Eksposisi Injil Sinoptik (Matius)

Perbandingan ke-4 Injil (Matius, Markus, Lukas dan Yohanes)

Dalam Kitab Suci ada 4 kitab Injil, yaitu Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. Sekalipun dalam keempat kitab Injil itu ada banyak cerita yang sama, tetapi sebetulnya keempat penulis Injil itu mempunyai penekanan dan tujuan yang berbeda. Dan kalau kita membaca keempat kitab Injil itu maka akan terlihat bahwa mereka saling melengkapi satu dengan yang lain.

Illustrasi: Kalau kita mau membangun rumah, sedikitnya dibutuhkan 3 buah gambar dari rumah yang akan dibangun (dari atas, dari depan, dari samping). 3 buah gambar itu menggambarkan rumah yang sama, tetapi menggambarkannya dari sudut yang berbeda, sehingga mereka saling melengkapi satu dengan yang lain.

1) Matius.

a)   Matius menekankan Yesus sebagai Raja.

Ini tidak berarti bahwa Matius tidak menyatakan Yesus sebagai manusia (penekanan Lukas), sebagai Allah (penekanan Yohanes), sebagai hamba (penekanan Markus), dsb. Tentu ia juga melakukan hal-hal itu, tetapi penekanan dari Matius adalah penggambaran Yesus sebagai Raja.

Hal-hal yang menunjukkan bahwa Matius menekankan Yesus seba­gai Raja:

  • Mat 1:1 menunjukkan bahwa Yesus disebut sebagai ‘anak Daud’ (raja terbesar bangsa Israel).
  • Mat 2:1-12 menunjukkan orang-orang Majus mencari Raja yang baru dilahirkan, dan menyembah dan memberi persembahan kepadaNya.
  • Mat 28:18 – “Yesus mendekati mereka dan berkata: ‘KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi”. Ini betul-betul merupa­kan ucapan yang cocok bagi seorang Raja.

b)   Matius menujukan tulisannya untuk orang Yahudi.

Ini lagi-lagi tidak berarti bahwa Injil Matius ini bukanlah Firman Tuhan untuk orang-orang non Yahudi. Tentu Injil Matius ini juga merupakan Firman Tuhan bagi kita yang bukan Yahudi. Tetapi bagaimanapun tujuan orisinil penulisan Injil Matius ini adalah untuk orang Yahudi. Hal ini perlu diketahui karena kadang-kadang bisa berguna dalam penafsiran.

Bahwa Matius memang menulis untuk orang Yahudi, bisa terlihat dari:

  • Yesus disebut sebagai ‘anak Abraham’ (Mat 1:1), kepada siapa janji tentang bangsa pilihan Allah itu pertama-tama diberikan.
  • ada 11 x kalimat ‘supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi’ (1:22  2:15,17,23  4:14  8:17  12:17  13:35  21:4  26:56  27:9).

Dari sini terlihat bahwa Matius selalu berusaha menghubung­kan Yesus dengan Perjanjian Lama. Matius bermaksud untuk menunjukkan kepada orang Yahudi bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan dalam Perjanjian Lama. Hal ini penting untuk orang Yahudi yang mempercayai Perjanjian Lama sebagai Firman Tuhan.

  • mujijat pertama yang dicatat oleh Matius adalah penyembuhan orang yang sakit kusta (Mat 8:1-4), karena kusta merupakan penyakit yang paling ditakuti oleh orang Yahudi. Dengan demikian Matius berkata kepada orang-orang Yahudi itu: Yesus berkuasa untuk menyembuhkan orang dari penyakit yang paling kamu takuti itu!

Catatan: Memang dalam Mat 4:23-25 sudah ada mujijat penyembuhan, tetapi disana hanya diceritakan secara umum, tidak secara specific / khusus. Mat 8:1-4 adalah mujijat penyembuhan pertama dimana Matius menceritakannya secara specific.

2) Markus.

a)   Markus menggambarkan / menekankan Tuhan Yesus sebagai hamba.

Hal-hal yang menunjukkan bahwa Markus memang menekankan Yesus sebagai seorang hamba:

  • dalam Injil Markus tidak ada silsilah Yesus, karena tidak ada orang yang mempersoalkan silsilah seorang hamba.
  • Yesus sudah mulai melayani pada Mark 1:14. Bandingkan dengan Injil Matius dan Lukas, dimana Yesus baru mulai melayani pada pasal 4.

b)   Markus menujukan tulisannya untuk orang Roma.

Ini terlihat dari fakta yang menunjukkan bahwa dalam seluruh Injil Markus, ia hanya 2 x menunjukkan suatu peristiwa sebagai penggenapan dari nubuat Perjanjian Lama (Mark 1:2  Mark 15:28). Dan dalam Kitab Suci Indonesia, Mark 15:28 itu ada dalam tanda kurung tegak, yang menunjukkan bahwa itu merupakan ayat yang diragukan / diperdebatkan keasliannya. Jadi mungkin sebetulnya hanya 1 x Markus menunjukkan suatu peristiwa sebagai penggenapan nubuat Perjanjian Lama. Ini menunjukkan bahwa Markus mulai meninggalkan alam Yahudi.

3) Lukas.

a)   Lukas menggambarkan Yesus sebagai manusia.

Hal-hal yang menunjukkan bahwa Lukas menekankan Yesus sebagai manusia:

  • Dalam Injil Lukas ada silsilah Yesus (Luk 3:23-38), karena orang Yahudi mementingkan silsilah (bdk. Bil 1:18). Tetapi berbeda dengan silsilah Yesus dalam Injil Matius yang hanya sampai kepada Abraham, maka dalam Injil Lukas silsilah Yesus ‘ditarik’ terus sampai kepada Adam, yang adalah manusia pertama. Kalau Yesus betul-betul adalah manusia, maka Ia haruslah merupakan keturunan Adam.
  • Injil Lukas adalah satu-satunya Injil yang menceritakan pertumbuhan Yesus sebagai manusia (Luk 2:40,52), dan peris­tiwa yang dialami Yesus pada waktu berusia 12 tahun (Luk 2:41-51).

b)   Lukas menujukan tulisannya untuk orang Yunani.

Karena itu berbeda dengan Matius yang mencatat mujijat penyembuhan orang sakit kusta sebagai mujijat yang pertama, maka Lukas mencatat penyembuhan orang yang dirasuk setan sebagai mujijat pertama (Luk 4:31-37). Mengapa? Karena orang Yunani paling takut kepada roh-roh jahat. Dengan demikian, Lukas berkata kepada orang-orang Yunani itu: roh-roh jahat yang paling kamu takuti itu, tidak ada apa-apanya dibanding dengan Yesus! Mereka terpaksa tunduk kepada Yesus!

4) Yohanes.

a)   Yohanes menekankan penggambaran Yesus sebagai Allah / Anak Allah.

Hal-hal yang menunjukkan bahwa Yohanes menekankan penggambaran Yesus sebagai Allah / Anak Allah:

  • Dalam Injil Yohanes tidak ada silsilah Yesus, tetapi Yohanes memulai Injilnya dengan Yoh 1:1 yang berbunyi: “Pada mula­nya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”.

Ini jelas menunjukkan keila­hian Yesus.

  • Tujuan Injil Yohanes dicatat dalam Yoh 20:30-31 yang berbunyi: “Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-muridNya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam namaNya”.

Dari ayat ini jelas terlihat bahwa tujuan Injil Yohanes adalah supaya semua orang percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.

b)   Yohanes menujukan tulisannya untuk Gereja / semua orang.

Eksposisi Injil Matius

MATIUS 1:1-17

I) Pertentangan-pertentangan.

Silsilah Yesus ini sering dipersoalkan karena kelihatannya mengandung pertentangan-pertentangan dengan bagian-bagian lain dari Kitab Suci. Bahwa dalam Kitab Suci kita ada banyak hal yang kelihatannya bertentangan, sering disoroti secara negatif oleh banyak orang. Sebetulnya perlu kita ketahui bahwa:

1.   Adanya hal-hal yang kelihatannya bertentangan itu bisa diso­roti secara positif, karena hal-hal itu menunjukkan bahwa:

a.   Para penulis Kitab Suci tidak bersekongkol dalam menuliskan Kitab Suci.

b.   Tidak ada orang yang merevisi Kitab Suci, karena kalau memang demikian, maka pasti semua hal yang kelihatan ber­tentangan itu sudah ‘disesuaikan’. Hal ini perlu saudara camkan karena ada agama lain yang mengatakan bahwa orang-orang Yahudi sudah merevisi Kitab Suci kita ini.

2.   Hal-hal yang kelihatannya bertentangan itu bisa diharmoniskan / dijelaskan sehingga tidak bertentangan.

Pertentangan-pertentangan yang ada di dalam / berhubungan dengan silsilah Yesus dalam Mat 1:1-17 ini:

1)   Silsilah Yesus dalam Mat 1:1-17 berbeda dengan silsilah Yesus dalam Luk 3:23-38.

Kalau kita menyoroti dan membandingkan kedua silsilah itu pada bagian mulai dari Daud sampai kepada Yesus, maka akan terlihat bahwa ada perbedaan nama-nama, bahkan ada perbedaan jumlah orang (dalam Matius hanya 28 nama, sedangkan dalam Lukas ada 43 nama).

Mari kita soroti Mat 1:15b-16 dan Luk 3:23b-24a.

Dalam Matius                                    Dalam Lukas

Matan                                                 Matat

    ¯                                                      ¯

Yakub                                                 Eli

    ¯                                                      ¯

Yusuf                                                   Yusuf

Jadi sebetulnya Yusuf itu anaknya siapa? Anak Eli (menurut Lukas) atau anak Yakub (menurut Matius)?

Ada 2 cara untuk mengharmoniskan kedua bagian / silsilah ini:

a)   Bapa-bapa gereja, dimulai seorang yang bernama Africanus (tahun 220 M), mengharmoniskan perbedaan ini dengan cara sebagai berikut:

Matan ———– Esta ———– Matat

¯                      ¯

Yakub —– P —– Eli

        ¯

Yusuf —– Maria

  ¯

    Yesus

Keterangan: Matan kawin dengan seorang perempuan yang bernama Esta dan lalu mempunyai anak yang dinamakan Yakub. Setelah Matan mati, Esta kawin lagi dengan Matat dan mempunyai anak yang dinamakan Eli. Jadi, Yakub dan Eli adalah setengah saudara.

Eli lalu kawin dengan seorang perempuan (P), tapi Eli mati sebelum istrinya itu sempat mendapatkan anak, dan karena itu Yakub sebagai saudara Eli harus kawin dengan istri Eli untuk memberi keturunan kepada Eli. Dari perkawinan itu lahirlah Yusuf. Jadi Yusuf adalah anak sah dari Eli, tapi sebetulnya Yusuf diperanakkan oleh Yakub. Ini cocok, karena dalam Matius dikatakan ‘Yakub memperanakkan Yusuf’, sedang­kan dalam Lukas dikatakan ‘Yusuf, anak Eli’.

Jadi menurut penafsiran pertama ini, silsilah Yesus dalam Matius maupun Lukas sama-sama diambil dari jalur Yusuf, tetapi Lukas mengambil jalur yang sah (secara hukum / legal), sedangkan Matius mengambil jalur yang sebenarnya.

b)   Penafsiran / pengharmonisan yang kedua mengatakan bahwa Matius menuliskan silsilah Yesus dari pihak Yusuf, sedangkan Lukas menuliskan silsilah Yesus dari pihak Maria. Jadi, Yakub adalah ayah Yusuf (Mat 1:16), sedangkan Eli adalah ayah Maria (Luk 3:23).

Matan                   Matat

    ¯                        ¯

Yakub                   Eli

    ¯                        ¯

Yusuf    ———-    Maria

¯

             Yesus

Tetapi untuk mencapai / mendapatkan hal ini ada 2 penafsiran yang ditempuh tentang Luk 3:23 yang berbunyi: “Ketika Yesus memulai pekerjaanNya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli”.

1.   Kata-kata ‘anak Eli’ dalam Luk 3:23 ditujukan kepada Yusuf, dan diartikan sebagai ‘menantu Eli’.

“Ia adalah anak Yusuf, anak Eli”.

Menafsirkan kata ‘anak’ sebagai ‘menantu’ bukanlah merupakan sesuatu yang aneh, karena dalam Rut 1:11-13, Naomi juga menyebut kedua menantunya dengan sebutan ‘anak-anakku’ (NIV: ‘my daughters’).

2.   Kata-kata ‘anak Eli’ dalam Luk 3:23 ditujukan kepada ‘Ia’ (Yesus), dan diartikan sebagai ‘cucu Eli’.

“Ia adalah anak Yusuf, anak Eli”.

Menafsirkan kata ‘anak’ sebagai ‘cucu’ juga bukan merupakan hal yang aneh, karena dalam Kitab Suci, istilah ‘anak’ sering menunjuk kepada ‘keturunan’, dan istilah ‘bapa / ibu’ sering menunjuk kepada ‘nenek moyang’. Bahwa hal seperti ini sering terjadi terlihat dari:

  • Kej 46:16-18 dimana ada 3 generasi yang dalam Kitab Suci Indonesia disebut sebagai ‘keturunan Zilpa’. Tetapi terjemahan yang hurufiahnya seharusnya adalah ‘sons of Zilpa’ (= anak-anak Zilpa).
  • 2Taw 28:1 dimana Daud disebut sebagai ‘bapa leluhur’ Ahas.

NIV memberikan terjemahan hurufiah ‘David, his father’ (= Daud bapanya).

Disamping itu, ada dukungan sebagai berikut terhadap penafsiran ini: Kalau Luk 3:23-38 ini dilihat dalam bahasa Yunaninya, maka terlihat bahwa semua nama didahului oleh kata Yunani TOU (= of the), kecuali nama Yusuf.

Pulpit Commentary: “This absence of the article TOU certainly puts the name of Joseph in a special position in the series of names, and leads us to suppose that the genealogy is not that of Joseph, but of Heli. … The twenty-third verse would then read thus: ‘And Jesus, … (being as was supposed the son of Joseph),’ after which parenthesis the first link in the chain would be Jesus, the heir and grandson, and in that sense the son of Heli” [= Absennya kata TOU ini jelas menempatkan nama Yusuf dalam posisi yang khusus dalam deretan nama-nama itu, dan memimpin kami untuk menganggap bahwa silsilah itu bukanlah dari Yusuf, tetapi dari Eli. … Jadi, ayat 23 seharusnya berbunyi: ‘Dan Yesus, … (dianggap sebagai anak Yusuf)’, dan setelah tanda kurung maka mata rantai yang pertama dalam rantai itu adalah Yesus, pewaris dan cucu, dan dalam arti itu, anak Eli].

Beberapa terjemahan Luk 3:23 yang mendukung penafsiran ini:

Lenski: “And he himself Jesus when beginning was about thirty years old, being a son (as was supposed of Joseph) of Heli …” [= Dan Ia sendiri, Yesus, ketika sedang memulai berusia kira-kira 30 tahun, adalah anak (dianggap dari Yusuf) dari Eli …].

Greijdanus: “And he himself, Jesus, when he began, was about thirty years old, being a son, as was supposed of Joseph, of Heli …” (= Dan Ia sendiri, Yesus, ketika Ia mulai, berusia kira-kira 30 tahun, merupakan anak, dianggap dari Yusuf, dari Eli …).

Berkeley Version: “Jesus Himself, supposedly Joseph’s son, began his ministry at about thirty, being a descendant of Heli …” (= Yesus sendiri, dianggap sebagai anak Yusuf, mulai pelayananNya pada usia kira-kira 30 tahun, adalah keturunan dari Heli …).

William Hendriksen: “Now Jesus himself, supposedly Joseph’s son, was about thirty years old when he began (his ministry), being a son of Heli …” [= Yesus sendiri, dianggap sebagai anak Yusuf, berusia kira-kira 30 tahun ketika Ia mulai (pelayananNya), adalah anak dari Eli …].

Kalau dipertanyakan yang mana yang benar dari penjelasan-penjelasan ini, maka tentu saja tidak bisa dipastikan secara mutlak. Ini tidak perlu membuat kita kecewa atau kecil hati, karena sekalipun tidak bisa dipastikan secara mutlak, tetapi yang penting adalah bahwa kita sudah melihat adanya kemungkinan bahwa kedua bagian yang kelihatannya bertentangan itu ternyata bisa diharmoniskan sehingga tidak harus bertentangan!

John Murray: “Oftentimes, though we may not be able to demonstrate the harmo­ny of Scripture, we are able to show that there is no neces­sary contradiction” (= Seringkali, sekalipun kita tidak bisa menunjukkan keharmonisan Kitab Suci, kita bisa menunjukkan bahwa disana tidak harus terjadi kontradiksi)‘Collected Writings of John Murray’, vol I, hal 10.

Tetapi saya sendiri sangat condong pada penafsiran yang kedua karena:

a.   Dalam Luk 3:23, Lukas sudah mengatakan bahwa Yesus adalah anak Yusuf menurut anggapan orang. Jadi jelas bahwa ia berkata bahwa sebenarnya Yesus bukan anak Yusuf. Karena itu adalah sesuatu yang aneh kalau ia lalu memberikan silsilah Yesus melalui Yusuf. Jauh lebih cocok kalau ia memberikan silsilah Yesus melalui Maria.

b.   Matius menekankan Yesus sebagai Raja, sehingga ia menuliskan silsilah Yesus dari sudut ‘ayah’Nya (adalah aneh kalau menuliskan silsilah seorang raja dari sudut ibunya), tetapi Lukas menekankan Yesus sebagai manusia, dan sebagai manusia, Yesus bukan anak Yusuf, tetapi anak Maria. Karena itu Lukas menuliskan silsilah Yesus dari sudut Maria.

c.   Dukungan kitab Talmud.

Orang Yahudi mempunyai kitab yang disebut Talmud. Kata ‘Talmud’ adalah kata bahasa Ibrani yang berarti ‘instruction’ (= instruksi), yang berasal dari akar kata LAMAD, yang berarti ‘to learn’ (= belajar). Talmud merupakan kumpulan tulisan-tulisan yang berisikan hukum-hukum Yahudi, baik hukum negara maupun hukum agama. Talmud ini terdiri dari 2 bagian, yaitu Mishnah (textnya) dan Gemara (penafsirannya).

Dan dalam kitab Talmud itu, Maria disebutkan sebagai ‘the daughter of Heli’ (= anak perempuan Eli).

Catatan: ini tidak berarti saya percaya pada otoritas kitab Talmud. Dalam banyak hal lain kitab ini jelas-jelas sesat!

d.   Matius menceritakan peristiwa kelahiran Yesus dengan menyoroti Yusuf (baca Mat 1:18-2:23 – malaikat berulangkali datang kepada Yusuf); sedangkan Lukas menceritakan kelahiran Yesus dengan menyoroti Maria (baca Luk 1:26-38 – malaikat datang kepada Maria).

Karena itu sangat sesuai kalau dalam penulisan silsilah Yesus, Matius menuliskan silsilah dari pihak Yusuf, dan Lukas menuliskan silsilah dari pihak Maria.

e.   Matius menuliskan Injilnya untuk orang Yahudi, sehingga ia menuliskan silsilah Yesus hanya sampai Abraham, kepada siapa janji Tuhan tentang bangsa Israel pertama kali diberikan. Tetapi Lukas menulis untuk orang non Yahudi, dan karena itu ia meneruskan silsilah Yesus sampai kepada Adam, untuk menunjukkan bahwa Yesus betul-betul termasuk dalam umat manusia, karena Ia juga adalah keturunan Adam.

Sekarang, kalau ternyata silsilah yang Lukas tuliskan itu adalah silsilah dari Yusuf, yang sebetulnya bukan bapa jasmani dari Yesus, maka semua ini sia-sia. Dengan silsilah ini ia tidak bisa menunjukkan bahwa Yesus betul-betul adalah keturunan Adam.

Memang ada keberatan terhadap penafsiran kedua ini, yaitu:

1.   Tidak ada orang yang membuat silsilah dari sudut ibunya.

Jawabnya: perlu diingat bahwa ini adalah kasus khusus, karena Yesus memang tidak punya bapa dunia / jasmani, jadi tidak aneh bahwa untuk Yesus lalu dibuatkan silsilah dari sudut ibuNya!

2.   Kalau memang Luk 3:23-38 adalah silsilah Yesus melalui Maria, mengapa nama Maria tidak ada dalam silsilah?

Jawabnya: mungkin Lukas tidak mau memasukkan nama perempuan, karena hal ini memang tidak lazim.

Ada satu pertanyaan lagi yang perlu dibahas tentang silsilah Yesus dalam Matius dan Lukas ini: mengapa Kitab Suci tidak secara jelas / terang-terangan saja mengatakan bahwa Matius menuliskan silsilah Yesus dari sudut Yusuf dan Lukas menuliskan silsilah Yesus dari sudut Maria?

Jawab: Dalam 2Pet 3:16b rasul Petrus berkata: “Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutar-balikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain”.

Penjelasan:

  • Yang dimaksud dengan ‘surat-suratnya’ adalah surat-surat Paulus (lihat 2Pet 3:15).
  • Kata-kata ‘orang-orang yang tidak memahaminya’ diterjemahkan  ‘ignorant’ (= bodoh) oleh NIV dan ‘untaught’ (= tidak diajar) oleh NASB.

Ini tentu tidak menunjuk pada orang yang tidak mengerti firman tetapi rindu untuk mengerti, tetapi menunjuk kepada orang yang sekalipun tidak mengerti tetapi tidak mau belajar. Mungkin juga ini menunjuk kepada orang yang tidak mengerti Hermeneutics (= ilmu penafsiran Kitab Suci) tetapi sok pinter dalam menafsirkan Kitab Suci.

  • Kata-kata ‘yang tidak teguh imannya’ diterjemahkan ‘unstable people’ (= orang yang tidak stabil) oleh NIV dan ‘the unstable’ (= orang yang tidak stabil) oleh NASB. Jadi, kata ‘iman’ sebetulnya tidak ada, dan karena itu bagian ini bukan menunjuk kepada orang yang imannya lemah / kurang kuat, tetapi menunjuk kepada orang yang mudah berubah-ubah pandangannya (sebentar ikut agama A, sebentar ikut agama B, dst).
  • Kata-kata ‘tulisan-tulisan yang lain’ diterjemahkan ‘the other Scriptures’ (= Kitab Suci yang lain) oleh NIV dan ‘the rest of the Scriptures’ (= sisa Kitab Suci) oleh NASB, maksudnya adalah bagian-bagian Kitab Suci yang lain, selain tulisan Paulus.
  • Jadi, 2Pet 3:16 ini menunjukkan bahwa bagian-bagian yang sukar dalam Kitab Suci / tulisan Paulus itu ada supaya orang yang bodoh dan tidak mau belajar Kitab Suci dengan serius tersesat dan lalu binasa! Ini sejalan dengan Mat 13:10-15. Perhatikan khususnya Mat 13:11-12 yang berbunyi: “Jawab Yesus: Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya”.

Kata-kata ‘siapa yang mempunyai’ menunjuk kepada orang yang mempunyai keinginan mengerti Firman Tuhan. Orang-orang ini akan diberi pengertian yang berkelimpahan. Sedangkan kata-kata ‘siapa yang tidak mempunyai’ menunjuk kepada orang yang tidak mempunyai keinginan untuk mengerti Firman Tuhan. Mereka tidak akan diberi pengertian, sehingga akan tersesat.

Penerapan:

Karena itu, kalau saudara bukanlah seseorang yang ingin belajar Kitab Suci secara serius, saudara ada dalam bahaya! Kalau saudara maunya cuma mendengar khotbah yang penuh dengan lelucon dan cerita / kesaksian, saudara ada dalam bahaya! Karena itu ambillah keputusan untuk belajar Firman Tuhan secara serius, melalui Kebaktian, Pemahaman Alkitab, Camp / Retreat, Seminar, dan juga melalui buku-buku rohani, dan cassette khotbah!

2)   Silsilah Yesus dalam Injil Matius tidak sesuai dengan cerita dalam kitab 2Raja-Raja.

a)   Mat 1:8 mengatakan bahwa ‘Yoram memperanakkan Uzia’.

Sedangkan dalam kitab 2Raja-Raja:

Yoram

      ¯

Ahazia (2Raja 8:24-25).

      ¯

Yoas (2Raja 11:2).

      ¯

Amazia (2Raja 14:1).

      ¯

Azarya (2Raja 15:1).

Keterangan: Uzia (bahasa Yunani) = Azarya (bahasa Ibrani).

Jadi, Matius meloncati 3 orang yaitu Ahazia, Yoas dan Amazia.

b)   Mat 1:11 mengatakan bahwa ‘Yosia memperanakkan Yekhonya’.

Sedangkan dalam kitab 2Raja-Raja:

Yosia

      ¯

Elyakim / Yoyakim (2Raja 23:34)

      ¯

Yoyakhin (2Raja 24:6)

Keterangan: Yekhonya (bahasa Yunani) = Yoyakhin (bahasa Ibrani).

Jadi, lagi-lagi Matius meloncati 1 orang, yaitu Elyakim / Yoyakim.

Sekalipun Matius meloncat-loncat, Matius tidak bisa dikatakan salah, karena di atas telah kita pelajari bahwa dalam Kitab Suci kata ‘memperanakkan’ bisa diterjemahkan ‘menurunkan’, dan kata ‘anak’ bisa diartikan ‘keturunan’.

Matius meloncat-loncat mungkin untuk mendapatkan Mat 1:17 – ‘ada 14 keturunan dari Abraham sampai Daud, ada 14 keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan 14 keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus’. Dengan demikian silsilah itu lebih mudah untuk diingat.

II) Arti / manfaat silsilah Tuhan Yesus ini bagi kita.

Pertama-tama perlu kita perhatikan bahwa dalam silsilah Yesus ini ada:

1)   Nama-nama wanita: Tamar, Rahab, Rut, istri Uria, Maria (ay 3,5,6,16).

Perlu diketahui bahwa pada jaman itu wanita tidak dihargai, dan hal ini bisa terlihat dari:

  • Anak laki-laki Adam dan Hawa ada 3 yang disebutkan namanya dalam Kitab Suci, yaitu Kain, Habel dan Set. Adam dan Hawa masih mempunyai anak-anak lain, baik laki-laki maupun perempuan (Kej 5:4), tetapi tidak ada satupun anak perem­puan Adam dan Hawa yang disebutkan namanya.
  • Ada 8 orang yang masuk dalam bahtera Nuh, dan dari 8 orang itu hanya 4 laki-laki yang diketahui namanya (yaitu Nuh, Sem, Ham dan Yafet), sedangkan yang 4 perempuan tidak disebutkan namanya.
  • Ayah Abraham disebutkan namanya, yaitu Terah (Kej 11:27), tetapi ibunya tidak disebutkan namanya.
  • Yakub punya 12 anak laki-laki dan 1 perempuan (disebutkan namanya yaitu Dina – Kej 30:21). Anak-anak yang laki-laki lalu menjadi suku-suku bangsa Israel, tetapi dari yang perempuan tidak terjadi suku bangsa apapun.
  • Nama saudara-saudara Yesus hanya disebutkan yang laki-laki, tetapi saudara-saudara yang perempuan tidak disebut­kan namanya (Mat 13:55,56).
  • Dalam berbakti di Bait Allah, perempuan tidak boleh ber­campur dengan laki-laki.
  • Juga, beberapa penafsir mengatakan bahwa orang Yahudi laki-laki setiap pagi menaikkan doa syukur karena dia tidak diciptakan sebagai hamba, orang kafir / non Yahudi, atau orang perempuan!

Karena itu, kalau dalam silsilah Yesus ini ada nama-nama perempuan, itu betul-betul merupakan suatu keanehan!

2)   Nama-nama orang kafir / non Yahudi, yaitu Rut (ay 5), yang adalah orang Moab (bdk. Rut 1:4), dan Rahab (ay 5), yang adalah orang Yerikho / Kanaan (Yos 2:1).

Pada jaman itu ada batasan yang sangat keras antara orang Yahudi dengan orang kafir / non Yahudi (bdk. Ul 7:1-4  Kis 10:28  Gal 2:11-14). Orang kafir yang sudah masuk agama Yahudi sekalipun, kalau berbakti tidak boleh bercampur / bersama-sama dengan orang Yahudi.

Dengan bangsa Moab, bahkan ada batasan yang lebih keras lagi (Ul 23:3).

Karena itu, kalau dalam silsilah Yesus ini ada nama-nama orang kafir, bahkan satu diantaranya adalah orang Moab, itu betul-betul aneh!

3)   Nama-nama orang jahat, yaitu:

  • Yehuda dan Tamar (ay 3), yang kebejatannya bisa sauda­ra baca dalam Kej 38.
  • Rahab (ay 5), yang jelas adalah seorang pelacur (Yos 2:1).
  • Manasye (ay 10), yang kejahatannya bisa saudara baca dalam 2Raja 21:1-18.
  • Amon (ay 10), yang kejahatannya bisa saudara baca dalam 2Raja 21:19-26.

Pada jaman itu juga ada batasan yang keras sekali antara orang jahat dan orang baik (bdk. Mat 9:9-11  Luk 7:37-39). Orang Farisi pada jaman itu, kalau akan berpapasan dengan ‘orang berdo­sa’, memilih untuk berbelok dan menghindari ‘orang berdosa’ itu!

Karena itu, adanya nama-nama orang jahat dalam silsilah Yesus ini lagi-lagi merupakan suatu keanehan!

Adanya nama-nama perempuan, orang kafir dan orang jahat dalam silsilah Tuhan Yesus merupakan sesuatu yang aneh. Di atas telah kita pelajari bahwa Matius meloncat-loncat dalam menulis silsilah Tuhan Yesus. Kalau ia mau, ia bisa saja meloncati nama-nama perempuan, orang kafir, orang jahat itu. Tetapi ia tidak meloncati nama-nama itu. Pasti ia punya tujuan tertentu. Dia ingin menunjukkan bahwa dalam diri Tuhan Yesus, semua batasan / tembok pemisah telah dihancurkan! Semua yang ada di dalam Kristus adalah satu.

1Kor 12:13 – “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh”.

Gal 3:28 – “Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus”.

Ef 2:14-19 – “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu. Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’, karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa. Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah”.

Kol 3:11 – “dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu”.

Penerapan:

Dalam Kristus tidak boleh ada batasan antara:

  • laki-laki dan perempuan.

Ini tentu tidak boleh diartikan bahwa kita boleh melakukan free sex! Ini juga tidak boleh diartikan bahwa dalam keluar­ga, istri punya kedudukan yang setingkat dengan suami!

Artinya adalah: baik laki-laki maupun perempuan, kalau percaya kepada Yesus, sama-sama diampuni, sama-sama menjadi anak Allah, boleh berbakti bersama-sama dalam gereja, dan juga boleh sama-sama melayani Tuhan!

  • bangsa / suku bangsa yang satu dengan yang lain.

Kita tidak boleh menganak-emaskan bangsa / suku bangsa kita sendiri, dan menganak-tirikan / menolak / merendahkan bangsa / suku bangsa tertentu dalam gereja. Adanya gereja yang boleh dikatakan menjadi ‘milik’ dari bangsa / suku bangsa tertentu, seperti GKJW, HKBP, GPIB, GKT, GKA, dsb, sebetulnya tidak salah, selama mereka tidak menolak orang dari bangsa / suku yang lain yang mau berbakti di gereja mereka. Tetapi ada gereja suku semacam itu yang dalam kebaktiannya menggunakan bahasa sukunya, tanpa diterjemahkan. Menurut saya ini salah, karena orang dari suku lain tidak akan bisa berbakti di sana, dan karena itu ini sama saja dengan mendirikan tembok pemisah.

  • orang jahat dan orang baik.

Ingat bahwa sebetulnya di hadapan Allah kita semua adalah orang bejat yang penuh dosa. Jadi jangan merendahkan orang kristen yang berasal dari latar belakang yang gelap (seperti pelacur, penjahat, dsb). Kalau mereka ada di dalam Kristus, mereka harus kita anggap dan perlakukan sebagai saudara kita!

  • orang tua dengan muda. Ini memang tidak berarti bahwa orang muda boleh bersikap tidak sopan terhadap orang tua. Ini juga tidak berarti bahwa seorang kakek yang berusia 80 tahun diharuskan bergaul dengan remaja yang berusia 16 tahun dalam gereja. Tetapi bagaimanapun kita harus menyadari bahwa baik tua maupun muda adalah satu dalam Kristus. Jangan sampai orang tua menganggap rendah yang muda karena belum banyak makan asam garam, dan sebaliknya orang yang muda jangan menghina yang tua karena kolot dsb.
  • orang kaya dengan orang miskin.

Gereja tidak boleh bersikap ramah terhadap orang kaya, tetapi acuh tak acuh terhadap yang miskin (bdk. Yak 2:1-4)! Orang kristen yang kaya tidak boleh merasa terhina kalau harus duduk di sebelah orang yang miskin dalam gereja. Jangan lupa bahwa Yesus dan rasul-rasul juga miskin! Sebaliknya, orang yang miskin juga tidak boleh merasa rendah diri dalam bergaul dengan orang yang kaya.

  • majikan dengan pelayan / pegawai. Ini tidak boleh diartikan bahwa pelayan / pegawai boleh kurang ajar kepada majikan / tidak mentaati majikan. Dalam pekerjaan, mereka harus menghormati dan mentaati majikan, tetapi dalam gereja, mereka setingkat!
  • persekutuan yang satu dengan yang lain, atau gereja yang  satu dengan yang lain (bdk. Ro 15:25-26  1Kor 16:1-3). Adalah aneh, kalau ada gereja tertentu yang tidak mau mem­berikan surat atestasi ke gereja tertentu yang lain, dengan alasan tidak ada hubungan dengan gereja itu! Lebih-lebih pendeta / gereja yang melarang jemaatnya untuk pergi ke gereja lain, padahal gereja lain itu tidak mereka anggap sebagai gereja yang sesat! Bagaimana gereja-gereja tersebut bisa mengucapkan kata-kata ‘Gereja yang Kudus dan Am’dalam 12 Pengakuan Iman Rasuli, tetapi tetap bersikap seperti itu adalah sesuatu yang tidak bisa dimengerti!
  • komisi yang satu dengan yang lain dalam gereja. Setiap anggota komisi / departemen dalam gereja harus sadar bahwa mereka berjuang bagi Tuhan, dan bukan bagi komisi / departemen masing-masing! Karena itu jangan lalu tidak mau tahu dengan komisi / departemen yang lain.

Batasan yang tetap dan bahkan harus ada adalah batasan antara orang yang ada di dalam Kristus dengan orang yang ada di luar Kristus:

¨       2Kor 6:14 memberikan larangan menikah antara orang yang percaya (kepada Kristus) dengan  orang yang tidak percaya (kepada Kristus).

¨       Ef 5:5-7 (bdk. 1Kor 5:9-13) menunjukkan bahwa kita tidak boleh sembarangan bergaul dengan orang yang tidak percaya. Kita boleh bergaul untuk memberitakan Injil kepada mereka dan kita harus mempengaruhi mereka, bukan dipengaruhi oleh mereka.

¨       gereja yang sesat, nabi palsu, orang kristen KTP adalah orang yang di luar Kristus. Karena itu, orang kristen yang sejati tidak boleh menganggap dirinya satu dengan mereka.

MATIUS 1:18-25

I) ‘Orang tua’ Yesus.

1)   Mereka bertunangan (ay 18).

Ay 18 yang menunjukkan bahwa mereka masih ada dalam keadaan bertunangan / belum menikah, sesuai dengan:

  • ay 20b yang menunjukkan bahwa malaikat itu berkata supaya Yusuf tidak takut mengambil Maria sebagai istri.
  • ay 24 yang menunjukkan ketaatan Yusuf terhadap Firman yang disampaikan oleh malaikat, dimana ia lalu mengambil Maria sebagai istrinya.

Tetapi dalam ay 19 dimana Yusuf disebut ‘suami’ dan Maria disebut ‘istri’, dan juga dari istilah ‘menceraikan’, kelihatannya mereka sudah menikah.

Hal-hal yang kelihatannya bertentangan ini bisa dimengerti dan diharmoniskan kalau kita mengerti tradisi di tempat itu pada jaman itu.

Dalam tradisi mereka ada beberapa tahap menuju pernikahan:

a)   Pertunangan I (engagement).

Pertunangan I ini terjadi pada waktu dua orang yang diper­tunangkan itu masih kecil, dimana mereka dipertunangkan oleh orang tua mereka, dan mereka belum saling kenal. Pertunangan I ini bisa dibatalkan.

b)   Pertunangan II (bethrotal).

Pertunangan II ini terjadi setelah dua orang tadi sudah cukup umur. Pada saat pertunangan II ini mereka sudah disebut ‘suami istri’, tetapi mereka belum tinggal bersama dan mereka belum boleh melakukan hubungan sex.

Bdk. Ul 22:23-24 – “(23) Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan – jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, (24) maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu”.

Perhatikan bahwa dalam ay 23nya disebutkan ‘bertunangan’ tetapi dalam ay 24nya disebut sebagai ‘istri’.

Dalam tradisi Yahudi saat itu, pemutusan pertunangan II ini dianggap sebagai perceraian dan dianggap sebagai dosa. Pertunangan II ini hanya berlangsung 1 tahun.

c)   Pernikahan.

Pada saat itu, Yusuf dan Maria ada pada masa pertunangan II dan karena itu ay 18 tidak bertentangan dengan ay 19,20,24.

2)   Mereka (‘orang tua’ Yesus) adalah orang-orang yang saleh.

a)   Yusuf.

Ia adalah seorang yang:

  • tulus hati (benar), tidak mau mencemarkan nama Maria (ay 19).

Padahal sakit hati karena merasa dikhianati oleh pacar adalah sesuatu yang sangat sering menyebabkan orang lalu merusak nama baik pacar yang tadinya ia cintai, apalagi kalau ia sudah mengambil keputusan untuk memutuskan hubungan dengan pacarnya itu. Tetapi Yusuf, sekalipun merasa dikhianati dan sudah mengambil keputusan untuk menceraikan Maria, tidak mau mencemarkan nama Maria. Karena itulah maka ia bermaksud menceraikan Maria dengan diam-diam.

Penerapan:

Apakah saudara sering merusak nama baik seseo­rang melalui penyebaran gossip / fitnah?

  • tidak gegabah.

Ini terlihat dari ay 20 dimana ia ‘mempertimbangkan’ maksudnya untuk menceraikan Maria.

Penerapan:

Apakah saudara sering melakukan hal-hal ter­tentu dengan gegabah / tidak berpikir panjang? Mungkin dalam hal melampiaskan emosi / kemarahan saudara, atau dalam hal membeli barang, atau dalam hal menerima / menolak suatu ajaran / praktek. Kalau ya, perhatikanlah Amsal 19:2b yang berbunyi: ‘orang yang terge­sa-gesa akan salah langkah’.

  • ia percaya pada Firman Tuhan, yang disampaikan malaikat Tuhan kepadanya melalui mimpi (ay 20-24).

Ada beberapa hal yang perlu dibahas di sini:

¨       tidak semua / sembarang mimpi bisa dianggap sebagai petunjuk dari Tuhan!

Calvin: “we must understand that dreams of this sort differ widely from natural dreams; for they have a character of certainty engraven on them, and are impressed with a divine seal, so that there is not the slightest doubt of their truth. … the dreams which come from God are accompanied by the testimony of the Spirit, which puts beyond a doubt that it is God who speaks” (= kita harus mengerti bahwa mimpi dari jenis ini sangat berbeda dengan mimpi biasa; karena mimpi ini mempunyai sifat yang pasti terukir padanya, dan dibuat menjadi berkesan dengan suatu meterai ilahi, sehingga tidak ada keraguan sedikitpun tentang kebenarannya. … mimpi yang datang dari Allah disertai oleh kesaksian Roh, yang membuat orangnya tidak ragu-ragu bahwa Allahlah yang berbicara) – hal 96-97.

¨       kata-kata malaikat itu sebetulnya amat tidak masuk akal. Coba renungkan: andaikata saudara menjadi Yusuf, dimana tunangan saudara tahu-tahu menjadi hamil, apakah saudara bisa mempercayai kata-kata malaikat yang menyatakan bahwa kehamilan itu dari Roh Kudus (ay 20b)? Hebatnya, Yusuf percaya pada Firman Tuhan yang disampaikan oleh malaikat itu.

Penerapan:

Tuhan sering memberi Firman yang sukar diterima oleh akal. Misalnya:

*        bahwa Ia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi anak-anakNya (Ro 8:28). Kadang-kadang tidak terlalu sukar mempercayai hal ini, tetapi kadang-kadang problem yang kita alami begitu banyak, berat dan membingungkan, dan bahkan kelihatannya berakibat negatif terhadap diri kita dan kerohanian kita. Pada saat seperti itu Ro 8:28 kelihatannya amat tidak masuk akal. Maukah saudara tetap mempercayainya?

*        bahwa Ia selalu mau mengampuni dosa kita yang percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat kita (1Yoh 1:9). Kadang-kadang tidak sukar bagi kita untuk percaya pada hal ini. Tetapi pada saat-saat tertentu, misalnya pada waktu kita melakukan dosa yang sangat hebat / terkutuk, atau pada saat kita melakukan dosa yang sama berulang-ulang hingga ribuan kali (karena itu merupakan kelemahan kita), maka sukar bagi kita untuk percaya bahwa Allah tetap mau mengampuni dosa itu. Pada saat seperti itu maukah saudara percaya pada Firman yang ‘tak masuk akal’ itu?

  • ia taat pada Firman Tuhan (ay 24-25).

Hal-hal yang perlu disoroti tentang ketaatannya:

*        ia taat secara langsung / tidak menunda (ay 24).

Renungkan: apakah saudara juga selalu taat secara lang­sung, atau apakah saudara sering menunda ketaatan sauda­ra? Mungkin dalam hal menyerahkan diri untuk dibaptis, atau dalam hal melayani Tuhan / memberitakan Injil, atau dalam hal memberikan persembahan persepuluhan?

*        Yusuf menikah dengan Maria.

Kata-kata dalam ay 24 akhir yang mengatakan bahwa Yusuf ‘mengambil Maria sebagai istrinya’, jelas menunjuk pada per-nikahan Yusuf dan Maria. Ini perlu ditekankan untuk mengha-dapi ajaran gila dari Pdt. Yusuf Roni, yang begitu menekankan keperawanan abadi dari Maria, sehingga mengatakan bahwa Yusuf dan Maria tidak pernah menikah, dan bahkan menantang pendengarnya untuk menunjukkan di Kitab Suci bagian mana Yusuf dan Maria pernah menikah! Rupa-rupanya dia tidak pernah membaca bagian Kitab Suci ini!

*        ia tidak malu mengambil Maria sebagai istri, padahal Maria sudah mengandung sebelum mereka menikah, dan Maria bukan mengandung dari dia. Apakah ia tidak mempertimbangkan apa kata para tetangga, keluarga, dan teman kalau mereka melihat bahwa Maria melahirkan anak sekalipun baru menikah selama 5 bulan?

Renungkan: apakah saudara sering tidak mentaati Firman Tuhan karena malu? Apakah saudara sering tidak memberitakan Injil karena malu?

*        ia rela untuk tidak bersetubuh dengan Maria sampai Yesus lahir (ay 25). Ini penting karena perempuan yang mela­hirkan Yesus haruslah seorang perawan. Bandingkan ay 23 dengan Yes 1:14. Menikah tetapi tidak bersetubuh jelas merupakan sesuatu pengorbanan! Tetapi Yusuf rela mengalami semua itu!

Renungkan: apakah saudara mau mentaati Firman Tuhan kalau hal itu membutuhkan pengorbanan? Apakah saudara tetap ke gereja sekalipun hujan? Apakah saudara tetap ke gereja kalau tidak ada kendaraan sehingga harus mengeluarkan ongkos taxi?

*        ia menamakan anak itu Yesus sesuai dengan Firman yang disampaikan oleh malaikat (ay 23-25).

b)   Maria.

Ia mau dipakai oleh Tuhan untuk mengandung dan melahirkan Yesus (Luk 1:38), padahal jelas semua ini akan menimbulkan salah pengertian dari banyak orang, termasuk dari Yusuf, dan bahkan pasti akan menimbulkan banyak ejekan dan hinaan kepadanya. Ini menunjukkan kerelaan Maria dalam berkorban bagi Tuhan.

Penerapan:

Tuhan tidak bisa dan tidak mau memakai orang yang tidak mau berkorban bagi Dia. Kalau saudara merasa sukar / berat untuk berkorban bagi Tuhan, renungkan penderitaan dan pengorbanan yang Yesus sudah lakukan bagi sauda­ra pada waktu Ia menebus dosa saudara di atas kayu salib. Kalau Ia sudah berkorban seperti itu bagi saudara, sudah seharusnya saudarapun mau berkorban bagi Dia!

c)   Yusuf dan Maria adalah orang-orang yang saleh, tapi mereka sama sekali bukan orang suci!

Kitab Suci memang sering menceritakan tentang orang yang saleh, yang bahkan dikatakan tidak bercela, seperti Nuh (Kej 6:9), Ayub (Ayub 1:1,8  2:3), Zakharia dan Elisabet (Luk 1:6), dsb. Tetapi kalau Kitab Suci mengatakan bahwa mereka itu saleh, maksudnya bukanlah bahwa mereka itu suci / tanpa dosa, tetapi saleh dalam perbandingan dengan orang-orang lain. Tetapi kalau kehidupan mereka dibandingkan dengan kehidupan Yesus, atau dengan Firman Tuhan, maka jelas bahwa mereka adalah orang-orang yang berdosa, sesuai dengan ayat-ayat seperti:

  • Pengkhotbah 7:20 – “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!”.
  • Ro 3:10-12,23 – “(10) seperti ada tertulis: ‘Tidak ada yang benar, seorangpun tidak. (11) Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari Allah. (12) Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak. … (23) Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”.

Tetapi perlu diketahui bahwa tentang Yusuf maupun Maria, Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa mereka itu suci atau tidak bercela.

Orang sering menganggap bahwa Maria harus suci supaya Yesus bisa lahir suci. Tetapi ini salah karena:

1.   Kesucian Yesus terjadi karena pekerjaan Roh Kudus (lihat point II, 4 di bawah), bukan karena kesucian Maria.

2.   Kalau supaya Yesus suci Maria harus suci, maka konsekwensinya adalah: supaya Maria suci, kedua orang tua Maria harus suci. Dan supaya kedua orang tua Maria harus suci, maka keempat kakek nenek Maria juga harus suci. Kalau ini diteruskan, akhirnya Adam dan Hawapun juga harus suci! Ini jelas adalah hal yang bertentangan dengan Kitab Suci, yang orang Katolikpun pasti tidak mau menerimanya. Tetapi kalau mereka menolak ini, mereka menjadi tidak konsisten.

d)   Ketaatan mereka menyebabkan penderitaan tetapi dari situ timbul kemuliaan / kebahagiaan (bdk. Luk 1:46-49). Kehidupan Kristus sendiri juga demikian. Ia harus melalui penderi­taan dan salib, dan setelah itu baru timbul kebangkitan dan kemuliaan. Itu juga jalan yang harus kita tempuh. Ketaatan dan pelayanan yang harus kita lakukan demi Tuhan pasti membawa penderitaan, tapi akhirnya membawa kemuliaan bagi kita. Bandingkan dengan 2 ayat di bawah ini:

  • Ro 8:18 – “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”.
  • 2Kor 4:17 – “Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami”.

Kalau dalam 2Kor 4:17 Paulus menyebutkan ‘penderitaan ringan’, itu bukan karena penderitaannya betul-betul ringan (bdk. 2Kor 1:8b-9a yang menunjukkan hebatnya penderitaan Paulus), tetapi hanya dalam perbandingan dengan besarnya kemuliaan yang menantikan dia.

Penerapan:

¨      Semua ini menunjukkan bahwa ajaran Theologia Kemakmuran dan sejenisnya yang banyak diajarkan oleh gereja-gereja / pendeta-pendeta jaman sekarang, adalah tidak benar. Kitab Suci tidak pernah mengajarkan bahwa kalau kita ikut Yesus maka kita akan jadi kaya, sukses, bebas dari semua problem, dsb.

¨      Kalau saudara banyak mengalami penderitaan, janganlah kecewa dan putus asa. Bertekunlah dan bersabarlah dalam menghadapi kesukaran itu, karena ada saatnya kemuliaan yang Tuhan janjikan akan menjadi milik saudara.

3)   Kehidupan mereka setelah kelahiran Yesus.

Mereka hidup seperti suami istri biasa, dan mereka pasti juga melakukan hubungan sex dan memperoleh anak-anak dari pernikahan itu. Ini terlihat dari:

a)   Ay 24-25 mengatakan bahwa mereka tidak bersetubuh ‘sampai Yesus lahir’. Secara implicit ini menunjukkan bahwa setelah Yesus lahir, mereka melakukan persetubuhan itu.

Illustrasi: kalau dikatakan bahwa anak saudara libur sampai tanggal 5 Januari 1997, maka itu berarti bahwa setelah itu mereka tidak lagi libur.

Tasker (Tyndale): “The prima facie meaning of this verse would seem to be that after Mary’s firstborn son was born Joseph had normal sexual intercourse with her; and, as McNeile points out, the Greek construction used here ‘always implies in the New Testament that the negatived action did, or will, take place after the point of time indicated by the particle’” (= Arti yang utama / kuat dari ayat ini kelihatannya adalah bahwa setelah kelahiran anak sulung Maria, Yusuf melakukan hubungan sex yang normal dengannya; dan seperti ditunjukkan oleh McNeile, konstruksi bahasa Yunani yang digunakan di sini “selalu menunjukkan dalam Perjanjian Baru bahwa tindakan yang bertentangan terjadi, atau akan terjadi setelah saat yang ditunjukkan oleh kata ‘sampai’”)‘The Gospel According to St. Matthew’, hal 36.

A. T. Robertson: “Joseph lived in continence with Mary till the birth of Jesus. Matthew does not say that Mary bore no other children than Jesus. ‘Her firstborn’ is not genuine here, but is a part of the text in Luke 2:7. The perpetual virginity of Mary is not taught here. Jesus had brothers and sisters and the natural meaning is that they were younger children of Joseph and Mary and not children of Joseph by a previous marriage” (= Yusuf hidup dalam pertarakan dengan Maria sampai kelahiran Yesus. Matius tidak mengatakan bahwa Maria tidak melahirkan anak-anak selain Yesus. Kata-kata ‘yang sulung’ di sini tidak merupakan bagian asli / orisinil, tetapi merupakan bagian dari text dalam Luk 2:7. Keperawanan abadi dari Maria tidak diajarkan di sini. Yesus mempunyai saudara-saudara laki-laki dan perempuan dan arti yang wajar adalah bahwa mereka adalah anak-anak yang lebih muda dari Yusuf dan Maria dan bukan anak-anak Yusuf  dari pernikahan sebelumnya)‘Word Pictures in the New Testament’, vol  1, hal 12-13.

Catatan:  A. T. Robertson memberikan penafsiran berdasarkan versi KJV, yang mempunyai tambahan kata-kata ‘yang sulung’.

Ay 25 (KJV): ‘And knew her not till she had brought forth her firstborn son: and he called his name JESUS’ (= Dan tidak mengenalnya sampai ia telah melahirkan anaknya yang sulung: dan ia menamakanNya Yesus).

b)   Luk 2:7 mengatakan bahwa Yesus adalah anak sulung.

Memang bisa saja bahwa Yesus adalah anak sulung dan sekaligus anak tunggal. Tetapi Mat 13:55-56 menceritakan adanya saudara-sau-dara Yesus, sehingga penafsiran yang logis adalah bahwa saudara-saudara Yesus itu adalah anak-anak Yusuf dan Maria setelah kelahiran Yesus, seperti yang dikatakan oleh A. T. Robertson di atas.

c)   Hubungan sex antara suami istri adalah sesuatu yang diha­ruskan oleh Tuhan (Amsal 5:18,19  1Kor 7:3-5). Jadi, tidak mungkin Tuhan menyu-ruh Yusuf menikahi Maria tetapi mela­rangnya bersetubuh dengan Maria sampai selama-lamanya.

Karena itu, menyebut / menganggap Maria sebagai ‘perawan yang abadi’ seperti yang dilakukan oleh kalangan Roma Katolik, dan juga oleh Gereja Orthodox Syria (Bambang Noorsena, Jusuf Roni, dsb), jelas merupakan sesuatu yang tidak Alkitabiah!

Catatan: Kalau saudara mau tahu lebih banyak tentang perbedaan pandangan Roma Katolik dan Kristen Protestan tentang Maria, bacalah buku saya yang berjudul ‘Roma Katolik versus Kristen Protestan’.

II) Kelahiran / Inkarnasi Tuhan Yesus.

1)   Inkarnasi berbeda dengan reinkarnasi.

Kekristenan percaya adanya inkarnasi, yaitu pada waktu Yesus yang adalah Allah itu menjadi manusia. Tetapi kekristenan menolak adanya reinkarnasi, karena hal itu jelas bertentangan dengan Ibr 9:27 yang berbunyi: “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi, …”.

Kalau reinkarnasi itu memang ada, maka manusia tidak mungkin ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, tetapi banyak kali.

Saya pernah membaca di surat kabar tentang suatu keluarga yang mempunyai anak kecil. Mula-mula anak kecil itu normal, tetapi setelah ia mulai bisa bicara, maka ia mulai berbicara tentang masa lalunya, baik tempat tinggalnya, namanya, kematiannya, dsb. Mula-mula orang tuanya tidak menggubris hal itu, tetapi karena anak itu terus berbicara tentang hal itu, mereka menjadi penasaran dan lalu menyelidiki ke tempat yang diceritakan oleh anak kecil itu. Ternyata memang cerita anak itu benar. Sekarang pertanyaannya: apakah peristiwa ini membuktikan adanya reinkarnasi? Saya berpendapat jawabannya adalah ‘tidak’! Mungkin sekali orang yang mati itu mempunyai kuasa gelap / kerasukan setan, dan pada waktu ia mati, setannya pindah kepada anak kecil itu, sehingga segala informasi tentang orang yang mati itu lalu dimiliki oleh anak kecil itu.

2)   Inkarnasi berbeda dengan kelahiran, sekalipun inkarnasi terjadi melalui kelahiran.

Perbedaannya adalah:

a)   Inkarnasi adalah tindakan aktif; kelahiran adalah tindakan pasif.

b)   Inkarnasi menunjukkan pre-existence (= keberadaan sebelum­nya); kelahiran tidak.

3)   Pada saat inkarnasi, Allah menjadi manusia.

Perlu kita ingat bahwa kata ‘menjadi’ ini bisa digunakan dalam 2 arti:

a)     Kalau kita berkata ‘nasi sudah menjadi bubur’, maka itu berarti bahwa mula-mula hanya ada nasi, dan setelah itu hanya ada bubur, sedangkan nasinya hilang / tidak ada lagi.

b)     Kalau saya berkata ‘tahun 1993 saya menjadi pendeta’, maka itu berarti mula-mula ada saya, dan pada tahun 1993 dan selanjutnya saya tetap ada / tidak hilang, tetapi lalu ditambahi dengan jabatan pendeta.

Kalau kita berbicara tentang ‘Allah yang menjadi manusia’, maka kita harus mengambil arti ke 2 dari kata ‘menjadi’ tersebut! Jadi, pada waktu Allah menjadi manusia, keilahian Yesus tidak hilang / tidak berkurang sedikitpun, tetapi Ia justru ketambahan hakekat manusia pada diriNya. Karena itu kita mempercayai bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia, atau dengan kata lain, Ia adalah 100 % Allah dan 100 % manusia. Ini memang merupakan sesuatu yang melampaui akal kita, tetapi perlu kita ingat bahwa Yesus / Allah memang melampaui akal kita. Ajaran tentang Allah (Kristologi maupun doktrin Allah Tritunggal) yang masuk akal dan bisa dimengerti sepenuhnya, justru adalah ajaran yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin otak / akal kita yang terbatas bisa mengerti sepenuhnya Allah yang tidak terbatas?

4)   Yesus dilahirkan oleh Maria yang mengandung dari Roh Kudus (ay 18, 21,25).

Beberapa hal yang perlu dibahas:

a)   Yesus memang adalah anak Maria, tetapi Ia bukanlah anak Yusuf. Kalau Ia adalah anak Yusuf dan Maria, maka:

  • Ia bukanlah Allah dan manusia, tetapi manusia biasa.
  • pastilah Ia lahir sebagai orang yang berdosa, dan kalau Ia berdosa maka Ia tidak bisa menebus dosa kita.

Karena itu, doktrin kristen tentang ‘Virgin Birth’ (= kelahiran Kristus dari seorang perawan) adalah doktrin dasar yang sangat penting dan harus dipertahankan. Tetapi sekarang banyak gereja / pendeta Liberal yang sudah meninggalkan doktrin ini, padahal dengan meninggalkan doktrin ini, mereka sudah meninggalkan kekristenan.

Contoh: William Barclay yang memberikan komentar sebagai berikut :

“This passage tells us how Jesus was born by the action of the Holy Spirit. It tells us what we call the Virgin Birth. This is a doctrine which presents us with many difficulties; and our Church does not compel us to accept it in the literal and the physical sense. This is one of the doctrines on which the Church says that we have full liberty to come to our own conclusion. … what it stresses is not so much that Jesus was born of a woman who was a virgin, as that the birth of Jesus is the work of the Holy Spirit” (= Text ini memberi tahu kita bagaimana Yesus dilahirkan oleh tindakan dari Roh Kudus. Ini memberi tahu kita tentang apa kita sebut kelahiran dari perawan. Ini adalah ajaran yang memberikan kepada kita banyak kesukaran; dan gereja kami / kita tidak memaksa kita untuk menerimanya dalam arti hurufiah dan fisik. Ini adalah salah satu dari ajaran-ajaran tentang mana Gereja mengatakan bahwa kita mempunyai kebebasan penuh untuk menyimpulkannya sendiri. … apa yang ditekankannya bukanlah bahwa Yesus dilahirkan oleh seorang perempuan yang adalah seorang perawan, tetapi bahwa kelahiran Yesus merupakan pekerjaan dari Roh Kudus)‘The Gospel of Mathhew’, hal 20.

Ini jelas merupakan penafsiran sesat yang sama sekali tidak menghargai otoritas Kitab Suci, dan ini menunjukkan kesesatan William Barclay! Gereja manapun yang tidak mengharuskan doktrin kelahiran Yesus dari seorang perawan, adalah gereja yang sesat!

b)   ‘Maria mengandung dari Roh Kudus’ bukan berarti bahwa Allah / Roh Kudus melakukan hubungan sex dengan Maria dan menyebabkannya mengandung melalui hubungan sex itu. Dalam dongeng-dongeng kafir kita sering membaca tentang dewa yang berhubungan sex dengan manusia sehingga mempunyai anak. Tetapi kekristenan tidak mengajarkan hal seperti itu. ‘Maria mengandung dari Roh Kudus’, artinya Roh Kudus melakukan suatu mujijat sehingga perawan Maria itu mengandung tanpa hubungan sex dengan siapapun.

c)   Bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus, ini belum menjamin bahwa Yesus bisa lahir suci (Yoh 3:6  Ayub 25:4). Yesus bisa suci karena sejak saat pertama Ia ada dalam kandungan Maria, Roh Kudus sudah menguduskanNya / menyucikanNya dan Roh Kudus terus menjaga / menguasai Dia sehingga Dia tidak bisa ber­buat dosa (Yes 11:2  Luk 1:35  Yoh 1:14  Yoh 3:34  Ibr 9:14).

Karena itu jelas bahwa Maria tidak harus suci supaya Kristus suci. Kesucian Kristus disebabkan oleh pekerjaan Roh Kudus, bukan oleh kesucian Maria!

5)   Kelahiran Yesus dari perawan Maria merupakan penggenapan dari Yes 7:14.

a)     Ada yang berpendapat (misalnya Calvin) bahwa kelahiran Kristus adalah satu-satunya penggenapan Yes 7:14 dan ada pula yang beranggapan bahwa Yes 7:14 mempunyai 2 penggenapan; yang pertama dalam kelahiran anak Yesaya (Yes 8:3-4) dan yang kedua dalam kelahiran Yesus Kristus. Saya setuju dengan pandangan Calvin.

b)     Ada yang menganggap bahwa Yes 7:14 tidak mengatakan ‘perawan’ tetapi ‘perempuan muda’. Tetapi Calvin membantah anggapan ini dan menganggapnya tidak meyakinkan, dan Calvin menambahkan:

  • Yesaya menyebut hal itu sebagai ‘tanda’, yaitu mujijat. Kalau itu hanya berupa seorang perempuan muda yang akan mengandung dan melahirkan, lalu dimana mujijatnya?
  • Juga, mengapa hanya dikatakan bahwa seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan, tanpa disebutkan laki-laki atau suaminya? Ini pasti menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah ‘perawan’ bukan ‘perempuan muda’.

6)   Saat dan tempat kelahiran Kristus tidak diketahui dengan pasti.

Saat dan tempat kelahiran Kristus tidak penting. Yang penting adalah fakta bahwa Yesus Kristus, Juruselamat dunia, sudah lahir! Karena itu janganlah fanatik dengan tanggal 25 Desember pada waktu saudara merayakan Natal.

III) Tujuan kedatangan Tuhan Yesus.

Ada banyak tujuan kedatangan Yesus ke dalam dunia, seperti memberitakan Injil / Firman Tuhan, memberikan teladan hidup, dsb.

Tetapi tujuan utama kedatangan Yesus ke dalam dunia ini adalah untuk menyelamatkan umatNya dari dosa (ay 21). Secara tidak langsung ini menunjukkan bahwa kalau Yesus tidak datang, maka umat manusia tidak akan bisa selamat.

Karena itu dalam beriman kepada Yesus, hal inilah yang harus ditekankan. Saudara harus percaya kepadaNya sebagai Juruselamat dosa, bukan sekedar sebagai pelaku mujijat, teladan, pemberi berkat, penyembuh penyakit dsb.

Demikian juga dalam penginjilan, hal inilah yang harus saudara tekankan! Kalau dalam penginjilan saudara terus berbicara tentang kesembuhan ilahi / mujijat, maka saudara akan menghasilkan ‘petobat’ yang hanya percaya kepada Yesus sebagai dokter / penyembuh / pelaku mujijat. Itu tidak menyelamatkan dia! Tetapi kalau dalam penginjilan saudara menceritakan kematian Kristus untuk menebus dosa, maka saudara akan menghasilkan petobat sejati yang betul-betul percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dosa.

Sekarang mari kita bahas ay 21 ini:

1)   Nama ‘Yesus’.

Firman Tuhan menyuruh Yusuf menamai Anak itu Yesus, karena ‘Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka’ (ay 21).

a)   Yesus artinya sama dengan Yosua, yang berarti ‘Yahweh adalah keselamatan’.

William Barclay: “Jesus is the Greek form of the Jewish name Joshua, and Joshua means Jehovah is salvation” (= Yesus adalah bentuk Yunani dari nama Yahudi Yosua, dan Yosua berarti ‘Yehovah adalah keselamatan’) – hal 19.

Pulpit Commentary: “‘Jesus.’ It is the Greek form of the familiar ‘Joshua;’ but it has a significance and a history. It is really Hoshea, or Hoshua, ‘the Helper,’ with the name of God added as a prefix, Je-hoshua, shortened to Joshua. So it means in full, ‘God our helper.’ But, in the dream, a very full translation of the name was given. It was said to declare Messiah’s mission to be ‘saving the people from their sins,’ and ‘from their sins’ is designedly set in contrast with ‘from their troubles,’ so that the moral and spiritual character of the mission should be made quite plain. … It is the fact that our supreme need arises out of our sins that decides the sphere of the Divine helping” (= ‘Yesus’. Ini merupakan bentuk Yunani dari nama ‘Yosua’ yang begitu dikenal; tetapi nama itu mempunyai arti dan sejarah. Sebetulnya itu adalah Hosea, atau Hosua, ‘sang Penolong’, dengan nama Allah ditambahkan sebagai awalan, Ye-hosua, disingkat / dipendekkan menjadi Yosua. Jadi artinya secara lengkap, ‘Allah penolong kita’. Tetapi dalam mimpi, diberikan suatu terjemahan yang sangat lengkap / penuh dari nama itu. Diucapkan untuk menyatakan missi Mesias sebagai ‘menyelamatkan umatNya dari dosa mereka’, dan kata-kata ‘dari dosa mereka’ secara sengaja dikontraskan dengan ‘dari kesukaran mereka’, sehingga sifat moral dan rohani dari missi itu dibuat jadi jelas. … Fakta bahwa kebutuhan kita yang tertinggi muncul dari dosa-dosa kita yang menentukan ruang lingkup / bidang dari pertolongan Ilahi) – hal 28.

Catatan:

  • Dalam Ibr 4:8 muncul nama ‘Yosua’, tetapi sebetulnya dalam bahasa Yunani ini adalah ‘Yesus’. Ini menunjukkan bahwa Yosua (Ibrani) = Yesus (Yunani).
  • Bil 13:16 – “Itulah nama orang-orang yang disuruh Musa untuk mengintai negeri itu; dan Musa menamai Hosea bin Nun itu Yosua”. ‘Yosua’ di sini seharusnya adalah ‘Yehosua’.

b)   Dari ay 21 ini sebetulnya sudah terlihat bahwa kita harus mempercayai Yesus sebagai Juruselamat dosa, dan bukan sekedar sebagai penyembuh penyakit, pelaku mujijat, pemberi berkat jasmani, dsb. Bdk. 1Kor 15:19 – “Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia”.

2)   ‘Menyelamatkan’.

Artinya adalah:

a)   Menebus dari dosa, mengampuni dosa, membebaskan dari hukuman.

b)   Membebaskan dari perhambaan dosa (Yoh 8:34-36  1Pet 2:24).

Dengan demikian kita yang tadinya tidak bisa berbuat baik, sekarang bisa berbuat baik. Dengan kata lain, kita mengalami pengudusan.

Orang Kristen yang sejati harus mengalami kedua hal di atas ini. Tetapi jaman sekarang banyak orang kristen yang yakin kalau dosanya sudah diampuni, tetapi hidupnya sama sekali tidak berubah. Kalau saudara adalah orang seperti itu ingatlah bahwa Yakobus berkata bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati (Yak 2:17,26)! Juga perhatikan kutipan-kutipan kata-kata J. C. Ryle dalam bukunya yang berjudul ‘Holiness’ (= kekudusan) di bawah ini:

  • “A ‘saint’, in whom nothing can be seen but worldliness or sin, is a kind of monster not recognized in the Bible” (= ‘orang kudus’, dalam diri siapa tidak terlihat apapun kecuali keduniawian atau dosa, adalah sejenis monster yang tidak dikenal dalam Alkitab) – hal 19.
  • “I do not understand how a man can be a true believer unto whom sin is not the greatest burden, sorrow and trouble” (= Aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa adalah orang percaya yang sejati kalau bagi dia dosa bukanlah beban, kesedihan dan kesukaran yang terbesar) – hal 38, kata-kata ini dikutip J. C. Ryle dari John Owen.
  • “I fear it is sometimes forgotten that God has married together justification and sanctification. They are distinct and different things, beyond question, but one is never found without the other. All justified people are sanctified, and all sanctified are justified. What God has joined together let no man dare to put asunder” (= Aku takut bahwa kadang-kadang dilupakan kalau Allah telah mengawinkan pembenaran dan pengudusan. Tidak usah diragukan bahwa mereka memang adalah 2 hal yang berbeda, tetapi yang satu tidak pernah ada tanpa yang lain. Semua orang yang dibenarkan juga dikuduskan, dan semua yang dikuduskan juga dibenarkan. Apa yang telah dipersatukan Allah jangan ada yang berani menceraikannya) – hal 46.
  • “He and sin must quarrel, if he and God are to be friends” (= Ia dan dosa harus bertengkar, kalau ia mau berteman dengan Allah) – hal 68.

3)   ‘UmatNya’.

Ini tidak bisa diartikan orang Yahudi saja, tetapi harus diartikan ‘orang pilihan Allah dari semua bangsa’. Yesus memang tidak datang hanya untuk bangsa Yahudi saja. Ini terlihat dengan jelas dari ayat-ayat seperti Kej 12:3  Mat 28:19  Kis 1:8  Kis 10:34-35  Roma 11:11-24.

4)   Cara Kristus menyelamatkan.

Ia menyelamatkan kita dari dosa dengan jalan mati di atas kayu salib untuk menebus dosa kita. Karena Ia mau mati inilah maka Ia harus dilahirkan.

“YESUS MATI SUPAYA KITA BISA HIDUP”.

 

“ANAK ALLAH MENJADI MANUSIA SUPAYA MANUSIA BISA MENJADI ANAK ALLAH”.

MATIUS 2:1-12

Dalam bagian ini ada 3 golongan orang dalam hal sikap / tanggapannya terhadap kelahiran / kedatangan Yesus.

I) Golongan Herodes.

A)  Keluarga Herodes.

Dalam Kitab Suci kita menjumpai banyak Herodes. Untuk bisa mengerti hubungan mereka, kita perlu mempelajari keluarga Herodes.

 Herodes yang Agung

             ————————————————————————————–

↓                                  ↓                      ↓                      ↓                      ↓

  Aristobulus                     Filipus I         Archelaus         Antipas           Filipus II

                        ↓                                  ↓

             ——————-                      

↓                      ↓                      ↓

     Herodias         Agripa I           Salome

 

             ————————————–

↓                      ↓                      ↓

      Bernike           Agripa II          Drusila

Keterangan:

  • Herodes yang Agung: Yesus lahir pada jamannya; ia yang membunuh bayi-bayi di Betlehem (Mat 2  Luk 1:5).
  • Aristobulus: tidak ada dalam Kitab Suci.
  • Herodias: mula-mula ia adalah istri Filipus I dan mendapat­kan anak Salome, lalu ia menjadi istri Antipas (Mat 14:3).
  • Agripa I: ia yang membunuh rasul Yakobus, memenjarakan Petrus dan akhirnya mati dimakan cacing-cacing (Kis 12:1-23).
  • Agripa II: pertemuannya dengan dengan rasul Paulus diceri­takan dalam Kis 25:13-27.
  • Bernike: diceritakan dalam Kis 25:13,23  Kis 26:30.
  • Drusila: diceritakan dalam Kis 24:24.
  • Filipus I: ia adalah suami pertama Herodias dan ayah Salome (Mat 14:3).
  • Salome:ia adalah anak Filipus I dan Herodias (Mat 14:3).
  • Arkhelaus: diceritakan dalam Mat 2:22.
  • Antipas: ia mengambil Herodias sebagai istrinya sehingga ia ditegur oleh Yohanes Pembaptis; ia juga yang membunuh Yohanes Pembaptis dan  ia juga yang mengirim Tuhan Yesus kembali kepada Pontius Pilatus (Mat 14:1  Mark 6:14  Luk 23:7-12).
  • Filipus II: diceritakan dalam Luk 3:1. Ia kawin dengan Salome.

B)  Diri Herodes (Herodes yang Agung).

Ia adalah orang Idumea dan sebetulnya ia adalah seorang raja yang hebat, tetapi ia sangat mudah curiga dan kejam luar biasa. Ia bahkan membunuh istrinya sendiri, ibu mertuanya dan 3 anak laki-lakinya karena curiga bahwa mereka mau merebut tahtanya. Sampai-sampai saat itu ada kata-kata dari kaisar yang berbunyi: ‘Lebih baik menjadi babinya Herodes dari pada menjadi anak laki-lakinya’. Mengapa? Karena Herodes yang ingin menyenangkan orang Yahudi memang tidak makan babi. Jadi kalau menjadi babinya aman. Tetapi menjadi anak laki-lakinya resikonya besar untuk dicurigai dan lalu dibunuh.

Catatan: dalam bahasa Yunani, kata ‘anak laki-laki’ adalah HUIOS, sedangkan kata ‘babi’ adalah HUOS, sehingga dalam bahasa Yunani kata-kata kaisar itu membentuk syair.

Bisakah saudara bayangkan bagaimana reaksinya ketika mendengar dari orang-orang Majus bahwa ada raja orang Yahudi yang baru dilahirkan?

Semua orang tahu akan kekejamannya dan karena itu ketika ia mendengar dari orang-orang Majus tentang raja yang baru lahir, dikatakan oleh Kitab Suci bahwa ‘terkejutlah ia beser­ta seluruh Yerusalem’ (ay 3). Kata ‘terkejut’ di sini salah terjemahan.

KJV/RSV/NASB: ‘was troubled’ (= terganggu).

NIV: ‘was disturbed’ (= terganggu).

Perhatikan bahwa ay 3 itu mengatakan bahwa bukan hanya Herodes saja yang merasa terganggu, tetapi juga seluruh Yerusalem. Mengapa? Karena seluruh Yerusalem, yang sudah mengenal watak Herodes, takut akan reaksi Herodes karena adanya Raja yang baru lahir itu.

C)  Sikapnya terhadap Firman Tuhan.

1)   Tidak percaya.

Ia pasti pernah mendengar tentang nubuat tentang Tuhan Yesus dalam Firman Tuhan, tetapi ia tidak percaya.

2)   Ia mau bertanya tentang Firman Tuhan / mau mendengar Firman Tuhan hanya karena ia ingin tahu sesuatu (ay 4), bukan karena cinta pada Firman Tuhan / senang mendengar Firman Tuhan.

Penerapan:

Ada banyak orang kristen yang mau mendengar Firman Tuhan hanya karena rasa ingin tahu terhadap hal-hal tertentu. Cirinya: mereka suka pilih-pilih topik! Apakah saudara juga adalah orang seperti itu? Kalau ya, sebetulnya saudara tidak terlalu berbeda dengan Herodes. Bertobatlah dan belajarlah seluruh Firman Tuhan, yang bersifat topik maupun yang bersifat exposisi (seperti buku ini), yang bersifat praktis maupun yang teoritis / doktrinal.

3)   Tidak taat pada Firman Tuhan.

Dustanya dalam ay 8, dan lebih-lebih keinginannya untuk membunuh Raja yang baru lahir itu (ay 13b), dan pembunuhannya terhadap bayi-bayi di Betlehem (ay 16), menunjukkan bahwa ia tidak taat pada Firman Tuhan.

D)  Sikapnya terhadap Tuhan Yesus.

Ia menganggap kehadiran Tuhan Yesus ‘mengganggu’ kehidupannya / kedudukannya sehingga ia menentang Tuhan Yesus dan ingin membunuhNya. Perlu diketahui bahwa orang yang memusuhi Yesus belum tentu memusuhi gereja. Herodes membangun Bait Allah, tetapi ia memusuhi Yesus. Jadi bisa saja saudara pro pada gereja / kekristenan (simpatisan kristen), tetapi saudara memusuhi Yesus!

Yesus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan umat manusia, tetapi Herodes salah sangka terhadap maksud baik Yesus itu, dan ia justru memusuhi Yesus!

Penerapan:

Apakah saudara adalah orang yang menolak Tuhan Yesus karena saudara merasa bahwa Tuhan Yesus ‘mengganggu’ hidup saudara? Ada bermacam-macam cara melalui mana saudara bisa merasakan Yesus sebagai gangguan, seperti:

  • Mungkin agama saudara bertentangan dengan Yesus, dan karena itu saudara menganggap Yesus sebagai gangguan.
  • Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu kenikmatan hidup saudara karena Yesus melarang saudara berzinah.
  • Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu acara piknik saudara pada hari Minggu karena Ia menyuruh saudara untuk berbakti di gereja.
  • Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu pekerjaan saudara karena Ia melarang saudara berdusta dan menyuruh saudara untuk hidup jujur.
  • Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu pelajaran sekolah saudara karena ia melarang saudara tidak jujur pada waktu ulangan / ujian.
  • Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu saudara dalam per­soalan pacaran karena Ia melarang saudara berpacaran dengan orang yang tidak seiman.
  • Mungkin saudara merasa Yesus mengganggu kehidupan keluarga saudara karena keluarga saudara selalu aktirf di gereja sehingga menyebabkan saudara kesepian.

Kalau hal-hal seperti ini menyebabkan saudara lalu menolak Yesus, saudara tidak berbeda dengan Herodes!

Kalau saudara adalah orang seperti Herodes, ingatlah bahwa Yesus datang ke dalam dunia dengan maksud baik, yaitu untuk menyelamatkan dunia dari dosa. Kalau saudara terus membiarkan diri saudara salah paham tentang hal ini, dan terus memusuhi Yesus, maka akhirnya saudara tidak akan diselamatkan, dan saudara akan mengalami hukuman kekal karena dosa-dosa saudara! Karena itu bertobatlah dan datanglah kepada Yesus, dan terimalah Dia sebagai Juruselamat dan Tuhan saudara!

Illustrasi: Ada seorang petani yang mempunyai seekor anjing yang setia. Suatu hari petani itu mempunyai anak, dan pada waktu ia pergi ke sawah untuk bertani, ia meninggalkan bayinya dalam kamar beserta anjingnya. Pada waktu ia pulang dari sawah, anjingnya menyambutnya dengan mulut berlumuran darah. Ia kaget sekali dan menduga bahwa anjing itu telah membunuh bayinya. Ia marah sekali dan lalu memukuli anjing itu sampai mati. Tetapi pada waktu ia masuk ke kamar, ternyata bayi itu ada dalam keadaan sehat, dan di dekatnya ada bangkai seekor ular. Jadi anjing itu membela bayi itu dengan bertarung dengan ular itu dan membunuhnya. Anjing itu melakukan sesuatu yang sangat baik dan mulia, tetapi karena salah sangka, petani itu justru membunuhnya.

Ada banyak orang memusuhi Yesus karena salah sangka seperti ini! Yesus datang ke dalam dunia dengan maksud yang baik / mulia, yaitu untuk mati disalib bagi dosa dunia. Tetapi banyak orang salah sangka dan menganggap Yesus sebagai gangguan.

II) Golongan Imam dan ahli Taurat.

Mereka adalah rohaniwan / tokoh agama, dan mereka adalah orang-orang yang melayani Tuhan, mengerti dan bahkan hafal Firman Tuhan (ay 4-6). Mereka mau dan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang Firman Tuhan, dan mereka mengutip Mikha 5:1 untuk menjawab pertanyaan Herodes / orang-orang Majus (ay 4-6). Ada perbedaan antara Mikha 5:1 dengan Mat 2:5-6:

Mikha 5:1                                     Matius 2:5-6

- Efrata.                                        – Yudea.

- Yang terkecil.                             – Bukan yang terkecil.

Penjelasan:

a)   Mikha mengatakan ‘Betlehem Efrata’ untuk membedakan kota itu dengan Betlehem yang ada di Zebulun. Matius mengatakan ‘Betlehem di tanah Yudea’; sekalipun kata-katanya lain, tapi artinya sama.

b)   Matius mengganti ‘yang terkecil’ dengan ‘bukan yang terke­cil’ untuk menunjukkan bahwa karena kasih karunia Allah yang sudah menjadikan kota itu sebagai kota kelahiran Yesus, maka ‘yang terkecil’ berubah menjadi ‘bukan yang terkecil’.

Tetapi imam-imam dan ahli-ahli Taurat yang tahu banyak tentang Firman Tuhan / Mesias ini, tidak mau pergi ke Betlehem untuk mencari Mesias. Mereka acuh tak acuh terhadap diri Tuhan Yesus sendiri.

Penerapan:

Banyak orang Kristen yang mempunyai jabatan tinggi dalam gereja / sudah melayani Tuhan, mengerti banyak tentang Firman Tuhan, tetapi tidak mempunyai hubungan pribadi dengan Tuhan, dan tidak pernah ‘datang’ kepada Yesus. Mereka punya interest terhadap segala sesuatu dalam gereja (pendetanya, aliran gerejanya, aktivitasnya, jemaatnya, dsb) tetapi mereka acuh tak acuh terhadap diri Yesus sendiri.

Illustrasi: Sikap imam-imam dan ahli-ahli Taurat ini sama gilanya dengan pemuda yang datang ke rumah seorang gadis secara rajin, mempunyai dan menjalin hubungan yang baik dengan keluarga gadis itu, mempelajari dan mengerti banyak tentang gadis itu, mau melayani gadis itu, tetapi terhadap diri gadis itu sendiri ia acuh tak acuh / tak ada hubungan.

Kalau sauda­ra adalah orang kristen yang seperti ini, jangan pernah harap bahwa kekristenan yang kosong seperti itu bisa menyelamatkan saudara! Bdk. Mat 7:21-23!

Yang paling utama dalam kekristenan adalah hubungan pribadi / pengenalan terhadap Yesusnya!

III) Golongan orang-orang Majus.

1)   Ada hal-hal yang tidak kita ketahui tentang orang-orang Majus ini:

a)   Tidak diketahui dengan jelas dari mana datangnya orang-orang Majus ini. Kitab Suci hanya mengatakan bahwa mereka datang ‘dari Timur’.

b)   Juga tidak diketahui berapa jumlah orang-orang Majus ini.

Kitab Suci tidak pernah mengatakan bahwa mereka berjumlah 3 orang! Persembahan mereka yang 3 macam, yaitu emas, kemenyan dan mur, tidak membuktikan bahwa mereka ada 3 orang! Ini perlu dicamkan kalau mau membuat drama Natal!

2)   Orang-orang Majus ini kontras sekali dengan gembala-gembala yang datang pada waktu kelahiran Yesus (Luk 2:8-dst).

Orang-orang Majus:                                      Para gembala:

- bukan orang Yahudi.                                   – orang Yahudi.

- kaya (mereka memberi emas!).               – miskin.

- berpendidikan.                                            – tidak berpendidikan.

Ini menunjukkan 2 hal:

a)   Bahwa Injil diberitakan kepada gembala maupun orang Majus, menunjukkan bahwa Injil harus diberitakan kepada semua golongan (bangsa apapun, tingkat ekonomi dan pen­didikan yang bagai-manapun).

Renungkan: adakah golongan yang saudara anak tirikan dalam pemberitaan Injil? Bangsa / suku bangsa tertentu? Golongan yang miskin? Golongan yang tidak berpendidikan?

b)   Orang dari golongan apapun boleh datang kepada Kristus.

Bandingkan dengan Yoh 6:37b yang berbunyi: “barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan Kubuang”.

3)   Mereka mendapat petunjuk ‘bintang’ (ay 2,9,10).

Apakah ini berarti bahwa orang Kristen boleh percaya / main-main dengan Astrology? Dalam mempersoalkan hal ini, perlu diingat bahwa Astrology berbeda dengan Astronomy.

a)   Astronomy berasal dari 2 kata bahasa Yunani yaitu ASTRON (= bintang) + NOMOS (= hukum). Ini menunjuk pada ilmu perbintangan, dan ini tentu tidak dilarang dalam kekristenan.

b)   Astrology berasal dari 2 kata bahasa Yunani juga, yaitu ASTRON (= bintang) + LOGOS (= kata, ucapan, ajaran). Ini menunjuk pada ramalan yang didasarkan atas posisi bin­tang, atau yang lazim kita kenal dengan nama Horoscope. Ini secara explicit dilarang dalam Kitab Suci / kekristenan.

Bandingkan dengan Yes 47:13-15 yang berbunyi sebagai berikut:

“Engkau telah payah karena banyaknya nasihat! Biarlah tampil dan menyelamatkan  engkau orang-orang yang meneliti segala penjuru langit, yang menilik bintang-bintang dan yang pada setiap bulan baru memberi-tahukan apa yang akan terjadi atasmu! Sesungguhnya, mereka sebagai jerami yang dibakar api; mereka tidak dapat melepaskan nyawanya dari kuasa nyala api; api itu bukan bara api untuk memanaskan diri, bukan api untuk berdiang! Demikianlah faedahnya bagimu dari tukang-tukang jampi itu, yang telah kaurepotkan dari sejak kecilmu; masing-masing mereka terhuyung-huyung ke segala jurusan, tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau”.

Sekarang, kalau Astrology itu memang dilarang, lalu bagai­mana mungkin Tuhan memberi petunjuk kepada orang-orang Majus itu dengan menggunakan sebuah bintang? Calvin menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa ‘bintang’ itu bukanlah bintang biasa, karena ay 9 menunjukkan bahwa ‘bintang’ itu mempunyai ‘kelakuan’ yang tidak seperti bintang-bintang yang lain.

Ay 9: “Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada”.

Dimana ada bintang yang mempunyai ‘kelakuan’ seperti itu? Jadi ini pasti bukan bintang biasa, tetapi ini adalah suatu mujijat yang merupakan alat Tuhan untuk memberi petunjuk kepada orang-orang Majus. Karena itu jelaslah bahwa hal ini tidak boleh dijadikan sebagai dasar untuk membenarkan Astrology / Horoscope!

4)   Mereka tidak mengerti Firman Tuhan (sehingga harus berta­nya-tanya kepada Herodes); mereka hanya mendapat petunjuk ‘bintang’, tetapi mereka lalu mencari Yesus, rela berkorban dalam menempuh jarak jauh, sehingga akhirnya menemukan Yesus.

Alangkah kontrasnya golongan ini dengan golongan imam-imam dan ahli-ahli Taurat, yang sekalipun mengerti banyak ten­tang Firman Tuhan, tetapi acuh tak acuh terhadap Yesus sendiri.

Penerapan:

  • sekalipun saudara tidak terlalu mengerti Firman Tuhan, dan sekalipun saudara adalah orang yang bodoh, kalau saudara mempunyai hati yang betul-betul mencari Tuhan dan kebenaran, Tuhan pasti akan menunjukkan jalan yang benar kepada saudara!
  • sekalipun saudara tidak tahu terlalu banyak tentang kekristenan, asal saudara tahu bahwa Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, yang lalu mati di salib untuk dosa saudara, maka tanggapilah hal itu dengan datang kepada Yesus!

5)   Mereka menyembah Yesus (ay 2,11).

a)   Perhatikan bahwa mereka bukan menyembah Maria, dan bukan juga Yesus dan Maria, tetapi hanya Yesus saja! Perhatikan komentar dari C. H. Spurgeon tentang bagian ini:

The old Reformers used to say, “Here is a bone that sticks in the throat of the Romanists, and they can neither get it up nor down, for it does not say, ‘They saw Mary and the young child’, the young child is put first, they came to see him; and it does not say that ‘they fell down and worshipped them’” If ever there was an opportunity  for Mariolatry, surely this was the one, when the child  was as yet newly-born, and depended so  much upon his mother. Why did not the magi say “Ave Maria!” and commence at once their Mariolatry? Ay, but these were wise men; they were not priests from Rome, else might they have done it [= Tokoh-tokoh Reformasi kuno sering berkata: “Ini adalah tulang yang menyangkut di tenggorokan orang Roma (Katolik), dan mereka tidak dapat mengeluarkannya ataupun menelannya, karena ayat itu tidak berkata: ‘Mereka melihat Maria dan bayi itu’, bayi itu disebut lebih dulu, mereka datang untuk melihat dia; dan ayat itu tidak berkata bahwa ‘mereka tersungkur dan menyembah mereka’”. Kalau ada kesempatan untuk melakukan penyembahan terhadap Maria, maka sebetulnya inilah kesempatannya, dimana bayi itu baru dilahirkan, dan sangat bergantung kepada ibuNya. Mengapa orang-orang Majus itu tidak berkata ‘Salam Maria!’ dan lang­sung memulai penyembahan terhadap Maria? Ah, tetapi mereka ini adalah orang-orang yang bijaksana; mereka bukan pastor-pastor dari Roma, karena kalau demikian mereka mungkin sudah melakukannya]- ‘Spurgeon’s Expository Encyclopedia’ , vol 3, hal 34.

Catatan: Perlu saudara ketahui bahwa dalam terjemahan KJV kata-kata ‘orang-orang majus’ dalam Mat 2:1 diterjemahkan ‘wise men’ (= orang-orang yang bijaksana).

b)   Mereka menyembah Yesus sekalipun mereka melihat:

  • Seorang bayi yang lemah dan tidak berdaya.

Betul-betul membutuhkan iman yang luar biasa untuk mau menyembah seorang bayi seperti itu!

  • Orang tua Yesus miskin, bukan bangsawan / raja, dan bayi itu ada di dalam sebuah rumah (ay 11), bukan istana.

*        Keadaan Yusuf dan Maria yang miskin dan tak punya kedudukan apa-apa, dan tempat sederhana yang menjadi tempat tinggal bayi itu, ternyata tidak menjadi halangan bagi orang-orang Majus itu untuk percaya bahwa bayi miskin itu adalah Raja! Ini lagi-lagi menunjukkan iman yang luar biasa!

*        Bahwa di sini dikatakan kalau bayi itu ada di dalam sebuah rumah, juga menunjukkan bahwa orang-orang Majus ini tidak pernah bertemu dengan para gembala, karena para gembala mengunjungi Yesus pada waktu Yesus masih ada di tempat hewan.

Lagi-lagi ini merupakan sesuatu yang harus dicamkan pada waktu mengadakan drama Natal: jangan mempertemukan orang-orang Majus dengan para gembala di kandang Yesus!

Penampilan lahiriah Yesus ini sesuai dengan nubuat dalam Yes 53:2b, tetapi mereka toh mau menyembahNya (bdk. Mat 13:53-56 yang menunjukkan bahwa banyak orang tidak percaya kepada Yesus karena  melihat penampilan lahiriahNya).

Penerapan:

Jangan menilai agama, buku (warnanya, bentuknya, cetakannya), gereja (besarnya dan indahnya gedungnya), pendeta (gelarnya, gagahnya), orang kristen, berdasarkan penampilan lahiriahnya! Ingat bahwa penampilan lahiriah seringkali menipu!

6)   Mereka memberi persembahan yaitu: emas, kemenyan, mur (ay 11).

Origen (dan banyak penafsir lain) menganggap emas sebagai persembahan untuk seorang raja, kemenyan sebagai persembahan untuk Allah, dan mur sebagai persembahan untuk manusia.

William Barclay (dan banyak penafsir lain) menganggap emas sebagai persembahan untuk seorang raja, kemenyan sebagai persembahan untuk seorang imam, dan mur sebagai persembahan untuk orang mati (bdk. Yoh 19:39).

Tetapi Calvin tidak menyetujui tafsiran-tafsiran seperti ini, dan menganggap bahwa tafsiran-tafsiran ini tidak mempunyai dasar. Calvin hanya menganggap bahwa orang-orang Majus ini tentu memberikan barang-barang terbaik dari negeri mereka, sama seperti Yakub memberikan persembahan kepada penguasa Mesir barang-barang terbaik di Kanaan (Kej 43:11).

7)   Mereka taat kepada wahyu yang Tuhan berikan.

Mula-mula Tuhan memberi petunjuk melalui ‘bintang’ (ay 2). Setelah ini mereka taati, lalu Tuhan memberi petunjuk melalui Firman Tuhan yang diberikan oleh imam-imam dan ahli-ahli Taurat (ay 5-6). Setelah mereka mentaati petunjuk ini, lalu Tuhan memberi petunjuk dengan bintang lagi (ay 9-10). Setelah mereka mentaatinya lagi, maka Tuhan memberi petunjuk melalui mimpi (ay 12), dan mereka juga mentaati­nya.

Penerapan:

Kalau saudara mendengar / belajar Firman Tuhan dan lalu mentaatinya, maka Tuhan akan memberi tambahan pengetahuan tentang Firman Tuhan. Tetapi sebaliknya, kalau saudara belajar Firman Tuhan dan lalu mengabaikannya, maka lambat atau cepat Tuhan akan berhenti mengajarkan kebenaran kepada saudara. Karena itu, jadilah pelaku Firman (Yak 1:22).

Kesimpulan:

Ada 3 golongan manusia dengan sikapnya yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yesus. Yang mana menjadi sikap saudara?

MATIUS 2:13-23

I) Herodes.

1)   Mau membunuh Yesus.

a)   Mula-mula ia menggunakan orang Majus (ay 8), tetapi ketaatan orang Majus pada Firman Tuhan (ay 12) menggagalkan rencana pembunuhan Herodes ini, dan ini menyebabkan ia merasa tertipu (ay 16).

b)   Usaha selanjutnya ialah membunuh semua anak-anak di Betle­hem yang berusia dibawah 2 tahun (ay 16). Ini tidak berarti bahwa pada saat itu Yesus sudah berusia mendekati 2 tahun. Pasti Yesus masih berusia jauh di bawah 2 tahun, tapi Herodes, yang tidak tahu kapan persisnya bayi Yesus itu dilahirkan, lalu mengambil amannya dan mengambil batas 2 tahun.

Apa yang dilakukan oleh Herodes di sini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Firaun dalam Kel 1:15-22. Baik Herodes maupun Firaun adalah orang-orang yang melawan Allah dan berusaha menggagalkan rencana Allah. Tetapi merekalah yang gagal (bdk. Maz 2:1-4) karena rencana Allah tidak mungkin gagal (Ayub 42:2  Yes 14:24,26-27  Yes 46:10-11).

Maz 2:1-4 – “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan TUHAN dan yang diurapiNya: ‘Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka dari pada kita!’ Dia, yang bersemayam di sorga, tertawa; Tuhan mengolok-olok mereka”.

Ayub 42:2 – “‘Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencanaMu yang gagal”.

Yes 14:24,26-27 – “TUHAN semesta alam telah bersumpah, firmanNya: ‘Sesungguhnya seperti yang Kumaksud, demikianlah akan terjadi, dan seperti yang Kurancang, demikianlah akan terlaksana: … Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa.  TUHAN semesta alam telah merancang, siapakah yang dapat menggagalkannya? TanganNya telah teracung, siapakah yang dapat membuatnya ditarik kembali?”.

Yes 46:10-11 – “yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana, yang berkata: KeputusanKu akan sampai, dan segala kehendakKu akan Kulaksanakan, yang memanggil burung buas dari timur, dan orang yang melaksanakan putusanKu dari negeri yang jauh. Aku telah mengatakannya, maka Aku hendak melangsungkannya, Aku telah merencanakannya, maka Aku hendak melaksanakannya”.

Penerapan:

Hati-hati dengan ajaran Arminian, yang mengatakan bahwa Allah bisa gagal dalam mencapai rencanaNya. Ini adalah pandangan yang menghina Allah!

2)   Kematian Herodes (ay 19).

a)   Pada waktu Herodes mau mati, ia menangkapi tokoh-tokoh Yahudi dan memenjarakan mereka. Dan ia memberi perintah untuk membunuh mereka semua pada saat ia mati. Ia melakukan hal ini karena ia tahu bahwa tidak ada orang yang akan berkabung pada waktu ia mati. Dengan adanya perintah ini, pada waktu ia mati akan ada orang-orang yang berkabung, sekalipun bukan untuk kematiannya, tetapi setidaknya pada saat kematiannya.

Tetapi pada waktu ia mati, perintah ini tidak dilaksana­kan.

b)   Bagaimanapun juga, setiap orang harus mati dan mempertanggung-jawabkan perbuatannya dihadapan Tuhan.

Ibr 9:27 – “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi”.

Siapkah saudara untuk mati? Ingat bahwa kalau saudara belum mempunyai Yesus sebagai Juruselamat saudara, saudara tidak siap untuk menghadap Tuhan! Karena itu jangan menunda untuk percaya dan ikut Yesus!

II) Penderitaan karena Herodes.

Ada 2 golongan yang mengalami penderitaan akibat tindakan Herodes ini:

1)   Ibu dari bayi-bayi yang dibunuh (ay 17-18).

2)   Yusuf, Maria dan Yesus.

a)   Mereka harus mengungsi ke Mesir dan hidup di negeri asing / kafir.

Pengungsian ini tidak diceritakan dalam Injil Lukas, tetapi seharusnya kira-kira terletak di sela-sela Luk 2:39.

b)   Setelah kematian Herodespun, mereka tidak terbebas dari penderitaan, karena ternyata Arkhelaus menjadi raja di Yudea menggantikan ayahnya (ay 22).

Kedua golongan ini menghadapi penderitaan dengan cara yang berbeda:

1)   Ibu dari bayi-bayi yang dibunuh.

a)   Mereka sedih dan menangis (ay 18).

Banyak orang Kristen menyalahkan orang menangis dalam keadaan apapun berdasarkan Fil 4:4 dan Ro 8:28. Tetapi dalam Kitab Suci kita melihat bahwa:

  • Yesus juga pernah sedih dan menangis (Mat 26:37-38  Yoh 11:33-35).
  • Paulus berkata bahwa kita harus menangis dengan orang yang menangis (Ro 12:15b).

Ini menunjukkan bahwa ada situasi dimana kesedihan dan tangisan bisa dibenarkan.

b)   Mereka hanya / terus-menerus menujukan pandangannya pada penderitaan mereka (ay 18: ‘mereka tidak ada lagi’).

Ini hal yang salah dari para ibu itu. Tidak salah kalau mereka sedih dan menangis pada waktu bayi mereka dibunuh, tetapi kalau mereka terus menerus menujukan pandangannya pada hal yang membuat mereka sedih, maka kesedihan mereka menjadi berlarut-larut, dan ini merupakan sikap yang salah.

c)   Mereka tidak mau dihibur (ay 18).

