Arkeologi

MENGUJI KEORISINAL ALKITAB

Oleh : Leo Siribere

PENGANTAR

Alkitab adalah firman Allah yang Maha benar. Oleh sebab itu Alkitab harus benar dalam setiap statement maupun pencatatannya. Jikalau ada kesalahan sekecil apapun dalam pencatatan Alkitab atau pun pertentangan-pertentangan antara bagian satu dengan yang lain, maka pemberi Alkitab bukanlah Allah yang Mahabenar. Namun sayang sekali kita sudah tidak memiliki teks Alkitab yang asli (authographa) yang ditulis langsung oleh penulis kitab, karena naskah authographa sudah hilang/rusak karena usia. Kita hanya memiliki salinan-salinannya. Dan yang menjadi persoalan adalah, dari sekitar 5,000 lebih salinan atau yang biasanya disebut Manuscripts (MSS) tidak memiliki kesamaan yang mutlak dalam penyalinan catatan detail-detailnya. Oleh karena itu, untuk mengedit MSS tersebut dan menjadi sebuah kitab para pengedit harus sungguh-sungguh dipimpin oleh Tuhan, supaya hasilnya adalah firman Allah yang terpelihara otoritasnya.

Di antara para pengedit Alkitab, ada dua kelompok editor yang terkenal, yang mana hasil editannya banyak dipakai oleh orang Kristen di seluruh dunia saat ini. Mereka adalah Westcott-Hort dan Desiderius Erasmus. Westcott-Hort dan pengikutnya menghasilkan Alkitab PB yang disebut “Critical Text” , sedangkan Desiderius Erasmus dan pengikutnya menghasilkan kitab PB yang disebut “Textus Receptum” .

Dari dua teks yang dihasilkan di atas ternyata memiliki perbedaan-perbedaan yang menyolok. Critical Text banyak melakukan penghapusan kata, perubahan arti kata-kata tertentu, ayat-ayat tertentu, maupun bagian-bagian tertentu dalam Alkitab. Critical Text menyerang dokrin Evangelikal/ Injili [ i ] dan Textus Receptus justru sebaliknya mempertahankannya dengan gigih. Critical Text diedit dan digunakan oleh orang-orang liberal, sedangkan Textus Receptus diedit dan digunakan oleh orang-orang Injili atau konservatif.

Bertolak dari sinilah saya ingin membandingkan kedua teks tersebut dengan penyelidikan-penyelidikan yang cermat dan hati-hati untuk mendapat jawaban, “Yang manakah teks yang dipelihara Tuhan?”. Jika ada dua teks yang berbeda dan saling bertentangan, tentulah yang dipelihara Tuhan bukan kedua-duanya, tetapi pasti salah satu dipelihara sedangkan yang lain tidak. Dan tentulah teks yang menyerang berita Alkitab bukanlah teks yang dipelihara oleh Allah yang Mahabenar, tetapi sebaliknya teks yang mempertahankan kemurnian pengajaran Alkitab adalah teks yang dipelihara Allah. Tuhan Yesus berjanji, “Karena Aku berkata kepadamu, sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”

OTORITAS ALKITAB AUTHOGRAPHA

Otoritas Alkitab ditegaskan oleh doktrin inspirasi Alkitab. Alkitab adalah nafas Allah (2 Tim. 3:16). Kata inspirasi berasal dari kata Yunani “theospneutos” ini adalah “God’s inspiration” dan bukan “man’s inspiration”. Allah memakai para penulis Alkitab untuk menuliskan firmanNya yang tanpa salah (2 Pet. 1:21). Ada beberapa teori tentang doktrin inspirasi dalam dunia teologi. Namun saya akan menjelaskan tiga teori utama di sini :

1. Inspirasi Alamiah/ Natural Inspiration

Teori ini mengatakan bahwa Alkitab adalah karya literatur yang tidak ada bedanya dengan karya-karya “Shakespeare”. [ii] Karena Alkitab hanya merupakan karya sastra manusia belaka, maka Alkitab harus dipelajari dengan menggunakan metode, analisis dan interpretasi humanistik. John D. Crossan berkata bahwa “Alkitab merupakan campuran mitos, propaganda, dan norma-norma sosial.” [iii]

2. Inspirasi Sebagian/ Partial Inspiration

Teori ini mengatakan bahwa tidak seluruh Alkitab diinspirasikan oleh Allah. Hanya bagian-bagian yang mengajarkan tentang iman dan keselamatan saja yang diinspirasikan. Oleh sebab itu ketika berbicara tentang sains, sejarah dan geografi, Alkitab bisa salah. Dalam pengertian demikian dapat dikatakan bahwa Alkitab berisi firman Allah, artinya di dalam Alkitab ada yang firman Allah dan ada yang bukan firman Allah, dan merupakan perkataan manusia bahkan mitos atau dongeng.

3. Inspirasi Mutlak/ Absolute Inspiration

Teori ini mengajarkan bahwa Alkitab (66 Kitab) diinspirasikan Allah secara mutlak, dan hasilnya seluruh Alkitab adalah firman Allah yang tidak ada salah atau absolute inerrancy and infallibility.

Berbicara tentang inspirasi Alkitab, hanya teks asli ‘autographa’ atau hasil tulisan langsung penulis Alkitab yang diinspirasikan. Salinan Alkitab dan terjemahan Alkitab tidak diinspirasikan.

KEOTENTIKAN DAN PROSES TRANSMISI ALKITAB

Dr. Charles Ryrie mengatakan bahwa saat ini ada lebih dari 5000 manuskrip atau salinan Alkitab Perjanjian Baru yang ada tersimpan, yang mana semuanya merupakan tulisan-tulisan kuno. [iv] Dan dalam bagian ini saya ingin memberikan informasi tentang bagaimana proses transmisi atau penyalinan Alkitab ini.

1. Transmisi Kitab Perjanjian Lama

Kitab Perjanjian Lama ditulis dalam kurun waktu 1500 tahun. Dan kitab ini telah dipergunakan oleh umat Allah di sepanjang masa. Seperti halnya Perjanjian Baru, Perjanjian Lama juga mengalami penyalinan dan penerjemahan ke dalam berbagai bahasa untuk dapat diteruskan dari generasi ke generasi. Dr. D.A. Waite, President of Bible For Today, USA dalam bukunya Defending the King James Bible, menjelaskan proses penyalinan Perjanjian Lama sebagai berikut; [v]

  1. Perkamen yang bersih dipersiapkan hanya dari kulit binatang yang benar-benar bersih.
  2. Setiap kolum berisi 48 – 60 baris. Garis-garis dibuat sebelum penyalinan dilakukan.
  3. Tinta yang digunakan selalu berwarna hitam, dan dipersiapkan sesuai dengan kebutuhan.
  4. Para penyalin tidak diijinkan menyalin berdasarkan ingatan. Ia harus memiliki naskah yang otentik yang akan disalinnya. Sebelum menulis ia harus membaca dan mengucapkan setiap kata. Ini untuk menghindari pengulangan atau pengha-pusan kata pada waktu penyalinan.
  5. Setiap kali ia menuliskan nama Allah (mis. Elohim), ia harus terlebih dahulu mencuci penanya. Tetapi sebelum menulis nama “YEHOVA” (bahasa Indonesia TUHAN), ia harus memandikan seluruh tubuhnya. Ini menunjukkan betapa mereka sangat menghormati Firman Allah.
  6. Hasil salinan akan diperiksa lagi setelah 30 hari penyalinan selesai. Jika ada satu kesalahan pada satu halaman, maka halaman itu harus dihancurkan, dan jika ada tiga kesalahan di beberapa halaman, maka seluruh salinan harus dihancurkan.

Fakta di atas menunjukkan betapa hati-hatinya penyalinan Alkitab Perjanjian Lama, sehingga otoritas dan keotentikannya dapat dijamin.

