguhnya tidak lain
dan tidak bukan sama artinya dengan mengagumi misteri keagungan peristiwa
penciptaan yang luar biasa. Luar biasa, bukan hanya karena kita terpukau oleh
keindahannpa, melainkan kita juga dibuatnya tergantung oleh kedahsyatan kekuatan
dari Sang Pencipta; terutama ketika kehidupan ldta didera oleh aneka
bencana seperti tiada hentinya akhir-akhir ini.
Felix, qnise~npervitaeb ene co+utatusnm. Berbahagialah orang pang senantiasa
menggagas hidupnya dengan baik. Demikian kata seorang penyair Croatia, M.
Marulic, dalam Carmen de docftina Domini no& Iesu Cbristipendentir in Croce, v.
77. Dengan menggagas hidup dimaksudkan memeriksa, memikirkan, memperhitungkan,
merencanakan, setiap kali menyimak ulang, juga tentang asalusul
kehidupan kita.
Catatan-catatan:
1 Addah Kardinal Bellarminus yang pada wakm itu diminta Sri Paus untuk “menasihati”
Galileo Gahlei agar meninggalkan teorinya;,,dan bedkurnya, adalah I<ardinal Francesco
Barberini (bersama Rmardi dan Agostino Oreggi) yang bertindak sebagai hakim Inquisisi
atas tesis-tesis ilmiah Galileo Galilei. Perkara yang diadili Gereja dapat diringkas dalam
dua proposisi yang hertolak dari dalil-dalil Copernican: 1. The SUII is the centre of the worldand
cotn.p lete-ly inz1tzoua6le 61, local motion; 2. The earth ir mt the rentre of the world nor itmxouai,le, hit
moues orcordirrg to the &ole o f itre4 and OLIO with a dii~rrd~ootior~i.d ismi ajalah Title (12 Maret
1984) memuat teks lengkap bagaimana Sri Paus Yohanes Paulus I1 merehahilitasi nama
ilmuwan Galileo Galilei yang selama lebih dari tiga abad dipandang keliru. Pope Joh~ll md
examinin-e the underbinniw reasons hr1n16l~nc cebted that ‘Yhe Galifeo case was the ~t~boltohef C h~irchlli “, A
supposed re/erioti o f iie~tt$cprogress, or o f dog~~tai0ir6 snirantisnt opposed to thejree searcbj& tnh. ”
(PopeJ ohn Pard i999)Accorditrrg to Pope John Paitld~teto the Gnlileo con there,uasager~erali/npression that science and Christian faith were in&.n p- atib/e leaditx to a “trayic nutual it~cotxpreher~siorarr”r d a
/~II,/~JIcIp.pNus~~~~ io,;, t/~s MI wi~ rr?2 ,1d,/kb Sirwl; ~rtiktly nn,: cukup r~ngkasd m menarrk
rcnrang “condernnmnn anJ rel~nh~!~r.isr:<m C ;.tliIco Gdilr.~,”h o~ItV arporl ro lVhoIIce~~:
%I? ~n,idcmlu~m6~ti i~ ii~~~h,,ohfl~h./l~.it6~ Cflolh ..~.o leh .ladles Chnn~lmnkunncl.1 .ih.
http://www.metanexus.net/ magazine/tabid/68/id/8850/Defauk.aspx (Diakses 1 April
2008).
2 Stephen Hawking dikenal luas sehagai ilmuwan fisika dengan kontribusinya yang sangat
menonjol daiam lapangan kosrnologi dan “quantum gravitasi” dalarn konteks “lubang
hitam”. Karya yang dipandangnya sebagai sebuah tulisan populer, A Rtiq’ Histog, of Ttme,
mendapat sambutan luar biasa sehagai sebuah huku bestseller.
3 Theoy o f Eueg~thi~mge nunjuk kepada The Theog, of Eueg’tbitrrg: The Oi7gi11 and Fate o f the
Uniuerse is a 2002 hook by Stephen Hawking (ISBN 1-893224-79-1). Semula Thgo~f
Eueythingmerupakan ranah disiplin ilmu fisika yang mengklaim kemampuan menjelaskan
segala hal. Tetapi, Thg, of Eueythirrrg juga berada dalam perspektif filosofis yang secara
spekulatif menjelaskan segalanya. Ada semacam “keserupaan” metodis antara Hawking
dengan Plato atau Aristoteles yangmenjelaskan secara filosofis segala apa yangada. Ilanya,
Hawking hertolak dari rnatematika dan fisika, sementara kedua filosof kuno Yunani itu
tidak mendasarkan aneka teori filosofisnya pada eksperimentasi.