Ini sikap yang sama seperti sikap Yakub pada waktu mengira bahwa Yusuf sudah mati diterkam binatang buas (Kej 37:35), dan ini lagi-lagi merupakan sikap yang salah.

Pada waktu sedih, saudara bukan saja tidak boleh menolak penghiburan, tetapi sebaliknya saudara harus mencari penghiburan! Tetapi juga perlu diperhatikan supaya saudara tidak mencari hiburan yang tidak benar, seperti hal-hal duniawi, dsb. Ini hanya penghiburan yang bersifat semu dan sementara. Carilah hiburan dari Firman Tuhan, orang kris­ten / hamba Tuhan yang rohani dsb. Dengan demikian saudara tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan saudara.

2)   Yusuf.

a)   Dalam penderitaan ia tetap mendengar Firman Tuhan dan mentaatinya (ay 13-15,20-21).

Allah menyuruh dia lari ke Mesir. Yusuf mempunyai alasan yang kuat untuk memprotes cara yang ‘lemah’ itu. Bukankah Anak yang dilahirkan Maria itu disebut sebagai Juruselamat (Mat 1:21)? Lalu mengapa Juruselamat itu tidak bisa menye­lamatkan mereka, bahkan Juruselamat itu harus diselamatkan dengan cara yang begitu ‘lemah’ yaitu melarikan diri? Bukankah pada masa yang lalu Allah sering menyelamatkan umatNya dengan cara-cara yang spektakuler / luar biasa, seperti membelah Laut Merah (Kel 14:15-31), membutakan orang kafir yang mau menangkap nabiNya (2Raja 6:8-23), menurunkan api dari langit untuk membakar orang-orang yang mau menangkap nabiNya (2Raja 1:1-12), dsb? Mengapa sekarang, untuk menyelamatkan AnakNya sendiri, Allah menggunakan cara yang begitu ‘lemah’? Tetapi sekalipun ada alasan untuk protes, Yusuf tidak melakukan itu dan ia taat kepada Tuhan.

Penerapan:

Pada waktu saudara minta tolong kepada Tuhan, saudara tidak boleh mendikte Dia dengan cara apa Ia harus menolong saudara. Biarlah Ia yang memilih dan menentukan caraNya dan saudara harus percaya bahwa cara yang diberi­kan itu adalah yang terbaik. Misalnya pada waktu saudara sakit, janganlah menentukan bahwa Tuhan harus menyembuhkan saudara dengan menggunakan cara yang luar biasa, yaitu dengan menggunakan mujijat kesembuhan. Tuhan bisa menggunakan cara yang biasa, yaitu melalui dokter, obat, olah raga, istirahat, dsb.

Illustrasi: ada suatu tempat yang terkena banjir yang hebat. Seorang kristen naik ke atas atap rumahnya dan berdoa supaya Tuhan menyelamatkan dia. Sebentar lagi datang sebuah perahu, dan orang-orang di perahu mengajak­nya naik perahu untuk menyelamatkan diri. Tetapi ia meno­lak naik perahu itu dan berkata: ‘Aku sudah berdoa kepada Tuhan dan Ia pasti akan menolong aku’. Perahu itu pergi, dan sebentar lagi datang sebuah perahu yang lain yang mau menolong dia. Tetapi ia lagi-lagi menolak dengan alasan / jawaban yang sama. Sebentar lagi datang sebuah helikopter yang menurunkan tali untuk menolongnya. Tetapi ia lagi-lagi menolak sambil berkata: ‘Aku sudah berdoa kepada Tuhan, dan Ia pasti akan menolong aku’. Banjir itu terus naik, dan akhirnya orang itu mati tenggelam. Pada waktu menghadap Tuhan, orang itu dengan penasaran bertanya kepada Tuhan: ‘Tuhan, aku berdoa supaya Engkau menyelamatkan aku. Mengapa Engkau tidak menyelamatkan aku?’. Tuhan lalu berkata: ‘Apa maksudmu Aku tidak menyelamatkan kamu? Aku mengirim 2 buah perahu dan sebuah helikopter, tetapi engkau menolak untuk Kuselamat­kan!’.

Orang ini menganggap cara yang biasa bukanlah dari Tuhan. Karenanya ia menolak pertolongan dengan cara yang biasa itu, dan ia mengharapkan Tuhan menggunakan cara yang luar biasa, seperti mengirim malaikat, dsb. Akhirnya ia mati karena kebodohannya!

b)   Yusuf taat secara langsung (ay 14 – ‘malam itu juga’).

Penerapan:

Jangan menunda untuk mentaati Firman Tuhan! Penundaan adalah ketidaktaatan! Ingat juga bahwa setan selalu bisa memberikan alasan yang kuat dan logis supaya saudara menunda ketaatan saudara! Misalnya dalamn hal melayani Tuhan. Pada masa pemuda / remaja, setan mengusulkan supaya saudara menunda pelayanan dengan alasan bahwa ini adalah masa muda yang indah, masa pacaran, masa belajar dsb. Pada waktu saudara sudah dewasa dan bekerja, setan memberikan begitu banyak kesibukan sehingga saudara menunda lagi. Pada saat sudah tua, kesehatan saudara tidak memungkinkan untuk melayani Tuhan. Jadi akhirnya, dari penundaan datang pembatalan!

c)   Yusuf taat terus-menerus (ay 13-15,19).

Ketaatan yang sejati harus disertai ketekunan.

Penerapan:

  • Tuhan menyuruh saudara belajar Firman Tuhan. Tekunkah saudara dalam belajar? Tekunkah saudara dalam datang ke Pemahaman Alkitab di gereja saudara? Tekunkah saudara dalam membaca Alkitab / bersaat teduh?
  • Tuhan menyuruh saudara untuk memberitakan Injil. Apakah kegagalan dalam memberitakan Injil, atau kesukaran yang timbul karena pekabaran Injil yang saudara lakukan, membuat saudara lalu berhenti dalam mengabarkan Injil? Tuhan menghendaki saudara mentaati perintah untuk mem­beritakan Injil ini dengan tekun!
  • Tuhan menyuruh saudara berdoa, memuji Dia, bersyukur kepadaNya, dsb. Apakah saudara melakukan hal-hal ini dengan tekun?

d)   Yusuf menggunakan akal sehat dan Firman Tuhan (ay 22).

Akal sehatnya membuat ia takut pergi ke Yudea karena ia tahu akan kekejaman Arkhelaus yang tidak kalah dengan kekejaman ayahnya (Herodes yang Agung). Dan ia lalu menuruti pimpi­nan Firman Tuhan dan pergi ke Nazaret di Galilea (ay 22-23).

Penerapan:

Pada umumnya kita harus menggunakan akal sehat / logika. Tetapi kadang-kadang, Tuhan bisa menyuruh kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akal sehat, misalnya pada waktu Ia menyuruh Petrus untuk berjalan di atas air (Mat 14:28-29). Pada saat seperti itu, kita harus tunduk pada Firman Tuhan, bukan pada akal sehat / logika kita!

III) Tujuan Tuhan dengan penderitaan.

Di atas Herodes (yang sudah kita bahas dalam no I) dan pen­deritaan yang dialami orang-orang tadi (yang sudah kita bahas dalam no II), ada Tuhan yang menguasai segala sesuatu. Kalau Ia mengijinkan adanya orang seperti Herodes menyebabkan penderitaan kepada orang-orang lain, termasuk anak-anakNya, Ia pasti mempunyai tujuan tertentu. Apa tujuan Tuhan?

  • ay 14: Yusuf, Maria dan Yesus menderita. Apa tujuannya? Ay 15 memberikan jawabnya, yaitu supaya nubuat dalam Hos 11:1 tergenapi.
  • ay 16: bayi-bayi dibunuh sehingga ibu bayi-bayi itu mende­rita. Apa tujuannya? Ay 17-18 memberikan jawabnya, yaitu supaya nubuat dalam Yer 31:15 tergenapi.
  • ay 22: Arkhelaus menjadi raja sehingga Yusuf menderita lagi karena tidak berani pulang. Apa tujuannya? Ay 23 memberikan jawabnya, yaitu supaya Firman yang disampaikan nabi-nabi tergenapi.

Jadi dari semua ini kita bisa lihat bahwa Allah pasti mempun­yai tujuan yang baik pada waktu Ia mengijinkan anak-anakNya menderita. Bandingkan dengan Ro 8:28 yang berbunyi: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah”.

Penjelasan tentang ay 23:

Ayat ini menimbulkan problem karena tidak ada ayat Perjanjian Lama yang berbunyi seperti itu.

1)   Penjelasan dari John Calvin.

Dalam bahasa Inggris ayat itu berbunyi: “He shall be called a Nazarene” (= Ia akan dipanggil / disebut orang Nazarene).

Calvin berpendapat bahwa kata ‘Nazarene’ tidak berasal dari kata ‘Nazaret’. Itu hanya permainan kata saja. ‘Nazarene’ berasal dari kata ‘Nazarite’ (= Nazir) yang berarti ‘kudus’ atau ‘dipersembahkan / dipisahkan untuk Allah’.

Calvin berpendapat bahwa dalam ay 23 itu Matius mengutip Hakim 13:5. Sama seperti Simson, yang adalah seorang nazir Allah, membebaskan bangsanya dari tangan orang Filis­tin, Tuhan Yesus (yang juga adalah seorang nazir Allah) juga membebaskan umatNya dari dosa.

Calvin juga menunjuk pada Kej 49:26 yang berbunyi: ‘… ke atas kepala Yusuf, ke atas batu kepala orang yang teristi­mewa di antara saudara-saudaranya’.

KJV: ‘Joseph, … that was separate from his brethren’ (= Yusuf, … yang dipisahkan / dikuduskan dari saudara-saudaranya).

Terjemahan hurufiahnya adalah: ‘a Nazarite of his brethren’ (= seorang nazir dari saudara-saudaranya).

Jadi, baik Simson maupun Yusuf adalah nazir, dan mereka berdua adalah Type dari Kristus, sehingga pada waktu Kristus disebut nazir, maka itu berarti bahwa Hakim 13:5 dan Kej 49:26 tergenapi. Karena itulah Matius menulis ‘nabi-nabi’ (bentuk jamak) dalam ay 23, yang menunjukkan lebih dari satu bagian Perjanjian Lama yang digenapi.

2)   Penjelasan William Hendriksen.

Hendriksen menganggap penjelasan Calvin tidak benar karena ay 23 itu jelas menghubungkan ‘kota Nazaret’ dengan ‘a Nazarene’. Ia lalu memberi penjelasan sebagai berikut:

a)   Nazaret yang terletak di Galilea dianggap sebagai tempat yang hina (Yoh 7:40-42,52  Yoh 1:45-46).

b)   Perjanjian Lama banyak menubuatkan Kristus sebagai orang yang hina (Maz 22:7-9  Maz 69:9  Yes 53:2-3).

c)   Jadi, dengan Tuhan Yesus disebut sebagai ‘orang Nazaret’, maka tergenapilah banyak nubuat-nubut Perjanjian Lama itu. Karena itu Matius menulis ‘nabi-nabi’ (bentuk jamak) dalam ay 23.

3)   Penjelasan William Barclay.

Barclay menganggap (hal 40) bahwa Matius sedang melakukan permainan kata terhadap Yes 11:1 – ‘Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah’. Ia berkata bahwa kata Ibrani untuk ‘taruk’ adalah NEZER; dan mungkin Matius sedang melakukan permainan kata terhadap kata ‘orang Nazaret’ dan kata ‘NEZER’; dan bahwa ia ingin mengatakan pada satu saat bahwa ‘Yesus datang dari Nazaret’ dan bahwa ‘Yesus adalah sang NEZER’, taruk yang dijanjikan dari keturunan Isai, keturunan Daud, Raja yang diurapi yang dijanjikan oleh Allah.

4)   Knox Chamblin: “I. A general prophecy: ‘through the prophets.’ The plural is especially noteworthy, alongside the singulars of 1:22; 2:5,15,17. Matthew has no particular OT passage in view (as confirmed by the impossibility of finding an OT counterpart for the statement of v. 23b). II. Messiah’s humiliation. In keeping with prophecy (e.g. Isa 49:7; 53:2-3), he lives in a despised town (he is ‘the Nazarene,’ not ‘the Bethlehemite’): Jon 1:46; 7:42,52. III. The Davidic Messiah. Nazoraios recalls Hebrew NETSER, ‘branch’ (Isa 11:1). Jesus ‘was a branch from a royal line hacked down to a stump and reared in surroundings guaranteed to win him scorn’ (Carson, 97). ‘The Davidic origin of the Branch provides a fitting capstone to Matthew’s version of Jesus’ nativity, which began with a reference to ‘Jesus Christ the son of David’ (1:1; cf. Rev 22:16). Thus Matthew marries phonetics with Christology’ (Gundry, 40). More than one theme of Matthew’s birth narrative is recalled in Rev 22:16b, ‘I am the Root and the Offspring of David, and the bright Morning Star.’” (= ) – hal 20.

Sebagai pengikut Kristus, kita juga disebut ‘Nazarene’ / Nasrani (Kis 24:5).

  • Kalau kita menuruti arti yang diberikan oleh Calvin, maka itu berarti kita juga kudus dan dipersembahkan untuk Allah.
  • Kalau menurut arti yang diberikan oleh Hendriksen, maka kita adalah orang yang hina (bdk. 1Kor 1:28  1Kor 4:11-13).

MATIUS 3:1-12

I) Diri Yohanes Pembaptis.

1)   Yohanes Pembaptis berbeda dengan rasul Yohanes.

Yohanes Pembaptis ini adalah anak dari Zakharia dan Elisabeth (Luk 1:5-25,57-66).

2)   Nama ‘Yohanes’ berarti ‘Yahweh is gracious’ (= Tuhan itu baik / penuh kasih karunia).

3)   Hubungan Yohanes Pembaptis dengan Elia:

a)   Mal 4:5  Mat 11:14  Mat 17:10-13 kelihatannya menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis adalah Elia atau reinkarnasi dari Elia.

Mat 17:10-13 – “Lalu murid-muridNya bertanya kepadaNya: ‘Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?’ Jawab Yesus: ‘Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.’ Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis”.

b)   Tetapi Kitab Suci jelas sekali menentang reinkarnasi, karena dalam Ibr 9:27 dikatakan bahwa “manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi”.

Disamping itu Yohanes Pembaptis sendiri dengan jelas berkata bahwa ia bukanlah Elia.

Yoh 1:21a – “Lalu mereka bertanya kepadanya: ‘Kalau begitu, siapakah engkau? Elia?’ Dan ia menjawab: ‘Bukan!’”.

c)   Elia dan Yohanes Pembaptis mempunyai beberapa persamaan seperti:

  • pakaian (2Raja 1:8  Mat 3:4).
  • semangat / keberanian (Mat 3:7-dst  Mat 14:3-4  1Raja 18:16-19). Karena itulah maka Luk 1:17 mengatakan bahwa Yohanes Pembaptis ‘berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia’. Perlu diketahui bahwa kata ‘roh’ bisa diartikan ‘semangat’.

Jadi, kesimpulannya adalah: Yohanes Pembaptis bukanlah Elia / reinkarnasi dari Elia, tetapi hanyalah orang yang mempunyai banyak persamaan dengan Elia.

II) Tugas dan pelayanan Yohanes Pembaptis.

1)   Tugasnya adalah mempersiapkan jalan bagi Yesus (ay 3).

Pada jaman itu, kalau seorang raja mau berkunjung ke suatu tempat, utusannya mendahului dia untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Yesus adalah Raja, dan Yohanes Pembaptis mempunyai suatu tugas khusus, yaitu mempersiapkan jalan bagi Yesus. Yohanes Pembaptis harus mempersiapkan orang-orang untuk menerima kedatangan Tuhan Yesus. Ia harus menghancurkan penghalang (dosa) yang membuat manusia menolak untuk menerima Kristus (bdk. ay 3: ‘luruskan jalan bagiNya’).

Penerapan:

Setiap hamba Tuhan, bahkan setiap orang Kristen mempunyai tugas khusus. Ini terlihat dari:

  • Ef 2:10 – “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya”.
  • 1Kor 12:11 – “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendakiNya”.
  • gambaran orang kristen sebagai anggota-anggota tubuh Kristus (1Kor 12:12-dst), yang tentunya menunjukkan bahwa setiap anggota mempunyai fungsi yang khusus.

Karena itu, mintalah petunjuk Tuhan dengan banyak berdoa supaya saudara mengetahui apa tugas khusus saudara, dan layanilah Tuhan di situ.

2)   Memberitakan Firman Tuhan.

a)   Ia memberitakan Firman Tuhan kepada umum (ay 2):

1.   Orang banyak itu mau mengorbankan waktu dan tenaga, menempuh jarak yang jauh (ay 1,5) untuk mendengarkan Firman Tuhan.

Jaman sekarang banyak orang kristen memilih gereja yang dekat dengan rumahnya, tanpa peduli apakah gereja itu mengajarkan Firman Tuhan yang baik atau tidak. Ini jelas merupakan sikap yang salah. Saudara harus mau pergi  ke gereja yang baik, sekalipun letaknya jauh dari rumah saudara!

2.   Berita yang disampaikan oleh Yohanes Pembaptis:

  • ‘Bertobatlah’.

Pertobatan yang sejati harus mencakup elemen pikiran, emosi / perasaan dan kehendak. Pertobatan adalah tindakan berbalik 180° dari kehidupan lama.

  • ‘Kerajaan Surga sudah dekat’.

Kerajaan surga bisa berarti bermacam-macam:

*        Pemerintahan Allah.

*        keselamatan yang sempurna.

*        gereja.

*        semua yang sudah ditebus.

Dalam ay 2 ini Kerajaan Surga itu kelihatannya masih akan datang. Dalam Mat 12:28 Kerajaan Surga itu sudah datang. Dalam Mat 25:34 dan Mat 26:29 kelihatannya masih akan datang. Jadi Kerajaan Surga itu mempunyai sifat ‘present’ (= sekarang) dan ‘future’ (= akan datang) sekaligus. Kerajaan Surga itu sudah ada pada waktu Kristus hidup di dunia, tetapi terus berkembang sampai mencapai puncaknya pada kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

b)   Ia memberitakan Firman Tuhan kepada orang-orang Farisi dan Saduki (ay 7-10).

  • Mat 3:7 – “Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka: ‘Hai kamu keturunan ular beludak. Siapakah yang mengatakan kepada kamu, bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang?”.

Tetapi kata-kata ‘datang untuk dibaptis’ dalam Mat 3:7 ini diterjemahkan berbeda-beda.

KJV: ‘come to his baptism’ (= datang pada baptisannya).

RSV/NASB: ‘coming for baptism’ (= datang untuk baptisan).

NIV: coming to where he was baptizing’ (= datang ke mana ia sedang membaptis).

Lit: ‘coming to the baptism’ (= datang ke baptisan).

Jadi sebetulnya tidak terlihat bahwa orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki itu datang untuk dibaptis! Mungkin sekali mereka hanya datang ke tempat di mana Yohanes Pembaptis membaptis. Tetapi bdk. ay 11: ‘Aku membaptis kamu dengan air …’. Kalau kata-kata ini masih ditujukan kepada orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki, maka ini menunjukkan bahwa mereka juga dibaptis oleh Yohanes Pembaptis.

  • Yohanes Pembaptis menegur dosa orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki itu dengan cara yang sangat keras, padahal namanya berarti ‘Tuhan itu baik / penuh kasih karunia’. Ini bukanlah sesuatu yang bertentangan, karena kebaikan / kasih kepada seseorang harus ditunjukkan dengan suatu keberanian menegur dosa orang itu. Jadi, peneguran dosa adalah wujud kasih. Bandingkan dengan Amsal 27:5-6 yang berbunyi: “Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi. Seorang kawan memukul dengan maksud baik, tetapi seorang lawan mencium dengan berlimpah-limpah”.

Penerapan:

Gereja / orang kristen yang anti pengkhotbah keras, jelas bukanlah gereja / orang kristen yang baik! Mereka harus ingat bahwa Yohanes Pembaptis, rasul-rasul, nabi-nabi Perjanjian Lama, dan bahkan Yesus sendiri (bdk. Yoh 6:60  Mat 23:1-36) adalah pengkhotbah-pengkhotbah keras.

  • Yohanes Pembaptis menegur golongan tertentu (orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki) di depan umum. Mat 18:15-17 mengatakan bahwa peneguran dosa harus dilakukan di bawah empat mata, tetapi 1Tim 5:20 mengatakan bahwa peneguran dosa harus dilakukan di depan semua orang supaya semua menjadi takut (bdk. Gal 2:11-14 dimana Paulus menegur Petrus di depan umum). Dari ayat-ayat itu bisa ditarik kesimpulan bahwa ada dosa-dosa yang penegurannya harus dilakukan secara pribadi dan ada dosa-dosa yang penegurannya harus dilakukan di depan umum.
  • Tegurannya:

*        mereka tidak bisa lari dari murka Allah kecuali mereka bertobat (ay 7). Memang kita hanya bisa lari dari murka Allah dengan cara lari kepada Allah!

*        orang yang bertobat harus mengeluarkan buah pertobatan yaitu perubahan hidup (ay 8).

*        pertobatan bersifat individuil.

Sekalipun mereka adalah ‘keturunan Abraham’ tetapi hal itu tidak ada artinya kalau mereka sendiri tidak bertobat (ay 9). Karena itu jangan bersandar pada iman nenek moyang (orang tua yang adalah pendeta, kakek / nenek yang adalah majelis, dsb).

*        kalau tidak betul-betul bertobat, hukuman akan segera datang, bahkan sudah di ambang pintu (ay 10).

Penerapan:

Lagi-lagi kita lihat bahwa dalam pemberitaan Injil, kita boleh dan seharusnya memberitakan hukuman / ancaman dari Tuhan bagi orang yang tak mau bertobat!

3)   Membaptis.

a)   Baptisan Yohanes adalah untuk pertobatan dan pengampunan dosa (ay 11  Mark 1:4  Luk 3:3). Ini tidak berarti bahwa baptisan itu sendiri bisa mengampuni dosa! Tanpa adanya iman dan penyesalan dosa, kita tidak mungkin bisa diampuni.

b)   Yohanes melakukan baptisan dengan menggunakan air. Ini hanya merupakan tanda lahiriah saja. Yang bisa melakukan baptisan rohani  adalah Kristus sendiri (ay 11).

1.   Baptisan Roh.

  • Baptisan Roh berarti pemberian Roh Kudus, dan ini terjadi pada saat seseorang percaya kepada Kristus.

Ef 1:13 – “Di dalam Dia kamu juga – karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikanNya itu”(bdk. Yoh 7:38-39  Gal 3:2-5,14).

Karena itu kalau saudara sudah betul-betul percaya kepada Yesus, saudara tidak perlu mencari baptisan Roh Kudus. Saudara sudah mendapatkannya!

  • Ada banyak ajaran yang mengatakan bahwa Baptisan Roh harus disertai dengan bahasa lidah / Roh. Tetapi pada saat Stefanus dipenuhi Roh Kudus (Kis 6:5), ia tidak berbahasa lidah / Roh. Juga pada waktu Saulus / Paulus menerima / dipenuhi Roh Kudus pertama kalinya, ia tidak berbahasa lidah / Roh (Kis 9:17). Kis 2:1-11 merupakan penggambaran / penceritaan tentang apa yang terjadi pada hari Pentakosta. Tetapi itu bukan hukum / rumus! Jadi bisa saja ada orang yang menerima / dipenuhi Roh Kudus lalu berbicara dalam bahasa lidah / Roh, tetapi itu bukan merupakan suatu keharusan!

2.   Baptisan api.

‘Api’ bisa berarti:

  • hukuman (bdk. ay 10,12).
  • alat pemurni (bdk. Mal 3:2-3 – “Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatanganNya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu. Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN”).

Kalau ‘api’ diartikan sebagai ‘hukuman’, maka:

¨       cocok dengan arti ‘api’ dalam kontexnya, yaitu ay 10,12.

¨       ay 11 artinya jadi: Yang percaya akan diberi Roh Kudus  sedang yang tidak percaya akan dihukum. Ini cocok dengan ay 12.

¨       Tetapi arti ini tidak cocok dengan Mal 3:2-3.

Kalau ‘api’ diartikan sebagai ‘alat pemurni’, maka:

*        cocok dengan Mal 3:2-3.

*        tidak cocok dengan ay 10,12.

Karena itu ada orang yang mengambil kedua arti tersebut. Jadi, orang yang percaya akan menerima Roh Kudus dan disucikan, sedangkan orang yang tidak percaya akan dihukum.

3.   Adanya baptisan api dan baptisan Roh ini dijadikan dasar oleh orang-orang Bala Keselamatan untuk melakukan baptisan dengan bendera. Argumentasi mereka adalah sebagai berikut: adanya baptisan api dan baptisan Roh menunjukkan bahwa baptisan tidak harus dilakukan dengan air, dan karena itu boleh juga dilakukan dengan bendera.

Jawab: ‘Baptisan api’ maupun ‘baptisan Roh’ tidak menunjuk pada sakramen baptisan. Dalam Kitab Suci sakramen baptisan tidak pernah dilakukan dengan menggunakan zat lain selain air! Karena itu melakukan sakramen baptisan dengan menggunakan bendera adalah tidak sah!

c)   Baptisan Yohanes dan baptisan Kristen.

1.   Persamaannya:

  • dua-duanya diperintahkan oleh Allah .
  • dua-duanya menggunakan air.
  • dua-duanya berhubungan dengan perubahan hidup.
  • dua-duanya adalah sakramen yang berhubungan dengan pengampunan dosa.

2.   Perbedaannya:

  • Baptisan Yohanes melihat ke depan karena Kristus belum disalib; baptisan Kristen melihat ke belakang kepada Kristus yang sudah tersalib.
  • Baptisan Yohanes menekankan pertobatan; baptisan Kristen menekankan iman.
  • Baptisan Yohanes untuk orang Yahudi saja; baptisan Kristen untuk segala bangsa (Mat 28:19).
  • Baptisan Yohanes tidak berhubungan dengan penerimaan Roh Kudus (bdk. Kis 19:2-3); baptisan Kristen berhubungan dengan penerimaan Roh Kudus. Ini tak berarti bahwa baptisan Kristen menjamin penerimaan Roh Kudus. Tetapi kalau seseorang betul-betul percaya kepada Yesus, dan ia memberikan diri untuk dibaptis, maka ia pasti menerima Roh Kudus, dan juga karunia-karuniaNya (Louis Berkhof, ‘Systematic Theology’, hal 624).

Kis 2:38 – “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus”.

Catatan: kata-kata ‘karunia Roh Kudus’ di sini tidak berarti ‘karunia dari Roh Kudus’, tetapi ‘karunia berupa Roh Kudus’.

Adanya perbedaan-perbedaan ini menyebabkan orang yang telah dibaptis oleh Yohanes Pembaptis bisa dibaptis ulang dengan menggunakan baptisan kristen (bdk. Kis 19:3-5). Tetapi baptisan kristen sendiri tidak boleh diulang, karena pengulangan baptisan kristen merupakan penghinaan terhadap baptisan yang pertama.

MATIUS 3:13-17

I) Orang yang membaptis (Yohanes).

1)   Apakah Yohanes Pembaptis mengenal Yesus atau tidak?

Ay 14: “Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: ‘Akulah yang perlu dibaptis olehMu, dan Engkau yang datang kepadaku?’”.

Dilihat dari ay 14 ini, kelihatannya ia mengenal Yesus. Tetapi Yoh 1:31-34 mengatakan bahwa ia tidak mengenal Yesus.

Yoh 1:31-34 – “Dan aku sendiripun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.’ Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: ‘Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atasNya. Dan akupun tidak mengenalNya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atasNya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Dan aku telah melihatNya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.’”.

Pengharmonisan: Kata-kata ‘tidak mengenalNya’ dalam Yoh 1:31-34 harus diartikan ‘tidak pernah bertemu’, atau ‘tidak mengenalNya melalui pernyataan ilahi’.

Ia baru mengenal Yesus melalui pernyataan ilahi pada saat Yesus dibaptis, dimana Roh Kudus turun dalam bentuk burung merpati, dan ada suara Bapa dari surga, yang menyatakan Yesus sebagai AnakNya yang dikasihiNya (Mat 3:16-17).

2)   Mula-mula Yohanes keberatan untuk membaptis Yesus (ay 14).

Alasannya cukup logis, yaitu karena Yesus jauh lebih besar dari dirinya (bdk. Mat 3:11). Tetapi setelah Yesus menjelaskan, Yohanes tunduk (ay 15).

Contoh lain yang mirip dengan hal ini adalah:

a)   Yoh 13:8-dst dimana Petrus tidak mau Yesus membiarkan Yesus membasuh kakinya. Tetapi setelah Yesus menjelaskan, akhirnya ia mau membiarkan Yesus membasuh kakinya.

b)   Ananias dalam Kis 9:10-17 yang mula-mula keberatan untuk melayani Saulus / Paulus, tetapi setelah Tuhan menjelaskan, akhirnya ia tunduk.

Penerapan:

Kadang-kadang kita keberatan untuk mentaati Tuhan karena kita kurang mengerti. Tetapi kalau sudah diberi penjelasan, kita seharusnya tunduk. Misalnya:

  • dalam persoalan persembahan persepuluhan (Im 27:30  Mal 3:8-11). Banyak orang keberatan memberi perpuluhan karena takut hidupnya tidak cukup. Setelah diberi penjelasan bahwa Tuhan pasti akan mencukupi kalau kita mentaatiNya (Mat 6:25-34) maka mereka harus taat! Tetapi kenyataannya, ada banyak orang yang setelah dijelaskanpun tetap menolak untuk memberikan persembahan persepuluhan.
  • dalam persoalan Sabat (Kel 20:8  34:21). Banyak orang tidak mempedulikan larangan bekerja dan mempekerjakan orang pada hari Sabat. Dan sekalipun sudah dijelaskan alasannya, mereka tetap berkeras untuk bekerja / mempekerjakan orang pada hari Sabat.
  • dalam persoalan kawin campur (2Kor 6:14). Banyak orang kristen yang pacaran dengan orang yang tidak seiman, dan sekalipun sudah dijelaskan, mereka tetap berkeras.

II) Orang yang dibaptis (Yesus).

1)   Yesus menganggap baptisan / sakramen itu penting.

Hal ini terlihat dari maunya Ia menempuh jarak jauh, yaitu dari Galilea ke Yordan, untuk itu (ay 13).

Penerapan:

  • Apakah saudara menganggap Baptisan (dan juga Perjamuan Kudus) itu penting? Atau saudara sering menunda / mengabaikan pelaksanaannya? Ini bisa saudara lakukan bagi diri saudara sendiri ataupun bagi anak saudara (baptisan anak / bayi).
  • Yesus menempuh jarak jauh untuk mentaati kehendak BapaNya. Maukah saudara berkorban untuk mentaati Tuhan? Ada banyak orang yang hanya mau mentaati Tuhan selama ketaatan itu tidak menuntut pengorbanan. Ini bukan ketaatan!

2)   Yesus dicegah (oleh Yohanes Pembaptis) pada waktu mau dibaptis (ay 14). Tetapi Ia tahu apa yang benar dan Ia tidak membiarkan diriNya dicegah (ay 15). Juga pada waktu Ia mau pergi ke Yerusalem untuk menderita dan mati di sana, Ia dicegah oleh Petrus, tetapi Ia tidak membiarkan Petrus mencegahNya (Mat 16:21-23). Memang kalau kita mau mentaati Tuhan, selalu ada halangan. Setan sering memakai orang-orang disekitar kita, bahkan orang-orang yang rohani sekalipun, untuk menghalangi kita mentaati Tuhan. Tetapi kalau kita betul-betul yakin akan kehendak Tuhan, kita tidak boleh membiarkan diri kita dicegah.

3)   Yesus tidak mengaku dosa pada saat dibaptis. Orang-orang lain dibaptis sambil mengaku dosa (Mat 3:6), tetapi Yesus tidak mengaku dosa karena Ia memang tidak berdosa. Kalau Ia berdosa, Ia tidak bisa menjadi Penebus / Juruselamat kita.

III) Baptisan.

A)  Tujuan:

Baptisan Yohanes tujuannya adalah pertobatan dan pengampunan dosa. Tetapi pada waktu Yesus dibaptis, tujuannya berbeda. Tujuannya adalah:

1)   Menggenapkan ‘seluruh kebenaran’.

a)   Ay 15: “Lalu Yesus menjawab, kataNya kepadanya: ‘Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.’ Dan Yohanespun menurutiNya”.

Terjemahannya hurufiahnya seharusnya adalah ‘kebenaran’ bukan ‘kehendak Allah’. Tetapi ‘kebenaran’ memang bisa diartikan ‘kehendak Allah’ atau ‘perintah Allah’, dan Allah memang menghendaki / memerintahkan supaya semua orang dibaptis (Mark 1:4).

b)   Perhatikan kata ‘seluruh’. Ini menunjukkan bahwa kita harus taat pada semua perintah Allah, tidak boleh pilih-pilih. Banyak orang menyamakan perintah-perintah Allah dengan makan di restoran Padang, dimana kita boleh mengambil mana yang kita sukai dan mengembalikan yang tidak kita sukai. Ini jelas salah. Kita harus mentaati seluruh perintah Allah.

2)   Penyamaan diri dengan manusia yang berdosa (bdk. Fil 2:5-7). Ini menunjukkan kerendahan hati Tuhan Yesus.

3)   Menggenapi janji Allah kepada Yohanes Pembaptis (Yoh 1:31-34).

Ay 16 berkata ‘Ia melihat Roh Allah’. Kata ‘Ia’ di sini tidak seharusnya dimulai dengan huruf besar karena kata ini menunjuk kepada Yohanes Pembaptis, bukan kepada Yesus! Melalui pernyataan ilahi tentang diri Yesus ini, Yohanes lebih dikuatkan dalam iman dan bisa melayani Tuhan dengan lebih baik.

Penerapan:

Apakah saudara juga ingin melihat mujijat supaya bisa percaya kepada Kristus? Ingatlah kata-kata Yesus kepada Thomas dalam Yoh 20:29 – “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”.

B)  Cara baptisan.

Banyak orang menganggap ay 16 sebagai dasar baptisan selam. Disamping itu orang-orang yang mengharuskan baptisan selam mengatakan bahwa kata Yunani BAPTO / BAPTIZO artinya adalah ‘merendam’ / ‘mencelupkan’. Tetapi semua ini salah, karena:

1)   Kata bahasa Yunani BAPTO / BAPTIZO tidak selalu berarti ‘mencelupkan’ / ‘merendam’ seperti dalam:

a)   Mark 7:4 – “dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membersihkan dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci (BAPTISMOUS)cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga”.

KJV: And when they come from the market, except they wash, they eat not. And many other things there be, which they have received to hold, as the washing of cups, and pots, brasen vessels, and of tables’ (= Dan pada waktu mereka pulang dari pasar, kecuali mereka mencuci, mereka tidak makan. Dan banyak hal-hal lain yang mereka terima untuk dipegang, seperti pencucian cawan, belanga / panci, bejana / tempat dari tembaga, dan meja-meja).

Kata-kata ‘and of tables’ (= dan meja-meja) tidak ada dalam terjemahan-terjemahan yang lain, tetapi footnote NIV memberikan keterangan bahwa ada beberapa manuscripts yang kuno yang memberikan kata-kata itu.

Kalau kata-kata itu memang orisinil, maka itu makin jelas membuktikan bahwa pembaptisan / pencucian dalam ayat ini tidak dilakukan dengan merendam, karena bagaimana mungkin orang merendam meja? Berapa besarnya bak cuci yang dibutuhkan? Jauh lebih masuk akal, bahwa pencucian dilakukan dengan mencurahkan air ke benda yang akan dicuci tersebut. Dan kalau kata-kata itu tidak orisinil, tetap aneh bahwa orang mencuci belanga, dsb dengan cara merendam. Biasanya orang mencuci barang-barang itu dengan mencurahkan air ke benda tersebut.

b)   Luk 11:38 – “Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci (EBAPTISTHE)tanganNya sebelum makan”.

Orang mencuci tangan tidak harus merendam tangannya dalam air, tetapi bisa dengan mencurahkan air pada tangan. Jadi jelas bahwa ‘baptis’ di sini tidak harus berarti ‘celup / selam’.

c)   Ibr 9:10 – “karena semuanya itu, di samping makanan minuman dan pelbagai macam pembasuhan (BAPTISMOIS), hanyalah peraturan-peraturan untuk hidup insani, yang hanya berlaku sampai tibanya waktu pembaharuan”.

Catatan: ada edisi Kitab Suci Indonesia yang mengatakan ‘pelbagai macam persembahan’. Ini salah cetak, dan dalam edisi yang baru sudah diperbaiki.

Terjemahan Lama: ‘berbagai-bagai basuhan’.

NASB: various washings (= bermacam-macam pembasuhan).

NIV: various ceremonial washings (= bermacam-macam pembasuhan yang bersifat upacara keagamaan).

RSV: various ablutions (= bermacam-macam pembersihan / pencucian)

KJV: divers washings (= bermacam-macam pembasuhan).

Kata Yunaninya adalah BAPTISMOIS. Jadi terjemahan hurufiahnya adalah ‘bermacam-macam baptisan’.

Kalau kita memperhatikan kontex dari Ibr 9 itu, maka pasti Ibr 9:10 ini menunjuk pada ‘pemercikan’ dalam Ibr 9:13,19,21. Karena itu jelas bahwa di sini kata ‘baptis’ tidak diartikan selam / celup, tetapi percik.

d)   1Kor 10:2 – “Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis(EBAPTISANTO)dalam awan dan dalam laut”.

Dua hal yang harus diperhatikan:

  • Orang Israel berjalan di tempat kering (Kel 14:22). Yang terendam air adalah orang Mesir!
  • Awan tidak ada di atas mereka, tetapi di belakang mereka (Kel 14:19-20). Juga awan itu tujuannya untuk memimpin / melindungi Israel; itu bukan awan untuk memberi hujan. Kalau toh awan itu memberi hujan, itu lebih cocok dengan baptisan percik, bukan selam.

Jadi jelas bahwa orang Israel tidak direndam / diselam dalam awan dan dalam laut!

Barnes’ Notes: “This passage is a very important one to prove that the word baptism does not necessarily mean entire immersion in water. It is perfectly clear that neither the cloud nor the waters touched them” (= Text ini adalah text yang sangat penting untuk membuktikan bahwa kata baptisan tidak harus berarti penyelaman seluruhnya di dalam air. Adalah sangat jelas bahwa baik awan maupun air tidak menyentuh mereka).

2)   Ini adalah bagian yang bersifat descriptive (= menggambarkan).

Bagian ini hanya menggambarkan apa yang terjadi, dan karena itu bukan merupakan suatu hukum / norma. Sama halnya dengan kalau Kristus mempunyai 12 murid, Kristus tidak pernah kawin, Kristus berpuasa 40 hari, dan sebagainya. Semua itu bukan hukum / norma.

3)   Kata-kata ‘keluar dari air’ tidak harus berarti bahwa Yesus diren­dam dalam air lalu keluar dari air. Kata-kata itu bisa berarti bahwa Yesus berdiri di sungai (hanya kakiNya yang terendam), lalu keluar dari air / sungai.

Sekarang mari bandingkan peristiwa ini dengan baptisan sida-sida dalam Kis 8:26-40. Apakah ini adalah baptisan selam? Ada 2 hal yang perlu diperhatikan dari bagian ini:

a)   Kis 8:36 – ‘ada air’.

Yunani: TI HUDOR (a certain water / some water). Jadi ini menunjuk pada sedikit air, sehingga tidak memungkinkan baptisan selam.

Charles Hodge: “He was travelling through a desert part of the country towards Gaza, when Philip joined him, ‘And as they went on their way they came unto a certain water (EPI TI HUDOR, to some water)’. There is no known stream in that region of sufficient depth to allow of the immersion of a man” [= Ia sedang bepergian melalui bagian padang pasir dari negara itu menuju Gaza, ketika Filipus bergabung dengannya, ‘Dan ketika mereka melanjutkan perjalanan mereka mereka sampai pada air tertentu (EPI TI HUDOR, kepada sedikit air)’. Di daerah itu tidak diketahui adanya sungai dengan kedalaman yang cukup untuk memungkinkan penyelaman seorang manusia]- ‘Systematic Theology’, vol III, p 535.

b)   Kis 8:38-39 berkata ‘turun ke dalam air … keluar dari air’.

Apakah ini menunjuk pada baptisan selam? Seperti pada baptisan Yesus, istilah ini mempunyai 2 kemungkinan arti, yaitu:

  • sida-sida itu betul-betul terendam total, lalu keluar dari air.
  • sida-sida itu turun ke dalam air yang hanya sampai pada lutut atau mata kakinya, lalu keluar dari air.

Untuk mengetahui yang mana yang benar dari 2 kemungkinan ini, bacalah Kis 8:38-39 itu sekali lagi. Perhatikan bahwa di situ dikatakan: “dan keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia. Dan setelah mereka keluar dari air, …”.

Kalau istilah ‘turun ke dalam air’ dan ‘keluar dari air’ diartikan sebagai baptisan selam, itu menunjukkan bahwa Filipus, sebagai orang yang membaptis, juga ikut diselam! Ini jelas tidak mungkin. Jadi dari 2 kemungkinan di atas, yang benar adalah kemungkinan kedua. Ini juga cocok dengan point a) di atas yang menunjukkan bahwa air di situ cuma sedikit, sehingga tidak memungkinkan baptisan selam.

Jadi jelas bahwa Mat 3:16 tidak bisa dijadikan dasar bahwa cara membaptis yang benar adalah dengan menggunakan bapti­san selam. Disamping itu ada banyak contoh dalam Alkitab dimana baptisan dilakukan bukan di sungai. Juga tidak diceritakan adanya kolam yang memungkinkan baptisan selam (Kis 2:41  Kis 9:13  Kis 10:47-48  Kis 16:33). Kis 16:33 adalah contoh yang paling kuat untuk menunjukkan bahwa baptisan tidak dilakukan dengan penyela­man, karena hal itu terjadi di dalam penjara!

IV) Allah Tritunggal pada waktu baptisan.

A)  Pada peristiwa baptisan Yesus ini, ketiga pribadi dari Allah Tritunggal muncul.

1)   Allah Bapa: berbicara dari surga (ay 17).

Ay 17 = Maz 2:7 + Yes 42:1.

Maz 2:7 (NIV): ‘You are my Son’ (= Engkau adalah AnakKu).

2)   Yesus (Allah Anak).

Yesus adalah Anak Allah dari kekekalan.

Ada ajaran yang bernama Dynamic Monarchianism / Adoptionism. Ajaran ini menyatakan bahwa Yesus adalah manusia biasa, tetapi pada saat baptisan, Ia menerima Roh Kudus (yaitu kuasa / pengaruh ilahi), dan diangkat menjadi semacam Allah.

Kita tidak menerima ajaran semacam itu. Apa yang bukan Allah tidak bisa berkembang menjadi Allah. Disamping itu Kitab Suci mengatakan bahwa Yesus sudah adalah Anak Allah sebelum Ia berinkarnasi.

Gal 4:4 – “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat”.

Yang perlu disoroti adalah: pada saat ini Yesus belum berinkarnasi, tetapi sudah disebut sebagai ‘Anak’.

3)   Roh Kudus.

a)   Roh Kudus ‘turun’ (ay 16). Ingat, bahwa Roh Kudus adalah Allah yang maha ada. Jadi kata-kata tersebut di atas adalah bahasa Anthro­pomorphic (= bahasa yang menggambarkan Allah seakan-akan Ia adalah manusia).

b)   Roh Kudus turun ke atas Yesus dan tinggal atasNya / padaNya (Yoh 1:32-33). Ini tidak berarti bahwa sebelum itu Yesus tidak mempunyai Roh Kudus. Roh Kudus terus menjaga Yesus sejak dari pembuahan dalam kandungan supaya Ia bebas dari dosa (Maz 45:8  Yes 11:2,3  Yes 61:1  Yoh 3:34).

Jadi, kalau pada saat baptisan dikatakan bahwa Roh Kudus turun ke atas Yesus, tujuanNya adalah untuk melengkapi Yesus untuk tugas pelayananNya (Yes 42:1  Yes 61:1).

c)   Roh Kudus bisa dilihat oleh Yohanes karena Ia menampakkan diri dalam bentuk burung merpati.

d)   Mengapa Roh Kudus tidak menampakkan diri dalam bentuk api seperti pada Pentakosta (Kis 2:1-11)? Karena Perjanjian Lama menggambarkan Yesus lemah lembut (bdk. Yes 42:2-3), sehingga merpati lebih cocok.

B)  Ke tiga pribadi dari Allah Tritunggal ini muncul pada saat yang sama.

Ajaran Sabellianisme mengajarkan bahwa Allah menyatakan diri dalam penciptaan sebagai Bapa, dalam penebusan sebagai Anak, dan dalam pengudusan sebagai Roh Kudus. Jadi, Allah mempunyai 3 perwujudan / manifestasi, bukan 3 pribadi.

Kita tidak mempercayai ajaran Sabellianisme tersebut di atas, karena kalau Allah mempunyai 3 perwujudan, dan bukannya 3 pribadi, maka ke 3 perwujudan itu tidak bisa muncul pada saat yang bersamaan. Sedangkan dalam peristiwa baptisan ini, jelas bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus muncul pada saat yang bersamaan. Kita percaya bahwa Allah Tritunggal, sekalipun hanya punya 1 hakekat / es­sence, tetapi mempunyai 3 pribadi. Ke tiga pribadi tersebut berbeda (distinct) satu dengan yang lain, tapi bersatu.

Bandingkan dengan Pengakuan Iman Athanasius, no 3-25, yang berbunyi sebagai berikut:

3. Tetapi iman Katolik / universal / am adalah ini, bahwa kami menyembah satu Allah dalam tritunggal, dan tritunggal dalam kesatuan.  4. Tidak ada kekacauan / percampuran pribadi-pribadi ataupun pemisahan zat.  5. Karena pribadi dari Bapa adalah satu, dari Anak adalah pribadi yang lain, dan dari Roh Kudus adalah pribadi yang lain.  6. Tetapi dari Bapa, dari Anak, dan dari Roh Kudus ada satu keilahian, kemuliaan yang sama / setara dan keagungan yang sama kekalnya.  7. Apa adanya Bapa itu, demikian juga dengan Anak, dan juga Roh Kudus.  8. Bapa tidak diciptakan, Anak tidak diciptakan, Roh Kudus tidak diciptakan.  9. Bapa itu maha besar, Anak itu maha besar, Roh Kudus itu maha besar.  10. Bapa itu kekal, Anak itu kekal, Roh Kudus itu kekal.  11. Tetapi tidak ada tiga yang kekal, tetapi satu yang kekal.  12. Demikian juga tidak ada tiga (makhluk) yang tidak dicipta, juga tidak tiga yang maha besar, tetapi satu yang tidak dicipta, dan satu yang maha besar.  13. Dengan cara yang sama Bapa adalah maha kuasa, Anak adalah maha kuasa, Roh Kudus adalah maha kuasa.  14. Tetapi tidak ada tiga yang maha kuasa, tetapi satu yang maha kuasa.  15. Demikian juga Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.  16. Tetapi tidak ada tiga Allah, tetapi satu Allah.  17. Demikian pula Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan.  18. Tetapi tidak ada tiga Tuhan, tetapi satu Tuhan.  19. Karena sebagaimana kami didorong seperti itu oleh kebenaran Kristen untuk mengakui setiap pribadi secara terpisah / individuil sebagai Allah dan Tuhan; demikian pula kami dilarang oleh agama Katolik / universal / am untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah atau Tuhan.  20. Bapa tidak dibuat dari apapun, tidak diciptakan, tidak diperanakkan.  21. Anak itu dari Bapa saja, tidak dibuat, tidak dicipta, tetapi diperanakkan.  22. Roh Kudus itu dari Bapa dan Anak, tidak dibuat, tidak dicipta, tidak diperanakkan, tetapi keluar.  23. Karena itu ada satu Bapa, bukan tiga bapa, satu Anak, bukan tiga anak, satu Roh Kudus, bukan tiga Roh Kudus.  24. Dan dalam tritunggal ini tidak ada yang pertama atau terakhir, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil.  25. Tetapi ketiga pribadi yang sama-sama kekal dan setara di antara mereka sendiri; sehingga mereka semua secara keseluruhan, seperti dikatakan di atas, baik kesatuan dalam tritunggal, maupun tritunggal dalam kesatuan, harus disembah.

MATIUS 4:1-11

Pendahuluan:

1)   Letak konteks:

  • setelah baptisan dan pernyataan Allah Bapa (Mat 3:17).
  • pada saat Ia mau terjun ke dalam pelayanan.

Ini menunjukkan bahwa setelah kita menerima suatu pernyataan dari Tuhan, atau kalau kita mau menyenangkan Tuhan, melalui pelayanan kepada Tuhan, belajar Firman Tuhan, lebih banyak berdoa, dsb, setan pasti menyerang.

2)   Roh Kudus dan setan sama-sama bekerja sehingga pencobaan terjadi.

a)   Yesus penuh dengan Roh Kudus (Luk 4:1).

Jadi, orang yang penuh dengan Roh Kudus / dekat dengan Tuhan justru akan diserang setan. Ini bertentangan dengan ajaran populer saat ini, yang mengatakan bahwa kalau kita beriman dan taat, maka segala problem akan beres, semua penyakit akan sembuh, yang miskin akan menjadi kaya, dan sebagainya.

b)   Roh Kudus memimpin Yesus ke padang gurun untuk dicobai Iblis (ay 1).

Ini seperti seorang pelatih tinju yang memberikan sparring partner kepada petinjunya. Tetapi pada saat yang sama Roh Kudus memenuhi Yesus untuk menjagaNya agar tidak jatuh dalam menghadapi pencobaan tersebut. Tujuan Roh Kudus adalah supaya Yesus menang!

Karena itu kalau saudara mengikuti pimpinan Roh Kudus dan ternyata saudara mendapatkan serangan / pencobaan dari setan, jangan terlalu heran / kecewa. Kalau Ia memimpin saudara ke sana, Ia juga akan memperlengkapi saudara. Jadi, bersandarlah kepadaNya, dan lawanlah serangan / pencobaan setan tersebut.

3)   Yesus berpuasa 40 hari 40 malam.

Dalam Kitab Suci orang lain yang pernah melakukan hal itu adalah Musa dan Elia. Dalam puasa ini, saya tidak setuju dengan pandangan Calvin yang mengatakan bahwa ini adalah puasa total. Saya berpendapat, seperti kebanyakan penafsir, bahwa Yesus hanya berpuasa terhadap makanan, bukan terhadap air / minuman. Ini bisa dilihat dari:

  • Ay 2 mengatakan ‘lapar’, bukan ‘haus’.
  • Ay 3 mengatakan bahwa Iblis mencobai dengan roti, bukan dengan air. Kalau Yesus juga berpuasa terhadap air, pasti setan akan mencobai dengan air, bukan dengan roti.
  • Luk 4:2 mengatakan bahwa Yesus ‘tidak makan apa-apa’.

Bahwa Yesus berpuasa 40 hari 40 malam, tidak berarti bahwa kita juga harus berpuasa seperti itu! Ini sama seperti kalau Yesus berjalan di atas air, tentu juga tidak berarti bahwa kita juga harus berjalan di atas air. Ingat bahwa bagian Kitab Suci yang bersifat descriptive (= menggambarkan), bukanlah rumus / norma / hukum dalam kehidupan kita.

Calvin bahkan beranggapan bahwa kalau pada jaman sekarang ada orang yang melakukan hal itu, itu merupakan suatu ketololan. Tetapi saya sendiri tidak berani mengatakan kata-kata seperti itu, karena bisa saja untuk tujuan tertentu Tuhan menyuruh seseorang untuk melakukan puasa seperti itu.

I) Pencobaan I (ay 3).

A)  Hal-hal yang bisa kita pelajari dari pencobaan I ini:

1)   Ada yang mengatakan bahwa pencobaan ini diberikan Iblis untuk meragukan keilahian Yesus (‘Jika Engkau Anak Allah …’). Tetapi ada banyak yang mengatakan bahwa pencobaan I ini tidak dilakukan untuk meragukan keilahian Yesus. Alasannya: kata bahasa Yunani EI, sekalipun memang bisa diterjemahkan ‘jika’, bisa juga diterjemahkan ‘karena’. Kalau diterjemahkan ‘karena’, jelaslah bahwa pencobaan pertama ini tidak meragukan keilahian Yesus, tetapi mungkin bisa dikatakan sebagai ‘mbombongi’. Bdk. Mat 27:40b,42-43  Luk 23:35.

Penerapan:

Setan juga sering menyerang kita dengan cara mbombongi. Misalnya dengan mengatakan:

  • kalau kamu memang jantan, maka pukullah orang yang menghina kamu itu.
  • kalau kamu bukan pengecut, ngebutlah dengan kecepatan setinggi mungkin.
  • kalau kamu memang jantan, buktikanlah dengan berzinah.
  • kalau kamu bukan pemuda / remaja yang ketinggalan jaman, gunakanlah ecstasy / pil koplo dan anutlah free sex.
  • kalau kamu memang kaya, buktikanlah itu dengan membeli barang mewah sebanyak mungkin.

2)   Pencobaan ini bertujuan untuk mengalihkan Yesus dari hal rohani (puasa) kepada hal jasmani (makanan / roti).

Penerapan:

  • Setan juga sering mengalihkan perhatian kita dari hal rohani (doa, Firman Tuhan, saat teduh, kebaktian, pelayanan) kepada hal jasmani (bisnis, piknik, TV, pesta, arisan, dsb)! Kalau Pemahaman Alkitab yang datang sedikit, kalau pesta yang datang banyak!
  • Setan juga mengalihkan gereja / kekristenan masa kini dari hal rohani kepada hal jasmani. Ini terbukti dengan begitu banyaknya penekanan hal jasmani dalam gereja / keristenan masa kini, seperti Theologia Kemakmuran yang menekankan kekayaan duniawi, penekanan kesembuhan jasmani / mujijat, Social Gospel (= penginjilan yang hanya memberikan bantuan sosial), dsb.
  • Setan juga sering mengalihkan pikiran kita dari Tuhan / Firman Tuhan pada saat kebaktian, sehingga kita memikirkan pekerjaan / keuangan.

Amos 8:4-6 – “Dengarlah ini, kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini dan berpikir: ‘Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu, supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin karena sepasang kasut; dan menjual terigu rosokan?’”.

Dan memang jaman sekarang makin lama makin banyak orang yang pergi ke gereja pada hari Minggu dengan tujuan bisnis!

3)   Pencobaan ini bertujuan supaya Yesus tidak mempercayakan diri kepada BapaNya, tetapi menangani sendiri persoalan lapar itu dengan cara yang tidak halal yaitu dengan menggunakan keilahianNya. Perlu diketahui bahwa dalam kehidupanNya sebagai manusia, Yesus tidak pernah menggunakan kuasa / keilahianNya bagi diriNya sendiri.

Penerapan:

Setan juga selalu menyerang kita supaya kita tidak mempercayakan diri kita kepada Allah, tetapi menanganinya sendiri dengan menggunakan cara yang tidak halal, seperti mencuri, korupsi, nyogok, berdusta, menggunakan kuasa gelap / dukun, dsb.

4)   Seperti Adam, Yesus dicobai dengan menggunakan makanan. Tetapi kalau Adam I kalah, maka Adam ke II (Kristus) menang! Padahal Adam I tidak puasa, bisa makan buah-buahan yang lain yang ada di taman Eden. Jadi pencobaan bagi Kristus jauh lebih berat.

5)   Setan menyerang titik lemah (lapar), dan ia menyerang pada saat yang tepat.

Seorang yang bernama Arthur Wallis, dalam bukunya yang berjudul ‘God’s Chosen Fast’ (= Puasa Pilihan Allah) hal 77-78, menjelaskan adanya 3 tahap yang dialami seseorang kalau melakukan puasa jangka panjang (tanpa makanan sama sekali, tetapi minum air putih):

  • tahap I yang biasanya berlangsung sekitar 2-3 hari (lamanya tahap-tahap ini bisa berbeda untuk tiap orang), dimana orangnya merasa sangat lapar.
  • tahap II yang biasanya juga berlangsung sekitar 2-3 hari, dimana orangnya tidak lagi merasa terlalu lapar, tetapi merasa badannya lemas, kepalanya pusing dan ia malas untuk bergerak. Ini dikatakannya sebagai bagian yang terberat dalam melakukan puasa jangka panjang.
  • tahap III.

Pada tahap III ini orang yang tadinya lemas itu mulai pulih kekuatannya, dan ia tidak lapar lagi. Pada tahap ini orangnya merasa bahwa ia bisa puasa terus tanpa problem. Tetapi kalau puasa ini diteruskan, maka pada saat tertentu, rasa lapar tahu-tahu muncul lagi dengan sangat hebatnya. Ini menunjukkan bahwa lemak tubuh sudah habis, dan kalau puasa itu tetap diteruskan, ini menjurus pada starvation (= mati kelaparan), dan ini sama dengan bunuh diri. Beberapa waktu yang lalu diceritakan di TV tentang orang-orang yang melakukan mogok makan. Mereka tidak apa-apa sampai pada titik ini. Tetapi pada titik ini, kalau mereka tetap mogok makan, mereka akan mati dalam waktu kira-kira 1 minggu.

Lamanya tahap III ini tentu saja sangat berbeda untuk setiap orang, karena sangat tergantung pada gemuk / kurusnya orang yang berpuasa. Orang gemuk, karena cadangan lemak yang banyak, bisa bertahan lebih dari 40 hari, sedangkan orang kurus mungkin hanya bertahan 20 hari.

Dari pengertian tentang ketiga tahap puasa ini, tidak aneh / tidak salah kalau dikatakan bahwa ‘setelah berpuasa 40 hari dan 40 malam, akhirnya laparlah Yesus’ (ay 2). Ini menunjukkan bahwa Yesus sudah sampai pada akhir dari tahap III.

Setan tentu juga tahu akan hal ini, dan ia tahu bahwa pada saat itu Yesus sangat lapar, dan Ia harus makan kecuali Ia mau bunuh diri. Pada saat itulah setan menyerang menggunakan roti!

Penerapan:

Setan tahu titik lemah kita dan setan juga menyerang titik lemah kita pada saat yang tepat. Misalnya:

¨       saudara lemah dalam persoalan sex. Maka setan bukan hanya akan menyerang titik lemah itu, tetapi juga menyerangnya pada saat yang tepat, misalnya pada waktu saudara sedang bertengkar dengan istri saudara.

¨       saudara adalah seorang yang tamak. Maka setan terus akan memanfaatkan titik lemah itu, dan ia mungkin sekali bahkan akan memberikan saudara kesempatan bisnis yang saatnya bertepatan dengan kebaktian / Pemahaman Alkitab. Ini sekaligus akan memberikan serangan dobel kepada saudara.

¨       saudara adalah seorang pemarah. Maka setan akan memberikan banyak orang / hal yang menjengkelkan saudara, dan itu mungkin sekali diberikannya pada saat yang tepat, yaitu pada saat saudara memang sudah sumpek. Ini membuat saudara meledak dalam kemarahan!

¨       anak saudara sedang sakit berat dan hampir mati, dan lalu ada orang yang cerita tentang dukun yang hebat.

¨       saudara sedang malas untuk kebaktian, ada teman datang dan mengajak piknik.

¨       saudara sedang sangat butuh uang, lalu ada kesempatan untuk korupsi / mencuri.

B)  Jawaban Yesus terhadap pencobaan I (ay 4).

1)   Yesus menangkis serangan setan dengan menggunakan Firman Tuhan yang Ia kutip dari Ul 8:3. Di sini kita lihat pentingnya penger­tian dan ingatan terhadap Firman Tuhan. Firman Tuhan adalah senjata / pedang Roh (Ef 6:17) yang harus kita gunakan pada saat setan menyerang. Karena itu, jangan mengabaikan Pemahaman Alkitab / Saat Teduh, dan banyaklah membaca buku-buku rohani yang baik!

Calvin: “Those who voluntarily throw away that armour, and do not laboriously exercise themselves in the school of God, deserve to be strangled, at every instant, by Satan, into whose hands they give themselves up unarmed” (= Mereka yang secara sukarela membuang senjata itu, dan tidak melatih diri mereka sendiri dengan susah payah dalam sekolah Allah, layak dijerat, pada setiap saat, oleh Iblis, kedalam tangan siapa mereka menyerahkan diri mereka sendiri tanpa senjata).

2)   Ada 2 penafsiran tentang arti dari kata-kata ‘setiap firman yang keluar dari mulut Allah’:

a)   Ini menunjuk pada Firman Allah atau pengajaran Kitab Suci.

Kalau diambil arti ini, maka seluruh jawaban Yesus itu maksudnya adalah: karena manusia terdiri dari tubuh dan jiwa / roh, maka manusia hidup bukan dari roti saja (makanan jasmani), tetapi juga dari Firman Allah / pengajaran Kitab Suci (makanan rohani).

Tetapi penafsiran ini rasanya tidak cocok dengan:

  • konteks Mat 4:3-4 / Luk 4:3-4.

Setan menyuruh Yesus mengubah batu menjadi roti, dan Yesus menjawab: manusia hidup bukan dari roti saja tetapi dari pengajaran Kitab Suci. Ini rasanya aneh / tidak cocok!

  • Ul 8:3 (dari mana Yesus mengutip kata-kata itu), yang berbunyi: “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN”.

Kalau kata-kata ‘segala yang diucapkan TUHAN’ itu diartikan pengajaran Kitab Suci, maka Ul 8:3 itu juga menjadi kacau artinya.

b)   Ini menunjuk pada kehendak Allah (Calvin).

Jadi maksud Yesus adalah: sekalipun tidak ada roti, kalau Allah menghendaki Ia hidup, Ia akan hidup. Penaf­siran ini lebih cocok dengan konteks Mat 4:3-4 / Luk 4:3-4 maupun Ul 8:3!

Calvin: “In like manner, the Apostle says, that he ‘upholdeth all things by his powerful word’ (Heb i. 3); that is, the whole world is preserved, and every part of it keeps its place, by the will and decree of Him, whose power, above and below, is everywhere diffused” [= Dengan cara yang sama, sang rasul berkata bahwa Ia ‘menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan’ (Ibr 1:3); artinya, seluruh dunia / alam semesta dipelihara, dan setiap bagiannya dijaga pada tempatnya, oleh kehendak dan ketetapanNya, yang kuasaNya, di atas dan di bawah, tersebar dimana-mana].

Maksud Calvin adalah: kalau kata ‘firman’ dalam Ibr 1:3 itu bisa diartikan ‘kehendak Allah’, maka tentu dalam Mat 4:4 ini juga bisa.

Penerapan:

Dalam keadaan terjepit / krisis yang bagaimanapun hebatnya, yang mengancam nyawa sekalipun, ingatlah bahwa hidup / mati tergantung kehendak Tuhan!

3)   Jawaban Yesus ini mengarah kepada hal rohani (kehendak Allah). Setan mengarahkanNya pada hal jasmani, tetapi Yesus tetap mengarah pada hal rohani.

Ini harus kita turuti / teladani. Ingat kata-kata Yesus dalam Mat 16:26 – “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”.

4)   Jawaban ini menunjukkan kepercayaan Yesus kepada BapaNya. Ia tidak mau menggunakan keilahianNya dan Ia percaya BapaNya akan memelihara­Nya.

II) Pencobaan II (ay 5-6).

A)  Hal-hal yang bisa kita pelajari dari pencobaan II ini:

1)   Urut-urutan pencobaan / letak pencobaan II ini.

Pencobaan ke II dalam Matius ditempatkan dalam urutan ke III dalam Lukas 4. Yang benar adalah urut-urutan dalam Matius, karena setelah penco­baan ke III dalam Matius, Iblis diusir. Ini bukan suatu kontradiksi, dan Lukas bukannya salah, hanya saja ia tidak menulis berdasarkan urut-urutan waktu (tidak chronologis).

2)   Kalau pencobaan I mencobai Yesus supaya tidak percaya kepada BapaNya, maka pencobaan II mencobai Yesus untuk terlalu ‘per­caya’ kepada BapaNya, sehingga mencari bahaya dengan cara meloncat dari bubungan Bait Allah. Memang setan sering menyerang kita, atau dengan extrim kiri, atau dengan extrim kanan.

Penerapan:

Setan juga sering mencobai kita untuk menjadi terlalu ‘percaya’ kepada Allah. Misalnya:

  • sengaja berbuat dosa, karena percaya keselamatan tidak bisa hilang.
  • sengaja berurusan dengan kuasa gelap, karena ‘percaya’ Allah bisa melindungi.

3)   Pencobaan I ditolak oleh Yesus dengan menggunakan Firman Tuhan, maka sekarang setan juga menggunakan Firman Tuhan (Maz 91:11-12) yang disalah-tafsirkan. Karena itu kita perlu waspada; tidak setiap orang yang menggunakan Kitab Suci memberikan pengajaran yang benar. Semua orang sesat bisa mencari-cari dasar Kitab Suci untuk mendukung pandangan mereka. Contoh:

  • orang-orang Saksi Yehovah menggunakan Yoh 14:28 untuk mengatakan bahwa Yesus lebih rendah dari pada Bapa, padahal ayat itu jelas menyoroti Yesus sebagai manusia. Dalam Yoh 10:30, yang menyoroti Yesus sebagai Allah, dikatakan bahwa Yesus dan Bapa adalah satu.
  • Theologia Kemakmuran menggunakan 2Kor 8:9 untuk menekankan bahwa orang kristen harus kaya, padahal kalau kita membaca kontext dari ayat tersebut, jelas bahwa yang dimaksudkan adalah kaya rohani, bukan kaya jasmani.

Satu hal yang harus ditekankan di sini adalah bahwa setan juga tahu dan hafal Kitab Suci. Karena itu kalau kita tidak mau belajar dan menghafal Kitab Suci, kita akan dengan mudah ditipunya!

B)  Jawaban Yesus terhadap pencobaan II (ay 7).

1)   Ay 7 ini dikutip oleh Yesus dari Ul 6:16 yang jelas berhubungan dengan ajaran setan yang menyalahtafsirkan Maz 91:11-12 itu. Di sini kita lihat lagi pentingnya mempelajari Firman Tuhan dan menghafal­kannya. Kita membutuhkannya pada waktu kita mendengar pemberi­taan Firman Tuhan dari siapa saja. Kita harus mengecek setiap khotbah dengan Firman Tuhan apakah khotbah itu bertentangan dengan bagian lain dari Kitab Suci atau tidak.

Bdk. Kis 17:11 – “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian”.

Perhatikan bahwa dalam ayat ini orang Yahudi di Berea dipuji karena mengecheck khotbah Paulus, yang adalah seorang rasul, dengan menggunakan Kitab Suci! Karena itu kalau saudara adalah orang yang mengaminkan segala kata-kata pendeta tanpa mengechecknya dengan Kitab Suci, itu jelas merupakan sikap yang salah dan bahkan berbahaya!

2)   Arti ‘mencobai Allah’ dalam Mat 4:7.

Calvin: “In this passage, the word ‘tempt’ denotes the neglect of those means which he puts into our hands, … In short, whoever desires to make an experiment of the divine power, when there is no necessity for it, tempts God by subjecting his promises to an unfair trial” (= Dalam bagian ini, kata ‘mencobai’ menunjukkan pengabaian sarana yang Ia letakkan dalam tangan kita, … Singkatnya, siapapun yang ingin membuat percobaan dengan kuasa ilahi, pada saat tidak ada keperluan untuk itu, mencobai Allah dengan meletakkan janjiNya pada ujian yang tidak fair).

Contoh:

  • Banyak orang kristen tidak mau membeli obat atau pergi ke dokter pada waktu sakit, padahal mereka bisa melakukan hal itu. Dan mereka menganggap bahwa dengan tidak pergi ke dokter dan tidak membeli obat, tetapi hanya berdoa saja, mereka beriman kepada Allah. Ini bukan beriman kepada Allah, tetapi mencobai Allah!
  • Ada gempa bumi tetapi tidak mau keluar rumah, karena percaya Allah bisa melindungi.
  • Ada ujian tetapi tidak mau belajar karena percaya Allah bisa memberkati.
  • Sudah tahu banyak rampok, sengaja keluar malam-malam ke daerah yang rawan.

III) Pencobaan III (ay 8-9).

A)  Hal-hal yang bisa kita pelajari dari pencobaan III ini:

1)   Bagaimana terjadinya pencobaan-pencobaan (1-3) ini?

a)   William Barclay berkata bahwa pencobaan-pencobaan ini terjadi dalam pikiran Yesus. Tetapi ini jelas salah, karena kalau Yesus berpikir seperti itu, Ia sudah berdosa!

b)   Hal ini sungguh-sungguh terjadi.

Jadi Yesus betul-betul dibawa oleh Iblis ke bubungan Bait Allah (pencobaan 2), dan lalu ke puncak gunung (pencobaan 3). Pandangan ini juga rasanya tidak benar karena:

  • sukar terbayangkan Yesus betul-betul pergi bersama-sama / jalan-jalan dengan setan.
  • Ay 8 (bdk. Luk 4:5) mengatakan bahwa dalam sekejap mata setan memperlihatkan semua kerajaan dunia kepada Yesus. Ini tidak mungkin bisa terjadi! Di gunung yang mana saudara bisa melihat semua kerajaan dunia?

c)   Calvin menganggap terjadinya adalah melalui vision / penglihatan.

Bandingkan dengan Yeh 40:1b-2, yang berbunyi: “… pada hari itu juga kekuasaan TUHAN meliputi aku dan dibawaNya aku dalam penglihatan-penglihatan ilahi ke tanah Israel dan menempatkan aku di atas sebuah gunung yang tinggi sekali”.

Bandingkan juga dengan Wah 21:10 yang berbunyi: “di dalam roh ia membawa aku ke gunung yang tinggi”.

2)   Apakah kata-kata setan dalam ay 9 (bdk Luk 4:6-7)  itu benar?

a)   Ada yang berkata ‘ya’ dengan alasan:

  • Ef 2:2  Ef 6:12  1Yoh 5:19.
  • Yesus sendiri menyebut Iblis sebagai ‘penguasa dunia’ (Yoh 12:31  14:30  16:11).
  • Yesus tidak membantah claim dari setan itu.

b)   Jawaban yang benar adalah ‘tidak’ karena:

  • Ef 2:2  Ef 6:12  1Yoh 5:19 hanya menunjukkan bahwa setan punya kuasa / pengaruh yang besar di dunia, khususnya di antara orang yang tidak percaya.
  • Dalam Yoh 12:31  14:30  16:11 Yesus memang menyebut Iblis sebagai ‘penguasa dunia’, tetapi ini tidak dalam arti mutlak.
  • Maz 2 menunjukkan bahwa Allah / Yesus yang berkuasa.
  • Yesus berkali-kali mengusir setan.
  • Setan adalah pendusta (Yoh 8:44).

Jadi, penguasa / pemilik alam semesta adalah Allah (Maz 24:1-2), bukan setan! Allah tidak pernah kehilangan kontrol atas seluruh alam semesta!

Bdk. Maz 103:19 – “TUHAN sudah menegakkan takhtaNya di sorga dan kerajaanNya berkuasa atas segala sesuatu”.

Dari semua ini bisa disimpulkan bahwa dalam menggoda, setan sering berdusta (bdk. Kej 3:4-5). Karena itu, hati-hati dengan dusta setan yang menawarkan hal-hal yang indah kepada saudara!

3)   Tujuan pencobaan III ini adalah:

a)   Supaya Yesus mendapatkan mahkota tanpa salib.

Kalau Yesus menggunakan cara yang seharusnya, maka Ia harus menderita dan mati disalib, baru bisa mengumpulkan orang-orang untuk datang kepadaNya. Tetapi dengan cara setan ini, Ia hanya perlu tunduk kepada setan, dan seluruh dunia akan diberikan kepadaNya.

Penerapan:

  • Bandingkan ini dengan ajaran Theologia Kemakmuran, atau banyak ajaran lain dalam kalangan Kharismatik yang mengatakan bahwa kalau ikut Yesus semua problem bakal beres. Ini menjanjikan mahkota tanpa salib!
  • Semua ajaran yang mengijinkan kompromi supaya terhindar dari kesukaran / penderitaan, sejalan dengan godaan setan ini. Misalnya: seorang sekretaris boleh menuruti perintah bossnya untuk berdusta, misalnya dengan mengatakan bossnya tidak ada padahal ada. Ini lagi-lagi merupakan ajaran yang menghendaki mahkota tanpa salib.
  • Nyogok, ngerpek / nyontek, dan korupsi termasuk tindakan yang menginginkan hasil cepat tanpa salib.

b)     Supaya Yesus mendapat hasil yang banyak dan cepat tetapi:

  • tunduk kepada setan.
  • bekerja sama dengan setan.
  • menggunakan cara yang tidak halal.

Setan juga mencobai manusia dengan cara ini, misalnya:

¨      pergi ke dukun untuk dapatkan ‘pesogen’ (jimat untuk menjadikan kaya), atau menggunakan kuasa gelap / jimat supaya usahanya sukses.

Kalau saudara adalah orang yang senang menggunakan kuasa gelap untuk mendapatkan keinginan saudara, perhatikan kata-kata dalam Yes 47:9b – “Kepunahan dan kejandaan dengan sepenuhnya akan menimpa engkau, sekalipun banyak sihirmu dan sangat kuat manteramu”.

¨      korupsi, mencuri, nyogok, ngerpek.

¨      bekerja pada hari Sabat.

¨      melakukan pelayanan gereja dengan menggunakan kuasa gelap (seperti nggeblak, dan mungkin juga kesembuhan)!

¨      menggodai hamba Tuhan supaya memberitakan khotbah yang enak di telinga.

Pokoknya setan berusaha supaya manusia mau mencapai ambisinya dengan menggunakan cara yang tidak halal, atau bahkan dengan menggunakan kuasa setan.

B)  Jawaban Yesus terhadap pencobaan III (ay 10):

1)   Yesus mengusir setan. Ini menunjukkan Yesus lebih besar / berkuasa dari setan.

2)   Yesus mengutip Ul 6:13.

Ada 2 hal yang perlu diperhatikan:

a)   Lagi-lagi Ia menggunakan Firman Tuhan! Jadi, Yesus tidak pernah mengganti senjataNya! Tiga kali Ia diserang, dan tiga kali Ia menggunakan Firman Tuhan untuk menangkis serangan setan!

b)   Ada perbedaan antara Ul 6:13 dengan Mat 4:10.

Ul 6:13 – “Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi namaNya haruslah engkau bersumpah”.

Tetapi dalam terjemahan NIV ada kata ‘only’ (= hanya).

NIV: Fear the LORD your God, serve him only and take your oaths in his name’ (= Takutlah kepada TUHAN, Allahmu, beribadahlah hanya kepada Dia dan bersumpahlah dalam namaNya).

Terjemahan NIV ini salah, karena sebetulnya kata ‘only’ (= hanya) itu tidak ada.

Memang secara implicit, kalau kita harus beribadah kepada Yahweh, maka jelas kita hanya boleh beribadah kepada Dia. Tetapi secara explicit, tidak ada kata ‘hanya’. Tetapi pada waktu Yesus mengutip Ul 6:13 ini dalam Mat 4:10, Ia menjadikan kata ‘hanya’ itu menjadi explicit.

Mat 4:10 – “Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!’”.

3)   Ay 10 – “Maka berkatalah Yesus kepadanya: ‘Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!’”.

Ayat ini menunjukkan bahwa hanya Allahlah yang boleh disembah!

Kita tidak boleh menyembah apapun / siapapun selain Allah, seperti:

  • setan. Misalnya: gereja setan.
  • malaikat (Wah 19:10  Wah 22:8-9).
  • manusia (Kis 10:25-26  Kis 14:14-18). Ini termasuk sungkem dan paikwi kepada orang tua / kakek / nenek. Memang dalam Perjanjian Lama ada banyak penyembahan yang dilakukan terhadap manusia seperti raja, nabi dan sebagainya. Tetapi ingat bahwa pada jaman Perjanjian Lama kata-kata Yesus dalam Mat 4:10 ini belum diucapkan. Ul 6:13 memang sudah ada, tetapi ingat bahwa dalam Ul 6:13 kata ‘hanya’ itu tidak ada. Baru pada waktu Yesus mengutipnya dalam Mat 4:10 kata ‘hanya’ itu ditambahkan. Jadi sejak Mat 4:10 itu diucapkan, tidak boleh lagi ada penyembahan terhadap manusia, sekalipun motivasi / tujuannya hanya untuk penghormatan. Ini terlihat dengan jelas misalnya dalam Kis 10:25-26 dimana Petrus menolak penyembahan dari Kornelius, sekalipun jelas bahwa Kornelius bukan menyembahnya sebagai Allah, tetapi hanya sekedar sebagai penghormatan saja.
  • orang mati, baik itu orang tua, nenek moyang atau Maria / ‘orang suci’.
  • berhala (Kel 20:4-6).

Tetapi Yesus mengijinkan orang menyembah diriNya sendiri (Mat 14:33  Mat 28:9,17  Yoh 9:38  Yoh 20:28), karena Ia memang adalah Allah sendiri.

Penutup.

1)   Iblis pergi dan menunggu saat yang baik.

Luk 4:13 – “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari padaNya dan menunggu waktu yang baik”.

Sekalipun di sini ia sudah dikalahkan, dan ia tidak berhasil menjatuhkan Yesus ke dalam dosa, tetapi ia bukannya lalu pergi selama-lamanya. Ia memang pergi, tetapi ia menunggu saat yang baik untuk menyerang / mencobai lagi. Ada 2 hal yang bisa kita dapatkan dari sini:

a)   Setan mempunyai ketekunan yang luar biasa dalam mencobai, baik dalam mencobai Yesus maupun dalam mencobai kita.

Apakah saudara tekun dalam:

  • belajar Firman Tuhan?
  • berdoa?
  • berjuang melawan pencobaan / dosa? Bdk. Ibr 12:1-4.

Kalau setannya tekun dalam mencobai, sedangkan kita tidak tekun dalam belajar Firman Tuhan, berdoa dan berjuang melawan pencobaan, maka bagaimana kita bisa menang?

b)   Kalau saudara berhasil mengatasi serangan / pencobaan setan, jangan lalu ‘mabuk / lupa daratan’ oleh kemenangan itu. Ingat bahwa ia menunggu saat yang baik untuk menyerang saudara lagi! Jadi tetaplah waspada dan berjaga-jaga.

2)   Malaikat-malaikat melayani Yesus (ay 11  Mark 1:13b).

Ini pasti termasuk memberi Yesus makan. Yesus tidak mau menggunakan cara yang tidak halal untuk mendapatkan makanan, dan sekarang Ia mendapatkan makanan dari malaikat!

Penerapan:

Kalau saudara mempunyai kebutuhan yang hebat, misalnya kesembuhan atau uang atau pasangan hidup, dan setan menawarkan kepada saudara untuk bisa mendapatkan hal-hal itu secara salah, misalnya dengan mendapatkan kesembuhan melalui dukun, mendapatkan uang dengan korupsi, mendapatkan pasangan hidup yang tidak seiman, dsb, maka jangan turuti tawaran setan itu. Sekalipun tawaran setan itu kelihatannya adalah satu-satunya jalan keluar, saudara tetap harus menolaknya! Kalau saudara menolak tawaran setan itu, dan Tuhan menganggap bahwa apa yang saudara inginkan itu memang merupakan kebutuhan saudara, maka Tuhan sendiri akan menyediakan kebutuhan saudara itu pada saatNya dan dengan caraNya sendiri!

MATIUS 4:12-25

I) Yesus mulai dengan pelayananNya (ay 12-17).

A)  Yesus pindah ke Galilea setelah mendengar bahwa Yohanes Pembaptis ditangkap (ay 12).

Ini Ia lakukan bukan karena takut tetapi karena Ia tahu bahwa saatnya untuk mati belum tiba. Pada waktu Ia tahu bahwa saatnya untuk mati sudah tiba, Ia bahkan sengaja melangkahkan kakiNya ke Yerusalem (Mat 16:21-23  Mat 17:22-23  Mat 20:17-19  Mat 26:1-2).

B)  Yesus tinggal di Kapernaum, di daerah Zebulon dan Naftali untuk menggenapi Firman Tuhan (ay 13-16).

Ay 15-16 adalah kutipan bebas dari Yes 9:1. Tuhan Yesus memang datang untuk menggenapi Perjanjian Lama (Mat 5:17).

C)  Yesus mulai dengan pelayananNya (ay 17).

Dia adalah Allah sendiri tetapi Ia datang untuk melayani, bukan untuk dilayani.

Mat 20:28 – “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.’”.

Bagaimana dengan saudara?

Penerapan:

  • Apakah saudara merasa terlalu tinggi untuk melayani? Kalau Yesus yang adalah Allah itu mau melayani, maka jelas bahwa kita tidak boleh merasa gengsi untuk menjadi seorang ‘pelayan’ dalam gereja!
  • Apakah saudara hanya mau dilayani dan tidak mau melayani?

D)  Inti pemberitaan Firman Tuhan yang diberitakan oleh Yesus sama dengan inti khotbah Yohanes Pembaptis (ay 17 bdk. Mat 3:2).

II) Yesus memanggil murid-muridNya (ay 18-22).

A)  Panggilan Tuhan Yesus (ay 19).

1)   Mengikut Yesus (ay 19 – ‘Ikutlah Aku’).

Kalau saudara menjadi orang kristen, pastikanlah bahwa saudara bukan sekedar mengikuti suami, istri, orang tua, teman, pendeta, ataupun merk / aliran gereja tertentu, tetapi betul-betul mengikut Yesusnya!

Mengikut Yesus ini mencakup beberapa hal:

a)   Saudara harus percaya kepada Yesus sebagai Juruselamat dan Tuhan. Saudara tidak bisa mengikuti Dia tanpa mempercayai Dia.

  • Kalau saudara sekedar sudah dibaptis atau rajin ke gereja, atau bahkan rajin melayani, tetapi hati saudara sebetulnya belum percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sebetulnya saudara bukan pengikut Kristus!
  • Kalau saudara percaya kepada Yesus sebagai dokter, pemberi berkat, pelaku mujijat, pemberi kekayaan, dsb, tetapi tidak sebagai Juruselamat dan Tuhan, maka saudara juga bukan pengikut Kristus!
  • Ini adalah langkah pertama dan terutama. Tanpa langkah ini semua langkah yang lain tidak ada gunanya!

b)   Belajar Firman Tuhan.

Bagaimana saudara bisa mengikut Dia, kalau saudara tidak tahu apa yang Ia inginkan? Dan untuk bisa tahu apa yang Ia inginkan, saudara harus belajar Firman Tuhan dengan rajin dan tekun. Untuk itu bacalah seluruh Kitab Suci, ikutlah Pemahaman Alkitab yang baik, dan bacalah buku-buku rohani yang baik.

c)   Persekutuan dengan Tuhan / saat teduh.

Saat teduh, dimana saudara bisa berdoa secara pribadi dan membaca Firman Tuhan secara pribadi, adalah sesuatu yang sangat penting dalam mengikut Kristus, dan karenanya hal itu harus saudara lakukan dengan tekun! Bdk. Yoh 15:1-8.

d)   Ketaatan.

Tidak ada gunanya saudara belajar Firman Tuhan, kalau saudara tidak mentaatinya. Jadi, setiap kali mendengar, membaca atau belajar Firman Tuhan, selalu perhatikan apakah ada dosa yang harus saudara buang, atau hal baik yang harus saudara lakukan!

2)   Menjadi penjala manusia.

Ada banyak kemiripan antara penjala manusia dengan penjala ikan, misalnya:

a)   Penjala ikan tidak bisa menunggu supaya ikannya datang kepadanya, tetapi ia yang harus pergi ke tempat dimana ada ikan.

Demikian juga kalau kita mau menjadi penjala manusia. Kita tidak boleh hanya menunggu di gereja dengan harapan semua orang akan datang ke gereja, tetapi kita harus pergi mencari jiwa (Mat 28:19). Kita harus pergi kepada orang yang belum percaya kepada Yesus, dan memberitakan Injil kepada mereka, supaya mereka bisa percaya kepada Yesus dan diselamatkan!

Penerapan:

Ada pendeta-pendeta yang tidak mau berkhotbah di gereja-gereja yang sesat, dan ia menghendaki supaya orang-orang di gereja-gereja itu yang datang kepadanya. Ini jelas merupakan sikap sombong yang tidak pada tempatnya, dan bertentangan dengan jiwa penginjilan.

b)   Penjala ikan harus mempunyai ketekunan, dan mereka harus terus berjuang sekalipun mereka berkali-kali menarik jala yang kosong.

Demikian juga dengan penjala manusia. Ingat bahwa Pemberitaan Injil adalah suatu pekerjaan yang paling membutuhkan ketekunan. Pada waktu memberitakan Injil, saudara bisa tidak digubris, tetapi sebaliknya diejek, dibantah, atau bahkan dianiaya dan dibunuh. Sering juga terjadi bahwa kita kelihatannya berhasil mempertobatkan seseorang, tetapi setelah beberapa minggu / bulan, orang itu mundur dan terhilang. Menghadapi semua ini, kita harus tetap tekun dalam memberitakan Injil!

Illustrasi: seorang bernama Bob Wieland (40 tahun), ikut lomba lari marathon, sekalipun ia tidak mempunyai kaki gara-gara perang Vietnam. Ia masuk finish terakhir dengan catatan waktu 4 hari, 2 jam, 48 menit, 17 detik, mulai 2 November 1986 – 6 November 1986! Inilah ketekunan! Dalam pemberitaan Injil, tirulah ketekunannya!

1Kor 15:58 – “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”. Kitab Suci Indonesia agak kurang tepat terjemahannya.

KJV: Therefore, my beloved brethren, be ye stedfast, unmoveable, always abounding in the work of the Lord, forasmuch as ye know that your labour is not in vain in the Lord’ (= Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan selalulah berlimpah-limpah dalam pekerjaan Tuhan, karena engkau tahu bahwa pekerjaanmu tidaklah sia-sia dalam Tuhan).

c)   Penjala ikan harus mempunyai keberanian.

Khususnya di danau Galilea, setiap saat angin ribut bisa datang dengan mendadak tanpa ada tanda-tanda lebih dulu.

Bdk. Mat 8:24 – “Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur”.

Jadi, penjala ikan di sana menghadapi resiko yang sangat besar.

Demikian juga dengan menjadi penjala manusia. Kalau kita memberitakan Injil / Firman Tuhan, maka ada resiko yang harus berani kita ambil. Bagaimanapun bijaksananya dan benarnya cara yang kita lakukan dalam memberitakan Injil / Firman Tuhan, hal itu selalu bisa menimbulkan kemarahan, kebencian, permusuhan, penganiayaan terhadap diri kita (bdk. ay 12 yang menunjukkan bahwa Yohanes Pembaptis ditangkap karena menegur Herodes).

B)  Orang-orang yang dipanggil oleh Yesus.

1)   Mereka sedang sibuk (ay 18,21).

Dan kesibukan mereka ini bukanlah kesibukan yang berdosa, seperti sibuk merampok, sibuk berzinah, dsb. Kesibukan mereka adalah kesibukan yang positif / baik karena mereka sibuk melakukan pekerjaan yang halal. Tetapi mereka tetap dipanggil oleh Yesus untuk mengikut Dia dan melayani Dia.

Penerapan:

Jangan menolak panggilan Tuhan (baik untuk ikut Pemahaman Alkitab maupun pelayanan) dengan alasan sibuk! Kalau saudara melakukan hal itu, dan suatu kali saudara membutuhkan Tuhan dan berdoa kepadaNya, jangan salahkan Tuhan kalau Ia berkata: “Aku terlalu sibuk untuk mendengar ataupun mengabulkan doamu!”.

Bdk. Amsal 1:24-28 – “Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku, bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu, apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu. Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku”.

2)   Mereka adalah orang-orang yang tidak berpendidikan.

a)   Tuhan memanggil orang-orang bodoh untuk mempermalukan orang-orang pandai.

1Kor 1:27-29 – “Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah”.

Karena itu kalau saudara adalah orang yang bodoh / tidak berpendidikan, jangan merasa bahwa Tuhan tidak mau dan tidak bisa memakai saudara. Sebetulnya yang memegang peranan penting bukan diri kita sebagai alat, tetapi Tuhannya sebagai pemakai alat tersebut.

Ilustrasi: senjata yang sederhana di tangan Bruce Lee bisa menjadi sesuatu yang hebat. Demikian juga sekedar pensil dan kertas di tangan seorang pelukis bisa menghasilkan gambar yang bagus.

Tetapi di sisi lain, jangan menjadi orang fanatik yang bodoh, yang senang dan bangga akan kebodohan mereka.

Calvin: “When our Lord chose persons of this description it was not because he preferred ignorance to learning: as some fanatics do, who are delighted with their ignorance, and fancy that, in proportion as they hate literature, they approach the nearer to the apostles” (= Pada waktu Tuhan kita memilih orang-orang seperti ini itu bukanlah karena Ia lebih senang orang bodoh dari pada yang terpelajar, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang fanatik, yang senang dengan kebodohan mereka, dan berkhayal bahwa makin mereka membenci literatur makin mereka mirip dengan rasul-rasul).

Dalam persoalan pemanggilan orang bodoh / tak terpelajar ini, kita perlu mengingat bahwa pada waktu Yesus memanggil orang bodoh / tak berpendidikan, Ia bukannya lalu membiarkan mereka bodoh / tak berpendidikan terus. Sebaliknya Yesus mengajar mereka sehingga menjadi pandai (dalam hal rohani).

Perlu juga diingat bahwa dalam Kitab Suci orang kristen sering disebut dengan istilah ‘murid’. Mengapa? Karena ‘murid’ adalah seorang yang belajar!

Jadi, keadaan bodoh / tak berpendidikan bukan halangan untuk melayani Tuhan, tetapi bagaimanapun ia harus mau belajar!

b)   Ini tidak berarti bahwa Tuhan tidak mau memakai orang yang pandai. Paulus adalah orang pandai dan iapun dipakai oleh Tuhan. Jadi yang penting bukan orangnya, tetapi Tuhan yang memakai orang itu.

C)  Sikap terhadap panggilan Tuhan:

1)   Segera (ay 20,22).

Yesus tidak senang dengan penundaan.

Yoh 4:35-36 – “Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita”.

Luk 9:59-60 – “Lalu Ia berkata kepada seorang lain: ‘Ikutlah Aku!’ Tetapi orang itu berkata: ‘Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku.’ Tetapi Yesus berkata kepadanya: ‘Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.’”.

Mengapa Yesus tidak senang dengan penundaan? Karena:

a)   Pelayanan / pemberitaan Injil adalah suatu tindakan penyelamatan terhadap orang yang setiap saat bisa masuk ke neraka. Jadi, ini merupakan sesuatu yang bersifat mendesak!

b)   Pada saat menunda, kita sudah tidak taat!

Kalau suatu saat saudara berkata kepada pembantu saudara: ‘Ambilkan saya minum’, dan ia menjawab: ‘Besok saja saya ambilkan’, apakah saudara menganggap bahwa ia mentaati saudara?

c)   Dari penundaan biasanya datang pembatalan.

2)   Rela meninggalkan apa saja (ay 20,22).

Mereka meninggalkan pekerjaan dan keluarganya (bdk. Mat 10:37). Memang tidak semua orang dipanggil Tuhan untuk meninggalkan keluarga / pekerjaan (contoh: Mark 5:18-20), tetapi kalau saudara diminta meninggalkan ke­luarga / pekerjaan / study, maukah saudara taat?

Catatan: Tuhan bisa memanggil seseorang untuk meninggalkan orang tua, kakak, adik. Ini yang saya maksud dengan ‘keluarga’. Tetapi Tuhan tidak mungkin memanggil seseorang untuk meninggalkan istrinya / suaminya!

3)   Mereka menanggapi panggilan Tuhan secara keseluruhan.

  • Ada orang yang mau ikut Yesus tetapi tidak mau menjala manusia.
  • Ada orang yang mau menjala manusia, tetapi dirinya sendiri tidak mau ikut Yesus (tidak mau belajar Firman Tuhan dsb).

Ini adalah orang yang menanggapi hanya sebagian dari panggilan Yesus. Tetapi murid-murid Yesus mengikut Yesus dan juga menjala manusia. Bagaimana dengan saudara? Apakah saudara menanggapi panggilan Tuhan secara keseluruhan atau hanya sebagian?

III) Pelayanan Yesus dan murid-muridNya (ay 23-25).

1)   Murid-murid belajar melayani dengan melihat Yesus melayani.

a)   Bagi kita yang sudah bisa melayani, harus mengajak orang yang belum bisa melayani dalam pelayanan, supaya mereka bisa melayani.

b)   Bagi kita yang belum bisa melayani, harus mau belajar melayani, baik dari buku-buku, Pemahaman Alkitab, maupun dari orang-orang yang sudah bisa melayani.

Awas! Ada beda antara orang yang tidak bisa melayani dalam suatu pelayanan tertentu karena memang ia tidak berkarunia di situ dan orang yang tidak bisa karena belum / tidak mau belajar melayani!

2)   Tuhan Yesus melayani dalam rumah ibadat / synagogue (ay 23).

Baik Tuhan Yesus maupun rasul-rasul sangat menekankan pelayanan dalam rumah ibadat / synagogue dan Bait Allah (Mat 9:35  Mat 13:54  Mark 1:39  Luk 4:15-33  Luk 13:10  Yoh 18:20  Kis 3:11-dst  Kis 4:2  Kis 5:20-dst  Kis 9:20  Kis 13:5-44  Kis 14:1  Kis 17:2,10  Kis 18:4,19,26).

Memang Tuhan Yesus juga melakukan pelayanan di luar Bait Allah / rumah ibadat, misalnya dalam Yoh 4 pada waktu Ia melayani perempuan Samaria. Tetapi bagaimanapun jelas­lah bahwa Yesus sangat menekankan pelayanan dalam rumah ibadat / Bait Allah. Ini mengajar kita untuk juga menekankan pelayanan di dalam gereja.

Penerapan:

Apakah saudara menekankan pelayanan di dalam gereja? Pelayanan apa yang saudara lakukan di dalam gereja? Adalah merupakan sesuatu yang aneh bahwa jaman sekarang ada banyak orang mau aktif dalam persekutuan-persekutuan, tetapi sama sekali tidak aktif di gereja!

3)   Tuhan Yesus melayani secara rohani dan jasmani (ay 23).

Tetapi dalam ay 23 itu pelayanan rohani disebut lebih dahulu (bdk. Mat 9:1-8 – pengampunan dosa didahulukan dari pada penyembuhannya). Jadi kitapun harus lebih menekankan pelayanan rohani, tanpa menga­baikan pelayanan jasmani.

Penerapan:

  • Banyak gereja-gereja yang penekanan pelayanannya sering lebih dititik-beratkan pada kesembuhan, yang jelas merupakan pelayanan jasmani. Ini salah!

·        Dalam kalangan gereja-gereja Protestan yang liberal, pelayanan yang sering ditekankan adalah memberikan bantuan sosial bagi orang yang menderita seperti yatim piatu, korban bencana alam, dsb. Ini lagi-lagi hanya pelayanan jasmani, dan ini merupakan sesuatu yang salah. Gereja harus menekankan pemberitaan Injil / Firman Tuhan dan bukannya berubah menjadi suatu badan sosial belaka!

MATIUS 5:1-12

Ay 1: “Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-muridNya kepadaNya”.

Kata-kata ‘naiklah Ia ke atas bukit’ dalam ay 1 ini kelihatannya bertentangan dengan bagian paralelnya, yaitu Luk 6:17 yang berbunyi: ‘Lalu Ia turun … pada suatu tempat yang datar’.

Bagaimana mengharmoniskan 2 bagian yang kelihatannya bertentangan / kontradiksi ini?

Calvin berpendapat bahwa Luk 6:17-19 terpisah dari Luk 6:20-dst.

John Stott mengatakan bahwa mungkin ‘tempat datar’ itu terletak di bukit. Matius menyoroti secara global dan karena itu ia berkata ‘naiklah Ia ke atas bukit’; sedangkan Lukas menyoroti bagian / daerah yang lebih kecil, sehingga ia berkata ‘turun ke tempat yang datar’.