2. Transmisi Kitab Perjanjian Baru

Periode transmisi Perjanjian Baru memakan waktu 1400 tahun. Ini dimulai dari pengumpulan (abad ke-1) sampai ditemukannya mesin cetak (abad ke-15). Sejarah penyalinan Perjanjian Baru dibagi ke dalam tiga periode, yaitu: (1) periode papyrus (abad ke-1 sampai abad ke-4), (2) periode uncial (abad ke-4 sampai ke-9), dan (3) periode minuscule (abad ke-9 sampai ke 15).

Periode Papirus

Disebut periode papyrus karena salinan-salinan kitab ditulis pada lembar-lembar papyrus. Ada 88 salinan dalam papyrus yang saat ini kita miliki. [vi]

Adapun papyrus-papyrus yang dianggap penting di antaranya ialah :

1. Papyrus Perjanjian Baru koleksi Chester Beatty

a) P45, berisi empat Injil dan Kisah Para Rasul, tertanggal dari permulaan abad III
b) P46, berisi Surat-surat Paulus (kecuali surat-surat Pastoral) dan Ibrani, tertanggal dari permulaan abad ketiga yang pada tahun 1930 diedit oleh F.G. Kenyon.
c) P47, berisi kitab Wahyu 9:10-17:2, tetanggal dari abad III

2. P52 yang merupakan manucript tertua Perjajian Baru yang kita miliki. P52 ditemukan di Mesir pada tahun 1920, tetapi tidak diperhatikan sampai 1934. P52 hanya berisi Yohanes 18:31-33,37, tertanggal kira-kira permulaan abad kedua. Injil Yohanes mungkin ditulis di Efesus, tetapi fragmen ini menunjukkan bahwa pernah disalin di Mesir kira-kira A.D. 130. P52 sekarang berada di John Rylands Library, Manchester.

3. Koleksi papyrus penting lainnya adalah yang tersimpan di Bodmer Library di Geneva, Switzerland.

a) P66, berisi sebagian besar dari Injil Yohanes yang tertanggal pada pertengahan abad II.
b) P72, berisi Surat Yudas dan dua Surat Petrus dan sejumlah tulisan lain, tertanggal dari abad III.
c) P73, fragmen dari Injil Matius dalam ukuran kecil.
d) P74, berisi Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Umum dalam bentuk fragmen, yang ditulis pada abad ke-tujuh.
e) P75, berisi Injil Lukas dan Yohanes, yang tertanggal pada akhir abad II.

Periode Uncial

Disebut periode uncial atau majuscula karena pada periode ini penyalinan Alkitab ditulis pada perkamen (terbuat dari kulit binatang) dan ditulis dengan huruf kapital semua. Ada 267 uncial Perjanjian Baru yang telah ditemukan yang tertanggal dari abad IV sampai abad X. [vii]

Adapun naskah uncial yang sangat penting dari 267 naskah tersebut diantaranya ialah :

1. !, 01, codex Sinaiticus dari abad ke IV, yang berisi P.L. dan P.B., yang saat ini bera-da di British Museum di London. Codex ini dibawa oleh Constantine Tischendorff dari Monastery St. Catherine di gunung Sinai. Mula-mula codex ini dibawa oleh Tischen-dorff dari gunung Sinai ke Rusia pada tahun 1859, hingga akhirnya dibeli oleh pemerintah Inggris seharga 100,000 Pound Sterling.
2. A (02), codex Alexandrianus, manuscript abad V yang berisi P.B.; kecuali Injil Matius, sebagian Injil Yohanes, dan 2 Korintus, yang berasal dari Mesir dan dibawa ke Inggris pada tahun 1627, pada masa Raja Charles I, oleh seorang patriakh dari Constantinople.
3. B. (03), codex Vaticanus yang ditulis kira-kira pada pertengahan abad IV dan berada diperpustakaan Vatikan sejak abad XV. Aslinya berisi P.L. dan P.B. dan sebagian Apocrypha; kecuali Kitab Kejadian & sebagian Mazmur untuk P.L., sebagian Ibrani dan seluruh surat kepada Titus, Timotius, Filemon dan Wahyu untuk P.B.
4. C (04), codex Ephraemi Rescriptus, adalah manuscript Yunani P.B. yang sangat penting dari abad V, yang berada di Bibliotheque National of Paris. Codex ini adalah tulisan dari St. Ephraem.
5. D (05), codex Beza, dari abad VI, yang berisi keempat Injil dan Kisah Para Rasul. Codex ini sekarang berada di perpustakaan Cambridge University sejak dibawa ke Universitas tersebut oleh Theodora Beza pada tahun 1581.
6. Dpaul (06), codex Claromontanus, dari abad VI yang berada di Bibliotheque National of Paris yang berisi surat-surat Paulus dan Ibrani.
7. H (022), codex Parpureus Petropolitanus, yang ditulis dalam huruf-huruf perak pada kulit binatang berwarna ungu, seperti juga codex O (023), Σ (042) dan Φ (043). Codex ini berasal dari abad VI.
8. W (032), codex Freerianus, atau Washing-tonensis, dari abad IV atau V. Ini adalah manuscript Freer Art Gallery dari Smithsonian Institution di Washington D.C., seperti codex D, codex ini berisi empat Injil.
9. 14 (040), codex Zacynthius, yang saat ini berada di perpustakaan British and Foreign Bible Sociaty di London, yang berisi Injil Lukas dari abad VIII.

Periode Minuscula

Minuscule adalah manuscript Yunani yang ditulis dengan tulisan tangan atau cursive, maka naskah ini juga disebut cursive menuscript. Ada 2.764 minuscula yang terpelihara sampai saat ini. [viii]

Mungkinkah bisa Terjadi Kesalahan dalam Penyalinan Perjanjian Baru?

Sejak manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan mungkin saja waktu menyalinnya ada kesalahan yang ia buat. Kesalahan tersebut bisa terdiri dari dua kemungkinan:
(1) Kesalahan yang disengaja, yaitu ketika bidat-bidat Kristen yang muncul di abad permulaan menyalin Alkitab mereka mengadakan penghapusan dan pengubahan kata-kata yang bertentangan dengan doktrin mereka.
(2) Kesalahan yang tidak disengaja, yaitu kesalahan yang disebabkan oleh:

a. Salah memenggal kata: Dalam salinan Alkitab mula-mula tidak ada spasi, jadi ketika disalin dengan memberi spasi mungkin saja terjadi kesalahan dalam memenggal kata. Misalnya perhatikan kata berikut ini HAVEYOUSEENABUNDANCE (sebelum disalin) dan setalah di salin menjadi HAVE YOU SEEN ABUNDANCE mungkin saja bisa salah kerena yang dimaksud adalah HAVE YOU SEEN A BUN DANCE. Contoh lain kata GODISNOWHERE (sebelum disalin) dan setelah disalin menjadi GOD IS NOWHERE mungkin saja salah karena sebenarnya yang dimaksud adalah GOD IS NOW HERE.
b. Tertukar dengan huruf yang mirip, misalnya dalam bahasa Yunani ada huruf A dan 3I, 9 dan 77. Huruf-huruf tersebut bisa tertukar dalam penyalinan.
c. Salah menafsirkan karena teks yang disalinnya tidak otentik. Dalam penulisan Alkitab bahasa Yunani ada kata-kata singkatan, misalnya kata E1 yang berarti “Allah” bisa dianggap E? yang berarti “Dia”. Kasus ini terjadi dalam 1 Timotius 3:16.
d. Dalam penyalinan mungkin saja kata atau kalimat yang sudah disalin bisa disalin kembali tanpa sengaja.
e. Salah dengar ketika didiktekan

Jika Proses Penyalinan Bisa Terjadi Kesalah Bagaimana Mungkin Alkitab Masih Berotoritas?