4 Fred Hoyle, who has died aged 86, will be remembered as one of the most distinguished
and controversial scientists of the 20th century Soon after the end of the Second World
War he became widely known both by scientists and the public as one of the originators
of a new theory of the universe. He was a fluent writer and speaker and became the main
expositor of this new theory of the steady state, or continuous creation, according to
which the universe had existed for an infinite past time and would continue infinitely into
the future, as opposed to what Hoyle styled the “big bang” theory Cf. Bernard Lower,
“Obituary Sir Fred Hoyle who was mysteriously denied Nobel Prize,” The Gwdin,i, Thursday,
August 23,2001.
5 The theory tried to explain horn the universe could be eternal and essentially unchanging
while still having the galaxies we observe moving away from each other. The theory hinged
on the creation of matter benveen galaxies over time, so that even though galaxies get
further apart, new ones that develop benveen them fill the space they leave. The resulting
universe is in a “steady state” in the same manner that a flowing river is – the individual
water molecules are moving away but the overall river remains the same. Cf. http://
en.wikipedia.org/wiki/Fred-Hoyle (Diakses pada 2 April 2008).
6 Alpher’s dissertation in 1948 dealt with a subject that came to be known as Big Bang
nucleosynthesis. The Big Bang is a term coined initially in derision by Fred Hoyle to
describe the cosmological model of the universe as expanding into its current state from
a primordial condition of enormous density and temperamre. Nucleosynthesis is the
explanation of how more complex elements are created out of simple elements in thr
moments following the Big Bang. Right after the Big Bang, when the temperature was
extremely high, if any nuclear particle3 such as neutrons and protons, became bound
together (being held together by the attrattive nuclear force) they would be immediately
broken apart by the high energy photons(quanta of light) present in high density In other
words, at this extremely high temperature, the photons’ kinetic energy would ovenvhelm
the binding energy of the strong nuclear force. For example, if a proton and a neutron
became bound together (forming deuterium), it would be immediately broken apart by a
high energy photon. However, as time progressed, the universe expanded and cooled and
the average energy of the photons decreased. At some point, roughly one second after the
Big Bang, the attractive force of nuclear attraction would begin to win out over the lower
energy photons and neutrons and protons would begin to form stable deuterium nuclei.
As the universe continued tp expand and cool, additional nuclear particles would bind
with these light nuclei, buildikg up heavier elements such as helium, etc. Alpher argued
that the Big Bang would create hydrogen, helium and heavier elements in the correct
proportions to explain their abundance in the early universe. Alpher and Gamow’s theory
originally proposed that all atomic nuclei are produced by the successive capture of neutrons,
one mass unit at a time. However, later study challenged the universality of the successive
capture theory since no element was found to have a stable isotope with an atomic mass
of five or eight, hindering the production of elements beyond helium. Cf. http://
en.~ikipedia.org/wiia/Ralp11~Alp11(eDr iakses pada 5 April 2008).
7 Lih. David Bergamini, A/am Se/nestn aakarta: Tira Pustaka, 1983), him. 169-176.
8 Lih. Sandi Setiawan, “Lubang Hiram Petunjuk Kegagalan Relativititas Einstein,” Kunqas, 23
Nopember 1992, hlm. 3.
9 Artikel singkat yang cukup menarik dan layak disimak, dibuat oleh Henry F. Schaefer 111,
“Stephen Hawking, the Big Bang, and God” dalam http://www.leaderu.com/real/ri9404/
bigbang.hunl (Diakses pada 29 lvlaret 2008). Juga, Quentin Smith, “Stephen Hawking’s
Cosmology and Theism,” Arin&r 54 (1994): 236-243.
10 S. Y! Hawking, A Brig Histoy of Tim (New I’ork: Bantam, 1988), pp. 136, 141.
I1 Lib. E Dahler dan Julius Candra, AralDnn T+zn ~I/iorii/si(aY ogyakarta: I<anisius, 1984),
hlm. 68.