                                                                                    penyorotan Matius

                                                                                                penyorotan Lukas

                                                                                                            tempat datar

                                                                                                                                    Bukit

Ilustrasi: Tanggal 12 Nopember 2001 ada pesawat Amerika jatuh di New York, menimpa pemukuman yang padat penduduk. Malam itu saya menonton 2 channel TV cable. CNN mengatakan bahwa ada 4 rumah yang terbakar, sedangkan Fox News mengatakan bahwa sedikitnya ada 12 rumah yang terbakar. Rasanya kedua berita ini bertentangan. Tetapi besoknya segala sesuatu menjadi jelas, karena dikatakan bahwa 4 rumah terbakar total / hancur total, dan 12 rumah rusak (damaged). Jadi CNN mengatakan 4 rumah, karena hanya menyoroti rumah-rumah yang terbakar hebat, sedangkan Fox News mengatakan sedikitnya 12 rumah, karena menyoroti seadanya rumah yang terbakar, tak peduli terbakar banyak ataupun sedikit. Juga tentang korban dalam pesawat, malam itu sebentar dikatakan bahwa jumlah penumpang 246 orang + 9 awak pesawat, sebentar lagi dikatakan 251 penumpang + 9 crew pesawat, sebentar lagi kembali 246 penumpang + 9 awak pesawat. Besoknya semua menjadi jelas, karena dikatakan ada 5 bayi yang dipangku orang tuanya dalam pesawat terbang yang jatuh itu. Rupanya waktu mengatakan 246 penumpang, mereka tidak menghitung bayi-bayi (mungkin bayi naik pesawat tanpa ticket?). Jadi apa yang kelihatannya kontradiksi, ternyata hanya merupakan berita yang berbeda karena sudut pandang / penekanan yang berbeda. Sebetulnya tidak ada kontradiksi!

Ay 2: “Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kataNya:”.

Tuhan Yesus mulai mengajar. Jelas sekali bahwa Yesus sangat menekankan pengajaran Firman Tuhan.

Bdk. Mark 1:37-38 – “waktu menemukan Dia mereka berkata: ‘Semua orang mencari Engkau.’ JawabNya: ‘Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.’”.

Karena itu gereja / hamba Tuhan / orang Kristen yang baik juga harus menekankan pengajaran Firman Tuhan. Perwujudannya:

  • Firman Tuhan, dan bukannya puji-pujian, harus mendapatkan tempat yang terutama dalam kebaktian. Jangan melakukan rapat, latihan koor, dan apapun juga yang lain pada jam Kebaktian / Pemahaman Alkitab.
  • Gereja / Pendeta harus mengadakan Pemahaman Alkitab, yang betul-betul menggali dan membahas Kitab Suci. Salah satu hal yang bisa dijadikan penentu bagus atau tidaknya gereja tersebut, adalah berapa persentase dari jemaat yang hadir dalam Pemahaman Alkitab.
  • Orang kristen harus mencari Firman Tuhan, baik melalui kebaktian, Pemahaman Alkitab, Saat Teduh, buku-buku rohani, dan juga dari Alkitab langsung (Bible Reading).

Ay 3: “‘Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”.

1)   Arti dari kata ‘berbahagialah’.

a)   Kata ‘bahagia’ di sini tidak menunjuk pada ‘perasaan bahagia’ yang terasa dalam hati kita. Kalau kata ‘bahagia’ memang menunjuk pada perasaan bahagia dalam hati kita, bagaimana mungkin bisa ada ay 4 yang berbunyi: “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur”? Disamping itu terjemahan yang sebenarnya bukan ‘berbahagialah’, tetapi ‘blessed’ (= diberkatilah) seperti dalam KJV/RSV/NIV/NASB. Memang ada yang menterjemahkan ‘happy’ (= berbahagialah) seperti Good News Bible, tetapi ini merupakan terjemahan yang kurang tepat.

b)   Juga kata ‘berbahagialah’ / ‘diberkatilah’ ini tidak menunjuk pada kebahagiaan / keadaan diberkati menurut ukuran dunia / jasmani, seperti kaya, sukses, sehat dan sebagainya. Mengapa? Karena kalau demikian bagaimana bisa dikatakan ‘Berbahagialah / diberkatilah orang yang dianiaya / dicela / difitnah’ seperti dalam Mat 5:10-11?

c)   Kata ‘berbahagialah’ / ‘diberkatilah’ di sini menunjuk pada kebahagiaan / keadaan diberkati dalam pandangan Tuhan. Jadi, dalam pandangan Tuhan orang-orang seperti dalam Mat 5:3-12 adalah orang yang berbahagia / diberkati. Bisa saja pandangan Tuhan ini bertentangan dengan pandangan manusia. Jadi bisa saja kita miskin, gagal, menderita, dianiaya, lemah dsb, tetapi dalam pandangan Tuhan kita berbahagia / diberkati. Sebaliknya bisa saja kita kaya, berkedudukan tinggi, sukses, dsb, tetapi dalam pandangan Tuhan kita celaka / terkutuk.

Bdk. Luk 6:24-26 – “Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.’”.

Kalau kita melihat cerita tentang Lazarus dan orang kaya (Luk 16:19-31), yang mana dari mereka yang berbahagia / diberkati menurut pandangan manusia? Pasti orang kayanya. Tetapi yang mana yang berbahagia / diberkati dalam pandangan Tuhan? Jelas Lazarusnya!

Tetapi awas! Ini tidak berarti bahwa semua orang yang miskin, gagal, menderita pasti berbahagia / diberkati dalam pandangan Tuhan! Adalah mungkin untuk menjadi miskin, gagal, menderita, dsb, dan sekaligus celaka / terkutuk dalam pandangan Tuhan. Contoh: orang yang miskin, menderita dsb, tetapi tetap tidak percaya / ikut Tuhan.

Juga tidak berarti bahwa orang yang kaya, sukses, berkedudukan tinggi pasti celaka / terkutuk dalam pandangan Tuhan. Bisa saja seseorang kaya, sukses, berkedudukan tinggi, dan sekaligus berbahagia / diberkati dalam pandangan Tuhan. Contoh: Abraham, Daud, dan sebagainya.

Renungkan: apakah saudara ingin menjadi orang yang berbahagia / diberkati dalam pandangan manusia atau dalam pandangan Tuhan?

Arti tentang kata ‘berbahagialah’ / ‘diberkatilah’ ini harus kita camkan dalam sepanjang pelajaran tentang ‘Ucapan Bahagia’ dalam Mat 5:3-12 ini.

2)   ‘Miskin di hadapan Allah’.

a)   ‘Miskin’.

Ada beberapa kata bahasa Yunani yang berarti ‘miskin’:

  • PENES atau PENICHROS yang artinya adalah ‘miskin tetapi masih mempunyai sesuatu’.
  • PTOCHOS yang artinya adalah ‘miskin dalam arti sama sekali tidak punya apa-apa’. Dalam Luk 16:20 kata ‘pengemis’ yang ditujukan kepada Lazarus itu dalam bahasa Yunaninya adalah PTOCHOS. Bacalah Luk 16:20-21 untuk mendapat gambaran tentang PTOCHOS itu.

Luk 16:20-21 – “Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya”.

Ia bukan hanya tidak mempunyai rumah, tetapi juga tidak mempunyai uang untuk membeli makanan atau obat / perban untuk mengobati / membalut luka-lukanya.

Pulpit Commentary:

*        “PTOCHOS, in classical and philosophical usage, implies a lower degree of poverty than PENES (2Cor 9:9)” [= PTOCHOS, dalam penggunaan klasik dan filosofis, menunjukkan tingkat kemiskinan yang lebih rendah dari PENES (2Kor 9:9)].

*        “The PENES may be so poor that he earns his bread by daily labour; but the PTOCHOS is so poor that he only obtains his living by begging … The PENES has nothing superfluous, the PTOCHOS has nothing at all” (= Orang yang PENES adalah orang yang miskin sehingga ia mendapatkan roti / makanannya melalui kerja keras setiap hari; tetapi orang yang PTOCHOS adalah orang yang begitu miskin sehingga ia hanya mendapatkan penghidupannya melalui pengemisan … Orang yang PENES tidak mempunyai apapun secara berlebihan, orang yang PTOCHOS sama sekali tidak mempunyai apapun).

Dalam Luk 21:1-4 terdapat cerita tentang seorang janda miskin yang memberikan seluruh uangnya kepada Tuhan.

Luk 21:1-4 – “(1) Ketika Yesus mengangkat mukaNya, Ia melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. (2) Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu. (3) Lalu Ia berkata: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu. (4) Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.’”.

Dalam Luk 21:2 ada kata ‘miskin’ dan demikian juga dalam Luk 21:3, tetapi dalam Luk 21:2 digunakan kata Yunani PENICHROS dan dalam Luk 21:3 digunakan kata Yunani PTOCHOS. Mengapa berbeda? Karena dalam Luk 21:2 sekalipun ia miskin, ia masih mempunyai uang sedikit, jadi digunakan kata PENICHROS. Tetapi setelah uangnya dipersembahkan semua, ia tidak mempunyai apa-apa lagi, sehingga dalam Luk 21:3 digunakan kata PTOCHOS.

Kata ‘miskin’ yang digunakan dalam Mat 5:3 adalah PTOCHOS!

b)   Kata-kata ‘di hadapan Allah’ salah terjemahan.

NIV/NASB: in spirit (= dalam roh).

Jadi jelaslah bahwa yang dimaksud dengan ‘miskin’ dalam Mat 5:3 ini bukanlah ‘miskin dalam hal jasmani / uang’.

Dalam persoalan ini, dalam dunia ini ada 3 golongan manusia:

1.   Orang yang merasa dirinya baik (‘kaya dalam roh’) seperti:

a.   Orang Farisi dalam Luk 18:9-12 (perumpamaan Yesus tentang 2 orang yang berdoa di Bait Allah).

Luk 18:9-12 – “Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini: ‘Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku”.

Perhatikan bahwa dalam doanya bukan saja ia merendahkan orang-orang lain yang ia anggap berdosa / jahat, tetapi ia juga ‘memamerkan’ kebaikan / kesalehannya kepada Tuhan!

b.   Jemaat Laodikia.

Wah 3:17 – “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang”.

Apakah saudara merasa diri saudara baik / lebih baik dari orang lain? Ingat bahwa Mat 5:3 yang berbunyi “Berbahagialah orang yang miskin dalam roh, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” secara implicit menunjukkan “Celakalah orang yang kaya dalam roh (yang merasa diri baik) karena merekalah yang empunya neraka (akan pergi ke neraka)”.

2.   Orang yang merasa diri berdosa tetapi toh masih merasa dirinya mempunyai kebaikan. Ini adalah miskin dalam arti PENES / PENICHROS bukan PTOCHOS! Jadi golongan ini belum bisa dikatakan berbahagia! Mungkin ini adalah golongan orang yang paling banyak terdapat di gereja. Mereka merasa diri sebagai orang berdosa, tetapi mereka juga merasa diri lumayan baik, karena mereka masih mau pergi ke gereja, memberi persembahan, melayani Tuhan, tidak melakukan hal-hal yang maksiat, dan sebagainya. Mereka tidak merasa diri sebagai hitam legam, tetapi sebagai abu-abu atau putih berbintik-bintik. Apakah saudara termasuk golongan ini?

3.   Orang yang merasa dirinya penuh dosa dan sama sekali tidak bisa berbuat baik.

Pulpit Commentary: “Christ here affirms the blessedness of those who are in their spirit absolutely devoid of wealth. It cannot mean that they are this in God’s opinion, for in God’s opinion all are so. It means therefore, that they are this in their own opinion” (= Di sini Kristus menegaskan keadaan diberkati dari orang-orang, yang dalam roh mereka sama sekali tidak mempunyai kekayaan. Ini tidak bisa diartikan bahwa mereka adalah seperti itu dalam pandangan Allah, karena dalam pandangan Allah semua adalah demikian. Karena itu, itu berarti bahwa mereka adalah demikian dalam pandangan mereka sendiri).

Jadi, orang yang termasuk golongan ini adalah orang yang menyadari sepenuhnya bahwa hidupnya hanyalah dosa, dosa, dan dosa. Ia tidak menganggap diri sebagai putih, abu-abu, putih berbintik-bintik, tetapi sebagai hitam legam.

Kalau saudara adalah orang yang merasa diri baik / saleh / suci, atau lumayan baik, maka coba perhatikan gambaran Firman Tuhan di bawah ini tentang keadaan manusia di hadapan Allah.

Yes 64:6a – “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor”.

Perhatikan bahwa Yesaya bukan mengatakan ‘segala dosa kami seperti kain kotor’. Ia juga tidak mengatakan ‘sebagian kesalehan kami seperti kain kotor’. Ia mengatakan ‘segala kesalehan kami seperti kain kotor’.

Kalau kesalehan kita digambarkan seperti ‘kain kotor’ di hadapan Allah, bagaimana dengan dosa kita?

Yeh 36:17 – “‘Hai anak manusia, waktu kaum Israel tinggal di tanah mereka, mereka menajiskannya dengan tingkah laku mereka; kelakuan mereka sama seperti cemar kain di hadapanKu”.

Dosa / kejahatan kita digambarkan seperti ‘cemar kain’. Apakah ‘cemar kain’ itu? NIV menterjemahkannya: a woman’s monthly uncleanness’ (= kenajisan bulanan dari seorang perempuan).

Bandingkan juga dengan Im 15:20,24 – “(20) Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga. … (24) Jikalau seorang laki-laki tidur dengan perempuan itu, dan ia kena cemar kain perempuan itu, maka ia menjadi najis selama tujuh hari, dan setiap tempat tidur yang ditidurinya menjadi najis juga”.

Untuk kata ‘cemar kain’ yang pertama (ay 20) NIV menterjemahkan her period’ (= masa datang bulannya), sedangkan untuk kata ‘cemar kain’ yang kedua (ay 24) NIV menterjemahkan ‘her monthly flow’ (= aliran bulanannya).

Jadi Kitab Suci menggambarkan kesalehan kita seperti kain kotor, dan menggambarkan dosa / kejahatan kita seperti cairan yang dikeluarkan oleh seorang perempuan pada saat mengalami datang bulan!

Kalau saudara adalah orang yang menganggap diri saudara suci atau lumayan baik, renungkan bagian ini!

Contoh orang yang termasuk PTOCHOS:

  • Rasul Paulus.

Ro 7:18-19 – “Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat”.

1Tim 1:15 – “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: ‘Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa,’ dan di antara mereka akulah yang paling berdosa”.

Merupakan sesuatu yang aneh bahwa pada saat Paulus belum bertobat, ia menganggap dirinya bisa mentaati hukum Taurat tanpa cacat.

Fil 3:4-6 – “(4) Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: (5) disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, (6) tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat”.

Tetapi setelah ia bertobat, dan tumbuh dalam pengertian Firman Tuhan dan kekudusan, ia justru merasa dirinya penuh dengan dosa.

  • Pemungut cukai dalam Luk 18:13 – “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini”.
  • Anak bungsu / terhilang.

Luk 15:17-19 – “Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa”.

3)   ‘Karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga’.

Inilah alasan mengapa golongan ini disebut berbahagia: mereka adalah pemilik kerajaan Sorga. Tetapi mengapa mereka disebut sebagai pemilik kerajaan surga?

a)   Karena orang seperti ini tidak akan berusaha masuk surga dengan usahanya sendiri. Dia akan mengemis pengampunan kepada Tuhan (bdk. Luk 18:13-14). Sebaliknya, orang yang merasakan dirinya baik / lumayan akan berusaha masuk surga dengan usahanya / perbuatan baiknya sendiri. Ini tidak mungkin berhasil, karena Kitab Suci memang tidak pernah mengajarkan keselamatan karena perbuatan baik! Jadi, orang-orang seperti ini justru akan masuk neraka!

b)   Kristus juga berkata bahwa Ia datang untuk memanggil orang berdosa bukan orang benar.

Mat 9:10-13 – “Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-muridNya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: ‘Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?’ Yesus mendengarnya dan berkata: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.’”.

Kata-kata Yesus ini tidak berarti bahwa dalam dunia ini ada orang-orang yang benar dan ada orang-orang yang berdosa. Tidak, Kitab Suci mengatakan bahwa semua orang berdosa (Ro 3:10-12,23), tetapi ada yang sekalipun berdosa tetapi menganggap dirinya baik / benar, dan ada yang menyadari dirinya berdosa. Yesus datang bukan untuk kelompok pertama tetapi untuk kelompok kedua!

4) Cara menjadi PTOCHOS.

a)   Berdoalah dengan tekun supaya Tuhan membukakan mata saudara sehingga saudara bisa melihat dosa-dosa saudara. Salah satu fungsi Roh Kudus adalah menyadarkan kita dari dosa.

Yoh 16:8 – “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman”.

Tanpa pekerjaan Roh Kudus kita tidak mungkin menjadi PTOCHOS!

Banyak orang berdoa meminta berkat, kesembuhan, bahkan karunia-karunia, tetapi tidak banyak yang meminta pencelikan terhadap dosa.

b)   Jangan membandingkan diri dengan orang lain.

Dengan membandingkan diri dengan orang yang jahat kita akan merasa diri kita baik (bdk. Luk 18:11 – orang Farisi itu merasa diri baik karena ia membandingkan dirinya dengan pemungut cukai dan orang-orang berdosa yang lain). Standard hidup kita adalah Firman Tuhan / kehidupan Tuhan Yesus, bukan kehidupan orang lain.

Illustrasi: seorang murid yang mendapat nilai 4 bisa saja merasa nilainya bagus, kalau ia membandingkan dengan murid yang lebih bodoh, yang mendapat nilai 2.

c)   Belajarlah Firman Tuhan!

  • Satu hal yang perlu dicamkan adalah: saudara harus menggabungkan point no a) dan point no c) ini. Hanya berdoa untuk meminta Roh Kudus mencelikkan mata kita terhadap dosa-dosa kita, tetapi tidak mau belajar Firman Tuhan, tidak akan menjadikan kita PTOCHOS. Mengapa? Karena cara Roh Kudus mencelikkan mata kita adalah dengan menggunakan Firman Tuhan. Sebaliknya, kalau kita hanya belajar Firman Tuhan tetapi tidak berdoa untuk meminta pencelikan terhadap dosa-dosa kita dari Roh Kudus, mungkin sekali kita akan menjadi semacam ahli-ahli Taurat / orang-orang Farisi, yang hanya melihat kesalahan orang-orang lain, tetapi merasa dirinya benar (self-righteous person).
  • Firman Tuhan menunjukkan dosa-dosa kita (Ro 3:20  2Tim 3:16). Dan juga, makin kita mengerti Firman Tuhan, makin kita akan diperhadapkan dengan Allah yang maha suci sehingga kita makin akan merasa penuh dosa.

d)   Bandingkan Firman Tuhan dengan diri saudara sendiri, jangan dengan orang lain. Firman Tuhan harus menjadi cermin, bukan kaca spion! Memang kalau kita sudah membandingkan Firman Tuhan dengan diri kita, tentu kita juga boleh membandingkannya dengan orang lain, karena kita harus saling memperhatikan dan mendorong dalam perbuatan baik (Ibr 10:24-25).

e)   Jangan mencari alasan / kambing hitam untuk menutupi dosa saudara atau membenarkan kesalahan saudara! Bdk. Kej 3:12-13  1Sam 15:13-15,20-21. Salah satu cara mencari kambing hitam yang saat ini banyak terdapat, khususnya dalam kalangan Kharismatik dan Pentakosta, adalah dengan melemparkan kesalahan kepada roh zinah, roh dusta, roh marah, dan sebagainya. Dalam menghadapi ajaran seperti ini perlu diingat bahwa Adam dan Hawa juga jatuh karena serangan setan, dan setan memang disalahkan dan dihukum, tetapi Adam dan Hawa juga! Jadi, kalau mereka hanya menyalahkan roh dusta, roh zinah dsb, tetapi tidak menekankan bahwa orang yang berdusta dan berzinah itu harus bertobat, maka itu berarti mereka hanya mencari kambing hitam.

Makin saudara menutupi dosa dan mempertahankan dosa-dosa saudara, makin keras hati saudara. Tetapi makin saudara mentaati Firman Tuhan, makin peka saudara terhadap dosa saudara!

Ay 4: “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur”.

1)   ‘Berdukacita’.

a)   Harus diartikan berhubungan dengan ay 3.

Ini adalah sambungan dari ay 3, dan karena itu harus ditafsirkan berhubungan dengan ay 3nya. Jadi, yang dimaksud dengan dukacita, bukanlah sembarang dukacita, tetapi dukacita karena kesadaran akan dosa. Jadi Mat 5:4 tidak boleh dipisahkan dari Mat 5:3. Kalau saudara sadar bahwa diri saudara penuh dengan dosa, tetapi saudara tidak berdukacita karenanya, saudara bukan orang Kristen! Celakalah saudara!

b)   Arti sebetulnya bukan ‘berdukacita’, tetapi ‘berkabung’.

Kata ‘berduka cita’ (PENTHEO) arti sebenarnya adalah ‘to mourn’ (= berkabung). Bdk. Mark 16:10 dan Kej 37:34 (Septuaginta / LXX). Jadi tidak cukup sekedar sedih, tetapi harus sangat sedih!

Apakah saudara sangat sedih karena dosa-dosa saudara? Apakah saudara sangat sedih karena setiap dosa saudara atau hanya karena dosa-dosa tertentu saja?

Kalau saudara betul-betul mengasihi Allah, dan saudara sadar bahwa setiap dosa menyakiti Allah dan setiap dosa menyebabkan Kristus menderita dan disalibkan sampai mati, maka saudara seharusnya akan sangat sedih karena setiap dosa saudara.

c)   Contoh orang yang berkabung karena dosa:

  • Rasul Paulus dalam Ro 7:24 – “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?”.
  • Daud dalam Maz 51 (baca seluruh Maz 51, yang merupakan doa pengakuan dosa Daud setelah disadarkan dari dosa perzinahan dan pembunuhan yang ia lakukan).
  • Pemungut cukai dalam Luk 18:13.

2)   ‘akan dihibur’.

Orang-orang yang berkabung karena dosa-dosanya ini ‘akan dihibur’, artinya mereka akan diampuni sehingga mereka akan bersukacita kembali.

Ro 7:24-25 – “Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita”.

Maz 51:9,10,16 – “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! … Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilanMu!”.

Luk 18:14 – “Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.’”.

Bagian ini secara implicit tidak membenarkan orang yang berkabung secara berlarut-larut karena dosanya. Kita harus membawa dosa-dosa itu kepada Kristus, meminta pengampunan dariNya, percaya bahwa Ia pasti mau mengampuni dosa kita itu, merasakan penghiburan dari pengampunan tersebut, dan bersukacita kembali!

Ay 5: “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi”.

A)  ‘Lemah lembut’.

1)   Arti yang salah:

  • seperti ‘putri Solo’.
  • weakness (= kelemahan).

Seseorang berkata: “Meekness is not weakness” (= Kelembutan bukanlah kelemahan)!

2)   Kata ‘lemah lembut’ dalam bahasa Yunaninya adalah PRAUS, yang merupakan suatu kata yang sukar sekali untuk diterjemahkan. William Barclay memberikan 3 hal untuk menjelaskan arti PRAUS ini:

a)   Ia mengatakan bahwa Aristotle sering mendefinisikan suatu sifat di antara dua sifat yang extrim. Misalnya: murah hati terletak diantara pelit / kikir dan boros.

PRAUS terletak diantara ‘marah yang berlebih-lebihan’ dan ‘tidak pernah marah’. Jadi, orang yang PRAUS bukannya tidak pernah marah, juga bukannya marah yang berlebihan, tetapi selalu marah pada saat yang tepat. Perlu diingat bahwa marah belum tentu merupakan dosa. Musa disebut sebagai orang yang lemah lembut (Bil 12:3), tetapi ia pernah marah (Kel 32:19).

Bil 12:3 – “Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas muka bumi”.

Kel 32:19 – “Dan ketika ia dekat ke perkemahan itu dan melihat anak lembu dan melihat orang menari-nari, maka bangkitlah amarah Musa; dilemparkannyalah kedua loh itu dari tangannya dan dipecahkannya pada kaki gunung itu”.

Demikian juga dengan Tuhan Yesus. Ia menyebut diriNya lemah lembut (Mat 11:29), tetapi berulang-ulang Ia marah (Mat 23:13-36  Yoh 2:13-17  Mark 3:5).

Mat 11:29 – “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan”.

Mark 3:5 – “Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekelilingNya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: ‘Ulurkanlah tanganmu!’ Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu”.

Yoh 2:13-17 – “Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. Dalam Bait Suci didapatiNya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkanNya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkanNya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: ‘Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah BapaKu menjadi tempat berjualan.’ Maka teringatlah murid-muridNya, bahwa ada tertulis: ‘Cinta untuk rumahMu menghanguskan Aku.’”.

Kemarahan yang bersifat egois / selfish anger (misalnya kalau kita marah karena ada orang berbuat salah kepada kita), jelas adalah kemarahan yang salah. Tetapi kemarahan yang terjadi pada waktu kita melihat orang lain ditindas (bdk. 1Sam 11:6), atau pada saat kita melihat suatu dosa, atau pada saat kita melihat adanya ajaran sesat (Wah 2:2  2Kor 11:4), jelas merupakan kemarahan yang benar.

1Sam 11:6 – “Ketika Saul mendengar kabar itu, maka berkuasalah Roh Allah atas dia, dan menyala-nyalalah amarahnya dengan sangat”.

Perhatikan bahwa Roh Allah berkuasa atas Saul, tetapi ia menjadi sangat marah, karena ada penindasan terhadap orang-orang Yabesy-Gilead.

Wah 2:2 – “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta”.

Jemaat gereja Efesus ini dipuji oleh Tuhan, karena mereka tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat / rasul-rasul palsu.

2Kor 11:4 – “Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan, atau memberikan kepada kamu roh yang lain dari pada yang telah kamu terima atau Injil yang lain dari pada yang telah kamu terima”.

Sebaliknya, jemaat Korintus dikecam oleh Paulus karena mereka sabar saja pada waktu ada pengajar-pengajar sesat.

b)   Kata PRAUS juga digunakan terhadap binatang yang sudah dijinakkan / dikuasai sehingga tunduk sepenuhnya kepada pemilik / majikannya. Jadi dalam arti yang kedua ini orang yang PRAUS adalah orang dikuasai / tunduk sepenuhnya kepada Tuhan.

Penerapan:

Kalau saudara mendengar Firman Tuhan yang ‘menyerang’ hidup saudara, apalagi kalau ‘mengurangi’ penghasilan saudara, apakah saudara mau tunduk?

c)   Dalam bahasa Yunani, PRAUS sering dikontraskan dengan sombong. Jadi PRAUS mengandung arti ‘rendah hati’.

Bdk. Maz 37:11 – “Tetapi orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah”.

Kerendahan hati timbul karena pengenalan yang benar tentang diri sendiri. Karena itu Mat 5:3 (kenal diri sendiri sebagai orang penuh dosa) harus terjadi sebelum Mat 5:5 (rendah hati) bisa terjadi.

3)   Tiap orang Kristen harus mempunyai sifat PRAUS ini, karena PRAOTES (kata bendanya) adalah salah satu dari 9 hal yang merupakan buah Roh Kudus (Gal 5:22-23 – ‘kelemah-lembutan’).

B)  ‘Memiliki bumi’.

Ini salah terjemahan. Terjemahan yang benar adalah ‘mewarisi bumi’.

1)   Arti yang salah:

a)   Ajaran Saksi Yehovah yang mengatakan bahwa nanti hanya 144.000 orang yang akan masuk surga, sedangkan sisanya akan tinggal di bumi yang disempurnakan. Ajaran ini bertentangan dengan 2Pet 3:9-12 dan Wah 21:1, yang jelas menunjukkan bahwa bumi / alam semesta akan dihancurkan pada waktu Kristus datang kedua kalinya.

2Pet 3:10-13 – “Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janjiNya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran”.

Wah 21:1 – “Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi”.

b)   Memiliki bumi berarti kita akan jadi kaya (theologia kemakmuran).

2)   Arti yang benar: Ada beberapa kemungkinan:

a)   Kita / orang kristen memang memiliki bumi dalam arti tertentu.

1.   Di dalam Kristus, kita memiliki segala sesuatu (1Kor 3:21,22  2Kor 6:10).

2.   Sekalipun ditinjau secara materi / duniawi orang dunia mempunyai banyak dan orang Kristen mempunyai sedikit tetapi ada hal-hal yang perlu kita ingat:

  • Untuk orang dunia:

*        bukan ia yang memiliki harta, tetapi hartanya yang memiliki / menguasai dia (menjadi dewa).

*        ia tidak mempunyai damai; semua miliknya sia-sia.

  • Sedang untuk orang Kristen, William Hendriksen berkata:

“They may possess only a small portion of this earth or of earthly goods, but a small portion with God’s blessing resting upon it is more than the greatest riches without God’s blessing” (= Mereka mungkin hanya mempunyai sebagian kecil dari bumi ini atau dari harta duniawi, tetapi sebagian kecil disertai berkat Allah di atasnya adalah lebih banyak dari pada kekayaan yang terbesar tanpa berkat Allah).

b)   Yang dimaksud dengan ‘bumi’ adalah ‘langit dan bumi yang baru’ (Wah 21:1).

c)   ‘Memiliki / mewarisi bumi’ berarti ‘diberkati oleh Tuhan’.

Dari mana bisa muncul arti seperti ini? Kata bahasa Yunani yang diterjemahkan ‘bumi’ adalah gh (GE), yang mempunyai bermacam-macam arti yaitu: earth (= bumi), land (= tanah / negeri / daratan), country (= negeri), region (= daerah / wilayah), soil (= tanah), ground (= tanah). Jadi, sekalipun bisa diterjemahkan ‘bumi’, tetapi bisa juga diterjemahkan ‘tanah’ / ‘negeri’. Tuhan berjanji untuk memberikan tanah Kanaan kepada Abraham (Kej 12:1-3,7). Selama ratusan tahun janji itu diulang-ulang kepada bangsa Israel. Akhirnya kata-kata ‘memiliki / mewarisi tanah’ menjadi suatu ungkapan yang artinya ‘menerima berkat Tuhan’ atau ‘diberkati oleh Tuhan’. Karena itu istilah ‘mewarisi bumi’ atau ‘mewarisi negeri’ muncul berulang-ulang, seperti dalam Maz 25:13  Maz 37:9,11,22,29,34  Yes 57:13. Bacalah ayat-ayat tersebut maka saudara akan melihat dengan jelas bahwa istilah ‘mewarisi bumi / negeri’ memang bisa diartikan ‘diberkati oleh Tuhan’.

Ay 6: “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan”.

A)  ‘Lapar dan haus’.

1)   Ini adalah kata kiasan yang artinya ‘rindu’ / ‘ingin sekali’ (bdk. Maz 42:2,3  Maz 63:2).

2)   Ini adalah pertanda dari kehidupan yang sehat; sebaliknya, ‘tidak lapar / haus’ menunjukkan mati / sakit.

3)   ‘Lapar dan haus’ pasti ada wujudnya, yaitu mencari makan / minum.

4)   ‘Lapar dan haus’ terjadi setiap hari; dan kalau orang yang lapar dan haus itu tidak mendapatkan yang diingini, maka orangnya akan menderita.

B)  ‘Kebenaran’.

1)   Ini adalah hal rohani, bukan materi / duniawi.

2)   ‘Kebenaran’ yang dimaksud di sini bukanlah ‘kebenaran secara hukum / legal’ (justification) seperti dalam Ro 9:30-10:4, melainkan ‘kebenaran secara moral’ atau ‘kesucian’.

C)  ‘Lapar dan haus akan kebenaran’.

1)   Orang yang disebut berbahagia adalah orang yang rindu pada hal-hal rohani.

Banyak orang hanya rindu pada hal-hal duniawi / materi seperti sex, uang, kekuasaan, kedudukan, hiburan, makanan / minuman dan lain-lain. Kitab Suci justru memperingatkan kita terhadap hal-hal tersebut (Luk 21:34-36).

2)   Orang yang berbahagia adalah orang yang rindu pada kesucian.

Sadar akan dosa (Mat 5:3) dan sedih karena dosa (Mat 5:4) tidak cukup! Harus disertai dengan keinginan untuk menjadi suci (Mat 5:6). Kerinduan pada kesucian ini tidak terpisahkan dari kebencian pada dosa. Apakah saudara membenci semua dosa? Kalau saudara rindu pada kesucian dan benci pada dosa, itu merupakan pertanda bahwa rohani saudara hidup / sehat; tetapi kalau saudara tidak rindu pada kesucian dan saudara mencintai dosa, itu pertanda bahwa rohani saudara mati / sakit.

3)   Kerinduan pada kesucian / kebencian pada dosa itu harus ada wujudnya, yaitu:

  • Mencari Firman Tuhan (Pemahaman Alkitab, Saat Teduh), karena Firman Tuhan merupakan alat Tuhan untuk menyucikan kita (Yoh 15:3  Yer 23:29a).
  • Berdoa supaya Tuhan menolong saudara dalam kelemahan saudara (Mat 26:41).
  • Menjauhi pencobaan (bdk. Mat 6:13a). Adalah aneh kalau kita berdoa sesuai dengan kalimat ini, tetapi kita justru mendekati pencobaan.

Apakah 3 hal yang merupakan wujud dari keinginan untuk suci ini ada pada saudara? Kalau tidak ada, mungkin saudara sebetulnya tidak rindu untuk suci!

4)   Kerinduan untuk suci dan 3 wujudnya di atas harus ada tiap hari. Dan kalau tak dituruti, saudara akan menderita.

Apakah saudara merasa menderita kalau saudara tidak bisa datang dalam Pemahaman Alkitab? Saudara mungkin sukar untuk melewatkan 1 hari tanpa makanan jasmani, tetapi bagaimana 1 hari kalau tanpa makanan rohani? Apakah saudara ‘menderita’ atau ‘tenang-tenang’ saja?

D)  ‘Akan dipuaskan’.

Artinya:

1)   Akan mendapatkan kesucian (secara bertahap).

Mengapa kesucian saudara tidak bertumbuh? Mungkin karena saudara tidak betul-betul rindu pada kesucian. Kalau saudara betul-betul rindu, saudara pasti akan bertumbuh!

2)   Akan bersukacita.

Tiap orang Kristen yang sungguh-sungguh pasti akan bersukacita pada waktu mendengar Firman Tuhan. Dan pada waktu ia mentaatinya ia juga akan merasakan sukacita (Yes 48:18).

Ay 7: “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan”.

A)  Orang yang murah hati.

1)   Arti murah hati / merciful.

Ada 3 unsur yang harus ada:

a)   Kemampuan untuk melihat penderitaan orang lain dari sudut orang itu sehingga bisa ikut merasakan penderitaannya.

b)   Adanya rasa kasihan / simpati pada orang yang menderita itu.

Kamus Webster mengatakan bahwa kata bahasa Inggris ‘sympathy’ berasal dari kata bahasa Yunani SYMPATHEIA yang berasal dari dua kata bahasa Yunani yaitu SYN (= bersama-sama dengan) dan PATHOS (= feeling / perasaan).

Jadi, ‘simpati’ artinya adalah ‘merasa bersama-sama dengan orang yang menderita’. Ini tentu baru bisa terjadi kalau no 1 di atas sudah ada.

c)   Adanya tindakan menolong.

Rasa kasihan yang tidak diikuti tindakan menolong, sama sekali tidak berguna (Yak 2:15-16  1Yoh 3:18).

2)   Contoh ‘orang’ yang murah hati.

a)   Allah sendiri.

Ia melihat diri kita dari sudut kita (Maz 103:14), Ia kasihan pada kita, Ia menolong kita. Dalam diri Allah terdapat:

  • Kasih Karunia / Grace / CHARIS: ini menangani dosa.
  • Kemurahan hati / Mercy / ELEOS: ini menangani penderitaan akibat dosa.

b)   Orang Samaria yang murah hati dalam Luk 10:30-37.

Kata ‘belas kasihan’ dalam Luk 10:37 dalam bahasa Yunaninya adalah ELEOS (= kemurahan hati / mercy).

c)   ‘Domba-domba’ dalam Mat 25:34-40; jadi, ‘murah hati’ itu adalah ciri dari ‘domba’.

3)   Tindakan ‘murah hati’ yang salah.

Kalau kita tahu bahwa pertolongan / tindakan kita itu akan membawa akibat yang jelek untuk orang yang kita tolong itu, maka tindakan ‘murah hati’ itu adalah salah.

Contoh:

  • memberi uang kepada orang yang malas / tidak mau bekerja (2Tes 3:10  Amsal 3:27,28).
  • meminjami uang / kendaraan yang jelas akan dipakai untuk hal-hal yang berdosa seperti rokok, berzinah, dan sebagainya.
  • mengantar orang sakit ke dukun.
  • orang tua / guru / majikan yang tidak menindak anak / murid / pegawai yang salah. Ingat bahwa kasih / kemurahan hati harus disertai dengan kebenaran (1Yoh 3:18). Juga jangan lupa bahwa Allah kita adalah Allah yang tegas dalam mendidik anak-anaknya (Ibr 12:5-11).

4)   Bagaimana bisa menjadi murah hati?

a)   Harus sudah mengalami kemurahan Allah (bdk. Ef 4:32-5:2).

Yesus mengecam orang yang sudah mendapat kemurahan tetapi tidak mau bermurah hati (Mat 18:23-35).

b)   Harus mengalami penderitaan (Ibr 2:18  Ibr 4:15  2Kor 1:3-6).

Tanpa ini kita tidak akan bisa mengerti penderitaan orang lain.

Seseorang mengatakan:

“God does not comfort us to make us comfortable, but to make us comforters” (= Allah tidak menghibur kita untuk membuat kita merasa nyaman, tetapi untuk membuat kita menjadi penghibur).

c)   Harus tahu / mengerti kebenaran / Firman Tuhan.

Tanpa ini kita akan melakukan tindakan ‘murah hati’ yang salah.

B)  Orang yang murah hati akan beroleh kemurahan.

Bdk. Mat 6:14 – “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga”.

Kita harus berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat seperti ini. Ayat-ayat ini tidak berarti bahwa kita mendapat kemurahan / pengampunan dari Allah karena kita sudah bermurah hati / mengampuni orang lain. Ini jelas salah karena ini mengajarkan ‘salvation by works / ‘keselamatan karena perbuatan baik’ yang bertentangan dengan Ef 2:8-9  Ro 9:15-16,18.

Arti yang benar: Imanlah yang menyebabkan kita diampuni / mendapat kemurahan. Tetapi iman itu harus dibuktikan dengan perbuatan (Yak 2:17,26) dan kemurahan hati / mengampuni orang adalah salah satu perbuatan baik. Jadi, kita tidak bisa disebut beriman kalau kita tidak mempunyai kemurahan hati atau tidak mau mengampuni orang, dan karena kita tidak beriman, kita juga tidak akan mendapat kemurahan / pengampunan. Sebaliknya, kalau kita mempunyai kemurahan hati / mau mengampuni orang, itu membuktikan kebenaran iman kita, sehingga kitapun akan mendapat kemurahan / pengampunan.

Ay 8: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah”.

A)  ‘Orang yang suci hatinya’.

1)   ‘Suci’.

Kata ‘suci’ ini dalam bahasa Yunani adalah KATHAROS dan kata ini digunakan untuk menggambarkan:

  • pakaian yang sudah dicuci.
  • jagung / gandum yang sudah bersih.
  • tentara pilihan.
  • susu / anggur yang tidak dicampur dengan air.
  • logam murni.

Jadi, artinya sebetulnya adalah murni (pure), tanpa kotoran / campuran. Dan memang dalam KJV: Blessed are the pure in heart: for they shall see God’ (= Diberkatilah mereka yang murni hatinya: karena mereka akan melihat Allah). RSV/NIV/NASB juga menterjemahkan ‘pure’ (= murni).

2)   Macam-macam kekotoran yang bisa ada dalam hati kita:

  • kemunafikan (Mat 15:8  Mat 23:25-28).
  • motivasi-motivasi yang salah (Kis 5:1-11  Mat 6:1,2,5,16).
  • kesombongan.
  • semua dosa-dosa lain dalam hati seperti rencana jahat, cinta uang, iri hati, kebencian, egoisme, keinginan-keinginan duniawi, percabulan, kekuatiran, kemalasan, ketamakan, sifat kikir, dsb.

3)   Hati yang suci merupakan sesuatu yang penting karena hal itu mempengaruhi seluruh kehidupan kita (Mat 15:18-19  Maz 24:4  Amsal 4:23).

4)   Bagaimana bisa memiliki hati yang suci?

a)   Beriman kepada Kristus (Kis 15:9  Ibr 9:13-14  Tit 1:15).

Tanpa langkah pertama dan terutama ini, maka langkah-langkah selanjutnya di bawah ini tidak ada gunanya.

b)   Belajar Firman Tuhan (Ro 3:20  2Tim 3:16  Yer 23:29  Yoh 15:3).

c)   Introspeksi (Amsal 4:23).

Tanpa ini, pengertian Firman Tuhan tidak ada gunanya.

d)   Doa pengakuan dosa (Maz 51:9,11,12  1Yoh 1:9).

e)   Doa supaya Tuhan membuat hati kita menjadi suci (Maz 86:11-12  Maz 119:36,80).

B)  ‘mereka akan melihat Allah’ (bdk. Ibr 12:14).

Artinya:

1)   ‘Melihat Allah’ di surga setelah kita mati (1Kor 13:12  1Yoh 3:2).

Memang setiap orang akan melihat Allah setelah mati (Wah 1:7  Ro 14:10-12  Fil 2:10-11  Wah 6:15-17). Yang dimaksud oleh Mat 5:8 ini tentu saja ‘melihat Allah’ dalam arti yang positif.

2)   ‘Melihat Allah’ di dunia ini, pada waktu kita masih hidup.

Artinya: orang yang murni / suci hatinya akan merasakan kehadiran Allah, merasa Allah dekat dengan dia, merasakan penyertaan Allah dan mengalami persekutuan yang indah dengan Allah.

Contoh: Yuri Gagarin (kosmonot Uni Soviet) pergi ke ruang angkasa dan tidak melihat Allah, lalu berkata Allah tidak ada. Anehnya, kontras dengan hal itu, Jim Irwin, seorang astronout Amerika Serikat, yang juga pergi ke ruang angkasa dan bahkan mendarat di bulan dengan Apollo 16, justru merasakan hadirat Tuhan di bulan.

Penerapan:

Apakah saudara tidak ‘melihat Allah’ dalam kehidupan saudara sehari-hari? Kalau tidak, itu menunjukkan bahwa ada banyak kekotoran dalam hati saudara! Bertobatlah, dan buanglah semua kekotoran itu, dan saudara akan ‘melihat Allah’ dalam kehidupan saudara saat ini!

Ay 9: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”.

A)  ‘Orang yang membawa damai’.

1)   Kata ‘damai’ dalam bahasa Yunani adalah EIRENE, dan dalam bahasa Ibrani adalah Shalom. Kata ini tidak sekedar berarti ‘tidak bertengkar’, tetapi juga harus ada hubungan yang benar / baik.

Illustrasi: Amerika Serikat dan Rusia memang tidak perang, tetapi tidak berarti ada damai di antara mereka.

2)   Kata-kata ‘orang yang membawa damai’ seharusnya lebih tepat diterjemahkan ‘orang-orang yang mengusahakan damai’ (peacemakers).

Yang tidak termasuk ‘mengusahakan damai’:

  • mengadu domba, memecah belah, memfitnah dan sebagainya.
  • hanya melerai suatu perkelahian, tanpa betul-betul mendamaikannya.
  • membiarkan suatu persoalan / kesalahan supaya tidak gegeran.

Ini sering terjadi di dalam gereja dimana pendeta, karena tidak mau gegeran, lalu membiarkan suatu kesalahan begitu saja, Tindakan semacam ini akan menimbulkan gegeran / kekacauan yang lebih besar di kemudian hari.

Mengusahakan damai berarti mengusahakan hubungan yang benar / baik. Ini kadang-kadang harus dicapai dengan gegeran dulu (untuk membereskan persoalan / kesalahan).

3)   Cara mengusahakan damai.

a)   Kita sendiri juga harus berdamai dengan orang-orang di sekitar kita (Ro 12:18  Ibr 12:14a).

b)   Kita harus mendamaikan orang dengan orang, dan juga mendamaikan mereka dengan Allah dengan cara memberitakan Injil kepada mereka. Ingat bahwa dosalah yang menyebabkan adanya pertengkaran antar manusia (Kej 3:12). Juga Injil disebut sebagai Injil damai sejahtera (Ef 6:15). Kalau orang-orang itu bertobat, sehingga dosa mereka dibereskan, maka lebih besar kemungkinan bagi mereka untuk berdamai.

B)  ‘karena mereka akan disebut anak-anak Allah’.

1)   Ini tak boleh diartikan bahwa kalau kita mendamaikan orang maka kita menjadi anak-anak Allah. Penafsiran semacam ini mengarah pada ajaran sesat ‘salvation by works’ (= keselamatan karena perbuatan baik), dan bertentangan dengan Yoh 1:12 yang mengatakan bahwa kita bisa menjadi anak-anak Allah karena iman kepada Yesus.

2)   Orang-orang yang mengusahakan damai disebut anak-anak Allah artinya ‘mirip dengan Allah’ dan ‘mereka melakukan apa yang dilakukan Allah’.

Perhatikan beberapa hal di bawah ini yang menunjukkan hubungan ‘Allah’ dengan ‘damai’:

  • Allah disebut Allah damai sejahtera (1Tes 5:23  Ibr 13:20).
  • Allah disebut sebagai sumber damai sejahtera (Ro 15:33  2Kor 13:11).
  • Mengusahakan damai adalah pekerjaan Allah (Ef 2:14-16  Kol 1:20).

Jadi, bukankah wajar kalau orang yang mengusahakan damai disebut anak-anak Allah? Mereka mirip dengan Allah dan mereka melakukan apa yang Allah lakukan.

Ay 10-12: “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.’”.

Adalah sesuatu yang menarik bahwa ay 9 (tentang mengusahakan damai) langsung disambung dengan ay 10-12 (tentang penganiayaan terhadap orang Kristen). Memang, sekalipun kita berusaha mendamaikan orang, khususnya kalau kita berusaha mendamaikan orang dengan Allah, akan ada banyak orang akan memusuhi / menganiaya kita.

A)  Penderitaan / penganiayaan.

1)   Alasan Yesus memberikan bagian ini.

Calvin: “It is evident from other passages, that they foolishly imagined the kingdom of Christ to be filled with wealth and luxuries” (= Adalah jelas dari bagian-bagian yang lain, bahwa mereka secara tolol membayangkan bahwa Kerajaan Kristus dipenuhi dengan kekayaan dan kemewahan).

Karena itu Kristus memberikan ayat-ayat ini sebagai peringatan: ikut Yesus tidak berarti jalannya mulus, tetapi sebaliknya penuh dengan penderitaan!

2)   Yang disebut berbahagia bukanlah seadanya orang yang menderita. Ada orang-orang yang menderita karena dosa. Ini tentu tidak disebut berbahagia (1Pet 2:20  1Pet 4:15). Ada juga orang-orang yang menderita karena mereka mengira mereka taat pada Tuhan, tetapi sebetulnya tidak. Ini bisa terjadi karena kurang / tidak mengerti Firman Tuhan. Misalnya: orang yang membolos dari pekerjaan untuk melayani Tuhan, sehingga akhirnya dipecat dari pekerjaannya dan menderita karenanya. Ini tetap adalah menderita karena dosa, sekalipun dosanya tidak disengaja / tidak disadari.

3)   Yang disebut berbahagia adakah orang yang menderita karena:

a)   Kebenaran (ay 10).

Orang yang lapar dan haus akan kebenaran (Mat 5:6), justru akan menderita karena kebenaran!

b)   Kristus (ay 11).

Memang orang-orang yang percaya kepada Kristus, betul-betul mengikut Kristus dan berusaha hidup sesuai kehendak Tuhan, pasti akan mengalami penderitaan (Mat 10:16,25,34-36  Yoh 15:18-25  Kis 14:22  Fil 1:29  2Tim 3:12).

Luther: “The Church is the community of those who are persecuted and martyred for the gospel’s sake” (= Gereja adalah kumpulan dari mereka yang dianiaya dan dibunuh secara syahid demi Injil).

Calvin: “We can not be Christ’s soldiers on any other condition than to have the greater part of the world rising in hostility against us, and pursuing us even to death. The state of the matter is this. Satan, the prince of the world, will never cease to fill his followers with rage, to carry on hostilities against the members of Christ” (= Kita tidak bisa menjadi tentara Kristus dengan kondisi lain selain mendapatkan sebagian besar dari dunia memusuhi kita, dan mengejar kita bahkan sampai mati. Persoalannya adalah seperti ini. Setan, penguasa dunia ini, tidak akan pernah berhenti mengisi pengikut-pengikutnya dengan kemarahan, untuk mengadakan permusuhan terhadap anggota-anggota Kristus).

B)  Macam-macam penderitaan.

Ay 11 dan Luk 6:22 menunjukkan bahwa penderitaan itu bisa ada dalam berbagai bentuk, yaitu: dicela, difitnah, dianiaya, dikucilkan, dibenci, ditolak. Ini tentu tidak lengkap. Bisa saja kita dipecat dari pekerjaan, dicerai oleh istri / suami (bdk. 1Kor 7:15), dipenjarakan, dan bahkan dibunuh. Makin kita mendekati akhir jaman / kedatangan Kristus yang keduakalinya, maka makin hebat penganiayaan terhadap orang Kristen (Mat 24:9,21,22). Karena itu, kalau kita tidak mau untuk berlatih untuk menderita / berkorban bagi Kristus mulai sekarang, nanti pada saat ada penganiayaan besar, kita pasti tidak akan kuat!

C)  Sikap menghadapi penderitaan / penganiayaan.

1)   Sikap yang salah:

  • kasihan pada diri sendiri (self pity).
  • marah / benci / membalas dendam.
  • susah / sedih.
  • pura-pura menikmati penderitaan.
  • berkompromi dengan dosa / lari ke dalam dosa / menjauhi Tuhan.
  • menjadi suam dalam kerohanian.
  • menjadi takut terhadap serangan setan, sehingga mengambil keputusan untuk tidak terlalu giat dalam mengikuti Tuhan, dengan tujuan supaya setan tidak terlalu menyerangnya.

2)   Sikap yang benar: bersuka cita dan bergembira (ay 12 bdk. 1Pet 4:13).

Mengapa bersukacita / bergembira? Bukan karena penderitaan itu sendiri! Tetapi karena:

a)   Upah yang besar di surga (ay 10b,12a  Ibr 11:24-26  Ro 8:18  2Kor 4:17).

b)   Penderitaan itu membuktikan kemurnian iman kita (1Pet 4:14).

Yesus juga dianiaya, dan demikian juga nabi-nabi Perjanjian Lama (ay 12b), dan rasul-rasul juga. Kalau kita tidak dianiaya, jelas ada sesuatu yang tidak beres dengan iman kita.

c)   Kita menderita karena orang yang kita cintai yaitu Kristus sendiri (ay 11  Kis 5:41).

Polycarp, murid rasul Yohanes yang pada tahun 155 / 156 M. mengalami kematian syahid dengan jalan dibakar hidup-hidup, sebelum pembakaran itu menyatakan kata-kata ini:

“86 years have I served Christ, and he has done me no wrong. How can I blaspheme my King who has saved me?” (= 86 tahun aku telah melayani Kristus, dan Ia tidak pernah berbuat salah kepadaku. Bagaimana aku bisa menghujat Rajaku yang telah menyelamatkanku?).

“O Lord God Almighty, the Father of thy well beloved and well blessed son, by whom we have received the knowledge of thee …. I thank thee that thou hast graciously thought me worthy of this day and of this hour” (= ‘Ya Tuhan Allah yang mahakuasa, Bapa dari AnakMu yang kekasih Yesus Kristus, melalui siapa kami telah menerima pengenalan terhadapMu … Aku bersyukur kepadaMu bahwa Engkau dengan begitu baik telah menganggapku layak untuk hari ini dan jam / saat ini).

d)   Kita bisa memberi teladan yang menguatkan orang-orang Kristen yang lain. Ay 12 menunjukkan bahwa nabi-nabi itu bisa menjadi teladan bagi kita. Kalau kita menderita karena Kristus / kebenaran dan kita tetap bisa bersukacita, kita juga bisa menjadi teladan yang menguatkan iman orang-orang Kristen yang lain.

D)  Kalau sampai sekarang saudara belum pernah menderita barang sedikitpun karena Kristus / kebenaran, maka perhatikanlah Luk 6:26 – “Celakalah kamu jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu”.

Leon Morris (Tyndale):

  • “It is a danger when all men speak well of you, for this can scarcely happen apart from sacrifice of principle” (= Merupakan sesuatu yang berbahaya kalau semua orang memuji / berbicara baik tentang kamu, karena ini hampir tidak mungkin terjadi terpisah dari pengorbanan prinsip).
  • “It is the false prophets who win wide acclaim (cf. Je. 5:31). A true prophet is too uncomfortable to be popular” [= Adalah nabi-nabi palsu yang memenangkan banyak tempik sorak (bdk. Yer 5:31). Seorang nabi yang benar terlalu tidak menyenangkan untuk menjadi populer].

William Hendriksen: “When everybody speaks well of you it must be that you are a deceitful, servile flatterer” (= Kalau setiap orang berbicara baik tentang kamu / memuji kamu, itu pasti karena kamu adalah seorang penjilat yang mau merendahkan diri dan bersifat penipu).

Contoh: Bambang Noorsena (Gereja Orthodox Syria) berulangkali menyatakan kebanggaannya karena ia diterima oleh tokoh-tokoh ‘orang seberang’ (padahal ‘orang seberang’ itu tidak bertobat / percaya kepada Yesus), dan ia mengecam orang kristen yang tidak diterima oleh ‘orang seberang’. Ia juga mengatakan bahwa dengan sistim penyampaian seperti yang ia lakukan, sekalipun ia tidak mengkompromikan kepercayaannya, tetapi bisa terjadi ‘agree in disagreement’ (= setuju di dalam ketidaksetujuan).

Perlu dipertanyakan mengapa ia bisa diterima oleh ‘orang seberang’ padahal mereka tidak bertobat / percaya kepada Yesus? Jelas karena ajaran yang ia beritakan adalah Kitab Suci / Injil yang sudah disesuaikan dengan telinga ‘orang seberang’ itu.

Misalnya ia berkata: kalau berbicara kepada orang Islam sebutlah Bapa sebagai Wujutulah (= the existence of God / keberadaan Allah), Anak sebagai Kalimatulah (= Firman Allah), Roh Kudus sebagai Rohulah (= Roh Allah), maka pasti tidak ada batu sandungan. Bandingkan sikap kompromi Bambang Noorsena ini dengan:

¨      Yesus sendiri, rasul-rasul, dan orang-orang kristen abad pertama (bahkan nabi-nabi dalam Perjanjian Lama). Pada waktu mereka memberitakan Injil / Firman Tuhan, saya tidak melihat bahwa orang-orang yang menolak mereka lalu ‘setuju di dalam ketidak-setujuan’. Sebaliknya mereka memusuhi, memfitnah, dan tidak jarang menganiaya dan membunuh pemberita Injil / Firman Tuhan tersebut. Mengapa? Karena berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Bambang Noorsena, mereka ini tidak mengkompromikan Injil / Firman Tuhan tersebut.

¨      kata-kata Paulus dalam 2Kor 4:2 dan 1Kor 1:22-23. Paulus tetap memberitakan salib, sekalipun itu adalah batu sandungan!

Bandingkan juga dengan:

*        Yoh 15:18-20a – “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih dari tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu”.

*        Mat 10:21-28 – “Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah akan anaknya. Dan anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka. Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena namaKu; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, atau seorang hamba dari pada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya. Jadi janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatupun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah. Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka”.

Renungkan kedua text di atas ini. Kalau Bambang Noorsena bisa tidak dimusuhi dengan sistim pemberitaan yang ia gunakan, bukankah ia menjadi hamba / murid yang lebih tinggi dari Tuan / Gurunya?

Tetapi William Hendriksen juga memberikan tambahan yang penting untuk menjaga keseimbangan. Ia berkata:

“If a person is unpopular, he should ask himself, ‘Is this because I am loyal to my Lord … or is it because I have failed to reveal a Christlike character?’” (= Jika seseorang tidak populer, ia harus bertanya kepada dirinya sendiri: ‘Apakah ini disebabkan karena aku setia kepada Tuhanku … atau apakah ini disebabkan karena aku telah gagal untuk menyatakan karakter yang menyerupai Kristus?’).

MATIUS 5:13-16

Kalau kita melihat Kej 1:4,12,18,21,25 maka kita melihat bahwa pada saat penciptaan, dunia dan segala isinya, dikatakan ‘baik’. Dan untuk manusianya dikatakan ‘sungguh amat baik’ (Kej 1:31). Tetapi masuknya dosa ke dalam dunia (Kej 3) menyebabkan sekarang:

  • dunia ini penuh dengan orang yang tidak mengenal Allah atau tidak peduli kepada Allah.
  • dunia ini penuh dengan dosa dan moral yang bejad.
  • dunia ini sedang menuju penghukuman Allah yang kekal / neraka.

Dalam dunia yang seperti inilah Tuhan Yesus menyuruh kita menjadi Garam dunia dan Terang dunia.

I) Garam dunia.

Kalau kita digambarkan sebagai ‘garam’ itu tidak berarti bahwa kita harus sama dengan garam dalam segala hal. Ini sama seperti kalau saudara mengatakan kepada seseorang ‘kamu itu seperti babi’. Tentu saudara hanya menyamakan dia dengan babi dalam hal-hal tertentu, bukan dalam segala sesuatu. Demikian juga kalau kita digambarkan sebagai ‘garam’. Jangan mengambil persamaan yang salah, yang bertentangan dengan ayat-ayat lain dalam Kitab Suci, misalnya:

  • garam larut kalau kena air, jadi kalau hujan kita boleh bolos ke gereja.
  • kalau makanan terlalu banyak garam rasanya jadi tidak enak, jadi sebaiknya dunia ini jangan terlalu banyak orang kristen.

Lalu dalam hal apa kita harus sama seperti garam?

1)   Garam berfungsi untuk mengawetkan / mencegah kebusukan.

Pada jaman dimana belum ada kulkas / freezer, maka garam penting sekali baik bagi pemburu maupun nelayan untuk mengawetkan daging binatang buruan / ikan, karena garam bisa mencegah pembusukan.

Jadi kalau dikatakan bahwa kita adalah garam dunia, maka artinya adalah bahwa kita harus mencegah dunia dari kebusukan rohani.

Kita bisa melakukan hal itu dengan memberitakan Injil kepada dunia. Dan Pemberitaan Injil itu harus disertai dengan kesaksian hidup yang baik dan dengan doa. Tujuannya adalah membawa orang kepada Kristus, karena Kristus adalah satu-satunya jalan ke surga (Yoh 14:6  Kis 4:12  1Yoh 5:11-12).

Saya ingin tekankan tentang ‘memberitakan Injil’. Apa artinya?

Arti yang salah:

  • Social Gospel (= Injil Sosial). Ini banyak dalam kalangan gereja Protestan, dimana aktivitas pemberitaan Injil dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat yang dilanda bencana alam, yatim piatu, dsb, dan apa yang mereka lakukan di sana hanyalah memberikan bantuan sosial. Orang-orang yang dibantu senang, tetapi tetap tidak bisa mengenal Kristus, dan akan masuk ke neraka pada saat mereka mati.
  • Yesus ditekankan sebagai pemberi berkat jasmani, penyembuh, pembuat mujijat, penolong dalam kesukaran duniawi. Ini banyak dalam kalangan Pentakosta / Kharismatik.

Memberitakan Injil yang benar, mencakup hal-hal ini:

a)   Menyatakan dosa.

b)   Menyatakan keadilan Allah / hukuman dosa, khususnya neraka.

c)   Memberitakan Yesus sebagai Allah yang menjadi manusia, yang lalu mati di salib sebagai pengganti manusia berdosa / untuk memikul hukuman manusia berdosa.

d)   Mendorong orang itu untuk mau percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

e)   Menjelaskan hubungan iman dengan pertobatan dari dosa.

Kalau kita memberitakan Injil dan orang yang kita injili itu mau datang kepada Kristus, maka ia akan dicegah dari pembusukan.

Contoh:

¨      dulu Saulus adalah orang yang sedang membusuk. Tetapi setelah bertobat, ia menjadi Paulus, orang yang hidup bagi Tuhan dan berguna untuk Tuhan.

¨      ada cerita tentang seorang pemabuk yang bertobat. Lalu temannya mengejek dia dengan bertanya: ‘Apa betul Yesus bisa mengubah air menjadi anggur?’. Orang itu menjawab: ‘Aku tidak tahu apakah Yesus mengubah air menjadi anggur atau tidak, tetapi di rumahku Yesus mengubah bir menjadi perabot rumah tangga’.

2)   Garam mengenakkan makanan.

Bagaimanapun pandainya seseorang memasak, kalau tidak ada garam, makanan menjadi hambar dan tidak enak. Jadi, garam mengenakkan makanan.

Kita adalah garam dunia; artinya kehadiran kita harus mengenakkan orang-orang di sekitar kita. Mereka harus merasa senang dengan kehadiran kita. Ini bisa kita lakukan dengan:

  • mengasihi / menolong orang-orang di sekitar kita.
  • mentaati dan menghormati orang tua.
  • menghibur orang yang kesusahan.

Tetapi ini ada batasnya, yaitu kita tidak boleh melakukan sesuatu yang menyenangkan orang tetapi bertentangan dengan Firman Tuhan.

Contoh:

¨      mengantar orang ke dukun.

¨      memberi tahu waktu ulangan.

¨      membelikan orang rokok.

Hal lain yang harus kita ingat adalah bahwa hidup orang Kristen yang bagaimanapun baiknya tidak selalu menyenangkan orang dunia. Tuhan Yesus sendiri, yang hidupnya suci murni dan penuh kasih, tidak disenangi oleh banyak orang. Pada waktu kita memberitakan Injil, menegur dosa dan sebagainya, kita bisa mendapatkan permusuhan / kebencian (bdk. Gal 4:16  1Pet 3:13-14).

3)   Garam mempengaruhi, bukan dipengaruhi.

Kalau garam dimasukkan ke dalam makanan, garam menjadikan makanan itu asin, Jadi garam mempengaruhi makanan. Karena itu, kalau kita adalah garam dunia, maka kita harus mempengaruhi orang dunia, dan bukan sebaliknya, orang dunia yang mempengaruhi kita (bdk. Ro 12:2). Apakah saudara mempengaruhi dunia atau dipengaruhi oleh orang dunia?

Misalnya:

  • dalam soal rokok, minuman keras, ecstasy dan sebagainya, apakah saudara berani berkata ‘tidak!’ kalau ditawari?
  • kalau saudara diajak berzinah, apakah saudara bisa menolak dengan tegas?
  • kalau teman-teman di sekolah semua ngerpek / nyontek, dan saudara diajak, bisakah saudara menolak?
  • kalau dunia menggunakan ‘jam karet’ / suka datang terlambat, apakah saudara juga demikian?

Sebaliknya, apakah saudara bisa mempengaruhi orang-orang di sekitar saudara dalam hal:

¨      pergi ke gereja, membaca / belajar Firman Tuhan, berdoa, melayani Tuhan?

¨      berbuat baik, seperti menolong orang?

¨      rajin belajar / bekerja dengan baik?

¨      ketundukan / hormat kepada orang tua, kesetiaan kepada istri / suami?

Kalau ketiga hal tersebut di atas tidak ada di dalam hidup kita, kita menjadi garam yang tawar, yang tidak berguna (ay 13).

Catatan: Stott dan Hendriksen mengatakan bahwa garam memang bisa menjadi tawar, kalau tercampur zat-zat lain.

II) Terang dunia.

Sebetulnya kita bukan terang dunia (bdk. Yoh 1:6-8). Tuhan Yesuslah yang merupakan Terang dunia (Yoh 1:9  8:12  9:5). Kita adalah terang di dalam Tuhan (Ef 5:8), atau dengan kata lain, kita memantulkan terang dari Tuhan.

Beberapa hal tentang terang:

1)   Terang berbeda secara menyolok dengan gelap.

Karena itu kalau kita adalah terang, maka hidup kita harus berbeda secara menyolok dengan hidup orang dunia. Memang bukan berbeda dalam segala hal, tetapi hanya dalam hal yang merupakan dosa. Misalnya:

  • dalam kejujuran.
  • dalam kerajinan.
  • dalam hal mentaati peraturan lalu lintas dan lampu lalu lintas.
  • dalam hal sogok menyogok.
  • dalam hal ‘jam karet’ / suka terlambat.
  • pada waktu dimusuhi / ada orang yang menjengkelkan, kita tetap mengasihi dan mengampuni.
  • pada waktu menderita atau ada kesukaran, kita tidak mengeluh / marah, tetapi tetap beriman, bersukacita, dan tetap berusaha menyenangkan Allah.

Kalau kita hidup berbeda dengan dunia dalam hal-hal yang bersifat dosa, maka kita memuliakan Allah (ay 16).

Satu hal yang perlu dicamkan adalah: kalau kita hidup berbeda dengan dunia, kita akan seperti kota yang terletak di atas gunung (ay 14), artinya kehidupan kita akan disorot / diperhatikan orang. Karena itu kita harus hidup dengan lebih hati-hati.

2)   Terang tidak boleh disembunyikan.

Ini terlihat dari:

  • ay 15: ‘orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang’.
  • ay 16: ‘hendaknya terangmu bercahaya di depan orang’.

Jadi, kita tidak boleh terus menyendiri atau terus ada di gereja. Kita harus mau bergaul dengan orang dunia untuk ‘menerangi’ mereka. Ingat bahwa saudara tidak disebut dengan istilah ‘terang gereja’, tetapi ‘terang dunia’!

3)   Terang memberi petunjuk.

Ini bisa kita lakukan dengan memberitakan Injil, memberi nasihat / teguran, mengajak ke gereja yang benar dan sebagainya.

Apakah saudara memberi petunjuk pada orang-orang di sekitar saudara? Dan saudara-saudara yang sudah mempunyai anak, apakah saudara mengarahkan anak-anak saudara kepada Yesus? Bdk. Amsal 22:6.

4)   Terang makin dibutuhkan di tempat yang semakin gelap.

Makin gelap suatu tempat, maka makin dibutuhkan terang di tempat itu. Analoginya: makin berdosa orang-orang di suatu tempat, makin perlu adanya orang-orang Kristen untuk menerangi mereka.

Kesaksian: saya tidak mau menetap di Amerika Serikat, karena saya menganggap Indonesia lebih gelap dan lebih membutuhkan terang.

Dalam pelayanan kita sebagai majelis, pengurus, guru sekolah minggu, pendeta, pengkhotbah, dan sebagainya, kita cenderung lebih senang melayani jemaat yang ‘baik’. Kita condong untuk ‘membuang orang yang brengsek’. Tetapi sebetulnya orang yang brengsek itu yang lebih membutuhkan terang kita! Bdk. Mat 9:10-13.

5)   Terang mempengaruhi gelap, bukan sebaliknya (Yoh 1:5).

Sama seperti garam, terang mempengaruhi, bukan dipengaruhi.

Matius 5:17-20

I) Yesus bukannya meniadakan, tetapi menggenapi, Perjanjian Lama.

1)   Istilah ‘hukum Taurat’ mempunyai beberapa arti, yaitu:

  • 10 hukum Tuhan.
  • 5 kitab Musa, yaitu Kejadian sampai Ulangan.
  • seluruh Perjanjian Lama.

Dalam ay 17 yang diambil adalah arti yang ke 2 (karena di sini istilah ‘hukum Taurat’ ditambahi dengan kata-kata ‘atau kitab para nabi’), sedangkan dalam ay 18-19 yang diambil adalah arti yang ke 3.

Ay 17: ‘hukum Taurat atau kitab para nabi’.

Istilah yang biasanya digunakan adalah ‘hukum Taurat dan kitab para nabi’. Yesus menggunakan kata ‘atau’ untuk memberikan penekanan: ‘Aku tidak datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi’.

Yang Ia maksudkan dengan hukum Taurat / Perjanjian Lama tentu bukan ajaran / penafsiran ahli-ahli Taurat tentang Perjanjian Lama. Untuk menunjukkan betapa njlimet / rumitnya ahli-ahli Taurat dalam menafsirkan hukum Taurat / Perjanjian Lama, bacalah apa yang dikatakan Barclay di bawah ini.

Barclay: “The Law lays it down that the Sabbath Day is to be kept holy, and that on it no work is to be done. That is a great principle. But the Jewish legalists had a passion for definition. So they asked: What is work? All kinds of things were classified as work. For instance, to carry a burden on the Sabbath Day is to work. But next a burden has to be defined. So the Scribal Law lays it down that a burden is ‘food equal in weight to a dried fig, enough wine for making a goblet, milk enough for one swallow, honey enough to put upon a wound, oil enough to anoint a small member, water enough to moisten an eye-salve, paper enough to write a customs house notice upon, ink enough to write two letters of the alphabet, reed enough to make a pen’ – and so on endlessly. So they spent endless hours arguing whether a man could or could not lift a lamp from one place to another on the Sabbath, whether a tailor committed a sin if he went out with a needle in his robe, whether a woman might wear a brooch or false hair, even if a man might go out on the Sabbath with artificial teeth or an artificial limb, if a man might lift his child on the Sabbath Day. These things to them were the essence of religion. Their religion was a legalism of petty rules and regulations” [= Hukum Taurat menetapkan bahwa hari Sabat harus dikuduskan, dan bahwa pada hari itu tidak ada pekerjaan yang boleh dilakukan. Itu merupakan prinsip yang besar. Tetapi para legalist Yahudi senang mendefinisikan. Karena itu mereka bertanya: Apakah pekerjaan itu? Semua jenis hal-hal digolongkan sebagai pekerjaan. Misalnya, membawa beban pada hari Sabat adalah bekerja. Tetapi selanjutnya ‘beban’ itu harus didefinisikan. Maka hukum dari ahli-ahli Taurat menetapkan bahwa ‘beban’ adalah ‘makanan yang sama beratnya dengan sebuah buah ara kering, anggur yang cukup untuk membuat satu gelas minuman, susu yang cukup untuk satu teguk, madu cukup untuk diberikan pada suatu luka, minyak cukup untuk mengurapi anggota yang kecil, air cukup untuk membasahkan salep mata, kertas cukup untuk menuliskan pemberitahuan suatu rumah cukai (?), tinta cukup untuk menuliskan 2 huruf dari alfabet, bambu cukup untuk membuat sebuah pena’, dst tanpa ada akhirnya. Demikianlah mereka menghabiskan banyak waktu untuk berdebat apakah seseorang boleh atau tidak boleh mengangkat sebuah lampu dari satu tempat ke tempat lain pada hari Sabat, apakah seorang penjahit melakukan dosa jika ia pergi keluar dengan sebuah jarum dalam jubahnya, apakah seorang perempuan boleh memakai bros atau rambut palsu, bahkan apakah seseorang boleh pergi keluar pada hari Sabat dengan gigi palsu atau kaki palsu, apakah seseorang boleh mengangkat anaknya pada hari Sabat. Hal-hal ini bagi mereka merupakan inti dari agama. Agama mereka adalah suatu legalisme yang terdiri dari peraturan-peraturan yang picik / remeh] – hal 128.

Barclay: “To write was to work on the Sabbath. But writing has to be defined. So the definition runs: ‘He who writes two letters of the alphabet with his right or with his left hand, whether of one kind or of two kinds, if they are written with different inks or in different languages, is guilty. Even if he should write two letters from forgetfulness, he is guilty, whether he has written them with ink or with paint, red chalk, vitriol, or anything which makes a permanent mark. Also he that writes on two walls that from an angle, or on two tablets of his account book so that they can be read together is guilty … But, if anyone writes with dark fluid, with fruit juice, or in the dust of the road, or in sand, or in anything which does not make a permanent mark, he is not guilty. … If he writes one letter on the ground, and one on the wall of the house, or on two pages of a book, so that they cannot be read together, he is not guilty.’ That is a typical passage from the Scribal Law; and that is what the orthodox Jew regarded as true religion and the true service of God” [= Menulis pada hari Sabat berarti bekerja. Tetapi ‘menulis’ perlu didefinisikan. Dan demikianlah bunyi definisinya: ‘Ia yang menulis 2 huruf dari alfabet dengan tangan kanan atau tangan kirinya, apakah dari satu jenis atau 2 jenis, jika huruf-huruf itu ditulis dengan tinta yang berbeda atau dalam bahasa yang berbeda, bersalah. Bahkan jika ia menulis 2 huruf karena lupa, ia bersalah, apakah ia telah menulis huruf-huruf itu dengan tinta atau dengan cat, kapur merah, benda tajam (?), atau apapun yang membuat tanda permanen. Juga ia yang menulis pada 2 dinding yang membentuk suatu sudut, atau pada 2 lembaran dari buku catatan / rekeningnya sehingga huruf-huruf itu bisa dibaca bersama-sama, ia bersalah … Tetapi jika seseorang menulis dengan cairan gelap, dengan air buah, atau di tanah di jalanan, atau pada pasir, atau pada apapun yang tidak membuat tanda permanen, ia tidak bersalah. … Jika ia menulis satu huruf di tanah, dan satu di dinding rumah, atau pada 2 halaman dari suatu buku, sehingga huruf-huruf itu tidak bisa dibaca bersama-sama, ia tidak bersalah’. Itulah text yang khas dari hukum dari ahli-ahli Taurat; dan itulah yang dianggap oleh seorang Yahudi orthodox sebagai agama dan sebagai pelayanan yang benar kepada Allah] – hal 129.

Barclay: “To heal was to work on the Sabbath. Obviously this has to be defined. Healing was allowed when there was danger to life, and especially in troubles of the ear, nose and throat; but even then, steps could be taken only to keep the patient from becoming worse; no steps might be taken to make him get any better. So a plain bandage might to (be ?) put on a wound, but no ointment; plain wadding might be put into a sore ear, but not medicated wadding” (= Menyembuhkan pada hari Sabat berarti bekerja. Jelas bahwa hal ini harus didefinisikan. Penyembuhan diijinkan pada saat ada bahaya terhadap kehidupan, dan khususnya pada waktu ada gangguan telinga, hidung dan tenggorokan / kerongkongan; tetapi bahkan dalam keadaan itu, hanya boleh dilakukan langkah-langkah untuk menjaga supaya pasien itu tidak menjadi lebih parah; tidak boleh dilakukan langkah-langkah yang membuatnya lebih baik. Jadi, suatu perban biasa boleh diberikan pada suatu luka, tetapi tidak boleh diberi obat / salep; kapas biasa boleh diberikan pada telinga yang sakit, tetapi kapas dengan obat tidak boleh) – hal 129.

Barclay: “The Scribes were the men who worked out these rules and regulations. The Pharisees, whose names means The Separated Ones, were the men who had separated themselves from all the ordinary activities of life to keep all these rules and regulations. We can see the length to which this went from the following facts. For many generations this Scribal Law was never written down; it was the oral law, and it was handed down in the memory of generations Scribes. In the middle of the third century A. D. a summary of it was made and codified. That summary is known as the Mishnah; it contains sixty-three tractates on various subjects of the Law, and in English makes a book of almost eight hundred pages. Later Jewish scholarship busied itself with making commentaries to explain the Mishnah. These commentaries are known as the Talmuds. Of the Jerusalem Talmud there are twelve printed volumes; and of the Babylonian Talmud there are sixty printed volumes. To the strict orthodox Jew, in the time of Jesus, religion, serving God, was a matter of keeping thousands of legalistic rules and regulations; they regarded these petty rules and regulations as literally matters of life and death and eternal destiny. Clearly Jesus did not mean that not one of these rules and regulations was to pass away; repeatedly he broke them himself; and repeatedly he condemned them; that is certainly not what Jesus meant by the Law, for that is the kind of law that both Jesus and Paul condemned” (= Ahli-ahli Taurat adalah orang-orang yang menyusun peraturan-peraturan ini. Orang-orang Farisi, yang namanya berarti ‘orang-orang yang terpisah’, adalah orang-orang yang memisahkan diri mereka sendiri dari semua aktivitas kehidupan biasa untuk mentaati semua peraturan-peraturan itu. Kita bisa melihat panjangnya peraturan-peraturan itu dari fakta-fakta yang berikut ini. Selama beberapa generasi, hukum dari ahli-ahli Taurat ini tidak pernah dituliskan; itu merupakan hukum lisan, dan diturunkan dalam ingatan dari generasi-generasi ahli-ahli Taurat. Pada pertengahan abad ketiga Masehi suatu ringkasan darinya dibuat dan disusun. Ringkasan itu dikenal sebagai Mishnah; itu terdiri dari 63 traktat tentang bermacam-macam pokok hukum Taurat, dan dalam bahasa Inggris menjadi sebuah buku yang terdiri dari hampir 800 halaman. Ahli-ahli theologia Yahudi selanjutnya menyibukkan dirinya sendiri dengan membuat tafsiran-tafsiran untuk menjelaskan Mishnah. Tafsiran-tafsiran ini dikenal sebagai Talmud. Talmud Yerusalem terdiri dari 12 volume; dan Talmud Babilonia terdiri dari 60 volume. Bagi seorang Yahudi orthodox, pada jaman Yesus, agama dan pelayanan kepada Allah merupakan persoalan ketaatan terhadap ribuan peraturan-peraturan legalistik; mereka menganggap peraturan-peraturan remeh / picik ini secara hurufiah sebagai persoalan hidup atau mati dan tujuan kekal. Jelas bahwa Yesus tidak memaksudkan bahwa tidak satupun dari peraturan-peraturan ini yang boleh ditiadakan; berulangkali Ia sendiri melanggar mereka; dan berulangkali Ia mengecam mereka; jelas bukan itu yang Yesus maksudkan dengan hukum Taurat, karena itu adalah jenis hukum Taurat yang dikecam oleh Yesus dan Paulus) – hal 129-130.

2)   Yesus datang bukan untuk meniadakan hukum Taurat / Perjanjian Lama.

a)   Kata-kata ‘jangan kamu menyangka’ (ay 17) menunjukkan bahwa ada orang-orang yang menganggap bahwa Tuhan Yesus membatalkan Perjanjian Lama. Mengapa banyak orang beranggapan demikian?

1.   Karena Ia mengajarkan ‘ajaran yang baru’ dan mengajarkannya dengan cara yang berbeda.

  • Mark 1:22,27 – “Mereka takjub mendengar pengajaranNya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. … Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya: ‘Apa ini? Suatu ajaran baru. Ia berkata-kata dengan kuasa. Roh-roh jahatpun diperintahNya dan mereka taat kepadaNya.’”.
  • Kis 6:14 – “sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita.’”.
  • Kis 21:21 – “Tetapi mereka mendengar tentang engkau, bahwa engkau mengajar semua orang Yahudi yang tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup menurut adat istiadat kita”.

Memang dalam ayat terakhir ini tuduhan itu diberikan kepada Paulus, tetapi Paulus jelas mendapatkan ajarannya dari Yesus.

2.   Dalam mengajar, biasanya ahli-ahli Taurat mengajar dengan berkata: ‘Musa berkata: …’ (bdk. Mat 19:7  22:24  23:2  Yoh 5:45,46  8:5  9:28,29). Tetapi pada waktu Yesus mengajar, Ia berkata: ‘Aku berkata: …’ (Mat 5:18,20,22 dst).

3.   Kristus sendiri juga kelihatan berbeda dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, karena Ia sendiri bukanlah seorang ahli Taurat maupun orang Farisi. Ia tidak pernah belajar dalam sekolah mereka.

Yoh 7:15 – “Maka heranlah orang-orang Yahudi dan berkata: ‘Bagaimanakah orang ini mempunyai pengetahuan demikian tanpa belajar!’”.

Ini tentu tidak berarti bahwa Yesus tidak pernah belajar Firman Tuhan. Ini hanya berarti bahwa Ia tidak pernah belajar di ‘sekolah theologia’ dari ahli-ahli Taurat.

b)   Tuhan Yesus dengan jelas membantah anggapan tersebut, dan Ia berkata bahwa Ia datang bukan untuk meniadakan Perjanjian Lama (ay 17), dan bahwa tidak ada satu bagian kecilpun dari Perjanjian Lama yang boleh dibuang (ay 18).

Ay 17-18: “‘Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi”.

1.   ‘meniadakan’.

Barnes (hal 22) mengatakan bahwa kata ini maksudnya adalah: ‘abrogate’ (= membatalkan / mencabut), ‘to deny their divine authority’ (= menyangkal otoritas ilahinya), ‘to set men free from the obligation to obey them’ (= membebaskan manusia dari kewajiban untuk mentaatinya).

2.   ‘Iota’ merupakan huruf terkecil dalam abjad Yunani (i); dan dalam bahasa Ibrani mungkin ini analog dengan huruf Yod (y).

Perlu diingat bahwa perbedaan kecil dalam penulisan bisa menjadi perbedaan besar dalam artinya.

Illustrasi: sepasang suami istri bertengkar. Lalu si suami merasa bersalah dan ingin berdamai. Ia lalu pergi ke toko bunga dan meminta toko itu mengirimkannya kepada istrinya. Ia juga meminta supaya bunga itu disertai sebuah kartu atas namanya disertai dengan ucapan: ‘I am sorry, I love you’ (= Maafkan aku, aku cinta kepadamu). Tetapi toko bunga itu kurang teliti, dan menghapuskan koma di tengah-tengah kalimat itu sehingga yang tertulis adalah kata-kata ‘I am sorry I love you’ (= Aku menyesal aku mencintai kamu).

Lebih-lebih dalam bahasa Ibrani ada banyak huruf yang bentuknya mirip, dan perbedaan titik atau coretan kecil, bisa menyebabkan perbedaan yang sangat besar.

3.   ‘selama belum lenyap langit dan bumi ini’ (ay 18).

Pulpit Commentary mengatakan (hal 156) bahwa kata-kata ini tidak berarti bahwa pada saat langit dan bumi berlalu maka hukum Taurat dibuang.

Bdk. Luk 16:17 – “Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal”.

Tetapi Hendriksen mempunyai pandangan yang berbeda. Ia mengatakan (hal 292) bahwa di dunia yang akan datang itu tidak ada lagi Kitab Suci (Perjanjian Lama + Perjanjian Baru).

William Hendriksen: “In the new heaven and earth ‘the law’ as a written book will no longer be necessary. In fact, the written Bible – Old and New Testament – will have become superfluous” (= Dalam langit dan bumi yang baru, hukum Taurat sebagai buku tertulis tidak lagi diperlukan. Bahkan, Alkitab tertulis – Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru – akan menjadi berlebihan / tidak dibutuhkan) – hal 292.

c)   Bukti-bukti bahwa Tuhan Yesus tidak meniadakan Perjanjian Lama:

  • Yesus mempelajari Perjanjian Lama (Luk 2:46).
  • Yesus menggunakan Perjanjian Lama untuk melawan pencobaan / godaan setan (Mat 4:4,7,10), dan Ia mengutip Perjanjian Lama pada waktu mengajar. Ini menunjukkan bahwa Ia menghafalkan Perjanjian Lama.
  • Yesus menyuruh orang mentaati Perjanjian Lama (Mat 8:4 bdk. Im 14:1-32).
  • Yesus sendiri mentaati Perjanjian Lama, misalnya: Ia berbakti, ikut merayakan hari raya Perjanjian Lama, dan sebagainya.

d)   Yesus sejalan dengan Paulus dalam persoalan ini.

Kata-kata Yesus dalam ay 17-18 ini sejalan dengan kata-kata Paulus dalam Ro 3:31 – “Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya”.

Dalam Kitab Suci memang ada ayat-ayat yang menunjukkan seakan-akan Paulus bertentangan dengan hukum Taurat (bdk. Kis 15:1-2  Gal 3:1-5  Gal 5:1-6), tetapi ayat-ayat itu tidak menunjukkan bahwa ia menentang Perjanjian Lama / hukum Taurat, tetapi bahwa ia menentang keselamatan melalui ketaatan terhadap hukum Taurat.

e)   Pembahasan ayat-ayat Kitab Suci yang seolah-olah menunjukkan bahwa hukum Taurat sudah tidak berlaku.

1.   Luk 16:16a – “Hukum Taurat dan kitab para nabi berlaku sampai kepada zaman Yohanes”.

Penjelasan: Ayat ini salah terjemahan! Kata ‘berlaku’ sebetulnya tidak ada! Memang dengan demikian kelihatannya ada yang kurang dalam kalimatnya, dan kekurangan itu harus disuplai. Tetapi Kitab Suci Inggris menyuplai dengan cara yang berbeda dibandingkan dengan Kitab Suci Indonesia.

KJV/RSV: The law and the prophets were until John’ (= Hukum Taurat dan nabi-nabi ada sampai Yohanes).

NIV/NASB: The Law and the Prophets were proclaimed until John’ (= Hukum Taurat dan Nabi-nabi diberitakan sampai Yohanes).

Bandingkan juga dengan ayat pararelnya dalam Mat 11:13 – “Sebab semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes”.

Arti ayat itu: Yohanes Pembaptis membuka suatu jaman yang baru. Tetapi sama sekali tidak berarti bahwa Perjanjian Lama dihapuskan.

2.   Ro 10:4 – “Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya”.

KJV: ‘Christ is the end of the Law’ (= Kristus adalah akhir dari hukum Taurat).

Ini menyebabkan kelihatannya Hukum Taurat / Perjanjian Lama tidak berlaku lagi sejak kedatangan Kristus.

Penjelasan: ada 2 cara penafsiran:

  • Kata yang diterjemahkan ‘the end’ (= akhir) seharusnya berarti ‘sesuatu yang menyempurnakan’. Jadi, artinya: ketaatan / kebenaran yang sempurna dicapai dengan iman dalam Kristus (baca Ro 10:1-4).
  • Hendriksen mengatakan (hal 342, footnote) bahwa kata ‘end’ di sini tidak boleh diartikan ‘akhir’ (karena akan bertentangan dengan Ro 3:31  Ro 5:20  Ro 7:7), tetapi harus diartikan ‘tujuan’.

Bdk. Gal 3:24 – “Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman”.

Bagaimanapun juga, ayat ini tidak berarti bahwa Perjanjian Lama dihapuskan sejak Kristus datang.

3.   Ef 2:15 – “sebab dengan matiNya sebagai manusia Ia telah mem-batalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diriNya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera”.

Kita tidak boleh menafsirkan bahwa ayat ini mengajarkan bahwa seluruh hukum Taurat dibatalkan, karena kalau demikian maka penafsiran tersebut akan bertentangan dengan kata-kata Yesus dalam Mat 5:17-18 yang sedang kita bahas ini. Yang dibatalkan di sini hanyalah ‘ceremonial Law’ (= hukum-hukum yang berhubungan dengan upacara kebaktian / keagamaan). Contoh: sunat, persembahan korban untuk menghapus dosa, larangan makan, persoalan najis / tahir dan sebagainya.

Semua hal-hal ini (ceremonial law) dihapuskan pelaksanaannya saja, tetapi arti / maknanya makin diteguhkan. Misalnya: sejak Kristus mati di salib, kita tidak perlu lagi mengorbankan binatang untuk menghapuskan dosa, tetapi arti dari persembahan korban dalam Perjanjian Lama itu tetap berlaku (tidak ada pengampunan tanpa pencurahan darah – bdk. Ibr 9:22).

Calvin: “With respect to doctrine, we must not imagine that the coming of Christ has freed us from the authority of the law: for it is the eternal rule of a devout and holy life, … With respect to ceremonies, there is some appearance of a change having taken place; but it was only the use of them that was abolished, for their meaning was more fully confirmed. … Let us therefore learn to maintain inviolable this sacred tie between the law and the Gospel, which many improperly attempt to break” (= Berkenaan dengan doktrin, kita tidak boleh membayangkan bahwa kedatangan Kristus telah membebaskan kita dari otoritas hukum Taurat: karena itu merupakan peraturan kekal dari kehidupan yang saleh / taat dan kudus, … Berkenaan dengan upacara-upacara, kelihatannya telah terjadi perubahan; tetapi hanya penggunaan mereka yang dihapuskan, karena arti mereka bahkan makin diteguhkan. … Karena itu hendaklah kita belajar untuk menjaga supaya hubungan yang kudus antara hukum Taurat dan Injil tidak diganggu gugat, yang merupakan sesuatu yang diusahakan untuk dihancurkan oleh banyak orang) – hal 277-278.

Calvin: “But it is asked, were not ceremonies among the commandments of God, the least of which we are now required to observe? I answer, We must look to the design and object of the Legislator. God enjoined ceremonies, that their outward use might be temporal, and their meaning eternal. That man does not break ceremonies, who omits what is shadowy, but retains its effect” (= Tetapi ditanyakan, bukankah upacara termasuk di antara perintah-perintah Allah, yang harus kita taati sampai bagian yang terkecil? Saya menjawab: Kita harus melihat rencana dan tujuan dari pembuat hukum / undang-undang. Allah memerintahkan upacara, supaya penggunaan lahiriah mereka hanya bersifat sementara, tetapi artinya bersifat kekal. Seseorang tidak melanggar upacara, kalau ia menghapuskan apa yang bersifat bayangan, tetapi mempertahankan artinya) – hal 279-280.

Catatan: hal lain yang mendukung penghapusan ceremonial law adalah sobeknya tirai Bait Allah pada saat Tuhan Yesus mati (Mat 27:51). Dengan ini seluruh Bait Allah beserta imam-imam dan korban-korban telah dihapuskan.

3)   Tuhan Yesus datang untuk menggenapi Perjanjian Lama (ay 17b).

Apa artinya ‘menggenapi’?

a)   Mentaatinya dengan sempurna.

Mat 3:15 – “Lalu Yesus menjawab, kataNya kepadanya: ‘Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.’ Dan Yohanespun menurutiNya”.

Jelas bahwa di sini kata ‘menggenapkan’ berarti ‘mentaati’. Arti ini bisa diambil untuk Mat 5:17b ini. Jadi Tuhan Yesus menggenapi Perjanjian Lama dengan mentaatinya.

Gal 4:4 – “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat”.

KJV: ‘made under the law’ (= dibuat di bawah hukum Taurat).

Terjemahan hurufiahnya adalah ‘becoming under law’ (= menjadi di bawah hukum Taurat).

b)   Menggenapi nubuat-nubuat Perjanjian Lama (bdk. Mat 1:22  Mat 2:15  Mat 4:14), dan menggenapi bagian-bagian Perjanjian Lama yang merupakan type / bayangan Tuhan Yesus seperti: imam, korban penghapus dosa dan sebagainya.

c)   Mati disalib untuk memikul hukuman dosa-dosa manusia.

D. Martyn Lloyd-Jones: “One of the ways in which the law has to be fulfilled is that its punishment of sin must be carried out. This punishment is death, and that was why He died” (= Salah satu cara dalam mana hukum Taurat harus digenapi adalah bahwa hukuman dari dosa harus dilaksanakan. Hukuman ini adalah kematian, dan itulah sebabnya mengapa Ia mati)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 192.

d)   Dr. Knox Chamblin mengatakan bahwa dalam kata ‘menggenapi’ ini tercakup juga arti ‘to fill up’ (= memenuhi / mengisi sampai penuh), atau ‘to complete’ (= melengkapi).

e)   Ada juga orang yang mengatakan bahwa kata ‘menggenapi’ itu bisa diartikan ‘mengajar’.

D. Martyn Lloyd-Jones: “Our Lord Jesus Christ in these two verses confirms the whole of the Old Testament. He puts His seal of authority, His imprimatur, upon the whole of the Old Testament canon, the whole of the law and the prophets. … To the Lord Jesus Christ the Old Testament was the Word of God; it was Scripture; it was something absolutely unique and apart; it had authority which nothing else has ever possessed nor can possess” (= Tuhan kita Yesus Kristus dalam kedua ayat ini meneguhkan seluruh Perjanjian Lama. Ia memberikan meterai otoritasNya, persetujuanNya, pada seluruh kanon Perjanjian Lama, seluruh kitab / hukum Taurat dan nabi-nabi. … Bagi Tuhan Yesus Kristus, Perjanjian Lama adalah Firman Allah; itu adalah Kitab Suci; itu merupakan sesuatu yang secara mutlak unik dan terpisah; itu mempunyai otoritas yang tidak pernah dipunyai dan tidak akan dipunyai oleh apapun yang lain)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 187.

II) Orang kristen dan Perjanjian Lama (ay 19).

1)   Kita tidak boleh meniadakan bagian yang bagaimanapun kecilnya dari Perjanjian Lama (ay 19).

Kalau Yesus sendiri tidak meniadakan Perjanjian Lama, bahkan bagian yang terkecil sekalipun, maka kita harus meneladani Dia dalam hal tersebut.

a)   ‘meniadakan’ (ay 19).

KJV: ‘break’ (= melanggar).

RSV: ‘relaxes’ (= mengendurkan / mengurangi).

NIV: ‘breaks’ (= melanggar).

NASB: ‘annuls’ (= membatalkan).

Pulpit Commentary mengatakan (hal 157) bahwa arti dari kata Yunaninya bukan sekedar ‘melanggar’ tetapi ‘abrogate’ (= mencabut, membatalkan).

b)   ‘sekalipun yang paling kecil’ (ay 19).

1.   Ini menunjukkan bahwa Firman Tuhan tidak semua sama penting.

Hendriksen mengatakan (hal 292) bahwa sekalipun ajaran Kristus jauh berbeda dibandingkan dengan ajaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, yang ia anggap sebagai ‘membelah rambut’, tetapi Ia jelas juga menganggap adanya hukum yang lebih penting dari pada hukum yang lain. Dasar Kitab Suci untuk pandangan ini:

  • kata-kata ‘sekalipun yang paling kecil’ dalam ay 19 ini.
  • Mat 22:36-40 – “‘Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?’ Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.’”.
  • Mat 23:23 – “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan”.
  • 1Kor 15:3-4 – “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci”.

William Hendriksen: “Not every commandment of that law is of equal significance. The rabbis divided the law into 613 commandments. They considered 248 of these to be positive, 365 negative. They carried on lengthy debates about heavier and lighter commandments. Some rabbis considered Deut. 22:6 (‘You shall not carry off the mother-bird together with her young’) to be the ‘lightest’ (least significance) of them all. As to the heaviest or greatest of all commandments, the question as to its identity was answered by a scribe (Luke 10:27). That Jesus agrees with him is clear from his response (Luke 10:28; cf. Matt. 22:34-40; Mark 12:28-34)” [= Tidak setiap perintah dari hukum Taurat mempunyai arti yang setara. Rabi-rabi membagi hukum Taurat menjadi 613 perintah. Mereka menganggap 248 darinya sebagai perintah positif, 365 perintah negatif. Mereka mengadakan perdebatan panjang lebar tentang perintah yang lebih berat dan yang lebih ringan. Beberapa rabi menganggap Ul 22:6 (“janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak-anaknya”) sebagai yang paling ringan (paling tidak penting / berarti) dari semua. Sedangkan tentang yang terberat atau terbesar dari semua perintah, pertanyaan berkenaan dengan identitasnya dijawab oleh seorang ahli Taurat (Luk 10:27). Bahwa Yesus setuju dengan dia terlihat dengan jelas dari tanggapan-Nya (Luk 10:28; bdk. Mat 22:34-40; Mark 12:28-34)] – hal 292.

Ul 22:6-7 – “Apabila engkau menemui di jalan sarang burung di salah satu pohon atau di tanah dengan anak-anak burung atau telur-telur di dalamnya, dan induknya sedang duduk mendekap anak-anak atau telur-telur itu, maka janganlah engkau mengambil induk itu bersama-sama dengan anak-anaknya. Setidak-tidaknya induk itu haruslah kaulepaskan, tetapi anak-anaknya boleh kauambil. Maksudnya supaya baik keadaanmu dan lanjut umurmu”.

Catatan: saya berpendapat bahwa Hendriksen salah dalam menggunakan ayat, karena:

  • Luk 10 itu tidak mempersoalkan hukum yang terutama, lihat mulai ay 25.

Luk 10:25-28 – “Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: ‘Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?’ Jawab Yesus kepadanya: ‘Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?’ Jawab orang itu: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.’”.

  • Mat 22:34-40 / Mark 12:28-34 memang mempersoalkan hukum yang terutama, tetapi Luk 10:25-28 tidak, karena Luk 10:25-28 tidak paralel dengan Mat 22:34-40 / Mark 12:28-34 (tetapi Matius dan Markus memang paralel), karena:

*        Dalam Lukas, pertanyaan dari ahli Taurat itu berbeda, karena yang ia tanyakan adalah apa yang harus diperbuatnya untuk memperoleh hidup yang kekal (Luk 10:25), dan ahli Taurat itu sendirilah yang mengucapkan hukum kasih itu. Sedangkan dalam Matius / Markus, Yesuslah yang mengucapkan hukum kasih itu.

Mat 22:34-40 – “Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: ‘Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?’ Jawab Yesus kepadanya: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.’”.

Mark 12:28-34 – “Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepadaNya dan bertanya: ‘Hukum manakah yang paling utama?’ Jawab Yesus: ‘Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.’ Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: ‘Tepat sekali, Guru, benar kataMu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.’ Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: ‘Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!’ Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus”.

*        Dalam Lukas, ahli Taurat itu tegar tengkuk (Luk 10:29). Ini berbeda dengan gambaran yang diberikan oleh Markus (Mark 12:32-34).

*        Dalam Lukas ada cerita tentang orang Samaria yang murah hati (Luk 10:30-37), sedangkan dalam Matius / Markus tidak.