Di atas saya sebutkan mungkin saja terjadi kesalahan dalam penyalinan, yaitu kesalahan yang disengaja dan tidak disengaja. Sangatlah tidak bijaksana jika demikian kita langsung mengatakan bahwa Alkitab tidak berotoritas lagi karena kemungkinan kesalahan. Kita harus ingat kita memiliki 5000 lebih salinan yang tersimpan saat ini dan ahli-ahli studi tekstual telah berusaha untuk menyaring salinan-salinan tersebut sampai menemukan salinan yang tidak mengandung kesalahan. Para teolog Injili Konservatif mengakui bahwa salinan yang kemudian menjadi Alkitab lengkap Perjanjian Baru bahasa Yunani yang diterbitkan oleh Trinitarian Bible Society sebagai teks yang superior. Bukankah Tuhan berfirman, “Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.” (Matius 5:18 ).

DOKTRIN PEMELIHARAAN ILLAHI
1. Sejarah Credo-Credo Yang Mengakui Pemeliharaan Alkitab

Ada banyak pengakuan iman yang dibuat di sepanjang sejarah kekristenan. Namun tidak banyak yang di dalamnya menjadikan poin bahwa Allah memelihara firman-Nya, Alkitab, sebagai salah satu dari pengakuan iman. Pada masa kini sangat sedikit sekolah teologi maupun gereja yang menekankan pemeliharaan Alkitab oleh Allah dalam pengakuan iman mereka. Sedangkan pengakuan-pengakuan iman yang pernah dibuat dalam sepanjang sejarah yang menekankan pemeliharaan Alkitab beberapa diantaranya ialah;
1). The London Baptist Confession pada tahun 1677, 1689;
2). Philadelphia Baptist Confession kira-kira pada tahun 1743;
3). Presbyterian Westminster Confession of Faith pada tahun 1646; dan 4). Savoy Confession pada tahun 1652

2. Allah Berjanji Akan Memelihara FirmanNya

Mahabenar adalah salah satu sifat kekal Allah. Kamahabenaran Allah menimbulkan konsekuensi bahwa Dia akan selalu konsisten dengan perkataan dalam firmanNya, yaitu Alkitab. Ada banyak ayat dalam Alkitab yang menunjukkan janji Allah untuk tetap memelihara firmanNya. Namun apakah Allah tetap memelihara firmanNya sampai hari ini? Jikalau Allah setia pada janjiNya, maka jawabannya, “iya”, tetapi jika Allah tidak memelihara firmanNya sampai hari ini berarti Allah tidak setia akan janjiNya, dan dengan demikian Mahabenar bukanlah atribut/ sifat kekal Allah. Dan saya percaya bahwa Allah yang Mahabenar akan setia pada janjiNya untuk memelihara bukan hanya sampai hari ini saja, tetapi untuk selama-lamanya. Karena sifat kemahabenaran Allah adalah kekal.

Dr. D.A. Waite percaya bahwa Allah akan memelihara firmanNya berdasarkan dua alasan; (1) Alasan pertama mengapa ia percaya pemeliharaan Alkitab, karena Allah telah berulangkali mengulangi janjiNya baik dalam P.L. maupun P.B., bahwa Ia akan memelihara firmanNya, seperti yang Ia berikan dalam bahasa Ibrani dan Yunani. (2) Alasan kedua, ia percaya pemeliharaan Alkitab karena Allah telah selalu memelihara janjiNya di masa lampau, dan kita percaya bahwa Ia akan tetap memelihara pada saat ini dan yang akan datang. [ix]

“Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. Engkau TUHAN, yang akan menepatinya, Enkau akan menjaga Kami senantiasa terhadap angkatan ini.” (Mazmur 12:7-8)

Kata-kata bercetak tebal dalam Alkitab terjemahan Indonesia ini tidak tepat, karena dalam AV/ King James Version dan Mosoretic Text berbunyi “Thou shalt preserve them from this generation forever” (Engkau akan menjaganya (firman) dari generasi ini sampai selama-lamanya). Jadi kata “them” dalam KJV itu berhubungan dengan ayat 7, yaitu firman Allah (dalam Alkitab bahasa Indonesia janji Allah). Di sini Allah berjanji akan memelihara firmanNya dari generasi ini (ketika mazmur ini ditulis) sampai selama-lamanya, kekal. Itu adalah suatu waktu yang lama bukan? Allah dapat melakukan ini dan telah melakukanya. Ia telah memelihara firmanNya dengan sangat sempurna. Bacalah juga ayat-ayat berikut ini: Mazmur 78:1-8; Mazmur 105:8; Mazmur 119:89: Mazmur 119:111; Mazmur 119:152; Mazmur 119:160; Amsal 22:20-21; Peng-khotbah 3:14; Matius 4:4; Matius 5:17-18; Matius 24:35; Yohanes 10:35; I Petrus 1:23-25.

3. Allah Memelihara JanjiNya Untuk Memelihara Alkitab

Apakah Allah akan memelihara janjiNya? Tentu. Karena Dia adalah Allah yang setia, Allah yang konsisten dengan setiap firman yang keluar dari mulutNya (2 Tim. 3:16), karena Ia adalah Allah yang Mahabenar, yang memberi konsekuensi firmanNya adalah firman kebenaran (Yoh. 17:17) dan yang akan terpelihara untuk selama-lamanya.

“Engkau yang tetap berpegang pada janji-Mu terhadap hamba-Mu Daud, ayahku, dan yang telah menggenapi dengan tangan-Mu apa yang Kau firmankan dengan mulut-Mu, seperti yang terjadi pada hari ini.” (1 Pet. 8:24)

Inilah perkataan Raja Salomo ketika ia akan membangun Bait Suci. Salomo menyadari dan telah membuktikan akan kesetiaan Allah dalam memelihara janjiNya. Salomo tahu bahwa Allah pernah berjanji kepada Daud untuk membangun Bait Suci, dan Salomo melihat dengan mata kepala sendiri bahwa dengan tanganNya sendiri Allah menggenapi firmanNya. Allah setia untuk memelihara janjiNya. Oleh sebab itu penulis percaya Allah setia memelihara janjinya untuk memelihara firmanNya, yaitu Alkitab.

“Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayan, malah diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan bahwa Allah bekuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.” (Roma 4:20-21)

Paulus menjelaskan bagaimana Abraham mengimani janji Allah. Iman Abraham membawanya untuk memegang janji Allah dengan penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Anda memiliki iman? Jikalau anda memiliki iman, maka anda akan percaya bahwa Allah akan memelihara janjiNya untuk memelihara Alkitab. Namun jika anda ber-kata, “Aku memiliki iman,” namun anda meragukan janji firmanNya, anda membohongi diri sendiri, dan sebenarnya anda tidak memiliki iman.

“Dan berdasarkan pengharapan hidup yang kekal yang sebelum permulaan zaman sudah dijanjikan Allah yang tidak berdusta” (Titus 1:2)

Ini adalah janji pemeliharaan Allah, Pribadi yang tidak akan berdusta, Pribadi yang memang tidak dapat berdusta, dan Pribadi yang akan senantiasa memelihara janjiNya.

“Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikanya, setia.” (Ibrani 10:23)

Tetaplah kita teguh berpegang pada pengharapan kita, karena kita tahu bahwa Allah adalah setia. Ia akan memelihara janji-janjiNya, firmanNya untuk kita selama-lamanya.

Dari credo-credo yang ada dalam sepanjang sejarah kekristenan, poin pemeliharaan Allah terhadap Alkitab ditekankan, walaupun belakangan poin itu jarang ada di antara statement-statement pengakuan iman gereja, sebab kekristenan semakin menuju kehancuran. Pengaruh liberalisme telah membuat kekristenan untuk meragukan akan firman Allah yang berotoritas, yaitu Alkitab.