12 Ihid, hlm. 62-64.
13 Tetapi, sudah barang tentu , teori Danvin bukan tsnpa kelemahan. “Does the Danvinian
theory provide us with a satisfactory explanation of evolution of nature? The biochemist
Michael Behe has argued that it is improbable that the Daminian mechanism is capable
of explaining the evolution of e.g highly complex biochctnical systems. Danvinian theory
maintains that evolution proceeds through gradual incremental changes, but it is improbable
that very complex systems evolve in this way since all the parts of which such a system is
composed have to be in place if the system is going to work. If the system lacks any of its
component parts, it cannot work at all, and wdl present no advantage to the organism.
Consequently, natural selection would not select for such an unfinished system for further
evolution. Behe claims that these biological systems are irreducibly complex and that
therefore it is highly improbable that they should have evolved sol el)^ as a result of the
workings of the Danvinian mechanism.” Demiluan Michael Behe sebagaimana dikutip
dari Jacob Wolf, A Critique oj ‘Tl~eisticEuol:rtiom”a s a Szpplemer1tay Madelof the Relutionship
betiveen Danvir1ia12 Theoy aiid Rehgiori, dalam http://www.metanexus.net/Magazine/
ArticleDetail/tabid/68/id/9224/Default.asp (Diakses pada 1 April 2008).
14 F. Dahler dan Julius Chandra, AsalDaii Tt~j~iaMfai nnsia, hlm.71-76.
15 Pans Yohanes Paulus 11, EnylicalFides et Ratio, 14 September 1998, sebuah Ensikhk yang
menandai dua pulnh tahun pontifikalnya.
16 Lih. Charles P. Henderson, Jr., Godand Scieme. The Deatl, arrd Rebirth of Theism, John Ihox
Press, 1986. Sebuah buku yang dapat mengantar pernabaman secara panoramikpemeriksaan
llmu pengetahuan dalam Karl Marx, Danvin: F;eud, Einstein, Tillich dan de Chardin. Lih.
http://xwwgodweb.org/godand.htm (Diakses pada 3 April 2008).
17 P.M. Handoko, TeologiPerzciptaan (Tvlalang: Widya Sasana, 1993), hlm. 6.
18 Salah satu bukuTeilhard de Chardin yang paling penting, ThePheno~mnonof i&n, melukiskan
sebnah masterpiece tentang bagaimana evolusi n~emuncakd an berpusat pada manusia yang
secara fenomenaljustru mengatasi segala hingar bingar nraian ilmiah tentang evolusi itu
sendiri. Manusia adalah snatu fenomen! Karenanya, dalam lukisan kompleksitas dan
keindahannya, tidak mungkin tanpa campur tangan Allah.
19 Franz Magnis-Suseno, “Hikmall iU-Ititab Pada Akhir Abad ke-20,” U/mdQxra’apr 2
(1991): 72. C
:g
DAFTAR RUJUKAN
Bergarnini, David. Alum Setnesta. Jakarta: Tiara Pustaka, 1983.
Dahler, Franz dan Julius Chandra. Asal Dan Tnjzlan Manusia. Yogpakarta:
Handoko, P.M. Teologi PenciPtaan. Malang: Widp Sasana, 1993.
Hawking, Stephen A7 A Bf-ieJ H&,y 4 Time. New York: Bantam, 1988.
Henderson, Jr., Charles P. GodandScience: The Death andRebirtb of Theism. John
ISnox Press, 1986.
Magnis-Suseno, Franz. “Evolusi dan Iman.” Dalam Seran, Alex dan Embu .
Hentiquez (pen)’.), Itnan dan Ilmzi. Yogyakarta: Icanisius, 1992, hlm. 3-
12.
. “Hikmab Al-Kitah Pada Alchir Abad ke-20: Serangkaian
Pengalainan.” UIz~mztlQur’anJ.z ~rizalllmzd~m I Zebwda,vaan 2 (1991):67-73.
84 DlXURJLiS, Vd 7, AT0 1, Apd2008: 69~84
Sandi, Setiawan. “Lubang Hitam Petunjuk Kegagalan Relativitas Einstein.”
Dalam Konipas (23 Nopember 1992).
Smith, Quentin. “Stephen Hawking* Cosmology and Theism.” Atzab~is5 4
(1994): 236-243.
Yohanes Paulus 11. Fides et Ratio. 1998.

3 thoughts on “Teori Penciptaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s