2.   Sekalipun hukum yang satu tidak sama pentingnya dengan hukum yang lain, tetapi yang paling tidak pentingpun tetap tidak boleh dibuang / diabaikan.

Pulpit Commentary: “While the Jews distinguished carefully between small and great precepts, they insisted on the importance of keeping even the smallest” (= Sementara orang-orang Yahudi membedakan secara hati-hati antara perintah / aturan yang kecil dan yang besar, mereka tetap menekankan pentingnya ketaatan pada yang terkecil) – hal 157.

Calvin menggunakan bagian ini untuk menyerang Gereja Roma Katolik, yang mengatakan bahwa ada dosa remeh (venial sin). Dulu dikatakan bahwa venial sin ini tidak diakuipun tidak apa-apa. Bagaimana dengan ajaran Gereja Roma Katolik sekarang? Apakah mereka berubah? Dalam ‘Catechism of the Catholic Church’ 1992, dikatakan (No 1458):

“Without being strictly necessary, confession of everyday faults (venial sins) is nevertheless strongly recommended by the Church” [= Tanpa mengatakan bahwa ini diharuskan secara ketat, bagaimanapun pengakuan dari kesalahan-kesalahan setiap hari (dosa-dosa remeh / ringan) dianjurkan secara kuat oleh Gereja].

Jadi dalam hal ini kelihatannya tidak terlalu ada perubahan, karena mereka hanya menganjurkan secara kuat, tetapi tidak mengharuskan secara ketat, untuk melakukan pengakuan dosa terhadap dosa-dosa ringan / remeh.

Saya setuju dengan Calvin bahwa ini jelas merupakan sesuatu yang bertentangan dengan kata-kata Yesus di sini. Jadi, sekalipun memang hukum yang ‘ringan’ dan dosa yang ‘kecil’ itu memang ada, tetapi kita tetap tidak boleh melanggar hukum yang ringan atau membiarkan dosa yang kecil.

Renungkan: dosa apa yang saudara anggap remeh dan saudara biarkan dalam hidup saudara? Hukum yang mana yang saudara abaikan dalam hidup saudara? Bertobatlah dari sikap seperti itu!

Jadi dari ay 19 ini terlihat bahwa kita tidak boleh meniadakan bagian manapun dalam Perjanjian Lama. Kita harus menerima dan menghormati seluruh Perjanjian Lama.

Penerapan:

Apakah saudara hanya senang membaca / mempelajari Perjanjian Baru? Ini sama dengan meniadakan seluruh Perjanjian Lama!

Pulpit Commentary: “The Christian, while he loves the New Testament with all his heart, must not depreciate the Old” (= Orang kristen, sementara ia mengasihi Perjanjian Baru dengan segenap hatinya, tidak boleh merendahkan / meremehkan Perjanjian Lama) – hal 176.

D. Martyn Lloyd-Jones: “We must never drive a wedge between the Old Testament and the New. We must never feel that the New makes the Old unnecessary. I feel increasingly that it is very regrettable that the New Testament should ever have been printed alone, because we tend to fall into the serious error of thinking that, because we are Christians, we do not need the Old Testament” (= Kita tidak pernah boleh memecah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Kita tidak pernah boleh merasa bahwa Perjanjian Baru membuat Perjanjian Lama tidak perlu. Saya makin lama makin merasa bahwa merupakan sesuatu yang sangat disesalkan bahwa Perjanjian Baru dicetak sendirian, karena kita cenderung untuk jatuh ke dalam kesalahan yang serius untuk berpikir bahwa karena kita adalah orang-orang kristen, kita tidak membutuhkan Perjanjian Lama)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 191.

2)   Kita harus mentaati dan mengajarkan / memberitakan Perjanjian Lama.

Ay 19b: ‘siapa yang melakukan dan mengajarkan’.

a)   Hubungan antara ‘melakukan / mentaati’ dan ‘mengajarkan’.

Ada orang yang mau mentaati tetapi tidak mau menyebarkannya. Ada juga yang sebaliknya, mau mengajarkannya, tetapi ia sendiri tidak melakukannya. Yesus menghendaki keduanya.

A. T. Robertson: “Jesus puts practice before preaching. The teacher must apply the doctrine to himself before he is qualified to teach others” (= Yesus meletakkan praktek sebelum pengajaran. Sang guru harus menerapkan ajaran kepada dirinya sendiri sebelum ia memenuhi syarat untuk mengajar orang lain)‘Word Pictures in the New Testament’, vol I, hal 43.

Perhatikan bahwa ia menggunakan kata ‘apply’ (= menerapkan). Saya setuju dengan kata ‘menerapkan’, tetapi kalau kata itu diganti dengan ‘mentaati’, saya tidak setuju. Saya tidak setuju, tidak peduli betapa populernya pandangan yang mengatakan bahwa seorang pendeta / pengkhotbah harus mentaati dulu baru boleh mengajar. Mengapa? Karena kalau pengkhotbah hanya boleh mengajarkan apa yang sudah bisa ia taati, maka sedikit sekali dari Kitab Suci yang bisa dia ajarkan. Jarang sekali, kalau ada, orang yang bisa mentaati ayat-ayat seperti Mat 22:37  Mat 5:28  Mat 5:39,44  Fil 4:4  1Tes 5:18 dsb. Kalau demikian apakah ayat-ayat ini tidak boleh diajarkan? Ini akan bertentangan dengan ay 19a, yang mengecam orang yang tidak mengajarkan semua / seluruh hukum Taurat. Juga, kalau kita melihat seorang dokter terkena flu, kita tidak akan berkata bahwa dokter itu tidak boleh mengobati orang yang sakit flu. Kalau kita melihat seorang montir mobilnya mogok, kita tidak akan mengatakan bahwa montir itu tidak boleh membetulkan mobil. Lalu mengapa kalau ada seorang pendeta yang tidak bisa melakukan ajarannya kita berkata bahwa ia tidak boleh memberitakan ajaran tersebut?

Lain lagi ceritanya kalau si pengkhotbah itu memang tidak berkeinginan untuk melakukan apa yang ia ajarkan. Ini tentu merupakan suatu kemunafikan.

Tetapi dari sudut saudara sebagai jemaat / pendengar, apakah pendeta / pengkhotbah itu mentaati ajarannya sendiri atau tidak, saudara tetap harus mendengar dan taat, tentu saja selama ajarannya itu benar.

Bdk. Mat 23:1-3 – “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-muridNya, kataNya: ‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya”.

Kalau pendeta / pengkhotbah itu tidak mentaati ajarannya sendiri, itu urusan dia dengan Tuhan, tetapi kalau saudara ikut-ikutan tidak taat, saudarapun akan berurusan dengan Tuhan. Jadi tetaplah taat, tak peduli pendeta / pengkhotbahnya taat atau tidak!

b)   Keharusan mentaati Perjanjian Lama.

Misalnya:

  • tentang persembahan persepuluhan! Tidak pernah ada ayat yang menghapuskan persembahan persepuluhan ini! Ada orang yang menggunakan 2Kor 9:7 sebagai dasar untuk menghapuskan persembahan persepuluhan, tetapi ini salah, karena ayat ini berbicara tentang persembahan sukarela, bukan tentang persembahan persepuluhan!
  • tentang peraturan Sabat (tidak boleh bekerja / mempekerjakan orang, dan harus berbakti). Ini juga tidak pernah dihapuskan. Entah berdasarkan apa orang-orang tertentu mengatakan bahwa dalam Perjanjian Baru peraturan / hukum Sabat sudah dihapuskan!

Ay 19 ini perlu dicamkan setiap kali saudara meremehkan suatu dosa dan membiarkannya ada dalam hidup saudara. Itu sama dengan meniadakan / tidak melakukan salah satu Firman Tuhan. Misalnya:

¨      dusta. Bdk. Kel 20:16 – “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu”.

¨      iri hati. Bdk. Kel 20:17 – “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.’”.

¨      menyebarkan gossip.

Amsal 10:12 – “Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran”.

Amsal 17:9 – “Siapa menutupi pelanggaran, mengejar kasih, tetapi siapa membangkit-bangkit perkara, menceraikan sahabat yang karib”.

Hati-hati dengan dosa ini, dan jangan memberi alasan / dalih: ‘Oh, itu keluar dengan sendirinya’. Atau: ‘Oh, saya tidak bermaksud begitu’. Atau: ‘Oh, aku maunya cuma sharing’. Semua penggossip begitu. Tidak ada penggosip yang memulai gossipnya dengan berkata: ‘Eh dengarkan, saya mau menceritakan suatu gossip. …’.

3)   Resiko kalau melanggar hal-hal di atas dan pahala kalau mentaati hal-hal di atas (ay 19).

Resiko bagi yang melanggar: menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga (ay 19).

Pahala bagi yang mentaati: menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga (ay 19).

Ada 2 hal yang ingin saya bahas di sini:

a)   Istilah ‘Kerajaan Surga’ menunjuk kepada apa?

  • Calvin menganggap bahwa istilah ‘Kerajaan Sorga’ menunjuk kepada Gereja, sama seperti penggunaan istilah itu dalam Luk 7:28 – “Aku berkata kepadamu: Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya.’”.

Catatan: kalau Matius menggunakan istilah ‘Kerajaan Sorga’ maka Lukas menggunakan istilah ‘Kerajaan Allah’. Tetapi kedua istilah ini artinya sama.

  • Tetapi penafsir yang lain pada umumnya menganggap bahwa istilah ini menunjuk baik kepada ‘Gereja’, maupun kepada ‘surga’.

William Hendriksen: “As Scripture confirms, this principle holds with respect to Christ’s rule both on earth (cf. Matt. 18:1-4) and in heaven. It is true now and will apply also in the day of judgment and afterward” [= Seperti diteguhkan oleh Kitab Suci, prinsip ini berlaku berkenaan dengan pemerintahan Kristus baik di bumi (bdk. Mat 18:1-4) dan di surga. Itu benar pada saat ini, dan akan berlaku juga pada hari penghakiman dan setelahnya] – hal 292-293.

Mat 18:1-4 – “Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: ‘Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?’ Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga”.

Catatan: mungkin ia menggunakan Mat 18:1-4 ini, karena karena para murid jelas sudah masuk dalam ‘Gereja’, sehingga yang dimaksudkan oleh Yesus dengan ‘tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga’ adalah ‘tidak masuk ke surga’.

Matthew Poole: “that man shall have a great renown and reputation in the church, which is the kingdom of heaven upon earth, and shall have a great reward in the kingdom of glory hereafter” (= orang itu akan mendapatkan kemasyhuran dan reputasi yang besar dalam gereja, yang adalah kerajaan surga di bumi, dan akan mendapatkan upah / pahala yang besar dalam kerajaan kemuliaan setelahnya / di alam baka) – hal 23.

Saya lebih setuju dengan penafsiran yang kedua. Jadi sekalipun masuk surga itu hanya tergantung iman kepada Kristus, tetapi tinggi rendahnya tingkat di surga, atau besar kecilnya pahala di surga, tergantung dari kehidupan kita, dan khususnya tergantung dari sikap kita terhadap Firman Tuhan.

b)   Apa artinya ‘menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga’?

  • Clarke menafsirkan kata-kata ini sebagai:

“shall have no place in the kingdom of Christ here, nor in the kingdom of glory above” (= tidak akan mendapatkan tempat dalam kerajaan Kristus di sini ataupun dalam kerajaan kemuliaan di atas) – hal 70.

Bdk. Wah 22:18-19 – “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: ‘Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.’”.

  • Pulpit Commentary (hal 157) mengutip pendapat Agustinus tentang bagian ini dimana ia mengatakan bahwa orang-orang ini bukannya tidak masuk ke dalam Kerajaan Sorga, tetapi menduduki tempat terendah.

Saya lebih condong pada pandangan kedua ini.

Jadi, sikap kita terhadap Firman Tuhan mempengaruhi / menentukan tinggi rendahnya tempat di surga. Dengan kata lain, itu mempengaruhi / menentukan kemuliaan kita di hadapan Allah. Ini sesuai dengan Kis 17:11 – “Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian”.

KJV/RSV: ‘more noble’ (= lebih mulia).

NIV: ‘more noble character’ (= karakter yang lebih mulia).

NASB: ‘more noble-minded’ (= mempunyai pikiran yang lebih mulia).

Jadi, orang yang mempunyai sikap yang benar terhadap Firman Tuhan dianggap lebih mulia oleh Tuhan, dan karena itu nanti pasti juga akan mendapat tempat yang lebih mulia di surga.

Hal-hal lain yang mempengaruhi kemuliaan seseorang di hadapan Allah adalah:

1.   Doa, yang merupakan ketaatan terhadap Firman Tuhan yang memerintahkan kita untuk berdoa.

Bdk. 1Taw 4:9-10 – “Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: ‘Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan.’ (10) Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: ‘Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tanganMu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!’ Dan Allah mengabulkan permintaannya itu”.

2.   Pelayanan, yang merupakan ketaatan terhadap Firman Tuhan yang memerintahkan kita untuk melayani. Bandingkan dengan ayat-ayat di bawah ini:

  • Mat 20:26-27 – “Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”.
  • Mat 24:46-47 – “Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya”.
  • Mat 25:14-23 – perumpamaan tentang talenta.
  • Luk 19:12-19 – perumpamaan tentang uang mina.

III) Orang kristen vs ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi (ay 20).

1)   Yesus bertentangan dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Ay 20 ini bukan hanya menunjukkan bahwa Yesus menentang kehidupan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, tetapi juga bahwa Ia ‘menghakimi’ ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Karena itu jelaslah bahwa ‘larangan menghakimi’ dalam Mat 7:1-2 tidak boleh diartikan seakan-akan kita tidak boleh mengecam / menyatakan kesalahan / kesesatan dari orang / gereja tertentu. Bdk. Yoh 7:24.

D. Martyn Lloyd-Jones: “The second proposition, which he lays down in verses 19 and 20, is that this teaching of His which is in such harmony with the Old Testament is in complete disharmony with, and an utter contradiction of, the teaching of the Pharisees and scribes” (= Hal yang kedua yang Ia berikan dalam ay 19 dan 20, adalah bahwa ajaranNya ini, yang begitu sesuai dengan Perjanjian Lama, sepenuhnya tidak sesuai dengan, dan sama sekali bertentangan dengan, ajaran dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 181.

D. Martyn Lloyd-Jones: “our Lord was not content with making positive statements only; He made negative ones also. He was not content with just stating His doctrine. He also criticized other doctrines. … Many, alas, seem to object in these days to negative teaching. ‘Let us have positive teaching’, they say. ‘You need not criticize other views.’ But our Lord definitely did criticize the teaching of the Pharisee and scribes. … And it is essential, of course, that we should do the same” (= Tuhan kita tidak puas dengan memberikan pernyataan yang positif saja; Ia juga memberikan pernyataan yang negatif. Ia tidak puas dengan hanya menyatakan ajaran / doktrinNya. Ia juga mengkritik ajaran / doktrin yang lain. … Pada jaman ini kelihatannya ada banyak orang keberatan dengan pengajaran yang negatif. ‘Baiklah kita mempunyai pengajaran yang positif’, kata mereka. ‘Engkau tidak perlu mengkritik pandangan-pandangan yang lain’. Tetapi Tuhan kita jelas mengkritik ajaran dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. … Dan tentu saja merupakan sesuatu yang penting bahwa kita melakukan hal yang sama)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 181,182.

D. Martyn Lloyd-Jones: “We are talking about æcumenicity, and the argument is put forward that, because of a certain common danger, it is not the time to be arguing about points of doctrine; rather we should all be friendly and pull together. Not at all, according to our Lord. The fact that the Roman Catholic and Greek Orthodox Churches are called Christian is no reason why we should not expose the corruptness and the dangerous errors of their systems” (= Kami berbicara tentang oikumene, dan diajukan suatu argumentasi bahwa karena suatu bahaya umum tertentu, ini bukanlah waktu untuk berdebat tentang doktrin; sebaliknya kita semua harus bersahabat dan bekerja sama. Menurut Tuhan kita sama sekali tidak demikian. Fakta bahwa Gereja-gereja Roma Katolik dan Orthodox Yunani disebut Kristen bukanlah alasan mengapa kita tidak boleh menyingkapkan keburukan dan kesalahan-kesalahan yang berbahaya dari ajaran mereka)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 182.

Catatan: Ia menyebutkan Gereja Roma Katolik dan Gereja Orthodox Yunani sebagai contoh. Tentu saja ada lebih banyak contoh, apalagi pada jaman ini, seperti: Saksi Yehovah, Mormon (Gereja Yesus Kristus dari orang-orang suci jaman akhir), Liberalisme, Gereja Orthodox Syrianya Bambang Noorsena / Jusuf Roni, Penginjilan terhadap orang matinya Andereas Samudera, dan yang sekarang sedang ‘naik daun’, yaitu Pdt. Yesaya Pariadji dari GBI Tiberias. Dari kesaksiannya jelas terlihat bahwa ia menganut pandangan ‘keselamatan oleh perbuatan baik’, dan juga ia menyalah-gunakan sakramen baptisan dan Perjamuan Kudus untuk melakukan kesembuhan.

2)   Kebenaran kita harus melampaui kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Ay 20: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”.

Kata-kata ‘hidup keagamaan’ salah terjemahan, seharusnya adalah ‘kebenaran’.

KJV/RSV/NIV/NASB: righteousness’ (= kebenaran).

Kata bahasa Yunani yang dipakai adalah DIKAIOSUNE, yang artinya memang adalah ‘righteousness’ (= kebenaran).

Jadi, Yesus berkata bahwa kalau kebenaran kita tidak lebih dari kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kita tidak akan masuk surga.

Pada jaman itu ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dianggap sebagai teladan, yang ketaatannya bahkan dianggap terlalu tinggi untuk dicapai oleh orang awam. Tetapi di sini Yesus berkata bahwa kebenaran kita harus lebih dari pada kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Sebetulnya bagaimana kebenaran atau ketaatan dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu?

a)   Ketaatan lahiriah.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi adalah orang-orang yang sangat menekankan Hukum Taurat sampai sekecil-kecilnya, tetapi hanya secara lahiriah. Kalau saudara membaca Mat 5:21-28, saudara akan melihat dengan jelas bahwa Yesus menyalahkan penafsiran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tentang hukum-hukum tertentu dalam hukum Taurat, karena mereka hanya memberikan penafsiran lahiriah saja. Jadi, seseorang dianggap melanggar hukum ke 6 kalau ia betul-betul melakukan pembunuhan secara lahiriah; demikian juga seseorang dianggap melanggar hukum ke 7 jika ia betul-betul berzinah secara lahiriah. Yesus lalu mengatakan bahwa pelanggaran terhadap kedua hukum itu bisa terjadi melalui pikiran / hati, bukan hanya secara lahiriah.

D. Martyn Lloyd-Jones: “The kingdom of God is concerned about the heart; it is not my external actions, but what I am inside that is important. A man once said that the best definition of religion was this: ‘Religion is that which a man does with his own solitude.’ In other words, if you want to know what you really are, you can find the answer when you are alone with your thoughts and desires and imaginations. It is what you say to yourself that matters. How careful we are in what we say to others; but what do we say to ourselves? What a man does with his own solitude is what ultimately counts. The things that are within, which we hide from the outside world because we are ashamed of them, these proclaim finally what we really are” (= Kerajaan Allah mempersoalkan hati; yang penting bukan tindakan lahiriahku, tetapi apa yang ada di dalamku. Seseorang pernah mengatakan bahwa definisi yang terbaik dari agama adalah ini: ‘Agama adalah apa yang seseorang lakukan pada waktu ia seorang diri’. Dengan kata lain, jika engkau ingin tahu apa sebenarnya dirimu, engkau bisa mendapatkan jawaban pada waktu engkau sedang sendirian dengan pemikiranmu, keinginanmu dan khayalanmu. Yang menjadi soal adalah apa yang engkau katakan kepada dirimu sendiri. Alangkah hati-hatinya kita dalam apa yang kita katakan kepada orang-orang lain; tetapi apa yang kita katakan kepada diri kita sendiri? Yang pada akhirnya diperhitungkan adalah apa yang dilakukan seseorang pada waktu ia seorang diri. Hal-hal yang ada di dalam, yang kita sembunyikan dari dunia luar karena kita malu tentangnya, hal-hal inilah yang akhirnya menyatakan diri kita yang sebenarnya)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 204.

Ketaatan lahiriah dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini menimbulkan kemunafikan.

J. Sidlow Baxter: “First they solemnly laboured to perform all the scribal enjoinments; then, failing in this, they rested in mere outward compliance; then they excused outward correctness only; then they masqueraded in an outward profession of piety while covertly sinning; until finally, becoming used to this, they tolerated it, and even practised it, thus becoming the worst of hypocrites” (= Mula-mula mereka berusaha untuk melakukan semua perintah / larangan dari ahli Taurat; lalu setelah mereka gagal dalam hal ini, mereka berhenti pada semata-mata penyesuaian lahiriah; lalu mereka mengabaikan / membiarkan / mengijinkan kebenaran lahiriah saja; lalu mereka menggunakan topeng pengakuan kesalehan lahiriah, sementara mereka berbuat dosa secara tersembunyi; sampai akhirnya, menjadi terbiasa dengan hal ini, mereka mentoleransinya, dan bahkan mempraktekkannya, dan dengan demikian menjadi orang munafik yang paling buruk)‘Explore the Book’, vol 5, hal 51.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi juga adalah orang-orang yang suka memamerkan ketaatannya pada hukum Taurat (Mat 6:2,5,16). Ini jelas merupakan sebagian dari kemunafikan mereka.

Kebenaran kita harus melampaui kebenaran dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat (ay 20), artinya ketaatan kita tidak boleh hanya merupakan ketaatan lahiriah. Hati juga harus taat!

Contoh ketaatan lahiriah:

  • Saudara tidak mempunyai istri kedua ataupun melakukan perselingkuhan, tetapi saudara tidak mencintai istri saudara.
  • Saudara menolong orang tetapi saudara tidak mengasihinya.
  • Saudara melayani / memberi persembahan, tetapi melakukannya bukan dengan sukacita tetapi dengan terpaksa.
  • Saudara hadir di gereja, tetapi pikiran saudara memikirkan pekerjaan dan bahkan pekerjaan yang berdosa.

Amos 8:4-6 – “Dengarlah ini, kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini dan berpikir: ‘Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu, supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin karena sepasang kasut; dan menjual terigu rosokan?’”.

Lloyd-Jones mengatakan ada banyak orang yang asal sudah pergi berbakti dan mengikuti Perjamuan Kudus pada hari Minggu, merasa bahwa ia bebas menggunakan hari itu sesukanya.

D. Martyn Lloyd-Jones: “The Lord’s day is a day that is meant to be given as much as possible to God. We ought on this day to put everything aside as far as we can, that God may be honoured and glorified and that His cause may prosper and flourish” (= Hari Tuhan adalah suatu hari yang dimaksudkan untuk diberikan sebanyak mungkin kepada Allah. Pada hari ini kita harus mengesampingkan segala sesuatu sejauh kita bisa, supaya Allah bisa dihormati dan dimuliakan dan perkara / aktivitasNya bisa berhasil dan bertumbuh / maju)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 205.

Kita tidak boleh mempunyai ketaatan yang hanya bersifat lahiriah, tetapi kita harus mempunyai ketaatan yang muncul dari hati, dan ini hanya dimungkinkan kalau kita sudah dilahir-barukan.

b)   Kepercayaan terhadap hal-hal lahiriah.

‘Ketaatan lahiriah’ yang sudah kita bahas pada point a) di atas berbeda dengan ‘kepercayaan terhadap hal-hal lahiriah’ yang dibahas di sini. Kepercayaan terhadap hal-hal lahiriah berhubungan dengan faktor keturunan (keturunan Abraham), kebangsaan mereka (bangsa pilihan), dan juga dengan sunat, yang merupakan tanda lahiriah bahwa mereka adalah bangsa pilihan.

Fil 3:4-6 – “Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat”.

Mat 3:9 – “Dan janganlah mengira, bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapa kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini!”.

Yoh 8:39-40 – “Jawab mereka kepadaNya: ‘Bapa kami ialah Abraham.’ Kata Yesus kepada mereka: ‘Jikalau sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah; pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham”.

Kis 15:1 – “Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: ‘Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.’”.

Penerapan:

Kita juga bisa mempunyai kepercayaan terhadap hal-hal lahiriah, seperti Baptisan, Perjamuan Kudus, kekristenan yang turun temurun, suku bangsa yang kristen, dan sebagainya. Semua ini harus dibuang dari diri kita!

c)   Menekankan tradisi lebih dari moral.

Hal lain tentang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini adalah bahwa mereka lebih peduli dengan hal-hal yang bersifat upacara keagamaan (seperti membasuh tangan sebelum makan – Mat 15:2) dari pada hal-hal yang bersifat moral.

d)   Menggunakan tradisi untuk menghindari tuntutan hukum Taurat.

Lloyd-Jones juga mengatakan bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi sering menggunakan tradisi untuk menghindari tuntutan hukum Taurat.

Bdk. Mat 15:3-6 – “Tetapi jawab Yesus kepada mereka: ‘Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu? Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah, orang itu tidak wajib lagi menghormati bapanya atau ibunya. Dengan demikian firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku demi adat istiadatmu sendiri”.

D. Martyn Lloyd-Jones: “They worked by traditions, and most of these traditions were really nothing but very clever and subtle ways of evading the demands of the law. … You see that a Roman Catholic who does not believe in divorce has obtained one. How has it happened? It has probably been done by means of casuistry – some kind of explanation on paper that seems to satisfy the letter of the law. But, again, I am not simply concerned to denounce that Catholic type of religion. God knows we are all experts at this. We can all rationalize our own sins and explain them away, and excuse ourselves for the things we do and do not do. That was typical of the Pharisees” (= Mereka bekerja dengan tradisi, dan kebanyakan dari tradisi ini hanyalah cara yang sangat pandai dan cerdik untuk menghindari tuntutan hukum Taurat. … Engkau melihat bahwa seorang Roma Katolik yang tidak percaya pada perceraian bisa bercerai. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Mungkin itu dilakukan dengan cara mempermainkan hukum – sejenis penjelasan di atas kertas yang kelihatannya memuaskan hukum secara hurufiah. Tetapi saya tidak sekedar mencela agama Katolik. Allah tahu bahwa kita semua ahli dalam hal ini. Kita semua bisa merasionalisasikan dosa-dosa kita sendiri dan menjelaskan dosa-dosa itu, dan memaafkan diri kita sendiri untuk apa yang kita lakukan dan yang tidak kita lakukan. Ini merupakan sesuatu yang khas dari orang-orang Farisi)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 205.

Pulpit Commentary: “Antinomianism is unchristian. If Christianity is to be found in the teachings of Christ, Christianity does not relax the moral Law. On the contrary, it elevates and strengthens that Law. We cannot make a greater mistake than to suppose that the grace of Christ means a certain easy treatment of men, any diminution of duty, any release from the obligations of right. It is not a pardon of the past with indifference as regards the future. It is forgiveness as a foundation and preparation for a new and better life” [= Anti hukum merupakan sesuatu yang tidak kristen. Jika kekristenan mau ditemukan dalam ajaran Kristus, kekristenan tidak melonggarkan hukum moral. Sebaliknya, kekristenan meninggikan dan menguatkan hukum itu. Kita tidak bisa membuat kesalahan yang lebih besar dari pada menganggap bahwa kasih karunia Kristus berarti suatu tindakan mengentengkan manusia, suatu pengecilan dari kewajiban, suatu pembebasan dari kewajiban-kewajiban dari hak (?). Itu bukan merupakan pengampunan dari masa lalu dengan sikap acuh tak acuh berkenaan dengan masa yang akan datang. Itu merupakan pengampunan sebagai suatu dasar dan persiapan untuk suatu kehidupan yang baru dan lebih baik] – hal 181.

e)   Hanya mengajar tetapi tidak melakukan.

Mat 23:1-3 – “Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-muridNya, kataNya: ‘Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya”.

Kalau ahli-ahli Taurat itu (dan mungkin banyak pendeta / penginjil) hanya mengajar tetapi tidak melakukan, maka di kalangan jemaat banyak yang hanya mendengar dan bertumbuh dalam pengetahuan, tetapi tidak melakukan (bdk. Yak 1:22).

Pulpit Commentary: “knowledge is not to be despised; it is necessary, it is most interesting; but it is not enough” (= pengetahuan tidak boleh diremehkan / dipandang rendah; itu merupakan sesuatu yang perlu, itu merupakan sesuatu yang paling menarik; tetapi itu tidak cukup) – hal 176.

f)    Menekankan hal-hal yang kecil tetapi mengabaikan hal-hal yang besar.

Mat 23:23-24 – “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan”.

g)   Kebenaran mereka adalah kebenaran karena perbuatan baik, bukan karena iman.

Ro 9:30-10:3 – “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Ini: bahwa bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran karena iman. Tetapi: bahwa Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidaklah sampai kepada hukum itu. Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan karena iman, tetapi karena perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan, seperti ada tertulis: ‘Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu sandungan, dan siapa yang percaya kepadaNya, tidak akan dipermalukan.’ Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah”.

Memang text ini tidak berbicara tentang kebenaran dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, tetapi Israel / Yudaisme. Tetapi Israel / Yudaisme jelas mendapatkan itu dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Fil 3:7-9 – “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan”.

Kalau saudara adalah orang yang berjuang untuk masuk surga dengan ketaatan / perbuatan baik saudara, maka saudara tidak berbeda dengan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi ini.

Hendriksen mengatakan (hal 293) bahwa ay 20-dst ini menunjukkan bahwa kebenaran yang dituntut oleh Yesus adalah kebenaran yang sempurna, yang merupakan pemberian Allah. Ini hanya bisa diterima dengan iman kepada Kristus.

3)   Ancaman kalau tidak mempunyai kebenaran yang lebih dari pada kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Ay 20b: “sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga”.

Pulpit Commentary: “A much stronger statement than that of ver. 19, though some would identify the two. There Christ was comparing one disciple with another; here his disciples with non-disciples” (= Suatu pernyataan yang jauh lebih kuat dari apa yang ada dalam ay 19, sekalipun ada yang menyamakan kedua hal itu. Di sana Kristus membandingkan satu murid dengan yang lain; di sini Ia membandingkan murid-muridNya dengan yang bukan murid) – hal 158.

Pulpit Commentary: “Christians who neglect part of the Law of God shall be called least in the kingdom of heaven; but mere formalists shall not even enter therein” (= Orang-orang kristen yang mengabaikan sebagian dari hukum Taurat Allah akan disebut yang terkecil dalam kerajaan surga; tetapi orang-orang yang hanya mempraktekkan hal-hal lahiriah bahkan tidak akan masuk ke dalamnya) – hal 176.

Kesimpulan / penutup.

Yesus tidak membuang Perjanjian Lama, dan karena itu kita juga tidak boleh membuang Perjanjian Lama, tetapi sebaliknya mengajarkannya dan mentaatinya. Dan kita harus mempunyai kebenaran yang melebihi kebenaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, khususnya dalam persoalan:

  • kebenaran yang didapatkan oleh iman kepada Kristus.
  • ketaatan yang muncul dari hati yang sudah dilahir-barukan, dan bukan sekedar ketaatan yang lahiriah saja.

Matius 5:21-26

I) Yesus bukan menentang Firman Tuhan / Perjanjian Lama, tetapi menentang penafsiran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tentang Perjanjian Lama.

1)   Terjemahan yang salah dari Kitab Suci Indonesia.

Ay 21: “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum”.

KJV/RSV/NIV/Lit: ‘it was said’ (= dikatakan).

Kitab Suci Indonesia menterjemahkan ‘difirmankan’. Penggunaan kata ‘firman’ menunjukkan bahwa itu merupakan kata-kata Allah / Perjanjian Lama, dan ini salah.

Kalau Yesus mengutip Perjanjian Lama, maka istilah yang biasa digunakan adalah:

  • ‘Ada tertulis’ (It is written / It has been written), seperti dalam Mat 4:4,7,10.
  • ‘Tidakkah kamu baca’, seperti dalam Mat 12:3,5  Mat 19:4  Mat 22:31.

Sebetulnya terjemahannya adalah ‘it was said’ (= dikatakan), seperti dalam Kitab Suci bahasa Inggris, dan ini tidak menunjuk pada kata-kata Allah, tetapi pada kata-kata / ajaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Hal yang sama terjadi pada ay 27,31,33,38,43.

2)   Dalam ay 21-48 Yesus memberikan exposisi / penafsiranNya tentang hukum Taurat, dan mengkontraskannya dengan penafsiran / ajaran dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Perbedaan utama adalah bahwa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi selalu memberikan penafsiran hurufiah, dan hanya memperhatikan tindakan lahiriah, sedangkan Yesus memberikan arti sebenarnya dan menekankan juga hati, pikiran, motivasi dan keinginan seseorang. Tetapi ada juga bagian dimana ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu menggunakan tradisi mereka yang sama sekali tidak ada dalam Kitab Suci (seperti dalam ay 43), atau memberikan penerapan yang salah tentang Perjanjian Lama (seperti dalam ay 31,33,38).

II) Yesus membahas hukum ke 6: jangan membunuh.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menafsirkan hukum ke 6, sebagai larangan terhadap pembunuhan secara fisik / lahiriah saja, tetapi dalam ay 21-26 ini Yesus menerapkannya pada hal-hal lain, yaitu:

1)   Marah (ay 22a).

a)   Tidak semua kemarahan adalah dosa.

Ay 22a (KJV): But I say unto you, That whosoever is angry with his brother without a cause shall be in danger of the judgment’ (= Tetapi Aku berkata kepadamu: Bahwa siapapun yang marah kepada saudaranya tanpa alasan akan ada dalam bahaya penghakiman).

Kata-kata ‘without a cause’ (= tanpa alasan) hanya ada dalam manuscripts tertentu.

Stott mengatakan (hal 83) bahwa sekalipun kata-kata ‘without a cause’ itu mungkin sekali tidak orisinil, tetapi kata-kata itu memberikan penafsiran yang benar tentang apa yang Yesus maksudkan, karena jelas bahwa tidak semua kemarahan merupakan dosa. Terlepas dari asli atau tidaknya, atau benar atau tidaknya, kata-kata ‘without a cause’ itu dalam terjemahan KJV ini, Kitab Suci jelas tidak menganggap semua kemarahan sebagai dosa. Ini terlihat dari:

  • Yesus berulangkali marah (Mark 3:5  Yoh 2:13-17), tetapi dikatakan tidak berdosa (Ibr 4:15).
  • kemarahan jemaat Efesus terhadap rasul-rasul palsu dipuji (Wah 2:2), dan sebaliknya ke‘sabar’an jemaat Korintus terhadap rasul-rasul palsu justru dikecam (2Kor 11:4).
  • Ef 4:26 yang berbunyi: ‘Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu’, jelas menunjukkan bahwa ‘marah’ tidak selalu identik dengan ‘dosa’, dan bahwa kita bisa marah tetapi tidak berdosa.

Kemarahan yang benar biasanya adalah kemarahan yang dilandasi oleh kasih, dan ditujukan terhadap dosa, ketidak-adilan, penindasan, dan kesesatan.

Contoh:

¨      orang tua yang marah kepada anak yang nakal.

¨      orang kristen yang marah karena adanya ajaran sesat atau karena adanya korupsi dalam gereja.

¨      kita marah karena adanya terorisme.

¨      kita marah mendengar orang yang bersalah dibebaskan / orang yang tidak bersalah dihukum oleh pengadilan.

Perlu dicamkan bahwa sekalipun kemarahan seperti ini merupakan kemarahan yang benar, tetapi kalau perwujudannya kelewat batas maka itu menjadi salah / dosa. Misalnya kalau kemarahan terhadap anak diwujudkan dengan memaki anak atau memukul sehingga mencederai anak tersebut.

b)   Tetapi jelas ada banyak kemarahan yang memang merupakan dosa, dan mungkin sebagian besar kemarahan kita, tidak bisa disebut sebagai ‘holy anger’ (= kemarahan yang suci), dan memang merupakan dosa. Dan ini dihubungkan oleh Yesus dengan hukum ke 6 (ay 21). Jadi, kemarahan seperti itu merupakan pembunuhan dalam hati / pikiran.

c)   Kata ‘saudara’ dalam ay 22 kelihatannya harus diartikan bukan sebagai ‘saudara seiman’, tetapi sebagai ‘sesama manusia’, atau ‘siapapun yang mempunyai hubungan dengan kita’.

2)   Mencaci-maki / mengeluarkan kata-kata yang bersifat menghina (ay 22b,c).

a)   Mengatakan ‘kafir’ (ay 22b).

1.   Arti kata ini sebenarnya.

RSV: ‘whoever insults his brother’ (= siapapun menghina saudaranya).

KJV/NIV/NASB tidak menterjemahkan kata ini, tetapi hanya mentransliterasikan (mengganti huruf-huruf Yunaninya dengan huruf Latin) sebagai ‘Raca’.

D. Martyn Lloyd-Jones: “‘Raca’ means ‘worthless fellow’” (= ‘Raca’ berarti ‘orang yang tidak berharga’)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 224.

John Stott mengatakan (hal 84) bahwa kata ‘Raca’ itu mungkin sama dengan kata Aram yang berarti ‘empty’ (= kosong).

Tasker (Tyndale) mengatakan bahwa kata ‘Raca’ tidak terlalu berbeda dengan MORE (yang digunakan dalam ay 22c) yang artinya ‘bodoh / tolol’ (dalam Kitab Suci Indonesia diterjemahkan ‘jahil’).

Barclay: “Raca is an almost untranslatable word, because it describes a tone of voice more than anything else. Its whole accent is the accent of contempt. To call a man Raca was to call him a brainless idiot, a silly fool, an empty-headed blunderer. It is the word of one who despises another with an arrogant contempt” (= Raca hampir tidak bisa diterjemahkan, karena kata itu lebih menggambarkan nada suara dari pada apapun yang lain. Seluruh penekanannya merupakan penekanan penghinaan / kejijikan. Menyebut seseorang sebagai Raca berarti menyebutnya sebagai seorang idiot yang tidak mempunyai otak, seorang tolol, seorang pembuat kesalahan yang kepalanya kosong) – hal 139.

2.   Orang yang mengatakan Raca lebih bersalah dari pada orang yang marah (point no 1 di atas).

Sama seperti kemarahan, mengatakan Raca juga dinyatakan oleh Yesus sebagai pelanggaran terhadap hukum ke 6. Tetapi kalau ay 22a mengatakan bahwa orang yang marah ‘harus dihukum’ [NASB: ‘liable to the court’ (= bisa dihadapkan ke pengadilan)], maka ay 22b mengatakan bahwa orang yang mengatakan ‘Raca’ harus ‘dihadapkan ke Mahkamah Agama(Sanhedrin). Saya setuju dengan William Barclay yang mengatakan (hal 140) bahwa ini tidak boleh diartikan secara hurufiah. Artinya hanyalah bahwa tindakan yang kedua ini (ay 22b) merupakan dosa yang lebih besar dari pada tindakan pertama (ay 22a).

Penerapan:

Sekalipun pada waktu saudara marah secara salah saudara sudah berdosa, tetapi kalau bisa tetap tahanlah mulut saudara supaya tidak mengeluarkan kata-kata hinaan, karena ini akan membuat saudara jatuh ke dalam dosa yang lebih besar.

b)   Mengatakan ‘jahil’ (ay 22c).

1.   Kata ‘jahil’ ini jelas merupakan terjemahan yang salah.

KJV/RSV/NIV/NASB: ‘fool’ (= bodoh / tolol).

Kata Yunani yang dipakai adalah MORE, dan Adam Clarke mengatakan (hal 71) bahwa mungkin itu berasal dari kata bahasa Ibrani MARAH, yang berarti ‘memberontak’ atau ‘murtad’. Jadi mungkin bisa diartikan sebagai ‘sesat’. Tetapi Clarke mengatakan bahwa ini hanya bersalah, kalau si penuduh / pemaki itu tidak bisa membuktikan tuduhan / makiannya tersebut.

Barclay mengatakan (hal 140) bahwa sekalipun kata Yunaninya bisa diartikan ‘bodoh’ / ‘tolol’, tetapi kalau kita menyebut seseorang dengan kata ini, maka artinya adalah bahwa orang itu ‘bodoh secara moral’. Ini berarti kita mencap orang tersebut sebagai orang yang tidak bermoral, dan dengan demikian merusak reputasi orang tersebut.

2.   Mengatakan seseorang sebagai bodoh / tolol, tidak selalu merupakan dosa.

Dalam Mat 23:17 Yesus sendiri berkata kepada / tentang ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi dengan kata-kata sebagai berikut: “Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?”.

Kata Yunani yang digunakan dalam Mat 23:17 ini sama dengan yang digunakan dalam Mat 5:22, hanya saja dalam Mat 23:17 ini digunakan bentuk jamak.

Bandingkan juga dengan Luk 11:40  24:25  Ro 1:22  1Kor 15:36  2Kor 11:19  Gal 3:1  1Pet 2:15 dimana Yesus / rasul-rasul juga mengatakan seseorang sebagai ‘bodoh’. Tetapi dalam semua ayat-ayat ini, kata bahasa Yunaninya berbeda dengan yang digunakan dalam Mat 5:22 dan Mat 23:17.

Dari semua ini harus disimpulkan bahwa sama seperti marah, maka mengatakan ‘bodoh’ / ‘tolol’ hanya salah, kalau hal itu dilandasi kebencian atau emosi yang tidak terkendali.

3.   Tindakan ini lebih berat lagi dosanya dari pada tindakan pertama (marah) dan kedua (mengatakan Raca), dan itu ditunjukkan oleh kata-kata ‘harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala’ (ay 22c).

Lagi-lagi saya setuju dengan Barclay yang mengatakan (hal 141) bahwa ini tidak boleh ditafsirkan secara hurufiah. Ini hanya menunjukkan bahwa tindakan mengatakan ‘bodoh’ ini merupakan dosa yang lebih besar dari pada mengatakan ‘Raca’.

Barclay: “Long-lasting anger is bad; contemptuous speaking is worse, and the careless or the malicious talk which destroys a man’s good name is worst of all” (= Kemarahan yang bertahan lama merupakan sesuatu yang buruk; mengucapkan sesuatu yang menghina merupakan sesuatu yang lebih buruk, dan kata-kata yang sembrono atau jahat yang menghancurkan nama baik seseorang adalah yang terburuk dari semua) – hal 141.

3)   Adanya ‘ganjelan’ yang belum dibereskan dalam hati saudara kita terhadap kita (ay 23-24).

a)   Apa yang dimaksud dengan ‘ganjelan’ itu?

William Hendriksen beranggapan (hal 300) bahwa ‘ganjelan’ itu tidak mungkin merupakan sesuatu yang remeh / kecil, karena kalau demikian, alangkah sedikitnya orang yang bisa berbakti kepada Allah. Jadi ia beranggapan bahwa ‘ganjelan’ itu haruslah sesuatu yang cukup  penting / besar. Tetapi saya berpendapat bahwa kata-kata ini sukar dipraktekkan, karena besar atau kecil merupakan sesuatu yang relatif.

Selanjutnya Hendriksen membahas apakah orang yang mempunyai ganjelan terhadap kita itu harus benar, baru kita wajib melakukan ay 23-24 ini? Atau apakah sekalipun ia tidak benar, tetapi ia menyangka bahwa ia benar, kita tetap wajib melakukan ay 23-24 ini?

Hendriksen mengatakan bahwa Lenski berpendapat bahwa orang yang mempunyai ganjelan itu harus benar. Matthew Poole juga mengatakan (hal 23) bahwa orang itu harus mempunyai ‘just reason’ (= alasan yang benar).

Tetapi Hendriksen sendiri beranggapan bahwa kalaupun saudara kita itu salah, tetapi kalau ia mengira dirinya benar, sehingga ia mempunyai ganjelan terhadap kita, maka kita tetap harus mengusahakan perdamaian dengan dia (bukan minta maaf, tetapi menjelaskan / memberi pengertian kepadanya). Dan kelihatannya Pulpit Commentary mempunyai pandangan yang sama dengan Hendriksen.

Pulpit Commentary: “It is noteworthy that our Lord in this verse does not define on whose side the cause of the quarrel lies” (= Perlu diperhatikan bahwa Tuhan kita dalam ayat ini tidak mendefinisikan pada sisi siapa penyebab pertengkaran ini terletak) – hal 162.

Satu hal lain yang ingin saya tambahkan adalah: kalau kita disuruh berinisiatif untuk membereskan suatu ‘ganjelan’ yang ada dalam diri saudara kita, apalagi kalau ‘ganjelan’ itu ada dalam diri kita sendiri! Adakah saudara seiman / orang di sekitar saudara terhadap siapa saudara mempunyai ‘ganjelan’? Bawa itu kepada Tuhan, dan bereskan! Bahkan mungkin sekali untuk membereskan hal itu, saudara harus datang kepada orang tersebut, dan membicarakannya!

b)   Mengapa hal seperti ini dihubungkan oleh Yesus dengan hukum ke 6?

D. Martyn Lloyd-Jones: “the commandment not to kill really means we should take positive steps to put ourselves right with our brother” (= perintah untuk tidak membunuh berarti bahwa kita harus mengambil langkah-langkah yang positif untuk meluruskan / memperbaiki hubungan kita dengan saudara kita)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 227.

c)   Kata ‘persembahan’ / ‘memberikan persembahan’ (ay 23,24).

Calvin beranggapan (hal 287) bahwa kata ‘persembahan’ merupakan suatu synecdoche (= gaya bahasa dimana ‘sebagian’ mewakili ‘seluruhnya’), dan menunjuk pada ibadah / kebaktian yang kita lakukan terhadap Allah.

Matthew Poole: “It is a text usually applied with reference to communion with God in the Lord’s supper, but equally extensive to any other part of worship, hearing the word, James 1:21, and prayer, 1Tim 2:8” (= Ini merupakan text yang biasanya diterapkan berkenaan dengan persekutuan dengan Allah dalam Perjamuan Kudus, tetapi juga mencakup lebih luas pada bagian lain dari ibadah / kebaktian, mendengar firman, Yak 1:21, dan doa, 1Tim 2:8) – hal 23.

Yak 1:19-21 – “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah. Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu”.

1Tim 2:8 – “Oleh karena itu aku ingin, supaya di mana-mana orang laki-laki berdoa dengan menadahkan tangan yang suci, tanpa marah dan tanpa perselisihan”.

Bandingkan juga dengan ayat-ayat di bawah ini:

  • Yes 1:15 – “Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan mukaKu, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah”.
  • Yes 58:3-4 – “‘Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?’ Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi”.

D. Martyn Lloyd-Jones: “In the sight of God there is no value whatsoever in an act of worship if we harbour a known sin. … If I, in the presence of God, and while trying to worship God actively, know there is sin in my heart which I have not dealt with and confessed, my worship is useless. There is no value in it at all” (= Dalam pandangan Allah ibadah itu tidak mempunyai nilai apapun jika kita mempunyai / menyembunyikan dosa yang diketahui. … Jika saya, di hadapan Allah, sedang berusaha untuk menyembah / berbakti kepada Allah secara aktif, tahu bahwa ada dosa dalam hati saya yang belum saya tangani dan akui, ibadah saya tidak berguna. Itu sama sekali tidak mempunyai nilai)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 228.

D. Martyn Lloyd-Jones: “If you are in a state of conscious enmity against another, if you are not speaking to another person, or if you are harbouring these unkind thoughts and are a hindrance and an obstacle to that other, God’s Word assures you that there is no value in your attempted act of worship” (= Jika engkau ada dalam keadaan permusuhan yang disadari terhadap orang lain, jika engkau tidak mau berbicara dengan seorang yang lain, atau jika engkau mempunyai / menyembunyikan pikiran-pikiran yang tidak baik ini dan hal itu merupakan suatu halangan dan rintangan terhadap orang lain itu, Firman Allah meyakinkanmu bahwa tidak ada nilai dalam usahamu untuk beribadah / berbakti)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 228.

D. Martyn Lloyd-Jones: “There is no value or purpose in praying to God if you know in your own heart that you are not right with your brother. It is impossible for God to have any dealings with sin and iniquity. He is of such a pure countenance that He cannot even look upon it. According to our Lord the matter is so vital that you must even interrupt your prayer, you must, as it were even keep God waiting. Go and put it right, He says; you cannot be right with God until you put yourself right with man” (= Tidak ada nilai atau kegunaan dalam berdoa kepada Allah jika engkau tahu dalam hatimu sendiri bahwa engkau tidak benar / beres dengan saudaramu. Adalah mustahil bagi Allah untuk mempunyai hubungan / urusan dengan dosa dan kejahatan. Ia mempunyai wajah yang begitu murni sehingga Ia bahkan tidak bisa memandangnya. Menurut Tuhan kita persoalan itu begitu penting sehingga engkau harus menginterupsi doamu, bahkan engkau seakan-akan harus membiarkan Allah menunggu. Pergilah dan bereskanlah, kataNya; engkau tidak bisa beres dengan Allah kecuali engkau membereskan dirimu sendiri dengan manusia)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 228-229.

Calvin: “But if the worship, which men render to God, is polluted and corrupted by their resentments, this enables us to conclude, in what estimation he holds mutual agreement among ourselves” (= Tetapi jika ibadah / kebaktian, yang dilakukan manusia kepada Allah, dikotori dan dirusak oleh kebencian / kemarahan / kesebalan / ketidak-senangan, ini menyebabkan kita bisa menyimpulkan bagaimana Ia menilai persetujuan / persesuaian satu sama lain di antara kita sendiri) – hal 286.

d)   Ini tidak berarti bahwa hubungan dengan manusia lebih penting dari pada hubungan dengan Allah.

Knox Chamblin: “The point is not that human relationships are more important than the worship of God, but that these two are inextricably bound together (the one inevitably affects the other)” [= Maksudnya bukan bahwa hubungan dengan manusia lebih penting dari pada ibadah / kebaktian kepada Allah, tetapi bahwa kedua hal ini terikat menjadi satu secara tak terpisahkan (yang satu secara tak terhindarkan mempengaruhi yang lain)] – hal 41.

e)   Inisiatif untuk membereskan ganjelan ini jelas bukan hal yang gampang. Ini membutuhkan kerendahan hati dan penyangkalan diri!

f)    Bagaimana kalau kita sudah mengusahakan perdamaian secara benar, tetapi orang tersebut tidak mau berdamai?

Pulpit Commentary: “The Christian can never excuse himself by saying, ‘My brother will not be reconciled to me.’ He must be; and the Christian must not rest until he is. The burden of right relations rests on him” (= Orang kristen tidak pernah bisa beralasan dengan berkata: ‘Saudaraku tidak mau diperdamaikan dengan aku’. Ia harus; dan orang kristen itu tidak boleh berhenti sampai ia mau. Beban dari hubungan yang benar ada pada orang kristen itu) – hal 225.

Saya berpendapat bahwa kata-kata ini salah. Clarke mengatakan (hal 72) bahwa kalau kita sudah berusaha untuk berdamai, tetapi orang itu tidak mau, maka itu tidak akan menghalangi ibadah kita kepada Allah. Bdk. Ro 12:18 – “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!”.

Calvin: “so long as a difference with our neighbour is kept up by our fault, we have no access to God” (= selama suatu perbedaan dengan sesama kita dipelihara / dipertahankan oleh kesalahan kita, kita tidak mempunyai akses kepada Allah) – hal 286.

4)   Ada hutang yang belum dibayar (ay 25-26).

a)   Gambaran yang mustahil?

Mungkin orang-orang yang suka mencari-cari kesalahan  Kitab Suci untuk menyerang Kitab Suci, akan menyerang bagian ini sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Mana ada 2 orang yang mau ‘bertempur’ dalam pengadilan lalu berjalan ke pengadilan bersama-sama? Memang ini kelihatannya tidak masuk akal untuk kita pada jaman ini, tetapi pada jaman itu di sana, hal itu merupakan sesuatu yang bisa terjadi.

Barclay: “The picture of two opponents on the way to court together seems to us very strange, and indeed rather improbable. But in the ancient world it often happened. Under Greek law there was a process of arrest called APAGOGE, which means ‘summary arrest’. In it the plaintiff himself arrested the defendant. He caught him by his robe at the throat, and held the robe in such a way that, if the man struggled, he would strangle himself” (= Gambaran tentang dua lawan dalam perjalanan ke pengadilan bersama-sama kelihatan sangat aneh bagi kita, dan bahkan mustahil. Tetapi dalam dunia kuno itu sering terjadi. Di bawah hukum Yunani ada suatu proses penangkapan yang disebut APAGOGE, yang berarti ‘penangkapan cepat’. Dalam penangkapan ini sang penuntut sendiri menangkap terdakwa. Ia menangkapnya di bagian leher dari jubahnya, dan memegang jubah itu sedemikian rupa sehingga jika orang itu berontak, ia akan mencekik dirinya sendiri) – hal 144.

Bdk. Mat 18:28-30 – “Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya”.

b)   Penafsiran rohani atau hurufiah?

Calvin mengatakan bahwa bagian ini sering ditafsirkan secara rohani, dimana ‘hakim’ diartikan menunjuk kepada ‘Allah’.

Calvin juga mengatakan (hal 288-289) bahwa Gereja Roma Katolik menafsirkan ‘penjara’ sebagai ‘api penyucian’, dan orang tak akan keluar dari penjara / api penyucian sampai ia membayar lunas dosa-dosanya. Yang dimaksud dengan ‘lawan’ adalah ‘setan’, dan Calvin lalu mengatakan bahwa kalau bagian ini mau ditafsirkan demikian, maka karena ayat ini menyuruh kita berdamai dengan lawan kita, maka itu harus diartikan bahwa kita harus berdamai dan menjadi teman dengan setan.

Calvin sendiri tidak setuju dengan penafsiran yang merohanikan seperti itu, dan mengatakan bahwa bagian ini harus ditafsirkan secara hurufiah, dan jelas bahwa pandangan Calvin ini benar.

c)   Kontras dan persamaan.

Ada kontras antara ay 22-24 dengan ay 25-26. Yang pertama berurusan dengan ‘saudaranya’ (ay 22) / ‘saudaramu’ (ay 23), dan yang kedua berurusan dengan ‘lawanmu’ (ay 25).

Tetapi juga ada persamaan antara ay 23-24 dengan ay 25-26, yaitu ada ganjelan dalam diri orang tersebut terhadap kita, dan ini harus dibereskan. Persamaan yang lain adalah bahwa dalam kedua kasus, persoalannya harus dibereskan dengan secepatnya.

Barclay: “When personal relations go wrong, in nine cases out of ten immediate action will mend them; but if that immediate action is not taken, they will continue to deteriorate, and the bitterness will spread in an ever-widening circle” (= Pada waktu hubungan pribadi rusak, dalam 9 dari 10 kasus, tindakan langsung / segera akan memperbaikinya; tetapi jika tindakan langsung / segera itu tidak dilakukan, hubungan itu akan terus memburuk, dan kepahitan akan menyebar makin lama makin luas) – hal 145.

d)   Hutang yang tidak dibayar jelas akan merupakan suatu ganjelan dalam diri orang yang memberi hutang, dan karena itu orang kristen harus secepatnya membereskan hutangnya.

Sebetulnya berhutang saja sudah merupakan sesuatu yang memalukan, apalagi kalau berhutang dan tidak membayar hutangnya. Kitab Suci menggambarkan orang yang berhutang dan tidak membayar kembali sebagai orang fasik.

Maz 37:21a – “Orang fasik meminjam dan tidak membayar kembali”.

e)   Jangan menggunakan text ini sebagai dasar untuk membolehkan orang kristen membereskan perkara pidana di luar sidang.

Ingat bahwa yang dipersoalkan dalam ay 25-26 adalah persoalan hutang, yang jelas merupakan suatu persoalan perdata. Jadi, yang boleh / harus dibereskan di luar sidang / sebelum sidang ini hanyalah perkara perdata. Perkara pidana tidak boleh didamaikan seperti itu.

Kesimpulan / penutup.

Tuhan menghendaki kita mempunyai hubungan yang baik dengan sesama, dan juga pemberesan semua ganjelan. Memang ini tidak mudah, tetapi akan menjadi lebih mudah jika semua pihak mau berusaha melaksanakan kehendak Tuhan ini. Maukah saudara? Tuhan memberkati saudara.

Matius 5:27-30

I) Perzinahan dalam hati / pikiran.

 

1)   Kesalahan penafsiran hukum ke 7.

Tentang ay 27 Calvin berkata (hal 290) bahwa sekalipun Kristus mengutip kata-kata dari hukum Taurat tetapi Ia bukan menyalahkan hukum Taurat, tetapi penafsiran yang salah tentang hukum Taurat. Sama seperti dengan hukum yang ke 6 (Mat 5:21-26), pada saat itu pelanggaran hukum ke 7 ini baru dianggap terjadi kalau betul-betul terjadi perzinahan fisik.

Kesalahan penafsiran ini sudah terjadi untuk waktu yang lama, tetapi Calvin mengatakan (hal 290) bahwa lamanya suatu kesalahan tidak boleh menjadi alasan bagi kita untuk mendukung kesalahan tersebut.

2)   Perzinahan tidak hanya bisa terjadi secara fisik, tetapi juga dalam hati / pikiran kita.

A. T. Robertson mengatakan (hal 45-46) bahwa kata ‘hati’ di sini bukan hanya mempersoalkan emosi / perasaan, tetapi mencakup intelek / pikiran, perasaan, dan kehendak.

Calvin: “He says, that not only those who have seduced their neighbours’ wives, but those who have polluted their eyes by an immodest look, are adulterers before God” (= Ia berkata bahwa bukan hanya mereka yang menggoda istri dari sesamanya, tetapi juga mereka yang mengotori mata mereka dengan pandangan yang tidak sopan, adalah pezinah-pezinah di hadapan Allah) – hal 290.

Calvin: “not only those who form a deliberate purpose of fornication, but those who admit any polluted thoughts, are reckoned adulterers before God” (= bukan hanya mereka yang membentuk tujuan percabulan yang sengaja, tetapi juga mereka yang mengijinkan pikiran kotor, dianggap sebagai pezinah-pezinah di hadapan Allah) – hal 290.

Bagian ini dipakai oleh Calvin untuk menyerang pandangan Roma Katolik.

Calvin: “The hypocrisy of the Papist, therefore, is too gross and stupid, when they affirm that lust is not a sin, until it gain the full consent of the heart. But we need not wonder, that they make sin to be so small a matter; for those who ascribe righteousness to the merit of works must be very dull and stupid in judging their sins” (= Karena itu, kemunafikan dari para pengikut Paus adalah terlalu menyolok dan bodoh, pada waktu mereka menegaskan bahwa nafsu bukanlah dosa, sampai nafsu itu mendapatkan persetujuan penuh dari hati. Tetapi kita tidak perlu heran, bahwa mereka membuat dosa menjadi persoalan yang begitu kecil; karena mereka yang mempercayai kebenaran karena perbuatan baik pasti sangat tumpul dan bodoh dalam menghakimi / menilai dosa-dosa mereka) – hal 290-291.

Adam Clarke: “If voluntary and deliberate looks and desires make adulterers and adulteresses, how many persons are there whose whole life is one continued crime! whose eyes being full of adultery, they cannot cease from sin, 2Pet. 2:14. Many would abhor to commit one external act before the eyes of men, in a temple of stone; and yet they are not afraid to commit a multitude of such acts in the temple of their hearts, and in the sight of God!” (= Jika pandangan dan keinginan sukarela dan sengaja membuat orang menjadi pezinah-pezinah, betapa banyak orang yang seluruh hidupnya merupakan satu kejahatan yang terus menerus! yang matanya penuh dengan perzinahan, mereka tidak bisa berhenti dari dosa, 2Pet 2:14. Banyak orang benci untuk melakukan satu tindakan lahiriah di hadapan mata manusia, dalam suatu kuil dari batu; tetapi mereka tidak takut untuk melakukan banyak tindakan seperti itu dalam kuil dari hati mereka, dan dalam pandangan Allah) – hal 73.

Bdk. 2Pet 2:14 – “Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk!”.

3)   Ayat ini memang lebih ditekankan untuk laki-laki, sekalipun tentu juga berlaku untuk perempuan.

Ay 27-28 – “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”.

Kata-kata ‘setiap orang yang memandang’ dalam bahasa Yunaninya menggunakan bentuk masculine / laki-laki.

Mengapa ditekankan pada laki-laki? Karena pada umumnya orang perempuan baru terangsang melalui sentuhan, sedangkan orang laki-laki sudah terangsang melalui penglihatan.

4)   Sebetulnya, sama seperti dengan hukum ke 6 (Mat 5:22b), hukum ke 7 ini juga bisa dilanggar dengan kata-kata.

Ini tidak dinyatakan di sini, tetapi ada dalam:

  • Ef 4:29 – “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia”. Bdk. Kol 3:8.
  • Ef 5:3-4 – “Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan disebut sajapun jangan di antara kamu, sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus. Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono – karena hal-hal ini tidak pantas – tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur”.

Penerapan:

Ini harus diperhatikan oleh orang yang senang dengan guyonan / lelucon ataupun percakapan yang berbau porno dan bersifat erotis / membangkitkan nafsu.

II) Cara mengatasi dosa ini.

Tuhan jelas menghendaki kita membuang dosa ini, dan itu terlihat dari Kol 3:5 – “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala”.

Bagaimana cara membuang dosa ini?

1)   Ay 29-30: “(29) Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. (30) Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka”.

Bdk. Mat 18:8-9 – “Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua”.

Ada beberapa hal yang perlu dibahas dari text tersebut di atas:

a)   Kata ‘menyesatkan’.

KJV: ‘offend’.

Barnes’ Notes: “The English word ‘offend’ means now, commonly, to displease; to make angry; to affront. This is by no means the sense of the word in Scripture. It means, to cause to fall, or to allure, into sin” (= Kata bahasa Inggris ‘offend’ sekarang pada umumnya berarti, ‘membuat tidak senang’, ‘membuat marah’, ‘menghina’. Ini sama sekali bukanlah arti dari kata itu dalam Kitab Suci. Kata itu berarti ‘menyebabkan jatuh’, atau ‘memikat ke dalam dosa’) – hal 25.

NKJV/RSV/NIV: ‘causes you to sin’ (= menyebabkan kamu berdosa).

NASB: ‘makes you to stumble’ (= membuat kamu tersandung).

b)   Arti dari ungkapan ‘mencungkil mata kanan’ dan ‘memenggal tangan kanan’.

Adam Clarke mengatakan (hal 73) bahwa ‘mata kanan’ dan ‘tangan kanan’ menunjuk pada dosa-dosa yang paling menyenangkan dan paling berguna bagi kita.

William Hendriksen: “This command must not be taken literally, … The general meaning of the passage, then, is this: ‘Take drastic action in getting rid of whatever in the natural course of events will tempts you into sin.’” (= Perintah ini tidak boleh diartikan secara hurufiah, … Maka, arti yang umum dari text ini adalah ini: ‘Ambillah tindakan drastis untuk membuang apapun yang secara alamiah akan mencobai engkau ke dalam dosa’) – hal 303.

John Stott: “A few Christian, whose zeal greatly exceeded their wisdom, have taken Jesus au pied de la lettre and mutilated themselves. Perhaps the best-known example is the third-century scholar, Origen of Alexandria. He went to extremes of asceticism, renouncing possessions, food and even sleep, and in an over-literal interpretation of this passage and of Matthew 19:12 actually made himself a eunuch. Not long after, in AD 325, the Council of Nicea was right to forbid this barbarous practice” (= Beberapa orang kristen, yang semangatnya jauh melebihi hikmatnya, mengartikan kata-kata Yesus secara hurufiah dan membuntungi dirinya sendiri. Mungkin contoh yang paling terkenal adalah ahli teologia abad ketiga, Origen dari Alexandria. Ia memasuki ke-extrim-an dari pertapaan, meninggalkan / membuang semua miliknya, makanan dan bahkan tidur, dan dalam suatu penafsiran yang kelewat hurufiah dari text ini dan Mat 19:12, ia betul-betul membuat dirinya seorang sida-sida / orang yang dikebiri. Tidak lama setelahnya, dalam tahun 325 M., sidang gereja di kota Nicea dengan benar melarang praktek kejam / biadab ini)‘The Message of the Sermon on the Mount’, hal 89.

John Stott memberikan penafsiran tentang ay 29-30 ini sebagai berikut: kalau matamu menyebabkan engkau berdosa karena ada pencobaan datang kepadamu melalui matamu, maka ‘cungkillah matamu’. Artinya: jangan melihatnya. Berlakulah seakan-akan engkau betul-betul telah mencungkil matamu dan membuangnya, dan sekarang engkau buta dan tidak bisa melihat hal itu. Demikian juga kalau pencobaan datang melalui tangan atau kaki. Penggallah tangan / kakimu. Artinya: Jangan lakukan hal itu / jangan pergi ke sana. Berlakulah seakan-akan engkau betul-betul telah memenggal tangan / kakimu, sehingga engkau tidak bisa melakukan hal itu / pergi ke sana.

Calvin: “you ought rather to part with your eyes, than to depart from the commandments of God.’ And yet Christ does not mean, that we must mutilate our body, in order to obey God: … Christ employs an exaggerated form of speech to show, that whatever hinders us from yielding that obedience to God which he requires in his law, ought to be cut off” (= engkau harus memilih untuk berpisah dengan matamu dari pada berpisah dari perintah-perintah Allah’. Tetapi Kristus tidak memaksudkan bahwa kita harus membuntungi tubuh kita, supaya bisa mentaati Allah: … Kristus menggunakan ungkapan yang melebih-lebihkan untuk menunjukkan bahwa apapun yang menghalangi kita dari penyerahan dan ketaatan kepada Allah yang Ia kehendaki dalam hukumNya, harus dibuang) – hal 291.

Ay 29,30: ‘cungkillah dan buanglah itu … penggallah dan buanglah’.

Adam Clarke: “It is not enough to shut the eyes, or stop the hand; the one must be plucked out, and the other cut off. Neither is this enough, we must cast them both from us. Not one moment’s truce with an evil passion, or a sinful appetite. If you indulge them, they will gain strength, and you shall be ruined” (= Tidak cukup untuk menutup mata, atau menghentikan tangan; yang satu harus dicungkil, dan yang lain dipenggal. Ini juga belum cukup, kita harus membuang mereka dari kita. Jangan sesaatpun mengadakan gencatan senjata dengan nafsu jahat atau keinginan yang berdosa. Jika engkau memuaskan mereka, mereka akan mendapatkan kekuatan, dan engkau akan hancur) – hal 74.

Memang jelas bahwa penafsiran hurufiah tidak memungkinkan, karena kalaupun mata / tangan kanan dibuang, kita masih bisa berdosa dengan mata / tangan kiri, dan kalaupun mata / tangan kiri dibuang, kita masih bisa berdoa dengan pikiran kita. Tetapi perhatikan apa yang dikatakan oleh seorang penafsir dari Pulpit Commentary di bawah ini.

Pulpit Commentary: “The ideas of this verse are expressed in the strong language of Oriental imagery, and yet a moment’s reflection will show us that the language is not a whit too strong, even if it is interpreted with strict literalness. If it came to a choice between plucking out an eye and death, every man who had courage enough to perform the hideous deed would at once choose it as the less terrible alternative. Every day hospital patients submit to frightful operation to save their lives or to relieve intolerable sufferings. But if to the thought of death we add the picture of the doom of the lost, the motives for choosing the lesser evil are immeasurably strengthened. … The difficulty, then, is not as to the truth of our Lord’s words, but as to the application of them. … As a matter of fact, self-mutilation is not the right method of avoiding temptation. If it were the sole method, it would be prudent to resort to it. But, as God has provided other ways, only a wild delusion will resort to this. Moreover, if lust is in the heart, it will not be destroyed by plucking out the eye. If hatred reigns within the enraged man, he is essentially a murderer, even after he has cut off the hand with which he was about to commit his awful crime. Still, whatever is most near to us and hinders our Christian life, must go – any friendship, though dear as the apple of the eye; any occupation, though profitable as the right hand” (= Maksud dari ayat ini dinyatakan dalam bahasa perumpamaan Timur yang kuat / keras, tetapi suatu pemikiran yang singkat akan menunjukkan kepada kita bahwa bahasa itu tidak sedikitpun terlalu kuat / keras, bahkan jika itu ditafsirkan dengan kehurufiahan yang ketat. Jika sampai pada suatu pemilihan antara pencungkilan mata dan kematian, setiap orang yang mempunyai keberanian yang cukup untuk melakukan tindakan mengerikan itu akan segera memilihnya sebagai suatu alternatif yang kurang mengerikan (dibandingkan dengan kematian). Setiap hari pasien-pasien rumah sakit tunduk pada operasi yang menakutkan untuk menyelamatkan nyawa mereka atau untuk meringankan penderitaan yang tak tertahankan. Tetapi jika kepada pemikiran tentang kematian kita menambahkan gambaran tentang nasib / hukuman bagi orang yang terhilang, maka motivasi untuk memilih pemotongan / pencungkilan itu akan sangat dikuatkan. … Jadi, kesukarannya bukanlah berkenaan dengan kebenaran dari kata-kata Tuhan kita, tetapi berkenaan dengan penerapan dari kata-kata itu. … Sebetulnya, pembuntungan diri sendiri bukanlah metode yang benar untuk menghindari pencobaan. Seandainya itu merupakan satu-satunya metode, maka merupakan sesuatu yang bijaksana untuk mengambil jalan itu. Tetapi, karena Allah telah menyediakan jalan-jalan yang lain, hanya khayalan yang liar yang akan mengambil jalan ini. Lagi pula, jika nafsu itu ada dalam hati, itu tidak akan dihancurkan dengan mencungkil mata. Jika kebencian berkuasa dalam diri orang yang sangat marah, maka secara hakiki ia adalah seorang pembunuh, bahkan setelah ia memotong tangan dengan mana ia mau melakukan kejahatannya yang hebat itu. Tetapi, apapun yang paling dekat dengan kita dan menghalangi kehidupan kristen kita, harus dibuang – persahabatan yang manapun, sekalipun kita sayangi seperti biji mata kita; pekerjaan apapun, sekalipun berguna seperti tangan kanan kita) – hal 182.

2)   Kita harus menjauhi godaan / pencobaan.

Calvin: “If the mind were pure, the eyes and hands would be obedient to it; for it is certain, that they have no movement of their own. But here we are deeply to blame. We are so far from being as careful as we ought to be, to avoid allurements, that we rather provoke our senses to wickedness by allowing them unbounded liberty” (= Seandainya pikiran kita murni, mata dan tangan akan taat kepadanya; karena adalah pasti bahwa mereka tidak mempunyai pergerakan dari diri mereka sendiri. Tetapi di sini kita harus sangat dicela / disalahkan. Kita sangat jauh dari sikap hati-hati yang seharusnya untuk menghindari pikatan / godaan, tetapi sebaliknya kita memancing / merangsang pikiran kita pada kejahatan dengan mengijinkannya pada kebebasan tanpa batas) – hal 291.

Dalam doa Bapa Kami ada kata-kata ‘janganlah membawa kami ke dalam pencobaan’ (Mat 6:13a). Kita sering berdoa seperti itu, tetapi dalam tindakan kita kita justru mencari pencobaan, dengan tidak membatasi mata / telinga kita. Jadi, tindakan kita bertentangan dengan doa kita!

Bdk. Ayub 31:1,7,9-11 – “(1) ‘Aku telah menetapkan syarat bagi mataku, masakan aku memperhatikan anak dara? … (7) Jikalau langkahku menyimpang dari jalan, dan hatiku menuruti pandangan mataku, dan noda melekat pada tanganku, … (9) Jikalau hatiku tertarik kepada perempuan, dan aku menghadang di pintu sesamaku, (10) maka biarlah isteriku menggiling bagi orang lain, dan biarlah orang-orang lain meniduri dia. (11) Karena hal itu adalah perbuatan mesum, bahkan kejahatan, yang patut dihukum oleh hakim”.

John Stott mengomentari text Ayub ini dengan berkata: “The control of his heart was due to the control of his eyes” (= Kontrol dari hatinya disebabkan oleh kontrol dari matanya)‘The Message of the Sermon on the Mount’, hal 88.

John Stott mengatakan bahwa ia tidak mau memberikan peraturan / batasan tentang buku / majalah apa yang boleh atau tidak boleh dibaca oleh orang kristen. Ia berkata bahwa setiap orang berbeda. Ada orang-orang yang sangat mudah terangsang dan ada yang tidak. Jadi batasan untuk setiap orang berbeda. Yang jelas, apa yang menyebabkan berdosa / perzinahan dalam hati bagi dia, itu dilarang.

Pulpit Commentary: “Sex is the spirit of the modern dance” (= Sex merupakan roh / semangat / ciri dari dansa modern) – hal 216.

Tidak semua dansa termasuk dalam golongan ini, dan karena itu kita tidak bisa secara mutlak melarang orang kristen berdansa atau melihat dansa. Tetapi jelas bahwa orang kristen harus hati-hati dengan dansa. Banyak ‘dance group’ yang disewa pada acara penikahan, yang mempertontonkan tarian yang jelas-jelas merangsang, dan ini harus diwaspadai oleh orang kristen pada waktu mengadakan pernikahan.

Juga permainan-permainan pada acara HUT banyak yang berbau porno, dan sangat memungkinkan terjadinya rangsangan pada seseorang. Misalnya memasukkan sesuatu ke dalam kantong celana seorang cowok, dan menyuruh seorang cewek yang matanya ditutup untuk mencari dan mengambil barang tersebut. Dan permainan seperti ini yang disenangi!

Kalau orang laki-laki harus menjauhi godaan / pencobaan, maka para perempuan, khususnya para gadis, juga harus berusaha supaya diri mereka tidak menjadi godaan / pencobaan bagi para laki-laki, yaitu dengan berhati-hati dalam berpakaian.

John Stott: “This may be an appropriate moment to refer in passing to the way girls dress. It would be silly to legislate about fashions, but wise (I think) to ask them to make this distinction: it is one thing to make yourself attractive; it is another to make yourself deliberately seductive” (= Ini mungkin merupakan saat yang tepat untuk membicarakan cara gadis-gadis berpakaian. Adalah tolol untuk mengatur / membuat peraturan tentang mode, tetapi saya kira merupakan sesuatu yang bijaksana untuk meminta mereka membuat pembedaan ini: membuat dirimu sendiri menarik berbeda dengan secara sengaja membuat dirimu menggoda / menggairahkan)‘The Message of the Sermon on the Mount’, hal 88.

Catatan: saya berpendapat bahwa kata ‘menarik’ dan ‘menggoda’ / ‘menggairahkan’ yang digunakan oleh John Stott juga merupakan istilah-istilah yang relatif, karena berbeda untuk setiap orang. Tetapi memang ada pakaian yang jelas tergolong ‘menggoda’ / ‘menggairahkan’, seperti misalnya pakaian yang dipakai oleh para cewek dalam film ‘Baywatch’, dan banyak film lainnya.

Bukan hanya cara berpakaian, tetapi juga cara duduk dari para gadis, harus diperhatikan, supaya tidak menjadi pencobaan bagi para laki-laki.

3)   Kita harus menyibukkan diri dengan pelayanan dan mengisi pikiran kita dengan hal-hal yang baik.

William Barclay mengatakan (hal 148,149) bahwa cara yang salah untuk mengatasi dosa ini adalah dengan mengambil keputusan untuk tidak memikirkan pikiran-pikiran kotor tersebut, karena makin kita memutuskan seperti itu, makin kita memikirkan hal-hal tersebut. Ada 2 hal yang harus dilakukan untuk mengatasi problem tersebut:

  • dengan melakukan tindakan-tindakan Kristen. Hidup kita harus dipenuhi dengan pekerjaan dan pelayanan Kristen sehingga tidak ada waktu bagi pikiran-pikiran kotor untuk masuk ke dalam otak kita.

Bandingkan dengan:

*        Kej 4:7 – “Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.’”.

*        2Sam 11:1-2 – Daud jatuh dalam perzinahan gara-gara menganggur dan tidak ikut berperang.

  • dengan mengisi otak kita dengan pikiran-pikiran yang baik.

Fil 4:8 – “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”.

Tentu saja, hal baik yang terutama yang perlu / harus kita masukkan ke dalam pikiran kita, adalah Firman Tuhan! Karena itu, rajinlah belajar Firman Tuhan.

4)   Doa, jelas merupakan sesuatu yang juga harus dilakukan untuk mengatasi dosa ini.

Maz 119:37a – “Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa”.

Kalau dosa ini memang merupakan kelemahan saudara, maka banyaklah berdoa untuk hal ini!

Matius 5:31-32

I) Perceraian pada jaman Yesus.

1)   Yang diucapkan Yesus dalam ay 31 lagi-lagi merupakan ajaran ahli-ahli Taurat tentang Perjanjian Lama.

Ay 31: “Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan isterinya harus memberi surat cerai kepadanya”.

NASB: And it was said, ‘Whoever sends his wife away, let him give her a certificate of divorce’” (= Dan telah dikatakan: ‘Siapapun yang menceraikan istrinya, hendaklah ia memberinya surat cerai’).

2)   Text Perjanjian Lama yang dipersoalkan.

Ul 24:1-4 – “(1) ‘Apabila seseorang mengambil seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu, sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu, sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya, (2) dan jika perempuan itu keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi isteri orang lain, (3) dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki yang kemudian mengambil dia menjadi isterinya itu mati, (4) maka suaminya yang pertama, yang telah menyuruh dia pergi itu, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi isterinya, setelah perempuan itu dicemari; sebab hal itu adalah kekejian di hadapan TUHAN. Janganlah engkau mendatangkan dosa atas negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu”.

Pada jaman itu ada kontroversi / perdebatan antara Rabbi Shammai versus Rabbi Hillel. Mereka adalah 2 rabbi Yahudi yang bertentangan pendapat tentang syarat perceraian yang mereka tafsirkan dari Ul 24:1-4.

Catatan:

  • perlu dicamkan bahwa sebetulnya Ul 24:1-4 sama sekali tidak memberikan ijin cerai ataupun syarat perceraian. Ul 24:1-4 itu hanya menekankan bahwa kalau seseorang menceraikan istrinya, dan istrinya itu lalu menjadi istri dari laki-laki lain, dan lalu pernikahan kedua itu juga putus, maka laki-laki pertama itu tidak boleh mengambil kembali perempuan itu menjadi istrinya lagi.

Secara implicit, bagian ini justru memperingatkan orang untuk tidak gampang-gampang bercerai, karena kalau suatu hari ia menyesal dan ingin rujuk, ia tidak bisa rujuk [kalau istri yang dicerai itu belum kawin lagi, maka rujuk diijinkan (1Kor 7:11), tetapi ia kalau sudah kawin lagi, rujuk tidak lagi dimungkinkan].

  • kalaupun dalam prakteknya, Musa menyuruh seorang suami yang menceraikan istrinya untuk memberikan surat cerai, itu tidak berarti bahwa perceraian itu diijinkan. Perceraian tetap dilarang, tetapi diberikan peraturan kalau hal itu terjadi.

Bandingkan dengan Ul 21:15-17 – “‘Apabila seorang mempunyai dua orang isteri, yang seorang dicintai dan yang lain tidak dicintainya [KJV/Lit: ‘hated’ (= dibenci)], dan mereka melahirkan anak-anak lelaki baginya, baik isteri yang dicintai maupun isteri yang tidak dicintai, dan anak sulung adalah dari isteri yang tidak dicintai, maka pada waktu ia membagi warisan harta kepunyaannya kepada anak-anaknya itu, tidaklah boleh ia memberikan bagian anak sulung kepada anak dari isteri yang dicintai merugikan anak dari isteri yang tidak dicintai, yang adalah anak sulung. Tetapi ia harus mengakui anak yang sulung, anak dari isteri yang tidak dicintai itu, dengan memberikan kepadanya dua bagian dari segala kepunyaannya, sebab dialah kegagahannya yang pertama-tama: dialah yang empunya hak kesulungan.’”.

Apakah text ini mengijinkan polygamy, dan lebih-lebih apakah text ini mengijinkan seorang yang melakukan polygamy itu mencintai seorang istri dan membenci istri yang lain? Tentu saja tidak, tetapi Tuhan tahu bahwa itu pasti akan terjadi, dan karena itu di sini Ia memberikan peraturan kalau hal itu terjadi.

  • dalam hal ini perlu diwaspadai terjemahan yang salah dari KJV yang berbunyi sebagai berikut: When a man hath taken a wife, and married her, and it come to pass that she find no favour in his eyes, because he hath found some uncleanness in her: then let him write her a bill of divorcement, and give it in her hand, and send her out of his house. And when she is departed out of his house, she may go and be another man’s wife. And if the latter husband hate her, and write her a bill of divorcement, and giveth it in her hand, and sendeth her out of his house; or if the latter husband die, which took her to be his wife; Her former husband, which sent her away, may not take her again to be his wife, after that she is defiled; for that is abomination before the LORD: and thou shalt not cause the land to sin, which the LORD thy God giveth thee for an inheritance’ (= Pada waktu seorang laki-laki telah mengambil seorang istri, dan menikah dengan dia, dan terjadilah bahwa ia tidak menyenangkan dalam matanya, karena ia telah menemukan suatu kenajisan dalam dia: maka hendaklah ia menuliskan surat perceraian, dan memberikannya ke tangannya, dan menyuruhnya keluar dari rumahnya. Dan pada waktu ia meninggalkan rumah itu, ia boleh pergi dan menjadi istri orang laki-laki lain. Dan jika suami yang belakangan ini membencinya, dan menulis baginya surat cerai, dan memberikannya kepadanya, dan mengusirnya dari rumahnya; atau jika suami yang belakangan ini, yang mengambilnya sebagai istri, mati; suaminya yang terdahulu, yang telah mengusirnya, tidak boleh mengambil dia kembali menjadi istrinya, setelah ia dinajiskan; karena itu merupakan kekejian di hadapan TUHAN: dan engkau akan menyebabkan negeri, yang diberikan TUHAN Allahmu kepadamu sebagai warisanmu ini, berdosa).

Yang digaris-bawahi itu salah terjemahan. Kesalahan penterjemahan ini menyebabkan dalam KJV ini kelihatannya memang perceraian dan pernikahan lagi itu memang diijinkan, padahal dalam terjemahan. yang seharusnya tidaklah demikian. Dalam terjemahan dari NKJV (New King James Version) kesalahan ini sudah dibetulkan.

a)   Rabbi Shammai menyoroti kata-kata ‘yang tidak senonoh’ dalam Ul 24:1.

KJV: ‘some uncleanness’ (= suatu kenajisan).

RSV/NASB: ‘some indecency’ (= ketidak-senonohan).

NIV: ‘something indecent’ (= sesuatu yang tidak senonoh).

Kelihatannya Barclay menganggap bahwa Rabbi Shammai berpendapat bahwa kata-kata ‘yang tidak senonoh’ dalam Ul 24:1 menunjuk pada perzinahan. Jadi ia berkata bahwa menurut rabbi Shammai perceraian diijinkan hanya kalau terjadi perzinahan.

Barclay tentang Mat 5:31-32: “Shammai and his school defined ‘some indecency’ as meaning unchastity and nothing but unchastity. ‘Let a wife be as mischievous as the wife of Ahab,’ they said, ‘she cannot be divorced except for adultery.’” (= Shammai dan kelompoknya mendefinisikan ‘yang tidak senonoh’ sebagai ‘ketidak-murnian’ / ‘perzinahan’ dan tidak ada yang lain kecuali ‘perzinahan’. ‘Biarlah seorang istri sama jahatnya seperti istri Ahab’, kata mereka, ‘ia tidak bisa diceraikan kecuali karena perzinahan) – hal 152.

Catatan: saya tidak terlalu mengerti pandangan Barclay, karena kata ‘unchastity’ bisa diterjemahkan bermacam-macam. Tetapi dari bagian akhir kutipan itu, terlihat bahwa Barclay menganggapnya sebagai ‘perzinahan’. Yang ini tidak diragukan karena Barclay menggunakan kata ‘adultery’ yang memang berarti ‘perzinahan’.

Tasker kelihatannya mempunyai pandangan yang sama dengan Barclay, karena ia mengatakan sebagai berikut:

Tasker (Tyndale): “Jesus favoured the interpretation put on Deutronomy 24:1 by the stricter school of Jewish intrepreters” [= Yesus setuju / menyokong penafsiran tentang Ul 24:1 oleh kelompok / aliran yang lebih ketat dari penafsir Yahudi (maksudnya tentu saja adalah Shammai)] – hal 69.

Tetapi John Stott mempunyai pandangan berbeda. Menurutnya, Rabbi Shammai tidak menganggap hal itu sebagai suatu perzinahan, karena perzinahan diancam dengan hukuman mati, bukan dengan perceraian. Jadi, istilah itu dianggap menunjuk pada pelanggaran sexual, tetapi belum sampai pada perzinahan / persetubuhan.

John Stott: “‘something shameful’ (NEB, RSV) or ‘something indecent’ (NIV) in his wife. This cannot refer to adultery on her part, for this was punishable by death, not divorce. So what was it? During the first century B. C. the rival pharisaic parties led by Rabbi Shammai and Rabbi Hillel were debating this very thing. Shammai was strict and understood ‘something indecent’ (whose Hebrew root alludes to ‘nakedness’ or ‘exposure’) as a sexual offence of some kind which, though left undefined, fell short of adultery or promiscuity” [= ‘sesuatu yang memalukan’ (NEB, RSV) atau ‘sesuatu yang tidak senonoh’ (NIV) dalam diri istrinya. Ini tidak bisa menunjuk pada perzinahan karena perzinahan dijatuhi hukuman mati, bukan perceraian. Lalu itu menunjuk pada apa? Selama abad pertama S. M. kelompok-kelompok Farisi yang bersaingan dipimpin oleh Rabbi Shammai dan Rabbi Hillel memperdebatkan hal ini. Shammai sangat ketat dan mengartikan ‘yang tidak senonoh’ (yang akar kata bahasa Ibraninya menunjuk pada ‘ketelanjangan’ atau ‘pembukaan’) sebagai pelanggaran sexual yang sekalipun tidak didefinisikan, tetapi tidak sampai pada perzinahan atau persetubuhan]‘Involvement’, vol II, hal 164.

James Hurley mempunyai pandangan yang sama dengan John Stott, tetapi ia juga secara explicit mengatakan bahwa ada perbedaan pendapat tentang apa yang dimaksudkan oleh rabbi Shammai.

James B. Hurley: “The school of Shammai took a much stricter stand. They understood Moses to permit divorce only for a ‘shameful thing’ or ‘indecency’ … Scholars have debated the precise meaning of Moses’ phrase and Shammai’s use of it” (= Kelompok Shammai mengambil arti yang jauh lebih ketat. Mereka mengartikan Musa mengijinkan perceraian hanya karena ‘sesuatu yang memalukan’ atau’ ketidak-senonohan’ … Para penafsir berdebat tentang arti yang tepat dari ungkapan yang digunakan oleh Musa, dan penggunaan oleh Shammai terhadap ungkapan itu)‘Man and Woman in Biblical Perspective’, hal 97-98.

James B. Hurley: “The school of Shammai … allowed divorce only for ‘ a shameful thing’ or ‘an indecency’. It is difficult to tell what Shammai meant by the phrase. Many scholars have translated it as ‘unchastity’. By ‘unchastity’ some scholars meant ‘illicit sexual relations’; others meant ‘unbecoming behaviour’. The Talmudic rabbis seem to have similar uncertainty. In some text ‘an indecency’ is left to stand in its ambiguity. Elsewhere the rabbis add further explanations such as spinning in the street, going out ‘uncovered’, or not wearing enough clothes … These actions were regarded as flagrant violations of marital propriety and as potentially seductive” [= Kelompok Shammai … mengijinkan perceraian hanya karena ‘hal yang memalukan’ atau ‘suatu ketidak-senonohan’. Adalah sukar untuk mengatakan apa yang dimaksud Shammai dengan istilah ini. Banyak penafsir menterjemahkannya sebagai ‘unchastity’. Ada penafsir yang mengartikan kata ‘unchastity’ ini sebagai ‘hubungan sex yang haram’; dan penafsir-penafsir yang lain mengartikan ‘kelakuan yang tidak pantas’. Rabbi-rabbi dalam kitab Talmud kelihatannya mempunyai ketidak-pastian yang mirip. Dalam sebagian text kata-kata ‘an indecency’ / ‘suatu ketidak-senonohan’ itu dibiarkan dalam arti gandanya. Di tempat lain rabbi-rabbi menambahkan penjelasan-penjelasan lebih lanjut seperti berputar / pusing di jalan (?), pergi ke luar dengan telanjang, atau tidak mengenakan pakaian yang cukup … Tindakan-tindakan ini dianggap sebagai pelanggaran yang menyolok dari kesopanan pernikahan dan sebagai sangat memungkinkan untuk menggoda]‘Man and Woman in Biblical Perspective’, hal 100.

b)   Rabbi Hillel menyoroti kata-kata ‘ia tidak menyukai lagi perempuan itu’ dalam Ul 24:1 dan lalu menafsirkan bahwa segala tindakan istri yang tidak menyenangkan suami boleh dijadikan alasan untuk menceraikan istri (termasuk tindakan yang remeh seperti menggosongkan makanan waktu masak, bicara terlalu keras sehingga terdengar oleh tetangga dsb).

Adam Clarke: “Rabbi Akiba said, ‘If any man saw a woman handsomer than his own wife, he might put his wife away; because it is said in the law, ‘If she find not favour in his eyes.’ Deut. 24:1” (= Rabbi Akiba berkata: ‘Jika ada orang yang melihat seorang perempuan yang lebih cantik dari istrinya sendiri, ia boleh menyingkirkan / menceraikan istrinya; karena dikatakan dalam hukum Taurat: ‘Jika kemudian ia tidak menyukai lagi perempuan itu’. Ul 24:1) – hal 74.

Adam Clarke: “Josephus, the celebrated Jewish historian, ‘in his Life’, tells us, with the utmost coolness and indifference, ‘About this time I put away my wife, who had borne me three children, not being pleased with her manners.’” (= Josephus, ahli sejarah Yahudi yang terkenal, ‘dalam kehidupannya’, memberitahu kita, dengan sikap dingin dan acuh tak acuh, ‘Kira-kira pada saat ini aku menyingkirkan / menceraikan istriku, yang telah melahirkan bagiku 3 anak, karena aku tidak senang dengan kelakuannya’) – hal 74.

Jelas bahwa pandangan Hillel lebih banyak diterima, khususnya oleh orang laki-laki, dari pada pandangan Shammai! Ini, ditambah dengan fakta bahwa proses perceraian merupakan suatu proses yang sangat mudah, membuat pernikahan merupakan sesuatu yang sangat rawan / tidak aman.

Barclay: “The process of divorce was extremely simple. The bill of divorcement simply ran: ‘Let this be from me thy writ of divorce and letter of dismissal and deed of liberation, that thou mayest marry whatsoever man thou wilt.’ All that had to be done was to hand that document to the woman in the presence of two witnesses and she stood divorced” (= Proses perceraian sangat sederhana. Surat perceraian hanya berbunyi: ‘Inilah surat perceraianmu dariku dan surat pembebasan dan tindakan kemerdekaan, supaya engkau bisa menikahi siapapun yang engkau kehendaki’. Semua yang harus dilakukan adalah menyerahkan dokumen itu ke tangan perempuan itu di hadapan dua saksi dan perempuan itu sudah diceraikan) – hal 151.

Barclay: “Human nature being such as it is, it is easy to see which school would have the greater influence. In the time of Jesus divorce had grown easier and easier, so that a situation  had arisen in which girls were actually unwilling to marry, because marriage was so insecure” (= Melihat keadaan manusia, adalah mudah untuk mengetahui pihak mana yang mempunyai pengaruh yang lebih besar. Pada jaman Yesus perceraian telah menjadi makin lama makin mudah, sehingga muncul suatu situasi dimana gadis-gadis betul-betul tidak mau menikah, karena pernikahan begitu ‘tidak pasti / aman’) – hal 152.

II) Ajaran Yesus tentang perceraian.

Ay 32: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”.

Bdk. Mat 19:9 – “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.’”.

1)   “Setiap orang yang menceraikan isterinya”.

Matius hanya mempersoalkan suami yang menceraikan istri, karena Matius menujukan Injilnya terutama untuk orang-orang Yahudi, dimana yang banyak terjadi adalah kasus suami menceraikan istri, dan tidak pernah terjadi sebaliknya. Tetapi Markus yang menuliskan Injilnya kepada orang-orang non Yahudi, juga melarang istri menceraikan suaminya.

William Hendriksen: “Matthew was writing primarily to Jews, among whom the rejection of a wife by her husband was well-known, but not vice-versa. Mark, writing to Gentiles, includes both possibilities (10:11,12). But naturally Matt. 5:32 applies to the wife who ‘puts away’ her husband as well as to the husband who does the same to his wife” [= Matius menulis terutama kepada orang-orang Yahudi, di antara siapa penolakan seorang istri oleh suaminya merupakan sesuatu yang terkenal, tetapi tidak sebaliknya. Markus, menulis kepada orang-orang non Yahudi, mencakup kedua kemungkinan (10:11,12). Tetapi tentu saja Mat 5:32 berlaku bagi istri yang menceraikan suaminya sama seperti bagi suami yang melakukan hal yang sama terhadap istrinya] – hal 305 (footnote).

Mark 10:11-12 – “Lalu kataNya kepada mereka: ‘Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.’”.

2)   Kalimat perkecualian: ‘kecuali karena zinah’.

Ada macam-macam pandangan tentang bagian ini.

a)   Ada yang menganggap kalimat perkecualian ini sebagai tidak sah, karena Markus dan Lukas tidak mempunyainya.

Barclay: “It is now that we are face to face with one of the most real and most acute difficulties in the New Testament. … The difficulty is – and there is no escaping it – that Mark and Matthew report the words of Jesus differently. … both Mark and Luke make the prohibition of divorce absolute; with them there are no exceptions whatsoever. But Matthew has one saving clause – divorce is permitted on the ground of adultery. … In the last analysis we must choose between Matthew’s version of this saying and that of Mark and Luke. We think there is little doubt that the version of Mark and Luke is right. … Matthew’s saving clause is a later interpretation inserted in the light of the practice of the Church when he wrote” (= Sekarang kita berhadapan dengan salah satu dari kesukaran-kesukaran yang paling nyata dan paling akut dalam Perjanjian Baru. Kesukarannya adalah – dan tidak ada jalan untuk lolos dari kesukaran ini – bahwa Markus dan Matius melaporkan kata-kata Yesus secara berbeda. … Baik Markus maupun Lukas membuat larangan perceraian itu mutlak; pada mereka tidak ada perkecualian apapun. Tetapi Matius mempunyai satu kalimat perkecualian – perceraian diijinkan dengan alasan perzinahan. … Pada analisa terakhir kita harus memilih antara versi Matius dari kata-kata ini dan versi Markus dan Lukas. Kami berpendapat bahwa tidak diragukan  bahwa versi dari Markus dan Lukaslah yang benar. … Kalimat perkecualian Matius merupakan penafsiran belakangan yang dimasukkan dalam terang dari praktek dari Gereja pada saat ia menulis) – hal 200-202.

Catatan: ayat dalam Markus adalah Mark 10:11-12; sedangkan ayat dalam Lukas adalah Luk 16:18.

Mark 10:11-12 – “Lalu kataNya kepada mereka: ‘Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.’”.

Luk 16:18 – “Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.’”.

Tetapi perlu diketahui bahwa dalam Mat 5:32 maupun Mat 19:9 tidak ada perbedaan manuscripts. Semua manuscripts mempunyai kalimat perkecualian tersebut.