Namun demikian telah kita lihat betapa banyak janji-janji Allah dalam Alkitab. Bahwa ia akan memelihara janjiNya, sehingga “satu iota atau satu titikpun” dari firmanNya tidak akan ditiadakan. Iman akan membawa kita kepada keyakinan akan penggenapan janji Allah untuk memelihara otoritas firmanNya. Banyak sudah umat Tuhan yang menyaksikan bahwa Allah benar-benar memelihara janjiNya dan menggenapkan janji yang difirman-kanNya itu. Oleh sebab itu kita harus percaya bahwa Allah akan memelihara janjiNya, yaitu firmanNya, Alkitab. Sebab Dia adalah Allah yang setia, Allah yang konsisten dan Allah yang Mahabenar.

MANUSKRIP BAHASA ASLI ALKITABDari 5000 lebih manuskrip bahasa Yunani dapat dikelompokan menjadi dua yaitu Byzantine type/ Majority Text dan Alexandrian type/ Minority Text. Dari Byzantine type/ Majority Text dieditlah Kitab Perjanjian Baru Bahasa Yunani tahun 1516 oleh Desiderius Erasmus yang disebut Textus Receptus. Alexandrian type/ Minority Text diedit menjadi Alkitab Bahasa Yunani tandingan yang mulai diterbitkan pada tahun 1881, yang disebut Critical Text yaitu UBSGNT (United Bible Societies’ Greek New Testament) dan NANTG (Nestle Alanda Greek New Testament) yang banyak digunakan di kalangan gereja dan seminari liberal.

1. Byzantine type/ Majority Text

Para teolog, gereja dan seminari Injili Konservatif dan Fundamentisme mengakui bahwa Byzantine type/ Majority Text adalah teks yang terbukti keterandalan atau superioritasnya. Mengapa mereka begitu kokoh mempertahankan iman mereka bahwa Byzantine type/ Majority Text yang kemu-dian diedit menjadi Textus Receptus, teks Alkitab Bahasa Yunani yang masih dipakai sampai hari ini adalah teks atau firman Allah yang dipelihara oleh Tuhan? Ada dua alasan penting untuk menjawab pertanyaan ini; 1). Karena Textus Receptus telah diterima oleh gereja sebagai teks traditional. Teks tersebut diturunkan dari tangan-tangan orang yang sungguh mengenal dan tahu tentang apa yang mereka bicarakan; 2). Textus Receptus telah terbukti kebenarannya. Ada banyak bukti yang membuktikan bahwa teks ini berotoritas. Kurang lebih ada tiga puluh tujuh bukti sejarah yang menunjukkan bahwa Textus Receptus dipakai oleh gereja Kristen, bermacam-macam denominasi, organisasi maupun dokumen-dokumen yang ada. Semuanya menerima bahwa Textus Receptus adalah teks Yunani yang terpelihara oleh janji ilahi dan setiap terjemahan seharusnya didasarkan pada Textus Receptus.

Dr. D.A. Waite menunjukkan dalam “Defending the King James Bible” bahwa ada 37 bukti historis yang mendukung TR sebagai teks Alkitab bahasa asli P.B. yang berotoritas yaitu; [x]

a. Bukti-bukti historis untuk Received Text/ Textus Receptus (TR) pada masa Rasuli (33-100 A.D.).

1. Semua gereja Rasuli menggunakan Received Text.
2. Gereja-gereja di Palestina menggunakan Received Text.
3. Gereja Syaria di Antiokhia menggunakan Received Text.

b. Bukti-bukti histori untuk Received Text pada masa periode gereja mula-mula (100-312 A.D.).

DR. Scrivener dan Dean Burgon setuju bahwa 100 tahun pertama setelah Perjanjian Baru ditulis, Received Text sudah digunakan gereja mula-mula. Codex B (Vaticanus) dan Aleph (Sinaiticus) dan empat puluh tiga manuscript lain yang dijadikan dasar teks Westcott dan Hort adalah hasil dari pemalsuan firman Allah. Beberapa bidat yang beropersi di abad-abad ini adalah Marcion (160 A.D.), Valentinus (+160 A.D.) Cyrinthian (50-100 A.D.); Sebellius (260 A.D.) dan lain-lain.

4. The Peshitta Syriac Version (150 A.D,) didasarkan pada Received Text.
5. Papyrus # 75 menggunakan Received Text.
6. The Italic Church di Italia Utara (157 A.D.) menggunakan Received Text.
7. The Gallic Church of Southern France (177 A.D.) menggunakan Received text.
8. The Celtic Church di Great Britain menggunakan Received Text.

Mengapa gereja-gereja di Italia, Prancis, Inggris mendasarkan Alkitabnya pada Textus Receptus? Karena Textus Receptus adalah firman Allah yang benar, dan mereka tahu itu. Mereka hidup sejak tahun 150 A.D. dan Alkitab lengkap pada tahun 90-100 A.D. Mereka memiliki kebenaran yang orisinil di tangan mereka dan mereka percaya bahwa Received Text adalah firman Allah yang dipelihara oleh Allah dan Yesus Kristus yang memelihara segala sesuatu. Gereja-gereja di atas menggunakan Received Text dan bukan yang lain. Namun pada masa itu juga banyak bidat-bidat yang mencoba untuk mengubah firman Allah dengan menghilangkan semua bagian-bagian yang bertentangan dengan ajaran bidat mereka.

9. Church of Scotland & Ireland menggunakan Received Text.
10. The Pre-Waldensian Churches menggunakan Received Text.
11. The Waldensian (120 A.D. dst.) Menggunakan Received Text.

c. Bukti-bukti historis untuk Received Text pada periode Byzantine (312-1453 A.D.)

12. The Gothic Version pada abad ke-4 menggunakan Received Text.
13. Codex W of Matthew pada abad ke-4 atau 5 menggunakan Received Text.
14. Codex A pada Injil-injil (abad ke-5) menggunakan Received Text.
15. The Vast Majority of Extant New Testament Manuscript semua mengguna-kan Received Text, yaitu 99%, atau kira-kira 5.210 dari 5.255 MSS.
16. Gereja Orthodoks Yunani menggunakan Received Text.

Dr. Waite tidak setuju dengan banyak doktrin dan praktek gereja Orthodoks Yunani ini, tetapi gereja ini telah lebih dari 1000 tahun menggunakan Received Text. Mengapa? Kare-na mereka sangat mengenal bahasa Yunani. Mereka adalah orang-orang Yunani. Bahkan walaupun mereka adalah orang Yunani modern, mereka menggunakan Perjanjian Baru yang didasarkan pada Received Text karena itu adalah firman Allah, dan mereka tahu itu.

17. Gereja Yunani yang masih ada sampai sekarang ini menggunakan Received Text.

Ketika Dr. D.A Waite dan istri pergi ke Gereja Nativity, yang dibangun di atas tempat di mana kelahiran Kristus (diperkirakan). Ia bertanya kepada salah satu anggota jemaat di situ, apakah mereka mengenal apa yang disebut type – Westcott & Hort Text. Jemaat itu berkata, “oh, ya, kami mengenalnya, tetapi kami menggunakan Received Text, kami tidak percaya pada semua yang ada dalam Westcott & Hort Text.

d. Bukti-bukti historis untuk Received Text pada periode permulaan modern (1453-1831 A.D.).

18. Gereja-gereja Reformasi menggunakan Received Text.
19. Kitab P.B. bahasa Yunani Erasmus (1516) menggunakan Received text.
20. The Complutensian Polyglot (1522) menggunakan Received Text.
21. Martin Luther’s Bible (1522) menggunakan Received Text.
22. William Tyndale’s Bible (1525) menggunakan Received Text.

Tyndale adalah penerjemah Alkitab yang ter-kenal mati menjadi martyr karena Alkitab terjemahannya.

23. The French Version of Olivetan (1535) menggunakan Received Text.
24. The Coverdale Bible (1535) menggunakan Received Text.
25. The Matthews Bible (1537) menggunakan Received Text.
26. The Taverners Bible (1539) menggunakan Received Text.
27. The Great Bible (1539-41) menggunakan Received Text.
28. The Stephanus Greek New Testament (1546-51) menggunakan Received Text.
29. The Genevs Bible (1557-60) menggunakan Received Text.
30. The Bishops’ Bible (1568) menggunakan Received Text.
31. The Spanish Version (1569) menggunakan Received Text.
32. The Beza Greek New Testament (1598) menggunakan Received Text.