Komentar-komentar tentang ‘kalimat perkecualian’ dalam Mat 19:9 dan Mat 5:32 yang tidak ada dalam Markus dan Lukas:

John Stott:

  • “Because it does not occur in the parallel sayings in Mark and Luke, many scholars have been too ready to dismiss it. Some suggest that it was an early scribal interpolation and no part of Matthew’s original text. But there is no manuscript evidence that it was a gloss; even the alternative reading of Codex Vaticanus, retained in the RSV margin, does not omit the clause. Other scholars attribute the clause to Matthew himself, and / or to the church in which he was writing, but deny that Jesus ever spoke it. But its omission by Mark and Luke is not in itself a sufficient ground for rejecting it as an editorial invention or interpretation by the first evangelist. It is perfectly possible to suppose that Matthew included it for his Jewish readership who were very concerned about the permissible grounds for divorce, whereas Mark and Luke, writing for Gentile readers, did not have the same concern. Their silence is not necessarily due to ignorance; it may equally well be that they took the clause for granted. Pagan cultures regarded adultery as a ground for divorce. So did both the Jewish schools of Hillel and Shammai, in spite of their disagreements on other points. This was not in dispute” [= Karena itu (kalimat perkecualian) tidak ada dalam kata-kata yang paralel dari Markus dan Lukas, banyak penafsir yang terlalu siap untuk membuangnya. Sebagian mengusulkan bahwa itu merupakan suatu penyisipan awal dari penyalin dan bukan bagian dari text orisinil Matius. Tetapi tidak ada bukti manuscripts bahwa itu merupakan catatan / keterangan; bahkan dalam pembacaan yang berbeda dari Codex Vaticanus, yang dipertahankan dalam catatan tepi dari RSV, tidak membuang kalimat itu. Penafsir-penafsir lain menganggap bahwa kalimat itu berasal dari Matius sendiri, dan / atau dari gereja kepada siapa ia menulis, tetapi menyangkal bahwa Yesus pernah mengucapkannya. Tetapi tidak adanya kalimat itu dalam Markus dan Lukas bukan merupakan alasan yang cukup untuk menolaknya sebagai suatu ciptaan redaksi atau penafsiran oleh penginjil pertama itu (Matius). Adalah mungkin untuk menganggap bahwa Matius mencakupnya karena pembaca Yahudinya yang sangat memperhatikan tentang dasar-dasar yang memungkinkan perceraian, sedangkan Markus dan Lukas, yang menulis kepada pembaca-pembaca non Yahudi, tidak mempunyai perhatian yang sama. Diamnya mereka tidak harus disebabkan oleh ketidak-tahuan; juga mungkin bahwa mereka menganggap kalimat itu sudah jelas / pasti (sehingga tidak perlu ditulis). Kebudayaan kafir menganggap perzinahan sebagai dasar perceraian. Demikian juga kedua kelompok / aliran dari Hillel dan Shammai, sekalipun mereka mempunyai ketidak-cocokan dalam hal-hal lain. Ini tidak diperdebatkan]‘Involvement’, vol II, hal 169-170.
  • “It seems far more likely that its absence from Mark and Luke is due not to their ignorance of it but to their acceptance of it as something taken for granted. After all, under the Mosaic law adultery was punishable by death (although the death penalty for this offence seems to have fallen into disuse by the time of Jesus); so nobody would have questioned that marital unfaithfulness was a just ground for divorce. Even the rival Rabbis Shammai and Hillel were agreed about this” [= Jauh lebih memungkinkan bahwa tidak adanya kalimat perkecualian dalam Markus dan Lukas bukan disebabkan karena ketidak-tahuan mereka tentang hal itu, tetapi karena mereka menerima hal itu sebagai sesuatu yang sudah pasti / jelas. Dalam jaman Musa, perzinahan dihukum dengan hukuman mati (sekalipun hukuman mati untuk pelanggaran ini kelihatannya sudah tidak dilakukan pada jaman Yesus); sehingga tak seorangpun akan mempertanyakan bahwa ketidak-setiaan pernikahan merupakan alasan yang benar untuk perceraian. Bahkan Rabbi Shammai dan Hillel yang bersaingan setuju tentang hal ini]‘The Message of the Sermon on the Mount’, hal 96,97.

Tasker (Tyndale): “There is no manuscripts evidence for the omission of the exception-clause” (= Tidak ada bukti manuscripts untuk penghapusan dari kalimat perkecualian) – hal 96.

A. T. Robertson: “An unusual phrase that perhaps means ‘except for a matter of unchastity.’ … McNeile denies that Jesus made this exception because Mark and Luke do not give it. He claims that the early Christians made the exception to meet a pressing need, but one fails to see the force of this charge against Matthew’s report of the words of Jesus” (= Suatu ungkapan yang tidak biasa, yang mungkin berarti ‘kecuali karena persoalan ketidak-murnian / perzinahan’. … McNeille menyangkal bahwa Yesus membuat perkecualian ini karena Markus dan Lukas tidak memnberikannya. Ia mengclaim bahwa orang-orang Kristen abad-abad awal membuat perkecualian untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak, tetapi seseorang gagal untuk melihat kekuatan dari tuduhan terhadap laporan Matius tentang kata-kata Yesus)‘Word Pictures in the New Testament’, vol I, hal 47.

A. T. Robertson memberi komentar tambahan tentang kata-kata McNeile ini:

“That in my opinion is gratuitous criticism which is unwilling to accept Matthew’s report because it disagrees with one’s views on the subject of divorce. He adds: ‘It cannot be supposed that Matthew wished to represent Jesus as siding with the school of Shammai.’ Why not, if Shammai on this point agreed with Jesus?” (= Dalam pandangan saya merupakan suatu kritik yang serampangan / tidak beralasan / tidak pada tempatnya jika seseorang tidak mau menerima laporan Matius karena laporan itu tidak cocok dengan pandangannya tentang pokok perceraian. Ia menambahkan: ‘Tidak bisa dianggap bahwa Matius ingin menggambarkan Yesus sebagai berpihak kepada kelompok / aliran Shammai’. Mengapa tidak, jika Shammai dalam hal ini setuju dengan Yesus?)‘Word Pictures in the New Testament’, vol I, hal 155.

Catatan: dari kata-kata yang terakhir ini kelihatannya A. T. Robertson menganggap bahwa Shammai mengijinkan perceraian hanya kalau terjadi perzinahan (sama seperti pandangan Barclay tentang Shammai).

b)   Kata yang diterjemahkan ‘zinah’ adalah PORNEIA, dan kata PORNEIA ini biasanya diterjemahkan ‘fornication’ (= percabulan), dan ini biasanya dibedakan dengan kata Yunani MOICHEIA, yang biasanya diartikan ‘adultery’ (= perzinahan).

Biasanya ‘adultery’ (= perzinahan) dianggap menunjuk pada tindakan orang yang sudah menikah, sedangkan ‘fornication’ (= percabulan) menunjuk pada tindakan orang yang belum menikah.

Ini menyebabkan ada yang menafsirkan bahwa yang Yesus maksudkan adalah:

1.   Perzinahan yang dilakukan sebelum pernikahan, dan baru diketahui sesudah pernikahan. Bandingkan dengan Ul 22:13-21 – orang kawin tetapi tidak didapati tanda keperawanan.

John Stott: “The Greek word is PORNEIA. It is normally translated ‘fornication’, denoting the immorality of the unmarried, and is often distinguished from MOICHEIA (‘adultery’), the immorality of the married. For this reason some have argued that the exceptive clause permits divorce if some pre-marital sexual sin is later discovered” [= Kata Yunaninya adalah PORNEIA. Biasanya kata itu diterjemahkan ‘percabulan’, menunjuk pada tindakan tidak bermoral dari orang yang belum menikah, dan kata itu sering dibedakan dari MOICHEIA (‘perzinahan’), tindakan tidak bermoral dari orang yang sudah menikah. Karena alasan ini beberapa orang berargumentasi bahwa kalimat perkecualian mengijinkan perceraian jika dosa sexual yang terjadi sebelum pernikahan ditemukan / diketahui belakangan]‘The Message of the Sermon on the Mount’, hal 97.

Matthew Henry tentang Mat 19:9: “Dr. Whitby understands this, not of adultery, but (because our Saviour uses the word porneia – fornication) of uncleanness committed before marriage, but discovered afterward; because if it were committed after, it was a capital crime, and there needed no divorce” [= Dr. Whitby mengerti ini, bukan sebagai perzinahan, tetapi (karena Juruselamat kita menggunakan kata porneia / PORNEIA – percabulan) kenajisan yang dilakukan sebelum pernikahan, tetapi baru diketemukan kemudian; karena jika itu dilakukan setelah pernikahan, itu harus dihukum mati, dan tidak perlu ada perceraian] – hal 270.

2.   Perzinahan yang dilakukan pada masa pertunangan tingkat dua dalam adat Yahudi.

Dalam tradisi mereka ada beberapa tahap menuju pernikahan:

a.   Pertunangan I (engagement).

Pertunangan I ini terjadi pada waktu dua orang yang diper­tunangkan itu masih kecil, dimana mereka dipertunangkan oleh orang tua mereka, dan mereka belum saling kenal. Pertunangan I ini bisa dibatalkan.

b.   Pertunangan II (bethrotal).

Pertunangan II ini terjadi setelah dua orang tadi sudah cukup umur. Pada saat pertunangan II ini mereka sudah disebut ‘suami istri’ (bdk. Ul 22:23-24; dalam ay 23nya disebutkan ‘bertunangan’ tetapi dalam ay 24nya disebut sebagai ‘istri’) tetapi mereka belum tinggal bersama dan mereka belum boleh melakukan hubungan sex. Dalam tradisi Yahudi saat itu, pemutusan pertunangan II ini dianggap sebagai perceraian dan dianggap sebagai dosa. Pertunangan II ini hanya berlangsung 1 tahun.

c.   Pernikahan.

Pandangan ini menganggap bahwa perzinahan itu terjadi pada masa pertunangan tingkat dua. Bandingkan dengan kasus Yusuf yang hendak menceraikan Maria, karena ia mengira bahwa Maria mengandung dari perzinahan.

The Wycliffe Bible Commentary tentang Mat 19:9: “If fornication be regarded as a general term including adultery (an identification most uncertain in the New Testament), then our Lord allowed divorce only for the cause of infidelity by the wife. … However, if fornication be viewed in its usual meaning, and referred here to unchastity by the bride during betrothal (cf. Joseph’s suspicious, Mt 1:18,19), then Christ allowed no grounds what ever for divorce of married persons. Thus he agreed neither with Shammai nor Hillel” [= Jika percabulan dianggap sebagai suatu istilah umum yang mencakup perzinahan (suatu identifikasi yang sangat tidak pasti dalam Perjanjian Baru), maka Tuhan kita mengijinkan perceraian hanya karena ketidak-setiaan oleh istri. … Tetapi, jika percabulan dipandang dalam artinya yang biasa, dan di sini menunjuk pada perzinahan oleh mempelai perempuan pada masa pertunangan (bdk. kecurigaan Yusuf, Mat 1:18-19), maka Kristus tidak mengijinkan dasar apapun untuk perceraian dari orang-orang yang menikah. Dengan demikian Ia tidak setuju baik dengan Shammai ataupun Hillel] – hal 963.

Westminster Confession of Faith, chapter XXIV, No 5a – Adultery or fornication committed after a contract, being detected before marriage, giveth just occasion to the innocent party to dissolve the contract” (= Perzinahan atau percabulan yang dilakukan setelah suatu kontrak / perjanjian, yang dideteksi sebelum pernikahan, memberikan alasan yang benar kepada pihak yang tidak bersalah untuk membubarkan kontrak / perjanjian).

Catatan: kata-kata dari Westminster Confession of Faith di sini tidak berarti bahwa Westminster Confession of Faith menyetujui penafsiran ini. Ini terlihat dari pasal 24 ayat 5b yang nanti saya kutip di bawah. Westminster Confession of Faith hanya menganggap bahwa dalam kasus seperti itu, perceraian diijinkan. Dasar yang dipakai adalah kasus Yusuf dan Maria (Mat 1:18-19).

Keberatan terhadap pandangan ini:

a.   Dalam Mat 19, Yesus dan orang-orang Farisi tidak sedang berbicara tentang pertunangan, tetapi tentang pernikahan. Dan dalam Mat 19, text-text Kitab Suci yang dipersoalkan, yaitu Ul 24:1-4 dan Kej 2:24, semua berbicara tentang pernikahan, bukan pertunangan.

Mat 19:3-10 – “(3) Maka datanglah orang-orang Farisi kepadaNya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: ‘Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?’ (4) Jawab Yesus: ‘Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? (5) Dan firmanNya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. (6) Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.’ (7) Kata mereka kepadaNya: ‘Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?’ (8) Kata Yesus kepada mereka: ‘Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. (9) Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.’ (10) Murid-murid itu berkata kepadaNya: ‘Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.’”.

b.   Arti dan penggunaan dari kata PORNEIA.

  • Kata PORNEIA tidak hanya menunjuk pada dosa sexual dari orang yang belum menikah, tetapi kata ini merupakan istilah umum yang artinya luas, dan mencakup hal-hal seperti:

*        incest (1Kor 5:1).

*        homosex (Yudas 7).

*        perzinahan (Yer 3:2,6 versi LXX).

  • Ada penafsir mengatakan bahwa kata PORNEIA digunakan dalam Sirakh 23:23 (salah satu kitab dari kitab-kitab Apocrypha / Deutrokanonika) dan menunjuk pada dosa dari seorang pezinah perempuan, yang jelas-jelas sudah menikah.

Pulpit Commentary (tentang Mat 19:9): “it is not correct to say that porneia denotes solely the sin of unmarried people. All illicit connection is described by this term, and it cannot be limited to one particular kind of transgression. In Ecclus. 23:23 it is used expressly of the sin of an adulteress” (= tidak benar untuk mengatakan bahwa PORNEIA hanya menunjuk pada dosa dari orang yang belum menikah. Semua hubungan gelap / haram digambarkan oleh istilah ini, dan itu tidak bisa dibatasi pada satu jenis pelanggaran tertentu. Dalam Sirakh 23:23 kata itu digunakan secara jelas tentang dosa dari seorang perzinah perempuan) – hal 244-245.

Catatan:

*        jangan mencampur-adukkan kitab yang dalam bahasa Inggris disebut ‘Ecclesiastes’ (= kitab Pengkhotbah) dengan ‘Ecclesiasticus’. Yang terakhir ini menunjuk kepada salah satu dari kitab-kitab Apocrypha / Deutrokanonika, yang dalam bahasa Indonesia (Kitab Suci Katolik) disebut ‘kitab Sirakh’.

*        Sirakh 23:22-23 – “Demikianlah halnya seorang istri yang meninggalkan suaminya dan dari orang lain melahirkan  waris. Sebab pertama-tama ia tidak taat kepada hukum dari Yang Mahatinggi, keduanya ia bersalah terhadap suaminya, ketiganya ia berzinah dengan melacur, dan akhirnya melahirkan anak dari laki-laki lain”.

  • John Stott: “PORNEIA was, in fact, a generic word for sexual infidelity or ‘marital unfaithfulness’ (NIV) and included, ‘every kind of unlawful sexual intercourse’ (Arndt-Gingrich)” [= dalam faktanya, PORNEIA merupakan kata umum untuk ketidak-setiaan sexual atau ‘ketidak-setiaan pernikahan’ (NIV) dan mencakup ‘setiap jenis hubungan sex yang tidak sah’ (Arndt-Gingrich)]‘Involvement’, vol II, hal 170.

Catatan: Arndt-Gingrich adalah nama-nama dari 2 penulis suatu lexicon / kamus Yunani yang sangat tebal, dan merupakan lexicon / kamus standard.

  • W. E. Vine: “PORNEIA (porneia) is used (a) of illicit sexual intercourse, … in Matt. 5:32 and 19:9 it stands for, or includes, adultery; it is distinguished from it in 15:19 and Mark 7:21” [= PORNEIA (porneia) digunakan (a) tentang hubungan sexual yang tidak sah, … dalam Mat 5:32 dan 19:9 kata itu berarti, atau mencakup, perzinahan; kata itu dibedakan dari perzinahan dalam (Mat) 15:19 dan Mark 7:21]‘An Expository Dictionary of New Testament Words’, hal 455.
  • Knox Chamblin: “The meaning of PORNEIA. The fundamental meaning of the term is ‘prostitution,’ in keeping with its nominal counterpart PORNE, ‘prostitute, harlot.’ Yet it also denotes ‘fornication’ and indeed can be used to comprehend ‘every kind of unlawful sexual intercourse’ … Thus the term is more comprehensive than MOICHEIA, ‘adultery.’” (= Arti dari kata PORNEIA. Arti dasar dari istilah ini adalah ‘pelacuran’, sesuai dengan kata benda pasangannya yaitu PORNE, ‘pelacur’. Tetapi kata itu juga menunjuk pada ‘percabulan’ dan bisa digunakan untuk mencakup ‘setiap jenis hubungan sex yang tidak sah’ … Jadi istilah ini mempunyai arti yang lebih luas dari pada MOICHEIA, ‘perzinahan’) – hal 150.
  • John Stott: “PORNEIA is derived from PORNE, a prostitute, without specifying whether she (or her client) is married or unmarried. Further, it is used in the Septuagint for the unfaithfulness of Israel, Yahweh’s bride, as exemplified in Hosea’s wife Gomer. It seems, therefore, that we must agree with R. V. G. Tasker’s conclusion that PORNEIA is ‘a comprehensive word, including adultery, fornication and unnatural vice’” [= PORNEIA diturunkan dari PORNE, ‘seorang pelacur’, tanpa menyatakan apakah ia (atau langganannya) menikah atau tidak menikah. Selanjutnya, kata itu digunakan dalam Septuaginta untuk ketidak-setiaan dari Israel, mempelai perempuan dari Yahweh, seperti ditunjukkan dalam diri dari istri Hosea yaitu Gomer. Karena itu, kelihatannya kita harus setuju dengan kesimpulan dari R. V. G. Tasker bahwa PORNEIA merupakan kata yang luas / meliputi banyak hal, termasuk perzinahan, percabulan dan kejahatan sexual yang tidak alamiah]‘The Message of the Sermon on the Mount’, hal 97.

Catatan: pada footnotenya John Stott menyebutkan bahwa ayat dalam Hosea yang dimaksudkan adalah:

*        Hos 1:2,3 – “Ketika TUHAN mulai berbicara dengan perantaraan Hosea, berfirmanlah Ia kepada Hosea: ‘Pergilah, kawinilah seorang perempuan sundal dan peranakkanlah anak-anak sundal, karena negeri ini bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN.’ Maka pergilah ia dan mengawini Gomer binti Diblaim, lalu mengandunglah perempuan itu dan melahirkan baginya seorang anak laki-laki”.

*        Hos 2:1,3 – “‘Adukanlah ibumu, adukanlah, sebab dia bukan isteriKu, dan Aku ini bukan suaminya; biarlah dijauhkannya sundalnya dari mukanya, dan zinahnya dari antara buah dadanya, … Tentang anak-anaknya, Aku tidak menyayangi mereka, sebab mereka adalah anak-anak sundal”.

Catatan: dalam Kitab Suci Inggris Hos 2:2,4.

  • Kata PORNEIA dan MOICHEIA digunakan secara interchangeable (= bisa dibolak-balik) dalam Wah 2:20-22, karena Wah 2:20,21 menggunakan PORNEIA, sedangkan Wah 2:22 menggunakan MOICHEIA, padahal semua membicarakan satu hal yang sama.

Wah 2:20-22 – “(20) Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hambaKu supaya berbuat zinah (porneusai / PORNEUSAI) dan makan persembahan-persembahan berhala. (21) Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya (porneiaj / PORNEIAS). (22) Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah (moiceuontaj / MOICHEUONTAS) dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu”.

Kesimpulan: adalah salah untuk memberikan garis pemisah yang tegas antara PORNEIA dan MOICHEIA, dan mengartikan PORNEIA sebagai dosa sexual dari orang yang belum menikah sedangkan MOICHEIA adalah dosa sexual dari orang yang sudah menikah.

c)   Kalimat ini dianggap sebagai suatu perkecualian. Jadi, Yesus melarang perceraian, kecuali terjadi perzinahan. Ini merupakan pandangan dari hampir semua penafsir. Jadi, kata-kata banyak orang bahwa pada umumnya pandangan yang diterima adalah bahwa orang kristen tidak boleh bercerai, sekalipun terjadi perzinahan, adalah kata-kata yang salah. Ini akan saya buktikan nanti dengan memberikan banyak kutipan di bawah.

Tetapi, perzinahan itu haruslah perzinahan fisik, bukan perzinahan dalam hati seperti dalam Mat 5:28. Mengapa?

  • karena kalau cerai diijinkan pada saat terjadi perzinahan pikiran, maka semua perempuan boleh mencerikan suaminya. Mana ada orang laki-laki yang tidak pernah melanggar Mat 5:28?
  • Mat 19:9 dan Mat 5:31-32 mengatakan ‘perzinahan’ bukan ‘perzinahan dalam hati’ seperti yang dikatakan Mat 5:28.
  • perzinahan dalam hati tidak bisa dibuktikan, sehingga tidak memungkinkan untuk dijadikan dasar untuk menceraikan pasangannya.
  • ada penafsir mengatakan bahwa kata PORNEIA digunakan karena memang kata itu lebih menekankan sifat fisik dari perzinahan yang dilakukan dibandingkan dengan kata MOICHEIA.

Pulpit Commentary tentang Mat 5:32: “‘Fornication.’ The reference is to sin after marriage. … The more general word (porneia) is used, because it lays more stress on the physical character of the sin than moiceia would have laid” [= ‘Percabulan’.  Yang ditunjuk adalah dosa setelah pernikahan. … Kata yang lebih umum (porneia – PORNEIA) digunakan, karena kata itu lebih menekankan sifat fisik dari dosa tersebut dari pada kata moiceia / MOICHEIA] – hal 164.

John Stott: “PORNEIA means physical sexual immorality; the reason why Jesus made it the sole permissible ground for divorce must be that it violates the ‘one flesh’ principle which is foundational to marriage as divinely ordained and biblically defined” (= PORNEIA berarti ketidak-bermoralan sexual secara fisik; alasan mengapa Yesus membuatnya sebagai satu-satunya dasar yang mengijinkan perceraian haruslah karena hal itu melanggar prinsip ‘satu daging’ yang merupakan dasar dari pernikahan sebagai sesuatu yang ditetapkan Allah dan didefinisikan oleh Alkitab)‘Involvement’, vol II, hal 170.

Beberapa penafsir menganggap bahwa tindakan penyimpangan sexual seperti homosex, lesbianisme, bestiality (= hubungan sex dengan binatang) juga tercakup di sini, karena kata PORNEIA memang mencakup hal-hal tersebut.

Mengapa saya mengambil pandangan ini?

1.   Arti dan penggunaan kata PORNEIA yang sudah dibahas di atas.

2.   Yer 3:1-8, khususnya ay 8nya, yang berbunyi: “Dilihatnya, bahwa oleh karena zinahnya Aku telah menceraikan Israel, perempuan murtad itu, dan memberikan kepadanya surat cerai; namun Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia itu tidak takut, melainkan ia juga pun pergi bersundal”.

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mempraktekkan prinsip yang Yesus ajarkan dalam Mat 5:32 dan Mat 19:9 itu. Pada waktu Israel bersundal / berzinah / tidak setia kepada Allah, maka Allah menceraikan Israel dan memberikan surat cerai kepadanya! Memang perzinahan yang dilakukan oleh Israel, adalah perzinahan rohani, dimana mereka tidak setia kepada Allah dan lalu menyembah berhala / allah lain, tetapi prinsipnya sama yaitu: jikalau terjadi perzinahan maka perceraian diijinkan!

3.   1Kor 6:16 – “Atau tidak tahukah kamu, bahwa siapa yang mengikatkan dirinya pada perempuan cabul, menjadi satu tubuh dengan dia? Sebab, demikianlah kata nas: ‘Keduanya akan menjadi satu daging.’”.

Ini menunjukkan bahwa perzinahan menghancurkan ikatan pernikahan.

G. I. Williamson: “If a man becomes one flesh with an harlot, it is hard to see how he can yet be one flesh with his wife. Unless such be repented of and forgiven, we do not see how it can be denied that the adultery necessitates the dissolution of the marriage” (= Jika seorang laki-laki menjadi satu daging dengan seorang pelacur, sukar untuk melihat bagaimana ia bisa tetap satu daging dengan istrinya. Kecuali ia bertobat dan diampuni, kami tidak melihat bagaimana bisa disangkal bahwa perzinahan itu mengharuskan pembubaran / terputusnya pernikahan)‘The Westminster Confession of Faith’, hal 185.

Banyak orang menyoroti pandangan ini secara negatif, karena mengijinkan perceraian. Tetapi sebetulnya pandangan ini bisa disoroti secara positif, karena dengan adanya pandangan ini, maka orang akan agak takut untuk berzinah.

Keberatan terhadap pandangan ini:

a.   Apakah itu berarti tidak ada pengampunan?

Jawab:

Merupakan sesuatu yang menarik bahwa persis sebelum text dari Mat 19:1-12 terdapat text Mat 18:21-35 (perumpamaan tentang orang yang berhutang 10.000 talenta) yang menekankan pengampunan. Karena itu jelas bahwa ‘menceraikan pasangan yang berzinah’ tidak boleh diartikan ‘tidak mengampuni’. Orang itu harus diampuni, tetapi tidak diterima kembali sebagai pasangan hidup! Ini sama seperti kasus pendeta yang jatuh dalam perzinahan, sehingga dipecat dari jabatannya. Kalau ia bertobat, ia diampuni, tetapi tetap tidak diterima kembali sebagai pendeta, karena ia tidak lagi memenuhi syarat penatua dalam 1Tim 3:7 – ‘mempunyai nama baik’.

Saya tidak setuju dengan Jay E. Adams (‘Marriage, Divorce, and Remarriage in the Bible’, hal 56-57) yang mengharuskan pihak yang tidak bersalah untuk mengampuni dan menerima kembali pasangan yang berzinah, jika pasangan yang berzinah tersebut bertobat. Saya berpendapat bahwa ia memang harus mengampuni pasangannya tersebut tetapi ia tidak harus (tetapi boleh) menerimanya kembali sebagai pasangan hidup. Ia berhak menceraikannya dan menikah lagi dengan orang lain.

Pada waktu Yusuf mengira bahwa Maria telah berzinah dengan laki-laki lain, ia tidak menegur ataupun berusaha mempertobatkan Maria, supaya ia bisa menerimanya kembali, tetapi ia berusaha menceraikannya. Dan ia disebut sebagai ‘seorang yang tulus hati’ (Lit: ‘seorang yang benar’) – Mat 1:18-19.

b.   Mat 19:7-8 – “(7) Kata mereka kepadaNya: ‘Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?’ (8) Kata Yesus kepada mereka: ‘Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian”.

Kata-kata ‘karena ketegaran hatimu’ disoroti dan ditafsirkan bahwa perceraian karena perzinahan itupun diijinkan karena ketegaran hati manusia. Jadi sebetulnya tetap tidak boleh cerai sekalipun ada perzinahan.

Jawab:

Dalam Mat 19:7 itu orang-orang Farisi menggunakan istilah ‘memerintahkan’. Sekalipun memang mereka berkata bahwa ‘Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai’, tetapi orang bisa menerima secara salah, seolah-olah Musa memerintahkan perceraian. Karena itu, pada waktu Yesus menjawab dalam Mat 19:8, Ia tidak mau menggunakan istilah ‘memerintahkan’, tetapi Ia menggu­nakan istilah ‘mengijinkan’.

Padahal, tadi di atas sudah kita lihat bahwa sebetulnya Ul 24:1-4 tidak mengijinkan perceraian / pernikahan lagi ataupun memberikan syarat perceraian; lalu mengapa dalam Mat 19:8 Yesus mengatakan bahwa Musa mengijinkan perceraian? Ada 2 kemungkinan jawaban:

  • Karena Musa tidak melarang perceraian secara tegas, maka itu dianggap mengijinkan.
  • Waktu Yesus berkata ‘Musa mengijinkan’, Ia tidak memaksud­kan Ul 24:1-4, tetapi dalam praktek / kenyataannya, dimana Musa memang mengijinkan perceraian.

Itupun tidak berarti bahwa Musa menghalalkan perceraian itu atau menganggapnya tidak dosa. Karena itu Yesus berkata ‘karena ketegaran hatimu maka Musa mengijinkan hal itu’. Jadi, supaya tidak terjadi hal yang lebih buruk seperti istri dipukuli, tidak diberi makan dsb, maka Musa akhirnya mengijinkan perceraian. Tetapi perceraian yang dimaksud di sini bukanlah perceraian yang terjadi karena perzinahan / dosa sexual yang hebat.

Kata-kata ‘tetapi sejak semula tidaklah demikian’ mungkin menunjuk pada keadaan ideal (pada saat tidak ada dosa, pada saat pernikahan itu pertama-tama diadakan oleh Allah). Memang pernikahan diadakan bukan supaya ada perceraian.

Penafsiran ini tidak bertentangan dengan kontex. Coba perhatikan: dalam Mat 19:3 orang-orang itu bertanya: ‘Apakah diperbolehkah orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?’. Dalam Mat 19:4-6 Yesus tidak langsung menjawab pertanyaan mereka, tetapi Ia lebih dulu membicarakan peraturan umum atau keadaan idealnya, yaitu orang tidak boleh bercerai. Lalu dalam Mat 19:7 mereka bertanya: ‘Mengapa Musa menyuruh memberi surat cerai?’. Dan Yesus menjawab dalam Mat 19:8: ‘Karena ketegaran hatimu’. Lalu dalam Mat 19:9 Ia menekankan lagi bahwa orang tidak boleh bercerai, tetapi sekarang ini Ia memberikan perkecualian, yaitu kalau terjadi perzinahan. Baru dalam Mat 19:9 ini Ia menjawab pertanyaan mereka dalam Mat 19:3. Dengan demikian kesimpulan seluruhnya adalah sebagai berikut: Terhadap pertanyaan: apakah boleh seseorang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja? Yesus menjawab: Tidak, orang hanya boleh bercerai kalau terjadi perzinahan!

Komentar-komentar dari para penafsir:

Tasker (Tyndale) tentang Mat 19:3-9: “Their question ‘Is it lawful for a man to put away his wife for every cause?’ is not immediately or very directly answered; but the subsequent narrative implies that in effect the answer of Jesus is ‘If you mean for any cause, My answer is Yes; if you mean for every cause, My answer is No’” (= Pertanyaan mereka: ‘Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?’ tidak dijawab secara langsung; tetapi cerita selanjutnya secara tidak langsung menunjukkan bahwa sebetulnya jawaban Yesus adalah: ‘Jika engkau memaksudkan untuk sesuatu alasan, jawabanKu adalah Ya; jika engkau memaksudkan untuk setiap alasan / alasan apa saja, jawabanKu adalah Tidak’) – hal 179.

Tasker (Tyndale): “The word PORNEIA translated ‘fornication’ is a comprehensive word, including adultery, fornication and unnatural vice. … Jesus does not insist that there must be divorce in these cases, …  but that these, and not trivial considerations, are the kind of things for which divorce may rightly be granted” (= Kata PORNEIA yang diterjemahkan ‘percabulan’ merupakan suatu kata yang mempunyai banyak arti, termasuk perzinahan, percabulan, and kejahatan yang tidak alamiah. … Yesus tidak berkeras bahwa harus ada perceraian dalam kasus-kasus ini, … tetapi bahwa hal-hal ini, dan bukannya pertimbangan-pertimbangan yang remeh, merupakan jenis hal-hal untuk mana perceraian bisa diberikan secara benar) – hal 184.

Knox Chamblin tentang Mat 19:3-9: “It is now to be emphasizes that Jesus’ ‘except clause in v. 9 does not represent a reversal or even an exception to the principle enunciated in vv. 4-6. For where PORNEIA has occurred, the marital union has already been severed. In this case a divorce does not cause the rift but witnesses to a rift that has already occurred. Jesus legitimizes ‘a kind of divorce that consists solely in the formalization of a break that has already occurred through sexual infidelity’” (= Sekarang harus ditekankan bahwa kalimat perkecualian Yesus dalam ay 9 tidak menggambarkan suatu pembalikan atau bahkan suatu perkecualian terhadap prinsip yang diucapkan dalam ay 4-6. Karena dimana PORNEIA telah terjadi, persatuan pernikahan telah terpotong / terputus. Dalam kasus ini perceraian tidak menyebabkan keretakan itu tetapi memberi kesaksian tentang suatu keretakan yang telah terjadi. Yesus mengesahkan ‘suatu jenis perceraian yang semata-mata merupakan peresmian dari suatu keretakan / perpecahan yang sudah terjadi melalui ketidak-setiaan sexual’) – hal 150.

Barnes’ Notes tentang Mat 5:32: “Our Saviour brought marriage back to its original institution, and declared that whosoever put away his wife henceforward should be guilty of adultery. But one offence, he declared, could justify divorce. … Nor has any man, or set of men, a right to interfere and declare that divorces may be granted for any other cause. Whosoever, therefore, are divorced for any cause except the single one of adultery, if they marry again, are, according to the Scriptures, living in adultery” (= Juruselamat kita membawa pernikahan kembali kepada pendirian orisinilnya, dan menyatakan bahwa siapapun yang menceraikan istrinya mulai saat itu bersalah dalam persoalan perzinahan. Tetapi satu pelanggaran, Ia menyatakan, bisa membenarkan perceraian. … Tidak ada siapapun, baik seseorang maupun sekelompok orang, yang berhak untuk mencampuri dan menyatakan bahwa perceraian diijinkan untuk alasan lain apapun juga. Karena itu siapapun yang diceraikan karena alasan lain kecuali perzinahan, jika mereka menikah lagi, menurut Kitab Suci, hidup dalam perzinahan) – hal 25.

Barnes’ Notes tentang Mat 19:9: “Only one offence was to make divorce lawful. This is the law of God. And by the same law, all marriages which take place after divorce, where adultery is not the cause of divorce, are adulterous. Legislatures have no right to say that men may put away their wives for any other cause; and where they do, and where there is marriage afterwards, by the law of God such marriages are adulterous” (= Hanya satu pelanggaran yang membuat perceraian menjadi sah. Ini adalah hukum Allah. Dan oleh hukum yang sama, semua pernikahan yang terjadi setelah perceraian, dimana perzinahan bukanlah alasan dari perceraian tersebut, adalah perzinahan. Pembuat undang-undang tidak mempunyai hak untuk mengatakan bahwa orang boleh menceraikan istri mereka untuk alasan lain apapaun juga; dan dimana mereka melakukannya, dan dimana ada pernikahan setelahnya, oleh hukum Allah pernikahan seperti itu dianggap sebagai perzinahan) – hal 87.

John Murray tentang Mat 5:31-32: “In verse 32 Jesus proceeds to propound the principle that to put away or dismiss a wife for any reason but that of sexual infidelity is sin” (= Dalam ay 32 Yesus melanjutkan dengan mengemukakakan prinsip bahwa menceraikan atau memecat seorang istri untuk alasan lain selain alasan ketidak-setiaan sexual adalah dosa)‘Divorce’, hal 20.

William Hendriksen tentang Mat 5:31-32: “The exception to which Jesus refers in Matt. 5:32 (‘except on the ground of infidelity’) permits divorce only when one of the contracting parties, here the wife, by means of marital unfaithfulness (‘fornication’) rises in rebellion against the very essence of the marriage bond” [= Perkecualian yang ditunjukkan oleh Yesus dalam Mat 5:32 (‘kecuali karena percabulan’) mengijinkan perceraian hanya pada waktu satu dari pihak-pihak yang menikah, di sini si istri, oleh ketidak-setiaan pernikahan (‘percabulan’) memberontak terhadap inti / hakekat dari ikatan pernikahan] – hal 305.

Matthew Henry tentang Mat 5:32: “divorce is not to be allowed, except in case of adultery, which breaks the marriage covenant” (= perceraian tidak diijinkan, kecuali dalam kasus perzinahan, yang menghancurkan perjanjian pernikahan) – hal 62.

Pulpit Commentary tentang Mat 5:32: “The popular school, that of Hillel, allowed divorce ‘for every cause’ (ch. 19:3); the Lord allows it only ‘for the cause of fornication.’” (= Kelompok / aliran yang poupler, yaitu kelompok / aliran dari Hillel, mengijinkan perceraian ‘karena alasan apa saja’ (pasal 19:3); Tuhan mengijinkannya hanya ‘karena percabulan’) – hal 177.

Calvin (tentang Mat 5:31): “Though the husband and the wife are united by mutual consent, yet God binds them by an indissoluble tie, so that they are not afterwards at liberty to separate. An exception is added, ‘except on account of fornication’: for the woman, who has basely violated the marriage-vow, is justly cast off; because it was by her fault that the tie was broken, and the husband set at liberty” (= Sekalipun suami dan istri idpersatukan oleh persetujuan bersama, Allah mengikat mereka dengan ikatan yang tidak bisa diputuskan, sehingga setelah itu mereka tidak bebas untuk berpisah / bercerai. Suatu perkecualian ditambahkan, ‘kecuali karena percabulan’: karena perempuan, yang secara hina telah melanggar janji pernikahan, secara benar dibuang; karena kesalahannya menyebabkan ikatan itu hancur dan suami itu menjadi bebas) – hal 293.

Calvin tentang Mat 19:9: “But an exception is added; for the woman, by fornication, cuts herself off, as a rotten member, from her husband, and sets him at liberty. Those who search for other reasons ought justly to be set at nought, because they choose to be wise above the heavenly teacher. … the husband, who convicts his wife of uncleanness, is here freed by Christ from the bond” [= Tetapi suatu perkecualian ditambahkan; karena perempuan itu, oleh percabulan, membuang / memotong dirinya sendiri, sebagai anggota yang membusuk, dari suaminya, dan membuat suaminya bebas. Mereka yang mencari alasan-alasan lain, secara benar harus ditolak, karena mereka memilih untuk menjadi lebih bijaksana di atas guru surgawi. … sang suami, yang membuktikan kenajisan istrinya, di sini dibebaskan oleh Kristus dari ikatan tersebut]- hal 383,384.

John Murray tentang Mat 5:31-32: “Fornication is unequivocally stated to be the only legitimate ground for which a man may put away his wife. The word used here is the more generic term for sexual uncleanness, namely, fornication (porneia). This term may be used of all kinds of illicit sexual intercourse and may apply to such on the part of unmarried persons, in whose case the sin would not be in the specific sense of adultery. But though it is the generic word that is used here (cf. also Matt. 19:9), it is not to be supposed that the sense is perplexed thereby. What Jesus sets in the forefront is the sin of illicit sexual intercourse. It is, of course, implied that such on the part of a married woman is not only fornication but also adultery in the specific sense, for the simple reason that it constitutes sexual infidelity to her spouse. And this is the only case in which, according to Christ’s unambiguous assertion, a man may dismiss his wife without being involved in the sin which Jesus proceeds to characterise as making his wife to be an adulteress” [= Percabulan dengan tegas dinyatakan sebagai satu-satunya dasar yang sah dengan mana seorang boleh menceraikan istrinya. Kata yang digunakan di sini merupakan istilah yang lebih umum untuk kenajisan sexual, yaitu percabulan (porneia – PORNEIA). Istilah ini bisa digunakan untuk semua jenis hubungan sex yang gelap / haram dan bisa diterapkan hal-hal itu pada orang-orang yang belum menikah, sehingga dosanya bukanlah perzinahan dalam arti spesifik / khusus. Tetapi sekalipun kata yang umum yang digunakan di sini (bdk. juga Mat 19:9), tidak boleh dianggap bahwa dengan demikian artinya dibingungkan / dikaburkan. Apa yang diajukan oleh Yesus adalah dosa dari hubungan sex yang haram / gelap. Tentu saja secara tidak langsung itu menunjuk pada hal-hal dari perempuan yang sudah menikah, yang bukan hanya merupakan percabulan tetapi juga perzinahan dalam arti spesifik / khusus, karena alasan yang sederhana bahwa itu merupakan ketidak-setiaan sexual terhadap pasangannya. Dan ini adalah satu-satunya kasus dalam mana, menurut penegasan Kristus yang jelas, seseorang boleh menceraikan istrinya tanpa terlibat dalam dosa yang Yesus gambarkan sebagai membuat istrinya menjadi pezinah]‘Divorce’, hal 20-21.

John Murray tentang Mat 5:31-32: “the Old Testament law did not provide for divorce in the case of adultery. The law was more stringent; it required death for such sexual infidelity. The marriage was indeed thereby dissolved but this was effected through the death of the guilty party. The law enunciated by our Lord, on the other hand, institutes divorce as the means of relief for the husband in the case of adultery on the part of the wife. Here then is something novel and it implies that the requirement of death for adultery is abrogated in the economy Jesus himself inaugurated. … He abrogated the Mosaic penalty for adultery and he legitimated divorce for adultery” (= hukum Perjanjian Lama tidak menyediakan perceraian dalam kasus perzinahan. Hukumnya lebih keras; hukum itu mengharuskan kematian untuk ketidak-setiaan sexual seperti itu. Pernikahan itu memang bubar tetapi ini terjadi melalui kematian dari pihak yang bersalah. Di sisi lain, hukum yang diucapkan oleh Tuhan kita, menegakkan / menetapkan perceraian sebagai jalan pembebasan untuk suami dalam kasus perzinahan yang dilakukan oleh istri. Maka di sini ada sesuatu yang baru dan secara tidak langsung hal itu menunjukkan bahwa hukuman mati untuk perzinahan dibatalkan dalam pengaturan / sistim yang diresmikan oleh Yesus sendiri. … Ia membatalkan hukuman dari hukum Taurat Musa untuk perzinahan dan ia mengesahkan perceraian untuk perzinahan)‘Divorce’, hal 27.

A. T. Robertson: “it is plain that Matthew represents Jesus in both places as allowing divorce for fornication as a general term (porneia) which is technically adultery (moicheia from moichao or moicheuo)” [= adalah jelas bahwa Matius menggambarkan Yesus di kedua tempat sebagai mengijinkan perceraian untuk percabulan sebagai suatu istilah umum (PORNEIA) yang secara tehnis adalah perzinahan (moicheia dari moichao atau moicheuo)]‘Word Pictures in the New Testament’, vol  I, hal 155.

John Stott: “Only sexual infidelity could be admitted as a ground for breaking the marriage bond. This had been clearly recognised in the Old Testament because it was punishable by death. But the death sentence for adultery had fallen into disuse, and in any case the Romans did not permit the Jews to administer it. So when Joseph suspected Mary of unfaithfulness, he thought of divorce, not death (Matthew 1:18f). And Jesus refused to be trapped by those who asked if the woman caught in adultery should be stoned (John 8:3ff). It seems, then, that he abrogated the death penalty for sexual infidelity, and made this the only legitimate ground for dissolving the marriage bond, by divorce not death, and then only as a permission” [= Hanya ketidak-setiaan sexual bisa diterima sebagai suatu dasar untuk menghancurkan ikatan pernikahan. Ini telah secara jelas dikenali dalam Perjanjian Lama karena hal itu dijatuhi dengan hukuman mati. Tetapi hukuman mati untuk perzinahan telah tidak digunakan, dan bagaimanapun juga orang Romawi tidak mengijinkan orang-orang Yahudi untuk melaksanakannya. Jadi pada saat Yusuf mencurigai Maria tentang ketidak-setiaan, ia memikirkan perceraian, bukan kematian (Matius 1:18-dst). Dan Yesus menolak untuk dijebak oleh mereka yang bertanya apakah perempuan yang tertangkap dalam perzinahan harus dirajam (Yoh 8:3-dst). Jadi kelihatannya Ia membatalkan hukuman mati untuk ketidak-setiaan sexual, dan membuat hal ini sebagai satu-satunya dasar yang sah untuk mengancurkan ikatan pernikahan, oleh perceraian bukan oleh kematian, dan itu hanya merupakan ijin]‘Involvement’, vol II, hal 172.

James B. Hurley: “If we take PORNEIA at its common face value, as illicit intercourse, Jesus’ response rejects both rabbinic views. We can now see why the disciples were surprised at Jesus’ teaching. He was far stricter than the rabbis. … He permitted it only for sexual violations of the marriage bond, violations which, under the Old Testament, would have meant a death sentence. According to Jesus only illicit sexual relations (PORNEIA: adultery, homosexuality, bestiality) provide reason to terminate a marriage” [= Jika kita menerima PORNEIA sesuai dengan artinya yang umum, sebagai hubungan gelap / haram, maka tanggapan Yesus menolak pandangan dari kedua rabbi. Sekarang kita bisa melihat mengapa murid-murid terkejut mendengar ajaran Yesus. Ia jauh lebih ketat dari rabbi-rabbi itu. … Ia mengijinkannya hanya karena pelanggaran sexual terhadap ikatan pernikahan, pelanggaran mana, di bawah Perjanjian Lama, berarti hukuman mati. Menurut Yesus hanya hubungan sexual yang gelap / haram (PORNEIA: perzinahan, homosex, bestiality / hubungan sex dengan binatang) memberikan alasan untuk mengakhiri suatu pernikahan]‘Man and Woman in Biblical Perspective’, hal 103.

Jay E. Adams: “That there is confusion about the word ‘fornication’ is understandable. In American law, the word ‘fornication’ has come to mean sexual sin by unmarried persons, over against ‘adultery’ which means sexual sin involving a married person. However, that distinction must not be read back into the Bible as many unwittingly do. It was not the biblical distinction. Indeed, Scripture writers used the word ‘fornication’ (PORNEIA) to describe ‘sexual sin in general’, and in the Bible it referred to cases of incest (1Cor. 5:1), homosexuality (Jude 7) and even adultery (Jeremiah 3:1,2,6,8 – here a married adulteress is divorced because of her fornication; cf. vv.2,6 in the LXX) as fornication” [= Bahwa di sana ada kebingungan tentang kata ‘percabulan’ merupakan sesuatu yang bisa dimengerti. Dalam hukum Amerika, kata ‘percabulan’ berarti dosa sexual yang dilakukan oleh orang-orang yang belum menikah, sedangkan ‘perzinahan’ berarti dosa sexual yang menyangkut orang-orang yang sudah menikah. Tetapi pembedaan itu tidak boleh dimasukkan ke dalam Alkitab seperti yang dilakukan oleh banyak orang tanpa disadari. Itu bukan merupakan pembedaan yang alkitabiah. Bahkan penulis-penulis Kitab Suci menggunakan kata ‘percabulan’ (PORNEIA) untuk menggambarkan ‘dosa sexual secara umum’, dan dalam Alkitab kata itu menunjuk pada kasus-kasus incest (1Kor 5:1), homosex (Yudas 7) dan bahkan perzinahan (Yeremia 3:1,2,6,8 – di sini seorang pezinah yang telah menikah diceraikan karena percabulannya; bdk. ay 2,6 dalam LXX / Septuaginta) sebagai percabulan]‘Marriage, Divorce, and Remarriage in the Bible’, hal 53-54.

Yer 3:1-8 – “(1) FirmanNya: ‘Jika seseorang menceraikan isterinya, lalu perempuan itu pergi dari padanya dan menjadi isteri orang lain, akan kembalikah laki-laki yang pertama kepada perempuan itu? Bukankah negeri itu sudah tetap cemar? Engkau telah berzinah dengan banyak kekasih, dan mau kembali kepadaKu? demikianlah firman TUHAN. (2) Layangkanlah matamu ke bukit-bukit gundul dan lihatlah! Di manakah engkau tidak pernah ditiduri? Di pinggir jalan-jalan engkau duduk menantikan kekasih, seperti seorang Arab di padang gurun. Engkau telah mencemarkan negeri dengan zinahmu dan dengan kejahatanmu. (3) Sebab itu dirus hujan tertahan dan hujan pada akhir musim tidak datang. Tetapi dahimu adalah dahi perempuan sundal, engkau tidak mengenal malu. (4) Bukankah baru saja engkau memanggil Aku: Bapaku! Engkaulah kawanku sejak kecil! (5) Untuk selama-lamanyakah Ia akan murka atau menaruh dendam untuk seterusnya? Demikianlah katamu, namun engkau sedapat-dapatnya melakukan kejahatan.’ (6) TUHAN berfirman kepadaku dalam zaman raja Yosia: ‘Sudahkah engkau melihat apa yang dilakukan Israel, perempuan murtad itu, bagaimana dia naik ke atas setiap bukit yang menjulang dan pergi ke bawah setiap pohon yang rimbun untuk bersundal di sana? (7) PikirKu: Sesudah melakukan semuanya ini, ia akan kembali kepadaKu, tetapi ia tidak kembali. Hal itu telah dilihat oleh Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia. (8) Dilihatnya, bahwa oleh karena zinahnya Aku telah menceraikan Israel, perempuan murtad itu, dan memberikan kepadanya surat cerai; namun Yehuda, saudaranya perempuan yang tidak setia itu tidak takut, melainkan ia juga pun pergi bersundal”.

Jay E. Adams: “fornication covers incest, bestiality, homosexuality and lesbianism as well as adultery. To speak of adultery only, might tend to narrow the focus too much” (= percabulan mencakup incest / perzinahan dalam keluarga, bestiality / hubungan sex dengan binatang, homosex dan lesbian maupun perzinahan. Hanya mengatakan perzinahan, bisa cenderung terlalu menyempitkan fokusnya)‘Marriage, Divorce, and Remarriage in the Bible’, hal 54-55.

Matthew Poole: “He (Jesus) here opposeth the Pharisees in two points. 1. Asserting that all divorces are unlawful except in case of adultery. 2. Asserting that whosoever married her that was put away committed adultery” [= di sini Ia (Yesus) menentang orang-orang Farisi dalam dua hal. 1. Menegaskan bahwa semua perceraian tidak sah kecuali dalam kasus perzinahan. 2. Menegaskan bahwa siapapun yang menikahi dia yang diceraikan, melakukan perzinahan] – hal 24.

Matthew Poole: “it is unlawful in any case but that of adultery, which dissolves the marriage knot and covenant” [= itu (perceraian) tidak sah dalam kasus apapun kecuali kasus perzinahan, yang membubarkan ikatan dan perjanjian pernikahan] – hal 25.

D. Martyn Lloyd-Jones: “There is only one legitimate cause and reason for divorce – that which is here called ‘fornication’. … There is only one cause for divorce. There is one; but there is only one. And that is unfaithfulness by one party” (= Hanya ada satu sebab dan alasan yang sah untuk perceraian – yaitu apa yang di sini disebut ‘percabulan’. … Hanya ada satu alasan untuk perceraian. Ada satu, tetapi hanya ada satu. Dan itu adalah ketidak-setiaan oleh satu pihak)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 250.

Matthew Henry tentang Mat 19:9: “He allows divorce, in case of adultery; the reason of the law against divorce being this, ‘They two shall be one flesh.’ If the wife play the harlot, and make herself one flesh with an adulterer, the reason of the law ceases, and so does the law. By the law of Moses adultery was punished with death, Deut. 22:22. Now our Lord mitigates the rigour of that, and appoints divorce to be the penalty” (= Ia mengijinkan perceraian, dalam kasus perzinahan; alasan dari hukum yang menentang perceraian adalah ini: ‘Keduanya itu menjadi satu daging’ … Jika sang istri bersundal dan membuat dirinya sendiri satu daging dengan seorang pezinah, alasan dari hukum itu berhenti, dan demikian juga dengan hukumnya. Oleh hukum Taurat Musa perzinahan dihukum dengan hukuman mati, Ul 22:22. Sekarang Tuhan mengurangi kekerasan dari hukuman itu, dan menetapkan perceraian sebagai hukumannya) – hal 270.

Westminster Confession of Faith, chapter XXIV, No 5b – In the case of adultery after marriage, it is lawful for the innocent party to sue out a divorce and, after the divorce, to marry another, as if the offending party were dead” (= Dalam kasus perzinahan setelah pernikahan, adalah sah bagi pihak yang tidak bersalah untuk menuntut suatu perceraian, dan setelah perceraian, untuk menikah dengan orang lain, seakan-akan pihak yang bersalah itu mati).

Penafsir-penafsir yang termasuk dalam kelompok ke 3 ini (yang mengijinkan perceraian kalau terjadi perzinahan), terbagi dalam 2 kelompok lagi:

1.   Yang tidak mengijinkan pernikahan lagi bahkan bagi pihak yang tidak bersalah.

Penafsir yang mengambil pandangan ini berpendapat bahwa ‘kalimat perkecualian’ dalam Mat 19:9 itu hanya berlaku untuk ‘perceraian’, tetapi tidak berlaku untuk ‘pernikahan lagi’ (re-marriage).

Pulpit Commentary tentang Mat 19:9: “Our Lord seems to have introduced the exceptional clause in order to answer what were virtually two questions of the Pharisees, viz. whether it was lawful to ‘put away a wife for every cause,’ and whether, when a man had legally divorced his wife, he might marry again. To the former Christ replies that separation was allowable only in the case of fornication; in response to the second, he rules that even in that case remarriage was wholly barred” (= Tuhan kita kelihatannya memberikan kalimat perkecualian untuk menjawab apa yang sebetulnya merupakan dua pertanyaan dari orang-orang Farisi, yaitu apakah diperbolehkan untuk ‘menceraikan istrinya karena alasan apa saja’, dan apakah, pada waktu seseorang secara sah telah menceraikan istrinya, ia boleh menikah lagi. Kepada pertanyaan yang pertama Kristus menjawab bahwa perpisahan diijinkan hanya dalam kasus percabulan; dan terhadap pertanyaan yang kedua, ia memberi peraturan bahwa bahkan dalam kasus seperti itu pernikahan lagi sepenuhnya dilarang) – hal 245.

Pulpit Commentary tentang Mat 19:9: “The Lord distinctly forbids divorce, ‘except it be for fornication.’ He does not sanction remarriage even in that case” (= Tuhan secara jelas melarang perceraian, ‘kecuali karena percabulan’. Ia tidak menyetujui pernikahan lagi bahkan dalam kasus itu) – hal 254.

Sepanjang apa yang saya baca dari buku-buku tafsiran saya, hanya penafsir ini saja yang tetap melarang pernikahan lagi sekalipun perceraiannya terjadi karena pasangannya berzinah.

2.   Yang mengijinkan pernikahan lagi dari pihak yang tidak bersalah.

Kelompok kedua ini menganggap bahwa ‘kalimat perkecualian’ dalam Mat 19:9 itu berlaku baik untuk perceraian maupun untuk pernikahan lagi. Hampir semua penafsir memegang pandangan ini.

Knox Chamblin: “The ‘except clause’ must be related to both the divorce and the remarriage” (= ‘Kalimat perkecualian’ harus dihubungkan baik dengan ‘perceraian’ maupun dengan ‘pernikahan lagi’) – hal 150.

John Murray tentang Mat 19:9: “Matthew informs us of two things: (a) a man may put away his wife for adultery; (b) he may marry another when such divorce is consummated” [= Matius menginformasikan kita dua hal: (a) seseorang boleh menceraikan istrinya karena perzinahan; (b) ia boleh menikah dengan orang lain pada waktu perceraian seperti itu terjadi]‘Divorce’, hal 52.

William Hendriksen tentang Mat 19:9: “As far as the record goes, this is the only ground Jesus ever mentioned for giving the innocent person – in the present case the husband, … – the right to divorce his wife and marry again” (= Sejauh terlihat dari catatannya, ini adalah satu-satunya dasar yang pernah disebutkan oleh Yesus yang memberikan kepada orang yang tidak bersalah – dalam kasus ini adalah sang suami, … – hak untuk menceraikan istrinya dan menikah lagi) – hal 717.

A. T. Robertson: “Jesus by implication, as in 5:31, does allow remarriage of the innocent party, but not of the guilty one” (= Yesus, secara implicit, seperti dalam 5:31, memang mengijinkan pernikahan lagi, tetapi bukan oleh pihak / orang yang bersalah)‘Word Pictures in the New Testament’, vol I, hal 155.

Calvin tentang Mat 19:9: “‘And whosoever shall marry her that is divorced.’ This clause has been very ill explained by many commentators; for they have thought that generally, and without exception, celibacy is enjoined in all cases when a divorce has taken place; and, therefore, if a husband should put away an adulteress, both would be lain under the necessity of remaining unmarried. … It was therefore a gross error; for, though Christ condemns as an adulterer the man who shall marry a wife that has been divorced, this is undoubtedly restricted to unlawful and frivolous divorces” (= ‘Dan siapapun yang menikah dengan ia yang diceraikan’. Kalimat ini dijelaskan secara buruk oleh banyak penafsir; karena mereka berpikir secara umum, dan tanpa perkecualian, bahwa dalam semua kasus dimana terjadi perceraian orangnya diharuskan hidup celibat / tidak menikah; dan karena itu, jika seorang suami menceraikan seorang pezinah, keduanya tidak boleh menikah lagi. … Karena itu, itu merupakan suatu kesalahan yang besar / menyolok; karena sekalipun Kristus mengecam sebagai seorang pezinah orang yang menikahi seorang istri yang telah diceraikan, tidak diragukan bahwa ini dibatasi pada perceraian-perceraian yang tidak sah dan sembrono) – hal 384.

Catatan: Mat 19:9 (KJV): – “And I say unto you, Whosoever shall put away his wife, except it be for fornication, and shall marry another, committeth adultery: and whoso marrieth her which is put away doth commit adultery” (= Dan Aku berkata kepadamu: Siapapun yang menceraikan istrinya, kecuali karena percabulan, dan menikah dengan orang lain, ia melakukan perzinahan: dan siapapun menikah dengan perempuan yang diceraikan, ia melakukan perzinahan).

Terjemahan KJV agak berbeda, karena bagian akhir dari KJV (yang saya garis-bawahi) tidak ada dalam Kitab Suci yang lain (mungkin ini dari manuscripts yang berbeda). Dan Calvin mengomentari bagian ini.

John Stott: “with only one exception, he called all remarriage after divorce adultery” (= dengan hanya satu perkecualian, Ia menyebut semua pernikahan lagi setelah perceraian sebagai perzinahan)‘The Message of the Sermon on the Mount’, hal 95.

John Stott: “The only situation in which divorce and remmariage are possible without breaking the seventh commandment is when it has already been broken by some serious sexual sin” (= Satu-satunya situasi dalam mana perceraian dan pernikahan lagi dimungkinkan tanpa melanggar hukum ketujuh adalah pada saat pernikahan itu telah dihancurkan oleh dosa sexual yang serius)‘The Message of the Sermon on the Mount’, hal 97-98.

Matthew Poole: “Some have upon these words made a question whether it be lawful for the husband or the wife separated for adultery to marry again while each other liveth. As to the offending party, it may be a question; but as to the innocent person offended, it is no question, for the adultery of the person offending hath dissolved the knot of marriage by the Divine law. … it seemeth against reason that both persons should have the like liberty to a second marriage. … It is unreasonable that she should make an advantage of her own sin and error. … But for the innocent person, it is an unreasonable that he or she should be punished for the sin of another” (= Beberapa orang berdasarkan kata-kata ini mempertanyakan apakah diperbolehkan untuk suami atau istri yang bercerai karena perzinahan untuk menikah lagi sementara mereka sama-sama masih hidup. Berkenaan dengan pihak yang bersalah, itu memang merupakan suatu pertanyaan; tetapi berkenaan dengan pribadi yang tidak bersalah, tidak perlu dipertanyakan, karena perzinahan dari pihak yang bersalah telah membubarkan ikatan pernikahan oleh hukum Ilahi. … kelihatannya bertentangan dengan akal bahwa kedua orang mempunyai kebebasan yang sama untuk menikah lagi. … Adalah tidak masuk akal bahwa ia mendapatkan keuntungan dari dosa dan kesalahannya sendiri. … Tetapi untuk pribadi yang tidak bersalah, adalah tidak masuk akal bahwa ia harus dihukum karena kesalahan dari pihak yang lain) – hal 88-89.

D. Martyn Lloyd-Jones: “We can say not only that a person who thus has divorced his wife because of her adultery is entitled to do so. We can go further and say that the divorce has ended the marriage, and that this man is now free and as a free man he is entitled to re-marriage. … His relationship to that woman is the same as if she were dead; and this innocent man is therefore entitled to re-marriage” (= Kita bisa mengatakan bukan hanya bahwa seseorang yang telah menceraikan istrinya karena perzinahannya berhak melakukan hal itu. Kita bisa melanjutkan dan berkata bahwa perceraian itu telah mengakhiri pernikahan, dan bahwa orang ini sekarang bebas dan sebagai seorang yang bebas ia berhak untuk menikah lagi. … Hubungannya dengan perempuan itu adalah sama seakan-akan perempuan itu sudah mati; dan karena itu orang yang tidak bersalah ini berhak untuk menikah lagi)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 252.

Barclay: “Jesus’s answer was to take things back to the very beginning, back to the ideal of creation. … Jesus was laying down the principle that all divorce is wrong. Thus early we must note that it is not a law; it is a principle, which is a very different thing. … Here, at once, the Pharisees saw a point of attack. … They could now say to Jesus, ‘Are you saying Moses was wrong? Are you seeking to abrogate the divine law which was given to Moses? Are you setting yourself above Moses as a law-giver?’ Jesus’s answer was that what Moses said was not in fact a law, but nothing more than a concession. Moses did not command a divorce; at the best he only permitted it in order to regulate a situation which would have become chaotically promiscuous. … The Mosaic regulation was only a concession to fallen human nature. … It is now that we are face to face with one of the most real and most acute difficulties in the New Testament. … The difficulty is – and there is no escaping it – that Mark and Matthew report the words of Jesus differently. … both Mark and Luke make the prohibition of divorce absolute; with them there are no exceptions whatsoever. But Matthew has one saving clause – divorce is permitted on the ground of adultery. … In the last analysis we must choose between Matthew’s version of this saying and that of Mark and Luke. We think there is little doubt that the version of Mark and Luke is right. … Matthew’s saving clause is a later interpretation inserted in the light of the practice of the Church when he wrote” (= Jawaban Yesus membawa semua kembali pada keadaan semula, kembali pada keadaan ideal dari penciptaan. … Yesus sedang menetapkan suatu prinsip bahwa semua perceraian adalah salah. Kita harus memperhatikan bahwa ini bukanlah suatu hukum; ini adalah suatu prinsip, yang merupakan sesuatu yang sangat berbeda. … Di sini, segera orang-orang Farisi melihat suatu titik untuk melakukan penyerangan. … Sekarang mereka bisa berkata kepada Yesus: ‘Apakah Engkau berkata bahwa Musa itu salah? Apakah Engkau berusaha membatalkan hukum ilahi yang diberikan kepada Musa? Apakah Engkau menempatkan diriMu sendiri di atas Musa sebagai pemberi hukum?’. Jawaban Yesus adalah bahwa apa yang Musa katakan dalam faktanya bukanlah suatu hukum, tetapi tidak lebih dari suatu kelonggaran. Musa tidak memerintahkan perceraian; paling-paling ia hanya mengijinkannya untuk mengatur suatu keadaan yang bisa menjadi kacau balau. … Peraturan Musa hanya merupakan suatu kelonggaran bagi manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. … Sekarang kita berhadapan dengan salah satu dari kesukaran-kesukaran yang paling nyata dan paling akut dalam Perjanjian Baru. … Kesukarannya adalah – dan tidak ada jalan untuk lolos dari kesukaran ini – bahwa Markus dan Matius melaporkan kata-kata Yesus secara berbeda. … Baik Markus maupun Lukas membuat larangan perceraian itu mutlak; pada mereka tidak ada perkecualian apapun. Tetapi Matius mempunyai satu kalimat perkecualian – perceraian diijinkan dengan alasan perzinahan. … Pada analisa terakhir kita harus memilih antara versi Matius dari kata-kata ini dan versi Markus dan Lukas. Kami berpendapat bahwa tidak diragukan  bahwa versi dari Markus dan Lukaslah yang benar. … Kalimat perkecualian Matius merupakan penafsiran belakangan yang dimasukkan dalam terang dari praktek dari Gereja pada saat ia menulis) – hal 200-202.

Catatan: ayat dalam Markus adalah Mark 10:11-12; sedangkan ayat dalam Lukas adalah Luk 16:18.

  • Mark 10:11-12 – “Lalu kataNya kepada mereka: ‘Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.’”.
  • Luk 16:18 – “Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah.’”.

Barclay: “It would be wrong to leave this matter without some attempt to see what it actually means for the question of divorce at the present time. … What Jesus laid down was a principle and not a law” (= Adalah salah untuk meninggalkan persoalan ini tanpa suatu usaha untuk melihat apa arti sebenarnya untuk pertanyaan tentang perceraian pada jaman sekarang. … Apa yang Yesus tetapkan adalah suatu prinsip dan bukan suatu hukum) – hal 208.

Dan ia lalu mengatakan (hal 209) bahwa seandainya ada suatu pernikahan yang menjadi kacau sehingga menjadi seperti neraka di dunia, dan seandainya sudah diusahakan semua cara untuk memperbaikinya tetapi pernikahan tersebut tetap kacau, apakah dua orang itu harus tetap mempertahankan pernikahan tersebut?

Barclay: “are then these two people to be for ever fettered together in a situation which cannot do other than bring a lifetime of misery to both? It is extremely difficult to see how such reasoning can be called Christian; it is extremely hard to see Jesus legalistically condemning two people to any such situation. This is not to say that divorce should be made easy, but it is to say that when all the physical and mental and spiritual resources have been brought to bear on such situation, and the situation remains incurable and even dangerous, then the situation should be ended” (= maka apakah kedua orang ini harus diikat bersama-sama selama-lamanya dalam suatu keadaan yang hanya bisa memberikan kesengsaraan seumur hidup kepada mereka berdua? Adalah sangat sukar untuk melihat bagaimana pemikiran / pertimbangan seperti itu bisa disebut Kristen; adalah sangat sukar untuk melihat Yesus secara legalistik mengecam / menghukum dua orang pada keadaan seperti itu. Ini bukan berarti bahwa perceraian harus dibuat menjadi mudah, tetapi maksudnya adalah bahwa pada saat semua sumber-sumber fisik, mental dan rohani telah dibawa untuk diarahkan pada keadaan itu, dan keadaan itu tetap tidak bisa disembuhkan dan bahkan berbahaya, maka keadaan itu harus diakhiri) – hal 209.

Catatan: bagi saya seluruh pemikiran Barclay di sini menunjukkan kesesatannya. Saya tidak mengerti bagaimana ia memisahkan / membedakan ‘prinsip’ dan ‘hukum’. Juga aneh bahwa ia menyalahkan Matius karena memberikan kalimat perkecualian, tetapi pada akhirnya ia tetap mengijinkan perceraian kalau pernikahan itu memburuk dan memang tidak bisa diperbaiki lagi.

Saya sendiri mengambil pandangan kedua ini. Saya beranggapan bahwa kalimat perkecualian dalam Mat 5:32 dan Mat 19:9 berlaku baik bagi perceraian maupun pernikahan lagi.

Contoh kasus: kalau seorang suami menceraikan istrinya, sekalipun bukan karena perzinahan, maka mereka berdua tidak boleh menikah lagi. Tetapi bagaimana kalau suami itu melanggar larangan tersebut, dan ia menikah lagi? Saya tidak menemukan buku tafsiran yang membahas kasus seperti ini. Tetapi saya sendiri berpendapat sebagai berikut: suami itu sebetulnya tidak berhak menikah lagi. Kalau ia menikah lagi, maka di hadapan Allah pernikahan itu merupakan perzinahan. Dengan demikian ditinjau dari sudut istri yang diceraikan, suaminya berzinah, dan karena itu si istri menjadi berhak menikah lagi.

3)   “Ia menjadikan istrinya berzinah”.

Tentang kata-kata ‘ia menjadikan isterinya berzinah’ dalam ay 32b, Calvin berkata:

“the man who, unjustly and unlawfully, abandons the wife whom God had given him, is justly condemned for having prostituted his wife to others” (= orang yang secara tidak benar dan tidak sah meninggalkan istri yang telah Allah berikan kepadanya, secara benar dikecam sebagai telah melacurkan istrinya kepada orang-orang lain) – hal 293.

William Hendriksen: “she is called an adulteresses because she may easily become one. … Far better, it would seem to me, is therefore the translation, ‘Whoever divorces his wife except on the basis of infidelity exposes her to adultery,’ or something similar. What Jesus is saying, then, is this: Whoever divorces his wife except on the ground of infidelity must bear the chief responsibility if as a result she, in her deserted state, should immediately yield to the temptation of becoming married to someone else” (= ia disebut sebagai pezinah karena ia dengan mudah menjadi seorang pezinah. … Karena itu, bagi saya jauh lebih baik terjemahan: ‘Siapapun menceraikan istrinya kecuali berdasarkan ketidak-setiaan membukakan dia kepada perzinahan’, atau terjemahan lain yang serupa. Jadi, apa yang dimaksud oleh Yesus adalah ini: Siapapun menceraikan istrinya kecuali berdasarkan ketidak-setiaan harus memikul tanggung jawab utama jika sebagai akibatnya perempuan itu, dalam keadaan ditinggalkan, menyerah pada pencobaan untuk menjadi istri dari orang lain) – hal 305,306.

4)   “dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah”.

Ini tentu saja berlaku kalau perceraian itu merupakan perceraian yang tidak sah.

Penerapan:

Karena itu jangan terlalu cepat berpikir negatif kalau ada janda / duda yang mau menikah lagi. Kita harus mengetahui lebih dulu apa sebabnya ia menjadi janda / duda. Kalau itu disebabkan karena pasangannya mati, atau karena ia menceraikan pasangannya yang berzinah, maka ia berhak untuk menikah lagi!

Matius 5:33-37

1)   Lagi-lagi di sini Tuhan Yesus tidak menentang hukum Taurat, tetapi menentang penafsiran (dan praktek) dari orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tentang hukum Taurat

Ay 33: “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan”.

Dalam hukum Taurat / Perjanjian Lama tidak ada ayat yang bunyinya persis seperti itu. Tetapi ada beberapa ayat yang kalau digabungkan berbunyi seperti itu. Ayat-ayat itu adalah:

  • Im 19:12 – “Janganlah kamu bersumpah dusta demi namaKu, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN”.
  • Bil 30:2 – “Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu; haruslah ia berbuat tepat seperti yang diucapkannya”.
  • Ul 23:21 – “‘Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu”.
  • Pkh 5:3-4 – “Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya”.

Sekalipun demikian, yang dibicarakan / dibetulkan di sini oleh Yesus bukanlah hukum Tauratnya sendiri, tetapi penafsiran / ajaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tentang hukum Taurat. Lagi-lagi terjemahan salah dari Kitab Suci Indonesia yang menggunakan istilah ‘difirmankan’ seolah-olah menunjukkan bahwa Yesus menentang Perjanjian Lama. Tetapi dalam terjemahan yang benar tidak terlihat hal itu.

KJV: Again, ye have heard that it hath been said by them of old time, Thou shalt not forswear thyself, but shalt perform unto the Lord thine oaths’ (= Lagi, engkau telah mendengar bahwa telah dikatakan oleh mereka dari jaman dulu, Engkau tidak boleh bersumpah palsu, tetapi engkau harus melakukan bagi Tuhan sumpahmu).

NIV: Again, you have heard that it was said to the people long ago, ‘Do not break your oath, but keep the oaths you have made to the Lord.’” (= Lagi, engkau telah mendengar bahwa dikatakan kepada orang-orang jaman dulu, ‘Jangan melanggar sumpahmu, tetapi peganglah sumpah yang telah engkau buat terhadap Tuhan’).

2)   Kalau dalam ay 21-26 Yesus meluruskan penafsiran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tentang hukum ke 6 (Jangan membunuh), dan dalam ay 27-32 Yesus meluruskan penafsiran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tentang hukum ke 7 (Jangan berzinah), maka dalam ay 33-37 ini Ia membicarakan sumpah yang berhubungan dengan hukum ke 3 (Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan / sia-sia).

Calvin: “God condemned in the law not only acts of perjury, but lightness in swearing, which lessens the reverence for his name. The man who perjures himself is not the only person who takes the name of God in vain, (Ex. 20:7.) He does so, who idly and contemptuously pronounces the name of God on trivial occasions, or in ordinary conversation” [= Allah menyalahkan / mengecam dalam hukum Taurat bukan hanya tindakan sumpah palsu, tetapi peremehan sumpah, yang mengurangi hormat / takut kepada namaNya. Orang yang bersumpah palsu bukan hanya satu-satunya orang yang menggunakan nama Allah dengan sia-sia, (Kel 20:7). Ia juga melakukannya, jika ia mengucapkan nama Allah secara tak berarti dan menghina pada peristiwa-peristiwa yang remeh, atau dalam percakapan sehari-hari] – hal 293.

Penerapan:

Jangan terbiasa mengucapkan kata-kata seruan seperti ‘Ya Allah’, ‘Masya-allah’, atau seperti yang dilakukan oleh orang-orang Barat, yaitu ‘My God’, ‘Jesus Christ’, dan sebagainya. Ini termasuk pelanggaran hukum ketiga, karena menyebut nama Allah secara sembarangan / sia-sia! Juga jangan menggunakannya sekedar untuk lelucon atau percakapan yang tidak berguna! Ini merupakan dosa yang sekalipun sudah sering dibicarakan, tetapi tetap sering diremehkan dan dilanggar oleh banyak orang-orang kristen yang bahkan termasuk aktivist gereja! Ingat bahwa sikap saudara terhadap nama Allah merupakan sikap saudara terhadap Allah sendiri!

3)   Ajaran dan praktek dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi pada saat itu berkenaan dengan sumpah.

Calvin: “The Jews had circuitous or indirect ways of swearing; and when they swore by heaven, or by earth, or by the altar, (Mat. 23:18,) they reckoned it to be next to nothing” [= orang-orang Yahudi mempunyai jalan memutar atau tidak langsung dalam bersumpah; dan pada waktu mereka bersumpah demi surga, atau demi bumi, atau demi mezbah, (Mat 23:18), mereka menganggapnya sebagai hampir tidak berarti apa-apa] – hal 294.

Pulpit Commentary: “The Jews, it seems, thought lightly of oaths which did not contain the sacred Name of God; they used such oaths constantly and heedlessly” (= Kelihatannya orang-orang Yahudi menganggap ringan sumpah yang tidak mencakup nama yang kudus dari Allah; mereka menggunakan sumpah-sumpah seperti itu secara terus menerus dan dengan sembrono / sembarangan) – hal 177.

Bdk. Mat 23:16-22 – “(16) Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. (17) Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? (18) Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. (19) Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? (20) Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. (21) Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. (22) Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya”.

Kata-kata ‘itu tidak sah’ terjemahannya kurang tepat.

KJV/RSV: ‘it is nothing’ (= itu bukan apa-apa).

NIV: ‘it means nothing’ (= itu tidak berarti apa-apa).

NASB: ‘that is nothing’ (= itu bukan apa-apa).

Penerapan:

Jaman ini, orang juga sering mencari jalan memutar untuk menghindari penggunaan nama Allah dalam sumpah. Misalnya berkata ‘sumpah mati’. Bahkan kadang-kadang orang berusaha untuk menghindari penggunaan kata ‘sumpah’. Misalnya: dengan mengatakan ‘sumprit’, atau mengubahnya menjadi ‘saya berjanji’, atau dengan sekedar mengangkat tangan kanannya, dsb. Sebetulnya semua ini sama saja, dan tetap adalah dosa, kalau hal ini dilakukan dengan sembarangan!

4)   Ajaran Yesus berkenaan dengan sumpah.

a)   Yesus tidak melarang sumpah secara mutlak!

Sepintas lalu, ay 34a yang berbunyi: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah”, melarang sumpah secara mutlak. Dan Barclay (hal 161) mengatakan bahwa ada 2 golongan yaitu Essenes (suatu sekte Yahudi) dan Quakers yang secara mutlak tidak mau bersumpah. Dan jelas bahwa jaman sekarangpun ada banyak orang kristen yang beranggapan bahwa sumpah dilarang secara mutlak. Tetapi saya berpendapat bahwa sebetulnya sumpah tidak dilarang secara mutlak.

Calvin: “Many have been led by the phrase, ‘not at all,’ to adopt the false notion, that every kind of swearing is condemned by Christ” (= Banyak orang telah dibimbing oleh ungkapan ‘janganlah sekali-kali’ untuk mengambil maksud yang salah, bahwa setiap jenis sumpah dikecam oleh Kristus) – hal 294.

Calvin berpendapat bahwa kata-kata Yesus dalam ay 34a ini tidak boleh dipisahkan dari kata-kata selanjutnya, yang menunjukkan sumpah yang bagaimana yang Ia maksud, yaitu sumpah demi langit, demi bumi, demi Yerusalem, demi kepalamu (ay 34-36), yang oleh orang-orang Yahudi dianggap remeh / tak berarti. Jadi, yang dilarang adalah sumpah sembarangan.

Pulpit Commentary: “How, then, can we explain this absolute prohibition here? In that our Lord is not here thinking at all formal and solemn oaths, but of oaths as the outcome of impatience and exaggeration” (= Lalu bagaimana kita bisa menjelaskan larangan mutlak di sini? Dengan mengatakan bahwa di sini Tuhan kita tidak berpikir tentang semua sumpah yang formal / resmi dan khidmat, tetapi tentang sumpah-sumpah sebagai akibat / hasil dari ketidak-sabaran dan tindakan melebih-lebihkan) – hal 165.

Pulpit Commentary: “our Lord’s prohibition applies only to rash, idle oaths, such as were common among the Jews” (= Larangan Tuhan kita hanya berlaku untuk sumpah yang sembarangan dan kosong, seperti yang banyak terdapat di antara orang-orang Yahudi) – hal 177.

Adam Clarke: “Be not much in oaths, although one should swear concerning things that are true; for in much swearing it is impossible not to profane” (= Jangan banyak bersumpah, sekalipun dalam hal yang benar; karena dalam banyak bersumpah adalah tidak mungkin untuk tidak meremehkan hal-hal yang keramat) – hal 75.

Calvin: “His statement amounts to this, that there are other ways of ‘taking the name of God in vain,’ besides perjury; and, therefore, that, we ought to refrain from allowing ourselves the liberty of unnecessary swearing: for, when there are just reasons to demand it, the law not only permits, but expressly commands us to swear” (= Arti pernyataanNya menjadi begini: bahwa ada cara-cara lain untuk ‘menyebut nama Allah dengan sembarangan / sia-sia’ disamping sumpah palsu; dan karena itu, kita harus menahan diri kita sendiri dari kebebasan bersumpah secara tidak perlu: karena, pada waktu di sana ada alasan-alasan yang benar yang menuntut sumpah, hukum Taurat bukan hanya mengijinkan, tetapi secara jelas memerintahkan kita untuk bersumpah) – hal 295.

Alasan-alasan yang menunjukkan bahwa sumpah tidak mungkin dilarang secara mutlak:

1.   Perjanjian Lama mengijinkan, bahkan mengharuskan sumpah, dalam hal-hal tertentu.

Ul 6:13 – “Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi namaNya haruslah engkau bersumpah”.

Kel 22:7-8 – “Apabila seseorang menitipkan kepada temannya uang atau barang, dan itu dicuri dari rumah orang itu, maka jika pencuri itu terdapat, ia harus membayar ganti kerugian dua kali lipat. Jika pencuri itu tidak terdapat, maka tuan rumah harus pergi menghadap Allah untuk bersumpah, bahwa ia tidak mengulurkan tangannya mengambil harta kepunyaan temannya”.

Kel 22:10-11 – “Apabila seseorang menitipkan kepada temannya seekor keledai atau lembu atau seekor domba atau binatang apapun dan binatang itu mati, atau patah kakinya atau dihalau orang dengan kekerasan, dengan tidak ada orang yang melihatnya, maka sumpah di hadapan TUHAN harus menentukan di antara kedua orang itu, apakah ia tidak mengulurkan tangannya mengambil harta kepunyaan temannya, dan pemilik harus menerima sumpah itu, dan yang lain itu tidak usah membayar ganti kerugian”.

Bil 5:11-28 – “TUHAN berfirman kepada Musa: ‘Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila isteri seseorang berbuat serong dan tidak setia terhadap suaminya, dan laki-laki lain tidur dan bersetubuh dengan perempuan itu, dengan tidak diketahui suaminya, karena tinggal rahasia bahwa perempuan itu mencemarkan dirinya, tidak ada saksi terhadap dia, dia tidak kedapatan, dan apabila kemudian roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, dan perempuan itu memang telah mencemarkan dirinya, atau apabila roh cemburu menguasai suami itu, sehingga ia menjadi cemburu terhadap isterinya, walaupun perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, maka haruslah orang itu membawa isterinya kepada imam. Dan orang itu harus membawa persembahan karena perempuan itu sebanyak sepersepuluh efa tepung jelai, yang ke atasnya tidak dituangkannya minyak dan yang tidak dibubuhinya kemenyan, karena korban itu ialah korban sajian cemburuan, suatu korban peringatan yang mengingatkan kepada kedurjanaan. Maka haruslah imam menyuruh perempuan itu mendekat dan menghadapkannya kepada TUHAN. Lalu imam harus membawa air kudus dalam suatu tempayan tanah, kemudian harus memungut debu yang ada di lantai Kemah Suci dan membubuhnya ke dalam air itu. Apabila imam sudah menghadapkan perempuan itu kepada TUHAN, haruslah ia menguraikan rambut perempuan itu, lalu meletakkan korban peringatan, yakni korban sajian cemburuan, ke atas telapak tangan perempuan itu, sedang di tangan imam haruslah ada air pahit yang mendatangkan kutuk. Maka haruslah imam menyumpah perempuan itu dengan berkata kepadanya: Jika tidak benar ada laki-laki yang tidur dengan engkau, dan jika tidak engkau berbuat serong kepada kecemaran, padahal engkau di bawah kuasa suamimu, maka luputlah engkau dari air pahit yang mendatangkan kutuk ini; tetapi jika engkau, padahal engkau di bawah kuasa suamimu, berbuat serong dan mencemarkan dirimu, oleh karena orang lain dari suamimu sendiri bersetubuh dengan engkau – dalam hal ini haruslah imam menyumpah perempuan itu dengan sumpah kutuk, dan haruslah imam berkata kepada perempuan itu – maka TUHAN kiranya membuat engkau menjadi sumpah kutuk di tengah-tengah bangsamu dengan mengempiskan pahamu dan mengembungkan perutmu, sebab air yang mendatangkan kutuk ini akan masuk ke dalam tubuhmu untuk mengembungkan perutmu dan mengempiskan pahamu. Dan haruslah perempuan itu berkata: Amin, amin. Lalu imam harus menuliskan kutuk itu pada sehelai kertas dan menghapusnya dengan air pahit itu, dan ia harus memberi perempuan itu minum air pahit yang mendatangkan kutuk itu, dan air itu akan masuk ke dalam badannya dan menyebabkan sakit yang pedih. Maka haruslah imam mengambil korban sajian cemburuan dari tangan perempuan itu lalu mengunjukkannya ke hadapan TUHAN, dan membawanya ke mezbah. Sesudah itu haruslah imam mengambil segenggam dari korban sajian itu sebagai bagian ingat-ingatannya dan membakarnya di atas mezbah, kemudian memberi perempuan itu minum air itu. Setelah terjadi demikian, apabila perempuan itu memang mencemarkan dirinya dan berubah setia terhadap suaminya, air yang mendatangkan sumpah serapah itu akan masuk ke badannya dan menyebabkan sakit yang pedih, sehingga perutnya mengembung dan pahanya mengempis, dan perempuan itu akan menjadi sumpah kutuk di antara bangsanya. Tetapi apabila perempuan itu tidak mencemarkan dirinya, melainkan ia suci, maka ia akan bebas dan akan dapat beranak.’”.

1Raja 8:31-32 – “Jika seseorang telah berdosa kepada temannya, lalu diwajibkan mengangkat sumpah dengan mengutuk dirinya, dan dia datang bersumpah ke depan mezbahMu di dalam rumah ini, maka Engkaupun kiranya mendengarkannya di sorga dan bertindak serta mengadili hamba-hambaMu, yakni menyatakan bersalah orang yang bersalah dengan menanggungkan perbuatannya kepada orang itu sendiri, tetapi menyatakan benar orang yang benar dengan memberi pembalasan kepadanya yang sesuai dengan kebenarannya”.

Dan Yesus tidak mungkin bertentangan dengan Perjanjian Lama (bdk. Mat 5:17-19).

2.   Ibr 6:13-17 – “Sebab ketika Allah memberikan janjiNya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diriNya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari padaNya, kataNya: ‘Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.’ Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusanNya, Allah telah mengikat diriNya dengan sumpah”.

3.   Pada waktu Yesus diadili oleh Sanhedrin, dan Ia disuruh berbicara di bawah sumpah, Ia bukannya menegur mereka yang menyuruhNya bersumpah, tetapi sebaliknya Ia mau menjawab, padahal tadinya Ia tidak mau berbicara.

Mat 26:63-64 – “Tetapi Yesus tetap diam. Lalu kata Imam Besar itu kepadaNya: ‘Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak.’ Jawab Yesus: ‘Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit.’”.

4.   Dalam Wah 10:5-6 malaikat bersumpah.

Wah 10:5-6 – “Dan malaikat yang kulihat berdiri di atas laut dan di atas bumi, mengangkat tangan kanannya ke langit, dan ia bersumpah demi Dia yang hidup sampai selama-lamanya, yang telah menciptakan langit dan segala isinya, dan bumi dan segala isinya, dan laut dan segala isinya, katanya: ‘Tidak akan ada penundaan lagi!”.

5.   Paulus sering bersumpah.

Ro 1:9 – “Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil AnakNya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu”.

Ro 9:1 – “Aku mengatakan kebenaran dalam Kristus, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus”.

1Kor 15:31 – “Saudara-saudara, tiap-tiap hari aku berhadapan dengan maut. Demi kebanggaanku akan kamu dalam Kristus Yesus, Tuhan kita, aku katakan, bahwa hal ini benar”.

2Kor 1:23 – “Tetapi aku memanggil Allah sebagai saksiku – Ia mengenal aku -, bahwa sebabnya aku tidak datang ke Korintus ialah untuk menyayangkan kamu”.

Gal 1:20 – “Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta”.

Fil 1:8 – “Sebab Allah adalah saksiku betapa aku dengan kasih mesra Kristus Yesus merindukan kamu sekalian”.

Betul-betul tidak terbayangkan bahwa Paulus, yang adalah rasul yang begitu saleh, bisa berulang kali bersumpah kalau sumpah memang dilarang secara mutlak.

Semua ini menunjukkan bahwa sumpah tidak dilarang secara mutlak. Dalam pengadilan, atau dalam hal-hal yang penting lainnya, kita boleh bersumpah. Yang dilarang adalah bersum­pah secara sembarangan, untuk hal-hal yang tidak penting, sekalipun hal yang dikatakan itu merupakan kebenaran. Hal ini ditekankan lagi secara lebih khusus dalam ay 37.

Ay 37: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”.

Bdk. Yak 5:12 – “Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman”.

Calvin menganggap bahwa dalam ay 37 ini Kristus memberikan obat, yaitu dengan menyuruh orang untuk berkata jujur / tidak berdusta. Saya tidak setuju dengan penafsiran Calvin di sini, karena kontext, dan kalimat terakhir dari ay 37 menunjukkan bahwa yang ditentang di sini adalah sumpah secara sembarangan. Jadi kata-kata ‘Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak’, bukan ditujukan untuk menekankan kejujuran, tetapi untuk melarang sumpah sembarangan. Jadi kalau ‘ya’, katakanlah ‘ya’, bukan ‘sumpah ya’.

Pulpit Commentary: “here the question is not of truthfulness, but of fervency in asseveration” (= di sini persoalannya bukanlah kebenaran, tetapi semangat dalam penegasan) – hal 165.

Penerapan:

Apakah saudara sering bersumpah pada waktu saudara ingin kata-kata saudara dipercaya oleh orang lain, sekalipun itu bukan menyangkut sesuatu yang penting?

Beberapa komentar tentang orang yang gampang untuk bersumpah:

  • Pulpit Commentary: “It betrays a consciousness, too, on the swearer’s part that he is not to be believed in his bare word” [= Juga, itu menyingkapkan suatu kesadaran pada pihak si penyumpah bahwa ia tidak dipercaya dalam kata-katanya semata-mata (tanpa sumpah)] – hal 205.
  • William Hendriksen: “It is characteristic of certain individuals who are aware that their reputation for veracity is not exactly outstanding that the more they lie the more they will also assert that what they are saying is ‘gospel truth.’ They are in the habit of interlacing their conversations with oaths” (= Merupakan ciri dari individu-individu tertentu yang sadar bahwa reputasi mereka untuk kejujuran tidak terlalu menonjol, dimana makin mereka berdusta makin mereka menegaskan bahwa apa yang mereka katakan adalah ‘kebenaran injil’. Mereka terbiasa untuk menjalin percakapan mereka dengan sumpah) – hal 308.
  • Adam Clarke: “A common swearer is constantly perjuring himself: such a person should never be trusted” (= Seseorang yang biasa bersumpah secara terus menerus bersumpah palsu: orang seperti itu tidak pernah boleh dipercaya) – hal 75.

b)   Sumpah demi hal-hal lain selain Allah, tetap merupakan sumpah, yang harus dianggap mengikat, dan tidak boleh diremehkan / dianggap tidak ada.

Ay 34-36: “(34) Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, (35) maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kakiNya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; (36) janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun”.

1.   Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh bersumpah demi langit, bumi dan sebagainya.

Yesus mengucapkan kata-kata ini karena orang-orang Yahudi pada saat itu memandang remeh sumpah demi langit, bumi dsb (pokoknya sumpah yang tidak mencakup nama Allah).

Calvin: “It is a mistake to explain these words as meaning, that such forms of swearing are condemned by God only. The reasons which he brings forward tend rather to the opposite view, that we swear by the name of God even when we name the heaven, and the earth: because there is no part of the world on which God has not engraved the marks of his glory” (= Adalah salah untuk menjelaskan bahwa kata-kata ini artinya adalah bahwa hanya bentuk-bentuk sumpah seperti itu yang dikecam oleh Allah. Alasan yang Ia kemukakan justru cenderung untuk berarti sebaliknya, yaitu bahwa kita bersumpah demi nama Allah bahkan pada saat kita menyebut langit / surga, dan bumi: karena tidak ada bagian dalam alam semesta dimana Allah tidak mengukirkan tanda-tanda / ciri-ciri kemuliaanNya) – hal 295.

Calvin: “Heaven is called in Scripture (Isa. 66:1) the throne of God: not that he dwells in heaven alone, but to teach men to raise their minds upwards, whenever they think of him, and not to form any low or earthly conceptions of him. Again, the earth is called his footstool, (v. 35) to inform us, that he fills all things, and that no extent of space can contain him. The holiness of Jerusalem (v. 35) depended on his promise. It was the holy city, (Isa. 52:1:) because God had selected it to be the seat and residence of his empire. When men swear by their head, (v. 36,) they bring forward their life, which is a remarkable gift of God, as a pledge of their sincerity” [= Langit / surga disebut dalam Kitab Suci (Yes 66:1) sebagai takhta Allah: bukan bahwa Ia tinggal di dalam surga saja, tetapi untuk mengajar manusia untuk mengangkat pikiran mereka ke atas, kapanpun mereka berpikir tentang Dia, dan tidak membentuk konsep yang rendah atau duniawi tentang Dia. Juga, bumi disebut tumpuan kakiNya (ay 35) untuk memberi tahu kita, bahwa Ia memenuhi segala sesuatu, dan bahwa tidak ada tempat yang bisa menampung Dia. Kekudusan Yerusalem (ay 35) tergantung pada janjiNya. Itu adalah kota kudus (Yes 52:1), karena Allah telah memilihnya untuk menjadi kedudukan dan tempat tinggal dari kekaisaranNya. Pada waktu orang bersumpah demi kepala mereka (ay 36), mereka mengajukan hidup / nyawa mereka, yang merupakan karunia yang hebat / luar biasa dari Allah, sebagai jaminan dari ketulusan / kejujuran mereka] – hal 296.

Yes 66:1 – “Beginilah firman TUHAN: Langit adalah takhtaKu dan bumi adalah tumpuan kakiKu; rumah apakah yang akan kamu dirikan bagiKu, dan tempat apakah yang akan menjadi perhentianKu?”.

Bdk. 1Raja 8:27 – “Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini”.

Tetapi, kalau kita memang boleh bersumpah demi sesuatu yang bukan Allah (langit, bumi dsb), lalu bagaimana dengan Ul 6:13 yang berbunyi: “Engkau harus takut akan TUHAN, Allahmu; kepada Dia haruslah engkau beribadah dan demi namaNya haruslah engkau bersumpah”. Bukankah ayat ini kelihatannya menunjukkan bahwa kita hanya boleh bersumpah demi nama Allah / Tuhan?

Calvin mengatakan bahwa Ul 6:13 tidak boleh diartikan seakan-akan kita hanya boleh bersumpah demi nama Tuhan. Pada waktu Ul 6:13 itu mengatakan bahwa kita harus bersumpah harus demi nama Tuhan, maksudnya kita tidak boleh bersumpah demi nama dewa / berhala / allah lain!

Memang, dalam Ul 6:13 itu, ‘nama Tuhan’ bukannya dikontraskan dengan ‘segala sesuatu yang lain’, tetapi dengan ‘dewa / berhala / allah lain’. Jadi yang dilarang oleh ayat itu hanyalah bersumpah demi dewa / berhala / allah lain, bukannya demi hal-hal lain seperti langit, bumi, dan sebagainya. Pandangan ini didukung oleh Ul 4:26, yang menunjukkan bahwa Musa bersumpah demi langit dan bumi!

Ul 4:26 – “maka aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu habis binasa dengan segera dari negeri ke mana kamu menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya; tidak akan lanjut umurmu di sana, tetapi pastilah kamu punah”.

Tetapi Calvin (hal 296) menentang cara bersumpah dari orang-orang Katolik, yang bersumpah demi malaikat, atau orang-orang suci yang sudah mati, karena menurut dia ini merupakan pendewaan terhadap malaikat / orang-orang suci tersebut.

2.   Sumpah demi langit, bumi, kepala dsb, tetap merupakan sumpah yang mengikat, dan tidak boleh diremehkan / dianggap tidak ada.

Jadi berbeda dengan praktek dari orang-orang Yahudi pada saat itu, yang menganggap ada sumpah yang mengikat dan ada yang tidak berarti apa-apa (Mat 23:16-22), maka Yesus mengatakan bahwa semua sumpah mengikat, bahkan pada saat nama Allah tidak digunakan.

Pulpit Commentary: “Neither by heaven, etc. Our Lord further defines what he means by an oath. It does not mean only expression in which God’s Name is mentioned, but any expression appealing to any object at all, whether this be supraterrestrial, terrestrial, national, or personal. Although God’s Name is omitted in such cases, from a feeling of reverence, its omission does not prevent the asseveration being an oath” [= ‘Baik demi langit / surga, dsb’. Tuhan kita menjelaskan lebih lanjut apa yang Ia maksudkan dengan suatu sumpah. Itu tidak hanya berarti ungkapan-ungkapan dalam mana Nama Allah disebutkan, tetapi seadanya pernyataan yang menyebut seadanya obyek (sebagai saksi), apakah yang di atas bumi, yang berkenaan dengan bumi, nasional, atau pribadi. Sekalipun Nama Allah dihapuskan dalam kasus-kasus itu, karena rasa takut, penghapusan tersebut tidak menghalangi pernyataan yang ditekankan itu sebagai suatu sumpah] – hal 165.

Pulpit Commentary: “The principle underlying all this is that men should see God in everything. That the creature cannot be separate from the Creator. Therefore that calling any creature to witness is virtually calling God” (= Prinsip yang melandasi semua ini adalah bahwa manusia harus melihat Allah dalam segala sesuatu. Bahwa ciptaan tidak bisa dipisahkan dari sang Pencipta. Karena itu pemanggilan seadanya ciptaan sebagai saksi sebetulnya merupakan pemanggilan terhadap Allah) – hal 218.

5)   Bagaimana mengobati penyakit ‘suka bersumpah’?

a)   Sadari bahwa itu merupakan dosa.

Kalau saudara tidak menganggap ‘sumpah gampangan’ itu sebagai dosa, tentu saudara tidak akan berusaha membuang hal itu dari hidup saudara. Jadi, kesadaran dosa ini mutlak penting!

b)   Berusahalah membuang dosa itu, sekalipun sudah menjadi kebiasaan (Yak 5:12).

Thomas Manton: “Thy custom will not excuse thee; if it be thy custom to sin, it is God’s custom to destroy sinners” (= Kebiasaanmu tidak akan memaafkan kamu; kalau itu merupa­kan kebiasaanmu untuk berdosa, maka adalah kebiasaan Allah untuk menghancurkan orang-orang berdosa).

c)   Berbicaralah jujur senantiasa.

Banyak orang sering berdusta sehingga tidak bisa dipercaya dan supaya ia bisa dipercaya, ia lalu bersumpah. Tetapi kalau kita selalu jujur kepada siapapun, kita akan dipercaya sekalipun tidak bersumpah. Dengan demikian, sumpah itu tak akan dibutuhkan lagi untuk meyakinkan orang.

Memang kalau selama ini saudara sudah dikenal sebagai orang yang sering berdusta, dan mulai saat ini saudara mengambil keputusan untuk berbicara jujur, maka tentu saja orang-orang di sekitar saudara tidak akan cepat-cepat percaya. Tetapi bertekunlah dalam kejujuran itu, maka lambat laun orang-orang itu akan mempercayai saudara.

Barclay: “Isocrates, the great Greek teacher and orator, said, ‘A man must lead a life which will gain more confidence in him than ever an oath can do.’ Clement of Alexandria insisted that Christians must lead such a life and demonstrate such a character that no one will ever dream of asking an oath from them” (= Isocrates, guru dan orator Yunani yang terkenal, berkata: ‘Seseorang harus hidup sehingga mendapatkan keyakinan dalam dirinya lebih dari pada yang bisa didapatkan oleh sumpah’. Clement of Alexandria bersikeras bahwa orang-orang Kristen harus hidup sedemikian rupa dan mendemonstrasikan suatu karakter sedemikian rupa sehingga tidak seorangpun akan pernah bermimpi untuk menyuruh mereka bersumpah) – hal 160.

d)   Jangan peduli kalau saudara tidak dipercaya, sekalipun saudara mengatakan kebenaran. Tidak perlu menyakinkan orang itu dengan jalan bersumpah. Kalau orang itu tidak mau per­caya, biarkanlah ia tidak percaya!

Kesimpulan:

Adam Clarke: “The best way is to have as little to do as possible with oaths. An oath will not bind a knave nor a liar; and an honest man needs none, for his character and conduct swear for him” (= Cara yang terbaik adalah bersumpah sesedikit mungkin. Suatu sumpah tidak akan mengikat seorang bangsat / yang tidak jujur ataupun seorang pendusta; dan seseorang yang jujur tidak membutuhkannya, karena karakter dan tingkah lakunya bersumpah untuknya) – hal 74.

Matius 5:38-42

1)   Ay 38-39a: “(38) Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. (39) Tetapi Aku berkata kepadamu: …”.

Kata ‘firman’ lagi-lagi merupakan terjemahan yang salah, dan terjemahan yang salah ini menyebabkan seakan-akan Yesus menentang hukum Taurat / Perjanjian Lama.

KJV: Ye have heard that it hath been said, An eye for an eye, and a tooth for a tooth: But I say unto you, …’ (= Kamu telah mendengar bahwa telah dikatakan: Satu mata untuk satu mata, dan satu gigi untuk satu gigi: Tetapi Aku berkata kepadamu: …).

Jadi, lagi-lagi di sini Yesus bukannya menentang hukum Taurat / Perjanjian Lama, tetapi menentang ajaran dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tentang hukum Taurat / Perjanjian Lama.

2)   Prinsip ‘mata ganti mata dan gigi ganti gigi’ berlaku untuk pengadilan, bukan dalam urusan pribadi.

a)   Dalam hukum Taurat / Perjanjian Lama memang ada hukum-hukum seperti itu, yaitu dalam:

  • Im 24:20 – “patah ganti patah, mata ganti mata, gigi ganti gigi; seperti dibuatnya orang lain bercacat, begitulah harus dibuat kepadanya”.
  • Kel 21:23-25 – “Tetapi jika perempuan itu mendapat kecelakaan yang membawa maut, maka engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak”.
  • Ul 19:21 – “Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki.’”.

b)   Tetapi semua ini diberikan dalam kontex hukum pengadilan (baca ketiga ayat ini dan perhatikan kontexnya).

Karena itu artinya adalah: pengadilan harus memberikan hukuman yang setimpal dengan kesalahan orang yang diadili. Tujuan dari hukum ini justru adalah supaya tidak terjadi balas dendam pribadi.

c)   Tetapi para ahli Taurat menafsirkannya sebagai hukum pribadi (boleh membalas dendam secara pribadi). Padahal dalam Perjanjian Lama ada ayat-ayat yang jelas bertentangan dengan balas dendam pribadi, seperti:

  • Im 19:18 – “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN”.
  • Amsal 20:22 – “Janganlah engkau berkata: ‘Aku akan membalas kejahatan,’ nantikanlah TUHAN, Ia akan menyelamatkan engkau”.
  • Amsal 24:29 – “Janganlah berkata: ‘Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia. Aku membalas orang menurut perbuatannya.’”.

Penafsiran salah dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi inilah yang dikoreksi oleh Yesus.

Calvin: “Here another error is corrected. God had enjoined, by his law, (Lev. 24:20,) that judges and magistrates should punish those who had done injuries, by making them endure as much as they had inflicted. The consequence was, that every one seized on this as a pretext for taking private revenge. They thought that they did no wrong, provided they were not the first to make the attack, but only, when injured, returned like for like” [= Di sini kesalahan yang lain dikoreksi. Allah telah memerintahkan melalui hukumNya (Im 24:20), bahwa hakim harus menghukum mereka yang telah melukai, dengan membuat mereka merasakan sama banyaknya dengan apa yang mereka timbulkan. Akibatnya adalah, bahwa setiap orang menggunakan ini sebagai alasan / dasar untuk melakukan pembalasan dendam pribadi. Mereka mengira bahwa mereka tidak melakukan hal yang salah, asalkan mereka tidak menyerang lebih dulu, tetapi hanya membalas secara sama pada waktu mereka dilukai / disakiti] – hal 297.

Barnes’ Notes: “In these places it was given as a rule to regulate the decisions of judges. … But, instead of confining it to magistrates, the Jews had extended it to private conduct, and made it the rule by which to take revenge” [= Di tempat-tempat ini (maksudnya Kel 21:23-25  Im 24:20  Ul 19:21) itu diberikan sebagai peraturan untuk mengatur keputusan dari hakim. … Tetapi orang-orang Yahudi bukannya membatasi hal itu bagi hakim, melainkan memperluasnya untuk tingkah laku pribadi, dan membuatnya sebagai peraturan untuk membalas dendam] – hal 26.

Pulpit Commentary: “The words of the Law of Moses relate to punishment inflicted by a court of justice; the Jews probably understood them as permitting private revenge. Holy Scripture does not forbid the infliction of judicial punishment (comp. Rom. 13:4). It forbids the revengeful temper, and it forbids private revenge altogether” [= Kata-kata dari Hukum Musa berhubungan dengan hukuman yang diberikan oleh pengadilan; orang-orang Yahudi mungkin mengartikan hukum-hukum itu sebagai ijin untuk pembalasan dendam pribadi. Kitab Suci yang kudus tidak melarang pemberian hukuman pengadilan (bdk. Ro 13:4). Tetapi Kitab Suci melarang sifat suka balas dendam, dan Kitab Suci melarang balas dendam pribadi secara total] – hal 177.

William Hendriksen: “This was a law for the civil courts, laid down in order that the practice of seeking private revenge might be discouraged. The Old Testament passages do not mean, ‘Take personal revenge whenever you are wronged,’ They mean the exact opposite, ‘Do not avenge yourself but let justice be administered publicly.’ … The Pharisees, however, appealed to this law to justify personal retribution and revenge” (= Ini adalah hukum untuk pengadilan, diberikan supaya orang tidak terdorong untuk melakukan praktek balas dendam pribadi. Text-text Perjanjian Lama ini tidak berarti: ‘Lakukanlah balas dendam pribadi jika ada orang yang berbuat salah kepadamu’. Artinya justru adalah sebaliknya: ‘Jangan membalas dendam sendiri, tetapi biarkanlah keadilan dilakukan di depan umum’. … Tetapi orang-orang Farisi  menggunakan hukum ini untuk membenarkan balas dendam pribadi) – hal 310.

John Stott: “The context makes it clear beyond question that this was an instruction to the judges of Israel. Indeed, they are mentioned in Deuteronomy 19:17,18” (= Kontextnya membuat jelas dan tanpa keraguan bahwa ini merupakan instruksi bagi hakim-hakim dari Israel. Dan memang mereka disebutkan dalam Ul 19:17-18)‘The Message of the Sermon of the Mount’, hal 104.

Ul 19:16-21 – “(16) Apabila seorang saksi jahat menggugat seseorang untuk menuduh dia mengenai suatu pelanggaran, (17) maka kedua orang yang mempunyai perkara itu haruslah berdiri di hadapan TUHAN, di hadapan imam-imam dan hakim-hakim yang ada pada waktu itu. (18) Maka hakim-hakim itu harus memeriksanya baik-baik, dan apabila ternyata, bahwa saksi itu seorang saksi dusta dan bahwa ia telah memberi tuduhan dusta terhadap saudaranya, (19) maka kamu harus memperlakukannya sebagaimana ia bermaksud memperlakukan saudaranya. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. (20) Maka orang-orang lain akan mendengar dan menjadi takut, sehingga mereka tidak akan melakukan lagi perbuatan jahat seperti itu di tengah-tengahmu. (21) Janganlah engkau merasa sayang kepadanya, sebab berlaku: nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki.’”.

d)   Latar belakang munculnya hukum ini, dan pelaksanaannya.

Barclay: “Jesus begins by citing the oldest law in the world – an eye for an eye, and a tooth for a tooth. That law is known as the Lex Talionis, … These laws are often quoted as amongst the blood thirsty, savage and merciless laws of the Old Testament; but before we begin to criticise certain things must be noted. (i) The Lex Talionis, … so far from being a savage and bloodthirsty law, is in fact the beginning of mercy. Its original aim was definitely the limitation of vengeance. In the very earliest days the vendetta and the blood feud were characteristic of tribal society. If a man of one tribe injured a man of another tribe, then at once all the members of the tribe of the injured man were out to take vengeance on all the members of the tribe of the man who committed the injury; and the vengeance desired was nothing less than death. This law deliberately limits vengeance. It lays it down that only the man who committed the injury must be punished, and his punishment must be no more than the equivalent of the injury he has inflicted and the damage he has done. Seen against its historical setting this is not a savage law, but a law of mercy. (ii) Further, this was never a law which gave a private individual the right to extract vengeance; it was always a law which laid down how a judge in the law court must assess punishment and penalty (cp. Deuteronomy 19:18). … (iii) Still Further, this law was never, at least in any even semi-civilized society, carried out literally. The Jewish jurists argued rightly that to carry it out literally might in fact be the reverse of justice, because it obviously might involve the displacement of a good eye or a good tooth for a bad eye or a bad tooth. And very soon the injury does was assessed at a money value; and the Jewish law in the tractate Baba Kamma carefully lays down how the damage is to be assessed. If a man has injured another, he is liable on five counts – for injury, for pain, for healing, for loss of time, for indignity suffered. In regard to injury, the injured man is looked on as a slave to be sold in a market place. His value before and after the injury was assessed, and the man responsible for the injury had to pay the difference. He was responsible for the loss in value of the man injured. In regard to pain, it was estimated how much money a man would accept to be willing to undergo the pain of the injury inflicted, and the man responsible for the injury had to pay that sum. In regard to healing, the injurer had to pay all the expenses of the necessary medical attention, until a complete cure had been effected. In regard to loss of time, the injurer had to pay compensation for the wages lost while the injured man was unable to work, and he had also to pay compensation if the injured man had held a well paid position, and was now, in consequence of the injury, fit for less well rewarded work. In regard to indignity, the injurer had to pay damages for the humiliation and indignity which the injury had inflicted. … (iv) And most important of all, it must be remembered that the Lex Talionis is by no means the whole Old Testament ethics. There are glimpses and even splendours of mercy in the Old Testament” [= Yesus mulai dengan mengutip hukum tertua di dunia – mata ganti mata, dan gigi ganti gigi. Hukum itu dikenal sebagai Lex Talionis, … Hukum-hukum ini sering dikutip sebagai hukum-hukum yang haus darah, kejam / ganas dan tidak berbelas kasihan dari Perjanjian Lama; tetapi sebelum kita mulai mengkritik, ada hal-hal tertentu yang harus diperhatikan. (i) Lex Talionis, … sama sekali bukan merupakan hukum yang kejam / ganas dan haus darah, tetapi dalam faktanya justru merupakan permulaan dari belas kasihan. Tujuan orisinilnya jelas adalah untuk membatasi balas dendam. Pada jaman kuno / dahulu, dendam keluarga dan permusuhan yang turun temurun merupakan ciri dari masyarakat suku. Jika seseorang dari satu suku dilukai oleh seseorang dari suku yang lain, maka segera semua anggota dari suku yang dilukai keluar untuk membalas dendam kepada semua anggota dari suku dari orang yang melakukan hal itu; dan balas dendam yang diinginkan tidak kurang dari kematian. Hukum ini secara sengaja membatasi balas dendam. Hukum ini menetapkan bahwa hanya orang yang melakukan hal itu yang harus dihukum, dan hukumannya tidak boleh lebih dari luka yang telah ia lakukan dan kerusakan yang telah ia perbuat. Dilihat dari keadaan sejarahnya, maka hukum ini bukanlah hukum yang kejam / ganas, tetapi hukum belas kasihan. (ii) Selanjutnya, ini tidak pernah merupakan hukum yang memberi hak individual / pribadi untuk memaksakan balas dendam; tetapi hukum ini selalu merupakan hukum yang menetapkan bagaimana seorang hakim dalam pengadilan harus memperkirakan / membebankan hukuman (bdk. Ul 19:18). … (iii) Lebih jauh lagi, setidaknya dalam masyarakat yang cukup beradab, hukum ini tidak pernah dilaksanakan secara hurufiah. Juri-juri / hakim-hakim Yahudi secara benar berargumentasi bahwa melaksanakan hukum ini secara hurufiah dalam faktanya bisa membalikkan keadilan, karena itu jelas bisa melibatkan penggantian mata yang baik atau gigi yang baik untuk mata yang buruk dan gigi yang buruk. Karena itu luka yang dilakukan lalu ditaksir dengan uang; dan hukum Yahudi dalam traktat Baba Kamma secara teliti menetapkan bagaimana caranya kerusakan itu harus ditaksir. Jika seseorang melukai orang lain, ia dapat dikenakan lima hitungan, yaitu untuk luka, untuk rasa sakit, untuk penyembuhan / pengobatan, untuk waktu yang hilang / terbuang, dan untuk penghinaan yang diderita. Berkenaan dengan luka, orang yang terluka dipandang sebagai budak yang akan dijual di pasar. Harganya sebelum dan sesudah luka itu terjadi, ditaksir, dan orang yang bertanggung jawab untuk luka itu harus membayar perbedaan harga tersebut. Ia bertanggung jawab untuk kerugian harga dari orang yang dilukai. Berkenaan dengan rasa sakit, ditaksir berapa uang yang mau diterima oleh seseorang untuk mengalami rasa sakit dari luka tersebut, dan orang yang bertanggung jawab untuk luka itu harus membayar jumlah itu. Berkenaan dengan penyembuhan / pengobatan, orang yang melukai harus membayar semua pengeluaran untuk pengobatan yang dibutuhkan, sampai kesembuhan yang sempurna telah terjadi. Berkenaan dengan kehilangan / kerugian waktu, orang yang melukai harus membayar kompensasi untuk upah yang hilang sementara orang yang terluka tidak bisa bekerja, dan ia juga harus membayar kompensasi jika orang yang terluka itu tadinya mempunyai kedudukan yang baik, dan sekarang, karena luka itu, hanya cocok untuk pekerjaan yang lebih buruk / rendah. Berkenaan dengan penghinaan, orang yang melukai harus membayar kerusakan untuk perendahan dan penghinaan yang diberikan oleh luka tersebut. … (iv) Dan yang terpenting dari semua, harus diingat bahwa Lex Talionis sama sekali  bukan merupakan seluruh etika Perjanjian Lama. Ada kilasan-kilasan dan bahkan kemegahan-kemegahan dari belas kasihan dalam Perjanjian Lama]- hal 163.

Barclay lalu menyebutkan beberapa ayat yaitu:

  • Im 19:18 – “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN”.
  • Amsal 25:21 – “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air”.
  • Amsal 24:29 – “Janganlah berkata: ‘Sebagaimana ia memperlakukan aku, demikian kuperlakukan dia. Aku membalas orang menurut perbuatannya.’”.
  • Ratapan 3:30 – “Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan”.

3)   Ajaran Yesus dalam persoalan pribadi.

Dalam persoalan pengadilan Yesus tidak mengubah Perjanjian Lama. Jadi prinsip ‘mata ganti mata dan gigi ganti gigi’, yang artinya pengadilan harus menjatuhkan hukuman yang adil sesuai dengan kesalahan orang yang diadili, tetap berlaku. Tetapi dalam persoalan pribadi, Yesus memberikan ajaran dalam Mat 5:39-dst.

Barclay: “Few passages of the New Testament have more of the essence of the Christian ethic in them than this one. Here is the characteristic ethic of the Christian life, and the conduct which should distinguish the Christian from other men” (= Sedikit text-text dari Perjanjian Baru yang mempunyai lebih banyak hakekat dari etika Kristen di dalamnya dari pada yang satu ini. Di sinilah ciri etika dari kehidupan Kristen, dan tingkah laku yang seharusnya membedakan orang Kristen dari orang-orang lain) – hal 163.

Sekarang mari kita membahas ay 39-42 satu per satu:

a)   Ay 39: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu”.

1.   ‘Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu’.

John Stott: “we cannot take Jesus’ command, ‘Resist not evil,’ as an absolute prohibition of the use of all force (including the police) unless we are prepared to say that the Bible contradicts itself and the apostles misunderstood Jesus. For the New Testament teaches that the state is a divine institution, commissioned (through its executive office-bearers) both to punish the wrongdoer (i.e., to ‘resist one who is evil’ to the point of making him bear the penalty of his evil) and to reward those who do good” [= kita tidak bisa menerima perintah Yesus ‘janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu’ sebagai suatu larangan mutlak untuk menggunakan semua kekuatan (termasuk polisi) kecuali kita siap untuk mengatakan bahwa Alkitab bertentangan dengan dirinya sendiri dan rasul-rasul salah mengerti Yesus. Karena Perjanjian Baru mengajarkan bahwa pemerintah merupakan lembaga ilahi, yang ditugaskan (melalui pejabat-pejabatnya) untuk menghukum orang yang berbuat salah / jahat (yaitu, untuk ‘melawan orang yang jahat’ dengan membuat ia memikul hukuman dari kejahatannya) dan untuk memberi upah kepada mereka yang berbuat baik]‘The Message of the Sermon of the Mount’, hal 110.

Bdk. Ro 13:1-4 – “Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat”.

John Stott: “I think Luther’s distinction between ‘person’ and office’, or as we might say, between individual and institution, holds. The Christian is to be wholly free from revenge, not only in action, but in his heart as well; as an office-bearer in either state or church, however, he may find himself entrusted with authority from God to resist evil and to punish it” (= Saya kira pembedaan yang dilakukan oleh Luther antara ‘pribadi’ dan ‘jabatan’, atau seperti bisa kami katakan antara individu dan lembaga, berlaku. Orang kristen harus sepenuhnya bebas dari balas dendam, bukan hanya dalam tindakan, tetapi juga dalam hatinya; tetapi sebagai seorang pejabat negara atau gereja, ia mendapati bahwa dirinya dipercayai dengan otoritas dari Allah untuk melawan kejahatan dan menghukumnya)‘The Message of the Sermon of the Mount’, hal 113.

2.   Tamparan merupakan suatu serangan yang tidak membahayakan jiwa.

Perlu diingat bahwa ‘menampar’ merupakan serangan yang tidak membahayakan jiwa. Pada waktu mendapatkan serangan yang tidak membahayakan jiwa, kita tidak boleh membalas. Tetapi, kalau serangan itu membahayakan jiwa, orang kristen boleh membela diri, karena kita juga harus mengasihi diri kita sendiri (Mat 22:39), sehingga kita tidak boleh membiarkan begitu saja diri kita sendiri dibunuh orang. Bdk. Ester 9  Neh 4.

Barnes’ Notes: “The general principle which he laid down was, that we are not to resist evil; … But even this general direction is not to be pressed too strictly. Christ did not intend to teach that we are to see our families murdered, or to be murdered ourselves, rather than to make resistance. The law of nature, and all laws, human and Divine, have justified self-defence, when life is in danger” (= Prinsip umum yang Ia tetapkan adalah bahwa kita tidak boleh melawan kejahatan; Tetapi bahkan pengarahan umum ini tidak boleh ditekankan secara terlalu ketat. Kristus tidak bermaksud untuk mengajar bahwa kita harus membiarkan keluarga kita atau diri kita dibunuh, dan bukannya melakukan perlawanan. Hukum alam, dan semua hukum, baik hukum manusia maupun hukum ilahi, membenar-kan pembelaan diri, pada waktu jiwa ada dalam bahaya) – hal 26.

Barnes’ Notes: “Had he intended to refer it to a case where life in danger, he would most surely have mentioned it. … Instead of doing this, however, he confines himself to smaller matters, to things of comparatively trivial interest, and says, that in these we had better take wrong than to enter into strife and lawsuits. The first case is, where we are smitten on the cheek” (= Seandainya ia bermaksud untuk menunjuk pada suatu kasus dimana jiwa ada dalam bahaya, Ia pasti telah menyebutkannya. … Sebaliknya dari melakukan hal ini, Ia membatasi diriNya pada hal-hal kecil, pada hal-hal yang relatif remeh, dan berkata bahwa dalam hal-hal ini kita lebih baik menerima hal yang salah dari pada masuk ke dalam pertengkaran dan pengadilan. Kasus pertama adalah pada waktu kita ditampar pada pipi) – hal 26.

3.   Tamparan pada pipi kanan, sekalipun tidak membahayakan jiwa, tetapi merupakan suatu penghinaan yang besar.

Orang yang tidak kidal, untuk memukul / menampar pipi kanan lawannya menggunakan tangan kanannya, harus memukul dengan punggung tangan, dan menurut Barclay ini merupakan penghinaan dobel dibandingkan dengan tamparan menggunakan telapak tangan.

Barclay: “Now according to Jewish Rabbinic law to hit a man with the back of the hand was twice as insulting as to hit him with the flat of the hand” (= Menurut hukum rabi Yahudi, memukul seseorang dengan punggung tangan merupakan penghinaan dobel dibandingkan dengan memukul dengan telapak tangan) – hal 166.

4.   Kata-kata ‘berilah juga kepadanya pipi kirimu’ tidak boleh diartikan secara hurufiah.

Barnes’ Notes: “The first case is, where we are smitten on the cheek. Rather than contend and fight, we should take it patiently, and turn the other cheek. This does not, however, prevent our remonstrating firmly, yet mildly, on the injustice of the thing, and insisting that justice should be done to us, as is evident from the example of the Saviour himself. See John 18:32” (= Kasus pertama adalah pada waktu kita ditampar pada pipi. Dari pada menantang dan berkelahi, kita harus menerimanya dengan sabar, dan memberikan pipi satunya. Tetapi ini tidak menghalangi kita untuk memprotes dengan tegas, tetapi lembut, ketidak-adilan dari hal itu, dan berkeras bahwa keadilan harus dilakukan kepada kita, seperti jelas dari teladan sang Juruselamat sendiri. Lihat Yoh 18:23) – hal 26.

A. T. Robertson: “Sticklers for extreme literalism find trouble with the conduct of Jesus in John 18:22f. where Jesus, on receiving a slap in the face, protested against it” (= Orang-orang yang berpegang teguh pada penghurufiahan yang extrim akan mendapatkan problem dengan tingkah laku Yesus dalam Yoh 18:22-dst dimana Yesus, pada waktu menerima tamparan di wajahNya, memprotes hal itu) – hal 90.

Yoh 18:22-23 – “Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar mukaNya sambil berkata: ‘Begitukah jawabMu kepada Imam Besar?’. Jawab Yesus kepadanya: ‘Jikalau kataKu itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kataKu itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?’”.

Calvin beranggapan bahwa penafsiran hurufiah justru merupakan sesuatu yang mendorong kejahatan dari si pemukul.

Calvin: “Unquestionably, Christ did not intend to exhort his people to whet the malice of those, whose propensity to injure others is sufficiently strong: and if they were to turn to them the other cheek, what would it be but holding out such an encouragement?” (= Tidak diragukan, Kristus tidak bermaksud untuk mendesak umatNya untuk merangsang kejahatan dari mereka, yang mempunyai kecenderungan kuat untuk melukai orang lain: dan jika mereka harus memberikan pipi satunya, apakah itu selain memberikan dorongan seperti itu?) – hal 299.

Calvin berpendapat bahwa sekalipun kita tidak boleh membalas, tetapi kita boleh menghindar.

Calvin: “There are two ways of resisting: the one, by warding off injuries through inoffensive conduct; the other, by retaliation. Though Christ does not permit his people to repel violence by violence, yet he does not forbid them to endeavour to avoid an unjust attack” (= Ada 2 jalan untuk menahan / melawan: yang satu dengan menghindari luka melalui tindakan bertahan; yang lain dengan membalas. Sekalipun Kristus tidak mengijinkan umatNya untuk melawan kekerasan dengan kekerasan, tetapi Ia tidak melarang mereka untuk berusaha menghindari serangan yang tidak adil / benar) – hal 298.

Calvin: “I admit that Christ restrains our hands, as well as our minds, from revenge: but when any one has it in his power to protect himself and his property from injury, without exercising revenge, the words of Christ do not prevent him from turning aside gently and inoffensively to avoid the threatened attack” (= Saya mengakui bahwa Kristus menahan tangan kita maupun pikiran kita dari balas dendam: tetapi pada saat seseorang mempunyai kuasa untuk melindungi dirinya sendiri dan miliknya dari luka / kerugian, tanpa melakukan balas dendam, kata-kata Kristus tidak menghalanginya / melarangnya untuk menghindar ke samping secara lembut dan bertahan untuk menghindari serangan yang mengancam) – hal 299.

5.   Ini mengajar kita untuk sabar dalam menghadapi tindakan yang menyakitkan.

Calvin: “Christ informs them, on the contrary, that, though judges were entrusted with the defence on the community, and were invested with authority to restrain the wicked and repress their violence, yet it is the duty of every man to bear patiently the injuries which he receives” [= Sebaliknya Kristus memberi tahu mereka bahwa sekalipun hakim dipercaya untuk membela masyarakat, dan diberi otoritas untuk mengekang orang jahat dan menekan kekerasan / kekejaman mereka, tetapi merupakan kewajiban dari setiap orang untuk menanggung dengan sabar tindakan menyakitkan yang ia terima] – hal 297.

Calvin: “The amount of the whole admonition is, that believers should learn to forget the wrongs that have been done to them, – that they should not, when injured, break out into hatred or ill-will, or wish to commit an injury on their part, – but that, the more the obstinacy and rage of wicked men was excited and inflamed, they should be the more fully disposed to exercise patience” (= Arti dari seluruh nasehat ini adalah bahwa orang-orang percaya harus belajar untuk melupakan kesalahan-kesalahan yang dilakukan terhadap mereka, – bahwa pada waktu mereka dilukai mereka tidak boleh meledak dalam kebencian atau keinginan jahat, atau keinginan untuk melukai, – tetapi bahwa makin kekeras-kepalaan dan kemarahan dari orang-orang jahat bangkit dan berkobar, makin mereka harus cenderung untuk menggunakan kesabaran) – hal 298.

Penerapan:

  • Adakah orang yang berbuat jahat kepada saudara / menyakiti saudara, kepada siapa saudara sekarang sedang jengkel, dendam, siap meledak, dan ingin membalas? Yesus menghendaki saudara untuk menahan dengan sabar. Maukah saudara?
  • Mungkin ada teman sekerja / sekolah yang sentimen / benci kepada saudara, dan selalu mengejek saudara. Bagaimana sikap saudara?
  • Pada waktu di jalanan pasti sering ada orang yang memotong / menyerobot jalan saudara, atau becak / bemo yang berhenti seenaknya, atau orang menyeberang tanpa melihat dan sengaja berjalan pelan-pelan, atau orang yang menyetir dengan kecepatan rendah tetapi tidak mau minggir pada waktu diklakson, atau mobil yang lampunya ‘ngedim’ sehingga menyilaukan saudara. Ini semua pasti masih jauh lebih remeh dari pada ditampar pada pipi. Bagaimana reaksi saudara?

b)   Ay 40: “Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu”.

1.   Sekarang Kristus mempersoalkan gangguan yang lain, yaitu tentang orang yang menuntut kita melalui pengadilan.

2.   Kata ‘jubah’ menunjuk pada ‘outer garment’ (= pakaian luar); sedangkan kata ‘baju’ menunjuk pada ‘tunic / under garment’ (= pakaian dalam).

a.   Ay 40 ini berkebalikan dengan Luk 6:29, yang mengatakan bahwa barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarlah ia juga mengambil bajumu. Mungkin Yesus mengucapkan keduanya, Lukas menulis yang satu, Matius menulis yang lain. Jadi Matius dan Lukas bukannya bertentangan tetapi saling melengkapi.

b.   Ada penafsir-penafsir yang kelihatannya mengartikan bagian ini secara hurufiah.

Barnes’ Notes: “The second evil mentioned is, where a man is litigious, and determined to take all the advantage the law can give him: following us with vexatious and expensive lawsuits. Our Saviour directs us, rather than imitate him – rather than to contend with a revengeful spirit in courts of justice, and to perpetual broils – to take trifling injury, and yield to him. This is merely question about property, and not about conscience and life” (= Kejahatan yang kedua yang disebutkan adalah, dimana seseorang suka bertengkar / berperkara, dan memutuskan untuk mengambil semua keuntungan yang bisa diberikan oleh hukum kepadanya: mengikuti kita dengan perkara hukum / pengadilan yang menjengkelkan dan mahal. Juruselamat kita mengarahkan kita, dari pada meniru dia – dari pada melawan dengan roh balas dendam dalam pengadilan, dan kemarahan yang terus menerus – untuk menerima kerugian yang remeh, dan menyerah kepadanya. Ini hanya persoalan tentang harta milik, dan bukan tentang hati nurani dan nyawa) – hal 26.

Catatan: ia mengatakan ‘kerugian yang remeh’. Bagaimana kalau kerugiannya bukan sesuatu yang remeh, tetapi sangat besar?

William Barclay: “So, then, what Jesus is saying is this: ‘The Christian never stands upon his rights; he never disputes about his legal rights; he does not consider himself to have any legal right at all.’ There are people who are for ever standing on their rights, who clutch their privileges to them and who will not be pried loose from them, who will militantly go to law rather than suffer what they regard as the slightest infringement of them. Churches are tragically full of people like that, … People like that have not even begun to see what Christianity is. The Christian thinks not of his rights, but of his duties; not of his privileges, but of his responsibilities. The Christian is a man who has forgotten that he has any right at all; and the man who will fight to the legal death for his right, inside or outside the Church, is far from the Christian way” (= Jadi, yang dikatakan Yesus adalah ini: ‘Orang Kristen tidak pernah berpegang pada hak-haknya; ia tidak pernah bertengkar tentang hak-hak hukumnya; ia menganggap dirinya tidak mempunyai hak hukum apapun sama sekali’. Ada orang-orang yang selalu berpegang pada hak-hak mereka, yang menggenggam hak-hak mereka, dan yang tidak mau melepaskannya, yang mau secara agresif pergi kepada hukum dari pada menderita / mengalami apa yang mereka anggap sebagai pelanggaran yang paling kecil terhadap hak-hak mereka. Gereja-gereja secara tragis penuh dengan orang-orang seperti itu, … Orang-orang seperti itu bahkan belum pernah mulai melihat apa kekristenan itu. Orang Kristen tidak berpikir tentang haknya, tetapi tentang kewajibannya; bukan tentang hak-haknya, tetapi tanggung jawabnya. Orang Kristen adalah orang yang telah melupakan bahwa ia mempunyai hak; dan orang yang mau bertengkar sampai mati secara hukum untuk hak-haknya, di dalam atau di luar Gereja, adalah orang yang jauh dari jalan Kristen) – hal 167.

Catatan:

  • kalau kata-kata Barclay ini dimutlakkan, saya jelas tidak setuju. Pada waktu Paulus naik banding kepada kaisar (Kis 25:11), atau pada waktu ia memprotes penyesahan terhadap dirinya sebagai seorang warga negara Romawi (Kis 22:25), atau pada waktu ia secara implicit menuntut orang yang mencambukinya meminta maaf kepadanya (Kis 16:35-39), jelas bahwa ia menggunakan haknya.
  • sekalipun saya tidak setuju secara mutlak kata-kata Barclay ini, tetapi saya berpendapat bahwa kata-kata ini perlu saudara renungkan, khususnya kalau saudara adalah orang yang terlalu mempertahankan hak saudara, sehingga rela bertengkar hanya karena hak saudara yang remeh dilanggar.

c.   Saya sendiri berpendapat, bahwa sama seperti dengan ay 39 (ditampar pipi kanan, berikan pipi kiri), ay 40 ini juga tidak boleh diartikan secara hurufiah, tetapi harus diartikan hanya bahwa kita tidak boleh membalas perlakuan jahat kepada kita. Jadi, kalau seseorang menuntut mobil saudara, dan saudara bukan hanya memberikan mobil itu kepadanya, tetapi juga lalu pulang dan mengambil sertifikat rumah dan memberikannya kepada si penuntut itu, saudara sudah melakukan suatu kegilaan / ketololan, yang sama sekali tidak pernah dimaksudkan oleh ayat ini.

Calvin: “None but a fool will stand upon the words, so as to maintain, that we must yield to our opponents what they demand, before coming into a court of law: for such compliance would more strongly inflame the minds of wicked men to robbery and extortion; and we know, that nothing was farther from the design of Christ” (= Tidak ada orang kecuali orang tolol yang berpegang pada kata-kata, sehingga menganggap bahwa kita harus menyerahkan kepada lawan kita apa yang mereka tuntut, sebelum sampai pada pengadilan: karena pemenuhan tuntutan seperti itu akan membakar dengan lebih kuat pikiran dari orang-orang jahat kepada perampokan dan pemerasan; dan kita tahu, bahwa tidak ada yang lebih jauh dari tujuan Kristus dari hal itu) – hal 299.

Calvin: “If a man, oppressed by an unjust decision, loses what is his own, and yet is prepared, when it shall be found necessary, to part with the remainder, he deserves not less to be commended for patience, than the man who allows himself to be twice robbed before coming into court. In short, when Christians meet with one who endeavours to wrench them a part of their property, they ought to be prepared to lose the whole” [= Jika seseorang, ditindas oleh suatu keputusan yang tidak adil (dari pengadilan), dan kehilangan miliknya, tetapi ia siap, jika perlu, untuk berpisah dengan sisa miliknya, ia layak mendapat pujian untuk kesabarannya, yang tidak kurang dari pada orang yang mengijinkan dirinya sendiri untuk dirampok 2 x sebelum sampai ke pengadilan. Singkatnya, pada waktu orang-orang Kristen bertemu dengan orang yang berusaha untuk merenggut sebagian dari milik mereka, mereka harus siap untuk kehilangan seluruhnya] – hal 300.

Calvin: “Hence we conclude, that Christians are not entirely prohibited from engaging in law-suits, provided they have a just defence to offer” (= Jadi, kami menyimpulkan bahwa orang-orang Kristen tidak sepenuhnya dilarang untuk berurusan di pengadilan, asal mereka mempunyai pembelaan yang adil / benar untuk diberikan) – hal 300.

Dari ketiga komentar Calvin di atas, bisa disimpulkan bahwa Calvin tidak mau menghurufiahkan kata-kata Yesus di atas, sehingga seakan-akan berarti bahwa kita harus menyerahkan apapun yang dituntut oleh lawan kita sebelum sampai ke pengadilan. Menurutnya, sikap seperti itu hanya akan memicu kejahatan yang lebih kuat dalam diri orang-orang jahat itu. Jadi, kita boleh maju ke pengadilan, tetapi kalau toh secara tidak adil kita dikalahkan, sehingga kita kehilangan sebagian milik kita, kita bahkan harus mempunyai sikap rela kehilangan semua milik kita, kalau hal itu memang perlu.

Pulpit Commentary: “To insist upon the literal meaning of these words would be to apply the method of the Pharisees to the interpretation of the New Testament; a literal obedience under all circumstances would destroy the very framework of society, and let loose all that is evil in human nature. But the Lord is laying down general principles. Cases will often arise in which the application of those principles must be modified by other rules of Holy Scripture. … a literal obedience is not always possible; it would not be always right; it would sometimes do harm rather than good. The Lord himself, the gentlest and the meekest, expostulated with those who struck him wrongfully (John 18:23). Neither when he bids us, ‘Give to him that asketh thee,’ are his words to be taken literally, as commanding indiscriminate almsgiving. … St. Paul would not have us give to the idle (2Thess. 3:10). We must understand our Lord’s words as interpreted by his own example and by other parts of Holy Scripture. We must forgive injuries, we must not resist evil, we must give freely; but in all these things we must be guided by the wisdom which is from above” [= Berkeras pada arti hurufiah dari kata-kata ini adalah sama dengan menerapkan metode dari orang-orang Farisi pada penafsiran dari Perjanjian Baru; suatu ketaatan hurufiah dalam segala keadaan akan menghancurkan kerangka dari masyarakat, dan melepaskan semua yang jahat dalam diri manusia. Tetapi Tuhan sedang menetapkan prinsip-prinsip umum. Sering akan muncul kasus-kasus dalam mana penerapan dari prinsip-prinsip itu harus dimodifikasi oleh peraturan-peraturan lain dari Kitab Suci yang kudus. … suatu ketaatan hurufiah tidak selalu memungkinkan; itu tidak selalu benar; itu kadang-kadang mengakibatkan kerugian / keburukan / kejahatan dari pada kebaikan. Tuhan sendiri, orang yang paling lembut, memprotes mereka yang memukulNya secara salah (Yoh 18:23). Juga pada waktu Ia memerintah kita ‘Berilah kepada orang yang meminta kepadamu’, kata-kataNya tidak boleh diartikan secara hurufiah, seakan-akan kita diperintahkan untuk memberi sedekah tanpa membeda-bedakan / tanpa pandang bulu. … Santo Paulus tidak menghendaki kita memberi kepada orang yang malas / menganggur (2Tes 3:10). Kita harus mengerti kata-kata Tuhan kita seperti yang ditafsirkan oleh teladanNya sendiri dan oleh bagian-bagian lain dari Kitab Suci yang kudus. Kita harus mengampuni suatu luka / kerugian, kita tidak boleh melawan kejahatan, kita harus memberi dengan bebas; tetapi dalam semua hal-hal ini kita harus dipimpin oleh hikmat yang dari atas] – hal 177-178.

William Hendriksen: “In summary: we have no right to hate the person who tries to deprive us of our possessions” (= Singkatnya: kita tidak mempunyai hak untuk membenci orang yang mencoba untuk mengambil milik kita) – hal 310.

c)   Ay 41: “Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil”.

William Hendriksen: “The first verb in ‘Whoever forces you to go on one mile …’ refers to the authority to requisition, to press into service. … the verb gradually acquired the more general meaning of compelling someone to render any kind of service. It is used in connection with Simon of Cyrene who was compelled to carry Christ’s cross (Matt. 27:32; Mark 15:21). Now what Jesus is saying is that rather than to reveal a spirit of bitterness or annoyance toward the one who forces a burden upon a person, the latter should take this position with a smile. Did someone ask you to go with him, carrying his load for the distance of one mile? Then go with him two miles!” [= Kata kerja yang pertama dalam ‘Siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil …’ menunjuk pada otoritas pada tuntutan untuk bekerja, menekan kepada pelayanan. … kata kerjanya secara perlahan-lahan mendapatkan arti yang lebih umum yaitu memaksa seseorang untuk melakukan pelayanan jenis apapun. … Kata itu digunakan dalam hubungan dengan Simon dari Kirene yang dipaksa untuk memikul salib Kristus (Mat 27:32; Mark 15:21). Apa yang dikatakan oleh Yesus adalah bahwa dari pada menyatakan suatu roh / semangat kepahitan atau kejengkelan terhadap orang yang memaksakan suatu beban pada seseorang, maka orang yang terakhir ini harus mengambil posisi ini dengan suatu senyuman. Apakah seseorang memintamu untuk pergi dengan dia, membawa bebannya untuk jarak satu mil? Maka pergilah dengan dia sejauh 2 mil!] – hal 311.

William Barclay: “There are always two ways of doing things. A man can do the irreducible minimum and not a stroke more; he can do it in such a way as to make it clear that he hates the whole thing; he can do it with the barest minimum of efficiency and no more; or he can do it with a smile, with a gracious courtesy, with a determination, not only to do this thing, but to do it well and graciously. He can do it, not simply as well as he has to, but far better than anyone has any right to expect him to. The inefficient workman, the resentful servant, the ungracious helper have not even begun to have the right idea of the Christian life. The Christian life is not concerned to do as he likes; he is concerned only to help, even when the demand for help is discourteous, unreasonable and tyrannical” (= Selalu ada 2 cara untuk melakukan hal-hal. Seseorang bisa melakukan hal yang paling minim yang tidak bisa dikurangi lagi, dan tidak lebih sedikitpun; ia bisa melakukannya sedemikian rupa sehingga jelas terlihat bahwa ia membenci seluruh hal itu; ia bisa melakukannya dengan kemampuan / kwalitet yang paling minim, dan tidak lebih dari itu; atau ia bisa melakukannya dengan suatu senyuman, dengan persetujuan yang murah hati, dengan suatu ketetapan hati, bukan hanya melakukan hal ini, tetapi melakukannya dengan baik dan dengan murah hati. Ia bisa melakukannya, bukan sekedar sebaik yang harus ia lakukan, tetapi jauh lebih baik dari pada yang diharapkan oleh siapapun darinya. Pekerja yang tidak efisien, pelayan yang jengkel, penolong yang tidak murah hati bahkan belum mulai mendapatkan gagasan yang benar tentang kehidupan Kristen. Kehidupan Kristen tidak berkenaan dengan melakukan seperti yang ia senangi; ia hanya memperhatikan untuk menolong, bahkan pada waktu tuntutan untuk pertolongan itu merupakan sesuatu yang kurang ajar / tidak sopan, tidak masuk akal dan bersifat lalim / kejam) – hal 169.

Catatan: kata-kata Barclay di sini bisa diterapkan pada pelayanan maupun pemberian persembahan!

d)   Ay 42: “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu”.

1.   ‘Berilah kepada orang yang meminta kepadamu’.

a.   Yang membingungkan dari bagian ini adalah: apakah si peminta ini seorang musuh yang meminta secara paksa / setengah memaksa, atau ia adalah peminta biasa?

  • Kontexnya menunjukkan bahwa peminta ini adalah musuh, dalam arti ia adalah orang yang meminta secara paksa / setengah memaksa.

Kalau ini memang adalah musuh, maka artinya adalah: dari pada gegeran / berkelahi untuk mempertahankan hak, lebih baik memberikan apa yang ia minta.

  • Kebanyakan penafsir mengartikan orang ini sebagai peminta biasa.

Kalau kita menerima penafsiran yang kedua ini, maka kita harus mempertimbangkan hal-hal di bawah ini:

*        Sekalipun ay 42 ini kelihatannya berlaku mutlak, tetapi tidak boleh diartikan secara mutlak. Mengapa? Karena Kitab Suci mengajar bahwa hanya orang yang miskin dan yang berhak ditolong, yang perlu diberi.

Ul 15:7-8 – “Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan”.

Amsal 3:27-28 – “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: ‘Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,’ sedangkan yang diminta ada padamu”.

Kalau kita menafsirkan ay 42 ini secara mutlak, dalam arti kita harus memberi kepada seadanya orang yang meminta kepada kita, maka kita akan bertentangan dengan Ul 15:7-8 dan Amsal 3:27-28 ini.

*        Sekalipun memberi itu merupakan kebiasaan yang baik, tetapi ada hal-hal lain yang harus dipertimbangkan.

Calvin: “Though the words of Christ, which are related by Matthew, appear to command us to give to all without discrimination, … it is certain, that it was the design of Christ to make his disciples generous, but not prodigals: and it would be a foolish prodigality to scatter at random what the Lord has given us. … Let us therefore hold, first, that Christ exhorts his disciples to be liberal and generous; and next, that the way of doing it is, not to think that they have discharged their duty when they have aided a few persons, but to study to be kind to all, and not to be weary of giving, so long as they have the means” (= Sekalipun kata-kata Kristus, yang diceritakan oleh Matius kelihatannya memerintahkan kita untuk memberi kepada semua orang tanpa pandang bulu, … adalah jelas bahwa tujuan Kristus adalah untuk membuat murid-muridNya dermawan, tetapi tidak boros / royal: dan merupakan keroyalan yang tolol untuk menyebarkan secara sembarangan apa yang Tuhan berikan kepada kita. … Karena itu hendaknya kita pertama-tama memegang / mempercayai bahwa Kristus mendesak murid-muridNya untuk menjadi dermawan dan murah hati; dan selanjutnya, bahwa cara melakukannya adalah, bukan dengan berpikir bahwa mereka telah melaksanakan kewajiban mereka pada waktu mereka telah menolong beberapa orang, tetapi dengan belajar untuk menjadi baik kepada semua orang, dan tidak jemu-jemu dalam memberi, selama mereka mempunyai kekayaan / cara) – hal 301.

Barnes’ Notes: “It is good to be in the habit of giving. At the same time, the rule must be interpreted so as to be consistent with our duty to our families, (1Tim 5:8) and with other objects of justice and charity. It is seldom, perhaps never, good to give to a man that is able to work, 2Tes 3:10. To give to such is to encourage laziness, and to support the idle at the expense of the industrious” [= Adalah baik untuk terbiasa memberi. Pada saat yang sama, perintah ini harus ditafsirkan sedemikian rupa sehingga konsisten dengan kewajiban kita terhadap keluarga kita (1Tim 5:8), dan dengan obyek-obyek keadilan dan kasih yang lain. Jarang, mungkin tidak pernah, merupakan hal yang baik untuk memberi kepada orang yang bisa bekerja (2Tes 3:10). Memberi kepada orang seperti itu sama dengan menganjurkan kemalasan, dan menyokong orang malas dengan mengorbankan orang rajin] – hal 27.

William Barclay: “It is clear that the effect of the giving on the receiver must be taken into account. Giving must never be such as to encourage him in laziness and in shiftlessness, for such giving can only hurt” (= Adalah jelas bahwa akibat dari pemberian itu pada si penerima harus diperhitungkan. Memberi tidak pernah boleh dilakukan sehingga mendorong-nya dalam kemalasan dan dalam keseganan untuk bekerja, karena pemberian seperti itu hanya bisa merugikan) – hal 172.

Matthew Poole: “These precepts of our Saviour must be interpreted, not according to the strict sense of the words, as if every man were by them obliged, without regard to his own abilities, or the circumstances of the persons begging or asking of him, to give to every one that hath the confidence to ask of him; but as obliging us to liberality and charity according to our abilities, and the true needs and circumstances of our poor brethren, and in that order which God’s word hath directed us; first providing for our own families, then doing good to the household of faith, then also to others, as we are able, and see any of them true objects of our charity” (= Perintah-perintah Juruselamat kita ini harus ditafsirkan, bukan menurut arti kata yang ketat, seakan-akan setiap orang diwajibkan oleh perintah-perintah ini untuk memberi kepada setiap orang yang mempunyai keberanian untuk meminta kepadanya, tanpa memandang kemampuannya sendiri, atau keadaan dari orang yang mengemis atau meminta kepadanya; tetapi mewajibkan kita kepada kedermawanan dan kasih sesuai dengan kemampuan kita, dan kebutuhan yang sungguh-sungguh dan keadaan dari saudara-saudara kita yang miskin, dan dalam urut-urutan sesuai dengan pengarahan Firman Allah; pertama-tama pemeliharaan terhadap keluarga kita sendiri, lalu berbuat baik kepada saudara-saudara seiman, lalu juga kepada orang-orang lain, sesuai dengan kemampuan kita, dan memastikan setiap dari mereka sebagai obyek yang benar dari kasih kita) – hal 213.

Pulpit Commentary: “beneficence must be with discretion (Ps. 112:5), else the idle and worthless may carry away what should have been reseved for the worthy” [= kemurahan hati harus dilakukan dengan kebijaksanaan (Maz 112:5), atau orang-orang yang malas dan tidak layak akan mengangkut apa yang seharusnya disediakan untuk orang yang layak mendapatkannya] – hal 220.

Maz 112:5 – “Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya”.

KJV: ‘with discretion’ (= dengan kebijaksanaan).

RSV/NIV: ‘with justice’ (= dengan keadilan).

NASB: in judgment (= dalam penghakiman / penilaian).

Leon Morris (Tyndale): “it is the spirit of the saying that is important. If Christians took this one absolutely literally there would soon be a class of saintly paupers, owning nothing, and another of prosperous idlers and thieves. It is not this that Jesus is seeking, but a readiness among His followers to give and give and give. The Christian should never refrain from giving out of a love for his possessions. Love must be ready to be deprived of everything if need be. Of course, in a given case it may not be the way of love to give. But it is love that must decide whether we give or withhold, not a regard for our possessions” (= arti dari kata-kata inilah yang penting. Jika orang kristen menerima / menuruti perintah ini dalam arti hurufiah sepenuhnya, maka segera akan ada segolongan orang kudus yang miskin, yang tidak mempunyai apa-apa, dan golongan lain yang makmur yang terdiri dari orang-orang malas dan pencuri-pencuri. Bukan ini yang dicari oleh Yesus, tetapi suatu kesediaan di antara para pengikutNya untuk memberi dan memberi dan memberi. Orang kristen seharusnya tidak pernah menahan diri dari memberi karena cinta kepada miliknya. Kasih harus siap untuk kehilangan segala sesuatu jika itu diperlukan. Tentu saja, dalam kasus tertentu, memberi bukanlah merupakan jalan kasih. Tetapi adalah kasih, dan bukannya perhatian / penilaian terhadap milik kita, yang harus menentukan apakah kita memberi atau menahan) – hal 130.

Jadi ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan dalam memberi, yaitu:

Þ      kita tidak boleh memberi secara royal dan sembarangan / ngawur.

Þ      kewajiban untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Kalau kita terus memberi kepada seadanya orang yang meminta sehingga keluarga kita sendiri tidak tercukupi, maka ini salah. Bdk. 1Tim 5:8 – “Tetapi jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman”.

Þ      adanya orang-orang lain yang juga harus diberi / berhak untuk diberi. Kalau kita terus memberi kepada seseorang yang tidak tahu diri dalam meminta dan yang sebetulnya tidak layak untuk diberi, maka akhirnya kita tidak bisa memberi kepada orang lain yang sebetulnya lebih berhak. Ini jelas salah.

Þ      kasih kepada manusia, dan bukannya kasih kepada milik / uang kita, yang menentukan apakah harus memberi atau tidak. Kalau pemberian itu menjadikannya makin malas maka ini justru tidak kasih.

*        dalam dunia hukum dikenal suatu semboyan: lebih baik membebaskan 1000 orang yang bersalah dari pada menghukum satu orang yang tidak bersalah. Kedua penafsir di bawah ini kelihatannya menerapkan hal itu dalam persoalan memberi.

William Barclay: “it must also be remembered that it is better to help a score of fraudulent beggars than to risk turning away the one man in real need” (= juga harus diingat bahwa adalah lebih baik untuk menolong 20 pengemis yang curang dari pada beresiko menolak satu orang yang betul-betul dalam kebutuhan) – hal 172.

Barnes’ Notes: “This is the general rule. It is better to give sometimes to an undeserved person, than to turn away one really necessitous” (= Ini adalah peraturan umum. Adalah lebih baik untuk kadang-kadang memberi kepada orang yang tidak layak mendapatkan, dari pada menolak orang yang betul-betul membutuhkan) – hal 27.

b.   Bdk. Luk 6:30 – “Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu”.

Calvin: “we must remember what I have already hinted, that we ought not to quibble about words, as if a good man were not permitted to recover what is his own, when God gives him the lawful means. We are only enjoined to exercise patience, that we may not be unduly distressed by the loss of our property, but calmly wait, till the Lord himself shall call the robbers to account” (= kita harus mengingat apa yang baru saya tunjukkan, bahwa kita tidak boleh bertengkar tentang kata-kata, seakan-akan seorang yang baik / saleh tidak diijinkan untuk mendapatkan kembali miliknya, pada saat Allah memberinya cara / jalan yang sah menurut hukum. Kita hanya diperintahkan untuk bersabar, supaya kita tidak menjadi terlalu sedih oleh kehilangan milik kita, tetapi dengan tenang menunggu, sampai Tuhan sendiri memintai pertanggung-jawaban dari para perampok itu) – hal 301.

Matthew Poole: “Nor must the second part of the verse be interpreted, as if it were a restraint of Christians from pursuing of thieves or oppressors, but as a precept prohibiting us private revenge, or too great contending for little things, &c.” [= Juga bagian kedua dari ayat ini (Luk 6:30) tidak boleh diartikan seakan-akan itu merupakan pengekangan terhadap orang-orang kristen untuk tidak melakukan pengejaran / penangkapan terhadap pencuri atau penindas, tetapi sebagai larangan yang melarang kita untuk melakukan balas dendam pribadi, atau untuk bercekcok untuk hal-hal kecil, dsb.] – hal 213.

Pulpit Commentary: “This verse has been often adduced by unbelievers to prove the incompatibility of our Lord’s utterances with the conditions of modern society. Wrongly. Because our Lord is inculcating the proper spirit of Christian life, not giving rules to be literally carried out irrespective of circumstances” (= Ayat ini sering dikemukakan oleh orang-orang yang tidak percaya untuk membuktikan ketidak-cocokan dari ucapan-ucapan Tuhan kita dengan keadaan dari masyarakat modern. Salah. Karena Tuhan kita sedang menanamkan roh / semangat yang benar dari kehidupan Kristen, bukan memberikan peraturan-peraturan untuk dilaksanakan secara hurufiah tak peduli bagaimana / apa keadaannya) – hal 167.

2.   ‘dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu’.

Sama seperti potongan sebelumnya, maka bagian inipun pasti tidak bisa diartikan secara mutlak.

Kesimpulan / penutup.

John Stott: “Christ’s illustrations are not to be taken as the charter for any unscrupulous tyrant, ruffian, beggar, or thug. His purpose was to forbid revenge, not to encourage injustice, dishonesty or vice. How can those who seek as their first priority the extension of God’s righteous rule at the same time contribute to the spread of unrighteousness? True love, caring for both the individual and society, takes action to deter evil and to promote good. And Christ’s command was  ‘precept of love, not folly’. He teaches not the irresponsibility which encourages evil but the forbearance which renounces revenge” (= Illustrasi Kristus tidak boleh dianggap sebagai hak / ijin untuk tiran yang jahat / tidak bermoral, bajingan, pengemis, atau penjahat yang kejam. TujuanNya adalah untuk melarang balas dendam, bukan untuk mendorong ketidak-adilan, ketidak-jujuran atau kejahatan. Bagaimana mereka yang mencari perluasan dari pemerintahan yang benar dari Allah sebagai prioritas pertama, bisa pada saat yang sama memberikan sumbangsih pada tersebarnya ketidak-benaran? Kasih yang benar, yang memperhatikan / mempedulikan individu maupun masyarakat, melakukan tindakan untuk menghalangi kejahatan dan memajukan kebaikan. Dan perintah Kristus merupakan ‘ajaran / perintah kasih, bukan ajaran / perintah tolol’. Ia bukan mengajarkan sikap tidak bertanggung jawab yang mendorong kejahatan tetapi kesabaran yang membuang balas dendam)‘The Message of the Sermon of the Mount’, hal 108.

Matius 5:43-48

Ay 43-44: “(43) Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. (44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”.

1)   Terjemahan KJV yang berbeda.

Ay 43-44 (KJV): Ye have heard that it hath been said, Thou shalt love thy neighbour, and hate thine enemy. But I say unto you, Love your enemies, bless them that curse you, do good to them that hate you, and pray for them which despitefully use you, and persecute you’ (= Kamu telah mendengar bahwa dikatakan: Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu, berkatilah mereka yang mengutuk kamu, berbuatlah baik kepada mereka yang membenci kamu, dan berdoalah untuk mereka yang dengan jahat menggunakan kamu, dan menganiaya kamu).

Catatan: tambahan ini (bagian yang saya garis-bawahi) berasal dari manuscripts yang berbeda, dan pada umumnya tidak dianggap sebagai bagian asli dari Kitab Suci oleh para penafsir.

2)   Kesalahan terjemahan Kitab Suci Indonesia.

Ay 43-44: “(43) Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. (44) Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”.

KJV: Ye have heard that it hath been said’ (= Kamu telah mendengar bahwa dikatakan).

Seperti bagian yang sudah-sudah, kata ‘firman’ lagi-lagi merupakan terjemahan yang salah, dan terjemahan yang salah ini menyebabkan seakan-akan Yesus menentang hukum Taurat / Perjanjian Lama. Padahal Yesus bukannya menentang hukum Taurat / Perjanjian Lama, tetapi menentang ajaran dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tentang hukum Taurat / Perjanjian Lama.

3)   Ajaran Perjanjian Lama dalam persoalan ini:

a)   Dalam Perjanjian Lama memang ada ajaran ‘kasihilah sesamamu manusia’.

Bagian pertama dari ay 43 ini diambil dari Im 19:18 – “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN”, tetapi kata-kata ‘seperti dirimu sendiri’ dibuang.

Ul 22:1-4 juga menunjukkan bahwa mereka harus mengasihi saudara mereka.

Ul 22:1-4 – “‘Apabila engkau melihat, bahwa lembu atau domba saudaramu tersesat, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; haruslah engkau benar-benar mengembalikannya kepada saudaramu itu. Dan apabila saudaramu itu tidak tinggal dekat denganmu dan engkau tidak mengenalnya, maka haruslah engkau membawa hewan itu ke dalam rumahmu dan haruslah itu tinggal padamu, sampai saudaramu itu datang mencarinya; engkau harus mengembalikannya kepadanya. Demikianlah harus kauperbuat dengan keledainya, demikianlah kauperbuat dengan pakaiannya, demikianlah kauperbuat dengan setiap barang yang hilang dari saudaramu dan yang kautemui; tidak boleh engkau pura-pura tidak tahu. Apabila engkau melihat keledai saudaramu atau lembunya rebah di jalan, janganlah engkau pura-pura tidak tahu; engkau harus benar-benar menolong membangunkannya bersama-sama dengan saudaramu itu.’”.

b)   Tetapi dalam Perjanjian Lama tidak pernah ada ajaran / ayat yang berbunyi: ‘bencilah musuhmu’.

Lalu dari mana mereka mendapatkan kata-kata ‘bencilah musuhmu’ ini?

D. Martyn Lloyd-Jones: “Nowhere in the Old Testament, I repeat, do we find ‘Love your neighbour and hate your enemy’; but we do find many statements that may have encouraged people to hate their enemies” (= Tidak ada dalam Perjanjian Lama, saya ulangi, kita dapatkan kata-kata ‘Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu’; tetapi kita mendapatkan banyak pernyataan yang bisa mendorong orang untuk membenci musuh-musuh mereka)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 300.

1.   Stott mengatakan (hal 115) bahwa ahli-ahli Taurat mengatakan bahwa Im 19 ditujukan kepada ‘segenap jemaah Israel’ (Im 19:2). Dan Im 19:18 – “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN”.

Ini menyebabkan mereka berkata bahwa ‘sesama mereka adalah sesama orang-orang Yahudi’ atau ‘orang-orang yang sebangsa dan seagama dengan mereka’. Mereka beranggapan bahwa hukum ini sama sekali tidak berbicara tentang orang asing atau musuh.

D. Martyn Lloyd-Jones: “They said that the ‘neighbour’ meant only an Israelite; so they taught the Jews to love the Jews, but they told them at the same time to regard everybody else not only as an alien but as an enemy. Indeed they went so far as to suggest that it was their business, almost their right and their duty, to hate all such people. … Thus there were many amongst the zealous Pharisees and scribes who thought they were honouring God by despising everybody who was not a Jew. They thought it was their business to hate their enemies” (= Mereka berkata bahwa ‘sesama manusia’ berarti hanya orang Israel; sehingga mereka mengajar orang Yahudi untuk mengasihi orang Yahudi, tetapi pada saat yang sama mereka memberitahu mereka untuk menganggap semua orang yang lain bukan hanya sebagai orang asing tetapi sebagai musuh. Bahkan mereka berjalan begitu jauh sehingga mengusulkan bahwa hal itu adalah urusan mereka, dan hampir merupakan hak dan kewajiban mereka, untuk membenci orang-orang seperti itu. … Karena itu ada banyak di antara orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersemangat, yang beranggapan bahwa mereka sedang menghormati Allah dengan merendahkan setiap orang yang bukan orang Yahudi. Mereka mengira adalah urusan mereka untuk membenci musuh mereka)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 299-300.

Bantahan:

John Stott: “The reasoning is rational enough to convince those who wanted to be convinced, and to confirm them in their own racial prejudice. … They evidently ignored the instruction earlier in the same chapter to leave the gleanings of field and vineyard ‘for the poor and the sojourner’, who was not a Jew but a resident alien, and the unequivocal statement against racial discrimination at the end of the chapter: ‘the stranger who sojourns with you shall be to you as the native among you, and you shall love him as yourself’ (34)” [= Pemikiran / pertimbangan ini cukup rasionil untuk meyakinkan mereka yang mau untuk diyakinkan, dan menegaskan mereka dalam prasangka rasial mereka. … Mereka secara jelas mengabaikan instruksi / ajaran pada bagian awal dari pasal yang sama untuk meninggalkan sisa-sisa dari ladang dan kebun anggur ‘bagi orang miskin dan bagi orang asing’ (Im 19:10), yang bukanlah orang Yahudi tetapi seorang asing yang menetap, dan pernyataan yang tegas terhadap diskriminasi rasial pada akhir dari pasal: ‘Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri’ (Im 19:34)]‘The Message of the Sermon on The Mount’, hal 114.

Im 19:10 – “Juga sisa-sisa buah anggurmu janganlah kaupetik untuk kedua kalinya dan buah yang berjatuhan di kebun anggurmu janganlah kaupungut, tetapi semuanya itu harus kautinggalkan bagi orang miskin dan bagi orang asing; Akulah TUHAN, Allahmu”.

Im 19:34 – “Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu”.

Jadi, kalau kita melihat kontext dari Im 19 itu, maka jelas tidak mungkin kita bisa menerima tafsiran dari orang-orang Yahudi tentang Im 19:18 tersebut.

Jadi, arti dari ‘sesama manusia’ adalah seperti yang dikatakan oleh Stott di bawah ini.

John Stott: “Our ‘neighbour’ in the vocabulary of God includes our enemy. What constitutes him our neighbour is simply that he is a fellow human being in need, whose need we know and are in a position in some measure to relieve” (= Sesama manusia kita dalam perbendaharaan kata dari Allah mencakup musuh kita. Apa yang menyebabkannya menjadi sesama kita hanyalah sekedar bahwa ia adalah sesama manusia kita yang ada dalam kebutuhan, yang kebutuhannya kita ketahui, dan kita ada dalam keadaan untuk bisa meringankannya sampai taraf tertentu)‘The Message of the Sermon on The Mount’, hal 118.

Bdk. Luk 10:25-37 – ‘perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati’, yang juga mempersoalkan ‘siapakah sesama manusia’ itu?

2.   Text yang menyuruh Israel memusuhi / membasmi bangsa kafir / non Israel, seperti:

  • perintah untuk membasmi orang Kanaan, seperti dalam Ul 7:2 dan sebagainya.
  • perintah untuk membasmi orang Amalek dalam Ul 25:17-19 – “‘Ingatlah apa yang dilakukan orang Amalek kepadamu pada waktu perjalananmu keluar dari Mesir; bahwa engkau didatangi mereka di jalan dan semua orang lemah pada barisan belakangmu dihantam mereka, sedang engkau lelah dan lesu. Mereka tidak takut akan Allah. Maka apabila TUHAN, Allahmu, sudah mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada segala musuhmu di sekeliling, di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk dimiliki sebagai milik pusaka, maka haruslah engkau menghapuskan ingatan kepada Amalek dari kolong langit. Janganlah lupa!’”.
  • ayat-ayat seperti Bil 25:17-18  Bil 31:2-3,7-8  Ul 23:3-4 yang menyuruh mereka ‘sentimen’ terhadap orang Moab, Midian, Amon.

Bantahan:

Ayat-ayat seperti ini jelas tidak mungkin dijadikan dasar, karena:

¨      perang suci / kudus (holy war) seperti itu hanya ada pada saat itu saja, dan merupakan perang Allah terhadap berhala / penyembah berhala.

¨      dalam melaksanakan perintah Tuhan itu bangsa Israel berfungsi sebagai algojo dari Allah yang melaksanakan hukumanNya terhadap bangsa-bangsa kafir tersebut.

3.   Mazmur-mazmur yang berisi kutukan terhadap orang-orang jahat / doa supaya orang-orang jahat dibinasakan. Misalnya:

  • Maz 69:23-29 – “Biarlah jamuan yang di depan mereka menjadi jerat, dan selamatan mereka menjadi perangkap. Biarlah mata mereka menjadi gelap, sehingga mereka tidak melihat; buatlah pinggang mereka goyah senantiasa! Tumpahkanlah amarahMu ke atas mereka, dan biarlah murkaMu yang menyala-nyala menimpa mereka. Biarlah perkemahan mereka menjadi sunyi, dan biarlah kemah-kemah mereka tidak ada penghuninya. Sebab mereka mengejar orang yang Kaupukul, mereka menambah kesakitan orang-orang yang Kautikam. Tambahkanlah salah kepada salah mereka, dan janganlah sampai Engkau membenarkan mereka! Biarlah mereka dihapuskan dari kitab kehidupan, janganlah mereka tercatat bersama-sama dengan orang-orang yang benar!”.
  • Maz 109:1-31.

Bantahan:

Tentang mazmur-mazmur seperti ini Stott mengatakan bahwa pemazmur tidak berbicara tentang kebencian pribadi tetapi sebagai ia berbicara wakil dari bangsa pilihan Allah (Israel), yang menganggap orang-orang jahat sebagai musuh Allah. Ia membenci mereka karena ia mengasihi Allah.

D. Martyn Lloyd-Jones: “In writing his Psalms, the Psalmist is not so much writing about himself as about the Church; and his Psalms, you will find, are concerned in every single instance, in every imprecatory Psalm, with the glory of God. As he talks about the things that are being done to him, he is speaking of things that are being done to God’s people and to God’s Church. It is the honour of God that he is concerned about, it is his zeal for the house of God and for the Church of God that moves him to write these things” (= Dalam menuliskan mazmur-mazmurnya, sang pemazmur tidak menulis tentang dirinya sendiri tetapi tentang Gereja; dan mazmur-mazmurnya, akan engkau dapati, dalam setiap contoh, dalam setiap Mazmur kutukan, peduli dengan kemuliaan Allah. Pada waktu ia berbicara tentang hal-hal yang sedang dilakukan terhadapnya, ia berbicara tentang hal-hal yang sedang dilakukan terhadap umat Allah dan Gereja Allah. Adalah kehormatan Allah yang ia pedulikan, adalah semangatnya bagi rumah Allah dan untuk Gereja Allah yang menggerakkannya untuk menuliskan hal-hal ini)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 300-301.

John Stott: “The truth is that evil men should be the object simultaneously of our ‘love’ and our ‘hatred’, … To ‘love’ them is ardently to desire that they will repent and believe, and so be saved. To ‘hate’ them is to desire with equal ardour that, if they stubbornly refuse to repent and believe, they will incur God’s judgment. … So there is such a thing as perfect hatred, just as there is such a thing as righteous anger. But it is a hatred for Gods’ enemies, not our own enemies. It is entirely free of all spite, rancour and vindictiveness, and is fired only by love of God’s honour and glory” (= Kebenarannya adalah bahwa orang-orang jahat harus menjadi obyek secara bersamaan dari kasih kita dan kebencian kita, … Mengasihi mereka berarti menginginkan dengan bersemangat / sungguh-sungguh bahwa mereka akan bertobat dan percaya, dan dengan demikian diselamatkan. Membenci mereka adalah menginginkan dengan kesungguhan / semangat yang sama bahwa jika mereka secara tegar tengkuk menolak untuk bertobat dan percaya, mereka akan mendatangkan penghakiman Allah. … Jadi, ada kebencian yang sempurna, sama seperti ada kemarahan yang benar. Tetapi itu merupakan kebencian terhadap musuh-musuh Allah, bukan musuh-musuh kita sendiri. Itu sepenuhnya bebas dari semua dendam, kebencian, dan balas dendam, dan dibakar / dinyalakan hanya oleh kasih terhadap kehormatan dan kemuliaan Allah)‘The Message of the Sermon on The Mount’, hal 117.

Catatan: untuk kata-kata yang saya garis-bawahi itu, bandingkan dengan Maz 139:21-22 – “Masakan aku tidak membenci orang-orang yang membenci Engkau, ya TUHAN, dan tidak merasa jemu kepada orang-orang yang bangkit melawan Engkau?  Aku sama sekali membenci mereka, mereka menjadi musuhku”.

Bandingkan mazmur-mazmur kutukan itu dengan:

  • Wah 6:10 – “Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: ‘Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?’”.
  • Wah 19:1-4 – “Kemudian dari pada itu aku mendengar seperti suara yang nyaring dari himpunan besar orang banyak di sorga, katanya: ‘Haleluya! Keselamatan dan kemuliaan dan kekuasaan adalah pada Allah kita, sebab benar dan adil segala penghakimanNya, karena Ialah yang telah menghakimi pelacur besar itu, yang merusakkan bumi dengan percabulannya; dan Ialah yang telah membalaskan darah hamba-hambaNya atas pelacur itu.’ Dan untuk kedua kalinya mereka berkata: ‘Haleluya! Ya, asapnya naik sampai selama-lamanya.’ Dan kedua puluh empat tua-tua dan keempat makhluk itu tersungkur dan menyembah Allah yang duduk di atas takhta itu, dan mereka berkata: ‘Amin, Haleluya.’”.

Orang-orang ini sudah di surga, tetapi masih menaikkan doa yang boleh dikatakan mirip dengan mazmur-mazmur kutukan tersebut, dan orang-orang itu menginginkan penghakiman Allah, dan bersukacita dan memuji Tuhan karena penghakimanNya yang adil terhadap orang-orang jahat.

c)   Sebetulnya dalam Perjanjian Lama bukan hanya sudah ada ajaran ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’, tetapi juga sudah ada ajaran ‘Kasihilah musuhmu’.

Ini terlihat dari:

  • Kel 23:4-5 – “Apabila engkau melihat lembu musuhmu atau keledainya yang sesat, maka segeralah kaukembalikan binatang itu. Apabila engkau melihat rebah keledai musuhmu karena berat bebannya, maka janganlah engkau enggan menolongnya. Haruslah engkau rela menolong dia dengan membongkar muatan keledainya”.

Kalau keledai musuh rebah kita harus menolong, lebih-lebih kalau musuh itu yang rebah.

  • Ayub 31:29 – “Apakah aku bersukacita karena kecelakaan pembenciku, dan bersorak-sorai, bila ia ditimpa malapetaka”.
  • Amsal 24:17 – “Jangan bersukacita kalau musuhmu jatuh, jangan hatimu beria-ria kalau ia terperosok”.
  • Amsal 25:21 – “Jikalau seterumu lapar, berilah dia makan roti, dan jikalau ia dahaga, berilah dia minum air. Karena engkau akan menimbun bara api di atas kepalanya, dan TUHAN akan membalas itu kepadamu”. Bandingkan dengan tindakan Elisa dalam 2Raja 6:21-23 yang melakukan hal ini terhadap orang Aram.

Karena itu kalau Yesus mengajarkan untuk mengasihi musuh, itu bukan sesuatu yang aneh atau yang bertentangan dengan Perjanjian Lama. Demikian juga adanya ayat-ayat Perjanjian Baru yang mempunyai arah yang serupa, seperti:

¨      1Kor 4:12b-13a – “Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah”.

¨      Ro 12:14,17,19-21 – “(14) Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! … (17) Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! … (19) Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hakKu. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. (20) Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. (21) Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”.

4)   Hubungan perintah kasih kepada musuh (ay 44), dengan larangan untuk melawan orang yang berbuat jahat kepada kita (ay 39).

John Stott: “The last two antitheses of the series reveal a progression. The first is a negative command: Do not resist one who is evil; the second is positive: Love your enemies and seek their good. The first is a call to passive non-retaliation, the second to active love. As Augustine put it, ‘Many have learned how to offer the other cheek, but do not know how to love him by whom they were struck.’” (= Dua antithesis yang terakhir dari seri antithesis itu menyatakan suatu kemajuan. Yang pertama merupakan suatu perintah negatif: Jangan melawan orang yang jahat; yang kedua merupakan sesuatu yang positif: Kasihilah musuhmu dan usahakanlah kebaikan untuk mereka. Yang pertama merupakan panggilan pada sikap tidak membalas yang pasif, yang kedua pada kasih yang aktif. Seperti dikatakan oleh Agustinus: ‘Banyak orang telah belajar bagaimana memberikan pipi satunya, tetapi tidak tahu bagaimana mengasihi orang-orang oleh siapa mereka dipukul’)‘The Message of the Sermon on The Mount’, hal 122.

5)   Arti dari ‘mengasihi’.

a)   Arti negatif / salah dari ‘mengasihi’.

Barclay: “It is then quite obvious that the last thing agapē, Christian love, means is that we allow people to do absolutely as they like, and that we leave them quite unchecked. No one would say that a parent really loves his child if he lets the child do as he likes. If we regard a person with invincible goodwill, it will often mean that we must punish him, that we must restrain him, that we must discipline him, that we must protect him against himself. But it will also mean that we do not punish him to satisfy our desire for revenge, but in order to make him a better man” (= Jelas bahwa arti dari agapē, kasih Kristen, bukanlah kalau kita mengijinkan orang-orang melakukan secara mutlak seperti yang mereka inginkan, dan bahwa kita membiarkan mereka tanpa dikekang. Tidak seorangpun akan mengatakan bahwa seorang tua sungguh-sungguh mengasihi anaknya jika ia membiarkan anak itu berbuat seperti yang dikehendakinya. Jika kita melihat seseorang, dengan keinginan baik yang tak terkalahkan, itu sering berarti bahwa kita harus menghukumnya, bahwa kita harus mengekangnya, bahwa kita harus mendisiplin / menghajarnya, bahwa kita harus melindunginya terhadap dirinya sendiri. Tetapi itu juga berarti bahwa kita tidak menghukumnya untuk memuaskan keinginan kita untuk balas dendam, tetapi untuk membuatnya menjadi seseorang yang lebih baik) – hal 174.

b)   Kasih bukan perasaan tetapi keputusan, dan ‘mengasihi’ berbeda dengan ‘menyenangi’.

Barclay: “Agapē does not mean a feeling of the heart, which we cannot help, and which comes unbidden and unsought; it means a determination of the mind, whereby we achieve this unconquerable goodwill even to those who hurt  and injure us” (= Agapē tidak berarti suatu perasaan dari hati, terhadap mana kita tidak bisa berbuat apa-apa, dan yang datang tanpa diminta dan dicari; itu berarti suatu keputusan / ketetapan dari pikiran, dengan mana kita mencapai keinginan baik yang tidak bisa dikalahkan bahkan terhadap mereka yang menyakiti dan melukai kita) – hal 174.

D. Martyn Lloyd-Jones: “we must understand the difference between loving and liking. Christ said, ‘Love your enemies,’ not ‘Like your enemies’. … We are not called upon to like everybody. We cannot do so. But we can be commanded to love. … People have stumbled at this. ‘Do you mean to say that it is right to love and not to like?’ they ask. I do. What God commands is that we should love a man and treat him as if we do like him. Love is much more than feeling or sentiment. Love in the New Testament is very practical – ‘For this is the love of God, that we keep his commandments.’ Love is active. If, therefore, we find we do not like certain people, we need not be worried by that, so long as we are treating them as if we did like them. That is loving, and it is the teaching of our Lord everywhere” (= kita harus mengerti perbedaan antara mengasihi dan menyenangi. Kristus berkata: ‘Kasihilah musuhmu’, bukan ‘Senangilah musuhmu’. … Kita tidak dipanggil untuk menyenangi setiap orang. Kita tidak bisa berbuat demikian. Tetapi kita bisa diperintahkan untuk mengasihi. … Orang-orang tersandung pada hal ini. ‘Apakah kamu bermaksud untuk mengatakan bahwa adalah benar untuk mengasihi dan tidak menyenangi?’, mereka bertanya. Ya. Apa yang Allah perintahkan adalah bahwa kita harus mengasihi seseorang dan memperlakukannya seakan-akan kita menyenanginya. Kasih merupakan sesuatu yang jauh lebih dari perasaan atau sentimen. Kasih dalam Perjanjian Baru adalah sangat praktis – ‘Karena inilah kasih Allah, bahwa kita mentaati perintah-perintahNya’. Kasih itu aktif. Karena itu, jika kita mendapati bahwa kita tidak menyenangi orang-orang tertentu, kita tidak perlu menguatirkan hal itu, selama kita memperlakukan mereka seakan-akan kita menyenangi mereka. Itulah mengasihi, dan itu merupakan ajaran dari Tuhan kita di mana-mana)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 307-308.

Catatan: saya sendiri tidak yakin apakah kata-kata / penafsiran dari Barclay dan Martin Lloyd-Jones dalam persoalan ini bisa dibenarkan.

c)   Meniru teladan Allah dalam mengasihi kita yang adalah musuh-musuhNya.

John Stott: “Our enemy is seeking our harm; we must seek his good. For this is how God has treated us. It is ‘while we were enemies’ that Christ died for us to reconcile us to God (Rom 5:10). If he gave himself for his enemies, we must give ourselves for ours” [= Musuh kita mengusahakan kerugian kita; kita harus mengusahakan kebaikannya. Karena inilah bagaimana Allah telah memperlakukan kita. Adalah ‘pada saat kita masih seteru / musuh’ Kristus mati untuk kita untuk memperdamaikan kita dengan Allah (Ro 5:10). Jika Ia memberikan diriNya sendiri untuk musuh-musuhNya, kita harus memberikan diri kita sendiri untuk musuh-musuh kita]‘The Message of the Sermon on The Mount’, hal 118.

6)   ‘berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu’ (ay 44b).

Ini merupakan salah satu perwujudan dari kasih kepada musuh.

a)   Kita harus meniru teladan Yesus dalam persoalan ini.

Bdk. Luk 23:34 – “Yesus berkata: ‘Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.’”.

John Stott: “If the cruel torture of crucifixion could not silence our Lord’s prayer for his enemies, what pain, pride, prejudice or sloth could justify the silencing of ours?” [= Jika penyiksaan yang kejam dari penyaliban tidak bisa membungkam doa Tuhan kita untuk musuh-musuhNya, rasa sakit, kesombongan, prasangka, atau kemalasan apa yang bisa membenarkan bungkamnya diri kita (sehingga tidak berdoa untuk orang yang menganiaya kita)?]‘The Message of the Sermon on The Mount’, hal 119.

b)   Berdoa untuk musuh / orang yang menganiaya kita, membuat kasih kita kepada orang itu bertumbuh.

John Stott: “‘This is the supreme command,’ wrote Bonhoeffer. ‘Through the medium of prayer we go to our enemy, stand by his side, and plead for him to God.’ Moreover, if intercessory prayer is an expression of what love we have, it is a means to increase our love as well. It is impossible to pray for someone without loving him, and impossible to go on praying for him without discovering that our love for him grows and matures. We must not, therefore, wait before praying for an enemy until we feel some love for him in our heart. We must begin to pray for him before we are conscious of loving him, and we shall find our love break first into bud, then into blossom” (= ‘Ini merupakan perintah yang tertinggi’, tulis Boenhoffer. ‘Melalui perantaraan doa kita pergi kepada musuh kita, berdiri di sisinya, dan memohon untuk dia kepada Allah’. Selanjutnya, jika doa syafaat merupakan perwujudan dari kasih yang bagaimana yang kita miliki, itu juga merupakan suatu cara untuk meningkatkan kasih kita. Adalah tidak mungkin untuk berdoa untuk seseorang tanpa mengasihinya, dan tidak mungkin untuk terus berdoa untuk dia tanpa mendapati bahwa kasih kita untuk dia bertumbuh dan menjadi matang. Karena itu, kita tidak boleh menunggu sebelum berdoa untuk seorang musuh sampai kita merasa ada kasih untuk dia dalam hati kita. Kita harus mulai berdoa untuk dia sebelum kita sadar bahwa kita mengasihinya, dan kita akan mendapatkan bahwa kasih kita mula-mula akan bersemi, dan lalu berbunga)‘The Message of the Sermon on The Mount’, hal 119.

Barclay: “We are bidden to pray for them. No man can pray for another man and still hate him. When he takes himself and the man whom he is tempted to hate to God, something happens. We cannot go on hating another man in the presence of God. The surest way of killing bitterness is to pray for the man we are tempted to hate” (= Kita diminta untuk berdoa bagi mereka. Tidak ada orang yang bisa berdoa untuk orang lain dan tetap membencinya. Pada waktu ia membawa dirinya sendiri dan orang yang ia benci kepada Allah, sesuatu terjadi. Kita tidak bisa terus membenci orang lain di hadapan Allah. Jalan / cara yang paling pasti untuk membunuh kepahitan adalah dengan berdoa untuk orang yang kita benci) – hal 175.

7)   Mengapa kita harus mengasihi musuh?

a)   Supaya kita berbahagia.

Adam Clarke: “Jesus Christ designs to make men happy. Now he is necessarily miserable who hates another” (= Yesus Kristus mendesign / merencanakan untuk membuat manusia bahagia. Ia yang membenci orang lain pastilah sengsara) – hal 77.

Catatan: saya berpendapat bahwa kebahagiaan kita tidak boleh menjadi tujuan dari tindakan mengasihi musuh, tetapi merupakan semacam effek samping yang pasti terjadi kalau kita mengasihi musuh.

b)   Supaya hidup kita tidak dikontrol oleh orang lain.

D. Martyn Lloyd-Jones: “our treatment of others must never depend upon what they are, or upon what they do to us. … The whole secret of living this kind of life is that man should be utterly detached. He must be detached from others in the sense that his behaviour is not governed by what they do. … one of the most tragic things about us is that our lives are so much governed by other people and by what they do to us and think about us. … Think of the unkind and cruel thoughts that have come into your mind and heart. What produced them? Somebody else! How much of our thinking and acting and behaviour is entirely governed by other people! It is one of the things that make life so wretched. You see a particular person and your spirit is upset. If you had not seen that person you would not have felt like that. Other people are controlling you. … Your love must become such that you will no longer be governed and controlled by what people say. Your life must be governed by a new principle in yourself, a new principle of love” (= perlakuan kita terhadap orang-orang lain tidak pernah boleh tergantung pada bagaimana keadaan mereka, atau pada apa yang mereka lakukan kepada kita. … Seluruh rahasia dari bagaimana kita hidup dalam kehidupan jenis ini adalah bahwa manusia harus sama sekali terlepas. Ia harus terlepas dari orang-orang lain dalam arti bahwa kelakuan / tindak-tanduknya tidak dikuasai oleh apa yang mereka lakukan. … salah satu hal yang paling tragis tentang kita adalah bahwa kehidupan kita begitu dikuasai oleh orang-orang lain dan oleh apa yang mereka lakukan terhadap kita dan pikirkan tentang kita. … Pikirkan tentang pemikiran yang tidak baik dan kejam yang masuk ke dalam pikiran dan hatimu. Apa yang memproduksinya? Seseorang lain! Betapa banyak pikiran dan tindakan dan kelakuan kita sepenuhnya dikuasai oleh orang-orang lain! Itu adalah salah satu dari hal-hal yang membuat kehidupan begitu buruk / sedih. Kamu melihat orang tertentu, dan kamu menjadi kacau. Jika kamu tidak melihat orang itu, kamu tidak akan merasa seperti itu. Orang-orang lain sedang menguasai kamu. … Kasihmu harus menjadi sedemikian rupa sehingga kamu tidak lagi dikuasai dan dikontrol oleh apa yang orang-orang katakan. Kehidupanmu harus dikuasai / diperintah oleh suatu prinsip yang baru dalam dirimu sendiri, suatu prinsip baru dari kasih)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 303,304-305.

c)   Untuk mengubah musuh menjadi teman.

John Stott mengutip kata-kata Martin Luther King: “‘hate multiplies hate … in a descending spiral of violence’ and is ‘just as injurious to the person who hates’ as to the victim. But above all ‘love is the only force capable of transforming an enemy into a friend’ for it has ‘creative’ and ‘redemptive’ power” [= ‘kebencian melipatgandakan kebencian … dalam suatu spiral kekerasan yang menurun’ dan ‘merugikan secara sama bagi orang yang membenci’ seperti bagi korbannya (orang yang dibenci). Tetapi di atas semua ‘kasih adalah satu-satunya kekuatan yang mampu untuk mengubahkan seorang musuh menjadi seorang teman’ karena kasih mempunyai kuasa ‘penciptaan’ dan ‘penebusan’]‘The Message of the Sermon on The Mount’, hal 114.

D. Martyn Lloyd-Jones: “People say we should do it in order to turn them into friends. … They say: ‘If you are nice to people they will become nice to you.’ … but let us be realists, not sentimentalists, because we know that that is not true and it does not work. No, our action is not aimed at turning them into friends. No; it is not because our action will somehow change these people psychologically and turn them into what we want them to be, that we are to do these things. We must do them for one reason only, not that we can ever redeem or make anything of them, but that in this way we can display to them the love of God” (= Orang-orang mengatakan bahwa kita harus melakukan hal itu untuk mengubah mereka menjadi teman-teman. … Mereka berkata: ‘Jika kami baik kepada orang-orang mereka akan menjadi baik kepada kamu’. … tetapi marilah kita menjadi realist, bukan sentimentalist, karena kita tahu bahwa itu tidak benar dan itu tidak berhasil. Tidak, tindakan kita tidak ditujukan untuk mengubah mereka menjadi teman-teman. Tidak; bukan karena tindakan kita entah bagaimana akan mengubah orang-orang ini secara psikhologis dan mengubah mereka menjadi apa yang kita inginkan, maka kita melakukan hal-hal ini. Kita harus melakukan hal-hal itu hanya untuk satu alasan, bukan supaya kita bisa menebus atau membuat mereka menjadi sesuatu apapun, tetapi karena dengan cara ini kita bisa menunjukkan kepada mereka kasih Allah)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 305-306.

Catatan: harus diakui bahwa tidak selalu kasih kepada musuh bisa memenangkan orang dan mengubah mereka dari musuh menjadi teman. Ada orang-orang yang begitu jahat sehingga membalas kasih dengan kejahatan (bdk. Maz 109:4-5). Tetapi jelas tidak semua orang seperti itu, dan karena itu saya berpendapat bahwa itu memang merupakan salah satu tujuan yang memungkinkan dari kasih kepada musuh.

Bandingkan dengan:

  • Ro 12:20-21 – “(20) Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. (21) Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”.
  • 2Raja 6:21-23  – “Lalu bertanyalah raja Israel kepada Elisa, tatkala melihat mereka: ‘Kubunuhkah mereka, bapak?’ Tetapi jawabnya: ‘Jangan! Biasakah kaubunuh yang kautawan dengan pedangmu dan dengan panahmu? Tetapi hidangkanlah makanan dan minuman di depan mereka, supaya mereka makan dan minum, lalu pulang kepada tuan mereka.’ Disediakannyalah bagi mereka jamuan yang besar, maka makan dan minumlah mereka. Sesudah itu dibiarkannyalah mereka pulang kepada tuan mereka. Sejak itu tidak ada lagi gerombolan-gerombolan Aram memasuki negeri Israel”.
  • Amsal 15:1 – “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah”.
  • Amsal 25:15 – “Dengan kesabaran seorang penguasa dapat diyakinkan dan lidah lembut mematahkan tulang”.

d)   Untuk membuktikan bahwa kita adalah anak-anak Allah, dan untuk menunjukkan suatu kehidupan yang lebih baik dari pemungut cukai / orang kafir (ay 45-48).

Ay 45-48: “(45) Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (46) Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? (47) Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? (48) Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.’”.

1.   Ay 45,48: “(45) Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. … (48) Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.’”.

  • ini tidak berarti bahwa kita harus meniru apapun yang Allah kerjakan.

Calvin: “It ought to be observed that, when the example of God is held out for our imitation, this does not imply, that it would be becoming in us to do whatever God does. He frequently punishes the wicked, and drives the wicked out of the world. In this respect, he does not desire us to imitate him: for the judgment of the world, which is his prerogative, does not belong to us. But it is his will, that we should imitate his fatherly goodness and liberality” (= Perlu diperhatikan bahwa pada waktu kita disuruh meneladani Allah, ini tidak berarti bahwa kita harus meniru apapun yang Allah lakukan. Ia seringkali menghukum orang jahat, dan menyingkirkan orang jahat dari dunia ini. Dalam hal ini, Ia tidak menginginkan kita untuk meniruNya: karena penghakiman dunia, yang merupakan hak khususNya, bukanlah hak kita. Tetapi adalah kehendakNya, bahwa kita meniru kebaikan dan kemurahan hatiNya) – hal 306.

  • ay 48 tidak berarti bahwa kita / orang kristen bisa mencapai kesempurnaan dalam hidup di dunia ini.

John Stott: “Some holiness teachers have built upon this verse great dreams of the possibility of reaching in this life a state of sinless perfection” (= Beberapa pengajar-pengajar kekudusan telah membangun di atas ayat ini mimpi-mimpi / khayalan-khayalan yang besar tentang kemungkinan untuk mencapai dalam hidup ini suatu keadaan kesempurnaan tanpa dosa)‘The Message of the Sermon on The Mount’, hal 119.

Stott lalu mengatakan (hal 121-122) bahwa ini merupakan penafsiran yang menentang kontext khotbah di bukit, karena:

*        dalam Mat 5:6 dibicarakan tentang orang yang ‘lapar dan haus akan kebenaran’, dan ini tidak mungkin ada kalau mereka sudah mencapai kesempurnaan.

*        dalam Mat 6:12 Yesus mengajar untuk berdoa: ‘Ampunilah kami akan kesalahan kami’. Ini jelas juga menunjukkan ketidak-sempurnaan.

Kedua hal ini merupakan petunjuk yang jelas bahwa Yesus tidak mengharapkan para pengikutNya untuk menjadi sempurna secara moral dalam hidup ini.

  • ini tidak berarti bahwa kita menjadi anak Allah kalau kita mengasihi musuh, tetapi sebaliknya. Kalau kita mengasihi musuh, itu membuktikan bahwa kita adalah anak-anak Allah.

Calvin: “you are not to understand, that our liberality makes us the children of God: … Christ … proves from the effect, that none are the children of God, but those who resemble him in gentleness and kindness” (= engkau tidak boleh mengerti bahwa kemurahan hati kita membuat kita menjadi anak-anak Allah: … Kristus … membuktikan dari akibatnya / hasilnya, bahwa tidak ada yang adalah anak Allah, kecuali mereka yang menyerupai Dia dalam kelembutan dan kebaikan) – hal 307.

Calvin: “The statement amounts to this, ‘Whoever shall wish to be accounted a Christian, let him love his enemies.’” (= Pernyataan itu sama dengan ini: ‘Siapapun yang ingin untuk dianggap sebagai orang Kristen, hendaklah ia mengasihi musuhnya’) – hal 306.

Barclay: “Hebrew is not rich in adjectives; and for that reason Hebrew often uses ‘son of …’ with an abstract noun, where we would use an adjective. For instance ‘a son of peace’ is ‘a peaceful man’; ‘a son of consolation’ is ‘a consoling man’. So, then, ‘a son of God’ is ‘a godlike man’” (= Bahasa Ibrani tidak kaya dengan kata sifat; dan karena itu bahasa Ibrani sering menggunakan ‘anak dari …’ dengan suatu kata benda abstrak, di tempat kita menggunakan suatu kata sifat. Sebagai contoh ‘anak damai’ adalah ‘orang yang cinta damai’; ‘anak penghiburan’ adalah ‘orang yang suka menghibur’. Maka, ‘anak Allah’ adalah ‘orang yang menyerupai Allah’) – hal 177.

Barnes’ Notes: “the sons of your Father. The word ‘son’ has a variety of significations. … In this passage, the word is used because, in doing good to enemies, they resemble God” (= anak-anak Bapamu. Kata ‘anak’ mempunyai bermacam-macam arti. … Dalam text ini, kata itu digunakan karena dalam melakukan yang baik kepada musuh-musuh, mereka menyerupai Allah) – hal 27.

2.   Ay 46-47: “(46) Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? (47) Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?”.

  • ‘orang yang tidak mengenal Allah’.

KJV: the publicans’ (= pemungut cukai). Rupanya ini diambil dari manuscript yang berbeda.

NIV: ‘pagans’ (= orang kafir).

RSV/NASB/Lit: ‘the Gentiles’ (= orang-orang non Yahudi).

  • ‘apakah lebihnya’.

Kekristenan kita dibuktikan oleh adanya sesuatu yang khusus / spesial dalam hidup kita.

D. Martyn Lloyd-Jones: “Now here there is real value in Dr. Moffatt’s translation, ‘If you only salute your friends, what is special about that?’ … The Christian is essentially a unique and special kind of person. … The question which we must ask ourselves, then, if we want to know for certain whether we are truly Christian or not, is this: Is there that about me which cannot be explained in natural terms? Is there something special and unique about me and my life which is never to be found in the non-Christian? … As I examine my activities, and look at my life in detail, can I claim for it that there is something about it which cannot be explained in ordinary terms and which can only be explained in terms of my relationship to the Lord Jesus Christ? Is there anything special about it? … If God is your Father, somewhere or another, in some form or other, the family likeness will be there, the traces of your Parentage will inevitably appear” (= Di sini ada nilai yang nyata dari terjemahan Dr. Moffatt: ‘Jika engkau hanya memberi salam kepada teman-temanmu, apa yang spesial tentang hal itu?’ … Orang Kristen secara hakiki adalah unik dan merupakan jenis orang yang spesial. … Maka pertanyaan yang harus kita tanyakan kepada diri kita sendiri, jika kita ingin tahu secara pasti apakah kita betul-betul orang Kristen atau tidak, adalah ini: Apakah ada tentang aku dan hidupku yang tidak pernah ditemukan dalam diri orang-orang yang non-Kristen? … Pada saat aku memeriksa aktivitas-aktivitasku, dan melihat pada kehidupanku secara terperinci, bisakah aku mengclaim untuknya bahwa di sana ada sesuatu tentangnya yang tidak bisa dijelaskan dalam kondisi biasa, dan yang hanya bisa dijelaskan dalam kondisi dari hubunganku dengan Tuhan Yesus Kristus? Apakah ada hal yang spesial tentangnya? … Jika Allah adalah Bapamu, di suatu tempat atau yang lain, dalam satu bentuk atau bentuk yang lain, kemiripan keluarga akan ada di sana, jejak-jejak dari Orang Tuamu pasti akan muncul)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 312,314,320.

8)   Apakah perintah ini menunjukkan kesalahan kekristenan, atau sebaliknya justru menunjukkan benarnya kekristenan?

Perintah untuk mengasihi musuh ini sering menyebabkan kekristenan diserang oleh orang-orang beragama lain, karena dianggap tidak masuk akal, dsb. Tetapi tentang ‘kasihilah musuhmu’ ini Adam Clarke justru berkata:

“This is the most sublime precept ever delivered to man: a false religion durst not give a precept of this nature, because, without supernatural influence, it must be for ever impracticable” (= Ini adalah perintah yang paling mulia / luhur yang pernah diberikan kepada manusia: agama yang salah / palsu tidak berani memberikan perintah seperti ini, karena, tanpa pengaruh supranatural, itu pasti tidak akan bisa dipraktekkan untuk selama-lamanya) – hal 408.

John Stott: “Alfred Plummer summed up the alternatives with admirable simplicity: ‘To return evil for good is devilish; to return good for good is human; to return good for evil is divine.’” (= Alfred Plummer menyimpulkan pilihan-pilihan dengan kesederhanaan yang mengagumkan: ‘Membalas kebaikan dengan kejahatan adalah seperti setan; membalas kebaikan dengan kebaikan adalah manusiawi; membalas kejahatan dengan kebaikan adalah ilahi’)‘The Message of the Sermon on The Mount’, hal 122.

Kesimpulan / penutup.

Jelas bahwa tak seorangpun bisa mentaati perintah-perintah ini secara sempurna. Ini menunjukkan adanya 2 hal yang harus kita lakukan:

1)   Datang kepada Kristus untuk percaya dan menerima Dia sebagai Juruselamat kita, supaya semua kekurangan / dosa kita berkenaan dengan hukum ini, ataupun dengan hukum-hukum yang lain, bisa diampuni dan disucikan.

2)   Bersandar kepada Tuhan dengan banyak berdoa supaya Ia memberikan kita kemauan dan kemampuan untuk mentaati hukum-hukum ini.

MATIUS 6:1-6,16-18

Kalau dalam Mat 5:21-48 Tuhan Yesus menyerang ajaran ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, maka dalam Mat 6:1-18 Tuhan Yesus menyerang praktek / kehidupan dari ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ajaran mereka yang salah menimbulkan praktek / kehidupan yang salah, dan kedua-duanya diserang oleh Tuhan Yesus.

Schema / bagan Matius 6:1-18:

Mat 6:1 – thema.

Mat 6:2-4 ® contoh pertama: tentang memberi sedekah.

Mat 6:5-6 ® contoh kedua: tentang berdoa.

Mat 6:7-15 – tentang doa.

Mat 6:16-18 ® contoh ketiga: tentang berpuasa.

Jadi Mat 6:7-15 agak menyimpang dari fokus seluruh teks, dan karena itu akan dibahas secara terpisah dalam pelajaran yang akan datang, sedangkan dalam pelajaran ini hanya akan dibahas Mat 6:1-6,16-18.

Ay 1: “‘Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga”.

1)   Penekanan: jangan melakukan perbuatan baik untuk pamer!

Kata-kata ‘supaya dilihat’ dalam bahasa Yunaninya adalah Theathenai (= to be seen / untuk dilihat). Kata ‘theater’ berasal dari kata Yunani tersebut. Jadi, kita tidak boleh menjadikan dunia ini sebagai suatu theater / tempat pertunjukan untuk memamerkan kebaikan kita.

2)   Kata-kata ‘kewajiban agama’ dalam bahasa Yunani adalah DIKAIOSUNE, yang seharusnya berarti ‘kebenaran’.