King James Bible menggunakan teks Yunani Beza edisi kelima, 1598 untuk dasar penerjemahan.

33. The Czech Version (1602) menggunakan Received Text.
34. The Italian Version of Diodati (1607) menggunakan Received Text.
35. The King James Version (1611) menggunakan Received Text.
36. The Elzevir Brother’s Greek New Testament (1624) menggunakan Received Text.
37. The Received Text in the New Testament adalah Received Text

Data di atas menjadi bukti-bukti historis yang menunjukkan bahwa sejak masa gereja Rasuli sampai saat ini Textus Receptus atau Received Text adalah teks kitab P.B. yang paling berotoritas.

Bukti lain adalah bukti dari manuskrip-manuskrip itu sendiri. Di atas saya telah menjelaskan bahwa periode transmisi P.B. meliputi tiga tahap atau periode, yaitu periode papyrus, Uncial, dan Minuscula.

Dari 88 papyrus Dr. Jack Moorman dalam “Forever Settled” membandingkan Critical Text dan Textus Receptus dan hasilnya adalah; kira-kira 30 (15%) yang mendukung codex Aleph & B atau Westcott & Hort Text dan kira-kira ada 75 (85%) dari 88 papyrus fragment manuscript tersebut yang mendukung atau sama dengan Receved Text/Textus Receptus. Dan dari 267 Uncial itu hanya ada 9 (3%) yang mendukung Westcott & Hort text, tetapi ada 258 (97%) dari 267 Uncial yang mendukung Textus Receptus. Dan Dari 2.764 itu hanya 23 (1%) yang mendukung teks Westcott & Hort, tetapi 2.741 (99%) yang mendukung Textus Receptus. Jadi jika ditotal rata-rata dari 5000 lebih Manuskrip P.B. 90 % mendukung Byzantine type/ Majority Text atau Textus Receptus, dan hanya 10 % saja yang mendukung Alexandrian type/ Minority Text atau Critical Text.

Selain manuskrip-manuskrip di atas ada juga kumpulan lectionary, yaitu penggalan ayat-ayat Alkitab yang biasa dibacakan pada liturgi ibadah gereja zaman dulu. Ada 2.143 Lectionary yang kita miliki saat ini dan semuanya (100%) mendukung Textus Receptus.

Terjemahan-terjemahan kuno Alkitab seperti Peshitta Syriac Version, dari abad ke-2 (+ 150 A.D) – lebih tua dari codex Aleph & B/abad IV – . Curetonian Syriac Version, dari abad ke-3 didasarkan pada Received Text. Old Latin Version atau Vetus Itala dari abad ke-2 A.D berasal dari Received Text. Dan versi-versi kuno lain yang kita miliki sebagian besar berdasarkan pada Received Text. Ini adalah bukti yang tidak dapat disangkal bahwa Textus Receptus adalah firman Allah yang terpelihara.

Edward Miller mengedit karya Burgon – karena Burgon mati sebelum menyelesaikan penelitian tentang teks P.B. pada tahun 1896 – Miller menerbitkan dua buku Burgon, salah satunya berjudul “The Traditional Text of the Holy Gospels” . Dari daftar yang dibuatnya ada 86 penulis yang mati sebelum tahun 400 A.D. Dan menunjukkan sejumlah kutipan dari Traditional Text/ Received Text. Secara total ada 4.383 kutipan dari 86 Bapa gereja yang mati sebelum 400 A.D. dan 2.630 (60%) kutipan berasal dari Traditional Text atau Received Text dan hanya 1.753 (42%) kutipan dari teks Westcott dan Hort.

Tahun 1516 adalah tahun yang penting dalam sejarah iman Kristen, karena di tahun ini Desiderius Erasmus mengumpulkan manuskrip dari Byzantine type/ Majority Text menjadi satu Alkitab Perjanjian Baru bahasa Yunani (Textus Receptus) yang dipakai secara umum oleh gereja-gereja di seluruh dunia. Dan bahkan melalui membaca Alkitab Textus Receptus ini Marthin Luther akhirnya bertobat, diselamatkan dan mengadakan reformasi Protestan pada 31 Oktober 1517. Orang-orang yang kemudian ikut menerbitkan Alkitab ini antara lain Theodora Beza, Stephanus, dan Bonaventure dan Abraham Elzevir. Pada tahun 1611 Alkitab bahasa Yunani ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris yaitu King James Version atau disebut juga Authorized Version (Terjemahan Berotoritas)/ AV 1611.

Dari sejarah Textus Receptus dapatlah kita simpulkan bahwa Textus Receptus adalah firman Allah yang dipelihara Allah. Karena Textus Receptus diedit oleh orang-orang Kristen sejati. Ada banyak bukti yang telah kita lihat bahwa Textus Receptus adalah teks yang terbaik dan paling berotoritas. Sedikitnya ada lima bukti yang mendukung otoritas Textus Receptus :
(1) Textus Receptus telah diterima dengan baik oleh gereja sejak pemulaan;
(2) paling sedikit ada 37 bukti sejarah dari tahun 33 – 1831 A.D. yang membuktikan bahwa Textus Receptus telah diterima dan dipakai oleh gereja;
(3) manuscript-manuscript yang ada baik berupa papyrus, Uncial, Cursive/ Minuscula dan Lectionary mendukung Textus Receptus lebih besar dari pada Critical Text;
(4) Versi-versi kuno seperti Peshitta Syriac, Curetonian Syriac, Itala dan lain-lain berasal dari [I]Received Text; (5) Kutipan dari Bapa-bapa gereja yang mati sebelum tahun 400 A.D. banyak yang didasarkan pada Received Text.

2. Alexandrian type/ Minority Text

Alexandrian type/ Minority Text yang paling popular dan penting adalah Codex Sinaiticus (!) dan Codex Vaticanus (B). Berdasarkan kedua codex ini diedit menjadi Alkitab Bahasa Yunani oleh Brooke Foss Westcott (1825-1901) dan Fenton Joh Anthony Hort pada tahun 1881. Mereka berdua adalah sarjana Anglican dari Cambrige University. Westcott adalah seorang bishop dari gereja Anglikan, sedangkan Hort adalah seorang professor di Cambridge University. Mereka dikenal sebagai pemimpin arsitek teori kritik teks (Textual Criticism) yang menghasikan satu revisi Alkitab bahasa Yunani yang menyerang Textus Receptus (TR) atau Received Text.

Gereja ortodoks menolak MSS di atas karena kemungkinan besar teks ini dihasilkan oleh golongan bidat Adoptionist (salah satu bentuk dari Gnosticism) sebelum abad ke-2 A.D. dan perlu diperhatikan bahwa Westcott dan Hort sendiri bukanlah orang yang percaya Alkitab adalah firman Allah yang diinspirasikan atau diilhamkan dan tanpa salah. Mereka dikenal sebagai pemuja Maria. Dan Dr. D.A. Waite, dalam bukunya “Heresies of Westcott and Hort” mengatakan, “Mereka mengingkari dokrin fundamental dari iman kekristenan.” [xi]

Para pendukung Westcott & Hort selalu berasumsi bahwa codex Sinaiticus dan Vaticanus yang keduanya berasal dari abad ke-4 yang dijadikan dasar Critical Text adalah manuscript yang paling tua. Namun pada kenyataannya tidak demikian, karena Textus Receptus didasarkan pada manuscript-manuscript yang telah diterima oleh gereja mula-mula dari abad pertama. Burgon mengatakan bahwa “codex Sinaiticus dan Vaticanus adalah teks yang paling rusak dan memalukan.” [xii]

Alkitab Perjanjian Baru Bahasa Yunani dari Alexandrian type/ Minority Text yang kemudian diedit oleh Westcott dan Hort menjadi Critical Text kini diterbitkan kembali oleh United Bible Society, yaitu United Bible Societies’ Greek New Testament (UBSGNT), yang juga diterbitkan ulang dalam dwibahasa Yunani-Indonesia oleh Lembaga Alkitab Indonesia. Edisi lainnya adalah edisi Nestle dan Aland, yaitu Nestle Aland Greek New Testament (NAGNT). Dan semua Alkitab bahasa Inggris terbitan United Bible Society atau pasca King James Version/AV1661, misalnya English Revised Version (ERV) 1881, American Standard Version (ASV) 1900-1901, Revised Standard Version (RSV) 1952, New English Bible (NEB) 1970, New American Standard Bible (NASB) 1971, New International Version (NIV) 1978, New Revised Standard Version (NRSV) 1990 diterjemahkan dari Westcott dan Hort Text ini. Begitu juga Alkitab Bahasa Indonesia terbitan LAI lebih mendekati teks Westcott dan Hort dari pada Textus Receptus.