NASB: ‘righteousness’ (= kebenaran).

NIV: ‘acts of righteousness’ (= tindakan-tindakan kebenaran).

3)   Apakah Mat 6:1 ini bertentangan dengan Mat 5:16 – “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.’”?

Mat 6:1 tidak bertentangan dengan Mat 5:16 karena Mat 6:1 melarang melakukan perbuatan baik di depan manusia dengan motivasi untuk kemuliaan diri sendiri. Sedangkan Mat 5:16 menyuruh untuk menunjukkan perbuatan baik di depan manusia dengan motivasi supaya Tuhan dipermuliakan.

4)   Mat 6:1 ini tidak berarti ‘jangan pamer supaya kamu mendapat upah’.

Mat 6:1 hanya mengajarkan bahwa kalau kita memamerkan perbuatan baik kita maka kita tidak akan mendapatkan upah. Upah / pahala adalah sesuatu yang aneh. Kalau kita melakukan sesuatu yang baik dengan tujuan untuk mendapatkan upah / pahala, kita justru tidak akan mendapat upah / pahala. Tetapi kalau kita melakukan sesuatu yang baik tanpa tujuan untuk mendapatkan upah / pahala, kita justru akan mendapatkannya.

Ay 2-4: “(2) Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. (3) Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. (4) Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.’”.

1)   Contoh pertama ini mengecam tindakan ‘memamerkan pemberian sedekah’ dan ini bisa terlihat dari:

a)   Kata-kata ‘Janganlah engkau mencanangkan hal itu’ (ay 2).

NASB: ‘do not sound a trumpet before you’ (= janganlah membunyikan terompet di depanmu).

NIV: ‘do not announce it with trumpets’ (= janganlah mengumumkannya dengan terompet).

Apakah peniupan terompet itu betul-betul dilakukan oleh orang-orang Farisi, atau itu hanya sekedar merupakan ‘karikatur’ dari Tuhan Yesus tentang orang-orang Farisi, tidak terlalu jadi soal. Bagaimanapun juga, arti bagian ini jelas, yaitu: tidak boleh pamer!

b)   Tindakan seperti itu disebut sebagai tindakan ‘orang munafik’ (ay 2).

Kata yang diterjemahkan ‘orang munafik’ dalam bahasa Yunaninya adalah HUPOCHRITAI, yang arti sebenarnya adalah aktor / pemain sandiwara. Jadi, orang yang memamerkan kebaikannya oleh Tuhan Yesus disebut sebagai aktor / pemain sandiwara. Kelihatannya mereka menolong orang, tetapi tujuan mereka adalah supaya mereka dipuji orang. Ini jelas merupakan suatu sandiwara.

c)   Kata-kata ‘Jangan diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu’ (ay 3).

Ini bisa diartikan bahwa terhadap orang yang paling dekatpun kita tidak boleh pamer.

Calvin: “By this expression he means that we ought to be satisfied with having God for our only witness” (= Dengan ungkapan ini Ia memaksudkan bahwa kita harus puas dengan mempunyai Allah sebagai satu-satunya saksi).

Tetapi, bahwa Tuhan Yesus menggunakan istilah ‘tangan kiri’ yang adalah anggota tubuh kita sendiri, menunjukkan bahwa sebetulnya bukan saja terhadap orang yang dekat saja kita tidak boleh pamer, tetapi terhadap diri kita sendiripun kita tak boleh pamer. Pamer terhadap diri sendiri bisa dilakukan dengan mengingat-ingat kebaikan yang pernah dilakukan lalu memuji diri sendiri dan sebagainya (bdk. Luk 18:12).

John Stott: “We are not to be self-conscious in our giving, for our self-consciousness will readily deteriorate in self-righteousness” (= Kita tidak boleh sadar akan diri sendiri dalam memberi, karena kesadaran akan diri sendiri akan dengan mudah memburuk menjadi sikap menganggap benar diri sendiri).

John Stott: “Christian giving is to be marked by self sacrifice and self forgetfulness, not by self congratulation” (= Pemberian Kristen harus ditandai dengan pengorbanan diri sendiri dan pelupaan diri sendiri, bukan dengan pemberian selamat kepada diri sendiri).

2)   Ay 3-4 tidak boleh dimutlakkan. Jadi, bagian ini tidak berarti bahwa kalau kita mau memberi uang pada seorang pengemis, kita harus menunggu sampai pukul 12 malam dimana tidak ada seorangpun bisa melihat pemberian sedekah itu. Ingat, penekanan bagian ini adalah tidak boleh pamer dengan tujuan supaya dipuji. Jadi, bukan perahasiaannya yang ditekankan, tetapi motivasi ingin dipujinya.

3)   Kalau seseorang memberi sedekah dengan motivasi pamer, apa yang terjadi?

Ay 2: ‘mereka sudah mendapat upahnya’.

Kata-kata ‘mereka sudah mendapat’ dalam bahasa Yunaninya adalah APECHOUSIN (APECHO) yang merupakan istilah perdagangan dan artinya adalah ‘sudah menerima sepenuhnya(bukan hanya menerima uang muka)dan memberikan tanda terima untuk itu’.

NASB: ‘they have their reward in full’ (= mereka mendapatkan pahala mereka sepenuhnya).

NIV: ‘they have received their reward in full’ (= mereka telah menerima pahala mereka sepenuhnya).

Jadi, pujian manusia yang mereka dapatkan adalah upah / pahala mereka sepenuhnya, sehingga selanjutnya tidak ada lagi upah / pahala dari Allah.

4)   Sebaliknya, kalau seseorang memberi sedekah secara tersembunyi (bukan untuk pamer), maka ia akan mendapat upah / pahala dari Allah. Tidak ada manusia yang tahu kebaikannya, tetapi Allah tahu dan akan memberinya upah / pahala. Upah / pahala dari Allah bisa diberikan di surga, tetapi bisa juga dalam hidup di dunia berupa kepuasan, damai, sukacita dan sebagainya.

Ay 5-6: “(5) ‘Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. (6) Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu”.

Penekanan dari contoh kedua ini adalah: jangan berdoa dengan tujuan pamer.

Jadi, bagian ini tidak berarti bahwa:

  • kita tidak boleh berdoa sambil berdiri pada waktu ada di tempat ibadah / gereja (bdk. ay 5).
  • kita tidak boleh berdoa di tikungan jalan raya (bdk. ay 5).
  • kalau mau berdoa harus di dalam kamar dan pintu harus ditutup (bdk. ay 6).
  • kalau berdoa tidak boleh diketahui orang lain sama sekali.

Dari kehidupan Tuhan Yesus kita melihat bahwa:

¨       Ia tidak selalu berdoa dalam kamar (bdk. Mark 1:35  Mat 26:36-46).

¨       Ia kadang-kadang berdoa di depan banyak orang (bdk. Luk 3:21  Luk 23:34  Yoh 11:41-42).

Ingat bahwa bagian ini tidak mengajar dimana kita boleh / tidak boleh berdoa, juga tidak menekankan perahasiaan doa, tetapi menekankan bahwa kita tidak boleh memamerkan doa dengan tujuan supaya dipuji manusia.

Penerapan:

*        kalau tidak ada orang, kita tidak berdoa waktu makan. Tetapi kalau ada orang-orang kristen di sekitar kita, kita lalu berdoa waktu mau makan.

*        senang memimpin doa di depan banyak orang, supaya bisa menunjukkan ‘kehebatannya’ dalam berdoa.

*        pada waktu memimpin doa, membuat kalimat-kalimat indah, supaya dianggap hebat. Kalau orang yang memimpin doa ini memang seseorang yang berjiwa puitis, dan doanya menunjukkan hal itu, itu tentu tidak salah. Jadi sekali lagi saya tekankan, yang dipersoalkan dalam larangan ini adalah motivasi pamernya.

Ay 16-18: “(16) ‘Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. (17) Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, (18) supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.’”.

1)   Bagian ini menunjukkan bahwa orang Kristen harus berpuasa. Ini bisa terlihat dari:

a)   ‘kebenaran’ / ‘kewajiban agama’ (ay 1) diberi 3 contoh yaitu memberi sedekah (ay 2-4), berdoa (ay 5-6), berpuasa (ay 16-18). Kalau memberi sedekah itu diharuskan, berdoa juga diharuskan, bisakah kita bayangkan bahwa contoh yang ke 3, yaitu berpuasa, tidak diharuskan dan bahkan tidak perlu dilakukan?

b)   Dalam Mat 6:2,5,16 kata ‘apabila’ terjemahan Inggrisnya adalah ‘when’ (= pada waktu), bukan ‘if’ (= jika). Kalau digunakan ‘if you fast’ / ‘jika engkau berpuasa’ maka itu berarti bahwa Tuhan Yesus menganggap bahwa belum tentu orang-orang yang diajar itu akan berpuasa. Tetapi penggunaan ‘when you fast’ / ‘pada waktu engkau berpuasa’ menunjukkan bahwa Tuhan Yesus menganggap bahwa mereka pasti akan berpuasa.

Apa yang sampai saat ini tidak saya mengerti adalah: kapan dan untuk apa kita harus berpuasa. Ada banyak khotbah, pengajaran, dan buku yang membahas hal ini, tetapi menurut saya semuanya tidak bisa memberikan dasar Kitab Suci yang meyakinkan.

2)   Contoh ketiga ini menekankan bahwa kita tidak boleh memamerkan puasa.

Cara orang-orang Yahudi memamerkan puasa adalah dengan membuat mukanya suram / mengubah air muka dengan sengaja (mungkin supaya orang yang melihatnya lalu bertanya sehingga mereka bisa menjelaskan). Tuhan Yesus memerintahkan mereka melakukan ay 17. Ini bukan sesuatu yang aneh tetapi sesuatu yang mereka lakukan sehari-hari.

3)   Kalau mereka berpuasa untuk pamer, mereka mendapat upah sepenuhnya berupa pujian manusia, tidak ada lagi upah dari Allah.

3 hal di atas tadi (memberi sedekah, berdoa, berpuasa) hanya contoh. Tentu saja dalam semua perbuatan baik kita tidak boleh pamer. Misalnya:

  • dalam melakukan pelayanan.
  • dalam memberitakan Injil.
  • dalam belajar Firman Tuhan.
  • dalam ketaatan terhadap Firman Tuhan.
  • khususnya dalam memberi persembahan di gereja.

Karena itu kalau saudara memberikan persembahan, janganlah menuliskan nama terang, tetapi pakailah kode / nama samaran. Sedangkan untuk gereja, janganlah menuliskan nama terang dari orang yang memberikan persembahan dalam warta tertulis / lisan. Sekalipun orangnya menuliskan nama terang, pada warta tertulis / lisan, tuliskan singkatan saja!

Sekalipun sebetulnya bukan perahasiaannya yang ditekankan, tetapi motivasi pamernya, tetapi kalau hal itu diketahui oleh orang-orang, itu dengan mudah bisa memicu kesombongan dalam diri saudara. Mungkin karena itulah, sekalipun penekanannya adalah pada motivasi pamernya, tetapi perahasiaannya tetap diberikan dalam ketiga contoh ini (ay 3-4,6,18). Jadi, kecuali ada tujuan positif, maka rahasiakanlah semua perbuatan baik saudara!

MATIUS 6:7-15

Ay 7-8: “(7) Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. (8) Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya”.

Ay 7: ‘janganlah kamu bertele-tele’.

Kata bahasa Yunani yang diterjemahkan ‘bertele-tele’ adalah kata yang unik yang tidak dijumpai di tempat lain. Karena itu kata itu tidak diketahui dengan tepat terjemahannya.

NASB: ‘do not use meaningless repetition’ (= janganlah menggunakan pengulangan yang tidak mempunyai arti).

NIV: ‘do not keep up babbling’ (= janganlah terus menerus mengoceh).

RSV: ‘do not heap up empty phrases’ (= janganlah menumpuk ungkapan-ungkapan yang kosong).

KJV: ‘use not vain repetitions’ (= janganlah menggunakan pengulangan yang sia-sia).

Banyak penafsiran tentang hal ini:

  • doa yang dipanjang-panjangkan (bdk. ay 7: ‘banyaknya kata-kata’. Calvin menganggap kata ini berarti ‘pembicaraan yang tidak berarti’).
  • doa yang isinya kalimat-kalimat yang sama diulang-ulang, padahal kalimatnya tidak berarti.
  • doa yang hanya dengan bibir / lidah, tetapi tidak dengan hati.
  • doa dengan tujuan memberi informasi kepada Tuhan (bdk. ay 8).

Contoh:

¨       Kis 19:34 – “Tetapi ketika mereka tahu, bahwa ia adalah orang Yahudi, berteriaklah mereka bersama-sama kira-kira dua jam lamanya: ‘Besarlah Artemis dewi orang Efesus!’”.

¨       1Raja 18:25-29 – “Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu: ‘Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak. Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api.’ Mereka mengambil lembu yang diberikan kepada mereka, mengolahnya dan memanggil nama Baal dari pagi sampai tengah hari, katanya: ‘Ya Baal, jawablah kami!’ Tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab. Sementara itu mereka berjingkat-jingkat di sekeliling mezbah yang dibuat mereka itu. Pada waktu tengah hari Elia mulai mengejek mereka, katanya: ‘Panggillah lebih keras, bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.’ Maka mereka memanggil lebih keras serta menoreh-noreh dirinya dengan pedang dan tombak, seperti kebiasaan mereka, sehingga darah bercucuran dari tubuh mereka. Sesudah lewat tengah hari, mereka kerasukan sampai waktu mempersembahkan korban petang, tetapi tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian”.

¨       doa rosario dalam Katolik.

¨       doa Bapa Kami dalam kebaktian, sekalipun tidak selalu, tetapi sering menjadi doa seperti itu.

Untuk mengatasi kesalahan seperti ini, lalu dikatakan ay 8:“Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepadaNya”.

Kalau begitu apa gunanya doa? Calvin mengatakan bahwa orang kristen berdoa bukan untuk memberi informasi kepada Tuhan tentang hal-hal yang tidak diketahuiNya, atau untuk mendorongNya untuk melakukan kewajibanNya, atau untuk mendesak Dia untuk melakukan sesuatu yang segan dilakukanNya. Orang kristen berdoa supaya:

  • mereka menggerakkan diri mereka sendiri untuk mencari Dia.
  • mereka bisa mempraktekkan iman pada janji-janjiNya.
  • mereka bisa menenangkan kekuatiran mereka dengan mencurahkannya kepada Tuhan.
  • mereka bisa menyatakan bahwa hanya dari Dia saja mereka mengharapkan hal-hal yang baik, baik bagi diri mereka sendiri maupun bagi orang lain.

Calvin: “We must, … maintain both of these truths, that He freely anticipates our wishes, and yet that we obtain by prayer what we ask” (= Kita harus, mempertahankan kedua kebenaran ini, bahwa Ia dengan bebas mengantisipasi / mendahului keinginan-keinginan kita, tetapi sekalipun demikian kita mendapatkan melalui doa apa yang kita minta) – hal 314.

Ay 9-15: “(9) Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMu, (10) datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti di sorga. (11) Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (12) dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; (13) dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] (14) Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. (15) Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.’”.

Doa Bapa Kami (Mat 6:9-13).

1)   Doa ini juga ada dalam Injil Lukas, yaitu dalam Luk 11:2-4 – “(2) Jawab Yesus kepada mereka: ‘Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah namaMu; datanglah KerajaanMu. (3) Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya (4) dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.’”.

Calvin mengatakan bahwa tidak ada kepastian apakah Yesus mengajar Doa Bapa Kami ini hanya satu kali atau dua kali. Ada orang yang menganggap dua kali, karena dalam Matius Yesus mengajarkan tanpa diminta sedangkan dalam Lukas Yesus mengajarkan setelah diminta. Tetapi Calvin mengatakan bahwa mungkin saja Matius tidak menceritakan tentang permintaan itu.

2)   Dalam Lukas, Tuhan Yesus mengajarkan doa ini atas permintaan murid-murid.

Luk 11:1 – “Pada suatu kali Yesus sedang berdoa di salah satu tempat. Ketika Ia berhenti berdoa, berkatalah seorang dari murid-muridNya kepadaNya: ‘Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya.’”.

Kita memang perlu meminta agar Tuhan mengajar kita berdoa. Bandingkan dengan Ro 8:26-27 – “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus”.

Karena itu, merupakan sesuatu yang penting untuk memulai doa kita dengan permintaan: ‘Tuhan, tolong pimpin aku supaya bisa berdoa sesuai dengan kehendakMu’.

3)   Tujuan pemberian Doa Bapa Kami.

a)   Doa Bapa Kami diberikan bukan dengan tujuan untuk didoakan kata demi kata.

Calvin: “Christ does not enjoin his people to pray in a prepared form of words” (= Kristus tidak memerintahkan umatNya untuk berdoa dengan suatu bentuk / susunan kata-kata yang sudah disiapkan) – hal 316.

Pada catatan kakinya diberikan terjemahan yang lain, dimana dikatakan:

“Christ does not command his people to adhere to certain words” (= Kristus tidak memerintahkan umatNya untuk berpegang pada kata-kata tertentu) – hal 316 (footnote).

Calvin melanjutkan:

“It was not the intention of the Son of God … to prescribe the words which we must use, so as not to leave us at liberty to depart from the form which he has dictated” (= Bukanlah merupakan maksud dari Anak Allah … untuk menentukan kata-kata yang harus kita gunakan, sehingga tidak memberikan kita kebebasan untuk menyimpang dari bentuk yang telah Ia diktekan / perintahkan) – hal 316.

Jadi, menurut Calvin (dan saya setuju dengan dia), tujuan Yesus dalam memberikan Doa Bapa Kami bukanlah untuk didoakan kata demi kata seperti yang dilakukan oleh banyak gereja-gereja Protestan dan Katolik.

Bukti / alasan dari pandangan ini:

1.   Ay 9: ‘berdoalah demikian’.

RSV: ‘Pray then like this’ (= Maka berdoalah seperti ini).

NASB: ‘pray, then, in this way’ (= Maka, berdoalah dengan cara ini).

KJV: ‘After this manner therefore pray ye’ (= Karena itu, berdoalah menurut cara ini).

Tidak dikatakan ‘pray in these words’ (= berdoalah dengan kata-kata ini).

Jadi, kita tidak harus berdoa persis seperti itu kata demi kata.

2.   Doa Bapa Kami dalam Mat 6:9-13 berbeda dengan Luk 11:2-4. Mengapa? Ada 2 kemungkinan:

  • Luk 11:2-4 adalah singkatan dari Mat 6:9-13.
  • Tuhan Yesus mengajar lebih dari satu kali dan bentuknya berbeda.

Yang manapun yang benar dari 2 kemungkinan ini, tidak terlalu jadi soal. Tetapi ini jelas menunjukkan bahwa kita tidak harus berdoa persis seperti itu, karena kalau kita memang harus berdoa seperti itu kata demi kata, maka tidak mungkin bisa ada 2 versi!

b)   Doa Bapa Kami diberikan sebagai contoh / model doa, tentang apa yang seharusnya kita minta dalam doa.

Calvin: “Christ … only points out what ought to be the object of all our wishes and prayers” (= Kristus … hanya menunjukkan apa yang seharusnya merupakan obyek dari semua keinginan dan doa kita) – hal 316.

Calvin: “His intention rather was, to guide and restrain our wishes, that they might not go beyond those limits” (= MaksudNya adalah, untuk memimpin dan mengekang keinginan-keinginan kita, supaya tidak melampaui batas) – hal 316.

4)   Doa Bapa Kami bukan mantera.

Gereja Katolik menggunakan Doa Bapa Kami, doa Salam Maria dan sebagainya sebagai semacam mantera (harus berdoa tiga kali dan sebagainya). Ini tidak pernah diajarkan dalam Kitab Suci.

5)   Arti Doa Bapa Kami.

a)   ‘Bapa kami yang di surga’ (ay 9).

1.   Pada permulaan doa, bahkan sebelum doa, kita harus sadar kepada siapa kita berbicara. Kita berbicara bukan sekedar kepada manusia biasa tetapi kepada Bapa yang di surga!

2.   Kata ‘Bapa’ menunjukkan hubungan yang dekat, kasihNya dan sebagainya.

Kalau saudara tidak yakin bahwa Allah adalah Bapa saudara, atau bahwa saudara adalah anakNya, maka sebetulnya saudara tidak layak untuk berdoa kepadaNya. Jadi, percayalah dahulu kepada Yesus, supaya saudara menjadi anak Allah (Yoh 1:12), dan barulah saudara boleh berdoa kepadaNya. Juga kalau saudara memberikan counseling kepada orang kafir / orang kristen KTP yang sedang menderita, terkena musibah dsb, jangan menyuruh dia berdoa kalau ia belum percaya kepada Kristus. Itu tidak ada gunanya. Memang kadang-kadang Tuhan bisa mendengar dan mengabulkan doa dari orang yang belum percaya kepadaNya (mungkin dengan tujuan supaya orang itu mau percaya), tetapi pada umumnya Ia tidak mau mendengarkan doa orang yang bukan anakNya!

Calvin: “as it would be the folly and madness of presumption, to call God our Father, except on the ground that, through our union to the body of Christ, we are acknowledged as his children, we conclude, that there is no other way of praying aright, but by approaching God with reliance on the Mediator” (= sebagaimana merupakan kelancangan yang bodoh dan gila untuk menyebut Allah Bapa kita, kecuali atas dasar bahwa melalui persatuan kita dengan tubuh Kristus, kita diakui sebagai anak-anakNya, kami menyimpulkan bahwa tidak ada jalan lain untuk berdoa dengan benar, kecuali dengan mendekati Allah dengan bersandar pada sang Pengantara) – hal 317-318.

Bdk. 1Tim 2:5 – “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus”.

3.   Kata ‘di surga’ bukan menekankan ‘tempat dari Allah’ tetapi menekankan keilahian, otoritas, kuasa dari Allah. Ia berbeda dengan yang lain!

4.   Kata ‘di surga’ tidak berarti bahwa Allah hanya ada di surga (bdk. 2Taw 2:6 – “… langit, bahkan langit yang mengatasi segala langitpun tidak dapat memuat Dia”). Ini hanya merupakan suatu penghormatan.

5.   Kata-kata ‘Bapa’ dan ‘yang di surga’ harus ditekankan secara seimbang. Kalau hanya ditekankan ‘Bapa’ kita akan datang kepada Dia dengan kurang ajar / tidak hormat. Kalau hanya ditekankan ‘di surga’, kita akan takut datang kepada Dia.

b)   ‘Dikuduskanlah namaMu’ (ay 9).

 

‘Nama Allah’ berarti ‘diri Allah’ sendiri. Ini terlihat dari banyak ayat seperti:

  • Maz 9:11 – “Orang yang mengenal namaMu percaya kepadaMu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN”.
  • Yoh 17:6,26 – “(6) Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepadaKu dari dunia. Mereka itu milikMu dan Engkau telah memberikan mereka kepadaKu dan mereka telah menuruti firmanMu. … (26) dan Aku telah memberitahukan namaMu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepadaKu ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.’”.

Ini adalah suatu doa supaya Allah dihormati / dimuliakan dan diakui oleh manusia.

Calvin berkata bahwa kebalikan dari ini adalah pada waktu manusia berbicara tentang Allah tanpa rasa hormat kepadaNya.

Calvin: “the highest dishonour that can be done to him is unbelief and contempt of his word” (= sikap tidak hormat tertinggi yang bisa dilakukan terhadap Dia adalah ketidak-percayaan dan sikap jijik / menghina / memandang rendah terhadap firmanNya) – hal 319.

c)   ‘Datanglah kerajaanMu’ (ay 10).

Ini adalah suatu doa supaya Allah memerintah. Memang Allah sudah memerintah, tetapi ada banyak orang yang tidak mengakuiNya sebagai Raja. Kita berdoa supaya orang-orang itu mau mengakuiNya sebagai Raja.

Ini tidak berarti kita hanya perlu berdoa seperti ini dan tidak perlu memberitakan Injil. Kita harus berdoa dan bekerja! Jadi, kita harus berdoa supaya semua orang mau tunduk pada pemerintahan Allah, tetapi kita juga harus memberitakan Injil / Firman Tuhan supaya semua orang bisa percaya dan tunduk kepada Kristus.

Calvin mengatakan (hal 320) bahwa tanpa pekerjaan Roh Kudus, maka pemberitaan Firman Tuhan tidak akan ada gunanya. Jadi keduanya harus digabungkan supaya Kerajaan Allah bisa ditegakkan. Karena itu kita berdoa supaya Allah bekerja, baik melalui firmanNya maupun RohNya, supaya seluruh dunia tunduk kepadaNya.

d)   ‘Jadilah kehendakMu’ (ay 10).

Istilah ‘kehendak Allah’ bisa menunjuk pada rencana kekalNya yang pasti akan terlaksana, tetapi bisa juga menunjuk pada firmanNya.

Dalam arti yang pertama, ini merupakan suatu pernyataan bahwa kita mau menerima kehendak Allah (bdk. Mat 26:42).

Dalam arti yang kedua, ini adalah suatu doa supaya firman / hukum-hukum Allah ditaati. Kalimat selanjutnya dari Doa Bapa Kami ini menunjukkan bahwa di surga malaikat-malaikat sudah mentaati Allah, dan kita berdoa supaya di bumi hal itu juga terjadi.

e)   ‘Di bumi seperti di surga’ (ay 10).

Kalimat ini berhubungan bukan hanya dengan kalimat ke 4 di atas, tetapi berhubungan dengan kalimat ke 2, ke 3, ke 4.

Di surga hal-hal tersebut di atas (no 2-4) sudah terjadi. Kita berdoa supaya hal-hal tersebut juga terjadi di bumi.

Orang-orang Saksi Yehovah menafsirkan bahwa ini menunjuk pada bumi yang akan disempurnakan (Firdaus), yang akan menjadi tempat tinggal dari orang-orang yang diselamatkan, selain dari 144.000 orang yang masuk surga. Ini jelas merupakan penafsiran yang sesat.

f)    ‘Berikanlah kepada kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya’ (ay 11).

1.   Kata ‘makanan’ secara hurufiah adalah ‘roti’.

NASB: ‘Give us this day our daily bread’ (= Berilah kami hari ini roti harian kami).

  • Ada yang menganggap bahwa dengan ‘roti / makanan’ di sini bukanlah betul-betul roti / makanan karena mereka menganggap permintaan seperti itu terlalu duniawi. Mereka lalu menafsirkan ‘roti’ sebagai Firman Tuhan / Perjamuan Kudus. Tetapi ini salah! Allah memang juga memperhatikan kebutuhan jasmani kita (bdk. Yoh 6:5 – “Ketika Yesus memandang sekelilingNya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepadaNya, berkatalah Ia kepada Filipus: ‘Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?’”).
  • Calvin menganggap bahwa kata ‘roti’ mencakup segala macam makanan, dan bahkan segala kebutuhan jasmani kita.

2.   Kata Yunani yang diterjemahkan ‘yang secukupnya’ dalam Kitab Suci Indonesia, oleh NASB diterjemahkan ‘daily’ (= harian) adalah EPIOUSION.

Calvin menafsirkan bahwa arti dari kata ini adalah ‘terus menerus’. Jadi, karena kita tiap hari mempunyai kebutuhan jasmani, maka kita meminta supaya setiap hari Tuhan memberikan kebutuhan kita secara terus menerus / tanpa terputus.

Editor dari Calvin’s Commentary mengatakan bahwa kata ini tidak pernah muncul di bagian lain dari Kitab Suci kita, dan bahkan juga tidak dalam tulisan-tulisan non kristen, sehingga sukar diketahui artinya. Ia sendiri menganggap bahwa arti dari kata itu adalah ‘yang secukupnya’ (seperti terjemahan Kitab Suci Indonesia). Tetapi sebetulnya terjemahan ‘daily’ (= harian) dari NASB juga memberikan arti yang tidak terlalu berbeda.

Jadi kata ini mengajarkan kita untuk tidak meminta secara serakah. Mintalah apa yang benar-benar dibutuhkan. Bdk. Amsal 30:8-9 – “Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku”.

3.   Bukan hanya orang miskin, tetapi orang kayapun juga harus menaikkan doa seperti ini. Mengapa? Karena kita sepenuhnya tergantung kepada Tuhan dan segala kekayaan bisa hilang dalam sekejap (bdk. Ayub).

Calvin: “unless God feed us daily, the largest accumulation of the necessaries of life will be of no avail. Though we may have abundance of corn, and wine, and every thing else, unless they are watered by the secret blessing of God, they will suddenly vanish, or we will be deprived of the use of them, or they will lose their natural power to support us, so that we shall famish in the midst of plenty” (= kecuali Allah memberi kita makan setiap hari, pengumpulan yang terbesar dari kebutuhan-kebutuhan hidup akan sia-sia / tak berguna. Sekalipun kita mempunyai jagung dan anggur dan segala sesuatu yang lain berlimpah-limpah, kecuali semua itu diairi oleh berkat rahasia dari Allah, mereka akan lenyap dengan tiba-tiba, atau kita tidak akan bisa menggunakannya, atau mereka akan kehilangan kekuatan alamiahnya untuk menopang kita, sehingga kita akan kelaparan / mati kelaparan di tengah-tengah kelimpahan) – hal 324-325.

Calvin: “A certain man has abundant wine and grain. Since he cannot enjoy a single morsel of bread apart from God’s continuing favor, his wine and granaries will not hinder him from praying for his daily bread” (= Seorang tertentu mempunyai anggur dan padi / gandum berlimpah-limpah. Karena ia tidak bisa menikmati sepotong kecil rotipun terpisah dari kemurahan / kebaikan hati yang terus menerus dari Allah, anggur dan lumbung-lumbungnya tidak menghalangi dia untuk berdoa untuk roti hariannya)‘Institutes of the Christian Religion’, Book III, Chapter XX, No 7.

Bdk. Maz 104:27-28 – “(27) Semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya. (28) Apabila Engkau memberikannya, mereka memungutnya; apabila Engkau membuka tanganMu, mereka kenyang oleh kebaikan”.

 

4.   Adanya doa ini tidak berarti bahwa kita tidak perlu bekerja (bdk. 2Tes 3:10b – “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan”).

Sebaliknya, kalau kita bekerja, dan bisa mendapatkan makanan, kita tidak boleh sombong dan menganggap bahwa kita bisa mencukupi kebutuhan kita sendiri. Pekerjaan kita, kalau bukan karena berkat Tuhan, tidak akan ada hasilnya / gunanya.

Calvin: “The fields must, no doubt, be cultivated, labour must be bestowed on gathering the fruits of the earth, and every man must submit to the toil of his calling, in order to procure food. But all this does not hinder us from being fed by the undeserved kindness of God, without which men might waste their strength to no purpose. We are thus taught, that what we seem to have acquired by our own industry is his gift” (= Tidak diragukan bahwa ladang-ladang harus diusahakan / ditanami, jerih payah harus diberikan untuk mengumpulkan buah-buah dari bumi, dan setiap orang harus bekerja sesuai panggilannya, untuk mendapatkan makanan. Tetapi semua ini tidak menghalangi diri kita untuk diberi makan oleh kebaikan yang tidak layak kita dapatkan dari Allah, tanpa mana orang-orang akan menghabiskan kekuatan mereka tanpa ada gunanya. Maka kita diajar bahwa apa yang kelihatannya kita dapatkan oleh kerajinan kita adalah pemberianNya) – hal 325.

g)   ‘Dan ampunilah kami akan kesalahan kami seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami’ (ay 12).

  • Kata ‘kesalahan’ seharusnya adalah ‘hutang’ (Inggris: ‘debts’). Luk 11:4 menggunakan istilah ‘dosa’ (Yunani: HAMARTIA). Dosa memang adalah suatu hutang (bdk. Luk 7:36-50)!
  • Ini merupakan doa pengakuan dosa, dan ini adalah sesuatu yang penting sekali. Dosa merusak persekutuan dengan Allah, menghalangi doa kita sehingga tidak bisa mencapai Allah (Yes 59:1-2), menghalangi berkat Tuhan, menarik kepada dosa lain, menghancurkan damai dan sebagainya, dan karena itu dosa harus dibereskan secepatnya. Calvin beranggapan (hal 326) bahwa kita harus memulai doa kita dengan pengakuan dosa.
  • Jangan beranggapan bahwa semua orang mempunyai hak untuk meminta ampun atas dosa-dosanya! Kata pertama dalam Doa Bapa Kami ini adalah ‘Bapa’. Ini menunjukkan bahwa yang boleh meminta ampun atas dosa-dosanya adalah ‘anak-anak Allah’ saja, yaitu orang-orang yang percaya kepada Yesus (Yoh 1:12).
  • ‘seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami’.

Bagian ini diperluas dalam ay 14-15 – “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.’” (bdk. Mat 18:22-35).

Ini tidak boleh diartikan bahwa pengampunan yang kita berikan menyebabkan kita diampuni. Iman kita yang menyebabkan kita diampuni, tetapi iman harus dibuktikan dengan maunya kita mengampuni orang lain.

Calvin: “This condition is added, that no one may presume to approach God and ask forgiveness, who is not pure and free from all resentment. And yet the forgiveness, which we ask that God would give us, does not depend on the forgiveness which we grant to others: … Christ did not intend to point out the cause, but only to remind us of the feelings which we ought to cherish towards brethren, when we desire to be reconciled to God” (= Syarat ini ditambahkan, supaya tak seorangpun berani mendekati Allah dan meminta pengampunan, jika ia tidak murni dan bebas dari semua kemarahan / kebencian. Tetapi pengampunan yang kita minta Allah berikan kepada kita, tidak tergantung pada pengampunan yang kita berikan kepada orang-orang lain: … Kristus tidak bermaksud untuk menunjukkan penyebabnya, tetapi hanya mengingatkan kita tentang perasaan yang harus kita pelihara terhadap saudara-saudara kita, pada waktu kita ingin diperdamaikan dengan Allah) – hal 327.

  • Kita minta ampun langsung kepada Bapa. Pengantara kita adalah Yesus Kristus (1Tim 2:5), bukan pendeta, pastor dan sebagainya. Bandingkan dengan orang Katolik yang mengaku dosa kepada pastor!
  • Satu pertanyaan yang dibahas oleh Calvin adalah: pemberesan dosa tentu lebih penting dari makanan. Lalu mengapa doa tentang makanan didahulukan dari pada doa tentang pengakuan / pengampunan dosa? Calvin menjawab:

“Though the forgiveness of sins is to be preferred to food, as far as the soul is more valuable than the body, yet our Lord commenced with bread and the supports of an earthly life, that from such a beginning he might carry us higher” (= Sekalipun pengampunan dosa harus lebih didahulukan dari makanan, sebagaimana jiwa lebih berharga dari tubuh, tetapi Tuhan kita mulai dengan roti dan penopang dari kehidupan duniawi, supaya dari permulaan seperti itu Ia bisa membawa kita lebih tinggi) – hal 322.

h)   ‘Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat’ (ay 13)

Ada 2 problem dengan kalimat ini:

1.   Allah tidak mencobai kita (Yak 1:13). Lalu untuk apa kita doa seperti itu?

2.   Pencobaan bermanfaat bagi kita (Yak 1:2-4 – “(2) Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, (3) sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. (4) Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun”). Lalu mengapa kita minta supaya terhindar dari pencobaan?

Jawab:

  • Pencobaan di sini adalah pencobaan di dalam hati / pikiran. Kita tidak minta dijauhkan dari pencobaan dari luar karena ini membawa kebaikan. Kita minta dihindarkan dari pencobaan di dalam karena ini adalah dosa.
  • Ini bukan permintaan supaya terhindar dari pencobaan / tidak terkena pencobaan, tetapi permintaan supaya tidak jatuh ke dalam dosa pada waktu menghadapi pencobaan. Jadi, ini adalah suatu permintaan supaya Tuhan tidak mengijinkan kita untuk mendapatkan pencobaan yang akan menjatuhkan kita dalam dosa.

i)    ‘Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin’ (ay 13b).

Bagian ini diperdebatkan keasliannya dan karena itu bagian ini diletakkan di dalam tanda kurung tegak. Memang kalau tidak ada kalimat ini, doa Bapa Kami ini menjadi ‘aneh’, karena terhenti secara tiba-tiba. Tetapi bagaimanapun juga, Luk 11:2-4 juga tidak memiliki bagian itu. Disamping itu, untuk Mat 6:9-13, manuscript-manuscript yang kuno tidak memiliki kalimat itu dan manuscript-manuscript yang memiliki kalimat itu, kalimatnya bervariasi / berbeda satu dengan yang lain.

Kesimpulan: kalimat ini tidak ada dalam aslinya!

6)   Peninjauan terhadap Doa Bapa Kami secara keseluruhan.

a)   Ay 9-10: 3 permintaan untuk kemuliaan Allah.

Ay 11-13: 3 permintaan untuk diri sendiri.

Jadi, dalam doa kemuliaan Allah harus lebih diutamakan dari kepentingan diri sendiri, tetapi permintaan untuk diri sendiri tetap tidak boleh diabaikan.

Calvin: “in prayer Christ enjoins us to consider and seek the glory of God, and, at the same time, permits us to consult our own interest” (= dalam doa, Kristus memerintahkan kita untuk memikirkan dan mencari kemuliaan Allah, dan pada saat yang sama, mengijinkan kita untuk mempertimbangkan / mengingat kepentingan kita sendiri) – hal 316.

Calvin: “we must not be so exclusively occupied with what is advantageous to ourselves, as to omit, in any instance, to give the first place to the glory of God” (= kita tidak boleh sibuk / dipenuhi semata-mata dengan apa yang menguntungkan diri kita sendiri, sehingga menghapuskan, dalam keadaan apapun, untuk memberikan tempat pertama bagi kemuliaan Allah) – hal 322.

Karena itu, tentu saja kalau kepentingan kita sendiri bertentangan dengan kemuliaan Allah, maka kemuliaan Allahlah yang harus kita cari / doakan!

b)   Bagian yang untuk diri sendiri (ay 11-13) terdiri dari permintaan yang bersifat jasmani dan rohani. Kedua-duanya perlu dalam hidup kita! Kalau saudara berdoa apakah saudara meminta hanya hal-hal yang bersifat jasmani saja? Atau sebaliknya saudara hanya meminta hal-hal yang bersifat rohani saja? Mintalah kedua-duanya!

Dalam doa Bapa Kami ini permintaan untuk jasmani didahulukan. Ini tidak berarti bahwa jasmani lebih penting dari rohani.

Mark 2:1-12 – Yesus mengampuni dosa dahulu, baru menyembuhkan penyakit orang itu.

Mat 16:26 – “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?”.

1Tim 4:7-8 – “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang”.

c)   Masa lampau, sekarang, dan yang akan datang, tercakup dalam doa ini.

Ay 11: ‘hari ini’. Ini masa sekarang.

Ay 12: tentang kesalahan / dosa. Ini menunjuk pada masa lampau.

Ay 13: tentang pencobaan. Ini menunjuk pada masa yang akan datang.

Jadi, seluruh hidup diserahkan kepada Tuhan dalam doa.

d)   Allah Tritunggal merupakan obyek dari doa kita.

Ay 11: minta makanan. Ini menunjuk kepada Bapa.

Ay 12: minta ampun. Ini menunjuk kepada Yesus.

Ay 13: minta tolong dalam menghadapi pencobaan. Ini menunjuk kepada Roh Kudus.

Jadi, dalam doa, kita minta supaya Allah Tritunggal campur tangan dalam hidup kita.

MATIUS 6:19-34

Kalau Mat 6:1-18 menangani hidup pribadi kita, maka Mat 6:19-34 menangani hidup kita dalam hubungannya dengan orang banyak (mencari uang).

Kalau Mat 6:1-18 mengurus hal-hal yang bersifat ‘agama / rohani’ (sedekah, doa, puasa), maka Mat 6:19-34 mengurus hal-hal yang bersifat ‘duniawi’ (cari uang).

Catatan: sebetulnya di hadapan Allah segala tindakan kita (termasuk cari uang) adalah yang bersifat rohani!

Ay 19-24.

Ay 19:‘Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi’.

Ini tidak berarti bahwa:

1)   Kita tidak boleh bekerja mencari uang.

Kitab Suci bahkan mengharuskan kita bekerja.

Amsal 6:6-11 – “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? ‘Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring’ – maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata”.

Amsal 30:25 – “semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim panas”.

2Tes 3:6-11 – “Tetapi kami berpesan kepadamu, saudara-saudara, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, supaya kamu menjauhkan diri dari setiap saudara yang tidak melakukan pekerjaannya dan yang tidak menurut ajaran yang telah kamu terima dari kami. Sebab kamu sendiri tahu, bagaimana kamu harus mengikuti teladan kami, karena kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan roti orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih payah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti. Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna”.

Tit 3:14 – “Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah”.

2)   Orang Kristen tidak boleh kaya. Abraham, Ayub adalah orang kaya!

Jadi, arti ay 19 adalah:

a)   Kita tak boleh mengumpulkan harta demi harta itu sendiri. Bdk. Luk 12:16-21.

b)   Kita tak boleh mengumpulkan harta secara egois.

Ay 19 (NIV): ‘Do not store up for yourselves treasures on earth’ (= Janganlah menumpuk untuk dirimu sendiri harta di bumi).

Mengapa kita tidak boleh menimbun harta di bumi?

1)   Harta dunia bisa rusak / hilang tetapi harta surgawi adalah kekal (ay 19-20).

Cerita tentang Ayub dalam Kitab Suci, dan krismon beberapa waktu yang lalu menunjukkan secara jelas, betapa mudahnya seseorang jadi bangkrut / miskin. Jadi, janganlah menimbun harta duniawi, tetapi carilah harta surgawi. Kita tidak bisa ‘menimbun harta dunia’ (cinta uang, egois) dan pada saat yang sama memiliki harta surgawi.

2)   Hati kita selalu mengikuti harta kita (ay 21).

Bdk. Maz 62:11b – “apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya”.

Orang yang mengejar harta / mencintai uang, pikirannya / hatinya pasti terus tertuju pada uang. Orang yang mengejar harta di surga, selalu memikirkan bagaimana ia bisa menyenangkan / memuliakan Tuhan.

Penerapan:

Yang mana yang lebih banyak saudara pikirkan dari 2 pertanyaan ini:

  • bagaimana saya bisa menjadi lebih kaya / mendapat uang lebih banyak?
  • bagaimana saya bisa menyenangkan / memuliakan Tuhan?

3)   Hidup kita tergantung pada pandangan mata kita (ay 22-23).

‘Mata adalah pelita tubuh’ (ay 22).

Ini adalah kiasan. Hampir semua yang dilakukan oleh tubuh tergantung pada kemampuan mata untuk melihat. Karena itu mata disebut sebagai pelita tubuh. Kalau ‘matamu baik’ (ay 22), artinya mata saudara diarahkan kepada harta surgawi, maka ‘teranglah seluruh tubuhmu’ (ay 22b), artinya hidup saudara akan baik. Kalau ‘matamu jahat’ (ay 23a), artinya mata saudara diarahkan kepada harta duniawi, maka ‘gelaplah seluruh tubuhmu’ (ay 23b), artinya hidup kita akan jahat.

Bdk. 1Tim 6:9-10 – “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka”.

Ay 23b: ‘Jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu’.

Kata ‘terang’ menunjuk pada mata / pandangan mata kita; sedangkan kata ‘kegelapan’ menunjuk pada sifat kita yang berdosa.

Jadi, artinya adalah: kita pada dasarnya sudah berdosa; kalau mata kita diarahkan pada yang jahat (harta duniawi), maka kita akan makin berdosa / jahat.

4)   Kita tak bisa mengabdi pada 2 tuan (ay 24).

Kata ‘tuan’ dalam bahasa Yunaninya adalah KURIOS, yang mengandung arti ‘pemilik’ / ‘owner’.

Kata ‘mengabdi’ seharusnya berarti ‘memperhambakan diri’.

Seorang pelayan memang bisa bekerja pada 2 majikan, tetapi seorang budak / hamba adalah milik dari tuannya, sehingga tidak mungkin seorang hamba bisa mempunyai dua tuan.

Jadi, kita harus memilih: Allah atau uang!

  • Orang-orang seperti Matius dan Zakheus memilih Allah / Yesus (Mark 2:14  Luk 19:8).
  • Pemuda kaya memilih uang (Mat 19:21-22).

Bagaimana dengan saudara? Yang mana yang saudara pilih?

5)   Uang makin lama makin menjerat kita.

Wiliam Barclay memberikan penjelasan tentang kata ‘Mamon’. Ia mengatakan bahwa ‘mamon’ berarti ‘milik secara materi’ / ‘material possessions’ dan ini sebetulnya bukanlah suatu kata yang mengandung arti buruk.

  • mamon berasal dari suatu kata yang berarti ‘to entrust’ (= mempercayakan). Jadi, mamon adalah harta yang dipercayakan kepada bank / orang lain.
  • lama kelamaan, mamon bukan lagi sesuatu yang dipercayakan tetapi menjadi sesuatu yang dipercaya.
  • akhirnya, mamon menjadi dewa dalam hidup manusia dan lalu ditulis dengan huruf besar (Mamon).

Jadi, dari perkembangan arti kata ‘mamon’ ini sudah jelas terlihat bahwa mamon yang mula-mula tidak ada jeleknya itu makin lama makin menjerat manusia. Uang memang merupakan sesuatu yang berbahaya. Kalau kita tidak berhati-hati, maka bukan kita yang menguasai uang, tetapi uang yang menguasai kita. Bdk. Ayub 31:24-28.

Ay 25-34:

1)   Hubungan Mat 6:19-24 dengan Mat 6:25-34.

Dua bagian ini sebetulnya sama-sama mempersoalkan uang (makanan, minuman, pakaian dalam Mat 6:25-34 juga harus dibeli dengan uang).

Tetapi ‘mengejar uang’ lebih banyak dilakukan oleh orang kaya, sedangkan ‘kuatir’ lebih banyak dilakukan oleh orang miskin.

Setan memang seorang yang licin sekali. Pada seseorang ia menggoda supaya orang itu mengejar harta dunia. Kalau orang itu menolak, dan orang itu mau mengejar harta surgawi, maka setan datang dengan siasat yang lain dan ia akan berkata pada orang itu: ‘Kamu mengejar harta surgawi, lalu besok mau makan apa? Pakai pakaian apa?’. Dengan kata lain, ia menggoda orang itu untuk kuatir.

Tetapi Tuhan Yesus telah memperlengkapi kita, baik dengan Mat 6:19-24 maupun Mat 6:25-34, untuk menghadapi kedua macam serangan setan itu. Jadi, sebetulnya sekalipun setan itu hebat, bagi kita telah disediakan senjata Firman Allah yang bisa memperlengkapi kita secara sempurna. Tetapi, kita harus mau belajar Firman Tuhan supaya kita bisa menggunakannya untuk menghadapi serangan setan.

2)   Mengapa kita tidak boleh kuatir.

a)   Ay 25b:

  • hidup lebih penting dari makanan.
  • tubuh lebih penting dari pakaian.

Artinya: kalau Allah mau memberikan hidup / tubuh, Ia pasti juga mau memberi makanan / pakaian (yang kurang penting).

Illustrasi: orang tua mau membelikan anaknya sepeda motor, pasti juga mau membelikan bensinnya.

b)   Ay 26: burung diberi makan, sedang kita jauh lebih berharga dari burung karena kita adalah gambar Allah dan anak Allah. Jadi, kita pasti juga diberi makan.

Illustrasi: orang tua mau memberi makan pelayan, anjing, kucing. Pasti juga mau memberi makan anaknya.

Catatan: kata-kata ‘tidak menabur’, ‘tidak menuai’, dsb., tidak berarti bahwa burung tidak bekerja!

c)   Ay 28-30: bunga diberi pakaian, sedang kita jauh lebih berharga dari bunga. Bunga rumput hanya berumur satu hari, kita kekal! Jadi, kita pasti juga diberi pakaian.

Catatan: kata-kata ‘tidak bekerja’, ‘tidak memintal’, dsb., tidak berarti bahwa tanaman bunga itu tidak bekerja. Ia bekerja, misalnya akarnya mencari makanan dalam tanah dan sebagainya.

d)   Ay 26,32: ‘Bapamu’. Jadi, kita = anak Allah. Dan Bapa kita tahu kebutuhan kita (ay 32). Ia pasti memelihara kita.

e)   Kuatir bukan hanya tidak berguna, tetapi bahkan merugikan.

1.   Ay 27: kuatir tidak ada gunanya, tidak bisa memperpanjang hidup. Lamanya kita hidup telah ditentukan Allah.

2Sam 7:12 – “Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya”.

Maz 39:5-6 – “‘Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku! Sungguh, hanya beberapa telempap saja Kautentukan umurku; bagiMu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan! Sela”.

Lalu bagaimana dengan ayat-ayat seperti:

Amsal 3:1,2 – “Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambahkannya kepadamu”.

Kel 20:12 – “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”.

Ayat-ayat ini hanya meninjaunya dari sudut pandangan manusia. Kalau seseorang taat kepada Tuhan, maka Tuhan memberkati dia, sehingga seolah-olah umurnya bertambah panjang. Sebaliknya kalau seseorang tidak taat, Tuhan mermberikan hukuman mati kepadanya, sehingga seolah-olah usianya menjadi singkat. Tetapi sebetulnya semuanya telah ditentukan Tuhan.

2.   Lebih dari itu, kuatir bukan saja tidak berguna, tetapi bahkan merugikan karena bisa memberikan bermacam-macam penyakit.

f)    Ay 30: kuatir menunjukkan kurang / tidak percaya, dan ini adalah dosa (bdk. Mat 8:26  14:31  16:8).

g)   Ay 34: kuatir akan hari esok menyebabkan kita memikul beban yang terlalu berat, karena Tuhan hanya memberi kekuatan untuk beban hari ini.

3)   Sikap yang benar.

a)   Kita tidak boleh kuatir.

Tetapi ada ‘tidak kuatir’ yang salah, dan ada ‘tidak kuatir’ yang benar.

  • ‘Tidak kuatir’ yang salah:

*        Tidak kuatir karena percaya pada diri sendiri, orang tua, suami dan sebagainya. Ini salah! (Yes 31:1  Yes 2:22).

*        Tidak kuatir karena bersikap apatis / acuh tak acuh. Ini fatalist (menyerah pada nasib)! Ini juga salah!

  • ‘Tidak kuatir’ yang benar:

Tidak kuatir, karena percaya kepada Tuhan (ay 30). Untuk ini kita harus mengenal Tuhan dan supaya bisa mengenal Tuhan, kita harus belajar Firman Tuhan!

b)   Mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya (ay 33).

Ini berarti hidup untuk Tuhan, mentaati Tuhan, mengutamakan Tuhan. Kalau kita melakukan itu, Tuhan berjanji akan mencukupi kebutuhan kita.

Kita melihat suatu contoh dalam doa Salomo dalam 1Raja 3:5-13. Karena ia tidak meminta kekayaan, umur panjang dsb, tetapi meminta sesuatu yang bisa memuliakan Allah, maka Allah justru memberi semuanya untuk dia.

Banyak orang yang mau dicukupi dulu, baru hidup untuk Tuhan. Ini terbalik!

c)   Hidup untuk sehari saja (ay 34).

Ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh merencanakan untuk masa depan (bdk. Kej 41:33-36  Amsal 6:6-11). Ini hanya berarti bahwa kita tidak boleh menguatirkan masa depan. Jadi, hidup / tenaga / pikiran dipusatkan untuk hari ini saja.

Illustrasi: kalau saudara mau menebang hutan; jangan melihat pada semua pohon yang harus saudara tebang, karena itu akan membuat saudara putus asa karena banyaknya pekerjaan yang harus saudara lakukan. Lihatlah pada 1 pohon saja, dan tebanglah pohon itu! Setelah pohon itu tumbang, baru lihat pohon lain, dst!

MATIUS 7:1-6

Ay 1-5:

1)   Arti yang salah dari kata-kata ‘jangan menghakimi’:

a)   Yesus melarang adanya pengadilan.

Penafsiran ini jelas salah karena bertentangan dengan bagian-bagian Kitab Suci di bawah ini:

  • Kel 18:13-26 dimana Musa dan sejumlah orang menjadi hakim.
  • 1Raja 3:16-28 dimana Salomo menjadi hakim.
  • pemberian Undang-Undang untuk pengadilan seperti dalam Kel 21:12-dst.
  • Roma 13:1-5 – “(1) Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. (2) Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. (3) Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. (4) Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. (5) Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita”.

b)   Kita tidak boleh melakukan siasat gerejani.

Jaman sekarang ini kita mungkin sudah tidak lagi pernah mendengar tentang adanya gereja yang menjalankan siasat gerejani, dan kata-kata ‘jangan menghakimi’ ini sering dipakai oleh pendeta / majelis untuk tidak melakukan siasat gerejani. Tetapi ini jelas merupakan penggunaan yang salah, karena bertentangan dengan:

Mat 18:15-17 – “‘Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai”.

1Kor 5:1-2,9-13 – “(1) Memang orang mendengar, bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya. (2) Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu? … (9) Dalam suratku telah kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan bergaul dengan orang-orang cabul. (10) Yang aku maksudkan bukanlah dengan semua orang cabul pada umumnya dari dunia ini atau dengan semua orang kikir dan penipu atau dengan semua penyembah berhala, karena jika demikian kamu harus meninggalkan dunia ini. (11) Tetapi yang kutuliskan kepada kamu ialah, supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama. (12) Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat? (13) Mereka yang berada di luar jemaat akan dihakimi Allah. Usirlah orang yang melakukan kejahatan dari tengah-tengah kamu”.

Kedua text ini jelas mengatakan bahwa dalam hal-hal tertentu siasat gerejani harus dilakukan!

William Hendriksen: “Luke 6:37 has been used at times as an excuse for laxity in exercising church discipline, but in the light of its context, and also of Matt. 18:15-18 and John 20:23, such use of this passage is without any justification” (= Lukas 6:37 kadang-kadang digunakan sebagai suatu alasan untuk tidak melakukan disiplin gerejani, tetapi dalam terang dari kontexnya, dan juga dari Mat 18:15-18 dan Yoh 20:23, penggunaan seperti itu dari text ini tidak dapat dibenarkan)‘The Gospel of Luke’, hal 355.

c)   Kita harus membutakan diri terhadap kesalahan orang lain; kita tidak boleh menilai orang lain ataupun mengkritik / menegur orang lain.

Secara sadar atau tidak, ada banyak sekali orang kristen ataupun hamba Tuhan yang mengambil penafsiran ini. Ini terlihat pada waktu mereka menggunakan kata-kata ‘jangan menghakimi’ ini terhadap orang yang mencela suatu ajaran sesat atau seorang nabi palsu.

Orang-orang ini tidak menyadari bahwa pada waktu mereka mengatakan kata-kata ‘jangan menghakimi’ kepada seseorang, mereka sendiri sudah menghakimi orang itu!

Alasan yang sering dikemukakan untuk melarang menghakimi secara total:

1.   Itu tidak kasih. Ini salah, karena kita menilai seseorang bisa dengan tujuan meluruskan orang itu dari kesalahan / kesesatannya, dan juga untuk menolong supaya orang lain tidak ikut dengan kesesatan tersebut.

2.   Kita tidak boleh bertengkar, kita harus cinta damai. Ini salah, karena:

  • kalau kita membiarkan kesesatan dengan alasan cinta damai, kita tidak mencintai orang-orang yang bisa menjadi korban kesesatan itu.
  • menyatakan kesalahan / kesesatan seseorang tidak berarti harus bertengkar. Tetapi kalau toh terpaksa bertengkar, karena orang yang ditegur tidak mau bertobat, perlu kita ketahui bahwa kebenaran lebih berharga dari pada perdamaian, dan perdamaian harus rela dikorbankan demi kebenaran. Dalam Yak 3:17 dikatakan: “Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik”. Perhatikan bahwa ‘murni’ mendahului ‘pendamai’, dan karena itu kebenaran harus lebih diutamakan dari perdamaian.

Pada waktu Martin Luther melihat adanya begitu banyak ajaran dan praktek yang salah dari gereja Roma Katolik pada saat itu, apakah ia tetap memelihara perdamaian? Tidak, tetapi sebaliknya ia memakukan 95 thesisnya di pintu gereja Witten­berg, dan ini akhirnya menimbulkan perpecahan dalam gereja! Beranikah saudara menyalahkan Martin Luther dan menganggap­nya sebagai orang yang tidak cinta damai?

Thomas Manton: “If the chiefest care must be for purity, then peace may be broken in truth’s quarrel. It is a zealous speech of Luther that rather heaven and earth should be blended together in confusion than one jot of truth perish” (= Jika perhatian yang paling utama adalah untuk kemurnian, maka damai boleh dihancurkan dalam pertengkaran kebenaran. Merupakan suatu ucapan yang bersemangat dari Luther bahwa lebih baik langit dan bumi bercampur aduk menjadi satu dari pada satu titik kebenaran binasa) – hal 316.

Calvin, dalam komentarnya tentang Ef 5:11, berkata:

“But rather than the truth of God shall not remain unshaken, let a hundred worlds perish” (= Dari pada kebenaran Allah tergoncangkan, lebih baik seratus dunia binasa).

3.   Kita tidak maha tahu. Sekalipun kita memang tidak maha tahu, tetapi Allah telah memberi kita Kitab Suci / Firman Tuhan, yang salah satu fungsinya adalah ‘menyatakan kesalahan’.

2Tim 3:16-17 – “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik”.

Jadi, dengan belajar Kitab Suci kita bisa tahu mana yang benar dan mana yang salah / sesat. Mengatakan ‘kita tidak tahu’ seringkali bukan merupakan perwujudan dari kerendahan hati, tetapi justru merupakan perwujudan dari suatu sikap tegar tengkuk, yang sekalipun sudah diberi tahu tetapi tetap tidak mau tahu!

4.   Hanya Allah yang berhak menghakimi (Yak 4:12  Ro 12:17-20).

Ayat-ayat ini digunakan out of context, karena Ro 12:17-20 itu diberikan dalam kontext yang melarang balas dendam, dan Yak 4:12 dalam kontext orang yang menyalahkan orang lain berdasarkan pemikirannya sendiri, bukan berdasarkan Firman Tuhan. Jadi, semua ini tidak bisa diterapkan kepada orang yang menilai orang lain betul-betul berdasarkan Kitab Suci / Firman Tuhan.

Saya berpendapat bahwa kita boleh menilai, menyalahkan, dan mengecam seseorang, karena:

a.   Yesus sendiri mengecam dan mengutuk orang-orang Farisi, ahli-ahli Taurat, orang-orang Saduki, dan ajarannya (Mat 5:20-48  Mat 6:1-18  Mat 15:1-14  Mat 16:1-12  Mat 21:45  Mat 22:29  Mat 23:1-36).

b.   Paulus juga mengutuk para nabi palsu (Gal 1:6-9), dan memarahi jemaat Korintus karena mereka sabar terhadap nabi-nabi palsu (2Kor 11:4). Ia juga menyetujui kecaman terhadap orang Kreta dan memerintahkan Titus untuk menegur mereka (Tit 1:12-13), mengecam Himeneus, Filetus dan Aleksander (1Tim 1:20  2Tim 2:17,18  2Tim 4:14).

c.   Yohanes mengecam Diotrefes (3Yoh 9-10).

d.   Dalam Yoh 7:24 Yesus berkata: “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil”.

Dengan kata-kata ini, Yesus jelas membolehkan kita untuk menghakimi / menilai orang lain asal kita melakukannya dengan adil, dengan memperhatikan fakta-fakta secara keseluruhan.

e.   Kitab Suci juga memberikan perintah atau larangan berkenaan dengan nabi-nabi palsu, seperti:

  • 2Yoh 10-11 – “Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat”.
  • Tit 3:10 – “Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi”.

Bagaimana bisa melaksanakan hal ini kalau kita tidak lebih dulu membentuk pandangan bahwa seseorang itu memang adalah nabi palsu?

f.    Dalam Kitab Suci juga ada ayat-ayat yang menyuruh kita menguji segala sesuatu / pengajar-pengajar, seperti:

  • 1Tes 5:21 – “Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik”.

Bagaimana kita bisa memegang yang baik, kalau tidak menilai lebih dulu mana yang baik dan mana yang buruk, dan lalu membuang yang buruk?

  • 1Yoh 4:1-3 – “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia”.

g.   Larangan menghakimi ini (Mat 7:1-5) disusul dengan larangan untuk memberikan barang kudus kepada anjing atau mutiara kepada babi (Mat 7:6). Bagaimana kita bisa mentaati larangan dalam Mat 7:6 ini, kalau kita tidak lebih dulu membentuk suatu pandangan bahwa seseorang itu adalah anjing / babi, yang tidak layak diberi mutiara / barang yang kudus? Juga Mat 7:15 menyuruh berhati-hati terhadap nabi-nabi palsu. Bagaimana kita bisa mentaati peringatan / perintah ini kalau kita tidak membentuk suatu pandangan bahwa seseorang itu adalah nabi palsu. Lebih-lebih Mat 7:15 itu dilanjutkan dengan Mat 7:16, yang mengatakan bahwa dari buahnya kita mengenal pohonnya. Karena itu, jelas bahwa kita boleh memastikan bahwa suatu pohon itu jelek, kalau kita melihat buah yang jelek.

h.   Ay 3-5 yang berbunyi: “(3) Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? (4) Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. (5) Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.’”, tidak berarti kita harus mendiamkan kesalahan orang lain, tetapi bahwa kita harus mengoreksi diri sendiri lebih dulu sebelum mengoreksi orang lain.

Bertentangan dengan banyak orang jaman sekarang yang menganggap bahwa kita sama sekali dilarang untuk menghakimi, hampir semua penafsir mengatakan bahwa kita harus menghakimi!

Pulpit Commentary: “Men must be judged by us also. We have to decide whether we will give them our confidence, our friendship; whether we will admit them into the family circle, into the society, into the Church. To decline to judge men is to neglect one of the most serious duties and most weighty obligation of our life” (= Kita juga harus menghakimi manusia. Kita harus memutuskan apakah kita akan memberikan mereka kepercayaan kita, persahabatan kita; apakah kita akan menerima mereka ke dalam lingkungan keluarga, ke dalam masyarakat, ke dalam Gereja. Menolak untuk menghakimi manusia berarti mengabaikan salah satu kewajiban yang paling serius dan penting dari hidup kita)‘The Gospel According to Luke’, hal 159.

Calvin: “this passage is altogether misapplied by those persons who would desire to make that moderation, which Christ recommends, a pretence for setting aside all distinction between good and evil. We are not only permitted, but are even bound, to condemn all sins; unless we choose to rebel against God himself, – nay, to repeal his laws, to reverse his decisions, and to overturn his judgment-seat. It is his will that we should proclaim the sentence which he pronounces on the actions of men: only we must preserve such modesty towards each other, as to make it manifest that he is the only Lawgiver and Judge, (Isa 33:22)” [= text ini disalahgunakan oleh orang-orang yang ingin membuat penghakiman terbatas / tak berlebihan yang dinasehatkan Kristus sebagai suatu alasan untuk menyingkirkan semua perbedaan antara baik dan jahat. Kita bukan hanya diijinkan, tetapi bahkan diharuskan, untuk mengecam semua dosa; kecuali kita memilih untuk memberontak terhadap Allah sendiri, – tidak, mencabut hukum-hukumNya, membalik keputusan-keputusanNya, dan membalik takhta penghakimanNya. Merupakan kehendakNya bahwa kita menyatakan hukuman yang Ia umumkan terhadap tindakan-tindakan manusia: hanya kita harus menjaga kerendahan hati satu terhadap yang lain, sehingga menjadi nyata bahwa Ia adalah satu-satunya Pemberi hukum dan Hakim (Yes 33:22)] – hal 346-347.

2)   Arti yang benar dari kata-kata ‘jangan menghakimi’:

Larangan menghakimi ini kelihatannya ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang Farisi, dan / atau orang-orang yang segolongan dengan mereka, yang:

a)   Menganggap diri sendiri benar.

D. Martyn Lloyd-Jones memberi contoh penghakiman yang salah yang dimaksudkan oleh Yesus, yaitu orang Farisi yang berdoa di Bait Suci yang berkata: “Ya Allah, aku mengucap syukur kepadaMu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini” (Luk 18:11). Di belakang penghakiman yang salah ada ‘self-righteous spirit’ (= roh yang menganggap diri sendiri benar). Karena itu Yesus menambahkan Mat 7:3-5 / Luk 6:41-42.

D. Martyn Lloyd-Jones: “What is this spirit that condemns? It is a self-righteous spirit. Self is always at the back of it, and it is always a manifestation of self-righteousness, a feeling of superiority, and a feeling that we are all right while others are not. That then leads to censoriousness, and a spirit that is always ready to express itself in a derogatory manner. And then, accompanying that, there is the tendency to despise others, to regard them with contempt. I am not only describing the Pharisees, I am describing all who have the spirit of the Pharisee” (= Apakah roh yang menghukum ini? Itu adalah roh yang merasa dirinya sendiri benar. Diri sendiri / si aku selalu ada di belakangnya, dan itu selalu merupakan manifestasi dari perasaan bahwa dirinya sendiri benar, suatu perasaan superior / lebih tinggi, dan suatu perasaan bahwa kita benar sementara orang lain tidak. Itu lalu membawa kepada sikap suka mengkritik, dan suatu roh / semangat yang selalu siap untuk menyatakan dirinya sendiri dengan cara yang merendahkan orang lain. Dan lalu, bersama-sama dengan itu, di sana ada kecenderungan untuk menghina orang lain, memandang orang lain dengan jijik. Saya bukan hanya menggambarkan orang Farisi, saya menggambarkan semua yang mempunyai roh orang Farisi)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 167.

b)   Terlalu gampang dan cepat menyalahkan orang lain sebelum mengetahui seluruh persoalannya lebih dulu. Bdk. Yoh 7:24 – “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil”.

c)   Menegur / mengecam dengan kemarahan yang tak terkendali, tanpa kasih / belas kasihan.

Bandingkan dengan Yohanes dan Yakobus yang ingin menurunkan api dari langit ke atas orang-orang Samaria (Luk 9:51-56). Pulpit Commentary (hal 159) mengatakan bahwa penghakiman seperti ini mempunyai kecenderungan untuk menghancurkan dari pada memperbaiki.

d)   Membesar-besarkan kesalahan orang lain.

e)   Mempunyai sikap hyper-critical / terlalu kritis, yang biasanya selalu mencari-cari kesalahan orang, dan merasa senang pada saat bisa menemukan dan mengecam kesalahan orang lain.

D. Martyn Lloyd-Jones: “a very vital part of this spirit is the tendency to be hypercritical. Now there is all the difference in the world between being critical and being hypercritical. … The man who is guilty of judging, in the sense in which our Lord uses the term here, is the man who is hypercritical, which means that he delights in criticism for its own sake and enjoys it. I am afraid I must go further and say that he is a man who approaches anything which he is asked to criticize expecting to find faults, indeed, almost hoping to find them. … Love ‘hopeth all things’, but this spirit hopes for the worst; it gets a malicious, malign satisfaction in finding faults and blemishes” (= suatu bagian vital dari roh ini adalah kecenderungan untuk menjadi terlalu kritis. Ada perbedaan yang sangat besar antara kritis dan terlalu kritis. … Orang yang dipersalahkan tentang penghakiman, dalam arti yang digunakan oleh Tuhan kita di sini, adalah orang yang terlalu kritis, yang berarti bahwa ia menyenangi kritik demi kritik itu sendiri dan menikmatinya. Saya harus meneruskan dan berkata bahwa ia adalah orang yang mendekati segala sesuatu, untuk mana ia diminta untuk mengkritik, sambil mengharapkan bahwa ia akan menemukan kesalahan-kesalahan. … Kasih ‘mengharapkan segala sesuatu’, tetapi roh ini mengharapkan yang terburuk; ia mendapatkan kepuasan yang jahat dan membahayakan dalam menemukan kesalahan-kesalahan dan cacat-cacat)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 167.

D. Martyn Lloyd-Jones: “If ever we know the feeling of being rather pleased when we hear something unpleasant about another, that is this wrong spirit. If we are jealous, or envious, and then suddenly hear that the one of whom we are jealous or envious has made a mistake and find that there is an immediate sense of pleasure within us, that is it” (= Jika kita pernah mengetahui perasaan senang pada waktu kita mendengar sesuatu yang tidak menyenangkan tentang orang lain, maka inilah roh yang salah itu. Jika kita cemburu atau iri hati, dan lalu tiba-tiba kita mendengar bahwa orang terhadap siapa kita cemburu atau iri hati itu telah membuat kesalahan dan kita mendapatkan bahwa di dalam diri kita langsung ada perasaan gembira, maka itulah roh itu)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 168.

3)   Mengapa kita tidak boleh menghakimi?

Catatan: tentu saja yang saya maksud dengan ‘tidak menghakimi’ di sini adalah ‘tidak menghakimi secara salah’.

a)   Kita sendiri mempunyai banyak kesalahan, bahkan mungkin kesalahan yang lebih besar (ay 3-5). Bdk. Ro 2:1-3 – “Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah?”.

b)   Orang yang menghakimi / menghukum akan dihakimi / dihukum; balasan ini bisa datang dari manusia dan / atau dari Allah.

Ada orang yang keberatan terhadap kata ‘dihakimi’ / ‘dihukum’, karena mereka berpendapat bahwa orang kristen tidak bisa dihakimi / dihukum. Untuk menjawab ini maka Lloyd-Jones mengatakan bahwa ada 3 macam penghakiman dari Allah kepada kita:

1.   Penghakiman akhir jaman yang menentukan kita masuk surga atau neraka.

Orang kristen yang sejati pasti lulus dalam penghakiman ini. Penebusan Kristus membuat mereka pasti diampuni dan masuk surga. Tetapi masih ada 2 penghakiman lain, yang mempengaruhi orang kristen!

2.   Penghakiman / penghukuman dalam arti menghajar (Ibr 12:5-11).

3.   Penghakiman untuk menentukan pahala.

2Kor 5:10 – “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat”.

D. Martyn Lloyd-Jones lalu menyimpulkan:

“Though we are Christians, and are justified by faith, and have an assurance of our salvation, and know we are going to heaven, we are yet subject to this judgment here in this life, and also after this life” (= Sekalipun kita adalah orang-orang Kristen, dan dibenarkan oleh iman, dan mempunyai keyakinan keselamatan, dan tahu bahwa kita akan pergi ke surga, tetapi kita menjadi sasaran penghakiman ini di sini dalam kehidupan ini, dan juga setelah kehidupan ini)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 176.

c)   Penghakiman yang kita lakukan akan menjadi standard penghakiman terhadap diri kita sendiri.

Ay 2: “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu”.

D. Martyn Lloyd-Jones: “The second reason for not judging is that, by so doing, we are not only produce judgment for ourselves, we even set the standard of our own judgment” (= Alasan kedua untuk tidak menghakimi adalah bahwa dengan melakukan itu kita bukan hanya menghasilkan penghakiman terhadap diri kita sendiri, tetapi kita bahkan menetapkan standard penghakiman kita sendiri)‘Studies in the Sermon on the Mount’, hal 176.

Calvin mengatakan bahwa ini berarti bahwa orang yang murah hati akan diperlakukan dengan murah hati. Tetapi Calvin juga mengingatkan bahwa juga sering terjadi bahwa orang kristen yang murah hati justru diperlakukan dengan jelek, difitnah dan sebagainya. Kalau ini terjadi maka harus dingat 2 hal:

1.   Tidak ada orang kristen yang bisa melakukan semua ini dengan sempurna. Semua orang pernah melakukan penghakiman yang salah, sehingga kalau mereka mengalami penghakiman yang salah, mereka tetap layak mendapatkannya.

2.   Suatu saat Tuhan akan memunculkan kebenaran mereka.

4)   Cara memberikan kritikan / teguran yang benar.

a)   Kita harus mempunyai motivasi yang benar, yaitu kasih.

Kalau kita mau mengkritik / menegur tetapi dalam hati kita tidak ada kasih maka sebaiknya kita membatalkan rencana untuk menegur itu. Kalau kita menegur dengan motivasi kasih maka kita akan menegur untuk kebaikan orang yang kita tegur. Teguran yang diberikan hanya untuk melampiaskan kejengkelan jelas tidak diberikan dengan kasih.

b)   Kritikan baru boleh diberikan setelah kita mengetahui duduk perkaranya dengan benar / jelas. Bdk. Yoh 7:24 – “Janganlah menghakimi menurut apa yang nampak, tetapi hakimilah dengan adil.’”. Jadi, jangan mengkritik hanya karena saudara mendengar kabar angin, atau pada waktu saudara hanya tahu sebagian dari fakta-fakta yang ada.

c)   Kritikan baru boleh diberikan setelah saudara mengintrospeksi diri saudara sendiri (ay 3-5).

  • Adanya dosa dalam diri kita bisa menyebabkan kita ‘melihat’ dosa-dosa yang sebetulnya tidak pernah ada pada diri orang yang kita tegur. Misalnya: kalau saudara benci / sentimen pada seseorang, maka segala yang orang itu lakukan akan saudara rasakan sebagai sesuatu yang salah. Saudara harus membereskan dosa saudara ini dulu, dan kalau saudara sudah bisa mengasihi orang itu, maka saudara mungkin akan melihat bahwa banyak (bahkan mungkin semua) kesalahan orang itu sebetulnya tidak pernah ada.

Illustrasi: Orang melihat tetangganya menjemur pakaian yang masih kotor, padahal sebetulnya kaca jendelanya sendiri, melalui mana ia melihat jemuran tetangganya, yang kotor.

  • Pada waktu saudara introspeksi mungkin saudara lalu melihat bahwa saudara pernah melakukan dosa-dosa tertentu di masa lalu terhadap mana saudara sudah bertobat. Ini tidak perlu dan tidak boleh menyebabkan saudara takut untuk menegur. Ay 5 menunjukkan bahwa kalau balok di mata kita itu sudah dikeluarkan, maka kita boleh mengeluarkan selumbar dari mata saudara kita.

d)   Pada waktu mengkritik, saudara harus menunjukkan kesalahan orang itu dengan jelas / specific, bukan secara samar-samar / kabur / tidak jelas. Kalau saudara menyatakannya secara samar-samar, maka orang itu tidak tahu tindakan apa yang menyebabkan ia menjadi batu sandungan sehingga ia tidak bisa mengubah tindakannya. Jadi, sebutkan tindakan apa yang menyebabkan ia menjadi batu sandungan.

Misalnya:

  • jangan menegur seseorang dengan kata-kata ‘kamu itu menjengkelkan’. Ini tidak jelas, dan tidak memungkinkan orang itu untuk bertobat / memperbaiki dirinya. Saudara harus menegur dengan jelas, misalnya: ‘kamu itu menjengkelkan, karena kalau berhutang tidak pernah membayar’, atau ‘kamu itu menjengkelkan, karena selalu tidak menepati janji’.
  • jangan menegur seorang pengkhotbah dengan mengatakan ‘khotbahmu jelek’. Saudara harus memberi tahu ‘jelek dalam hal apa’? Tidak ada arahnya? Tidak sistimatis? Tidak ada penerapan? Tidak ada pendalaman?
  • jangan menegur seorang pengurus dengan mengatakan ‘kamu tidak becus jadi pengurus’. Saudara harus menjelaskan ‘dalam hal apa dia tidak becus’. Tidak becus karena acara yang dibuat tidak menarik? Tidak becus dalam mengakrabkan anggota-anggota pengurus yang lain? Tidak becus dalam menggerakkan anggota-anggota pengurus yang lain untuk bekerja?

e)   Kritikan harus diberikan dengan cara yang tepat dan pada saat yang tepat.

1.   Cara yang tepat tergantung situasi dan kondisi; bisa berupa teguran yang keras atau yang lemah lembut, bisa langsung atau melalui orang lain atau bahkan melalui surat (tetapi jangan melalui surat kaleng, karena ini bertentangan dengan Mat 18:15).

2.   Saat yang tidak tepat juga sangat penting (Amsal 15:23  25:11).

Kalau kita menegur orang pada saat orang itu sedang marah atau sedang sangat sedih, itu tentu salah.

Ay 6: “‘Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.’”.

1)   Barang kudus dan mutiara (barang berharga). Apa artinya? Ada 2 penafsiran:

a)   Perjamuan kudus. Jadi, yang dimaksud dengan ‘barang kudus’ dan ‘mutiara’ adalah roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus. Ini tidak boleh diberikan kepada ‘anjing’ / ‘babi’ yang diartikan sebagai orang yang belum kristen. Penafsiran ini tidak bisa dibenarkan karena ay 6b ada kata-kata ‘diinjak-injak’ dan ‘mengoyak’ yang menjadi kehilangan artinya kalau ‘barang kudus’ dan ‘mutiara’ diartikan demikian.

b)   Firman Tuhan / Injil. Dari kedua istilah yang digunakan oleh Yesus ini, kita harus tahu betapa tingginya kita harus menilai Firman Tuhan / Injil! Jangan sedikitpun punya perasaan merendahkan terhadap Firman Tuhan / Injil, kalau saudara tidak mau disebut sebagai babi dan anjing!

2)   Babi dan anjing. Ada 2 pandangan lagi tentang babi dan anjing ini:

a)   Orang-orang non Yahudi.

Ini jelas adalah penafsiran dari orang-orang Yahudi abad-abad pertama. Mereka menganggap Injil / Firman Tuhan hanya boleh diberitakan kepada orang Yahudi. Ini tentu bertentangan dengan Mat 28:19 dan Kis 1:8, yang jelas memerintahkan kita untuk memberitakan Injil kepada semua bangsa.

b)   Orang-orang yang tidak menghargai Injil dan lalu menghina / menghujat injil atau membuatnya sebagai lelucon / bahan guyonan. Terhadap orang-orang seperti ini penginjilan harus dihentikan.

Injil adalah sesuatu yang kudus / berharga. Memang Injil harus diberitakan kepada orang jahat / yang belum percaya, tetapi kalau mereka menghinanya, kita harus berhenti dalam memberitakan Injil. Jelas bahwa tidak semua orang yang tidak percaya bisa dianggap sebagai anjing / babi. Hanya mereka yang menghinanya bisa dianggap seperti itu.

Karena itu kalau saudara tetap ‘bertekun’ dalam memberitakan Injil sekalipun orang yang saudara injili itu membuatnya sebagai guyonan dan ejekan, sadarilah bahwa itu bukanlah ketekunan dalam memberitakan Injil, tetapi dosa!

William Hendriksen: “Christ’s disciples must not endlessly continue to bring the gospel message to those who scorn it. To be sure, patience must be exercised, but there is a limit. … Staying on and on in the company of those who ridicule the Christian religion is not fair to other fields that are waiting to be served” (= Murid-murid Kristus tidak boleh terus menerus membawa berita Injil kepada mereka yang memandang rendah / mencemoohkannya. Jelas bahwa kita harus sabar, tetapi ada batasnya. … Tinggal terus menerus dalam kumpulan orang-orang yang mengejek / mentertawakan / mencemoohkan agama Kristen merupakan sikap yang tidak adil terhadap ladang-ladang lain yang sedang menunggu untuk dilayani) – hal 359-360.

Hendriksen juga menunjukkan beberapa fakta yang penting berkenaan dengan hal ini, yaitu:

  • Herodes telah cukup banyak mendengar dari Yohanes Pembaptis (Mark 6:20), dan karena itu Yesus tidak mau berbicara sepatah katapun kepadanya (Luk 23:9).
  • Yesus menginstruksikan murid-muridNya untuk tidak tinggal terlalu lama di tempat-tempat yang menolak pemberitaan Injil mereka (Mat 10:14,23). Ini dituruti oleh Paulus (Kis 13:45-46  Kis 18:5-6  Kis 28:23-28).
  • Yesus memberikan perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah (Luk 13:6-9) yang jelas menunjukkan bahwa kesabaran Allah bukanlah tanpa batas.
  • Tit 3:10-11 – “(10) Seorang bidat yang sudah satu dua kali kaunasihati, hendaklah engkau jauhi. (11) Engkau tahu bahwa orang yang semacam itu benar-benar sesat dan dengan dosanya menghukum dirinya sendiri”.
  • Amsal 29:1 – “Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi”.

3)   Tuhan sendiri juga akan ‘mentaati’ Mat 7:6 ini, dengan menarik Injil / FirmanNya dari orang-orang yang tidak menghargainya.

Yoh 12:35-36 – “Kata Yesus kepada mereka: ‘Hanya sedikit waktu lagi terang ada di antara kamu. Selama terang itu ada padamu, percayalah kepadanya, supaya kegelapan jangan menguasai kamu; barangsiapa berjalan dalam kegelapan, ia tidak tahu ke mana ia pergi. (36) Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang.’ Sesudah berkata demikian, Yesus pergi bersembunyi dari antara mereka”.

Yes 55:6 – “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepadaNya selama Ia dekat!”.

Karena itu bertobatlah secepatnya, dan hargailah Firman Tuhan!

MATIUS 7:7-14

Mat 7:7-11

1)   Ini adalah suatu perintah untuk berdoa. Doa bukan sekedar sesuatu yang diijinkan tetapi merupakan sesuatu yang diperintahkan. Karena itu, ‘tidak berdoa’ merupakan suatu dosa (bdk. 1Sam 12:23).

Ada orang-orang yang menganggap doa itu tak ada gunanya karena berdoa atau tidak berdoa toh tidak ada bedanya. Orang yang tidak berdoa juga diberi makan, lulus ujian dan sebagainya.

Tentang hal ini ada dua hal yang perlu kita perhatikan:

a)   Dalam hal jasmani, memang ada kemungkinan orang yang tak berdoapun akan menerima sesuatu dari Tuhan. Tetapi kita tetap harus membedakan antara pemberian Tuhan sebagai Pencipta kepada manusia ciptaanNya dan pemberian Tuhan sebagai Bapa kepada anakNya.

b)   Dalam hal rohani, orang yang tidak minta tidak akan menerima. Misalnya: pengampunan dosa hanya diberikan oleh Allah kepada mereka yang memintanya.

Jadi, berdoa ada gunanya dan kita diperintahkan untuk berdoa. Seberapa banyak saudara berdoa?

2)   Kata-kata ‘mintalah’, ‘carilah’, dan ‘ketoklah’ dalam ay 7 ada dalam bentuk present imperative. Dalam bahasa Yunani ada dua bentuk perintah yaitu:

  • aorist imperative: ini adalah perintah yang hanya perlu dilakukan 1 x. Contoh: Yoh 2:7.
  • present imperative: ini adalah perintah yang harus dilakukan terus-menerus. Contoh: Ef 5:18.

Kata-kata dalam Mat 7:7 itu ada dalam bentuk present imperative dan karena itu berarti bahwa kita harus terus menerus berdoa. Adakah saudara sudah berdoa dengan tekun?

3)   Tuhan hanya memberi yang baik kepada kita (ay 11).

a)   Ayat yang pararel dengan Mat 7:11 adalah Luk 11:13 – “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepadaNya.’”.

Tetapi di situ disebutkan ‘Roh Kudus’ (dalam bahasa Yunani tanpa definite article ‘the’). Apa artinya? Ada beberapa penafsiran:

1.   Ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud betul-betul Roh Kudus (pribadi ke-3 dari Allah Tritunggal), tetapi ini hanya berlaku untuk jaman itu. Mereka disuruh minta Roh Kudus karena pada saat itu Roh Kudus belum turun (peristiwa itu terjadi sebelum hari Pentakosta). Pada jaman ini setiap orang yang percaya kepada Kristus, pasti sudah menerima Roh Kudus sehingga tak perlu minta lagi. (Ef 1:13  Ro 8:9-11).

2.   Itu berarti ‘kehadiran dan pekerjaan Roh Kudus dalam diri kita’.

Pulpit Commentary: “Here the Lord, … pictures the case of one who deserves a special deepening of the spiritual life, and prays some prayer for the presence of the Holy Spirit. Such a prayer, says Christ, must be granted” (= Di sini Tuhan, … menggambarkan kasus dari seseorang yang layak mendapatkan pendalaman kehidupan rohani yang khusus, dan mendoakan suatu doa untuk kehadiran dari Roh Kudus. Doa seperti itu, kata Kristus, pasti dikabulkan) – hal 302.

3.   Itu berarti hal-hal yang bersifat rohani.

Calvin (hal 354) termasuk dalam golongan ini.

4.   Ada yang berkata bahwa istilah ‘Roh Kudus’ mencakup ‘semua hal yang baik’.

William Hendriksen: “Here Matthew’s version has ‘good gifts,’ while Luke’s has ‘the Holy Spirit.’ These two are in perfect accord, for is not the Holy Spirit the very Source of all that is good?” (= Di sini versi Matius mengatakan ‘’pemberian yang baik’ sementara versi Lukas mengatakan ‘Roh Kudus’. Kedua hal ini sesuai secara sempurna, karena bukankah Roh Kudus adalah Sumber dari semua yang baik?) – hal 613-614.

Bandingkan Luk 11:13 ini dengan Yes 44:3b – “Aku akan mencurahkan RohKu ke atas keturunanmu, dan berkatKu ke atas anak cucumu”. Ini bisa dianggap sebagai ‘synonymous parallelism’ (2 kalimat paralel yang sinonim / berarti sama), sehingga ‘RohKu’ = ‘berkatKu’.

Saya condong pada penafsiran yang terakhir ini.

b)   Waktu kita menafsirkan ay 7-8, kita harus memperhatikan ay 9-11.

Ada banyak orang yang menafsirkan ay 7-8 terlepas dari ay 9-11 sehingga mereka menyimpulkan bahwa Allah akan memberikan segala sesuatu yang kita minta. Ini salah! Karena jelas sekali ay 11 mengatakan bahwa Allah hanya memberi yang baik kepada kita. Yang dimaksud dengan ‘yang baik’ itu jelas adalah yang baik dari sudut pandang Allah, bukan sudut pandangan kita.

c)   Kadang-kadang ada orang yang berdoa untuk meminta sesuatu yang jelas-jelas adalah dosa tetapi dikabulkan. Bagaimana hal itu terjadi? Penjelasan:

  • pengabulan itu mungkin datang dari setan.
  • pengabulan itu bisa datang dari Tuhan karena Tuhan hendak menghajar orang itu (1Sam 8:6-9).

d)   Supaya doa kita tak sia-sia, maka kita harus meminta apa yang baik. Supaya kita tahu apa yang baik, kita harus belajar Firman Tuhan! Jadi, doa tidak bisa dipisahkan dari Firman Tuhan. Orang yang tidak mengerti Firman Tuhan tidak akan bisa berdoa dengan baik / benar.

e)   Kalau Allah mmberikan semua yang kita, itu sebetulnya adalah malapetaka bagi kita karena kita akan menerima segala sesuatu menurut kebijaksanaan kita. Kalau Allah menyensor permintaan kita, maka kita akan menerima segala sesuatu sesuai kebijaksanaan Allah.

Illustrasi: kalau orang tua menuruti segala permintaan anak, itu mencelakakan / membunuh anak itu!

Seseorang mengatakan:

“The Lord’s answers to prayers are infinitely perfect, and they will show that often when we were asking for a stone that looked like bread, He was giving us bread that to our shortsightedness looked like stone” (= Jawaban-jawaban Tuhan terhadap doa-doa adalah sempurna secara tak terbatas, dan mereka menunjukkan bahwa seringkali pada saat kita meminta untuk suatu batu yang kelihatannya seperti roti, Ia memberikan kepada kita roti yang bagi penglihatan kita yang cupet terlihat seperti batu) – ‘Streams in the Desert’, vol 2, January 7.

Mat 7:12

Confucius mengatakan kalimat ini secara negatif: ‘Jangan lakukan kepada orang lain sesuatu yang engkau tak ingin dilakukan terhadap dirimu sendiri’.

Tuhan Yesus mengajarkan sesuatu yang positif dalam ay 12 ini. Yang positif lebih luas dari yang negatif. Contoh: ‘Kasihilah sesamamu’ (positif) lebih luas dari ‘Jangan membunuh’ (negatif).

Untuk mentaati ajaran Confucius kita hanya perlu berpikir: ‘Apakah aku senang orang lain melakukan hal ini terhadap aku?’. Tetapi untuk melakukan ajaran Yesus dalam ay 12 ini membutuhkan imaginasi: ‘Apa yang aku ingin orang lakukan terhadap aku dalam situasi ini?’.

Ay 12b mirip dengan Mat 22:40. Tetapi ay 12b salah terjemahan. NASB menterjemahkan ‘for this is the Law and the Prophets’ (= karena inilah hukum Taurat dan kitab para nabi).

Jadi, sebetulnya tak ada kata ‘seluruh’ dalam ay 12b. Dalam Mat 22:40 ada kata ‘seluruh’. Mengapa berbeda? Mat 22:37-39 membicarakan kasih pada Allah dan kasih kepada manusia yang memang merupakan inti dari seluruh Perjanjian Lama. Sedangkan Mat 7:12a hanya membahas tentang kasih kepada manusia saja. Karena itu tak digunakan kata ‘seluruh’ dalam Mat 7:12b.

Mat 7:13-14

1)   2 pintu dan 2 jalan.

a)   Ada yang menganggap bahwa pintu = jalan. Tetapi ada 2 alasan yang tidak memungkinkan penafsiran seperti itu:

  • ay 13 dan 14 mengatakan ‘pintu dan jalan’ bukan ‘pintu atau jalan’.
  • ‘pintu’ hanya dilewati sesaat saja; ‘jalan’ dilewati untuk jangka waktu yang cukup lama.

Ada yang menganggap ‘jalan’ mendahului ‘pintu’. Jadi, ‘pintu’ diartikan sebagai kematian (akhir dari ‘jalan’). Tetapi ay 13 dan ay 14 kedua-duanya mendahulukan ‘pintu’ dari pada ‘jalan’!

Jadi, ‘pintu’ bisa diartikan sikap terhadap Kristus (tindakan sesaat saja). Sedangkan ‘jalan’ diartikan seluruh hidup kita / sikap kita terhadap Firman Tuhan.

b)   Pintu / jalan yang sempit menunjukkan ada banyak hal yang harus ditinggalkan yaitu segala dosa. Bahkan kadang-kadang keluarga, uang dan sebagainya.

Pintu / jalan yang lebar menunjukkan kita bisa membawa segala sesuatu yang kita senangi (seadanya dosa-dosa kita).

c)   Pintu / jalan yang lebar menggambarkan hidup yang gampang dan enak. Bisa nyogok, curi, dusta, kompromi, ngerpek, punya banyak istri, zinah dan sebagainya.

Pintu / jalan sempit menggambarkan kesukaran! Mat 7:13 mengatakan ‘Masuklah …’. Tetapi ayat pararelnya yaitu Luk 13:24 mengatakan ‘Berjuanglah …’ [NIV: ‘Make every effort …’ (= Lakukan setiap usaha)]. Ini semua jelas menunjukkan bahwa kita tidak mungkin masuk surga tanpa melalui kesukaran (bdk. Kis 14:22  Fil 1:29  2Tim 3:12).

d)   Yesus hanya memberikan 2 pilihan:

  • pintu sempit – jalan sempit – kehidupan (surga).
  • pintu lebar – jalan lebar – kebinasaan (neraka).

Ada banyak orang yang menginginkan jalan yang ke 3 yaitu ‘jalan yang cukupan’. Karena itu mereka hidup berkompromi dengan dunia!

Theologia Kemakmuran mengajarkan bahwa pintu dan jalan yang lebar akan menuju pada kehidupan / surga, dan jelas bertentangan dengan kata-kata Yesus di sini.

e)   Problem: Im 26:1-13 mengatakan kalau ikut Tuhan bakal enak dan sebaliknya Im 26:14-39 mengatakan kalau tidak ikut Tuhan bakal menderita. Baca juga Ul 30:15-20 dan Yos 1:1-9. Semua ini rasanya bertentangan dengan Mat 7:13-14.

Penjelasan Calvin:

1.   Orang-orang suci Perjanjian Lama juga menderita. Jadi, jelas bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak menyebabkan hidup jadi enak tanpa kesukaran.

2,   Dalam Perjanjian Lama Allah mendidik bangsa Israel seperti mendidik anak-anak. Allah ingin mereka melihat kasihNya / berkat surgawi melalui berkat-berkat jasmani.

Dalam Perjanjian Baru Allah mendidik orang Kristen seperti mendidik orang dewasa. Allah ingin kita melihat kasihNya / berkat surgawi sekalipun kita tak mengalami berkat jasmani. Mengapa? Karena sudah ada salib Kristus, sehingga tanpa berkat jasmani yang berkelimpahan kita sudah harus bisa melihat kasih Allah. Tetapi orang-orang dalam Perjanjian Lama hidup sebelum salib Kristus, sehingga tanpa adanya berkat jasmani sukar untuk bisa melihat kasih Allah.

3.   Berkat / kutuk jasmani dalam Perjanjian Lama merupakan type / bayangan dari berkat / kutuk rohani dalam Perjanjian Baru.

2)   2 grup manusia: banyak dan sedikit.

a)   Kecenderungan manusia adalah memilih yang gampang, memilih dosa, mengikuti orang banyak. Karena itulah jalan lebar dipilih oleh banyak orang.

b)   ‘sedikit’ maksudnya dalam perbandingan dengan yang ikut jalan lebar, karena Wah 7:9 jelas mengatakan ‘tak terhitung banyaknya’ orang yang masuk surga.

c)   Orang yang sungguh-sungguh ikut Tuhan / orang Kristen asli selalu merupakan golongan minoritas! Ingat jaman Elia, Sodom dan Gomora, Nuh, Tuhan Yesus. Jadi, kalau mau jadi orang Kristen sungguh-sungguh jangan harapkan akan disenangi / didukung banyak orang!

3)   2 tujuan: kehidupan (surga) dan kebinasaan (neraka).

a)   Tidak ada tempat yang ke 3 (tempat penantian, api penyucian dan sebagainya)!

b)   Supaya kita mau ikut jalan sempit, Yesus menghubungkan jalan sempit dengan kehidupan (bdk. Ro 8:18  2Kor 4:17).

MATIUS 7:15-29

Mat 7:15-23

1)   Nabi-nabi palsu itu berbahaya!

Ini bisa terlihat dari:

  • kata ‘waspadalah’ yang jelas merupakan suatu peringatan. (ay 15).
  • kata ‘serigala’ (ay 15) yang jelas merupakan seekor binatang yang berbahaya bagi seekor domba.

Dimana letak bahayanya?

¨       Mereka ‘menyamar sebagai domba’ (ay 15).

NASB/NIV: ‘come to you in sheep’s clothing’ (= datang kepadamu dalam pakaian domba).

Jadi, serigala itu datang kepada domba dengan pakaian / kulit domba. Mereka cuma pakaian / kulitnya saja yang kristen, tetapi dalamnya tidak! Serigala biasa sudah berbahaya, tetapi serigala yang menyamar sebagai domba jauh lebih berbahaya lagi!

¨       Mereka disebut sebagai ‘nabi-nabi palsu’ (ay 15). Jadi, serigala-serigala itu bukan menyamar sebagai orang-orang Kristen biasa, tetapi sebagai ‘nabi’.

*        nabi adalah orang yang mempunyai kedudukan tinggi. Jadi, mereka menyamar sebagai orang yang punya kedudukan tinggi seperti Majelis, Pengurus komisi dan sebagainya.

*        nabi adalah orang yang memberitakan Firman Tuhan. Jadi, mereka menyamar sebagai orang yang memberitakan Firman Tuhan seperti Pendeta, Penginjil, guru sekolah minggu, guru agama dan sebagainya. Ini yang membuat mereka sangat berbahaya. Dengan pengajaran mereka yang sesat mereka menyesatkan banyak orang.

2)   Ciri-ciri nabi palsu:

a)   Ay 16-20: dari buahnya kita bisa mengenal mereka. Apa artinya ‘buah’? Ada yang mengartikan ‘ajaran’, ada pula yang mengatakan ‘pengaruh ajaran’, ada lagi yang mengatakan ‘kehidupan’. Yang mana benar? Kalau kita membandingkan ay 16-20 dengan Mat 3:8-10 dan Mat 12:24,33-37 (perhatikan bahwa ketiga bagian ini mengandung ayat-ayat yang mirip / sama. Jadi, arti ‘buah’ dalam ketiga bagian ini pasti sama), maka jelas bahwa artinya adalah ‘kehidupan’. Arti ini cocok dengan konteks (lihat ay 21,23 yang menunjukkan kehidupan yang jahat dari nabi palsu).

Jadi, ciri nabi palsu adalah hidup yang jahat. Contoh:

  • mengejar keuntungan (Yer 8:10 Tit 1:11 2Pet 2:3).
  • baik kepada orang yang menguntungkan (Mikha 3:5).

Test ini sukar dilakukan karena:

¨       kita sukar tahu tentang kehidupan nabi itu.

¨       nabi itu bisa pura-pura saleh.

¨       semua nabi asli juga adalah manusia berdosa (bdk. Daud berzinah, membunuh, dan sebagainya).

Memang sebetulnya, sekalipun nabi palsu maupun asli itu adalah manusia berdosa, tetapi ada bedanya. Nabi asli punya kesungguhan untuk taat. Tetapi inipun adalah sesuatu yang sukar terlihat..

Test ini hanya bisa kita pakai kalau kita dekat dengan nabi itu sehingga tahu betul-betul tentang hidupnya.

b)   Nubuat yang meleset (Ul 18:22).

Kalau ia bernubuat / meramal tentang masa depan dan meleset (sekalipun hanya meleset satu kali) maka ia adalah nabi palsu! Karena itu perhatikanlah orang-orang yang sering mengeluarkan nubuat!

c)   Ajaran yang sesat (Ul 13:1-3  2Pet 2:1  Gal 1:6-9  Tit 1:11  1Yoh 4:1-3  2Yoh 7-11). Kesalahan bisa berupa suatu ajaran yang menyenangkan orang (2Taw 18:12  1Yoh 4:5), ajaran yang tidak menegur dosa, ajaran yang memberitakan yang enak-enak saja (Yer 23:16-17  Yer 8:11).

d)   Motivasi yang salah. Misalnya mencari kemuliaan diri sendiri (Yoh 7:18  Yoh 3:30). Ini juga sukar terlihat tetapi kadang-kadang bisa terlihat dengan jelas! Misalnya: Pendeta yang melarang jemaatnya untuk berbakti di gereja lain atau memberi persembahan kepada gereja lain atau melayani di gereja lain, sekalipun gereja lain itu tidak sesat. Pendeta seperti ini hanya menginginkan jemaat itu untuk dirinya sendiri dan bukan untuk Tuhan.

Contoh lain: Pendeta yang sengaja pamer kepandaiannya pada waktu khotbah.

Seseorang mengatakan:

“No man can at one and the same time prove that he is clever and that Christ is wonderful” (= Tidak ada orang yang pada saat yang sama bisa membuktikan bahwa ia adalah orang yang pandai dan bahwa Kristus itu sangat indah / luar biasa).

3)   Nasib nabi-nabi palsu (ay 21-23).

a)   Masuk surga? Tidak!

  • Orang-orang ini menyebut ‘Tuhan, Tuhan’. Jadi, mereka mengaku diri sebagai orang Kristen.
  • Orang-orang ini melayani Tuhan (ay 22).
  • Tetapi orang-orang ini tidak taat kepada Tuhan (ay 21,23). Ini kontradiksi dengan sebutan ‘Tuhan’ yang mereka gunakan (bdk. Luk 6:46  2Tim 2:19).

Catatan: ay 21 tidak mengajarkan ‘keselamatan melalui perbuatan baik’! Penafsiran terhadap ay 21 ini tidak boleh bertentangan dengan Ef 2:8-9! Calvin mengomentari ay 21b dengan kata-kata ini:

“These words, therefore, do not exclude faith, but presuppose it as the principle from which other good works flow” (= Karena itu, kata-kata ini bukannya membuang iman, tetapi mensyaratkannya sebagai asal usul / sumber dari mana semua perbuatan baik mengalir).

Calvin: “‘To do the will of the Father’ not only means, to regulate their life and manners, (as philosophers talked,) by the rule of virtues, but also to believe in Christ, according to that saying, ‘This is the will of him that sent me, that very one which seeth the Son, and believeth on him, may have everlasting life,’ (John 6:40.) These words, therefore, do not exclude faith, but presuppose it as the principle from which other good works flow” (= ) – hal 367-368.

Jadi, ay 21 itu menunjuk pada orang-orang yang tidak membuktikan ‘iman’nya dengan perbuatan baik. Mereka tidak masuk surga dengan ‘iman’ seperti itu. (bdk. Yak 2:17,26).

b)   Masuk neraka? Ya! Karena memang hanya ada 2 tempat setelah kematian. Jadi, kalau tidak masuk surga, tentu masuk neraka!

  • Ay 22:

*        mereka mengira mereka selamat, atau,

*        mereka protes dalam usaha mereka supaya selamat (bdk. Mat 25:44). Ini sia-sia!

  • Apakah ay 21-23 mengajarkan bahwa keselamatan bisa hilang? Tidak! Tiga alasan:

*        konteks (ay 15-23) berbicara tentang nabi palsu!

*        orang-orang itu = ‘pembuat kejahatan’ (ay 23). Jadi, imannya mati (bdk. Yak 2:17,26). Mereka hanya orang Kristen KTP. Ini cocok dengan gambaran ‘serigala yang memakai pakaian domba’ (ay 15). Karena mereka cuma Kristen KTP, jelas mereka bukan kehilangan keselamatan, tetapi mereka memang tidak pernah selamat!

*        ay 23 Yesus berkata:’Aku tidak pernah mengenal kamu!’. Kalau mereka pernah betul-betul percaya dan diselamatkan, maka pasti Yesus pernah mengenal mereka! (bdk. Yoh 10:27  2Tim 2:19).

4)   Kita harus waspada terhadap nabi-nabi palsu itu (ay 15).

a)   Nabi-nabi palsu sudah ada pada jaman Yesus.

Dalam ay 15 Yesus menggunakan kata ‘datang / come’, bukan ‘akan datang / will come’. Tetapi menjelang akhir jaman (sekarang ini!), maka nabi-nabi palsu akan semakin banyak (Mat 24:11-14). Jadi, kita harus makin waspada

b)   Cara berwaspada:

  • banyak berdoa untuk meminta Tuhan memimpin dalam pengertian Firman Tuhan.
  • banyak membaca / belajar Firman Tuhan.
  • hati-hati dalam memilih gereja / pengkhotbah
  • hati-hati dalam memberi persembahan. Kalau saudara memberikan persembahan kepada gereja yang sesat, pada hakekatnya saudara memberi persembahan kepada setan!

Mat 7:24-29: Akhir khotbah di bukit.

Mat 7:24-27: Sebagai penutup khotbahnya Yesus memberikan illustrasi ini. 2 orang itu mirip. Sama-sama membangun rumah. Bedanya tidak terlihat karena terletak pada fondasinya. Tetapi kalau kesukaran datang, bedanya akan terlihat.

Yesus memberikan bagian ini sebagai penutup khotbahNya karena Ia ingin mereka tidak sekedar menjadi pendengar Firman, tetapi juga pelaku Firman! (bdk. Yak 1:22-25).

Mat 7:28-29: Kesan pendengar:

1)   ‘Penuh kuasa’. Apa artinya?

a)   Ada yang menafsirkan karena Yesus sering mengajar: ‘Aku berkata …’

b)   Adanya kuasa Roh Kudus yang menyertaiNya (bdk. Luk 4:32,36).

2)   ‘takjub’ (ay 28). Ini tidak cukup! Mereka harus taat! (bdk. ay 24-27).

Penerapan:

Apakah saudara sering merasakan keindahan suatu khotbah? Lalu, apakah saudara hanya sekedar mengagumi keindahan khotbah itu, atau saudara juga mau mentaatinya?

MATIUS 8:1-4

Ay 1:

Yesus turun dari bukit. Dalam Mat 5:1 Ia naik ke bukit lalu memberikan khotbah di bukit (Mat 5-7), lalu sekarang Ia turun dari bukit.

Ay 2-4:

1)   Bagian ini pararel dengan Mark 1:40-45 dan Luk 5:12-16.

2)   Orang kusta:

a)   Penafsiran populer yang salah:

  • kusta = hukuman dosa. Sekalipun hal ini bisa terjadi (Bil 12:1-10 2Raja 5:26-27) tetapi tak selalu demikian.
  • mengalegorikan bagian ini. Bagian ini sebetulnya merupakan bagian yang bersifat hurufiah, bukan lambang. Tetapi banyak orang mengalegorikan bagian ini dengan mengatakan bahwa orang kusta adalah lambang dari orang yang berdosa. Ia datang kepada Yesus dan kustanya disembuhkan. Itu lambang dari orang berdosa yang datang kepada Kristus, lalu dosanya diampuni/disucikan. Sekalipun ajaran ini injili, tapi dasar dan penafsirannya salah.
  • Roma Katolik juga mengalegorikan bagian ini. Mereka mengatakan orang kusta adalah lambang orang berdosa dan Yesus menyuruh orang itu pergi kepada imam yang adalah lambang dari pastor (priest). Ini mereka jadikan dasar dari ajaran mereka tentang sakramen pengakuan/pengampunan dosa. Tetapi ini jelas tak masuk akal, karena orang kusta itu sudah sembuh sebelum ia datang kepada imam, dan tujuan pergi kepada imam hanya untuk mendapat pernyataan tahir saja (bdk. Im 14:1 dan seterusnya).

b)   Kusta dalam Kitab Suci belum tentu sama dengan kusta jaman ini. Dalam NIV diberikan footnote yang berbunyi: ‘The Greek word was used for various diseases affecting the skin not necessarily leprosy’ (= Kata Yunaninya digunakan untuk bermacam-macam penyakit kulit, tidak harus kusta).

c)   orang kusta:

  • sangat menderita lahir maupun batin.
  • tidak bisa disembuhkan kecuali oleh mujijat. Im 13-14 tak ada cara penyembuhan kusta karena memang tak bisa disembuhkan. Reaksi raja Israel dalam 2Raja 5:7 menunjukkan bahwa memang kusta tak bisa disembuhkan kecuali oleh mujijat.
  • selalu diasingkan supaya tak menulari / menajiskan orang lain. Bahkan kalau ia adalah raja sekalipun, ia akan tetap diasingkan (Im 13:45,46  Bil 5:1,2  2Raja 15:5  2Taw 26:21).

William Barclay mengatakan bahwa kalau orang kusta memasukkan kepalanya ke dalam sebuah rumah, maka seluruh rumah dianggap najis. Dan jarak minimum antara orang kusta dan orang sehat adalah 4 hasta (± 180 cm). Kalau angin bertiup dari orang kusta ke arah orang sehat maka jarak minimum adalah 100 hasta (± 45 meter).

  • Orang kusta dalam bacaan kita sudah mencapai stadium lanjut. Ini bisa terlihat dari kata-kata ‘penuh kusta’ dalam Luk 5:12. Jadi, ia sudah lama sangat menderita.

3)   Apa yang dilakukan oleh orang kusta itu?

a)   Datang kepada Yesus (ay 2).

Berbeda dengan 10 orang kusta dalam Luk 17:12 yang berdiri agak jauh, maka orang ini datang mendekat. Pasti ia tak akan berani datang seperti itu kepada orang lain, siapapun juga adanya orang itu. Tetapi mungkin ia sudah mendengar tentang kuasa dan kasih Tuhan Yesus sehingga ia berani datang kepada Yesus.

b)   Menyembah Yesus (ay 2).

Ini jelas adalah sikap hormat. Tetapi tidak jelas apakah ia menghormati Yesus sebagai Allah atau sekedar sebagai nabi. Tetapi kata ‘sujud menyembah’ dalam ay 2 ini dalam bahasa Yunaninya sama dengan kata ‘sujud menyembah’ dalam Mat 4:9-10. Dalam Mat 4:9-10 Yesus melarang menyembah siapapun kecuali Allah, tetapi dalam bagian ini Ia menerima sembah dari orang kusta itu. Ini menunjukkan bahwa Ia adalah Allah.

Penerapan:

Yesus = Allah. Sudahkah saudara menyembah Dia?

c)   Ia berkata: ‘Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku’ (ay 2). Ini adalah pandangan/kepercayaan yang benar! Orang itu yakin bahwa Yesus bisa menyembuhkan dia (beda sekali dengan orang dalam Mark 9:22), tetapi ia tak yakin apakah Yesus mau menyembuhkannya. Ia tidak yakin karena memang Yesus tidak pernah berjanji untuk menyembuhkannya. Banyak orang yakin dan ‘beriman’ bahwa Tuhan akan menyembuhkan dirinya sendiri / orang lain yang sakit, padahal Yesus tidak pernah berjanji untuk melakukan hal itu. ‘Iman’ seperti itu tak punya dasar Kitab Suci sehingga tidak bisa disebut sebagai iman!

4)   Reaksi Tuhan Yesus:

a)   Yesus mengulurkan tanganNya dan menjamah orang itu (ay 3).

  • biasanya orang yang menjamah orang kusta lalu menjadi najis. Tetapi waktu Yesus menjamah orang kusta itu, orang kustanya yang menjadi tahir.
  • Yesus menjamah orang itu karena ia berbelas kasihan kepada orang itu.

Ini tidak berarti bahwa hamba Tuhan harus menjamah yang mempunyai penyakit yang menular. Tidak pernah ada janji bahwa hamba Tuhan tidak akan ketularan kalau ia menjamah orang yang mempunyai penyakit yang menular!

  • Yesus tidak selalu menjamah orang yang sakit. Dalam Mat 8:5-13 Yesus menyembuhkan seseorang dari jarak jauh! Jadi, jelaslah bahwa ‘menjamah’ bukanlah suatu rumus yang harus selalu dilakukan waktu mendoakan orang sakit. Tetapi jaman sekarang hal itu menjadi semacam rumus!

b)   Yesus mau menyembuhkan orang itu (ay 3).

1.   Ia menyembuhkan hanya dengan menggunakan kata-kataNya / firmanNya!

2.   Ini suatu mujijat / kesembuhan ilahi! Dua ciri kesembuhan ilahi:

  • Kesembuhannya terjadi seketika, tidak secara bertahap. Semua kesembuhan ilahi / mujijat dalam Kitab Suci terjadi seketika! Dalam Mark 8:22-25 sekalipun kelihatannya kesembuhan terjadi secara bertahap, tetapi dalam jangka waktu yang sangat singkat, sehingga itupun harus dianggap seketika.

Jaman sekarang banyak orang yang bersaksi bahwa mereka mengalami mujijat / kesembuhan ilahi tetapi secara bertahap. Ini bukan kesembuhan Ilahi. Memang kesembuhan itu tetap berasal dari Tuhan, tetapi itu bukan kesembuhan ilahi!

  • Kesembuhannya terjadi secara sempurna / total. Semua kusta orang itu hilang, tidak tertinggal sedikitpun. Semua kesembuhan ilahi dalam Kitab Suci terjadi secara sempurna! Tetapi jaman sekarang banyak orang yang bersaksi bahwa mereka mendapatkan kesembuhan ilahi yang tidak sempurna. Misalnya: orang lumpuh disembuhkan sehingga bisa berjalan, tetapi masih pincang. Orang sakit jantung disembuhkan tetapi masih tidak bisa olah raga. Ini semua bukan kesembuhan ilahi!

3.   Penyembuhan orang sakit kusta yang dilakukan Yesus ini adalah ciri dari Mesias (Mat 11:2-5  Yes 35:5-6).

c)   Yesus memberi larangan dan perintah (ay 4).

1.   Larangannya: Jangan memberi tahu siapapun.

  • Larangan seperti ini sering terjadi misalnya dalam Mat 9:30  12:16  17:9  Mark 5:43  7:36, tetapi tidak selalu Yesus memberikan larangan seperti itu (bdk. Mark 9:19-20).
  • Larangan ini aneh! Bukankah waktu itu banyak orang yang melihat hal itu? (bdk. ay 1). Belum tentu, karena ay 1 dan ay 2 belum tentu berhubungan. Dalam Injil Matius khotbah di bukit (Mat 5-7) mendahului peristiwa penyembuhan orang kusta ini, tetapi dalam Injil Lukas peristiwa penyembuhan orang kusta ini (Luk 5:12-16) mendahului khotbah di bukit (Luk 6:17-dst). Andaikatapun Matiuslah yang menulis sesuai dengan urutan-urutan waktu, tetap ada kemungkinan bahwa antara ay 1 dan ay 2 ada selang waktu, sehingga waktu Yesus menyembuhkan orang kusta itu peristiwa itu tidak disaksikan oleh banyak orang dalam ay 1 itu.
  • Mengapa Yesus melarang orang itu memberi tahu orang lain? Untuk ini ada bermacam-macam jawaban / penafsiran:

*        Orang itu dilarang hanya sampai ia menunjukkan diri kepada imam. Jadi, maksud Yesus adalah jangan menunda untuk menunjukkan diri kepada imam.

*        Yesus tahu bahwa kalau banyak orang tahu bahwa Ia bisa melakukan mujijat, mereka akan menjadikanNya raja atas mereka (bdk. Yoh 6:15). Yesus melarang supaya hal itu tidak terjadi.

*        Yesus melarang karena orang itu harus belajar dulu. Setelah itu baru boleh memberitakan. Jadi, dengan kata lain Ia berkata: jangan tergesa-gesa menjadi pengkhotbah, belajarlah lebih dulu supaya nanti bisa menjadi pengkhotbah yang baik. Mungkin ini harus diperhatikan oleh orang-orang Islam yang menjadi Kristen dan langsung menjadi pengkhotbah tanpa belajar / sekolah theologia!

*        Yesus tidak mau dikenal sebagai pembuat mujijat tetapi sebagai Juruselamat.

*        Itu adalah saat perendahan yang dialami oleh Yesus sehingga tidak pantas Ia dipuji-puji karena mujijat yang Ia lakukan.

*        Yesus ingin menghindari iri hati dan permusuhan yang akan timbul kalau Ia dikenal sebagai orang yang bisa melakukan mujijat.

*        Supaya Ia terus punya kebebasan dalam memberitakan Firman Tuhan (Mark 1:45). Ini yang paling sesuai konteks! Akhirnya setelah orang itu tidak mentaati larangan Yesus itu dan menyebarkan peristiwa itu (Mark 1:45), maka Yesus tidak bebas lagi memberitakan Firman Tuhan.

Jelas bahwa Yesus lebih mementingkan pemberitaan Firman Tuhan dari pada penyembuhan orang sakit!

2.   PerintahNya: Tunjukkan dirimu kepada imam dan seterusnya.

  • Ini menunjukkan bahwa Yesus menghormati / mentaati / menghendaki orang mentaati Perjanjian Lama (bdk. Im 14:1 dan seterusnya – itu jelas perintah Perjanjian Lama / Hukum Taurat).

Sejak kematian Yesus Im 13-14 memang tidak perlu dilakukan lagi karena ini termasuk ceremonial law / hukum yang berhubungan dengan upacara keagamaan (Ef 2:15). Bagian Perjanjian Lama yang termasuk moral law / hukum moral, seperti 10 hukum Tuhan, terus berlaku sampai akhir jaman (Mat 5:17-19).

  • ‘sebagai bukti bagi mereka’ (ay 4).

NASB: ‘as a testimony to them’ (= sebagai suatu kesaksian bagi mereka).

Apa artinya? Lagi-lagi ada macam-macam penafsiran:

*        ‘mereka’ = orang-orang Yahudi. Jadi, artinya: supaya mereka tahu bahwa ia sudah sembuh dari kustanya karena imamlah yang berhak untuk menyatakan bahwa seorang kusta sudah sembuh.

*        ‘mereka’ = imam-imam. Artinya: sebagai bukti kepada imam-imam bahwa Yesus adalah hamba Allah yang mentaati Taurat. Tetapi ini berarti orang itu harus memberi tahu imam-imam bahwa Yesuslah yang menyembuhkannya. Ini bertentangan dengan larangan Yesus di atas tadi.

*        ‘mereka’ = imam-imam. Arti: supaya imam-imam tahu bahwa Yesus mempunyai kuasa ilahi. Ini juga berarti bahwa orang itu harus memberitahu imam bahwa Yesuslah yang menyembuhkannya. Ini bertentangan dengan larangan Yesus.

*        ‘mereka’ = imam-imam. Arti: supaya mereka tahu engkau sudah sembuh. Mereka tak perlu tahu siapa yang menyembuhkan engkau.

5)   Reaksi orang itu (Mark 1:45 Luk 5:15-16).

a)   Sekalipun tidak dikatakan bahwa orang itu pergi kepada imam, bisa dipastikan ia pergi kepada imam, karena tanpa pernyataan sembuh dari imam ia akan tetap dianggap najis.

b)   Orang itu memberitahu banyak orang bahwa Yesus menyembuhkannya. Ia melanggar larangan Yesus.

  • mungkin motivasinya baik tetapi ia tetap berdosa dengan melanggar larangan itu.
  • mungkin ia merenungkan larangan itu lalu menganggapnya tidak bijaksana sehingga ia langgar.

Penerapan:

Perintah / larangan Tuhan bukan untuk direnungkan betul / tidaknya. Semua pasti betul! Harus ditaati!

  • orang itu mungkin berkobar-kobar semangatnya dalam melayani Tuhan, tetapi ia berdosa karena semangatnya tidak disalurkan sesuai kehendak Tuhan.

c)   Orang ini baru menerima berkat Tuhan, tetapi ia langsung menyakiti hati Tuhan.

Penerapan:

Banyak orang melakukan hal yang serupa, misalnya:

  • diberi Tuhan berkat berupa mobil, lalu digunakan untuk piknik pada hari minggu dan tidak ke gereja.
  • lulus ujian, lalu pesta pora dan melupakan Tuhan.
  • dapat pekerjaan yang enak, lalu mendewakan uang dan melupakan Tuhan.

6)   Akibat ketidak-taatan orang itu (Mark 1:45 Luk 5:15-16).

a)   Pelayanan Yesus menjadi terhalang.

b)   Banyak orang datang kepada Yesus, tetapi sebagian untuk mendengar Firman Tuhan dan sebagian untuk mendapat kesembuhan (Luk 5:15). Bisa dipastikan bahwa yang mencari kesembuhan jauh lebih banyak dari yang mencari Firman Tuhan!

7)   Apa tindakan Yesus selanjutnya?

a)   Yesus menghindari mereka (Luk 5:16)!

Luk 5:16 versi NIV mengandung kata ‘often’ (= sering).

NIV: ‘But Jesus often withdrew to lonely places dan prayed’ (= Tetapi Yesus sering mengundurkan diri ke tempat-tempat yang sunyi dan berdoa).

NASB juga memberi tambahan seperti itu.

Tetapi sebetulnya kata ‘often’ itu tidak ada. Kalau kata itu ditambahkan, maka Luk 5:15 kelihatannya terputus dari Luk 5:16. Padahal Luk 5:16 adalah akibat Luk 5:15. Yesus sengaja menghindari orang banyak itu! Mengapa?

Calvin: “He avoided a crowd of men because He saw that He would not satisfy the wishes of the people without doing so many miracles as to prevent them from thinking properly about His doctrine” (= Ia menghindari kerumunan banyak orang karena Ia melihat bahwa Ia tidak bisa memuaskan keinginan dari orang-orang itu tanpa melakukan begitu banyak mujijat sehingga membuat mereka tidak bisa berpikir benar tentang ajaranNya).

Terlalu banyak orang yang minta kesembuhan. Kalau Yesus menuruti semua itu maka semua itu akan menyebabkan orang-orang itu tak bisa berpikir secara benar tentang apa yang Ia ajarkan. Karena itulah Yesus menghindar!

Dari sini bisa kita lihat:

  • Yesus mengutamakan pengajaran Firman Tuhan.
  • Yesus tidak selalu menyembuhkan orang sakit yang datang kepadaNya! Alangkah berbedanya ini dengan kepercayaan banyak orang saat ini yang menganggap Yesus selalu mau menyembuhkan!

b)   Yesus berdoa di tempat yang sunyi.

  • ini tidak berarti kita tidak boleh berdoa kalau sedang ramai.
  • kalau bisa, usahakanlah untuk membuat sunyi tempat saudara berdoa (misalnya: matikan TV / tape dan sebagainya) atau pergilah ke tempat yang sunyi untuk berdoa.
  • alangkah bertentangannya cara Yesus dalam berdoa ini dengan praktek-praktek jaman sekarang seperti:

*        doa diiringi musik / band.

*        doa bersuara.

*        sebagian jemaat berdoa, sebagian lainnya menyanyi.

MATIUS 8:5-17

Mat 8:5-13

I) Apakah Mat 8:5-13 = Luk 7:1-10 = Yoh 4:46-53?

A)  Mat 8:5-13 dan Luk 7:1-10.

Mat 8 perwira itu sendiri yang pergi kepada Yesus.

Luk 7 perwira itu suruh orang pergi kepada Yesus.

Memang ada pandangan yang mengatakan bahwa Mat 8 dan Luk 7 adalah 2 cerita yang berbeda. Jadi, ada perwira II yang meniru perwira I. Tetapi begitu banyak detail-detail yang sama antara Mat 8 dan Luk 7 menyebabkan hal itu rasanya tidak masuk akal.

Mat 8:5-13 jelas memang sama / paralel dengan Luk 7:1-10!

Orang Yahudi mempunyai anggapan bahwa apa yang dilakukan seseorang melalui orang lain; ia sendirilah yang melakukan hal itu.

Illustrasi: dalam hidup kita sekalipun kita sering berkata: ‘Saya membangun rumah’, padahal kenyataannya kita menyuruh orang (tukang batu) untuk membangun rumah.

Contoh dalam Kitab Suci:

  • Yoh 3:22,26 dan Yoh 4:1 mengatakan Yesus yang membaptis

Tetapi Yoh 4:2 mengatakan Yesus sendiri tidak membaptis; murid-muridNyalah yang membaptis. Jadi, Yesus membaptis melalui murid-muridNya sebagai agen.

  • Mark 10:35 – Yohanes dan Yakobus sendiri yang minta kepada Yesus.

Tetapi Mat 20:20 – yang minta adalah ibu mereka. Jadi, Yohanes dan Yakobus minta lewat ibunya sebagai agen.

B)  Mat 8:5-13 dan Yoh 4:46-53.

Ini memang merupakan 2 cerita yang berbeda. Perbedaannya:

Mat 8:5-13                                                     Yoh 4:46-53

­­—————————————————————————

perwira                                                           pegawai istana

yang sakit adalah hamba                             yang sakit adalah anak

melarang Yesus datang                               meminta Yesus datang

Kesimpulan: Mat 8:5-13 = Luk 7:1-10 ¹ Yoh 4:46-52.

II) Perwira.

1)   ‘perwira’ (ay 5) atau ‘centurion’ adalah kepala atas 100 orang prajurit. Orang ini jelas bukan orang Yahudi tetapi dari Luk 7:5 kelihatannya ia masuk agama Yahudi.

2)   Orang ini mempunyai problem yaitu hambanya sakit (ay 6  bdk. Luk 7:3).

3)   Orang ini mengasihi hambanya yang sakit.

Luk 7:3 – ‘sangat dihargainya’. Tetapi KJV mengatakan: ‘who was dear to him’ (= yang disayanginya).

Kasih ini menyebabkan ia ‘menaikkan doa syafaat’ untuk hambanya (ay 5-6).

Penerapan:

Bagaimana sikap saudara kalau pembantu saudara sakit? Apakah saudara berdoa supaya dia disembuhkan? Atau saudara tidak peduli? Baca Amsal 12:10!

4)   Orang ini rendah hati.

Orang-orang Yahudi menganggap ia ‘layak’ untuk ditolong (Luk 7:5). Tetapi ia sendiri menganggap dirinya tidak layak (ay 8  bdk. Luk 7:6-7). Mungkin sekali rasa tidak layak itu ada karena ia tahu batasan yang keras antara Yahudi dan non Yahudi (bdk. Yoh 18:28  Kis 10:28  Kis 11:2-3  Gal 2:11-14).

Rasa tidak layak harus ada pada diri kita waktu kita berdoa / datang kepada Tuhan (bdk. Luk 18:9-14).

5)   Orang ini beriman (ay 8b-9).

  • tidak ada tahyul dalam imannya; ia yakin Yesus bisa menyembuhkan tanpa menyentuh.
  • arti ay 9: Kalau aku yang adalah seorang bawahan bisa memberi perintah dan perintah itu bisa terlaksana, apalagi Engkau yang bukan seorang bawahan!

III) Sikap Tuhan Yesus.

1)   Yesus heran melihat iman orang itu (ay 10).

Bandingkan dengan Mark 6:6a dimana Yesus heran melihat ketidak-percayaan orang-orang Nazaret.

Yesus dikatakan ‘heran’. Ini meninjau Yesus sebagai sebagai manusia. Waktu itu kesadaran manusiaNyalah yang muncul. Sebagai Allah, Yesus tidak mungkin bisa merasa heran.

2)   Yesus memuji iman orang itu (ay 10). Hal yang sama ia lakukan kepada seorang perempuan Kanaan (Mat 15:28). Yesus senang melihat orang beriman kepada Dia!

3)   Yesus mengatakan ay 11-12.

Ay 11: banyak orang non Yahudi akan selamat / masuk surga. Perwira ini hanya contoh / salah satu diantara mereka. Ini sesuai dengan nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama seperti Kej 12:1-3  Yes 2:2-3  Yes 11:10  Yes 49:6  Mikha 4:1-2.

Ay 12:

  • ‘anak kerajaan’ = orang Yahudi.
  • ‘kegelapan’. Disebut gelap untuk dikontraskan dengan Allah yang adalah terang. Atau, gelap bisa berhubungan dengan penjara bawah tanah yang gelap.
  • ‘paling gelap’. Orang Yahudi tahu banyak, jadi dituntut banyak (Luk 12:47-48).
  • ‘ratap’ (= weep). Ini kontras dengan keadaan di surga yang tanpa air mata (Wah 21:4).
  • ‘kertak gigi’ menggambarkan rasa sakit / amarah.

4)   Yesus menyembuhkan (ay 13).

  • kesembuhan ilahi selalu terjadi seketika, bukan melalui proses.
  • ay 13 ini hanya berlaku untuk perwira itu. Ayat ini tidak berlaku umum.

MATIUS 8:14-17

1)   Petrus punya ibu mertua (ay 14), dan itu berarti ia punya istri (bdk. 1Kor 9:5).

  • gereja Katolik melarang para hamba Tuhan untuk menikah. Tetapi Petrus yang mereka akui sebagai Paus I ternyata menikah! Ini kontradiksi!
  • hidup membujang tidak berpengaruh pada kesucian! Pernikahan / sex diciptakan oleh Allah!
  • hanya orang yang punya karunia membujang boleh hidup membujang (Mat 19:10-12 1Kor 7:7).

2)   Ay 15 (bdk. Luk 4:39). Yesus menghardik demam. Ini tidak berarti bahwa orang itu demam karena dirasuk setan! Penyakit memang bisa terjadi karena kerasukan setan tetapi tidak selalu demikian.

3)   Ay 15 setelah disembuhkan (terima berkat), orang itu melayani.

Mungkin saudara tidak pernah mengalami kesembuhan ilahi. Tetapi itu tidak berarti bahwa saudara tidak pernah menerima berkat. Keselamatan adalah berkat terbesar! Tetapi sudahkah saudara melayani?

4)   Ay 16 Yesus mengusir roh-roh jahat. Dalam Mark 1:34 Yesus melarang mereka bicara. Karena apa? Yesus tidak mau dipublikasikan oleh setan. Itu sama dengan bekerja sama dengan setan. Hal yang sama juga dilakukan Paulus (Kis 16:16-18).

5)   Ay 16: ‘all the sick’ (= semua orang sakit). Yesus menyembuhkan semua orang yang sakit itu. Ini tetap tidak boleh diartikan bahwa orang Kristen yang sakit pasti disembuhkan oleh Yesus. Mengapa? Karena dalam bagian-bagian Kitab Suci yang lain kita melihat bahwa Yesus tidak selalu menyembuhkan semua yang sakit! (bdk. Luk 5:15-16  Yoh 5:1-18).

6)   Ay 17. Ada kutipan dari Yes 53:4a.

Pertanyaan: apakah Yes 53:4 itu bicara tentang penyakit jasmani atau rohani (dosa)?

a)   Ada yang berpendapat bahwa Yes 53:4 itu bicara tentang penyakit jasmani dan rohani. Semua ditanggung oleh Yesus. Tetapi penafsir ini tetap berkata bahwa orang yang percaya kepada Yesus pasti akan menerima pengampunan dosa (kesembuhan atas penyakit rohani), tetapi belum tentu mengalami kesembuhan jasmani. Pembebasan dari problem jasmani baru akan kita alami pada saat Kristus datang ke dua kalinya.

Kalau memang Yes 53:4 ditafsirkan sebagai penyakit jasmani dan rohani, maka tak ada problem lagi dengan Mat 8:17.

b)   Ada yang berpendapat bahwa Yes 53 hanya berbicara soal penyakit rohani atau dosa. Memang kalau dilihat kontexnya (Yes 53:4-6) maka ‘penyakit’ dalam Yes 53:4 adalah penyakit rohani atau dosa. Demikian juga kalau kita melihat pada 1Pet 2:22-25.

Problemnya adalah: kalau Yes 53:4 diarahkan pada penyakit rohani / dosa, mengapa Matius mengutip ayat itu waktu Yesus memberikan kesembuhan jasmani?

Jawaban: Yesus sering melakukan mujijat karena Ia hendak mengajar sesuatu. Contoh:

  • Ia mencelikkan mata orang buta dalam Yoh 9 untuk menunjukkan diriNya sebagai ‘terang dunia’ (Yoh 9:5).
  • Ia membangkitkan Lazarus dalam Yoh 11 untuk menunjukkan diriNya sebagai ‘Kebangkitan dan Hidup’ (Yoh 11:25).
  • Ia memperbanyak roti dalam Yoh 6 untuk menunjukkan diriNya sebagai ‘Roti Hidup’ (Yoh 6:35).

Jadi, dalam Mat 8 Ia menyembuhkan penyakit jasmani untuk menunjukkan diri sebagai penyembuh penyakit rohani atau dosa. Karena itulah Matius lalu mengutip Yes 53:4 dan mengatakan bahwa ayat itu tergenapi saat itu.

Calvin: “Matthew quotes this prediction, after having related that Christ cured various diseases; though it is certain that he was appointed not to cure bodies, but rather to cure souls; for it is of spiritual disease that the Prophet intends to speak. But in the miracles which Christ performed in curing bodies, he gave a proof of the salvation which he brings to our souls. That healing had therefore a more extensive reference than to bodies, because he was appointed to be the physician of souls; and accordingly Matthew applies to the outward sign what belonged to the truth and reality” (= Matius mengutip ramalan ini, setelah menceritakan bahwa Kristus menyembuhkan bermacam-macam penyakit; sekalipun sudah tentu bahwa Ia ditetapkan bukan untuk menyembuhkan tubuh, tetapi untuk menyembuhkan jiwa; karena adalah penyakit rohanilah yang dibicarakan oleh sang nabi. Tetapi dalam mujijat-mujijat yang dilakukan Kristus dalam menyembuhkan tubuh, Ia memberi suatu bukti tentang keselamatan yang Ia bawa kepada jiwa kita. Karena itu kesembuhan itu mempunyai hubungan yang lebih luas dengan jiwa dari pada tubuh, karena Ia ditetapkan sebagai dokter untuk jiwa; dan sesuai dengan itu Matius menerapkan pada tanda lahiriah apa yang termasuk pada kebenaran dan kenyataan) – hal 115.

MATIUS 8:18-34

Mat 8:18-22

Dalam Mat 8:18-22 ini hanya diceritakan tentang 2 orang (dalam Luk 9:57-62 yang merupakan bagian paralelnya ada 3 orang).

1)   Orang pertama (ay 19-20).

  • orang ini adalah seorang ahli Taurat dan ia mau ikut Yesus. Kata-katanya kelihatannya menunjukkan bahwa ia adalah orang yang rohani. Tetapi dari jawaban Yesus pada ay 20 bisa disimpulkan bahwa orang ini ingin ikut Yesus karena ia mengira bahwa ikut Yesus itu bakal enak (karena Yesus bisa melakukan segala macam mujijat). Orang ini tidak tahu apa-apa tentang penyangkalan diri, pemikulan salib, penderitaan karena / demi Kristus dan sebagainya.
  • Jawaban Yesus kepada orang pertama ini (ay 20):

*        ay 20 menunjukkan Yesus tidak punya tempat tinggal. Ia ditolak dimana-mana.

*        Orang Kristen yang menganggap bahwa ikut Yesus itu enak tok, perlu memperhatikan dan merenungkan ay 20 ini! Juga ayat-ayat seperti Mat 10:16  Mark 13:12-13  Yoh 15:18-19  Yoh 16:33  Fil 1:29  2Tim 3:12).

*        Yesus tidak melakukan propaganda bahwa ikut Dia itu enak. Ia langsung memberitahu bahwa ikut Dia itu berat dan ada ‘ongkos yang harus dibayar’. Ini jelas bertentangan dengan banyak ajaran pada saat ini yang mengatakan bahwa ikut Yesus pasti kaya, sembuh dari sakit, bebas dari problem dan sebagainya. Yesus tidak pernah mengajarkan ajaran yang seperti ini!

2)   Orang kedua (ay 21-22).

Ada orang-orang yang menafsirkan bahwa ayah orang itu memang baru saja mati. Tetapi rasanya tidak mungkin Yesus melarang orang itu untuk mengubur ayahnya kalau ayahnya betul-betul baru mati. Penafsir yang lain menganggap bahwa tradisi saat itu adalah bahwa seorang anak harus menguburkan ayahnya. Jadi, biasanya anak tidak mau pergi jauh sebelum ayahnya mati dan ia kuburkan. Jadi, yang diminta oleh orang ini adalah penundaan untuk ikut Yesus sampai ayahnya mati, barulah ia mau ikut Yesus.

Apa yang ingin dilakukan oleh orang itu (mengubur ayah) adalah sesuatu yang baik (bdk. Mat 15:3-9). Tetapi ia mengutamakan hal itu lebih dari ikut Yesus. Ini yang salah!

Penundaan yang ingin ia lakukan menunjukkan bahwa ia tidak mempunyai kesadaran bahwa ikut Yesus / melayani Yesus adalah sesuatu yang sangat mendesak dan tidak boleh ditunda. Tetapi banyak orang Kristen seperti itu. Mereka menunda untuk belajar Firman Tuhan, melayani Tuhan dan sebagainya dengan piliran: ‘Lain kali toh masih bisa’. Apakah saudara juga berpikir seperti itu? Bertobatlah!

Ay 22 artinya: orang yang mati rohani bisa menguburkan ayahmu, tetapi kamu harus ikut Aku dan mengabarkan Injil (Lukas 9:60). Ada tugas-tugas yang bisa dilakukan oleh orang lain, yang tidak Kristen sekalipun. Tetapi ada tugas-tugas yang hanya bisa dilakukan oleh orang Kristen yang sungguh-sungguh. Misalnya memberitakan Injil. Ini harus diprioritaskan!

Penerapan:

Apakah saudara punya aktivitas-aktivitas dunia (sekalipun itu baik) sehingga saudara lalu tidak mempunyai waktu untuk melayani Tuhan? Ingat bahwa aktivitas duniawi itu bisa dilakukan oleh orang lain, yang kafir sekalipun. Tetapi pelayanan di gereja tidak bisa dilakukan oleh orang kafir. Kapan saudara mau meninggalkan aktivitas duniawi itu dan mulai melayani Tuhan?

Dalam pelayananpun ada hal-hal yang bisa dilakukan oleh banyak orang, misalnya jadi bendahara, penulis, dan sebagainya. Ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh sedikit orang, misalnya menjadi liturgist, organist dan sebagainya. Ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh sangat sedikit orang, misalnya berkhotbah / mengajar. Saudara harus berusaha untuk lebih menggunakan karunia-karunia yang jarang ada!

3)   Perbandingan antara orang pertama dan orang kedua:

Orang pertama : too ready to follow Jesus (= terlalu siap untuk mengikut Yesus).

Orang kedua : too unready to follow Jesus (= terlalu tidak siap untuk mengikut Yesus).

Mat 8:23-27

1)   Bagian ini pararel dengan Mark 4:35-41 dan Luk 8:22-25.

2)   Ay 23 (bdk. Mark 4:35): Yesus yang mengajak, dan Yesus beserta murid-murid dalam perahu. Tetapi mereka toh terkena badai. Jelas bahwa ikut / taat kepada Yesus tidak menjamin bahwa hidup ini akan bebas dari kesukaran!

3)   Ay 24: ‘sekonyong-konyong’. Letak geografis danau Galilea menyebabkan badai sering datang secara mendadak. Badai itu jelas bukan suatu kebetulan. Itu memang direncanakan / diatur oleh Allah untuk menguji iman murid-murid. Memang kalau hidup serba tenang / enak, kita tidak bisa melihat lemahnya iman kita. Kalau kesukaran sudah datang, maka baru kita bisa melihat lemahnya iman kita.

4)   Ay 24: ‘Yesus tidur’. Tapi hakekat ilahi (divine nature) tetap mengontrol diri Yesus sehingga sekalipun Ia tidur, itu tidak berarti Ia tidak mengontrol segala sesuatu!

5)   Ay 25: murid-murid takut. Rasa takut murid-murid dalam ay 25 ini adalah rasa takut yang disebabkan kurang / tidak beriman. Itu jelas adalah dosa!

6)   Ay 25: kata-kata yang diucapkan berbeda dengan Mat 4:28 dan Luk 8:24.

Penjelasan: pada waktu ketakutan mungkin setiap murid berteriak-teriak. Matius menuliskan teriakan murid yang satu, Markus menuliskan teriakan murid yang lain dan sebagainya.

7)   Ay 26: di sini Yesus menegur dulu, baru menenangkan badai. Ini terbalik dengan yang di Markus dan Lukas. Penulis Kitab Suci tidak selalu menulis sesuai dengan urut-urutan waktu. Tidak diketahui yang mana yang sesuai dengan urut-urutan waktu.

8)   Ay 26 Yesus menenangkan badai. Ini menunjukkan keilahian Yesus (bdk. ay 27). Pada waktu Yesus tidur, itu menunjukkan kemanusiaan Yesus. Dia memang sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.

Mat 8:28-34

1)   Bagian ini pararel dengan Mark 5:1-20 dan Luk 8:26-39.

2)   Ay 28: Gadara. Mark 5:1 – Gerasa.

Ada yang mengatakan dua nama itu sama. Ada juga yang mengatakan bahwa Gerasa terletak 12 mil sebelah tenggara Gadara dan mungkin peristiwa itu terjadi di antara dua tempat itu sehingga Matius menyebut Gadara dan Markus menyebut Gerasa.

3)   Ay 28: dua orang. Mark / Luk – hanya 1 orang.

Mungkin sekali waktu itu ada 2 orang yang kerasukan setan, tetapi yang satu lebih parah keadaannya sehingga Markus / Lukas hanya menyoroti yang satu itu.

4)   Ay 28: orang yang kerasukan itu sangat berbahaya dan sangat kuat (bdk. Mark 5:3-4).

Setan memang bisa memberi kekuatan luar biasa / gaib seperti ‘tenaga dalam’, ilmu kebal dan sebagainya.

5)   Ay 29: ini diucapkan karena Yesus menyuruh mereka keluar (Mark 5:7-8).

Setan mengaku Yesus sebagai Anak Allah tetapi ia bisa mendustai manusia sehingga manusia tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah.

Setan tahu bahwa ada waktunya ia akan disiksa!

Kata-kata ‘sebelum waktunya’ (ay 29) bisa berarti:

  • ia tahu bahwa saat itu memang belum waktunya.
  • ia mengucapkan hanya karena takut kalau-kalau waktu itu sudah tiba.

Setan minta beberapa hal:

¨       supaya tidak disuruh ke jurang maut (Luk 8:31) dan supaya tidak disuruh keluar daerah itu (Mark 5:10). Mungkin kedua hal ini sama artinya yaitu setan minta tidak diusir ke daerah yang tidak berpenghuni. Ini menunjukkan keinginan mereka yang luar biasa untuk menggoda / menyerang manusia.

¨       minta ijin masuk ke dalam babi-babi (ay 31).

6)   Ay 32: Yesus mengijinkan setan-setan itu masuk ke dalam babi-babi dan setan itu membunuh babi-babi itu. Dari sini bisa kita dapatkan beberapa hal:

  • untuk menyerang / membunuh babipun setan membutuhkan ijin Tuhan, apalagi menyerang / membunuh kita!
  • kalau Allah tidak menguasai, orang yang kerasukan itupun pasti sudah dibunuh oleh setan dari tadi. Jadi, sekalipun kelihatannya orang yang kerasukan itu dikuasai sepenuhnya oleh setan, tetapi Allah tetap menguasai seluruhnya.
  • setan membunuh babi-babi dengan tujuan menyerang pemilik babi (bdk. Ayub).

7)   Ay 32:mengapa Yesus ijinkan setan masuk ke dalam babi dan membunuh babi-babi itu?

Ada beberapa penafsiran:

  • untuk menghukum pemilik babi, karena babi adalah binatang haram. Tetapi, pemiliknya belum tentu adalah orang Yahudi sehingga tidak terikat dengan peraturan itu.
  • Yesus ingin menguji pemilik babi.
  • Yesus ingin menunjukkan bahwa 2 manusia jauh lebih berharga dari 2000 babi.
  • Yesus ingin orang yang kerasukan itu melihat bukti bahwa setan memang sudah keluar dari dirinya. Kalau setan hanya sekedar keluar dan tak terjadi apa-apa, maka orang itu mungkin masih akan bertanya-tanya: ‘Betulkah setannya sudah keluar dari diriku?’. Tetapi sekarang, dengan setan-setan itu masuk ke dalam babi lalu babi-babi lari dan masuk danau, ia bisa yakin bahwa setan memang sudah keluar dari dirinya.

8)   Ay 33-34: orang banyak / pemilik babi:

  • takut, mungkin karena:

*        melihat keilahian Yesus.

*        takut akan rugi lebih banyak.

  • minta Yesus pergi. Mereka lebih senang tidak ada Yesus dari pada harus rugi! Mereka lebih melihat pada kerugiaanya daripada berkat yang diberi Yesus (orang yang sembuh).

9)   Mark 5:18-20: bagian ini tidak ada dalam Matius / Lukas.

  • orang itu bebas dari setan; ini tidak berarti bahwa ia boleh hidup semaunya. Ia harus taat kepada Yesus.
  • Yesus yang menyembuhkan orang itu. Tetapi Yesus menyuruh orang itu untuk menceritakan apa yang diperbuat Tuhan atasnya (ay 19). Dan orang itu lalu memberitakan apa yang diperbuat Yesus atasnya. Jadi, jelas bahwa ‘Yesus’ dan ‘Tuhan’ bisa dibolak-balik dan itu berarti Yesus adalah Tuhan!
  • Yesus menyuruh orang itu ‘sharing’ (= membagikan pengalaman). Ini merupakan sesuatu yang penting. Setiap saudara harus belajar untuk sharing!
  • orang banyak itu mengusir Yesus. Tetapi Yesus tetap mengasihi / mengasihani mereka. Buktinya? Ia meninggalkan seorang (atau 2 orang) ‘penginjil’ di sana.

MATIUS 9:1-13

Mat 9:1-8

Bagian ini paralel dengan Mark 2:1-12 dan Luk 5:17-26.

Ay 1:

‘KotaNya sendiri’ menunjuk pada kota Kapernaum (bdk. Mark 2:1). Yesus memang lahir di Betlehem dan dibesarkan di Nazaret. Di sini Kapernaum disebut ‘kotaNya sendiri’ karena Ia sering pergi ke sana.

Ay 2:(bdk. Mark 2:2-5).

1)   4 orang membawa si lumpuh kepada Yesus. Dari bagian ini kita bisa mempelajari beberapa hal yang penting tentang suatu pelayanan:

a)   Ada kesatuan dan ada 1 tujuan yaitu membawa si lumpuh kepada Yesus.

b)   Ada kerja sama. Ini mutlak harus ada dalam pelayanan.

c)   Ada ketekunan. Mereka tidak putus asa sekalipun ada halangan (banyak orang menghalangi pintu masuk).

d)   Ada kasih kepada orang yang dilayani. Kasih ini menyebabkan mereka mau berkorban tenaga, waktu, perasaan, dsb.

Adakah hal-hal ini dalam pelayanan saudara?

2)   Penderitaan sering membawa seseorang kepada Kristus.

Kelumpuhan itu jelas merupakan suatu penderitaan. Banyak orang pada waktu menderita justru lari ke dalam dosa. Tetapi bagi orang lumpuh ini, penderitaannya justru membawanya kepada Yesus.

3)   Yesus ‘melihat’ iman mereka.

a)   Ini merupakan bukti keilahian Yesus. Ia bisa melihat iman.

b)   Ada yang menganggap bahwa yang dimaksud dengan ‘mereka’ hanyalah 4 orang yang mengusung si lumpuh. Tetapi ini tidak mungkin, karena kalau si lumpuh itu sendiri tidak beriman, ia tidak mungkin mendapat pengampunan dosa (bdk. Ibr 11:6). Jadi jelaslah bahwa yang dimaksud dengan ‘mereka’ adalah 4 orang yang mengusung dan si lumpuh sendiri.

4)   ‘Percayalah …’. Ini salah terjemahan.

NIV/RSV: ‘take heart’ (= teguhkanlah hatimu).

NASB: ‘take courage’ (= beranikanlah dirimu).

KJV: ‘be of good cheer’ (= bergembiralah).

Kata Yunani yang sama dalam Mat 9:22 diterjemahkan ‘teguhkanlah hatimu’.

5)   ‘Dosamu sudah diampuni’.

a)   Ini menunjukkan bahwa mungkin sekali orang itu lumpuh karena dosa.

b)   Orang itu pasti menginginkan kesembuhan jasmani. Yesus memberikan kebutuhan orang itu, yaitu kesembuhan jiwa, sekalipun orang itu tidak meminta hal itu.

c)   Yesus lebih mementingkan kesembuhan rohani / jiwa dari pada kesembuhan jasmani. Apakah kita / gereja kita juga seperti itu?

Ay 3:

1)   ‘Ahli Taurat’.

Bagian paralelnya dalam Luk 5:17 versi Kitab Suci Indonesia tetap menterjemahkan ‘ahli Taurat’. Tetapi Kitab Suci bahasa Inggris memberikan terjemahan yang berbeda.

NIV/NASB/RSV: ‘teachers of the law’ (= guru-guru hukum Taurat).

KJV: ‘doctors of the law’ (= doktor-doktor hukum Taurat).

Ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang belajar dan mengajar hukum Taurat.

2)   Mereka menganggap bahwa Yesus menghujat Allah (bdk. Mark 2:7).

Mereka mempunyai pandangan yang benar, yaitu bahwa hanya Allah saja yang bisa mengampuni dosa. Lalu mereka melihat Yesus mengampuni dosa. Ada 2 kesimpulan yang bisa mereka ambil:

a)   Yesus adalah Allah.

b)   Yesus menghujat Allah, karena sekalipun Ia adalah manusia biasa yang bukan Allah, Ia mengampuni dosa, dan itu berarti menyamakan diri dengan Allah (bdk. Yoh 10:32-33).

3)   Mereka berkata ‘dalam hatinya’.

Jadi, ini adalah ketidaksenangan yang tidak diungkapkan (beda dengan Mat 8:34 dan Mat 9:11). Sebetulnya lebih baik mengungkapkan ketidaksenangan dari pada memendamnya, karena memendam ketidaksenangan biasanya berakhir dengan penyebaran gossip pada waktu orang yang tak disenangi itu tidak ada.

Ay 4a:

Yesus mengetahui pikiran mereka. Dalam 1Kor 2:11 dikatakan bahwa yang tahu pikiran seseorang hanyalah roh orang itu. Tetapi seseorang bisa mengetahui pikiran orang lain:

  • dengan pertolongan Tuhan. Contoh: nabi-nabi dan rasul-rasul sering bisa tahu pikiran orang lain (Misalnya: Kis 5:1-4  1Raja 14:1-6).
  • dengan pertolongan setan. Karena itu jangan terlalu heran dan lalu percaya kepada orang yang tahu pikiran saudara atau problem / penyakit saudara. Ia mungkin saja menggunakan kuasa gelap.
  • kalau orang itu adalah Tuhan sendiri.

Ay 4b-7:

Dari sudut manusia memang gampang untuk berkata ‘dosamu sudah diampuni’. Karena apa? Karena tidak ada buktinya apakah hal itu betul-betul terjadi atau tidak. Tetapi kalau harus mengucapkan kalimat itu dan harus betul-betul terjadi, maka itu jelas mustahil. Juga mengatakan ‘bangunlah dan berjalanlah’ dan harus betul-betul terjadi, adalah sesuatu yang mustahil bagi manusia.

Tetapi bagaimana kalau ditinjau dari sudut Tuhan? Ada yang mengatakan bahwa bagi Tuhan mengampuni dosa lebih sukar karena untuk bisa mengampuni dosa Ia harus menjadi manusia dulu dan mati menebus dosa manusia. Sedangkan untuk menyembuhkan penyakit Ia tidak perlu melakukan semua itu. Tetapi kalau penyakit orang itu terjadi karena dosanya, maka jelas bahwa penyakit itu tidak akan sembuh sebelum dosanya diampuni.

Jadi, pertanyaan Yesus dalam ay 5 harus dijawab sebagai berikut: ‘Bagi manusia dua hal itu sama-sama mustahil, sedangkan bagi Allah sama-sama mungkin / bisa dilakukan’.

Arti dari bagian ini: dalam ay 2 Yesus mengampuni dosa. Ini merupakan suatu claim bahwa Ia adalah Allah. Tetapi tidak ada bukti bahwa pengampunan dosa itu betul-betul terjadi. Karena itu, claimnya sebagai Allah juga tidak terbukti. Ia lalu membuktikan claimnya sebagai Allah itu dengan menyembuhkan orang lumpuh itu. Ini membuktikan bahwa Ia adalah Allah, dan ini membuktikan bahwa pengampunan dosa yang tadi Ia ucapkan memang betul-betul terjadi.

Ay 8:

Pada waktu melihat mujijat itu, orang banyak itu kagum, takut, dan memuliakan Allah. Tetapi mereka toh tetap tidak percaya kepada Yesus! Dari mana kita bisa tahu bahwa mereka masih tetap tidak percaya?

1)   Sampai Yesus mati dan bangkit, hanya ada 11 murid dan sedikit orang yang betul-betul percaya kepada Yesus.

2)   Ay 8b mengatakan: ‘Allah yang telah memberikan kuasa sedemikian itu kepada manusia’.

a)     Jelas bahwa mereka masih tetap menganggap Yesus sebagai manusia, bukan sebagai Allah.

b)     Kata ‘manusia’ sebetulnya ada dalam bentuk jamak (Inggris: ‘men’). Yang dimaksud adalah ‘seluruh umat manusia’ (human race). Jadi, mereka menganggap Yesus hanya sebagai salah satu dari ‘human race / umat manusia’.

Dalam Mat 8:1-17 Yesus menunjukkan kuasaNya atas penyakit.

Dalam Mat 8:23-27 Yesus menunjukkan kuasaNya atas alam (badai, ombak, angin, dsb).

Dalam Mat 8:28-34 Yesus menunjukkan kuasaNya atas setan.

Dalam Mat 9:1-8 Yesus menunjukkan kuasaNya atas dosa!

Mat 9:9-13: (paralel dengan Mark 2:13-17 dan Luk 5:27-32).

Ay 9:

1)   Orang yang bernama ‘Matius’ dalam ay 9 ini sama dengan ‘Lewi’ dalam Mark 2:14 / Luk 5:27. Ialah yang nantinya menulis Injil Matius ini.

Ia adalah:

  • orang Yahudi.
  • pemungut cukai (Luk 5:27).
  • orang kaya.
  • orang yang dibenci masyarakat karena ia bekerja sebagai penagih pajak untuk pemerintah Romawi (yang adalah penjajah dan orang kafir), dan pada waktu menagih pajak, pemungut cukai ini memeras rakyat dengan cara menaikkan pajak dan mengkorupsi kelebihannya.

2)   Matius dipanggil oleh Yesus pada waktu ia ada di rumah cukai. Ia masih ada di dalam dosa (sebetulnya pekerjaan sebagai penagih pajak bukanlah dosa, tetapi tindakan korupsinya jelas adalah dosa). Tetapi ia toh dipanggil oleh Yesus. Inilah kasih Allah kepada orang berdosa!

3)   Matius ikut Yesus, padahal dalam panggilan Yesus kepadanya tidak ada janji berkat apa-apa! Ini merupakan sesuatu yang luar biasa!

4)   Matius meninggalkan segala sesuatu (Luk 5:28).

a)   Ini kontras sekali dengan sikap pemuda kaya dalam Mat 19:22.

b)   Pekerjaan pemungut cukai sebetulnya tidak dosa kalau dilakukan dengan benar. Ini terlihat dari:

  • Yesus tidak menyuruh Zakheus meninggalkan pekerjaannya (Luk 19:1-10).
  • Yohanes Pembaptis tidak menyuruh pemungut cukai meninggalkan pekerjaannya.

Tetapi untuk Matius pekerjaan itu tidak memungkinkan ia memenuhi panggilan Tuhan, sehingga pekerjaan itu harus ditinggalkan. Di sini kita bisa mempelajari sesuatu yang penting: panggilan Tuhan harus diutamakan lebih dari segala sesuatu!

c)   Waktu Matius mengikut Yesus ia mendapat sesuatu (damai, sukacita, dsb), tetapi ia juga kehilangan sesuatu (pekerjaan, harta, teman-teman, dsb). Kalau kita mau ikut Yesus kita akan mengalami hal yang sama. Harus ada kemauan untuk mengorbankan sesuatu!

Ay 10:

1)   Pesta itu diadakan oleh Matius (Luk 5:29). Ini mungkin merupakan pesta perpisahan dengan teman-temannya, tetapi jelas juga merupakan usaha Matius untuk memperkenalkan teman-temannya kepada Yesus. Orang yang sudah diampuni pasti mempunyai keinginan untuk membawa orang lain kepada Yesus. Adakah keinginan itu ada pada saudara?

2)   Yesus ikut pesta.

Ini menunjukkan bahwa pesta bukanlah dosa. Orang kristen tidak pernah diperintah oleh Tuhan untuk menjauhi dunia sedemikian rupa sehingga menjadi seorang pertapa!

3)   Yesus berkumpul / bergaul dengan orang-orang berdosa.

Ini kontras dengan sikap orang-orang Farisi yang menjauhi orang berdosa. Kita memang harus mau bergaul dengan orang berdosa / bejad, tetapi tetap ada batas-batasnya. Kalau pergaulan saudara dengan orang berdosa itu menyebabkan saudara jatuh ke dalam dosa, maka sebaiknya saudara menghindari hal itu. Misalnya: ex perokok sebaiknya tidak bergaul dengan perokok!

Ay 11:

1)   Orang Farisi itu pasti tidak ikut pesta ini. Mereka menganggap diri mereka lebih baik dari orang lain (Luk 18:9) dan menganggap bahwa kalau mereka berkumpul atau bergaul dengan orang berdosa, maka mereka akan menjadi najis.

2)   Mereka mengkritik Yesus yang berkumpul dan bergaul dengan orang berdosa. Mereka memang pintar mengecam dosa, tetapi mereka tidak berusaha mempertobatkan orang berdosa itu. Mereka seperti seorang dokter yang hanya mau mendiagnose pasiennya dari jauh, tetapi tidak mau mendekati pasiennya dan tidak mempunyai keinginan mengobati / menyembuhkan pasiennya.

Ay 12-13:

1)   Ay 13a merupakan kutipan dari Hos 6:6. Penekanan Hos 6:6 itu adalah: Tuhan menginginkan mereka mempunyai belas kasihan / kebaikan kepada sesama manusia. Tidak berarti bahwa persembahan itu tidak penting, tetapi persembahan yang disertai kehidupan yang jahat kepada sesama manusia, tidak akan diterima oleh Allah.

Yesus mengutip Hos 6:6 untuk menekankan perlunya kasih / kebaikan / belas kasihan kepada sesama manusia.

2)   ‘pergilah dan pelajarilah’ (ay 13a) artinya adalah ‘renungkanlah’.

‘Menghindari orang berdosa adalah tradisi orang Farisi yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Kalau saja mereka mau merenungkan Firman Tuhan, maka tradisi seperti itu pasti tidak akan ada. Karena itu merenungkan Firman Tuhan adalah sesuatu yang penting!

Penerapan:

Dalam hidup saudara mungkin ada banyak tradisi yang bertentangan dengan Kitab Suci, tetapi tidak saudara sadari karena saudara tidak atau kurang merenungkan Kitab Suci. Misalnya:

  • datang terlambat dalam kebaktian. Kalau saja saudara merenungkan bahwa dalam 2Tim 2:3-4 orang kristen disebut sebagai ‘prajurit’, yang tentu harus mempunyai kedisiplinan dalam hal waktu, maka mestinya tradisi datang terlambat dalam kebaktian itu tidak akan ada dalam hidup saudara!
  • tidak / jarang bersaat teduh / berdoa. Kalau saja saudara merenungkan Yoh 15:1-8 yang menggambarkan bahwa kita sebagai ranting anggur harus terus melekat pada pokok anggur, maka mestinya saudara akan menjadi orang kristen yang banyak berdoa / bersaat teduh secara teratur.
  • tidak melakukan pelayanan apa-apa. Mayoritas orang kristen termasuk di sini! Kalau saja mereka mau merenungkan bahwa setiap orang kristen adalah anggota tubuh Kristus (1Kor 12:27) yang pasti mempunyai fungsi / kegunaan, maka mereka mestinya akan mau melayani Tuhan.

3)   Ay 12,13b:

a)   Bagian ini tidak berarti bahwa manusia cuma sakit secara rohani. Kitab Suci mengatakan bahwa manusia berdosa itu mati secara rohani (Ef 2:1). Perumpamaan Yesus di sini tidak boleh diartikan sehingga keluar dari tujuannya / fokusnya!

b)   Bagian ini tidak berarti bahwa di dunia ini ada orang benar. Yang dimaksud oleh Yesus dengan ‘orang benar’ adalah ‘orang berdosa yang merasa dirinya benar’.

c)   Ay 13b merupakan ayat yang penting dalam memberitakan Injil, yaitu:

  • kalau kita berhadapan dengan orang yang putus asa melihat banyak-nya dosa-dosanya. Menggunakan ayat ini beritahu orang itu bahwa Yesus justru mencari orang seperti Dia. Tambahkan juga Yoh 6:37 untuk menunjukkan bahwa kalau Ia mau datang kepada Yesus, ia pasti tidak akan ditolak.
  • kalau kita berhadapan dengan orang yang membanggakan kebaikan-nya. Beritahu dia, bahwa kalau ia merasa diri baik, Yesus justru tidak mencari dia, sehingga ia pasti akan binasa dalam neraka!

d)   Dalam Luk 5:32 ada tambahan: ‘supaya mereka bertobat’.

Ini adalah sesuatu yang penting. Yesus memang mengasihi orang berdosa dan mau menerima mereka. Tetapi mereka harus bertobat dari segala dosa mereka dan berbalik kepada Tuhan!

Ini merupakan sesuatu yang harus ditekankan dalam memberitakan Injil. Jangan hanya memberitakan bahwa orang yang percaya kepada Yesus akan diampuni dan masuk surga. Beritakan juga bahwa orang yang mau ikut Yesus harus mau bertobat!

Matius 9:14-17

Mat 9:14-17 mempunyai 2 bagian paralel yaitu Mark 2:18-22 dan Luk 5:33-39.

Ay 14:

1)   Dalam Matius, yang datang kepada Yesus adalah murid-murid Yohanes (Pembaptis).

Dalam Markus, yang datang kepada Yesus adalah orang-orang (Mark 2:18).

Dalam Lukas, yang datang kepada Yesus adalah orang-orang Farisi (Luk 5:33).

Cara mengharmoniskan bagian-bagian ini adalah dengan menafsirkan bahwa ‘orang-orang’ dalam Mark 2:18 adalah gabungan dari ‘murid-murid Yohanes’ dan ‘orang-orang Farisi’. Sekarang ada 2 kemungkinan:

a)   Kedua grup itu datang kepada Yesus, tetapi Matius dan Lukas hanya menceritakan salah satu.

b)   Orang-orang Farisi menghasut murid-murid Yohanes untuk melancarkan kritik kepada Yesus tentang murid-muridNya. Matius hanya menyoroti grup orang yang betul-betul datang kepada Yesus yaitu murid-murid Yohanes. Lukas menyoroti grup yang menjadi sumber terjadinya persoalan itu, yaitu orang-orang Farisi. Sedangkan Markus menyoroti keduanya.

2)   Baik dalam Matius, Markus, maupun Lukas, bagian ini ditulis persis setelah cerita tentang panggilan Lewi / Matius dan pesta yang diadakan oleh Lewi / Matius. Mungkin sekali peristiwa itu memang terjadi persis sesudahnya. Jadi, melihat Yesus dan murid-muridNya makan dan minum dalam pesta itu, maka orang-orang itu lalu mengkritik tentang hal puasa.

3)   Bandingkan Mat 9:14 dengan Mat 9:11.

Dalam Mat 9:11, pada waktu Yesus dianggap salah, kritik dilancarkan kepada murid-muridNya. Sebaliknya, dalam Mat 9:14, pada waktu murid-murid Yesus dianggap salah, kritik dilancarkan kepada Yesus.

Ini ciri khas orang yang kurang ajar. Kalau si A salah, ia ceritakan kepada si B; kalau si B salah, ia ceritakan kepada si A. Apakah saudara juga demikian? Bacalah Mat 18:15 dan bertobatlah dari dosa saudara.

4)   Tentang puasa, dalam Kitab Suci sebetulnya keharusan puasa bagi seluruh bangsa Israel hanyalah 1 tahun 1 x yaitu pada hari raya Pendamaian (Im 16:29-34 Im 23:26-32 Bil 29:7-11).

Tetapi orang-orang Farisi berpuasa 2 x seminggu (Luk 18:12).

Murid-murid Yohanes berpuasa mungkin karena:

  • sedih karena penangkapan terhadap Yohanes.
  • ikut-ikutan orang Farisi.
  • ajaran / teladan Yohanes Pembaptis (bdk. Mat 11:18).

Jadi, mereka berpuasa bukan karena diharuskan oleh Firman Tuhan (kalau memang itu adalah puasa yang diharuskan oleh Firman Tuhan, pasti Yesus juga menyuruh murid-muridNya berpuasa), tetapi karena keinginan mereka sendiri atau sekedar sebagai tradisi. Tetapi mereka lalu memaksa orang lain (murid-murid Yesus) untuk juga berpuasa mengikuti mereka. Ini jelas salah. Mereka tidak berhak melakukan hal itu. Hanya Kitab Suci yang boleh dijadikan standard hidup.

Penerapan:

Dalam gereja ada:

a)   Hal-hal yang dilakukan karena diperintahkan oleh Tuhan dalam Kitab Suci. Misalnya: Perjamuan Kudus, Baptisan, pemberitaan Firman Tuhan, Pemberitaan Injil, doa, adanya tua-tua / diaken, dsb.

b)   Hal-hal yang dilakukan karena tradisi / kebijaksanaan manusia. Misalnya: adanya katekisasi sebelum baptisan, pendeta memakai toga dalam kebaktian, adanya doa Bapa Kami dan 12 Pengakuan Iman Rasuli dalam kebaktian, penggunaan organ / band dalam kebaktian, tepuk tangan dalam kebaktian, dsb.

Hal-hal seperti ini tidak mutlak, dan kita tidak boleh memaksa siapapun untuk melakukan hal-hal tersebut.

5)   Yohanes Pembaptis adalah orang yang mempersiapkan jalan bagi Yesus. Jadi, ajarannya pasti sejalan dan banyak persamaannya dengan ajaran Yesus. Tetapi ada beda antara Yohanes Pembaptis dan Yesus yaitu yang bisa saudara lihat dalam Mat 11:18-19.

Dalam hal yang penting / essential ( yaitu dalam hal ajaran), Yohanes Pembaptis sama dengan Yesus. Mereka berbeda dalam hal-hal yang remeh. Tetapi orang-orang Farisi / murid-murid Yohanes justru menyoroti perbedaannya dan melupakan persamaannya.

Dalam hidup orang kristen / gereja ada:

a)   Hal-hal yang remeh, seperti:

  • cara memuji Tuhan dengan / tanpa band, dengan / tanpa tepuk tangan.
  • bolehkah makan dideh / darah?
  • bolehkah orang mati diperabukan?

b)   Hal-hal yang cukup penting, seperti:

  • predestinasi, ada atau tidak?
  • bisakah keselamatan hilang?
  • haruskah orang kristen berbahasa roh / lidah?

c)   Hal-hal yang sangat penting / essential, seperti:

  • Kitab Suci adalah Firman Allah.
  • Yesus dan Roh Kudus adalah Allah sendiri.
  • Yesus adalah satu-satunya jalan ke surga.
  • adanya surga dan neraka.
  • kita diselamatkan karena iman kepada Yesus dan bukan karena perbuatan baik / ketaatan.

Membicarakan, mengetahui / mengerti tentang perbedaan yang remeh / cukup penting adalah hal yang harus dilakukan. Tetapi jangan terus menerus menyoroti hal-hal itu sehingga melupakan persamaan dalam hal-hal yang essential / sangat penting. Kalau kita sebagai orang Reformed bertemu dengan orang Arminian dan lalu berdebat tentang predestinasi dan melupakan bahwa kita sama-sama percaya kepada Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat, maka kita tidak bisa bersatu / saling mengasihi dengan dia. Kita lupa bahwa dia adalah saudara seiman kita dan kita akan menganggapnya sebagai musuh kita!

6)   Banyak orang beranggapan bahwa ‘mengumbar nafsu’ adalah dosa. Tetapi mereka lalu jatuh ke dalam extrim yang lain dimana mereka lalu beranggapan bahwa orang harus menjadi pertapa untuk bisa suci. Karena itu mereka lalu mengucilkan diri, berpuasa, dsb. Ini bukanlah kekristenan! Dalam kekristenan, kesucian tidak didapat dengan menjadi pertapa.

Ay 15:

1)   Untuk bisa mengerti jawaban Yesus ini, kita perlu mengerti tradisi orang Yahudi pada jaman itu dalam pernikahan. Mereka berbulan madu di rumah. 1 minggu setelah pernikahan, rumah terus dibuka. Teman-teman dekat mempelai bersama-sama dengan mempelai berdua dan mempelai berdua diperlakukan sebagai raja dan ratu. Dalam keadaan seperti ini tentu tidak mungkin ada seorang sahabat yang lalu berpuasa.

Tradisi inilah yang menjadi latar belakang jawaban Yesus. Saat dimana Yesus (mempelai pria) bersama-sama dengan murid-muridNya (sahabat-sahabat mempelai pria) adalah saat bersukacita, bukan saat susah, sehingga tidak cocok untuk berpuasa.

2)   Yesus berkata bahwa pada saat mempelai pria ‘diambil dari mereka’, maka mereka akan berpuasa. Sukar untuk menafsirkan dengan pasti apa maksud ayat ini.

Yesus                    Yesus                          Yesus                          Yesus                          Yesus

ada                       tidak ada                    ada                             tidak ada                    ada?

_­­­­­_______________________________________________________­_____

                        M                                 B                                 N                                 P

Saat dimana Yesus ‘diambil dari mereka / murid-muridNya’ bisa menunjuk kepada:

a)   Saat Yesus mati disalib. Mayoritas penafsir mengambil pandangan ini. Ini berarti bahwa setelah kematian Yesus barulah murid-murid berpuasa. Tetapi problem dengan pandangan ini adalah: Kitab Suci tidak pernah menceritakan bahwa murid-murid Yesus berpuasa antara kematian dan kebangkitan Yesus!

b)   Saat Yesus naik ke surga. Problem dengan pandangan ini adalah: saat Yesus naik ke surga, bukan merupakan saat dukacita bagi murid-murid Yesus. Padahal ay 15 secara implicit menunjukkan bahwa itu adalah saat dukacita.

Hal-hal lain yang menyebabkan bagian ini sukar ditafsirkan dengan pasti:

  • Pada hari Pentakosta, Roh Kudus turun sehingga Yesus hadir / ada lagi bersama murid-muridNya. Tetapi bagaimanapun, ini bukanlah kehadiran jasmani, tetapi kehadiran secara rohani. Apakah kita harus menganggap Yesus ada atau tidak ada bersama murid-muridNya?
  • Puasa-puasa yang dilakukan dalam Kisah Rasul semua terjadi setelah Pentakosta. Tetapi dilakukan bukan karena dukacita tetapi biasanya berhubungan dengan pelayanan (Kis 13:2-3 Kis 14:23).

Semua ini menyebabkan saya tidak bisa mengambil kesimpulan yang pasti tentang arti ayat ini.

3)   Dari ay 15 ini jelas bahwa Yesus mengatakan bahwa saat yang tepat untuk berpuasa adalah pada waktu kita sedih. Jadi tidak sepatutnya kita berpuasa sekedar sebagai tradisi, tanpa tujuan / sebab apa-apa. Jadi, mungkin kita bisa berpuasa pada saat kita merasa sedih karena ada dosa yang menyebabkan kita lalu tidak merasakan kehadiran Kristus dalam hidup kita.

Ay 16-17:

Ini adalah 2 perumpamaan:

  • Kain yang belum susut akan menyusut kalau kena air, sehingga akan menyebabkan baju tua itu sobek lebih besar lagi.
  • Anggur yang baru mengeluarkan gas. Kantong kulit yang baru masih mempunyai sifat lentur / elastis sehingga bisa menahan tekanan gas itu. Tetapi kantong kulit yang sudah tua, sudah kehilangan sifat lentur / elastisnya sehingga akan pecah bila diisi dengan anggur baru.

Perlu diketahui bahwa bagian ini adalah bagian yang sangat sukar, sehingga muncul bermacam-macam penafsiran tentang bagian ini:

1)   Calvin:

Baju / kantong tua mudah pecah / sobek. Ini menggambarkan kelemahan murid-murid Yesus. Kain yang belum susut / anggur baru menggambarkan disiplin yang terlalu keras. Jadi, artinya: belum waktunya menyuruh murid-murid yang lemah itu melakukan disiplin yang begitu keras seperti puasa.

2)   William Barclay:

Arti ay 16: kadang-kadang ‘menambal’ adalah suatu ketololan. Kita harus memulai dengan sesuatu yang baru.

Arti ay 17: pikiran kita harus lentur / elastis, dalam arti kita harus mau menerima ide-ide baru.

Keberatan saya: kelihatannya ay 16-17 merupakan 2 perumpamaan yang menunjuk pada 1 arti yang sama. Yesus sering memberikan beberapa perumpamaan berturut-turut untuk menekankan suatu kebenaran tertentu. Contoh: Luk 15 memberikan 3 cerita berturut-turut yang mempunyai penekanan / arti / fokus yang sama.

3)   William Hendriksen:

Kain yang belum susut / anggur baru menunjuk pada keselamatan / kekayaan rohani dalam Kristus.

Baju baru / kantong baru menunjuk pada rasa syukur dan sukacita. Inilah sikap yang tepat untuk menerima berkat-berkat rohani di dalam Kristus.

4)   Anggur baru / kain yang belum susut menunjuk pada keselamatan karena iman.

Baju / kantong tua menunjuk pada keselamatan karena perbuatan baik.

Dua ajaran ini tak cocok untuk digabungkan.

5)   Kain yang belum susut / anggur baru menunjuk pada kekristenan.

Baju / kantong tua menunjuk pada Yudaisme / agama Yahudi.

Dua ajaran ini tidak bisa digabungkan. Yesus anti pada syncretisme (= penggabungan 2 agama atau lebih).

6)   Kekristenan bukanlah Yudaisme yang ditambal-tambal. Harus buang sama sekali dan mulai dengan suatu yang baru.

Saya paling condong pada arti ke 5.

Luk 5:39:

Ayat ini tidak ada dalam Matius dan Markus. Ayat ini juga ditafsirkan bermacam-macam:

1)   Anggur tua menunjuk pada ajaran Yesus (lebih enak).

Jadi, maksud Yesus dengan Luk 5:39 ini ialah: murid-muridKu sudah mengecap ajaranKu yang lebih enak sehingga mereka pasti tidak akan mau kembali pada ajaran orang Farisi / Yudaisme (anggur baru).

Keberatan saya:

  • ajaran orang Farisi ada lebih dulu dari ajaran Yesus, sehingga aneh kalau digambarkan dengan anggur baru.
  • dalam Mat 9:17 anggur baru menunjuk pada kekristenan / ajaran Yesus.

2)   Anggur tua menunjuk pada ajaran Yesus, karena anggur tua tidak mempunyai kemegahan seperti anggur baru. Tetapi toh anggur tua lebih enak / lebih baik dari anggur baru (ajaran orang Farisi).

Keberatan saya: dalam Mat 9:17 anggur baru menunjuk pada ajaran Yesus.

3)   Anggur tua menunjuk pada ajaran orang Farisi; anggur baru menunjuk pada ajaran Yesus.

Ayat ini menyerang kekolotan orang Farisi yang tidak mau berubah / tak mau menerima ajaran baru.

Keberatan terhadap penafsiran ini: mengapa anggur tua yang lebih enak ditujukan pada ajaran orang Farisi? Bukankah ajaran Yesus yang lebih enak?

Jawabnya: ini adalah suatu perumpamaan. Tujuannya hanya menyerang kekolotan orang Farisi tanpa mempersoalkan ajaran siapa yang lebih enak. Bandingkan dengan Luk 18:1-8 dimana Allah digambarkan sebagai hakim yang lalim.

Saya menerima penafsiran no 3 ini.

Penerapan:

Jangan bersikap kolot. Jangan terus berpegang pada apa yang ada dalam otak saudara. Saudara harus mau:

  • mengubah pikiran saudara dengan yang baru.
  • menambah pikiran saudara dengan yang baru.

Tetapi tentu saja ada syaratnya, yaitu ajaran yang baru itu harus sesuai dengan Kitab Suci / berdasarkan Kitab Suci! Jadi kalau saudara menerima ajaran seperti Toronto Blessing, yang tidak ada dasar Kitab Sucinya (kecuali yang dipaksakan), maka itu bukan berpikiran terbuka, tetapi justru tolol!

MATIUS 9:18-26

I) Ay 18-19:

1)   ‘Baru saja meninggal’ (ay 18).

Ini kelihatannya bertentangan / kontradiksi dengan Mark 5:23: ‘sedang sakit, hampir mati’, dan Luk 8:42: ‘hampir mati’.

Cara mengharmoniskan:

a)   Matius menceritakan secara singkat tanpa mempedulikan detail-detailnya, sedangkan Markus dan Lukas menceritakan detail-detailnya.

b)   Kata-kata Yairus yang sebenarnya adalah: ‘Anakku sakit begitu berat sehingga pasti saat ini ia sudah mati’. Matius lalu mengambil sebagian dari kata-kata ini dan Markus / Lukas mengambil bagian yang lain.

Ini adalah satu penafsiran yang mungkin sekali. Memang dalam Mark 5:23 di katakan: ‘Supaya ia selamat dan tetap hidup’. Ayat ini seolah-olah menentang penafsiran ini. Tetapi kata ‘tetap’ dalam ayat itu sebetulnya tidak ada sehingga penafsiran ini tetap mempunyai kemungkinan benar.

c)   Anak itu masih hidup waktu Yairus meninggalkan rumah, tetapi sudah mati waktu Yairus berbicara dengan Yesus. Matius memasukkan fakta itu ke dalam perkataan Yairus, sedangkan Markus / Lukas menceritakan kata-kata Yairus sesuai dengan anggapan Yairus (Yairus tidak tahu anaknya sudah mati). Ini juga merupakan penafsiran yang mungkin sekali benar.

2)   Iman Yairus lebih kecil dari iman perwira dalam Mat 8:5-13 karena Yairus merasa perlu Yesus datang ke rumahnya sedangkan perwira itu menganggap Yesus bisa menyembuhkan tanpa datang.

Juga Mark 5:36 menunjukan secara tak langsung iman Yairus hancur waktu diberitahu bahwa anaknya mati.

Tetapi dengan iman yang semacam itu ia toh berdoa dan doanya dikabulkan! Memang bagus sekali kalau kita bisa berdoa dengan iman yang hebat, teapi kalau tidak bisa, janganlah lalu takut berdoa; tetapi sebaliknya, tetaplah berdoa!

Catatan: ‘Iman’ di sini bukanlah ‘saving faith’ (= iman yang menyelamatkan)! Iman di sini hanya satu kepercayaan bahwa Yesus bisa menyembuhkan. Iman seperti ini tidak menyelamatkan kita!

II) Ay 20-22:

1)   Penderitaan perempuan ini:

a)   Pendarahan. Ini sudah merupakan penderitaan, tetapi dengan adanya Im 15:19-27(ini ceremonial law yang tak berlaku lagi jaman ini) maka penderitaan perempuan ini semakin hebat. Ia tidak bisa berbakti bersekutu dengan orang lain!

b)   Jangka panjang yaitu 12 tahun!

c)   Mark 5:26 ia sudah mencari semua tabib sehingga semua uang habis untuk itu. Ini menambah penderitaan lagi.

2)   Iman perempuan ini.

a)   Imannya berbau takhyul (ay 21).

b)   Imannya lemah. Ini terlihat dari kata-kata ‘teguhkanlah hatimu’ dalam ay 22. Tetapi kata-kata “imanmu telah menyelamatkan (seharusnya: ‘menyembuhkan’) engkau” menunjukan bahwa imannya ada.

c)   Ia mengira Yesus tak akan tahu kalau jubahnya dipegang. Ini menunjukan imannya jelek!

Tetapi ia toh di sembuhkan! Tuhan tidak menuntut iman yang sempurna sebelum mengabulkan permohonan kita!

3)   Perempuan ini menginterupsi tanpa permisi.

Yesus sedang ada urusan penting dengan Yairus, tetapi ia potong di tengah jalan! Ini adalah saat yang salah tetapi yang banyak di lakukan. Contoh:

  • memotong pembicaraan 2 orang.
  • mengajak orang yang sedang sibuk bekerja / belajar / nonton TV dsb.

Sekalipun ini kelihatan sepele, tetapi ini bisa membuat orang jengkel sehingga merusak persekutuan!

4)   Mark 5:29: ‘seketika itu’. Kesembuhan ilahi harus menjadi langsung, bukan melalui proses! Bagian ini memang bersifat descriptive, tetapi semua kesembuhan ilahi dalam Kitab Suci terjadi secara langsung, sehingga ini harus dijadikan rumus / hukum!

5)   Yesus tahu tindakan perempuan itu dan Yesus bertanya (Mark 5:30-33).

a)   Yesus bertanya bukan karena ia tak tahu. Ia ingin perempuan itu sharing (bdk.Luk 8:47). Beranikah saudara mensharingkan berkat Tuhan?

b)   Perempuan itu menjadi takut, mungkin karena ia menganggap ia telah menajiskan Yesus (bdk. Im 15:19-27).

c)   Murid-murid Yesus tolol tetapi sok pintar! Apakah saudara sering seperti itu?

6)   Perempuan itu sembuh karena memegang jubah Yesus. Dalam Kis 19:11-12 ada orang-orang yang disembuhkan dengan sapu tangan / kain Paulus. Ini adalah bagian yang bersifat descriptive sehingga tak perlu / tak boleh ditiru / dijadikan rumus / hukum.

7)   Ay 22: ‘imanmu telah menyelamatkan (menyembuhkan) engkau’. Ayat ini tidak berlaku umum! Dalam Kitab Suci ada bagian yang tidak berlaku umum seperti Mat 10:5-10  Mat 14:29  Hos 1:2  Mat 1:20-21  Luk 1:31.

Bagaimana kita tahu apakah suatu bagian yang berlaku umum atau tidak! Kita harus membandingkan dengan seluruh Kitab Suci! Dalam Kitab Suci tidak semua orang beriman di sembuhkan dari penyakit (2Kor 12:7-10  1Tim 5:23  2Tim 4:20). Jadi, jelas Mat 9:22 tidak berlaku umum!

8)   Yesus mengucapkan ay 22 supaya orang-orang itu tidak terus menganggap najis perempuan itu.

9)   Mark 5:24 menunjukkan ada banyak orang. Tetapi Yesus toh memperhatikan satu pribadi (perempuan itu)! Bandingkan juga dengan Luk 18:35-40  Luk 19:1-5.

Jangan menganggap Tuhan tidak punya waktu untuk memperhatikan problem saudara! Ia memperhatikan secara pribadi!

III) Ay 23-26:

1)   Anak itu (anak Yairus) sudah mati. Ini jelas terlihat dari ay 23 yang menunjukan ada peratap profesional. Juga dengan jelas dikatakan oleh Mark 5:35.

Dari sudut Yairus, mungkin sekali ia selalu menyalahkan perempuan dalam ay 20-22 itu. Andaikata tidak ada interupsi itu maka mungkin Yesus bisa tiba pada waktunya dan menyembuhkan anaknya.

Kalau Yairus memandang secara itu, maka ia akan menjadi jengkel marah dan dsb. Tetapi kalau Yairus mau memandang dari sudut Allah, bahwa Allahlah yang menentukan / merencanakan segala sesuatu dan Allah jugalah yang melaksanakan segala rencana itu, maka ia tidak akan jengkel, marah kecewa dsb.

Contoh: Ayub 1:21 menunjukkan Ayub tidak marah kepada orang Syeba dan Kasdim.

Ia melihat semua itu dari sudut Allah. Kej 45:4-8 & Kej 50:15-21 menunjukkan bahwa Yusuf juga melakukan hal yang serupa.

Disamping itu ay 20-22 seharusnya bisa menguatkan iman Yairus. Setelah ia melihat bahwa hanya dengan memandang jubah Yesus perempuan itu bisa sembuh, Yairus seharusnya lebih percaya bahwa Yesus bisa menyembuhkan / membangkitkan anaknya. Dari sini kita bisa belajar bahwa sudut peninjauan dari suatu bagian adalah suatu saat yang penting! Belajarlah untuk meninjau dari sudut yang benar!

2)   Ay 24 merupakan jawaban / kata-kata Yesus.

a)   William Barclay mengatakan bahwa mungkin sekali Yesus memang memaksudkan bahwa anak itu belum mati. Barclay menambahkan bahwa di sini Yesus memberikan diagnose ilahi, bukan kesembuhan ilahi.

Ini jelas pandangan yang salah! Luk 8:55 mengatakan ‘roh anak itu kembali’!

b)   ‘tidur’. Untuk ini lihat Yoh 11:11 dimana Lazarus juga di katakan ‘tidur’.Tetapi dari Yoh 11:13,14,17 jelas bahwa Lazarus betul-betul mati!

Lalu mengapa Yesus mengatakan kata ‘tidur’? Karna Ia mau menunjukkan bahwa anak itu akan bangun / hidup kembali.

c)   Yesus mengatakan kata-kata ini pada waktu Yairus sedang kecewa / putus asa. Adalah penting untuk mau mendengar Firman Tuhan waktu kita sedang susah, kecewa putus asa dan sebagainya!

d)   Orang-orang mentertawakan Yesus! (bdk. Kej 18:10-15).

Mengapa mereka mentertawakan Yesus? ada 2 kemungkinan:

  • mereka mengartikan kata-kata Yesus secara hurufiah.
  • mereka tahu arti kata-kata Yesus, tetapi mereka tak percaya.

3)   Ay 25: anak itu bangkit. (bdk. Luk 8:55).

Luk 8:55 anak itu diberi makan (bdk. Luk 24:41-43).

Mark 5:42 anak itu diberi, jalan.

Semua ini untuk menunjukkan bahwa anak itu betul-betul hidup kembali.

Perhatikan bahwa ini adalah bagian yang bersifat descriptive! Ini bukan rumus! Anak itu bangkit dengan tubuh lama, dan lalu mati lagi. Yesus bangkit dengan tubuh kebangkitan dan tak mati lagi. Karena itu Yesus tetap adalah yang pertama / sulung bangkit dari antara orang mati (1Kor 15:20-23  Kol 1:18  Wah 1:5).

4)   Ay 26 kabar tersiar.

Dalam Mark 5:43 dan Luk 8:56 dikatakan bahwa Yesus melarang mereka cerita. larangan ini aneh! Pada saat itu banyak orang tahu kalau anak itu mati. Setelah anak itu bangkit, sekalipun Yairus tidak cerita orang-orang toh akan tahu juga. Lalu, mengapa Yesus melarang untuk cerita tentang hal itu? Saya tak mengerti mengapa Yesus melarang, Yairus pasti juga tidak mengerti! Tetapi tugas Yairus adalah taat pada perintah itu. Pokoknya ia mengerti perintahnya apa, itu sudah cukup! Tidak perlu mengerti kenapa perintah itu di beritkan oleh Yesus.

Lihatlah Abraham dalam Kej 12:1-3 (bdk. Ibr 11:8) dan juga dalam Kej 22. Abraham tidak bertanya mengapa ia harus pergi dari kampung halamannya? Bukankah Allah bisa menjadikannya bangsa yang besar di sana? Ia juga tidak bertanya mengapa harus mengorbankan Ishak? Abraham mengerti perintah itu sekalipun tidak mengerti mengapa perintah itu diberikan. Tugas Abraham bukan untuk mengerti alasan pemberian perintah itu, tetapi untuk taat pada perintah itu!

Ini juga merupakan tugas saudara. Taatlah sekalipun tidak mengerti alasan pemberian perintah itu!

MATIUS 9:27-38

I) Matius 9:27-34:

1)   Sebutan ‘Anak Daud’ (ay 27) berarti mereka menganggap / mengakui Yesus sebagai Mesias (Mat 1:1  Luk 1:32  Mat 21:9,14-16  Mat 22:41-45).

2)   Mula-mula doa / permintaan 2 orang itu ‘tak di gubris’ oleh Yesus. Hal seperti ini sering terjadi (bdk. Mat 15:22-23  Yoh 11:3-6). Mungkin Yesus ingin menguji iman / ketekunan mereka. Karena itu kalau saudara mengalami hal seperti itu, dimana doa saudara seakan-akan tidak dipedulikan oleh Tuhan, jangan putus asa dalam berdoa! Doa dari 2 orang buta itu akhirnya dikabulkan!

3)   Dalam ay 28-29 Yesus menanyakan iman mereka dan lalu berkata: ‘Jadilah kepadamu menurut imanmu’. Hal seperti ini sering terjadi, dan bahkan dalam Mat 13:58, karena tidak ada iman,Yesus tidak melakukan banyak mujijat!

Tetapi bagaimanapun hal ini tidak selalu berlaku! Perhatikan dua hal ini:

a)   Yesus tidak selalu menanyakan iman. Dalam Mat 9:32-33 Ia tidak menanyakan iman mereka.

b)   Yesus sering menyembuhkan orang yang tidak beriman. Misalnya orang yang kerasukan setan dalam Mat 8:28 tetap disembuhkan padahal tak beriman.

Sekarang banyak orang kristen atau hamba Tuhan yang kalau mendoakan orang sakit dan tidak berhasil, lalu menyalahkan si sakit dan menuduhnya ‘tak beriman’ atau ‘belum bertobat dari dosa-dosa tertentu’. Ini adalah sesuatu yang Alkitabiah! Bahkan dalam Mat 17:14-20. Pada waktu murid-murid tidak bisa menyembuhkan orang yang kerasukan setan, Yesus menegur / menyalahkan murid-muridNya, bukan orang yang kerasukan itu! (Tetapi awas, ini juga bukan sesuatu yang berlaku umum! Kalau tidak sembuh, tidak mesti itu adalah kesalahan dari orang yang mendoakan! Semua tergantung kehendak Tuhan).

4)   Dua orang buta itu begitu dapat berkat, langsung tidak taat (ay 30-31).

Penerapan:

Orang yang mula-mula aktif dalam gereja, setelah mendapat berkat (pekerjaan, mobil, pacar), lalu mulai meninggalkan Tuhan.

Motivasi 2 orang buta itu mungkin baik, tetapi motivasi yang baik tak bisa mengubah tindakan yang salah menjadi benar!

5)   Ay 32: orang ini bisu karena kerasukan setan (bdk. Mat 12:22  Mat 17:14-18). Sekalipun hal seperti itu sering terjadi, itu tidak berarti bahwa semua penyakit disebabkan karena kerasukan setan. Dasarnya:

a)   Kitab Suci membedakan antara ‘orang sakit’ dan ‘orang kerasukan setan’ (Mat 4:24  Mat 8:16  Mat 10:8).

b)   Yesus maupun rasul-rasul tidak selalu menengking setan kalau mau menyembuhkan orang sakit (bdk. Mat 9:28-30  Kis 3:6-7  Kis 9:33-35).

Banyak orang protestan yang tak percaya adanya orang yang kerasukan setan. Ini tolol dan tak Alkitabiah! Tetapi banyak orang Kharismatik / Pentakosta yang jatuh kepada extrim yang lain; mereka menganggap orang sakit pasti kerasukan setan sehingga mereka selalu menengking setan kalau mereka mengahadapi orang sakit. Ini juga salah!

6)   Kesembuhan orang buta / bisu adalah tanda Mesias (Yes 35:5,6  Mat 12:22-23 Mat 11:2-6).

7)   Terhadap tindakan Yesus itu ada:

a)   pujian (ay 33b).

b)   kutukan / hujatan (ay 34).

  • orang memang bisa mengusir setan dengan kuasa setan. Misalnya dukun.
  • tetapi tuduhan itu tak cocok bagi Yesus yang selalu hidup suci.
  • orang-orang Farisi ini tidak buta secara jasmani seperti 2 orang dalam ay 27, tetapi mereka buta rohani.
  • orang-orang Farisi itu tidak dirasuk oleh setan seoerti orang dalam ay 32, tetapi mereka dikuasai oleh setan.

Kalau kita ikut Yesus, maka dalam segala tindakan ketaatan yang kita lakukan, 2 tanggapan seperti itu bisa kita alami! Jangan sombong waktu dipuji dan jangan berhenti mentaati Tuhan waktu dikutuk!

II) Matius 9:35-38:

1)   Ay 35: Yesus berkeliling untuk memberitakan Injil.

Ini sesuai dengan rerintahnya dalam Mat 28:19: ‘Pergilah…’.

Apakah saudara pergi mencari orang yang akan saudara injili, atau saudara hanya menunggu orang kafir datang pada saudara baru saudara injili?

Belajar Firman Tuhan adalah saat yang baik, tetapi kalu saudara terus belajar Firman Tuhan (ikut Kebaktian, Bible Study / Pemahaman Alkitab, STRIS, Seminar, Retreat, dsb) sehingga saudara tidak mempunyai waktu untuk pergi memberitakan injil, maka saudara telah menjadi orang kristen yang tidak seimbang!

2)   Ay 35 Yesus melayani dalam rumah ibadat. Baik Yesus maupun rasul-rasul menekankan sekali pelayanan dalam bait Allah ataupun dalam rumah-rumah ibadat (synagogue). Orang Kristen dalam pelayanan haruslah berpusatkan pada gereja!

3)   Ay 35 Yesus memberitakan Injil dan berbuat baik (menyembuhkan orang sakit). dua hal ini kedua-duanya penting.

  • Berbuat baik tanpa memberitakan Injil tidak menyelamatkan orang.
  • Memberitakan Injil tanpa berbuat baik bisa menjadi batu sanbungan.

4)   Ay 36 menunjukkan kondisi rohani jaman itu.

a)   ‘lelah’.

KJV: ‘fainted’ (=). Ini karena perbedaan manuscript.

RSV/NIV: ‘were harassed’ (= kuatir, tersiksa, bingung).

NASB: ‘were distressed’ (= menderita, susah).

b)   ‘terlantar’.

KJV: ‘were scattered abroad’ (= tersebar).

RSV/NIV: ‘helpless’ (= tak berdaya).

NASB: ‘downcast’ (= sedih / putus asa).

Kata Yunaninya menunjuk kepada orang yang mabuk / terluka yang dibiarkan begitu saja tergeletak di tanah. Jadi, orang itu membutuhkan pertolongan, tetapi tidak ditolong.

c)   ‘Seperti domba tak bergembala’ (bdk. Yeh 34).

Saat itu ada tokoh-tokoh agama (ahli Taurat, imam-imam, dsb) tetapi toh Yesus berkata bahwa mereka seperti domba yang tak bergembala. Ini seperti keadaan jaman ini. Banyak pendeta yang tidak menggembalakan jemaatnya, misalnya dengan cara:

  • mengajar Firman Tuhan asal-asalan, sehingga jemaatnya tidak mengerti Firman Tuhan sekalipun sudah bertahun-tahun pergi ke gereja itu dengan rajin.
  • tidak menjaga jemaatnya dari ajaran sesat.

5)   Ay 36: Yesus berbelas kasihan melihat kondisi rohani mereka.

Kita sering hanya berbelas kasihan melihat kondisi jasmani dari orang-orang di sekitar kita. Marilah kita lebih memperhatikan kondisi rohani!

6)   Ay 37-38.

Ada banyak pelayanan / pekerjaan, tetapi hanya sedikit pekerja / pelayan. Cara mengatasinya? Dengan berdoa meminta Tuhan memberi pekerja / pelayan. Marilah kita berdoa supaya Tuhan mengirim lebih banyak pekerja (pendeta, penginjil, guru Sekolah Minggu, guru agama, dosen theologia, pengurus / majelis, penginjil pribadi, dan sebagainya. Tetapi maukah saudara kalau sendiri diutus oleh Tuhan untuk menjadi pendeta, penginjil, guru Sekolah Minggu dan sebagainya? Tidak cukup hanya berdoa untuk meminta pekerja. Saudara sendiri harus mau bekerja / melayani sesuai dengan kemampuan / karunia yang Tuhan berikan kepada saudara.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s