Siapakah Westcott dan Hort ini?Westcott dan Hort itu adalah bapa dari liberalisme. Mereka tidak percaya bahwa Alkitab sepenuhnya diinspirasikan oleh Allah. Westcott dan Hort adalah bagian dari team yang menerjemahkan Alkitab P.B. dari English Revised Version (RV). Mereka mempertanyakan doktrin inspirasi Alkitab melalui menerjemahkan 2 Timotius 3:16 sebagai berikut, “Every Scripture inspired of God is also profitable…” (Segala tulisan yang diinspirasikan – ada yang tidak diinspirasikan? – bermanfaat…”). Dengan meletakan kata Bantu “is” setelah kata “inspired of God” , klausa ini memberi arti bahwa tidak seluruh Alkitab diinspirasikan oleh Allah. Hanya bagian-bagian tertentu yang diinspirasikan, yaitu yang “bermanfaat…” Namun King James Version meletakan kata kerja bantu “is” setelah kata “all Scripture”,”All Scripture is given by inspi-ration of God and is profitable…” (Segala tulisan (Alkitab) diberikan Allah melalui inspirasi dan bermanfaat…). KJV memberikan pandangan absolut inerrancy (ketanpasalahan Alkitab secara mutlak), tetapi RV yang dihasilkan oleh Westcott & Hort memberikan pandangan limited inerrancy (ketiadasalahan Alkitab yang terbatas).

Pandangan Westcott dan Hort tetang inspi-rasi dan otoritas Alkitab yang sangat lunak adalah bukti penolakan mereka terhadap Biblical Creation-isme (Penciptaan menurut Alkitab). Hort dengan jelas percaya dan mendukung teori evolusi Darwin. Ia berkata;

“Tetapi buku yang sangat mengesankan adalah karya Darwin. Apapun yang diajarnya, ini adalah satu-satunya buku yang patut dibanggakan di masa kini… Perasaan saya kuat bahwa teori ini tidak dapat disangkal.” [xiii]

Westcott menganggap penciptaan yang tercatat dalam Alkitab hanyalah sebuah dongeng. Ia menulis surat kepada Archibishop dari Canterbury, 4 Maret 1890;

“Saya kira tidak seorangpun yang saat ini membaca tiga fasal pertama dari kitab kejadian merupakan sejarah yang literal. Saya tidak pernah mengerti bagaimana seorang membacanya dengan mebuka mata dapat berfikir bahwa itu benar-benar terjadi.” [xiv]

Westcott dan Hort tidak hanya mengingkari Firman Allah, tetapi juga mengingkari karya kese-lamatan oleh Kristus. Mereka tidak percaya bahwa Kristus adalah Sole Mediator (perantara tunggal) dan satu-satunya pribadi yang harus dimuliakan dan disembah. Hort adalah seorang pemuja Maria. Ia mengaku, “Saya telah yakin selama bertahun-tahun bahwa penyembahan kepada Maria dan penyem-bahan kepada Yesus sangat banyak kesamaan dalam kasus dan hasilnya.” [xv] Westcott pernah menulis kepada Archibishop Benson, pada tanggal 17 November 1865, “Saya berharap dapat melihat kebenaran penyembahan kepada Maria yang telah dilupakan itu diberikan kesaksian.” [xvi]

Kutipan Dr. Timothy Tow berikut ini pen-ting untuk kita perhatikan:

“Dr. D.A. Waite mengatakan bahwa Westcott dan Hort mengingkari doktrin-doktrin fundamental kekristenan, sedikitnya ada sembilan doktrin yang diingkari oleh mereka;

1. Doktrin inspirasi Kitab Suci
2. Catatan Kitab Kejadian tentang penciptaan dan kejatuhan manusia
3. Keilahian Tuhan kita Yesus Kristus, pre-eksistensi dan keilahianNya, sifat ke-MesiasanNya dan ketanpa-dosaan Kristus
4. Penggantian penebusan oleh Kristus dan penebusan melalui darahNya.
5. Kebangkitan tubuh jasmani Kristus
6. Kedatangan Kristus yang kedua kali
7. Doktrin tentang kehidupan yang kekal
8. Realitas Sorga dan Neraka
9. Pribadi setan

Di samping penolakan Westcott dan Hort terhadap doktrin fundamental di atas, mereka juga memiliki kepercayaan-kepercayaan seba-gai berikut;

1. Manusia memiliki sifat ilahi dan kesempurnaan
2. Teori Evolusi dari Darwin
3. Sifat Kebapaan Allah secara universal (maksudnya Allah adalah bapa dari semua orang, baik yang sudah selamat maupun belum selamat)
4. Baptisan air bisa menyelamatkan.” [xvii]

Apakah Bukti-Bukti Westcott & Hort Text adalah Teks yang Rusak?Berikut ini adalah bukti-bukti yang dapat kita pertimbangkan dan untuk lebih jelasnya anda dapat membaca buku Dr. D.A. Waite, Defending the King James Bible, terbitan Bible For Today.

* Westcott and Hort Text Mengubah Textus Receptus Lebih dari 5.600 Tempat

Dalam Scrivener’s Greek New Testament, Westcott dan Hort mengubah sebanyak 5.604 kali dalam teks Yunani P.B. barunya. Dari 5.604 perubahan ini, Dr. D.A Waite menemukan 1.957 yang dihilangkan/dihapus (35%), 467 ditambah (8%), dan 3.183 yang diubah (57%).

* Westcott and Hort Text Menghapus Pericope De Adultera – Yoh. 7:53-8:11

Kisah perempuan yang berzinah dalam Yoh. 7:53-8:11 disebut Pericope De Adultera. Para sarjana modernistik membuang bagian ini dari Alkitab dan tidak mengakuinya sebagai firman Tuhan. Kelihatannya ini juga merupakan pengaruh dari Westcott dan Hort. Menurut Westcott bagian ini bukan merupakan bagian dari naratif Yohanes. Dan bukan hanya itu saja, Westcott dan Hort bahkan mengatakan kisah itu tidak ada dalam teks keempat Injil.

Argumentasi penolakan Pericope De Adultera sebagai bagian dari Injil Yohanes ialah;

(1). Bagian itu tidak ada dalam manuscript-manuscript yang lebih tua dan lebih baik;

(2) Tidak ada dalam terjemahan-terjemahan mula-mula;

(3) Bapa-bapa gereja Yunani seperti Origen, Cyriil, Chryssostom dan Theophylact bahkan juga Tertullian dan Cyprian dalam eksposisi/tafsiran untuk Injil Yohanes tidak mengomentari bagian ini;

(4) Ada perbedaan bentuk style yang dipakai dalam bagian ini dengan style Yohanes; (5) Perikop ini mendorong orang untuk melakukan perbuatan amoral.” [xviii]

Argumentasi di atas sama sekali tidak kuat untuk mendukung kepercayaan mereka bahwa Yohanes 7:53-8:11 bukan merupakan bagian tulisan Yohanes. Mengapa? Karena

(1) Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan manuscript yang ‘paling tua’ dan ‘paling dapat dipercaya’? Mereka berangapan itu adalah Codex Vaticanus dan Codex Sinaiticus, yang merupakan naskah dari abad ke-4. Dalam manuscript tersebut Pericope De Adultera tidak di-temukan. Namun apakah kedua codex tersebut sung-guh dapat dipercaya? Walapun mereka mungkin da-pat mengatakan bahwa codex-codex tersebut sangat tua (namun bukan yang tertua), itu adalah manuscript-manuscript yang tidak dapat dipercaya dan merupakan manuskrip yang telah dirusak oleh bidat-bidat Kristen abad mula-mula dan digunakan untuk menyerang firman Tuhan. Ada bukti bahwa Pericope De Adultera ditemukan dalam banyak manuscript yang lebih tua dari codex Aleph & Vaticanus, baik dalam Uncial maupun Minusculles Manuscript;

(2) Asumsi bahwa perikop ini tidak ditemukan dalam versi-versi kuno adalah sebuah manipulasi. Sebab di dalam versi-versi atau terje-mahan-terjemahan kuno, perikop ini eksis. Misalnya dalam Old Latin, Vulgate, Syriac, Arabic, Coptic, Armenian, Ethiopic, dan Persian Version;

(3) Tulisan bapa-bapa gereja seperti Didascalia, Ambrosiaster, Apostolic Constitutions, Ambrose dan Jerome mengomentari Pericop De Adultera ini. Jerome (A.D. 340-420), penerjemah dari Alkitab bahasa Latin yang disebut Vulgate berkata tentang Pericope De Adultera ini, “… Dalam Injil Yohanes, yang ada dalam banyak manuscript, baik Yunani maupun Latin ditemukan kisah wanita yang ber-zinah yang diseret kepada Yesus.” [xix]

(4) Dr. Vernon McGee, dalam commentary-nya yang berjudul “Thru the Bible” menjelaskan panjang lebar bahwa perikop ini selain tidak ada dalam teks tertua – yang dimaksud Westcott & Hort text – perikop ini juga mendorong orang untuk berbuat zinah. Ia menye-tujui pendapat Agustinus yang menulis, perikop ini harus dihapuskan dari Alkitab karena akan mendorong orang untuk berzinah. Ia menganggap perikop ini mendorong orang untuk berbuat zinah karena ia kurang memahami maksud firman Tuhan tersebut. Perlu dipahami bahwa maksud Tuhan Yesus dalam kisah ini bukan mentolerir perzinahan. Konteks pembicaraan dalam perikop ini adalah orang-orang Yahudi yang suka menghakimi sau-dara-saudaranya yang berdosa, sementara mereka sendiri tidak lebih baik dari perempuan yang mereka hakimi tersebut. Buktinya mereka tidak dapat ber-kata apa-apa setelah Yesus membuka kedok kejahatan mereka. Dan mengapa Tuhan Yesus tidak meng-hukum perempuan berzinah tersebut? Apakah Yesus juga sama dengan orang Farisi, tidak menghukum karena juga berdosa? Tentu tidak demikian. Keda-tangan Yesus yang pertama bukan untuk meng-hukum orang berdosa, tetapi untuk menyelamatkan orang berdosa. Yoh. 8:11 memberikan penerangan kepada kita “Lalu kata Yesus; Akupun tidak meng-hukum engkau. Pergilah, dan janganlah berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” Di sini Yesus memberi kesempatan kepada perempuan tersebut untuk bertobat dan diselamatkan, seperti halnya Tuhan Yesus memberi kesempatan kepada semua orang berdosa untuk bertobat dan diselamatkan. Tuhan Yesus akan menghakimi manusia pada keda-tanganNya yang kedua kali, bukan yang pertama kali.

Perlu dicatat bahwa jika Yoh. 7:53-8:11 ini dihapuskan dari Injil Yohanes, maka akan mening-galkan kekosongan (vacum) diantara dua kalimat berikut “… tidak ada nabi yang datang dari Galilea” (Yoh. 7:52) dan “ Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak,… “ (Yoh. 8:12). Dalam Yohanes 7:40-50 adalah sebuah dialog/perdebatan antara Tuhan Yesus dengan orang Farisi, dan 7:52 merupakan pernyataan orang-orang Farisi/Yahudi terhadap pembelaa Nikodemus terhadap Yesus. Sementara itu 8:12 ada kata “Yesus berkata pula” , maka 7:52 dengan 8:12 tidak saling berkaitan. Maksud frase “Yesus berkata pula” adalah ajaran Yesus yang lain setelah ia memberi pelajaran ten-tang menghakimi sesama yang berdosa yang ditunjukkan dalam apa yang disebut Pericop De Adultera tersebut.

* Westcott and Hort Text Meragukan Dua Belas Ayat Terakhir Injil Markus – Markus 16:9-10

Westcott dan Hort dan para sarjana liberal yang mendukung Westcott & Hort Text meragukan atau mengingkari keaslian teks Mark. 16:9-20 berdasarkan asumsi-asumsi dibawah ini;

(1) Perikop ini tidak ada dalam naskah-naskah tertua – yang mereka maksud adalah codex Aleph/Sinaiticus; dan codex B/ Vaticanus;

(2) Ada pebedaan vocabulary. Menurut Walter W. Wessel dalam tafsiran Injil Markusnya yang diedit oleh Frank E. Gaebelein dalam The Expositor’s Bible Commentary; dalam Nestle/Aland Greek Text ada 101 perbedaan kata dalam ayat 9-20 (167 total jumlahnya). Setelah kata-kata yang tidak penting seperti definite article, connectives dan lain-lain diabaikan, ada 75 perbedaan kata penting, yaitu 15 kata tidak nampak dalam Markus dan 11 yang lain digunakan berbeda dengan kata-kata yang bisa digunakan oleh Markus. Oleh sebab itu mereka menyimpulkan bahwa sulit untuk percaya jika Markus 16:9-20 adalah tulisan Markus;

(3) ada perbedaan model style antara ayat 9-20 dibandingkan dengan seluruh Injil Markus.

Apakah dengan bukti-bukti di atas dengan sendirinya kita langsung percaya pada Westcott dan Hort bahwa Markus 16:9-20 tidak ada dalam teks aslinya atau bukan firman Tuhan? Saya percaya bahwa 12 ayat terakhir Injil Markus adalah orisinil dan setuju dengan agumentasi Dean J. W. Borgon, bahwa codex Sinaiticus & Vaticanus yang dikatakan banyak orang sebagai teks yang “paling terpercaya”, yang tidak mengakui orisinil Markus 16:9-20 pada kenyataannya adalah teks yang “paling korup/ buruk”

Bukti yang mendukung keotentikan Markus 16:9-20, E.F. Hilss menulis;

“Markus 16:9-20 ditemukan dalam semua manuscript Yunani kecuali dalam codex Aleph & B… dan bahkan yang lebih penting, bagian ini diakui sebagai firman Allah oleh bapa-bapa gereja mula-mula yang hidup seratus dan lima puluh tahun sebelum codex Aleph & B ditulis, yaitu Justinus Martyr (150 A.D.), Tatian (175 A.D.), Irenaeus (180 A.D.), Hyppolytos (200 A.D.). [xx]

Mengenai bentuk style Markus 16:9-20 yang diperdebatkan telah terjawab melalui penelitian Dr. Burgon yang membandingkan Markus 1:9-20 dan Markus 16:9-20. Menurut Dr. Burgon kedua perikop tersebut memiliki persamaan style, sehingga ini berarti ditulis oleh penulis yang sama, yaitu Markus. [xxi]

* Westcott and Hort Text Menyangkal Johannine Comma – I Yohanes 5:7b-8a

Apakah ada bukti yang jelas dari Alkitab tentang doktrin Trinitas? Ada. Yaitu dalam I Yohanes 5:7b-8a;

“en too ouranoo, ho pater, ho logos, kai to agion pneuma kai outos hoi treis eisi. Kai treis eisi hoi marturountes en te ge.”
(Di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi;)

Penggalan dua ayat di atas disebut Johannine Comma (Yunani Koptein yang berarti “dipotong dari”). Bagian ini adalah satu-satunya dalam Alkitab yang menunjukkan ke-Tritunggal-an Allah yang jelas. Namun sayang justru bukti otentik ini berusaha dihancurkan oleh orang Kristen sendiri. Sebagai contoh adalah ayat di atas dihapus dalam Criticl Text dan para sarjana liberal menolak untuk mengakuinya sebagai bagian dari firman Tuhan yang ditulis oleh Rasul Yohanes dalam inspirasi Roh Kudus. Dalam Alkitab bahasa Indonesia TB-LAI teks tersebut ada dalam kurung. Sementara itu banyak Sekolah Theologi di Indonesia mengajarkan bahwa ayat-ayat yang dikurung dalam Alkitab bahasa Indonesia tidak ada dalam teks aslinya.

The New International Version Study Bible, mengkomentari bahwa I Yoh. 5:7 tidak ditemukan dalam manuscript-manuscript Yunani ataupun dalam terjemahan-terjemahan P.B. sebelum abad ke-16. Dr. A.T. Robertson dalam commentary-nya, “Word Pictures in New Testament” juga meragukan eksistensi ayat ini dan menjelaskan bahwa ayat tersebut hanya ada dalam terjemahan bahasa Latin Vulgate, yang kemudian diambil oleh Erasmus untuk melengkapi Textus Receptus. Dan menurut Robertson teks tersebut tidak ditemukan dalam manuscript-manuscript Yunani. Dalam edisi pertama teks Erasmus ayat tersebut tidak ada hingga akhirnya ditambahkan dari Vulgate.

Sama sekali tidak benar jika I Yoh. 5:7b-8a tidak ditemukan dalam semua manuscript Yunani dan terjemahan P.B. sebelum abad ke-16. Teks tersebut ditemukan dalam delapan manuscript Yunani yang sangat penting dan empat diantaranya tertanggal sebelum abad ke-16, yaitu, Greek Minus-cules. 61 (XVI), 88(XII), 221(X), 918 (XVI). Selain itu banyak terjemahan-terjemahan Latin yang sangat mendukung eksistensi I Yoh. 5:7b-8a ini. Kurang lebih ada 8.000 manuscript Latin dan sebagian besar berisi I Yoh 5:7b-8a. Yang terpenting adalah versi Old Latin yang dipergunakan oleh bapa-bapa gereja seperti Tertulinus (A.D. 155-220) dan Cyprian (A.D. 200-258), yang lebih tua dari codex Aleph & B yang dipakai dasar Critical Text (abad IV) berisi I Yoh. 5:7b-8a. Karena terjemahan-terjemahan Latin berdasarkan pada teks Yunani, maka kesimpulannya ialah dalam manuscript-manuscript Yunani kuno teks itu pasti ada. Alasan lain yang dapat dipakai dasar ialah bahwa terjemahan Alkitab Latin Vulgate oleh Jerome (340-420 A.D.), yang berisikan Johannine Comma diterjemahkan dari teks Yunani yang baik. Dalam “Prologe to the Canonical Epistles” , Jerome menulis,

“Para penerjemah yang tidak bertanggung jawab menghapus kesaksian ini (I Yoh. 5:7b-8a) dalam codex-codex Yunani.” [xxii]

Dan lagi frase “Bapa, Firman dan Roh Kudus,” merefleksikan kepenulisan Yohanes. Pernyataan Yesus adalah “Firman” atau “Logos” merupakan ciri khas penekanan Rasul Yohanes (band. Yoh. 1:1,14). Yang pasti keberadaan Johannine Comma tidak menyerang doktrin fundamental kekristenan, seperti yang dilakukan oleh Westcott & Hort Texs/Critical text, tetapi justru memberikan dasar doktrin Trinitas yang absolut.

KESIMPULANBanyak orang tidak menaruh perhatian kepada Textus Receptus dan apa kelebihannya dari Critical Text. Bahkan banyak STT kurang memahami akan masalah tersebut. Sehingga banyak STT tanpa sadar mengakui dan menggunakan Critical Text sebagai firman Allah dalam bahasa asli yang terpelihara.Dari salinan-salinan naskah kuno baik yang berupa papyrus pregment, naskah Yunani Uncial P.B., naskah Yunani Manuscula P.B., Lectionary maupun terjemahan-terjemahan kuno sangat mendukung bahwa Textus Receptus lebih didukung oleh teks-teks yang sangat kuno dibandingkan dengan Critical Text yang diedit dari naskah ‘Aleph & B’ yang berasal dari sekitar abad ke-4.

Ada begitu banyak credo-credo yang telah dibuat di sepanjang sejarah kekristenan yang di dalamnya mengakui akan pemeliharan Allah terhadap Alkitab, yang diantaranya ialah,

(1) The London Baptist Confession (1677-1689),
(2) Philadelphia Baptist Confession (+ 1743),
(3) Presbyterian Westminster Confession of Faith (1646); dan
(4) Savoy Confession (1652).

Selain itu ada banyak ayat Alkitab yang merupakan janji Allah untuk memelihara firmanNya. Begitu juga ada bukti-bukti alkitabiah yang Tuhan telah berikan bahwa Ia akan senantiasa memelihara firmanNya. Dari semua bukti itu kita dapat memastikan bahwa pasti ada teks Alkitab yang diturunkan dari teks aslinya yang benar-benar dipelihara oleh Allah sehingga terhindar dari segala kesalahan, dan itu jelas adalah Textus Receptus.
Soli Deo Gloria !

END NOTES

[ i ] Penggunaan kata Evangelikal atau Injili ini tidak dimaksud-kan untuk mengacu kepada gerakan New Evangelical, tetapi mengacu kepada gerakan Conservatisme sebagai gerakan oposisi Liberalisme abad 18-19.

[ii] Jeffrey Khoo, Keep Pure in All Ages. Singapore: Far Eastern Bible College Press, 2001, hal. 21.

[iii] Ibid.

[iv] Charles C. Ryrie, A Survey of Bible Doctrine. (Chicago: The Moody Bible Institute Press, 1972), hal. 46.

[v] Dr. D.A. Waite, Defending the King James Bible. Hal. 24-26.

[vi] Ibid hal. 54.

[vii] Ibid hal. 55.

[viii] Ibid, hal. 55.

[ix] Ibid, hal. 6.

[x] Ibid., hal. 47

[xi] Seet, Charles. “The Inside Story of Westcott and Hort”, dalam “The Burning Bush: Journal Far Eastern Bible College Singapore, (4/1, January) 1998, hal. 34.

[xii] John William Burgon, The Revision Revised: A Refutation of Wetcott & Hort’s False Greek Text and Theory. (Collings-wood: Dean Burgon Society Prees) hal. 16.

[xiii] David otis Fuller, ed. Which Bible? Edisi ke-5 (Grand Ra-pids: Grand Rapids International Publications, 1975) hal. 278.

[xiv] Ibid, hal. 280

[xv] Ibid, hal. 279

[xvi] Westcott, Life of Westcott, II:50

[xvii] Timothy Tow & Jeffrey Khoo, A Theolgy for Every Chris-tian. Book I: Knowing God and His Word. (Singapore: Far Eastern Bible College Press, 1998), hal. 72.

[xviii] Lihat, Frankl E. Gaebelein ed. The Expositor’s Bible Commentary, vol. 9

[xix] Timothy Tow & Jeffrey Khoo, Op. Cit. hal. 58

[xx] The King James Version Defended, hal. 161-162

[xxi] D.A. Waite op.Cit.

[xxii] Dr. Timothy Tow & Dr. Jeffrey Khoo, op. Cit. hal. 61

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s